Episode 127 - Pamong Kerajaan Siluman Gunung Perahu



Segera setelah kelima anggota Regu Perdamaian, plus Asep, hilang kesadaran akibat hentakan tenaga dalam, sesosok tubuh tetiba mengemuka. Bernuansa merah, tinggi dan besar. Rambutnya panjang, lebat tergerai mengembang. Sepasang kelat tersemat ketat di lengan yang kokoh… Seutas kalung yang menggantung di leher menyangga sekeping medali keemasan berbentuk bulat besar, dengan corak matahari bersudut delapan. Selembar kain menyelempang di pundak… dadanya demikian bidang. 

Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu, membelalakkan mata. Ia melompat mundur! Lagi-lagi sebuah ingatan masa lalu melesat di dalam benaknya. 


“Mamang… mengapakah Mamang dan Ayahanda Raja Bangkong III giat membela umat manusia?” 

Seorang anak kecil sedang duduk di atas pangkuan sosok besar bernuansa merah. Karena perbedaan ukuran tubuh, maka mungil sekali anak tersebut terlihat. Usianya sekitar tujuh atau delapan tahun. Wajahnya demikian penasaran. Meski, wajahnya terlihat lebam-lebam. 

“Heh…?” Komodo Nagaradja merasa terganggu. 

“Bukankah kita kaum siluman sebaiknya bersatu dan saling membantu…?” Anak kecil itu menantikan jawaban.

“Cebong Cebol…,” Komodo Nagaradja terlihat berpikir keras. “Kau bocah tengik sebaiknya tak usah banyak tanya!” 

“Ayahanda Raja Bangkong III juga tak memberikan penjelasan yang memadai…,” ujar anak yang dijuluki sebagai Cebong Cebol. 

“Hmph…,” Komodo Nagaradja menghela napas panjang. 

“Aing tak memiliki alasan membantu umat manusia…,” Cebong Cebol bergumam pada diri sendiri, karena tak kunjung mendapat jawaban. 

“Suatu hari nanti kau ditakdirkan menggantikan ayahandamu memerintah Kerajaan Siluman Gunung Perahu sebagai Raja Bangkong…,” Komodo Nagaradja menatap lirih. “Sampai waktu itu tiba, barulah nanti kau akan menyadari….”

“Menyadari apa…?”

“Aku tak bisa sepenuhnya menjawab pertanyaanmu. Akan tetapi, aku bisa membekali dirimu dengan sedikit pemahaman…,” Komodo Nagaradja terlihat serius. 

“Manusia dan siluman sama-sama memiliki pilihan. Pilihan untuk berpihak kepada kebenaran, kebatilan, bahkan pilihan untuk sama sekali tak berpihak.

“Kebenaran adalah sesuatu yang unik. Yang benar bagi satu pihak, belum tentu benar menurut pihak lain. Kebenaran yang tampil di hadapan kita, bisa saja merupakan kebatilan yang dibungkus oleh topeng yang mulia,” Komodo Nagaradja kini seolah benar-benar terlihat sebagai sosok yang mewakili kebenaran itu sendiri. 

Cebong Cebol mencoba sepenuh hati memahami kata-kata petuah tersebut. 

“Manusia tak mengerti akan kebenaran.” Cebong Cebol menanggapi. “Apakah sebuah tindakan yang dibenarkan, misalnya tindakan Mayang Tenggara yang senang mengerjai diriku…?”

“Hm…? Di manakah Mayang Tenggara saat ini…?”

“Mayang Tenggara dan Elang Wuruk, sejak beberapa hari lalu digantung tinggi di salah satu dahan pohon beringin oleh Sang Maha Patih….”

“Mengapa mereka dihukum oleh si Muka Bulat…?”

“Sang Maha Patih demikian murka sampai menjatuhi hukuman berat… karena keduanya memukuli beberapa remaja bangsawan sampai setengah mati….” 

“Siapakah korban Mayang Tenggara dan Elang Wuruk kali ini…?” Komodo Nagaradja menatap Cebong Cebol. 

“Korban mereka…? Sasaran mereka adalah beberapa remaja bangsawan yang… yang merisak lalu mengeroyokku.” Kedua mata Cebong Cebol membesar. Sepertinya ia baru menyadari sesuatu…. 

“Prinsip-prinsip kebenaran memicu dan mendorong semangat untuk melindungi. Apakah kau mengerti maksudku…?”

“Mayang Tenggara, mengerjai dalam upaya memberikan pelatihan, demi melindungi. Sedangkan aing yang tak memahami akan tujuan dari tindakannya, merasa bahwa yang ia lakukan itu sama saja dengan perisakan yang diperbuat oleh para remaja bangsawan itu….” 

“Lalu… yang mana menurutmu benar…?” Komodo Nagaradja berujar pelan. 

Raut wajah Cebong Cebol, meski masih lebam, berubah cerah. Ia mengangguk cepat. Tak lagi terlihat keraguan dari sorot matanya.

“Mamang Komodo Nagaradja… kapankah waktunya Mamang akan mewariskan Tinju Super Sakti…?” ujarnya kemudian, penuh semangat. 

“Pada waktunya nanti, bila kau sudah siap, maka kau akan menguasai Tinju Super Sakti dengan sendirinya….” Komodo Nagaradja berbisik pelan. Suaranya lembut penuh perhatian. Suatu kejadian yang sungguh teramat jarang sekali terjadi.


“Mengapa kau seperti melihat hantu…?” gerutu Komodo Nagaradja, yang menampilkan sosoknya di saat keluar dari mustika tenaga dalam yang retak. Ia mengepalkan tinju ke depan, mirip seperti ketika berhadapan dengan Hang Jebat di Kota Ahli. Sepertinya pose ini merupakan andalan saat keluar dari mustika tenaga dalam. 

“Hantu…” Raja Bangkong IV mundur selangkah.

“Aku masih hidup!” hardik Komodo Nagaradja. 

“Hantu…” Raja Bangkong IV maju selangkah.

“Cebong Cebol!”

“Tapi… tapi Mamang Komodo Nagaradja menghilang seusai Perang Jagat…”

“Bukan berarti aku mati!” Komodo Nagaradja mulai kehilangan kesabaran.

Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu, mengambil satu langkah maju. Raut wajahnya berubah sendu. Keduanya matanya sembab.

“Hm… kau sudah tumbuh besar… Bahkan kini menyandang tahta sebagai Raja Bangkong yang keempat… melanjutkan warisan dari buyut, kakek lalu ayahmu,” Tersemat sedikit kebanggaan dari kata-kata Komodo Nagaradja. 

“Akan tetapi, walau bergelar Raja Bangkong IV, bukan berarti kau dapat sesuka hati menghentakkan tenaga dalam ke arah muridku….” 

“Murid…!?” Raut wajah Raja Bangkong IV tetiba berubah geram. 


===


Kelima Anggota Regu Perdamaian bahkan tak mengetahui apa yang telah terjadi. Dibutuhkan waktu sehari semalam bagi mereka untuk sadarkan diri. Diperlukan sehari semalam lagi untuk memulihkan diri dari hantaman tenaga dalam yang demikian perkasa. Bahkan, Bintang Tenggara sangat yakin bahwa tenaga dalam yang menghantam dirinya, jauh lebih kental dibandingkan saat dihajar oleh Gubernur Pulau Dua Pongah atau Maha Guru Segoro Bayu. 

“Yang Mulia Putri Mahkota, Yang Mulia Raja Bangkong IV berpesan untuk segera kembali ke Istana Utama bilamana Yang Mulia Putri Mahkota telah siuman…,” ujar Kakek Duta Utama. Wajahnya demikian khawatir.

Citra Pitaloka segera mengumpulkan anggota regu. Ia bahkan tak membahas kemungkinan penyebab Raja Bangkong IV murka setelah mendengar nama ibunda dari Bintang Tenggara. Situasi yang jauh lebih penting sedang mengemuka, serta sebuah kesempatan berharga sebaiknya tak dilepaskan. Mereka bergegas menuju Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu. 

“Berhenti di sana!” Sergah Raja Bangkong IV.

Kelima anak remaja sudah berada di dalam Istana Utama. Mereka kini berdiri tepat di tengah rerumputan. Jadi, antara mereka dengan singasana Sang Raja Bangkong IV terpaut jarak sekitar limapuluh meter. 

Selain itu, kali ini terdapat banyak punggawa dan bangsawan dari Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Mereka berdiri berjejer di sisi kiri dan sisi kanan singasana. Lebih dari limapuluh jumlah mereka. Sebagian besar pandangan mata menatap dingin ke arah Citra Pitaloka dan regu yang ia pimpin. 

Sang Raja Bangkong IV terlihat berdiri perkasa di atas kursi singasana sisi kiri. Akan tetapi, betapa terkejutnya Bintang Tenggara menyaksikan sosok besar bernuansa merah sedang berselonjor di singasana kedua, yang memang mirip dipan. 

“Super Guru…?” gumam Bintang Tenggara tak habis pikir. 

“Yang Mulia Raja Bangkong IV…,” Citra Pitaloka hendak menyampaikan maksud dan tujuan. 

“Kau datang hendak mengupayakan perdamaian antara kedua kerajaan yang mendiami wilayah yang sama, bukankah demikian?” sela Raja Bangkong IV. 

“Benar, Yang Mulia Raja Bangkong IV….”

“Aku telah mengundang segenap punggawa dan bangsawan kerajaan. Di antara mereka, ada yang setuju akan perdamaian… sebagian yang lain ada pula yang tak rela harga diri mereka disejajarkan dengan manusia!” 

Regu Perdamaian merasakan tekanan yang teramat berat. Tak sulit untuk menyimpulkan bahwa sebagian besar hadirin secara nyata menolak keberadaan mereka. Citra Pitaloka menunggu perkembangan seperti apa yang akan segera menguak. 

“Bagiku… hanyalah kekuatan yang utama. Aku hanya bersedia mendengar kata-kata yang disampaikan oleh ahli yang mahir,” lanjut sang Raja Bangkong IV. 

Suara gaduh terdengar. Sejumlah punggawa kerajaan dan bangsawan terlibat dalam pertengkaran kata-kata. Tak sulit untuk mengetahui bahwa terdapat beberapa kubu di antara mereka. 

Citra Pitaloka berpikir keras. Maha Guru Kesatu Sangara Santang, yang juga berstatus pangeran di Kemaharajaan Pasundan, telah berkunjung ketika Kejuaraan Antar Ahli sedang berlangsung. Dari sisi keahlian, Maha Guru Kesatu Sangara Santang hampir tanpa cela. Dari sisi status di kerajaan dan perguruan, pun teramat mulia. Apa maksudnya dengan ‘kekuatan yang utama’? batin Citra Pitaloka. 

“Jadi, bilamana kalian dapat menahan satu tinju dariku, maka aku akan menerima usulan perdamaian,” ujar Sang Raja Bangkong IV dari kejauhan. 

Suara gaduh kini bergemuruh. Beberapa punggawa kerajaan dan bangsawan kembali terlibat dalam pertengkaran kata-kata. Bahkan, ada beberapa yang melangkah maju untuk menyampaikan persetujuan, juga keberatan mereka kepada Raja Bangkong IV. 

Situasi politik di Kerajaan Siluman Gunung Perahu rupanya tak sesederhana dugaan Citra Pitaloka. Sang Raja Bangkong IV bukanlah penguasa mutlak! Apakah Maha Guru Kesatu Sangara Santang tak menyadari hal ini…?

“Apakah kalian siap…?”

“…” Citra Pitaloka tak menjawab. Ia tak hendak gegabah. Mana mungkin kelima ahli Kasta Perunggu dapat menahan ahli digdaya seperti Raja Bangkong IV. Mimpi di siang bolong!

“Cebong Cebol…,” Komodo Nagaradja bangkit dari dipan belukarnya. 

“Tentu aku hendak berlaku adil. Aku akan menyerang dari tempat ini.”

“Hm…?” Citra Pitaloka masih berpikir keras. Jarak mereka terpisah hamparan rerumputan selebar limapuluh meter. Namun, ahli Kasta Emas tentu masih dapat dengan mudahnya meluluh-lantakkan ahli Kasta Perunggu bila hanya terpaut jarak limapuluh meter. Sang Raja Bangkong bukanlah ahli Kasta Emas sembarang!

“Cebong Cebol… bila ini terkait jurus…”

“Selain itu, aku hanya akan membatasi diri dengan mengerahkan tenaga dalam setara ahli Kasta Perak Tingkat 1,” tambah sang raja. 

“Baik, kami menerima syarat yang ditetapkan oleh Yang Mulia Raja Bangkong IV,” tanggap Citra Pitaloka cepat. Ia mendapat angin segar. 

“Apakah ini caramu menagih janji…?” Raut wajah Komodo Nagaradja sedikit kusut. 

Di bagian bawah singasana, keberatan demi keberatan terus dilontarkan oleh sejumlah punggawa dan bangsawan kerajaan. Sang Raja Bangkong IV tak bergeming. Bahkan, ia mengabaikan kata-kata Komodo Nagaradja yang berada di dekatnya. 

“Bersiaplah!” seru Raja Bangkong IV ke arah anggota Regu Perdamaian. 

Citra Pitaloka segera mengenakan zirah yang terbuat dari berbagai bagian tubuh binatang siluman. Gadis tersebut bahkan menghunuskan Lembing Garpu Tala yang berwarna keemasan miliknya. Bila hanya Kasta Perak, baju zirah yang ia kenakan pastinya dapat diandalkan. 

Embun Kahyangan menyibak kabut pekat berwarna ungu. Ia berdiri di sisi kiri sang Putri Mahkota. 

Lampir Marapi memasang segel perlindungan, lalu maju ke sisi kanan Citra Pitaloka.

Aji Pamungkas mundur selangkah, bersiap melompat dan menghindar ke arah samping. 

Bintang Tenggara mengingat Lima Sekawan Penakluk Samudera. Di atas perahu pinisi, dirinya pernah berhadapan satu lawan satu dengan Ammandar Wewang. Skema pertarungan saat itu adalah menyerang dan diserang. 

Di kejauhan, Raja Bangkong IV terlihat mengepalkan tinju. Ia seperti hendak meninju udara kosong di hadapan. Kemudian, ia memasang kuda-kuda, kaki kanan di depan, kaki kiri ditarik ke belakang. Pinggangnya ssdikit diputar, sesuai arah tinju lengan kanan yang ditarik ke belakang. 

Dari kejauhan, Bintang Tenggara mengamati…. Ada yang aneh, pikirnya dalam hati. 

“Apakah itu!?” 

“Tak mungkin!?”

“Mungkinkah Sang Raja Bangkong IV menguasai jurus digdaya dari tokoh itu…!?” 

Gemuruh hadirin berubah menjadi keterkejutan. Tokoh siapakah yang mereka maksud!?

Tanpa dinyana, tetiba Raja Bangkong IV melepaskan lima tinju berkecepatan supersonik! Gelombang kejut pun tercipta di ujung kepalan tinjunya. Akan tetapi, tidak hanya sampai di situ… Lelaki berperawakan sederhana itu kembali melepaskan lima rangkaian tinju lagi… dan lagi! 

Jadi, Raja Bangkong IV melesakkan tiga rangkai tinju yang masing-masing terdiri dari lima pukulan berkecepatan supersonik. Ia menghasilkan tiga gelombang kejut secara beruntun! 

Demikian, gelombang kejut pertama dan gelombang kejut kedua, bertumpuk saling bertabrakan! Dengan momentum yang tepat, kemudian gelombang kejut ketiga meledak dan memaksa dua gelombang kejut sebelumnya untuk melesat cepat lurus ke depan! 

“TINJU SUPER SAKTI, GERAKAN KETIGA: ELANG!” teriak Sang Raja Bangkong IV membahana!

Seluruh penjuru Istana yang besar dan megah bergema dan bergetar. Gemuruh menggelegar memekak telinga ketika pertahanan suara dicabik-cabik oleh kecepatan supersonik!

Rangkaian kejadian merapal jurus di atas memerlukan waktu cukup panjang ketika harus digambarkan menggunakan kata-kata dalam tulisan. Akan tetapi, pada kejadian sesungguhnya, berlangsung sangat, sangat cepat. Kurang dari dua kedipan mata!

“Bahaya!” Bintang Tenggara tak sempat berpikir apa-apa ketika reflek tubuhnya melompat ke hadapan Citra Pitaloka. 

“BADAK!” teriak Bintang Tenggara. 

Akan tetapi, ada yang berbeda dengan Gerakan Pertama Tinju Super Sakti kali ini. Bintang Tenggara tak melepaskan lima tinju beruntun, melainkan tujuh tinju beruntun!

Di dalam ruangan dalam istana yang teramat besar, dua jurus yang sama dikerahkan! Kali ini bukanlah Tinju Super Sakti palsu, melainkan aseli adanya. Formasi segel yang melindungi dinding istana berpendar dan mengkilat berkelebat, berusaha melindungi bangunan agar tak hancur berkeping. 

“BELEDAR!” 

Dua Tinju Super Sakti… satu Gerakan Ketiga, satunya lagi Gerakan Pertama, bertemu muka! Udara di sekitar pertemuan dua jurus tersebut terdistorsi, bahkan terlihat seperti merekah!

Citra Pitaloka, Embun Kahyangan, Lampir Marapi dan Aji Pamungkas telah berpindah tempat. Tanpa mereka sadari, di antara punggawa dan bangsawan istana terdapat ahli perapal segel yang cekatan menyelamatkan. Mereka segera dipindahkan dengan teleportasi jarak dekat. Masing-masing dari mereka secara bersamaan kini berada di luar Istana Utama. 

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” 

Bintang Tenggara memuntahkan darah sampai tiga kali! Sekujur tubuhnya terasa remuk. Pergelangan tangan, siku dan bahunya terkilir. Untunglah Sisik Raja Naga melindungi sekujur lengan. Bila tidak, kemungkinan tulang di sepanjang lengannya remuk, hancur seperti butiran-butiran pasir putih di tepi pantai. 

“Jurus itu!” 

“Sisik itu!” 

“Aura itu!” 

Hadirin yang keseluruhannya merupakan siluman sempurna perkasa dengan peringkat keahlian tingkat tinggi… tak kuasa menahan keterkejutan mereka. Selain Tinju Super Sakti, mereka merasakan aura yang tak asing!

Seorang tabib terlihat melompat dan segera merawat tubuh Bintang Tenggara di tengah padang rumput. Anak remaja itu perlahan kehilangan kesadaran, dan secepatnya dibawa pergi. 

“Sebagai putra kedua dari Mayang Tenggara, serta murid satu-satunya dari Komodo Nagaradja… kau mengecewakan,” gumam Raja Bangkong IV sambil memutar tubuh. Ia kini berdiri tegap di atas kursi singasananya. 

“Seperti dugaanku… kau tak perlu diajari Tinju Super Sakti. Sudah terlalu sering kau menyaksikan aku berlatih dan bertarung… sehingga bukan tak mungkin menyerap pemahaman jurus,” Komodo Nagaradja kini sudah berdiri. Ia terlihat haru sekaligus bangga. 

“Raja Bangkong IV, apa maksud dari semua ini!?” Salah seorang bangsawan tua menghardik, memecah keheningan. Terlihat bahwa ia tak terlalu menghormati sang raja. 

“Hei! Jaga kata-katamu!” seorang punggawa yang mungkin sama tuanya menghardik. 

“Apa salahnya kami bertanya!? Selama ini pun kebijakan Raja Bangkong IV seringkali membuka celah keraguan!” Seorang punggawa lain mengajukan keberatan. 

“Apa yang kau ketahui dalam menjalankan kendali pemerintahan…!?” 

“Kau yang tak becus!” 

Tukar-menukar teriakan terjadi di dalam Istana Utama. Suasana menjadi panas. 

“Raja Bangkong IV, kami tak setuju membangun perdamaian dengan pihak manusia. Selama Perang Jagat kita berpihak kepada mereka, namun apa yang kita peroleh!?” 

“Selama ini kita berdiam diri dan tiada dihargai!” 

“Mungkin sudah waktunya kita menentukan Raja Bangkong yang baru!?” 

“Hei! Lancang sekali mulutmu!” 

Sejumlah ahli, yang notabene adalah siluman sempurna, melangkah maju. Tak perlu menghitung untuk mengetahui bahwa anggota kubu yang menentang raja berjumlah lebih banyak. Meski, ada pula kubu yang hanya diam memantau situasi. Sepertinya, pertarungan antar sesama siluman sempurna sebentar lagi akan pecah.  

“EHEM!” Terdengar suara melegakan tenggorokan, yang menggelegar memenuhi seluruh penjuru Istana Utama. 

Perlahan, sosok berwarna kemerahan itu pun menyibak pelan. Sejauh ini, jiwa dan kesadaran Komodo Nagaradja hanya memberi ijin agar terlihat dan dapat dirasakan oleh Bintang Tenggara dan Raja Bangkong IV… Namun kini, tak kurang dari limapuluh ahli, yang kesemuanya siluman sempurna, merasakan aura digdaya dan menyaksikan tokoh perkasa itu. 

Suasana di dalam Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu berubah drastis!

“Aku, Komodo Nagaradja, diangkat oleh Raja Bangkong II sebagai Pamong Kerajaan Siluman Gunung Perahu!” *

Gemuruh suara hadirin tercekat!

“Aku, Komodo Nagaradja, menenggak darah persaudaraan bersama dengan Raja Bangkong III!”

Hening.

“Aku, Komodo Nagaradja, merupakan wali bagi Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu!”



Catatan:

*) pamong/pa·mong/ n 1 pengasuh; 2 pendidik (guru).