Episode 2 - Kesepakatan


“Oke. Jadi kamu sepakat membantuku menggagalkan pernikahan Claudya?” tanya Badut. Didesak pertanyaan itu, Kirana hanya membisu di tengah suara denting sendok yang diputarnya dalam cangkir kopi. Kirana merasa tak punya pilihan, lantaran itu satu-satunya upaya yang bisa dia lakukan untuk memastikan Badut tak lagi nekat bunuh diri.

“Kamu harus bantu aku, sebab kamu yang bilang sendiri kalau kamu memang diciptakan Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang dari bunuh diri.” Badut semakin menyudutkan Kirana.

Di kedai "Dua Nyonya”, tak jauh dari gedung tempat Badut hendak terjun bebas, Kirana bercerita kepada Badut latar belakangnya memilih jadi penyelamat orang-orang yang hendak bunuh diri. Menurut Kirana, keputusannya hadir sebab terlalu banyak kebetulan-kebetulan mampir dalam hidupnya yang berkaitan dengan bunuh diri. Secara intuitif, dan telah terjadi berkali-kali ketika dia melakukan hobinya berjalan kaki tanpa tujuan, langkah menemukannya dengan orang-orang yang berniat bunuh diri. Dan, setelah berhasil mengelabui keamanan gedung tua tempat dia menemukan Badut, Kirana, sekali lagi, membuktikan intuisinya. Kali ke sekian dihadapkan pada situasi serupa, Kirana yakin Tuhan memang menciptakannya untuk menggagalkan bunuh diri orang lain.

“Na?” Badut mencoba merampas Kirana dari lamunan.

“Hmmmm …” Kirana terlihat menimbang. “Aku pernah dihadapkan pada situasi yang lebih menjengkelkan daripada sekarang. Dulu, aku pernah menyelamatkan seorang lelaki yang hendak bunuh diri karena ditinggal menikah. Lalu, dia berjanji nggak akan mencoba bunuh diri lagi dengan syarat aku harus menikah dengannya. Kukatakan padanya, ini konyol sekali. Aku menyelamatkan seseorang dari bunuh diri, sementara aku sendiri akan berakhir bunuh diri karena menikah dengan hidung belang seperti dia. Lalu …” Kirana menyesap kopinya, kemudian terdiam cukup lama.

“Lalu apa?” tanya Badut, seraya medekatkan telinga ke arah Kirana.

“Lalu lelaki itu melompat ke sungai.”

“Nah, itu yang bakal terjadi denganku kalau kamu nggak bersedia membantuku. Aku akan benar-benar bunuh diri.”

Kirana mengaduk lagi cangkir kopinya.

“Ini dilematis, Dut. Kalau aku membantumu menggagalkan pernikahan mantanmu, aku menyelamatkanmu, tapi bisa jadi mantanmu dan calon suaminya yang akan bunuh diri.”

“Dan itulah kenapa kamu diciptakan Tuhan! Selanjutnya kamu harus menyelamatkan mereka!”

“Brengsek!”

Deal?” Badut mengulurkan tangannya.

Deal, lah,” ucap Kirana, enggan, seraya membalas ulur tangan Badut.

“Tapi aku perlu satu orang lagi untuk menjalankan misimu. Dia temanku, namanya Bastian, dia punya pengalaman banyak dalam menggagalkan pernikahan orang. Dia ahlinya soal itu. Bahkan populasi kucing kampung di daerah rumahnya pun sangat sedikit karena perkawinan mereka selalu digagalkan Bastian.”

“Wow! Dia orang paling kurang kerjaan sedunia.”

“Ya, begitulah.” Kirana mengambil garpu, memotong pancake di atas piring, kemudian memasukannya ke dalam mulut. “Oh iya, kamu sendiri,” Kirana menyesap kopi untuk mendorong pancake masuk ke tenggorokannya, “pekerjaanmu?”

“Aku?” Badut menyeringai, Kirana mengangguk. “Serius kamu nggak tahu aku siapa?” tanya Badut.

Geleng kepala Kirana membuat wajah Badut merah. Keyakinan bahwa banyak orang yang mengenalinya, lindap sekejap. “Aku ini seorang comic,” imbuh Badut.

Kirana menajamkan mata. Badut paham Kirana tak mengerti apa itu comic, sehingga dia melanjutkan, “Aku standup komedian yang, ummm, cukup sering muncul di TV.”

“Seriuuus?! Astaga! Tampangmu terlalu melankolis untuk jadi seorang komedian, Dut!”

Badut tersenyum kecut.

“Oh, seandainya aku sering menonton TV dan tahu siapa kamu, harusnya aku biarkan saja kamu bunuh diri sehingga aku bisa selfie di dekat mayatmu dan menjual fotonya ke portal berita.”

“Sialan!” Badut memalingkan wajah merahnya dari tatapan Kirana.

“Kamu tahu, apa yang menyedihkan dari menjadi seorang komedian?” tanya Badut, setelah memastikan warna wajahnya kembali normal.

“Orang-orang berhenti menertawakanmu?”

“Bukan. Tapi orang-orang terus menertawakanku, sementara aku sudah muak ditertawakan.” Melihat perubahan ekspresi wajah Badut, Kirana ragu memilah kata untuk merespon.

“Kerjaanmu sendiri, Na?” Akhirnya, Badut memutuskan menyelamatkan Kirana dari situasi canggung.

“Aku penulis …”

“Serius?!” Ekspresi wajah Badut berubah kagum. “Aku selalu bermimpi bisa menulis dan menerbitkan buku, lho!”

“A-a-aku cuma penulis kartu ucapan.” Kirana menunduk. Melihat itu, Badut merasa bertanggung jawab untuk memerbaiki perasaan perempuan di hadapannya.

“Aku pernah memborong kartu ucapan bertema kasih sayang dan kualamatkan ke langit untuk almarhum nenekku.” Badut mencoba membesarkan hati Kirana.

“Beneran?”

“Ya, serius. Dan suatu hari, setelah kartu ucapan ke sekian, seorang tukang pos datang ke rumahku membawa kartu ucapan balasan dari nenekku. Kemudian, setelah itu, aku terus mengirim kartu ucapan dan hampir selalu mendapatkan kartu balasan dari nenekku. Lalu setelah cukup dewasa, aku baru sadar bahwa aku belum sekali pun mengucapkan terima kasih kepada tukang pos itu …” Mata Badut menangkap bola mata Kirana, “juga kepada si Pembuat Kartu Ucapan, entah siapa pun dia.”

Kirana tersenyum. “Aku pun harus berterima kasih kepada seorang komedian yang pandai membesarkan hati seorang perempuan.”

By the way, apa ucapan terbaik yang pernah kamu tulis untuk membesarkan hati seorang yang patah hati?”

“Patah hati bukan alasan paling masuk akal untuk bunuh diri,” gurau Kirana.

 “Sialan!”

“Eh,” Kirana memutar sendoknya, “kamu tahu apa hal yang paling menyedihkan dari seorang penulis kartu ucapan?”

Badut menggeleng.

“Ketika suatu hari kamu butuh dikuatkan, tapi nggak satu pun kalimat yang kamu buat bisa menguatkanmu, atau bahkan sekadar mewakili perasaanmu. Lalu, lama kelamaan, aku semakin membenci pekerjaanku.”

Suasana tiba-tiba hening. Badut menghindari kecanggungan dengan melihat ponselnya. Kirana mencoba menghabiskan pancake-nya, meskipun mulutnya sudah malas mengunyah.

“Na,” ucap Badut, memecah keheningan, “aku masih penasaran kenapa kamu bisa menyimpulkan kalau aku memang berniat bunuh diri di atap gedung tadi.” Meskipun sebenarnya Kirana sudah menjelaskan jawabannya, tetapi Badut memang tak punya pertanyaan lain untuk diucapkan.

Menyadari pertanyaan Badut hanya untuk mencairkan kebekuan, Kirana menjawab, “Tadinya ada dua kesimpulan yang muncul di benakku saat melihatmu berdiri di atap gedung. Pertama, kamu punya kelainan seksual di mana kamu hanya bisa ejakulasi jika onani sambil melihat pesawat terbang. Kedua, kamu tengah patah hati dan ingin melompat. Dan aku membenarkan kesimpulan kedua.”