Episode 5 - Sleeping Lion


Meski terbiasa bangun pagi, jika diberikan pilihan, Neil jauh lebih suka bangun siang. Jika dilihat dari kegiatan, jadwalnya selalu kosong. Selain bermain bersama Navi, Neil jarang menghabiskan waktu di luar rumah kecuali dalam keadaan tertentu. 

Neil baru saja keluar dari sebuah toko kecil tempat langganannya. Tempat untuk menjahit. 

Di hari yang panas itu, ia mengakan kemeja berlengan panjang dengan celana jeans. Syal merahnya tidak lepas meski dahinya sedikit berkeringat. Dibandingkan dengan seragam yang ia kenakan sebelumnya, Neil sekarang terlihat seperti seorang gadis biasa yang sedang berjalan-jalan di tengah kota. 

Rencananya, ia pergi ke itu untuk mermperbaiki syalnya. Namun, karena kerusakan yang dialami adalah terbakar, semua tempat yang ia datangi mengatakan kalau mustahil untuk memperbaikinya kecuali sebagian kecilnya digunting dan dijahit ulang. 

Sebenarnya Neil tidak masalah dengan hal itu. Masalah utamanya adalah waktu antara syal dan dirinya terpisah sangat lama, hingga Neil menolak semuanya. Karena suatu alasan, Neil tidak bisa lepas dari syal kesayangannya itu kecuali saat ia tertidur.

Keringat semakin bercucuran, membanjiri wajah. Neil yang terbiasa tinggal di tempat dingin, tentu saja punya masalah dengan kondisi panas Jakarta.

Jakarta yang awalnya memiliki masalah dengan padatnya penduduk, sekarang sudah berkurang sedikit. Yang awalnya memiliki sedikit tanaman, sekarang mungkin jauh lebih sedikit lagi. Banyak pembangunan gedung terlihat, begitu juga kendaraan pribadi yang berlalu lalang. 

Outsiders pertama kali muncul sekitar delapan tahun yang lalu dan terjadi di Indonesi—Jakarta. Rasanya aneh jika dipikir untuk sesaat. Umumnya, Outsiders datang dari laut, seperti Black Horn yang muncul sebelumnya di pelabuhan. Hal ini juga memberikan pertanyaan lebih, kenapa makhluk itu datang dari samudera? Karena luas lautan di bumi tidak bisa diukur, bisa dikatakan mustahil untuk mengetahui hal itu untuk saat ini.

Setelah selama itu, kondisi Jakarta masih belum pulih sepenuhnya. Bagian terburuk, beberapa tempat dinyatakan memiliki radiasi yang cukup kuat hingga berbahaya untuk dikunjungi oleh orang-orang.

Neil kembali ke mobil, membatalkan rencananya.

Jika melihat jam, mungkin sekitar pukul setengah dua belas. Beberapa menit sebelum matahari berada di atas kepala.

Neil pergi ke tempat biasa—OFD. Meski di hari libur, ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Tanggung jawabnyalah yang mendorong Neil untuk sampai ke sini.

Neil memarkir mobilnya di tempat biasa. Setelah itu, segera naik tangga menuju lobi utama. Beberapa orang yang tahu prestasi tentang Neil memberikan pandangan aneh, juga bertanya-tanya, tapi tidak sampai memberikan tekanan pada Neil.

Karena tujuannya berbeda, Neil keluar dari gedung utama, pergi ke gedung khusus pelatihan. Dari gedung utama, letaknya tidak terlalu jauh. Jika berjalan kaki, mungkin sekitar lima menit seandainya tidak ada halangan.

“Lihat, siapa yang datang kemari.” 

Suara seorang pria menghentikkan langkah Neil yang baru saja keluar dari pintu otomatis. Neil meliri sekilas ke arah pria itu. Mengenal suaranya, Neil menghela napas kecil.

Bukan hanya seorang, tapi empat orang—sebuah tim. Dua orang laki-laki, dua orang perempuan. Lalu, yang memanggil Neil barusan adalah pemimpinnya.

“Terlalu cepat. Kenapa kalian sudah kembali?” Neil dengan suara datar sambil memalingkan pandangan ke arah gedung pelatihan, lalu kembali lagi pada pria yang mendekat. “Tidak seperti biasanya, Rico.”

“Akhir-akhir ini, beberapa dari kami sedikit sibuk. Jadi, kami memutuskan untuk mengambil rank C. Selain itu, untuk yang satu ini, beruntung tempatnya tidak terlalu jauh. Kami jadi pulang lebih cepat dari biasanya.” Pria yang dipanggil dengan sebutan Rico itu, memberi senyum persahabatan juga santai pada Neil.

Semuanya mengenakan seragam yang hampir sama. Sebuah jaket abu-abu dengan logo sillhoute singa di belakangnya. 

“Rank C, ya?” gumam Neil pelan. Pandangannya terarah ke lantai untuk sesaat.

Tidak biasa, wajar bagi Neil berpikiran seperti itu. Dibandingkan dengan tim Flame Lily yang berada di urutan empat, tim Rico—Sleeping Lion berada di urutan pertama. Dalam masalah strategi dan komposisi tim, maka tim Sleeping Lion jauh di atas Flame Liliy juga yang lainnya.

“Hmm, kau bilang sesuatu?” Rico merasa mendengar sesuatu.

“Ah, tidak ada.” Neil menggelengkan kepala. “Aku hanya sedikit terkejut saja. Biasanya kalian mengambil misi Rank A atau B.”

“Akan sangat tepat jika aku bilang, kalau kami sudah lelah. Yah, aku tidak ingin mati hanya karena demi reputasi.” Senyum Rico tidak menghilang, tapi nada suaranya sedikit berubah, sedikit serius.

Neil mengangguk. Ia juga mengerti hal itu. Terutama, setelah salah satu anggotanya hampir mati kemarin. 

“Ngomong-ngomong, Neil,” pria yang berdiri di belakang Rico berbicara. Matanya sedikit penasaran, tapi tampak ragu untuk mengatakan apa yang ada di pikiran.

“Kenapa Atsu?” tanya balik Neil dengan datar. 

“Aku dengar, kau menyelesaikan misi Rank A kemarin. Apa itu benar?” 

Pria yang dipanggil dengan nama Atsu, mendekap. Kedua gadis yang berada di dekatnya, memberikan tatapan bertanya-tanya juga pada Neil, menunggu jawaban kepastian.

Neil bertanya-tanya dalam kepala, dari mana ia mengetahuinya? Laporan tim tentang misi yang diambil memang tidak dirahasiakan, tapi juga tidak diumumkan secara bebas. Jadi, meski ada tim yang berhasil mengalahkan Rank A, tidak akan ada pemberitahuan atau pengumuman sama sekali di dalam OFD. Jika dipikir, rasanya aneh informasi seperti itu bisa tersebar dengan cepat.

“Ini mengingatkanku, Eric juga memberitahuku tentang hal ini.” Rico berpikir, menyusun sebuah kalimat. “Kau juga sama, Neil. Seperti bukan dirimu saja.” Rico membalikkan ucapan Neil.

Eric, seseorang yang bertanggung jawab mengawasi tim satu. Jika Neil boleh menebak, maka Eric mendapatkan informasi itu secara langsung dari atasannya—Arbi. Di sisi lain, Arbi pun rasanya merasa sedikit bangga kalau orang-orang yang dia awasi memiliki penghargaan tersendiri.

“Kalau begitu, ucapan selamat, mungkin tidak akan belerbihan.” Atsu berbicara. “Kalau tidak salah Black Horn, ya? Meski sedikit mengesalkan, tim kalian mengalahkan tim kami. Yah, aku rasa ini lumayan hebat.” 

“Salah satu orang hampir mati. Aku tidak akan bilang, kalau ini adalah hal yang bagus. Kurasa, ini akan menjadi yang terakhir kalinya.”

“Hmm… Nadia, ya?” tanya Rico tampak serius. “Tapi, sama seperti yang Atsu katakan. Ini yang namanya peningkatan.” Arbi menepuk pundak Neil pelan, memberi semangat. 

“Ehm, ehm…” Salah satu gadis yang berdiri di belakang Rico menarik perhatian. “Rico, Atsu, bukankah sudah cukup?” Dengan mata tajam, ekspresinya nampak terganggu oleh sesuatu.

“Apa ini, cemburu?” ejek Atsu, menyenggol pinggangnya dengan senyum kecil. “Sejak kapan kau jadi cemburuan seperti ini, Sheila?”

Rambut pirang panjangnya dikuncir kuda. Ekspresinya selalu serius, apalagi jika dijadikan bahan lelucon oleh seseorang. 

“Atsu, bisa kau diam?! Atau—“

“Atsu, Sheila, lebih baik kalian berdua berhenti!” Rico menenangkan. “Yah, sepertinya sudah saatnya. Kami masih ada urusan. Aku akan mentraktirmu lain kali sebagai perayaan hari ini.”

Bukan berarti Neil menginginkannya, tapi ia juga tak punya alasan untuk menolak. Neil mengangguk kecil, tak berniat memperpanjang percakapan.

“Maaf, Neil. Tapi, aku sedang terburu-buru.” Sheila menjelaskan dengan nada rendah seperti orang lelah. “Tapi, sepertinya kau juga begitu.” Pandangannya berubah ke arah lain. Sebuah bangunan yang tidak jauh dari tempat mereka berbicara—gedung pelatihan.

“Aku memang ada urusan, tapi aku sedang tidak dikejar waktu.”

“Hmm, begitukah?” Sheila sedikit kecewa, entah karena alasan apa. “Kalau begitu, aku duluan. Dan juga… selamat atas keberhasilanmu.”

Sheila mungkin sedikit terganggu akan kehadiran Neil saat itu, tapi bukan berarti ia membenci Neil. Kalimat selamat yang ditunjukkannya diucapkan dengan sungguh-sungguh, bukan sebuah kebohongan. Sheila masuk ke dalam gedung utama duluan, diikuti Atsu yang juga mengucapkan selamat kepada Neil.

Berikutnya…

Rico mengangkat tangan kanan sejajar dengan pundak ditunjukannya pada Neil. 

Neil tidak terlalu mengerti, kenapa Rico selalu melakukan itu hanya pada dirinya. Ia tidak tahu apa kegunaannya, tapi seperti biasa. Jika itu bisa membuat Rico senang, maka Neil akan melakukannya tanpa ragu. 

Neil memberi tepukan pelan pada Rico menggunakan tangan kanan juga. Bisa dikatakan, kalau ini sudah jadi kebiasaan mereka berdua saat saling bertemu dan menyapa.

Rico pergi, meninggalkan Neil berdua bersama dengan seorang gadis yang jika dilihat, bukan hanya lebih pendek tapi juga lebih muda darinya.

“Selamat atas keberhasilannya, Neil.” Gadis itu menundukkan kepala perlahan. Di wajahnya terlihat senyum kecil, tapi ekspresi yang ditunjukkan sangatlah lemah.

“Tidak perlu menunduk, Ai. Bersikaplah biasa saja.” Neil merasa tidak enak.

“Maaf, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu.” Gadis berambut pendek dengan poni rapih itu, menganggkat kepala. “Kalau begitu, saya mohon permisi.”

Seperti itulah dirinya. Beberapa sifat manusia ada yang tidak bisa dirubah dan itu adalah daya tarik Ai. Bersikap formal meski Neil berada di bawahnya. Untuk umurnya yang masih muda, berhasil bergabung dengan tim satu, sangatlah hebat. Neil sendiri harus mengakui hal itu.

Hanya sekejap, Neil melihat punggung Ai yang sedang pergi menyusul anggota timnya. 

Karena suatu alasan, setiap kali Neil melihat Ai, dirinya teringat Nadia yang mempunyai umur sama. Namun, jika dirasa, mungkin bukan umur. Entah apa itu, ia tidak bisa menjelaskannya.

Neil melanjutkan pergi ke Gedung Pelatihan. Masuk ke dalam, tidak berbeda jauh dengan Gedung Utama, pemandangannya pun sama, hanya saja jauh lebih luas. Gedungnya pun tidak setinggi dengan Gedung Utama. 

Neil mendatangi tempat informasi.

“Selamat siang Neil. Ada yang bisa saya bantu?” 

Mungkin karena peringkat tinggi Neil, gadis yang bertugas sebagai informan itu tahu nama Neil. Namun, harus diakui, melihat Neil mengenakan kemeja lengan panjang dan datang ke Gedung Pelatihan rasanya sedikit aneh.  

Gadis itu tersenyum halus.

“Aku ingin menemui seseorang. Tapi, dia masih anggota pelatihan.”

“Hmm, bukannya tidak boleh. Masalahnya… mereka masih ada jadwal. Mungkin saat jam istirahat siang nanti.”

Istirahat siang biasanya pukul dua siang. Tidak mungkin Neil menunggu sampai dua jam tanpa melakukan apa-apa.

“Lantai dua dan lantai tiga, ‘kan? Siapa yang bertanggung jawab untuk hari ini? Katakan saja padanya, kalau Arbi yang mengirimku.”

“Eh, aah… kalau begitu, nanti aku yang kena marah.” Senyum paksa terlihat.

“Kalau begitu, bilang saja kalau kau tidak melihatku saat masuk ke dalam.” Neil mengakhiri percakapan. “Aku pergi dulu.”

Neil pergi dari meja informasi merasa tak acuh.

“L-lagi…?” Senyum paksanya masih belum hilang. Kali ini ditambah dengan rasa bingung.

Kalau diingat, ini cara yang sama ketika Neil mencari Nadia dulu. Bedanya, pada saat itu, Neil mencari Nadia karena keinginan sendiri. Bukan karena disuruh orang lain. Hari itu juga ketika Neil mengajak Nadia untuk bergabung ke timnya meski ia masih seorang agen pelatihan.