Episode 6 - Code Name



Ruangan yang terbuat dari beton itu mempunyai dinding putih tak ternoda. Terdapat sebuah lapisan kaca membatasi sisi ruangan yang satu dengan yang lain. Kenapa kaca? Selain untuk meredam suara, lapisannya juga bisa menahan peluru sama kuatnya seperti tembok atau tubuh tank. Kaca anti peluru.

Di lantai dua, ada setidaknya enam lantai yang digunakan khusus sebagai ruang latihan. Ditambah dengan lantai tiga dan empat menjadikannya delapan belas dengan kegunaan setiap ruangan yang berbeda-beda. Namun, ada juga beberapa ruangan yang digabung menjadi satu bagian sehingga memiliki luas yang berbeda.

Neil yang tidak yakin harus pergi ke mana, sampai pada ruang nomor empat—ruangan yang digunakan untuk latihan menembak. Kesalahan sendiri karena bertindak sebelum bertanya membuat dirinya tersesat. 

Neil duduk pada kursi yang berada di pojok ruangan. Seperti kata gadis yang ditemuinya di lantai bawah. Ia punya banyak waktu sebelum istirahat siang datang. Tidak ada salahnya jika dia santai sebentar menikmati hawa dingin setelah merasakan panas dunia luar. Syal merah yang ia kenakan membuat leher tetap hangat dan nyaman.

Dari kaca yang mengkilap, tujuh orang terlihat membawa senjata laras pendek dengan penutup telinga sambil menarik pelatuk secara bernutun. Lalu, seorang lagi yang tampaknya bertugas sebagai pengawas. Dengan Neil, di tempat yang nampak seperti kotak putih itu, menjadikannya sembilan orang. Walaupun begitu, rasa bosan dan kesepian tetap muncul meski mendengar suara peluru yang diredam.

Selain menatap layar ponsel, ia hanya bisa memperhatikan orang-orang yang sedang menggunakan senjata di hadapannya menembaki target berupa bintik merah kecil. Selain itu, dirinya hanya bisa berpikir, betapa bodohnya mereka melakukan hal yang tidak berguna seperti itu.

Entah berapa banyak peluru yang terbuang sia-sia hanya demi menembak sebuah bintik merah pada sebuah papan. Mengingat kembali kenangan, dirinya sendiri sekalipun tidak pernah menembak tepat sasaran dengan sempurna, meski targetnya dalam keadaan diam. Terlihat mengecewakan memang, tapi tidak ada masalah dengan hal itu sama sekali kecuali dia ingin menggunakan sniper—senjata api yang memang fokus digunakan untuk menembak target dengan tepat.

Teori tidak bisa digunakan dengan tepat saat melakukan praktek. Praktek pun tidak akan bisa dilakukan dengan sempurna ketika ujian. Lalu, ketiganya tidak akan berguna saat menghadapi dunia nyata yang tidak mungkin bisa dihitung dengan rumus yang sudah ditetapkan. 

Selama mengerti dasarnya, menurut Neil itu sudah cukup.

Lagipula, meski tidak semuanya, ukuran tubuh Outsider rata-rata memiliki tubuh yang besar. Bagian terburuknya, terkadang peluru yang kecepatannya bisa mengalahkan suara masih belum bisa menembus kulit keras mereka. Tentu saja itu semua tidak seratus persen benar.

Agen pelatihan yang sudah menyelesaikan masa-masanya di sini dan diberi persetujuan akan diakui sebagai agen khusus. Sebelum diterjunkan secara langsung untuk menjalankan misi, mereka diwajibkan mencari atau membaut kelompok minimal tiga dan maksimal empat orang. Sebagai pengalaman pertama, mereka akan diawasi oleh agen khusus yang jauh lebih berpengalaman. 

Pada saat itu, kelompok Neil mendapat pengawasan langsung dari Rico—tim pertama.

Selagi kepalanya dipenuhi pikiran, perhatian Neil tertarik ketika seseorang membuka pintu. 

Pria tubuh besar dengan kepalanya yang botak masuk, berjalan mendatangi Neil. Seragam yang dikenakan hijau loreng seperti tentara. Sesaat, Neil membandingkan jenis seragam pria itu dengan orang yang sedang bertugas mengawasi para agen pelatihan. Keduanya sama, tapi lencananya terlihat jelas jauh berbeda.

“Jadi, apa yang agen khusus lakukan di gedung Divisi Pelatihan?” tanya pria yang tubuhnya lima senti lebih tinggi dari Neil dengan suara tegas.

Kebetulan? Rasanya aneh jika ada orang penting yang tiba-tiba masuk ke dalam salah satu ruangan latihan tanpa ada urusan.

Neil bangkit dari kursi. Ia menunduk sedikit sebagai rasa hormat, meski harus diakui bahwa dia sendiri tidak tahu siapa orang yang ada di hadapannya. Mungkin karena dirinya jarang berkungjung ke sini atau karena rasa ketidakpeduliannya akan orang asing.

“Aku diberi perintah untuk menemui seseorang dan melatihnya,” jawab Neil sambil mengangkat kepala. Matanya terarah ke sebelah dada bagian kiri. Bisa dilihat dengan jelas nama dan seberapa tinggi pangkat yang orang itu raih. “Mayor Andra.”

Andra Wijaya. Setidaknya, Neil ingat betul seperti apa tingkatan apa saja dalam dunia tentara. 

OFD—Outsiders Federal Division juga bekerja sama secara langsung dengan berbagai macam satuan militer, peneliti, juga berbagai macam organisasi yang ada. Karena dalam masalah ini, semua manusia dillibatkan.

“Ini pertama kali aku mendengar hal itu.” tatapannya tidak lepas dari Neil yang terlihat seperti mengecek kondisi psikologisnya. Berbohong atau jujur.

“Ini permintaan pribadi seseorang, bukan secara resmi.”

Neil tidak ragu memberitahu karena ia pernah melakukan hal ini sebelumnya dengan Nadia. Lagipula, semua tanggung jawab ada di Arbi membuat ia tak perlu merasa resah. 

“Arbi yang meminta tolong.” Untuk berjaga-jaga, Neil memutuskan untuk menyebut namanya agar tidak membuat kesalahpahaman.

“Yah, aku bisa memastikannya sendiri nanti.” Ekspresi serius pria itu tidak berubah sedikit pun. “Kau ini—“

Neil memutus, “Aku Neil, dari pemimpin dari tim empat.”

“Hmm…” Andra memberi tatapan aneh pada Neil. “Bagaimana dengan agen pelatihan yang ada di timmu? Aku dengar kalian melakukan misi Rank A.”

Seperti dugaan, kesampingkan masalah Rank A. Fakta bahwa pria yang saat ini berbicara dengan Neil bertanya tentang Nadia sudah menjelaskan semuanya. Dia tahu tentang dirinya dan juga tim empat, pikir Neil singkat.

“Dia baik-baik saja.” Neil yang tidak tahu harus berkata apa memberi jawaban singkat.

“Apa kau menyesalinya?” 

“Sedikit.” Neil mendekap, memalingkan pandangan.

Setelah Nadia yang hampir terbunuh, tidak aneh jika Neil menyesal. Pada saat itu, Neil beruntung bisa reaksi dengan cepat. Namun, lain kali mungkin tidak ada yang namanya kesempatan lagi. Tidak ada yang aneh jika mati dalam pertempuran, tapi perasaan takut muncul setiap kali memikirkannya.

“Jadi, siapa yang kau cari?”

Andra yang melihat penyesalan Neil, mengabaikan. Bukan berarti ia tidak peduli.

Neil mencoba membuka ingatannya. File yang diberikan oleh Arbi tidak berisi banyak hal, hanya nama, foto, dan beberapa hal lainnya yang tidak terlalu penting. Berkat itu, dia setidaknya bisa mengingat beberapa hal penting. 

“Aku tidak ingat nama aslinya, tapi Code Name miliknnya Bell.” Neil mengembalikkan pandangan tanpa merubah ekspresi. 

Code Name, tidak berbeda jauh dari inisial. Dibandingkan dengan menggunakan nama asli, Neil lebih suka menggunakan Code Name. Jauh lebih simpel dan juga lebih mudah diingat. Selain itu, saat misi biasanya sering digunakan untuk membuat strategi. 

Code Name hanya memiliki satu kata dan rata-rata memiliki dua suku kata di dalamnya seperti ‘Neil’. Untuk penggunaan satu atau tiga suku kata seperti ‘Bell’ atau ‘Nadia’ cukup jarang digunakan. Pada dasarnya, tidak berbeda dengan nama panggilan.

“Ikut aku.” Andra berbalik, lalu mulai berjalan tanpa memerhatikan Neil.

“Tunggu sebentar. Boleh aku bertanya?” Ucapan Neil membuat langkahnya terhenti. “Untuk apa Mayor datang ke sini?”

“Aku sedang mencari seseorang yang menerobos masuk,” jawabnya tanpa membalikkan badan.

Mencoba menghindar dari masalah, Neil membuka mulut dengan segera. “Ugh, maaf. Aku hanya—”

Kata-kata Neil dipotong sebelum diselesaikan.

“Tidak masalah. Daripada meminta maaf, lebih baik cepat ikut. Aku akan memberimu izin khusus untuk kali ini.”

Entah ucapannya bermaksud buruk atau tidak, tapi Neil yang tidak bisa menolak hanya bisa mengikuti. Karena tidak terbiasa, rasanya cukup aneh ketika harus bertindak formal di depan seseorang. Terutama dengan seseorang yang pangkatnya jauh lebih tinggi.

****

Setelah diajak ke lantai satu kembali menuju lobby utama, Neil diberi berkas khusus yang jauh lebih lengkap tentang Bell jika dibandingkan yang dimiliki Arbi. Namun, isinya tidak berbeda jauh. Banyak datanya yang bisa dibilang kosong atau mungkin dirahasiakan. Karena tidak ada hubungannya dengan tugas, Ia tidak terlalu memikirkan.

Yang Neil inginkan hanyalah segera mengakhiri ini dengan cepat. Namun, pertanyaan berikutnya muncul. Sampai kapan ia harus melatih orang ini? Seharusnya ia bertanya pada Arbi tentang hal ini. 

Neil diberitahu tentang letak ruangannya. Sadar dirinya masih punya cukup waktu, ia memutuskan untuk menggunakan tangga sambil membaca ulang berkas yang sedang dipegang.

Ruangan sembilan. Ruangan yang biasa digunakan untuk mengetes atau meningkatkan kemampuan tubuh. Tidak berbeda jauh dengan lapangan yang digunakan untuk lari. Luas ruangan tiga kali lebih besar dari ruangan yang lain, membuatnya nampak cukup luas.

Neil berbicara dengan salah satu pengawas yang bertugas. Dengan izin dari Mayor Andra, ia bisa melakukannya dengan mudah. Berbeda jauh saat ia ingin bertemu dengan Nadia beberapa bulan yang lalu. Apalagi saat meminta izin untuk memindahkan Nadia dari Agen pelatihan menjadi Agen khusus. Perbedaan ini entah kenapa membuatnya sedikit terganggu.

Setelah meminta tolong, Neil keluar menuju koridor. Menunggu beberapa saat, seorang pria dengan seragam yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang agen pelatihan keluar dari pintu yang sama.

“Kau yang namanya Bell, ‘kan?” 

Tidak menunggu lama, Neil memastikan wajah dengan foto yang ada di berkas bahwa keduanya sama. Rambut hitam sedikit berantakan dengan mata yang sama dengan warna rambut. Beberapa senti sedikit lebih tinggi dari Neil sendiri. 

Kedua mata yang mengukur dari ujung kaki sampai ujung rambut itu kembali pada wajahnya. 

“I-itu memang Code Name-ku. Tapi, kalau nama asli—“’

“Saat menjadi Agen Khusus, Code Name lebih sering digunakan daripada nama asli.” Neil memotong dengan cepat. 

Takut membuat Neil kerepotan, Bell dengan cepat mengangguk pelan. “Baiklah, aku mengerti.” Walaupun begitu, ia tidak terlalu paham, kenapa harus seperti itu.

“Bagus. Sebelum kita melanjutkan hal itu, aku ingin bertanya. Kau yang meminta Arbi untuk menyuruhku mengajarimu, ‘kan?” Neil melipat kedua tangan di perut. Syalnya yang panjang ikut bergerak-gerak. “Kenapa aku?”

“Soal itu,” Bell memasang senyum kaku. “Aku sedikit penasaran. Jadi, aku ingin bertemu denganmu. Hanya itu saja.”

“Huh…?” Neil membuat wajah bingung. Tidak masuk akal, batin Neil berbicara. “Hmm, jadi kurasa tidak butuh yang namanya perkenalan.” Neil nampak kehilangan pikiran. “Lalu, kenapa kalian berdua bisa saling mengenal? Kau ini teman atau saudaranya?”

Neil ingat jelas bagaimana cara Arbi meminta tolong saat itu. Jika hanya sebatas kenalan, tidak mungkin orang yang posisinya berada di atas meminta secara pribadi bantuan dari Neil dengan sebuah syarat. Memikirkan hal itu, hanya membuat Neil tidak mengerti.

“Maaf, tapi aku tidak bisa memberitahumu.” Bell menjawab dengan santai dengan senyum kecil.

Neil menajamkan mata memberi tatapan curiga.

Rahasia? Mungkin terdengar seperti itu. Namun, di telinga Neil rasanya ada sesuatu jauh lebih dari itu. Apa pun itu, bukanlah urusannya. Lagipula, memaksa orang lain bukanlah kebiasaannya.

“Yah. Jadi Bell, seperti apa kau ingin dilatih? Akan lebih mudah bagiku jika kau bisa menjawab pertanyaanku kali ini,” tanya Neil datar.

Bell berpikir. Mendengar itu dari seseorang yang akan mengajarinya terdengar aneh. Kenapa harus dirinya yang menentukkan?

“Ugh, kenapa aku yang harus menjawabnya? Tapi, salah satu dari anggota timmu kalau tidak salah anggota pelatihan, bukan? Kenapa tidak menggunakan cara yang sama saja? Bagaimana?”

“Kalau begitu, terjun langsung ke lapangan.” 

Neil menatap Bell seolah ekspresinya berkata, apa kau yakin?

“Ugh,” untuk sesaat, ingin dirinya menarik ucapan yang baru saja ia keluarkan. “T-terserah kau saja.” Satu kali lagi, senyum kaku keluar dari wajah Bell.

Terjun ke lapangan sendirian bukanlah hal yang mungkin. Bell yang masih merupakan anggota pelatihan tidak mungkin memiliki kelompok. Menyiapkannya dalam satu hari bagi Neil sendirian tentu saja sangatlah sulit. Di sinilah Arbi akan berguna. 

“Aku akan mencarikanmu kelompok. Kita akan pergi besok pagi. Ada pertanyaan?”

“B-besok? Bukankah itu sedikit terburu-buru? Aku ini masih anggota pelatihan.” Bell menjelaskan.

“Selama kau bisa menggunakan senjata, itu sudah cukup. Misi yang akan kita ambil tidak akan sesulit itu. Lagipula, aku akan mengawasi.”

“Bagaimana dengan latihan besok?”

“Aku yang akan mengurus izinnya. Ada lagi?” 

Meski Neil berkata seperti itu, sebenarnya ia hanya akan meminta pada Arbi untuk mengurus semua hal yang bersangkutan. Daftar misi, kelompok, juga izin khusus. Arbi tentu saja tidak akan menolak karena ini adalah permintaannya sendiri.

“Ugh, tidak ada. Tapi, aku tidak tahu kalau kau sebaik ini.”

Hanya untuk menjelaskan kepada dirinya sendiri, Neil mlekaukan ini karena ia sudah membuat janji.