Episode 128 - Perang Saudara



“Adikku, apakah kiranya yang membuat dirimu teramat yakin bahwa perdamaian antar kedua kekuasaan di dalam wilayah yang sama dapat dicapai?”

“Yang Mulia Sri Baduga Maharaja, dari kunjungan hamba ke Kerajaan Siluman Gunung Perahu beberapa waktu lalu, dan setelah berbincang empat mata dengan Raja Bangkong IV, diketahui bahwa sang raja sesungguhnya menginginkan kedamaian,” urai Sangara Santang, Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti. 

“Lalu, mengapa mereka terkesan mengkehendaki terjadinya perang…?”

“Situasi politik di Kerajaan Siluman Gunung Perahu sedang bergejolak.”

“Apakah ada di antara 50 punggawa dan bangsawan yang memberontak…?” Prabu Silih Wawangi menebak akan kemungkinan terburuk. 

“Tidak secara terang-terangan. Ke-50 punggawa dan bangsawan di Kerajaan Siluman Gunung Perahu terpecah dalam beberapa kubu. Namun, kubu penentang Raja Bangkong IV sudah berjumlah lebih dari setengah.”

“Mendengar uraianmu akan situasi politik di dalam Kerajaan Siluman Gunung Perahu, aku menjadi tambah penasaran. Atas dasar apakah dirimu demikian yakin bahwa Regu Perdamaian yang dibentuk akan mampu melakukan perubahan di dalam Kerajaan Siluman Gunung Perahu…?”

“Karena…,” Maha Guru Kesatu Sangara Santang menahan diri sejenak.

“Bahkan bila diriku sendiri yang berkunjung, sungguh tiada mungkin dapat berbuat banyak….” Sri Baduga Maharaja, Prabu Silih Wawangi mendesak. 

“Yang Mulia Sri Baduga Maharaja, masih ingatkah Kakanda Prabu saat hamba sampaikan bahwa sebuah ‘harapan’ sedang berada di Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa?” *

“Masih. Sudilah memberikan penjelasan yang lebih runut.” 

“Di Kota Ahli, saat Kejuaraan Antar Perguruan, hamba sempat bertemu dengan seorang anak remaja perwakilan dari Perguruan Gunung Agung. Singkat kata, tubuh anak remaja tersebut hampir dirasuk oleh salah satu Raja Angkara.” 

“Raja Angkara…?” gumam Prabu Silih Wawangi. Namun ia menahan diri dari menyela. 

“Di saat kritis, hamba tiba dan hendak memberi pertolongan… Akan tetapi, sesuatu yang demikian pelik terjadi. Meski anak remaja tersebut telah tergeletak tak sadarkan diri, si Raja Angkara tak berani mendekat…”

“Oh… Mengapakah demikian…?”

“Hamba pun sungguh penasaran. Oleh karena itu, hamba mengerahkan segenap daya upaya untuk menebar dan memperkuat jalinan mata hati. Di saat itulah hamba menangkap keberadaan sosok besar berwarna kemerahan.”

“Apakah ada jiwa dan kesadaran ahli digdaya yang melindungi anak tersebut...?” Prabu Silih Wawangi mulai dapat membaca arah penjelasan Sangara Santang. 

“Benar. Entah bagaimana, jiwa dan kesadaran ahli digdaya tersebut mengikuti anak remaja itu. Bahkan, si Raja Angkara akhirnya memutuskan untuk menarik diri.”

“Siapakah kiranya ahli digdaya yang dapat membuat Raja Angkara mundur…?”

“Kakanda Prabu… bila tak salah cerna, maka tokoh yang memiliki kewibawaan sedemikian perkasa adalah tiada lain dari salah satu Jenderal Bhayangkara.”

“Jenderal Bhayangkara!?”

“Benar. Kecurigaan hamba saat itu semakin tak terbantahkan tatkala menyaksikan anak remaja yang sama dapat mengerahkan kesaktian Pedang Patah!”

“Keris Tameng Sari…” 

“Benar, keris milik Laksamana Hang Tuah…” sahut Sangara Santang. “Pengetahuan dan kemampuan yang sedemikian tentu tak mungkin dimiliki oleh seorang anak remaja biasa. Hal tersebut menegaskan kenyataan akan Jenderal Bhayangkara berada di baliknya. Walaupun demikian, hamba belum dapat memastikan siapa sebenarnya tokoh Jenderal Bhayangkara tersebut…”

“Tokoh yang demikian digdaya pastilah dapat mengubah neraca kekuatan di dalam Kerajaan Siluman Gunung Perahu.” Prabu Silih Wawangi sudah sepenuhnya memahami rencana Maha Guru Kesatu Sangara Santang. 

“Benar!” 

“Sungguh merupakan sebuah harapan,” ujar Prabu Silih Wawangi. “Lalu, siapakah nama anak remaja yang demikian menjanjikan…?”

“Namanya… Bintang Tenggara.”

“Hah! Bintang Tenggara!?” Sri Baduga Maharaja, Prabu Silih Wawangi, Penguasa Tanah Pasundan, melompat dari kursi singasananya.

“Kakanda Prabu…? Ada apakah gerangan…?” Maha Guru Kesatu Sangara Santang, yang biasa tenang, terlihat sedikit panik. 

“Adikku, masihkah kau ingat tentang racun yang mendera mustika tenaga dalamku? Kemudian, perihal pengembaraanku selama puluhan tahun mencari penawarnya?”

“Kakanda Prabu, bagaimana mungkin hamba lupa. Racun yang membuat mustika tenaga dalam kembali berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3. Kemudian, Kakanda Prabu mengembara seorang diri ke seantero Negeri Dua Samudera sebagai pendekar rendahan….”

Prabu Silih Wawangi kembali duduk di singasana. Wajahnya seolah mengenang masa lalu. Rautnya haru sekaligus senang. 

“Lalu, apakah hubungannya dengan anak remaja bernama Bintang Tenggara…?” Kali ini, Maha Guru Kesatu Sangara Santang yang dibuat penasaran. Atau mungkin... seolah-olah penasaran. Perlu diingat, bahwa ia adalah anggota Pasukan Telik Sandi, pemilik banyak informasi. 

“Penawar racun mustika tenaga dalam yang mendera diriku… Batu Bacan Taruna… Diberikan oleh seorang anak remaja bernama… Bintang Tenggara.” **


===


“Aku, Komodo Nagaradja, diangkat oleh Raja Bangkong II sebagai Pamong Kerajaan Siluman Gunung Perahu!” 

“Aku, Komodo Nagaradja, menenggak darah persaudaraan bersama dengan Raja Bangkong III!”

“Aku, Komodo Nagaradja, merupakan wali bagi Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu!”

Tiga kalimat dari sosok perkasa nan digdaya, serta merta membungkam keramaian di dalam Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Limapuluh ahli, siluman sempurna kesemuanya, terpana! 

Raja Bangkong IV melompat turun dari kursi singasana tempat ia berdiri. Ia melangkah maju, melewati Komodo Nagaradja. Tatap matanya tajam mengamati seluruh punggawa dan bangsawan di Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Ia mengenal setiap satu dari mereka. 

Limabelas punggawa dan bangsawan melangkah maju. Kesemuanya berasal dari kubu pendukung raja. Mereka lalu bertekuk lutut. 

“Hidup dan mati kami hanya teruntuk Yang Mulia Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu! Sembah kami harap diampun!”

“Salam hormat kepada Yang Sani*** Komodo Nagaradja! Pamong, Saudara dan Wali dari Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu! Sungguh sebuah kehormatan tiada terkira, bagi kami yang diperkenankan bersua!” 

“Hm… hanya kalian…?” Komodo Nagaradja memandang ke-15 ahli. Matanya lalu menyapu pandang ke arah yang lain. 

Suasana hening. 

“Hei, kalian! Kembar muka babi bangsat!” Komodo Nagaradja menunjuk ke arah sekelompok bangsawan yang berada di kubu netral. “Siapa yang menyelamatkan keluarga kalian dari buruan Kaisar Iblis Darah sebelum Perang Jagat pecah!?”

“Adalah Raja Bangkong II, yang melindungi keluarga kami. Jasa beliau tak akan pernah lekang dimakan waktu!” 

“Lalu!?” hardik Komodo Nagaraja. 

Dua ahli kemudian terlihat melangkah maju. Keduanya lalu bertekuk lutut.

“Hidup dan mati kami hanya teruntuk Yang Mulia Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu! Daulat kami di bawah kakimu!”

“Salam hormat kepada Yang Sani Komodo Nagaradja! Pamong, Saudara dan Wali dari Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu! Sungguh lama, tiada bersua. Kehadiran Yang Sani, selalu dinanti.”

“Kau! Ya, kau! Aku lupa namamu!” Komodo Nagaradja kemudian menunjuk ke arah lelaki tua bertubuh kekar. “Ya, kau! Siapa lagi!? Siapa yang menyelamatkanmu saat hampir diperkosa salah satu Raja Angkara. Kepada siapa kau berutang lubang bokongmu!?” 

Wajah lelaki tua bertubuh kekar tersebut serta-merta berubah kecut. Ia jelas berada di dalam kubu yang menentang daulat sang raja. Pada akhirnya, ia melangkah maju, lalu bertekuk lutut. 

“Hidup dan mati kami hanya teruntuk Yang Mulia Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu! Mohon ampunan atas kesilapan orang tua ini.” 

“Salam hormat kepada Yang Sani Komodo Nagaradja! Pamong, Saudara dan Wali dari Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu! Mohon kiranya berkenan untuk tak membuka luka lama….”

Komodo Nagaradja kembali menyapu pandang. Baru ia hendak membuka mulut, lima ahli tetiba melompat maju! Sungguh cekatan gerakan mereka. Walau, wajah setiap satunya demikian kusut dan keringat dingin deras bercucuran. Kemungkinan besar mereka berpikir agar jangan sampai Komodo Nagaradja menunjuk, menghardik, mengungkit masa lalu, kemudian mempermalukan. Lebih baik menyerahkan diri saja daripada menjadi korbon cemooh berkepanjangan. Mereka pun segera bertekuk lutut, lalu mengutarakan ikrar kepada sang raja. 

23 ahli dari ke-50 punggawa dan bangsawan telah bersumpah setia dan berkumpul ke dalam kubu pendukung Raja Bangkong IV.

“Sungguh aku tiada mengira kalian sudah jatuh ke jurang terendah!” Komodo Nagaradja mencibir kepada 27 ahli yang masih tak bergeming. 

“Salam hormat kepada Yang Sani Komodo Nagaradja! Pamong, Saudara dan Wali dari Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu,” seorang lelaki tua melangkah maju. 

“Hmph….” Komodo Nagaradja terlihat amat kesal. 

“Mohon Yang Sani Komodo Nagaradja tiada menyangsikan kesetiaan kami kepada Raja Bangkong IV. Akan tetapi, keadaan di Kerajaan Siluman Gunung Perahu telah berubah sejak Yang Sani Komodo Nagaradja terakhir berkunjung.” 

“Bangsat! Sampaikan keluhanmu! Kau kira aku suka berbasa-basi!?” hardik Komodo Nagaradja sebal. 

“Yang Sani Komodo Nagaradja, Kerajaan Siluman Gunung Perahu kini bagai telur di ujung tanduk…,” sela seorang perempuan dewasa sambil melangkah maju. 

“Telurmu yang bertanduk!” Komodo Nagaradja terlihat muak. Ia tak hendak mendengarkan apa pun itu alasan mereka yang ingin menggantikan Raja Bangkong IV. 

Sejumlah punggawa dan bangsawan yang berada di kubu penentang Raja Bangkong IV mulai terlihat panik. Siapa di antara mereka yang mengira bahwa tokoh siluman sempurna sekelas Komodo Nagaradja akan datang bertandang. Mereka menyadari bahwa sosok tersebut hanyalah jiwa dan kesadaran, tanpa raga. Mereka pun sepenuhnya memaklumi bahwa bagi ahli tingkat tinggi, bukanlah sesuatu yang tak biasa bagi jiwa meninggalkan raga, dan berkelana.  

Pada awalnya, niat mereka hendak mengambil alih Kerajaan Siluman Gunung Perahu dengan cara yang santun. Rencana yang mereka susun adalah memaksakan perang dengan Kemaharajaan Pasundan. Raja Bangkong IV dipastikan menolak. Mereka lalu akan mengajukan syarat agar Raja Bangkong IV turun tahta, agar mereka menarik pasukan dari keadaan perang. 

Kini, mereka sadari bahwa rencana tersebut tak lagi dapat diterapkan. Setidaknya sejak siluman sempurna yang gampang naik darah itu tiba, tak akan ada ruang negosiasi. Semuanya mengetahui bahwa Komodo Nagaradja adalah salah satu dari sembilan jenderal perkasa di saat Perang Jagat. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang ikut berjuang di balik panji-panji Raja Bangkong III, serta Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara itu. 

Siapa di antara mereka yang tak pernah menyaksikan kedigdayaan Tinju Super Sakti!? 

Dalam pandangan mereka, Tinju Super Sakti setara adanya dengan Tapak Suci, jurus silat andalan milik Sang Maha Patih. Dalam ingatan mereka, Komodo Nagaradja bak Dewa Perang yang melompat keluar dari liang neraka abadi. Meluluhlantakkan pasukan lawan adalah makanan kegemarannya. Perang Jagat adalah taman bermainnya. Hamparan tulang belulang adalah tempat tidurnya!

Dengan demikian, memahami watak Komodo Nagaradja, mereka segera menyadari bahwa perang saudara bisa saja segera tersulut dan berkecamuk… sesuatu yang bahkan kubu penentang raja hendak hindari. 

“Perang saudara!” teriak Komodo Nagaradja membahana. Sepertinya, ia hendak menyulut pertumpahan darah di kerajaan yang seharusnya berada di bawah perlindunganya, sebagai Pamong di Kerajaan Siluman Gunung Perahu!

“HAH!” Kubu penentang raja mundur selangkah, tergopoh-gopoh. Skenario terburuk dari yang terburuk segera mengemuka. 

“Tu… Tunggu dulu wahai Yang Sani Pamong, Saudara dan Wali…”

“Kami mohon Yang Sani Komodo Nagaradja menenangkan diri terlebih dahulu…”

“Tiada yang mengkehendaki perang saudara… Yang Mulia Raja Bangkong IV, kami memohon…” 

Siapa yang dapat mengira bahkan kubu penentang raja, malah meminta Raja Bangkong IV untuk menengahi. Sang Raja masih berdiri diam di atas panggung singasana. Sedari tadi ia hanya mencermati. Mamang Komodo Nagaradja tak pernah berubah, pikirnya dalam hati. Tentu saja dirinya sendiri tak mengkehendaki akan perang saudara. Di saat yang sama, ia pun tak mungkin melepas gelar Raja Bangkong IV. 

“Sebagaimana yang sudah kukatakan kepada regu manusia perwakilan dari Kemaharajaan Pasundan… bagiku, hanyalah kekuatan yang utama!” ujar Raja Bangkong IV tenang. 

“Swush!” 

Suasana di dalam istana semakin memanas. Kubu pendukung Raja Bangkong IV bersiaga. Aura tenaga dalam menyibak dan terus meningkat dari tubuh mereka. Satu kata titah dari sang raja, maka mereka akan serta-merta menyerang. Setiap satu dari mereka siap mengorbankan jiwa dan raga!

Kubu penentang kembali mundur selangkah. Hanya ada beberapa dari mereka yang bersiaga. Sebagian besar memang tak mengkehendaki terjadinya pertumpahan darah di dalam Kerajaan Siluman Gunung Perahu. 

“Aku masih berpegang teguh pada keputusan bahwa kita harus menjaga kedamaian dengan manusia. Oleh karena itu, kita selesaikan pertikaian ini dengan mengirimkan perwakilan dari kedua kubu. Adalah mereka yang nantinya akan bertarung dalam laga antar ahli.”

Seluruh hadirin terdiam. 

“Perwakilanku adalah kelima anak manusia yang datang berkunjung sebagai Regu Perdamaian. Bilamana perwakilanku kalah, maka aku akan turun tahta!” 

Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu kembali ramai. Ada yang setuju, ada pula yang menyampaikan keberatan. Meski demikian, baik kubu pendukung maupun kubu penentang, terpaksa menerima titah sang raja. Kesemuanya sepakat bahwa perang saudara bukanlah sesuatu yang mereka inginkan. Kekuatan Kerajaan Siluman Gunung Perahu malah akan menukik tajam bilamana hal tersebut terjadi. 

Selain itu, setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa sang raja menguasai Tinju Super Sakti, beberapa punggawa dan bangsawan yang berada dalam kubu penentang secara tak sadar mulai mengakui kedaulatan Raja Bangkong IV. Sejak kapan Yang Sani Komodo Nagaradja mewariskan jurus tersebut kepada sang raja? Apa jadinya jikalau Raja Bangkong IV turun tangan dan melumat kubu penentang? Mereka hanya mampu mengira-ngira. 

Dulunya, mereka berpandangan bahwa Raja Bangkong IV adalah pribadi yang lemah. Tak berani bertindak karena tak memiliki pendirian. Bahkan, mengupayakan perdamaian merupakan ungkapan dari rasa takut terhadap umat manusia. Namun, kini lain halnya. Dengan pimpinan yang sedemikian digdaya, maka tak perlu dikhawatirkan lagi akan masa depan bagi Kerajaan Siluman Gunung Perahu. 

Satu jurus mampu mengubah pandangan sejumlah siluman sempurna yang tak diragukan lagi keperkasaannya. Satu jurus yang demikian ditakuti oleh kalangan siluman sempurna di saat Perang Jagat telah kembali! 

“Pertarungan akan berlangsung dalam satu purnama dari sekarang!” titah Raja Bangkong IV. Aura kewibawaan mencuat dari dalam dirinya. Tiada satu pun yang menyanggah keputusannya. Banyak yang sudah mengakui kedaulatannya. 



Catatan:

*) Episode 115.

**) Cerita pertemuan Bintang Tenggara dengan seorang pendekar dimuat di dalam Episode 30-32. Lama sekali rasanya… 

***) sani/sa·ni/ a mulia; luhur; indah


Penggemar Super Guru, mana suaranyaaa…?