Episode 25 - Asrama


Heintz berguling manakala sepasang tombak meluncur tepat di atas kepalanya. Ini sudah kesekian kali refleks pemuda berambut kelabu itu diuji. Sebelumnya, terdapat enam tombak yang coba menancap di tubuhnya. Untunglah, Heintz dibekali kepekaan tinggi sebagai anggota keluarga pemburu di dunia nyata, Athena, Yunani.

“Masa bodoh dengan kekalahan. Aku akan bertarung!” 

Mata beriris ungu itu terpejam, selama sedetik kemudian berbalas gumpalan asap yang bergolak di kedua lengannya. Bukan tipe weapon, sepertinya. Bahkan, Heintz tampak yakin perlawanannya kali akan akan membuahkan hasil. Paling tidak, Chavo yang merepotkan itu akan beristirahat sejenak.

Akhirnya! Asap kelabu beringsut ke depan, melayang selayaknya komulonimbus. Dan, sesaat menggumpal, gas pekat itu membumbung ke langit, membentuk sosok tinggi-besar. 

“Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil. Namun, setidaknya super guardian itu punya lawan yang sebanding.” Heintz menatap sengit Chavo dan Vida yang berdiri santai.

“Lihat itu!”

“WAH!”

“Guardian, ya!”

Lengkaplah sudah transformasi asap-asap itu. Hasilnya, seekor makluk humanoid setinggi empat meter yang punya mulut selebar gua. Pun geligi runcing itu, kendati terbuat dari asap, tepat saja sama berbahayanya dengan stalagmit. Tatkala melangkah, maka kedua tangan sepanjang lututnya melambai-lambai seolah siap meremukkan siapa saja.

“Hadapilah guardianku, Hefaistos!” Heintz berseru antusias, meski keringat dingin menggenang di pelipis.

Chavo yang tahu kemampuannya tak pantas diadu dengan guardian murahan, tentu hanya bersikap biasa-biasa saja. Buruknya lagi, super guardian itu justru asyik berbaring seraya mengawasi sang musuh.

“Monster itu nyemerin, Chavo.” Vida bersuara.

“Tenang saja, Nona Vida. Selama ada aku, maka kau tak perlu khawatir.” Chavo tersenyum pongah.

“Ta-tapi gimana kalo—“

“Lihat ini!”

Tiba-tiba Chavo membalik tubuh sembari menganga lebar. Sejurus hal tersebut, angin kencang menyeruak dari mulutnya, berusaha menarik Hefaistos jauh ke dalam. 

“Dia akan menyerap asap itu lagi!” kata Arya.

“Taktik yang payah,” Jackal menimpali.

“Dia hanya membuang-buang tenaga. Seharusnya pakai army atau skill yang lebih bagus.” Sesudah bicara, Arya tiba-tiba terbeliak. “Atau—“

“Semua atributnya adalah asap.” Jackal dan muridnya berucap serempak.

“Ya, itulah mengapa aku terdesak begitu cepat. Sang pemakan asap, tak pernah terpikirkan sebelumnya.” Napas Heintz memburu, seakan dirinya sudah pasrah. “Tapi, dilihat dari sisi mana pun, dia seharusnya tidak punya super guardian. Apalagi, tidak mungkin secara kebetulan merupakan tipe guardian kelemahanku. Sial!”

Hefaistos terus tersedot, hingga yang tersisa cuma sepasang kaki berjari lima. Setelah llima detik pun, raksasa itu pada akhirnya lenyap tak tersisa. 

Tidak lama, Chavo bersendawa hebat. Dia tertawa lalu menyeringai ke arah Vida.

“Bagaimana? Chavo yang kuat ini mustahil dikalahkan.”

“Mantap, Chavo!” Vida mengacungkan jempol.

“TIDAK! Tidak secepat itu.” Heitnz menyela.

“Apa-apaan kau, Bocah? Kau sudah kalah,” sahut Chavo.

“Belum! Aku masih punya satu kesempatan untuk dibuktikan.”

“Kesempatan yang mana?” Biawak gila monster itu mengerling malas. “Aku telah melumat habis semua kesempatanmu.”

“Ini dia!” teriak Heintz.

Tiba-tiba perut Chavo bergemuruh. Semua penonton terperangah, mereka mengamati momen tersebut sebaik mungkin. Sebab, barangkali inilah titik balik di mana orang yang dikira lemah dan tak berdaya mampu menjadi juara dadakan.

Seolah mendukung persepsi mereka, raut wajah bersisik Chavo tampak panik. Geligi runcingnya bergemertak, dan lidah bercabang itu kerap kali menjulur. Maka dari itu, senyum penuh harap terpeta jelas di wajah Heintz.

“Aku memang sengaja membiarkan Hefaistos tersedot olehmu,” ujarnya.

“APA?!” gelegar Chavo.

“Mungkin kau tidak tahu. Hefaistos adalah dewa api, dan aku menginterpretasikan wujudnya sebagai raksasa asap untuk mengelabui pemakan asap semacam dirimu. Padahal, setelah ditelan, kau-pasti-akan-meledak. TAMAT!”

Perut Chavo kian bergemuruh, disertai pertambahan volume yang cepat. Sungguh, dia akan meledak secepat mungkin. Bola mata reptil itu berputar-putar, membuat Vida jadi kelabakan.

“Chavo! Chavo! Kamu kenapa?”

Super guardiannya tetap diam, justru semakin disibukkan oleh keempat kakinya yang bergetar hebat. Semudah itukah Chavo dikalahkan? Apakah predikatnya sebagai guardian yang mampu menembus kodrat tidak sebanding dengan kenyataan?

“Satu.” Heintz mulai menghitung. “Dua.”

“Jadi selama ini kita ada dalam skenarionya?” Red menggumam. “Heintz berhasil mengatur jalannya duel, bahkan tanpa disadari oleh kami.”

“Kalau tidak salah, syarat menciptakan guardian adalah mengerahkan semua lucidity pada pembentukan makhluk. Atau dengan kata lain, lucid dreamer takkan mampu menciptakan atribut lain, selain guardian.” Arya ikut mengomentari pertandingan. “Ah! Itu berarti, akhir dari duel ini sudah dapat ditentukan.”

“Belum!” Jackal menceletuk.

“TIGA!”

Sinar merah merebak dari pori-pori kulit Chavo, tampak seperti lampu disko yang berkelap-kelip. Bedanya, sinar yang satu ini membawa petaka. Melihat tingkah super guardiannya, Vida memilih pasrah. Tangan kanannya siap mengacung jika rencana Heintz terbukti berhasil.

“MELEDAKLAH!”

Suasana hening, termakan fokus penonton yang tiada putus. Mereka memerhatikan, juga bersikeras menahan kelopak mata agar tidak ketinggalan. 

Dalam gemuruh keputusasaan, Chavo berjalan tertatih-tatih. Langkah kakinya mendekati Heintz. Namun, sebelum sampai, Sang lawan lebih dulu mengambil langkah mundur. Dia akan meledak-ledak, pikirnya.

Sedetik berlalu, dan tiba-tiba saja seisi gelanggang diselubungi asap berdebu, sejurus terdengarnya bunyi ledakan. Penonton terkaget-kaget, kedantipun tetap memaksakan diri untuk melihat.

“Heintz menang.” Salah satu bersuara.

“Benar, sepertinya begitu.” Balasan dari tribun lain terdengar.

“Tidak. Vida masih punya cara jitu.”

“Dia sudah kalah.”

Menit demi menit berlalu, hingga akhirnya asap tinggal seawang. Rupanya baying-bayang Chavo masih ada. Kadal raksasa itu tampak aman-aman saja bersama Vida yang telungkup dalam lingkar ekornya.

“APA?!” Heintz terkesiap.

“Gwahaha … sendawa yang tadi itu adalah yang paling dahsyat,” katanya setengah bercanda. “Hey, Bocah! Lain kali berikan aku asap yang lebih besar.”

“Se-sendawa? Ba-bagaimana mungkin?!” Heintz akhirnya tersungkur. Beban yang amat berat, menerima kekalahan di saat ilusi kemenangan menguasai pikiran. Namun, itulah yang kini terjadi.

“Apa yang terjadi?” Nalar Arya tak kuasa mencerna kejadian barusan.

“Super Guardian merupakan subjek liar yang potensinya tidak terdeteksi. Mereka adalah keajaiban, suatu fenomena abnormal yang belum mampu diuraikan. Maka dari itu, dari awal Vida bisa dipastikan menang.” Jackal coba menjelaskan.

“Aku masih tidak mengerti. Apakah super guardian tidak punya kelemahan?”

“Bukannya tidak punya. Hanya saja, kemampuan mereka tidak terukur. Selain itu, gelar ‘Sang Pemakan Asap’ dan ‘Predator Musim Panas’ yang disandang Chavo adalah menifestasi yang coba dimasukan super guardian ke benak musuhnya guna menciptakan kelemahan.”

Alis Arya terangkat. Sungguh, di dalam hatinya, pemuda itu benar-benar terkejut. Akan tetapi, ekspresi wajahnya yang datar membuat penjelasan Jackal terkesan biasa-biasa saja. 

“Aku mengerti. Super guardian tidak perlu mencari kelemahan musuh. Merekalah yang menciptakan kelemahan tersebut, tidak peduli semacam apa kemampuan musuh tersebut.”

“Benar sekali.”

Di sisi lain, Heintz dengan berat hati mengangkat tangan kirinya. Orang itu menyerah dalam kekang kehinaan. Seperti kata Jackal, super guardian mampu memberi sugesti kepada musuh supaya beranggapan diri mereka lemah saat bertarung. Andai saja bukan Vida, andai saja orang lain, barangkali Heintz berhasil menang dan memilih asramanya sendiri. Namun, nasib berkata lain.

Seiring turunnya Goro ke gelanggang, suasana kian riuh. Apalagi setelah keempat pintu asrama berguguran, sesaat api hijau menyeruak. Tepat di pertandingan terakhir, para penonton meraup kepuasan tersendiri.

“Pilihlah asrama Anda.” Goro melirik Si gadis Meksiko, Vida.

“Hmm … yang mana, ya? Hey, Chavo! Menurutmu yang mana, nih?”

“Asrama sore bagus, sih. Aku suka sore hari. Tapi, asrama siang juga boleh. Aku juga suka siang!” 

“Haduh! Kalo gini aku malah jadi bingung,” ketus Vida.

“A-anu, Nona Vida. Pilih saja sesuai kehendakmu.” Chavo tersenyum.

“Ya! Karena aku takut gelap, jadi aku pilih asrama siang aja. Habisnya, aku juga penasaran gimana jadinya kalo dua puluh empat jam siang terus.” Gadis berambut merah muda itu bicara sambil cekikikan.

“Baik, sudah ditentukan. Selanjutnya, silakan pilih asrama untuk lawan Anda.” Goro menginstruksi.

Vida memandang Heintz seraya menempelkan telunjuknya ke bibir. Mungkin sedang berpikir-pikir, tetapi Heintz kelihatan tidak peduli.

“Asal sebut saja apa susahnya!” Pemuda itu menggelegar. Kedua tangannya mengepal kuat.

“Ta-tapi, kamu nggak ada usul?”

Heintz seketika mendongak, lalu berkata: “Usul soal apa?”

“Soal asrama buatmu. Kamu nggak mau asal masuk asrama, kan?”

Hari itu, Heintz benar-benar dibuat terkejut berkali-kali. Sungguh, ini yang pertama, ini momen awal baginya di mana bertemu seseorang hebat yang tidak egois. Bahkan, ia merasa buruk tatkala mengingat dirinya yang sombong, padahal tidak sekuat Vida. Tak sadar, mata itu akhirnya nanar.

“K-kau serius?” ujarnya setengah berharap. Detik itu pun, Vida langsung mengangguk. “Te-terima kasih!” Heintz bersimpuh di hadapan musuhnya sendiri.

“Hebat.” Tak sengaja Arya menyanjung gadis berkulit cokelat itu.

“Dia kuat di luar, tetapi sangat rapuh di dalam.” Jackal spontan berargumen.

“Apa maksudmu?” Arya menoleh tatkala dirinya mendekati tepian tribun.

“Tidak ada pemenang yang mau mendengarkan opini pecundang. Jika dia melakukannya, itu artinya pertandingan ini seri.”

Para penonton sama riuhnnya terhadap keputusan Vida. Selain kemampuan, kepribadian kontestan juga dinilain dalam duel tiga pihak. Gelanggang Goro menjadi saksi bisu pergelutan fisik serta batin di antara para lucid dreamer. 

Mereka dituntut patuh terhadap ketentuan, meski tidak dipaksakan. Namun, itu semua termasuk ke dalam kriteria penilaian yang berpengaruh terhadap sesi-sesi ke depan.

“Kalau begitu, aku memilih asrama sore.” Heintz tersenyum tipis.

“Terkabulkan.” Wajah Vida berseri. "Hey, Pemilik gelanggang. Tolong masukin orang ini ke asrama sore."

"Dengan senang hati." Goro menundukkan kepala.

Dan begitulah, kedua kontestan terakhir tersebut melenggang ke dalam portal tanpa secuil pun kesedihan. Memang, Vida didakwa sebagai lucid dreamer yang rapuh. Akan tetapi, setidaknya bagi Heintz, dia adalah kontestan terkuat sepanjang masa.

Sesi duel tiga pihak dinyatakan selesai. Sejumlah penonton berangsur meninggalkan gelanggang. Alih-alih pulang melewati gerbang utama, mereka justru menghilang dalam lingkup cahaya putih.

"Apa itu?" Mata Arya membulat. "Mereka bukan manusia?"

"Bukan. Mereka subjek yang derajatnya lebih rendah dari karakter mimpi," tukas Jackal.

"Memangnya ada?"

"Namanya hologram. Percikan ingatan yang dimodifikasi sedemikian rupa."

Sesaat jumlah penonton tersisa sedikit, Goro pun menegakkan lehernya. Naga itu mendelik pada tribun spesial, di mana para duta pandora duduk.

"Acara berikutnya, pemilihan asrama bagi lucid dreamer didikan duta pandora."