Episode 129 - Saudagar Senjata



Mengapa segala permasalahan harus diselesaikan dengan adu kekuatan? Atas dasar apakah sebuah pertarungan dianggap sebagai solusi terbaik yang patut ditempuh dalam menyelesaikan permasalahan?

Kemanakah perginya semangat musyawarah untuk mencapai mufakat? Apakah duduk bersama dengan hati dan kepala yang dingin, demikian susah diwujudkan? Apakah darah seluruh ahli memang demikian mudah terbakar?

Bintang Tenggara berpikir keras. Dua pekan telah berlalu sejak dirinya berhadapan dengan Bentuk Ketiga dari Tinju Super Sakti. Sungguh pengalaman hidup dan mati. Baginya, kala itu adalah keadaan dimana ia berada paling dekat dengan jurang kematian. Namun kini, ia dihadapkan pada sebuah persoalan, yaitu pertarungan menghadapi ahli dari kubu penentang Raja Bangkong IV. 

Untuk sementara waktu, anak remaja tersebut berupaya mengabaikan kebiasaan para ahli. Ia memusatkan diri pada penyembuhan. Pertemuan dua jurus Tinju Super Sakti tak bisa dipandang sebelah mata. Untunglah ia mengenakan Sisik Raja Naga. Tambahan lagi, berkat perawatan dari tabib istana, maka tak perlu waktu lama bagi Bintang Tenggara untuk kembali pada kondisi prima. Cedera di pergelangan tangan, lengan, dan bahunya sudah sepenuhnya sembuh.

Ada kesalahan pengajaran dalam dunia persilatan dan kesaktian, tetiba Bintang Tenggara berpikir sambil menghitung setiap langkah kakinya. Kini, ia sedang melangkah menuju pustaka milik Kerajaan Siluman Gunung Perahu.  

Pemikiran Bintang Tenggara bukan tanpa dasar. Sejak terjun di dunia keahlian, pertarungan demi pertarungan terus ia jalani. Situasi hidup dan mati tak bisa terhindarkan. Jika bukan karena sebuah janji kepada sang Super Guru, maka mungkin sudah sejak lama ia memutuskan untuk pulang ke Dusun Peledang Paus, di Pulau Paus. Di sana, dirinya yakin dapat menjadi nelayan tangguh, bahkan mungkin peternak unggul. 

“Super Guru… mengapa Raja Bangkong IV dapat mengerahkan Tinju Super Sakti? Bukankah menurut Super Guru, murid adalah pewaris tunggal…?” 

“Apakah aku pernah berkata demikian…?” tanggap Komodo Nagaradja malas.

“Guru mengatakan bahwa diriku adalah satu-satunya murid…”

“Si Cebong Cebol itu mempelajari Tinju Super Sakti dengan sendirinya. Ia sesungguhnya adalah ahli yang jenius. Dulu hatinya sangat lemah, sehingga keahliannya tak berkembang sebagaimana mestinya….” 

“Super Guru… mengapa pula jiwa dan kesadaran Super Guru kembali ke dalam mustika retak…?” 

“Bagi jiwa dan kesadaranku mengemuka dari mustika retak, memerlukan cukup banyak tenaga dalam…,” gerutu Komodo Nagaradja, yang merupakan Pamong Kerajaan Siluman Gunung Perahu, Saudara Raja Bangkong III dan Wali dari Raja Bangkong IV. 

“Bukankah tenaga dalam di mustika retak merupakan tenaga dalam cadangan bagi muridmu di saat terdesak? Mengapa Super Guru memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi…?” ujar Bintang Tenggara menggunakan jalinan mata hati, serta sambil membolak-balik sebuah kitab di dalam pustaka kerajaan. 

“Kata siapa seperti itu…?” tanggap Komodo Nagaradja ringan. 

“Kata Super Guru di Pulau Bunga….”

“Aku tak mengingat pernah berkata demikian….”

“…”

Meskipun demikian, Bintang Tenggara menyadari bahwa sang Super Guru sedang menyerap tenaga alam untuk mengisi mustika retak. Mustika tersebut tak sepenuhnya kosong, walau tenaga alam yang terisi selalu merembes keluar. Komodo Nagaraja, oleh karena itu, terpaksa menyerap tenaga alam hampir setiap waktu. 

“Racun Kelabang Hitam…,” gumam Bintang Tenggara. 

“Hm…?” Komodo Nagaradja sedikit bereaksi.

“Apakah gejala yang Super Guru rasakan mencakup gatal-gatal, sesak napas dan demam berkepanjangan…? aju Bintang Tenggara. 

Komodo Nagaradja terdiam. Bintang Tenggara merasa menemukan titik terang. 

“Apakah kau berpikir aku disengat binatang siluman beracun…? Jangan kau rendahkan harga diriku, bocah!” 

“Lalu apakah gerangan yang sebenarnya terjadi…?” Bintang Tenggara sungguh dibuat bingung. 

“Bukankah sudah kukatakan aku terkena hantaman ‘jurus kesaktian’ yang mengandung racun…?” 

“Hah! Super Guru tak pernah berkata demikian!” hardik Bintang Tenggara. 

“Pernah kusampaikan di Pulau Bunga!”

“Tidak pernah!” Bintang Tenggara terdengar kesal. “Jadi, selama ini murid mencari petunjuk di kitab-kitab yang salah!?” 

“Otakmu tumpul!” 

Hari jelang siang. Bintang Tenggara meninggalkan pustaka di Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Tiba-tiba ia kehilangan semangat mencari tahu perihal racun atau jurus kesaktian dengan unsur racun. Dirinya merasa dikerjai. 

“Asep… mau dibawa kemanakah mereka…?” ujar Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara mendapati Asep sedang memimpin sejumlah prajurit Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Mereka terlihat menggiring serdadu bayaran yang sebelumnya berusaha menyergap regu yang datang dengan misi perdamaian. 

“Yang Terhormat Bintang Tenggara… Kami akan memindahtangankan mereka kepada Kemaharajaan Pasundan. Kemaharajaan Pasundan akan menyelidiki jati diri, serta alasan mereka menyerang Putri Mahkota… sebuah pelanggaran yang layak diganjar dengan hukuman mati,” jawab Asep setelah meminta prajurit lain agar terus menggiring pergi segerombolan serdadu bayaran.  

Bintang Tenggara mendapati keberadaan remaja bertubuh kurus yang pernah ia selamatkan dari incaran seekor Babi Taring Hutan. Sekilas, pandangan mata keduanya sempat saling bertemu. 

“Oh…? Mengapa Yang Terhormat Bintang Tenggara berjalan seorang diri…? Mengapa Tuan tak meminta Asep untuk mengawal…?” Asep membungkukkan tubuh. 

“Eh…?” Bintang Tenggara setengah terkejut. Ia memang baru mengenal Asep, dan mendapati bahwa remaja tersebut merupakan pribadi yang santun, sekaligus sangat perkasa. Namun demikian, mengapa Asep memberikan penghormatan yang sedemikian berlebihan…?

“Kabar angin yang berhembus di kalangan punggawa dan bangsawan di kerajaan, mengatakan bahwa Yang Terhormat Bintang Tenggara kemungkinan besar merupakan murid dari Pamong Kerajaan Siluman Gunung Perahu, Yang Sani Komodo Nagaradja…,” ungkap Asep tanpa berbasa-basi. 

Bintang Tenggara terdiam. Ia tak tahu harus menanggapi bagaimana. Keberadaan Super Guru haruslah menjadi rahasia yang teramat sangat. Namun demikian, dua pekan lalu, dirinya mengaktifkan Sisik Raja Naga sekaligus melepas Tinju Super Sakti di dalam istana kerajaan siluman. Dengan demikian, ia merasa bahwa dirinya sendirilah yang membongkar rahasia akan keberadaan Super Guru Komodo Nagaradja. 

“Yang Terhormat Bintang Tenggara tiada perlu menjawab. Asep sangat mengerti akan pentingnya merahasiakan keberadaan Yang Sani.”

Bintang Tenggara masih terdiam. 

“Yang Sani Komodo Nagaradja adalah pribadi yang dimuliakan. Ceritera keperkasaan beliau selalu menjadi pengantar tidur cebong-cebong cilik. Kisah kepahlawanan beliau dilakonkan dalam seni drama dan tari. Ketauladanan beliau menjadi landasan pengajaran di perguruan-perguruan,” ungkap Asep bangga. 

Bintang Tenggara mulai merasa mual. 

“Pastinya, Yang Sani mengirimkan muridnya untuk membantu menjaga kedamaian di Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Yang Sani Komodo Nagaradja mampu membaca situasi di dalam istana kerajaan meski berada entah dimana. Beliau menjunjung tinggi amanah dari Yang Mulia Raja Bangkong II untuk melindungi Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Beliau memegang teguh ikrar persaudaraan yang dibuat dengan Yang Mulia Raja Bangkong III. Serta, sebagai wali dari Yang Mulia Raja Bangkong IV, beliau akan menjaga kedaulatan di dalam kerajaan.” Asep terlihat demikian terpesona. 

“Aku suka bocah ini!” sahut Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara menundukkan kepala sambil memegang perutnya. Ia merasa semakin mual. 

“Dengan demikian, murid dari Yang Sani Komodo Nagaradja adalah panutan bagi Asep!” Asep merasa Bintang Tenggara menganggukkan kepala, ia pun menanggapi dengan anggukan bangga. 

Bagi Bintang Tenggara, kehadiran Komodo Nagaradja di Kerajaan Siluman Gunung Perahu adalah kebetulan semata. Bahkan, Sang Super Guru sempat berupaya agar mereka tak bertandang ke puncak Gunung Perahu. Bintang Tenggara menangkap kesan bahwa sebenarnya Super Guru hendak menghindar dari tanggung jawab….

Selain itu, andai saja anak remaja tersebut tak hilang kesadaran dan dibawa pergi dari Istana Utama, maka ia akan mengetahui keadaan dimana Komodo Nagaradja hampir menyulut api perang saudara. Jika Bintang Tenggara mengetahui akan hal tersebut, maka segala puja-puji Asep tadi akan menyebabkan mual yang ia rasakan berlipat ganda. Bahkan, mungkin ia akan memuntahkan darah sampai empat kali… satu kali lebih banyak daripada ketika berhadapan dengan Tinju Super Sakti yang dilepaskan oleh Raja Bangkong IV!


Regu Perdamaian yang dipimpin oleh Citra Pitaloka akan berhadapan dengan regu perwakilan dari kubu penentang raja. Pertarungan lima lawan lima akan diselenggarakan di gelanggang pertarungan milik Kerajaan Siluman Gunung Perahu dalam sepekan dari hari ini. 

“Peraturan pertarungan yang aneh…,” ujar Aji Pamungkas. 

Bintang Tenggara mencerna dalam diam. 

“Tidak juga…,” sahut Citra Pitaloka. “Meski jarang diterapkan, peraturan pertarungan ini adalah umum adanya.”

Yang Aji Pamungkas maksudkan sebagai keanehan dalam peraturan pertarungan beregu kali ini adalah ketentuan dimana pemenang pertarungan satu lawan satu dapat terus bertarung menghadapi lawan berikutnya. Jadi, semisal Citra Pitaloka meraih kemenangan pada pertarungan pertama, maka ia diperkenankan melanjutkan ke pertarungan kedua. Atau, bila Citra Pitaloka meraih kemenangan pada pertarungan pertama, lalu memutuskan beristirahat pada pertarungan kedua, ia tetap diperbolehkan menghadapi lawan di pertarungan ketiga. Demikian selanjutnya. 

“Dengan kata lain, pertarungan pertama adalah pertarungan penentu,” ujar Lampir Marapi ceria sekali.

“Iya dan tidak…” jawab Citra Pitaloka. “Kau berpikir bahwa, jika perwakilan pertama meraih kemenangan pada pertarungan pertama, maka dalam pertarungan kedua, perwakilan pertama tadi hanya perlu melukai lawan kedua seberat mungkin… Sehingga nantinya perwakilan kedua hanya perlu menghadapi lawan yang sudah lemah, benar bukan?”

“Betul,” sahut Aji Pamungkas. 

“Bagaimana bila lawan kedua yang dicederai oleh perwakilan pertama malah memutuskan untuk beristirahat pada pertarungan ketiga… dan baru kembali pada pertarungan setelahnya…?”

“Betul juga…,” Aji Pamungkas terlihat sedikit bingung. 

“Apa pun itu, strategi terbaik adalah terus meraih kemenangan,” ujar Bintang Tenggara. “Untuk itu, kita perlu menyusun urutan perwakilan yang akan turun bertarung sebaik mungkin.”

“Seperti apakah siluman kodok bertarung…?” sela Embun Kahyangan. Rupanya sedari awal ia menyimak dalam diam. Naluri sebagai pembunuh bayangan membuat dirinya hendak memastikan kelebihan dan kekurangan lawan.

“Hm…?” Bintang Tenggara baru tersadar. Selain kesempatan menyaksikan Asep melempar tombak ke arah kapten serdadu bayaran, maka tak pernah ia mengetahui cara bertarung ala siluman sempurna. 

“Pertanyaan yang bagus! Ada lima teknik khas siluman sempurna dari Kerajaan Siluman Gunung Perahu,” ujar Citra Pitaloka. 


===


Dari kejauhan, pemandangan Gunung Perahu terlihat demikian damai. Pepohonan tumbuh subur menghijau. Kesejukan gunung tersebut menjalar perlahan bersama kesegaran embun pagi. 

Sebuah penginapan mewah sengaja dibuat menghadap ke arah Gunung Perahu. Kemewahan penginapan terlihat dari bentuk bangunan gaya klasik, dengan pilar-pilar batu dan ruangan-ruangan luas hampir tanpa sekat. Berbagai perabotan terbuat dari kayu kokoh dengan beraneka ukiran demikian rumit. Lukisan-lukisan megah tergantung dan mencermintan cita rasa seni yang tinggi. 

Kemewahan serta lokasi strategis penginapan bertujuan untuk menarik hati wisatawan yang berkunjung agar menetap dan bersantai. Akan tetapi, penginapan nan mewah tersebut saat ini terkesan sepi dan mati. Diketahui, bahwa sekelompok orang menyewa seluruh kamar di penginapan untuk kelompok mereka sendiri. Padahal, kelompok mereka hanya terdiri dari beberapa orang ahli saja, sehingga banyak kamar yang sengaja dibiarkan kosong. 

Seorang lelaki setengah baya, kepala botak licin, dan perawakan gemuk dan garang sedang duduk di balik meja di salah satu beranda penginapan. Ia menatap tajam ke arah gunung. Sepertinya ia sedang membatin, berpikir tentang rencana antisipasi. Bila Bintang Tenggara melihat sosok ini, kemungkinan besar ia akan mengingat akan seorang saudagar yang menghardik tak puas saat menyaksikan pemaparan murid-murid di Sanggar Sarana Sakti. *

Lelaki tersebut saat ini sedang memegang sebuah lencana. Bentuk lencana itu tak beraturan, mirip denga lempengan logam terbuang yang dipungut dari sebuah tambang terbengkalai. Ia kemudian mengirimkan jalinan mata hati ke arah lencana, untuk mendengarkan sebuah pesan yang baru saja diterima. 

Saudaraku, angin segar berhembus ke arah kita. Setelah membangkitkan Raja Angkara Durhaka, aku memperoleh warta bahwa jejak Raja Angkara Durkarsa ditenggarai berada di perairan antara Pulau Belantara Pusat dan Pulau Logam Utara. Tujuan Kekuatan Ketiga semakin mendekat!

“Suamiku… Apakah gerangan langkah kita selanjutnya?” Seorang perempuan menghampiri lelaki tersebut. Wajahnya muda, cantik dan jelita. Lekuk tubuhnya demikian menggoda. 

Lelaki itu hanya diam. Ia meyimpan lencana, kemudian menghela napas panjang. Namun, pandangan matanya masih belum lepas menatap Gunung Perahu di kejauhan. 

“Bilamana peperangan antara Kemaharajaan Pasundan dan Kerajaan Siluman Gunung Perahu tidak tercetus, maka kita akan kehilangan kesempatan memperdagangkan…”

“Kau pikir aku tak menyadari hal tersebut…?” sela lelaki itu. 

“Tapi… Tapi kita telah membangun pabrik baru... Cukup besar pula modal yang digelontorkan. Kemana kita akan menjual senjata-senjata tersebut bilamana perang tak tersulut…?” Wajah si istri berubah kusut.

“Perempuan… jangan kau uji kesabaranku…!” gerutu si suami menggeretakkan gigi. 

“Tuan Malin Kumbang…,” tetiba seorang pelayan menghampiri. “Informasi terbaru dari Gunung Perahu menyebutkan bahwa serdadu bayaran yang tertangkap oleh Prajurit Kerajaan Siluman Gunung Perahu akan diserahkan kepada Kemaharajaan Pasundan…” 

“Srash!” 

Lelaki yang disapa sebagai Malin Kumbang menggebrak meja. Akan tetapi, meja yang terbuat dari kayu jati keras tidak berhamburan ke semerata penjuru. Meja tersebut luruh menjadi menjadi butiran debu!

“Aku mengeluarkan biaya yang tak murah untuk menyewa serdadu bayaran dari Partai Iblis! Namun, mereka mengirimkan segerombolan ahli yang tak becus….” Malin Kumbang terlihat sangat geram. 

“Suamiku… apakah langkah kita selanjutnya…? Apakah jati diri kita akan terbongkar…?”

“Serdadu bayaran dari Partai Iblis akan membawa rahasia tentang jati diri mereka dan majikan yang mengupah mereka sampai ke liang kubur. Mereka tak akan membeberkan jati diri kita.” Wajah Malin Kumbang kembali tenang.

“Pelayan, segera kirimkan pesan kepada Jenderal Kedua di Pulau Satu Garang!” 

“Baik, Tuan. Apakah gerangan isi dimaksud…?”

“Sampaikan kepada mereka bahwa Saudagar Senjata, Malin Kumbang, kecewa dengan gerombolan serdadu bayaran yang dikirim. Bahwa mereka harus menyelesaikan persoalan serdadu bayaran yang tertangkap.”

“Baik, Tuan.” 

“Sampaikan pula, bahwa akibat dari kelalaian mereka, aku akan menghentikan pengiriman persediaan senjata sampai batas waktu yang belum ditentukan!” 

“Suamiku… tapi… bukankah tindakan sedemikian berarti kita akan menghentikan pembuatan senjata yang sedang berjalan…?”

Malin Kumbang menanggapi dalam diam. Dari raut wajahnya, dapat terbaca bahwa ia bukan orang yang bersedia menunjukkan sedikit pun celah kelemahan. Sebagai saudagar, ia berwatak keras. Bahkan bila harus menderita kerugian, pihak di seberang harus mengetahui bahwa sungguh tak bijak meremehkan tugas dari dirinya. Malin Kumbang bersedia membayar mahal, akan tetapi, pihak mitra harus menuntaskan apa pun itu yang ia inginkan. 

“Sampaikan sekarang!” hardik Malin Kumbang ke arah si pelayan, yang segera bergegas pergi. 

“Bukankah dengan demikian kita akan semakin merugi…?” Kembali si istri menyela, pembawaannya semakin gusar. 

“Perempuan… kusarankan kau lebih khawatir akan dirimu sendiri….” Malin Kumbang menatap tajam ke arah istrinya yang cantik jelita itu. 

“Hah!” Sang istri spontan mundur selangkah. Raut wajahnya serta-merta berubah pucat. 

“Perempuan… kembalilah ke kamar terlebih dahulu… Persiapkan dirimu…” Sebuah senyum menghias wajah Malin Kumbang. “Rangkaian kejadian yang mengemuka tetiba membuat diriku sungguh bersemangat…” 

Sang istri terjerembab jatuh di tempat. Lututnya lemas. Jantungnya berdegup kencang. Bulir-bulir keringat sebesar bebutiran jagung membasahi di kening dan pelipis. Wajahnya demikian cemas, sampai-sampai sebentar lagi mungkin ia akan akan meratap. Entah mengapa, wajah setengah putus asa itu terlihat semakin memesona. 

“Suamiku… kumohon… jangan lagi… jangan…” 

“Bangunlah… Aku akan segera menyusul….” Malin Kumbang kembali menatap ke arah Gunung Perahu di kejauhan. 


Catatan:

*) Episode 120