Episode 1 - Korban Penculikan



Seumur hidup, baru kali ini aku pulang begitu larut, pukul 11.00 malam. Mungkin belum terlalu larut bagi sebagian besar orang, tapi jelas sudah sangat larut bagiku. Bahkan toko-toko di dalam Mall sudah tutup semua. Kulangkahkan kaki secepat-cepatnya keluar dari bioskop langsung ke area parkiran. Kalau saja film yang diputar tadi bukan film yang selama ini kutunggu-tunggu, tentu aku tidak akan mau menonton film dengan jadwal pemutaran selarut ini. Sambil terus berjalan, kumasukkan tangan kiriku ke dalam kantung celana lalu mengeluarkan smartphone dan segera menyalakannya. Selama menonton tadi, aku memang sengaja mematikan smartphone agar bisa maksimal menikmati film. Ada banyak pesan masuk ke smartphoneku, namun hanya berasal dari satu kontak saja, orang tuaku.

Isi pesannya jelas, menanyakan perihal kenapa diriku masih belum pulang juga sampai selarut ini. Aku hanya bisa tersenyum kecut, meskipun sebelumnya telah kuberitahukan pada orang tuaku tentang rencana nonton film favorit dan akan pulang larut malam, tetap saja mereka menanyakan kenapa sudah selarut ini aku belum juga pulang. 

Sejujurnya, aku tidak terlalu terganggu dengan sikap protektif orang tuaku. Tapi tetap saja, sekarang aku sudah kelas 11 dan usiaku sudah 17 tahun lewat, aku sudah hampir melewati masa remajaku dan sudah bisa menjaga diri sendiri. Setidaknya, aku sangat yakin bisa menjaga diri dari pergaulan-pergaulan buruk.

Masih tersenyum, segera kujawab pesan-pesan berisi pertanyaan itu. Memberitahukan pada mereka kalau aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Kemudian segera melanjutkan langkahku menuju parkiran sepeda motor. 

Suasana jalanan kota selarut ini ternyata masih tetap ramai, kendaraan masih banyak lalu lalang meskipun tidak sampai terjadi kemacetan. Lampu-lampu penerangan jalan membuat dunia seakan berwarna kuning. Karena jarak mall dengan rumahku tidak terlalu jauh, maka aku mengendarai motor dengan tidak terlalu cepat. Kulayangkan pandangan ke kiri dan kanan jalan, menikmati pemandangan malam di kota ini. 

Entah kenapa, sejak menginjak bangku SMU, hal-hal sederhana justru lebih menarik perhatianku. Seperti rintikan hujan, atau kerlap-kerlip lampu kendaraan yang terjebak macet di malam hari. Sering aku sengaja berhenti di jembatan fly over pada sore hari hanya untuk menikmati kendaraan dan manusia yang berlalu lalang. Pada saat itu, biasanya terbersit pertanyaan dalam pikiranku, apa orang-orang itu tahu kalau mereka sedang kuawasi? Atau jangan-jangan di kejauhan ada orang lain juga yang sedang mengawasiku?

Tak sengaja kulihat beberapa muda-mudi yang kuperkirakan umurnya tidak jauh berbeda denganku, mereka asik berbincang dan tertawa sambil menyusuri tepi jalan. Senyum kecil tersungging dibibirku. Kapan terakhir kali aku jalan bersama dengan temanku? Bahkan kali inipun aku menonton film hanya sendirian saja. Namun aku tidak merasa kesepian, mungkin karena aku memang lebih suka sendiri. 

Tapi, bukannya aku tidak ingin memiliki teman dekat. Di sekolah, aku sama sekali bukan orang yang menjauhi pergaulan, bahkan aku ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler dan kadang ikut nongkrong bareng sepulang sekolah. Tapi memang, tak ada yang benar-benar jadi teman dekat. Mungkin karena aku masih belum menemukan orang yang cocok menjadi teman dekat. 

Kupacu terus sepeda motor menuju rumah. Namun seakan ada yang membisiki kepalaku, tiba-tiba saja tanganku bergerak sendiri membelokkan stang motor, aku mengambil jalan memutar. Yah, mungkin karena aku memang ingin lebih lama menikmati pemandangan kota di malam hari. Akhirnya aku hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum tipis, kepalaku seringkali bergerak menengok ke kiri dan kanan jalan, mengamati tepi jalan.

Tiba-tiba saja sudut mataku mengangkap pemandangan aneh. Aneh dan sedikit menakutkan, karena agak jauh didepanku kulihat ada satu orang lelaki yang berlari cepat di kejar-kejar oleh dua orang. Jantungku bergetar, “Sialan, masalah!” batinku. 

Apalagi setelah kuperhatikan, tidak ada orang lain di jalanan ini selain diriku dan tiga laki-laki yang tengah berkejar-kejaran itu. Aku segera memperlambat laju motorku, berharap mereka tidak menyadari keberadaanku, dan sepertinya mereka memang tak menyadari keberadaanku. Ketiganya terus berkejar-kejaran hingga akhirnya mereka berbelok ke salah satu gang. 

“Bumm!” 

Terdengar suara dentuman keras tak lama setelah ketiganya masuk ke dalam gang. Disusul dengan suara dentingan logam dan teriakan-teriakan. Serta merta kuhentikan motorku! Karena begitu tegangnya, sampai-sampai dapat kudengar kerasnya degup jantungku sendiri. 

Tanpa pikir panjang, segera kubalik arah stang motor. Beruntung saat itu jalanan sangat sepi, sehingga aku bisa langsung memutar dan kabur dari tempat itu. Suara dentuman-dentuman dan teriakan keras masih terdengar jelas, tapi sama sekali tak kuperdulikan. Seluruh badanku menggigil karena tegang dan takut, namun beruntung aku masih bisa mengendalikan motor hingga tidak terjatuh. 

Mungkin kalian pikir aku seorang penakut, pengecut yang lari terkencing-kencing. Tapi aku tidak perduli dengan anggapan kalian! Aku hanya seorang yang kebetulan lewat dan sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku bukan pahlawan! Hanya seorang remaja yang baru pulang menonton film.

Mungkin kejadian barusan adalah kejadian perampokan, lelaki yang berlari di depan adalah korban perampokan itu. Tapi bisa saja justru lelaki yang lari di depan itu adalah jambret dan yang mengejar dia adalah korbannya. Atau malah ketiga-tiganya malah bagian dari sindikat kejahatan. Dan apa kalian tidak mendengar dentuman-dentuman itu? Mereka pasti bawa senjata!

Namun tampaknya nasib sial tergelitik untuk menggodaku, karena tiba-tiba saja terdengar teriakan lagi dari belakangku. 

“Hei! Berhenti!”

Tentu saja aku tidak berhenti, orang tolol macam apa yang akan menghentikan motornya hanya karena ada orang yang meneriakinya untuk berhenti, dalam situasi seperti ini! Mungkin ada, tapi aku bukan orang tolol itu. Alhasil, tangan kananku semakin kuat menarik gas pool!

Saat kupikir aku berhasil melarikan diri, kurasakan ada desingan angin dari sebelah kiriku. Tiba-tiba lengan atasku bagian kiri terasa nyeri, saat kuperhatikan, lengan kiriku sudah bersimbah darah!

“Berhenti! Atau mati!”

Teriak suara dibelakangku sekali lagi, kali ini aku memperlambat laju sepeda motor hingga akhirnya berhenti sama sekali. Aku segera menengok ke belakang, pandanganku langsung membentur sosok laki-laki paruh baya bersimbah darah. Sebatang pisau berbentuk aneh tergenggam di tangan kanannya, bentuknya mirip seperti pasak dengan empat sisi tajam, apa desingan yang melukai tanganku tadi adalah pisau itu?

Aku segera mengenali dari perawakan tubuhnya, dia laki-laki yang berlari di bagian depan. Dia laki-laki yang tadi di kejar oleh dua orang, tapi kemana dua orang yang tadi mengejarnya? Tapi kurasa aku tak perlu menduga terlalu lama, cukup lihat simbahan darah pada pakaian laki-laki di hadapanku, pasti kesimpulanmu kurang lebih sama sepertiku. 

Pria bersimbah darah itu menyeringai, sambil terpincang-pincang dia mendekat. Dan aku hanya bisa menelan ludah berkali-kali. Aku sama sekali tidak bisa berfikir karena ketakutan, tapi satu hal yang aku tahu, nyawaku dalam bahaya!

“Jalan,” bisik pria itu pelan setelah membonceng motorku.

“Kemana?” balasku.

“Jalan saja, ikatkan ini di tanganmu agar pendarahannya segera berhenti,” bisik pria itu lagi sambil merobek bagian bawah bajunya. Lalu dia melepaskan jaketku dan memakaikannya ditubuhnya. Mungkin untuk menutupi pakaiannya yang bersimbah darah.

Aku segera menjalankan sepeda motorku.

Entah sudah berapa lama aku mengendarai motor, aku telah kehilangan kemampuan menghitung waktu. Kini aku seperti mesin tua yang hanya bergerak atas perintah pria dibelakangku. Sepanjang perjalanan, dia tak bicara kecuali memberitahukan kemana aku harus berbelok.

“Belok kanan!” Pria itu kembali bersuara. 

Tanganku otomatis membelokkan arah stang motor ke kanan. Aku mulai menyadari kalau kami berjalan jauh hingga pinggiran kota, tempat ini begitu sepi. Apakah ini tempat peristirahatan terakhirku? 

“Berhenti!” Tiba-tiba pria itu berkata sambil mencengkram pundakku. Sambil mengerenyit kesakitan, aku segera menghentikan motorku. Kami berhenti di satu tempat tanpa cahaya, mungkin hutan atau semak-semak. Yang pasti aku hanya bisa melihat rimbun dedaunan dari lampu motorku. 

Tanpa suara, pria itu langsung turun dari motor. Entah karena kakinya pincang, atau luka lain ditubuhnya, dia tampak agak kesulitan turun dari motor. Tapi aku tahu, meski dengan kondisi seperti itu, dia masih lebih dari mampu untuk menghabisiku. Karena itu aku tidak segera melarikan diri, percuma saja.

Aku hanya bisa berharap dengan amat sangat akan terjadi keajaiban, keajaiban dimana tiba-tiba saja pria itu menyuruhku pergi begitu saja. Tapi kata-katanya sesaat kemudian membuyarkan harapanku.

“Turun,” ujar laki-laki itu sambil menatapku dengan mata nanarnya. 

Tentu saja aku tidak langsung turun dari motorku.

“Eng.. Ta…” Aku ingin berbicara, tapi mulutku tercekat. 

“Turun,” ujar pria itu lagi. Nada suaranya sama seperti sebelumnya, tidak ada tanda-tanda kemarahan atau ketidaksabaran, hanya ada dingin. 

Mau tidak mau aku segera turun dari motorku. Lalu laki-laki itu mengisyaratkan dengan kepalanya agar aku menuntun motorku masuk ke dalam semak-semak, kemudian menyuruhku berjalan didepan. Akupun jalan didepannya, tapi sebenarnya aku tidak benar-benar berada di depannya karena pria itu berjalan hampir sejajar di sebelah kiriku. Sambil berjalan, mata pria itu jelalatan melihat ke sekeliling.

Lama sekali kami berjalan, hingga kedua kakiku terasa sangat pegal. Namun kami masih belum juga berhenti berjalan. Aku melirik heran pada pria disampingku, meskipun berjalan pincang, namun dia mampu berjalan selama dan sejauh ini. Aku ingat sempat melewati persawahan, empang, bahkan ladang sebelum kembali masuk kembali ke wilayah yang dipenuhi dengan semak-semak. 

Hingga satu waktu dia menyuruhku berhenti, kemudian pria itu maju dan meraba-raba tanah di depan kami. Tiba-tiba dia mengangkat gundukan tanah dan rerumputan. Tapi setelah diperhatikan lagi, itu bukan gundukan tanah, tapi sebuah pintu rahasia yang mengarah ke bawah tanah. 

"Masuk,” katanya padaku.

Kali ini aku segera mematuhi perintahnya dan masuk ke dalam ruang bawah tanah. Dibelakangku, pria itu juga ikut masuk dan menutup pintu. Suasana ruang bawah tanah ini begitu gelap hingga tangan di depan matakupun tak dapat kulihat. Namun situasi itu hanya terjadi sekejap saja, karena dibelakangku, si pria menyalakan api dan mendekatkannya ke dinding disisi kiri dan kanan. Tiba-tiba saja api menyambar cepat membentuk garis di sepanjang dinding. Aku baru menyadari, ternyata kami berada di sebuah lorong. Api itu terus menyambar menuju sisi dalam lorong. Setelah kuperhatikan, bagian dinding yang menjadi tempat nyala api memang berbentuk cekung, di dalam dinding itu ada suatu bahan yang menyebabkan api terus menyala, tapi aku tidak tahu bahan apa yang digunakan.

Tanpa mengatakan apa-apa, pria itu mendorong tubuhku agar berjalan menyusuri lorong. Tiba-tiba saja aku menyadari apa yang tengah kualami sebenarnya. Aku telah menjadi… korban penculikan!