Episode 9 - Atma Aswani, Dongeng, dan Nama Pada Bintang

Pagi datang dengan tangan-tangannya yang lembut. Ditebarkannya embun di hamparan rumput, disebarkannya nyanyian burung, dan dimekarkannya kelopak mataku. Aku bangkit dari alas tikar, namun menunda mandi sebab kulihat MCK yang tersusun dari terpal biru tebal masih sibuk menghadapi antrean panjang.

Aku berjalan ke dapur umum yang ternyata sudah terlihat sibuk. Laksmi juga terlihat tengah duduk, di belakang deretan kopi hitam dalam gelas plastik, di dekat celah tenda tempat keluar-masuk angin sejuk.

“Pagi!” sapa Laksmi, yang jari-jari tangannya kesulitan mengapit gelas plastik dan bibirnya sibuk meniup kepul kopinya.

“Pagi, Mi,” jawabku. Aku mengambil segelas kopi, lalu memilih duduk di sampingnya.

 “Eh, Mi. Terima kasih untuk kemarin, ya. Aku hampir kehabisan akal untuk membuat anak-anak antusias. Untung ada kamu.”

“Sebenarnya aku mau protes, lho ...”

Sedikit heran, aku bertanya, “Protes, karena?”

“Kalau mau dongeng lagi, jangan ada tokoh ularnya, ah! Aku takut banget sama ular, Gam,” protes Laksmi, pundaknya bergidik.

“Ummm ... oke, oke. Kalau tikus takut?”

“Ndak, anehnya.”

“Nah, kalau begitu, nanti kita dongeng tentang perjuangan seekor tikus kecil,” aku menatap wajah Laksmi dengan serius supaya menarik perhatiannya, “yang gagah berani melawan ... ular!”

“Iiiiih, Agam!” Laksmi meninju pelan dadaku.

“Eh, kamu dari jam berapa di dapur umum, Mi? Maaf, ya, aku kesiangan.”

“Dari pagi,” ia menyesap kopinya, “semalam begadang, ya, Gam?”

“Ya ... begitulah.”

“Aku, sih, semalam langsung tidur. Kecapekan barangkali. Eh, tapi sempat terbangun juga, sih. Pas aku keluar cari angin, ternyata banyak pengungsi yang belum tidur juga, Gam.”

“Ya, memang kondisinya masih rentan, Mi. Biasanya, pasca bencana pengungsi mengalami kesulitan tidur, mimpi buruk, pusing, dan mual. Nah, Mas Sukri dan tim Trauma Healing-nya bertugas menangani mereka. Kalau tidak ditangani secara cepat dan serius, bisa berdampak pada psikososial mereka, Mi. Kalau aku, karena nggak paham teori dan praktik psikologi, paling cuma bisa membantu dengan cara menghibur korban.”

Aku menyesap kopi pertamaku hari ini. “Eh, nanti sore ikut dongeng lagi, kan?”

“Boleh ... kalau kamu maksa!”

“Sip. Aku tunggu di tempat biasa ya, Ular!”

“Siap, Tuan Kancil!”

**

Aku tengah mengangkut beras dan kardus mi instan, ketika kulihat seorang pria paruh baya asyik berbincang dengan Mas Sukri di kejauhan. Aku memerhatikannya, sebab penampilannya begitu mencolok. Kemejanya mengilat dengan motif kembang monoton, celana bahannya licin bergaris vertikal, dan wajahnya bulat cerah dengan hidung dan bibir bulat mungil—berseberangan dengan wajah Laksmi yang penuh lekuk tajam dan garis lurus; cantik dan misterius.

Ketika aku melanjutkan pekerjaanku, pria parlente itu mendekat. Menggulung kemejanya, kemudian berupaya memanggul sekarung beras di punggungnya. Melihat langkahnya goyah serta napasnya payah, aku menghampirinya untuk menawarkan bantuan.

“Pak, sudah biar aku saja yang angkat,” kataku, sambil menurunkan sekarung beras dari punggungnya.

“Hmmm ... anak muda, anak muda. Usia masih panjang, eh mau merebut kesempatan pahala besar dari orang yang sebentar lagi mati,” kata pria itu, pelan. Suaranya sedikit sengau, sinis, sekaligus menjengkelkan.

Aku diam, mencoba mencerna ucapannya barusan, sambil berusaha menemukan kesabaranku.

“Eh, bercanda, bercanda, anak muda!” katanya, sambil menepuk bahuku. “Namaku Atma Aswani.” Pria bernama Atma Aswani itu mengulurkan tangan.

“Agam, Pak,” jawabku, membalas ulur tangannya.

“Panggil Bung Atma saja, Gam.”

Saat aku hendak memanggul kembali beras yang tergeletak, pria bernama itu menghentikan niatku dengan gerak tangannya.

“Gam. Bentar, bentar. Jangan diangkat dulu. Aku lagi ngitung, nih ... kalau karung beras, dengan tenagaku yang payah, kemungkinan aku hanya bisa angkat satu sekali jalan, sepuluh kali bolak-balik. Kalau mi instan, aku bisa angkat dua sekali jalan, dengan asumsi 15 kali bolak-balik berarti jumlahny___”

“30 kardus, Bung Atma!” jawabku, ketus.

“Nah, 30 kardus mi instan sama 10 karung beras pahalanya lebih berat mana, Gam?”

Tak mau ambil peduli dan membuang waktu, aku memanggul kembali beras ke tenda logistik. Namun, ia membuntutiku.

“Gam ...”

“Ya.”

“Aku punya ide! Gimana kalau kita kerja sama. Kamu angkat salah satu ujung beras, aku ujung satunya. Nah, di atas beras, kita bisa taruh dua kardus mi instan. Gimana, gimana?”

Aku hanya diam.

“Gam, tenang saja! Idenya aku kasih cuma-cuma, jadi pahalanya tetap kita bagi rata. Mau, ya?”

Daripada harus berdebat, kuikuti sarannya. Ternyata, kami hanya harus bolak-balik sebanyak 15 kali antara mobil pengangkut barang dan tenda logistik. Separuh lebih sedikit dari biasanya. Tapi, tetap saja melelahkan, sehingga kami harus menyandarkan tubuh payah kami di tiang tenda, sambil mendengarkan dengus napas sendiri.

“Eh, Gam,” kata Bung Atma, tersengal-sengal, “kalau mengakali pahala itu dosa, dosanya tetap kita bagi dua juga, ya!”

Aku tertawa.

**

Sore sewarna jus jeruk merayap di atap bumi. Perlahan. Menyebar dan melebar. Aku menjemput satu per satu anak-anak. Pertama, aku menjemput Banu yang tengah murung di pelukan ibunya; kedua, aku menjemput Andi yang terlihat bosan memijat bapaknya; ketiga, aku menjemput Siska yang cantik-mungil seperti boneka; keempat, aku menjemput Imam yang lesung pipinya dalam; kelima, aku menjemput Ratih yang menggemaskan. Terakhir, aku menjemput Laksmi si Ular yang menanti tak sabar di dapur umum.

Kami berkumpul di tempat kemarin. Sementara Laksmi tengah menyapa anak-anak, aku baru menyadari telah kehilangan sepasang sarung tanganku. Aku sedikit panik, karena tanpa benda itu, dongeng akan menjadi tidak menarik.

Duh, mungkin terjatuh di tenda logistik.

Laksmi menunggu aba-aba dariku. Dan di tengah kepanikan, tiba-tiba arah mataku tertuju pada Bung Atma yang terduduk sendirian di dekat tenda pengungsi. Entah mengapa, aku berpikir untuk menghampirinya. Setelah meminta izin sebentar pada Laksmi, aku segera berlari kecil menuju pria parlente itu.

“Bung, mau ikut kegiatan menghibur anak-anak, nggak?”

“Wah, pahala besar itu, Gam! Dengan senang hati.”

“Tapi, sejujurnya, anak-anak kurang antusias kalau cuma mendengar dongeng, paling nggak harus divisualkan. Ada ide, Bung?”

“Wah, kalau ide kebetulan aku punya banyak,” jawabnya, dengan nada penuh percaya diri.

Ia membisikkan idenya padaku. Rupanya, ia ingin berdongeng serta meminta aku dan Laksmi menjadi pemeran dari tokoh dalam dongengnya. Namun, ia meminta waktu dua puluh menit serta kertas dan pena untuk memikirkan dan menulis dongengnya. Aku mengangguk setuju, kemudian kembali menuju Laksmi.

Kubisiki Laksmi tentang ide Bung Atma, lalu kami berupaya membuat anak-anak sabar menanti. Untungnya, ia cukup luwes dalam menghibur anak-anak, sehingga dari dua puluh menit menunggu Bung Atma, hanya sekitar lima menit di mana anak-anak terlihat jenuh. Saat kulirik di kejauhan, Bung Atma tengah berjalan ke arah kami. Aku sedikit tak sabar dan gemas melihat sepatunya yang mengilap masih tetap berusaha menghindari becek.

Begitu sampai, tanpa aba-aba, Bung Atma langsung bicara:

“Adik-adik, Bung Atma mau membacakan dongeng tentang seekor burung kecil—ditunjuknya Laksmi—dan seekor kelinci—ditunjuknya aku.

Pada suatu hari, Burung Kecil tengah terbang mengitari langit yang cerah—Laksmi mengepakkan kedua lengannya sambil berputar-putar—lalu hinggap di sebuah dahan—Laksmi berdiam di satu titik.

Kemudian, Kelinci yang gemuk dan pemalas—sial, gemuk dan pemalas!? Bukannya dia yang kelihatannya gemuk dan pemalas!?—melompat, menghampiri pohon tempat Burung Kecil beristirahat—aku melompat malas, mendekati Laksmi.

Hai, Burung Kecil, aku sangat ingin bisa terbang sepertimu. Katakan padaku, bagaimana caranya?

Kelinci Gemuk, kalau kamu ingin terbang, kamu harus memiliki sayap.

Burung Kecil, bagaimana caranya agar aku bisa memiliki sayap?

Kelinci Gemuk, ummm ... barangkali, kamu bisa meminjam sayapku. Tapi, ummm, sepertinya sayapku terlalu kecil untuk mengangkat tubuh besarmu.

Kelinci Gemuk tertunduk kecewa mendengar perkataan Burung Kecil.

Kelinci Gemuk, mungkin kamu harus berusaha mengecilkan tubuhmu dengan banyak berkegiatan dan tidak makan terlalu serakah.

Burung Kecil, kalau aku melakukan yang kamu minta, apakah sayapmu bisa membuatku terbang?

Mungkin saja, Kelinci Gemuk.

Kelinci Gemuk pun mulai melakukan apa yang diminta oleh Burung Kecil. Sekarang, dia jadi rajin melompat—aku berusaha melompat—dan terus melompat dengan cepat—aku melompat lebih cepat. Duh, Bung Atma pasti sekalian mengerjaiku!—dan akhirnya, Kelinci Gemuk pun mencoba push up sebanyak 50 kali demi menguruskan tubuhnya.”

Hah! Push up sebanyak 50 kali!?

Tapi, melihat anak-anak begitu antusias, aku hanya berpasrah diri; mengambil ancang-ancang push up.

Secara tiba-tiba, Banu yang gemuk-menggemaskan bangkit, seperti hendak mengatakan sesuatu.

“Pak, aku mau protes. Pertama, Kak Agam kelihatannya nggak cocok kalau memerankan kelinci gemuk ... lebih cocok Bapak. Kedua, bukannya kelinci nggak bisa push up, ya?” protes Banu. Huh, syukurlah!

“Adik manis,” Bung Atma menatap Banu dengan wajah sok bijak, “pertama panggil saja ‘bung’ jangan ‘pak’. Eh, siapa nama kamu?”

“Banu, Pak. Eh, Bung.”

“Banu, dalam dongeng kita boleh berimajinasi setiiiiiiinggi-tingginya. Jadi, boleh dong kalau Bung Atma berimajinasi ada kelinci yang bisa push up?”

Banu hanya menjawab dengan keheningan panjang, membuat detak jantungku semakin rapat. Bagiku, yang sudah lama tidak push up, 50 kali akan terasa sangat berat.

“Boleh, Bung Atma!” jawab Banu, lantang.

Akhirnya, terpaksa aku push up. Yang lebih menjengkelkan, saat napasku hampir habis, Bung Atma mengajak anak-anak dan Laksmi untuk menghitung mundur.

“Sepuluuuh, sembilaaan, delapaaan, tujuuuh, enaaam, limaaa, empaaat, tigaaa, duaaa, satuuuuuuuu!” teriak mereka, girang. Aku terkapar lemas, namun belum sempat aku beristirahat, Bung Atma melanjutkan dongengnya.

“Setelah berhasil menguruskan tubuhnya, Kelinci Gemuk kembali menghampiri Burung Kecil yang sedang beristirahat di dahan pohon, lalu berkata:

Burung Kecil, aku sudah melakukan permintaanmu. Dan lihatlah, sekarang tubuhku sudah tak sebesar dahulu. Sekarang, aku ingin menagih janjimu untuk meminjamkan sayapmu padaku.

Kelinci Gemuk, sebenarnya aku tak bisa meminjamkan sayapku.

Burung Kecil, jangan bercanda. Aku sudah susah-payah melakukan permintaanmu!

Kelinci Gemuk, maafkan aku. Tapi cobalah kamu melompat, dan rasakan sesuatu telah berubah.

Kelinci Gemuk melompat. Dirasakannya tubuhnya jauh lebih ringan dan lompatannya jauh lebih tinggi.

Kelinci Gemuk, karena aku tahu aku tak bisa meminjamkanmu sayapku, aku meminjamkanmu sesuatu yang lebih berharga dari sayapku.

Burung Kecil, katakan padaku apa itu?

Kelinci Gemuk, yang lebih berharga dari sayapku adalah harapan. Dengan harapan, kamu bisa menjadi yang terbaik sebagai dirimu sendiri.”

Dongeng diakhiri dengan tepuk tangan dan senyum anak-anak. Lalu, Laksmi mengantar satu per satu anak ke tenda pengungsi. Sementara aku terbaring lemah, berusaha melemaskan tegang otot-ototku. Di sampingku, Bung Atma tersenyum penuh kemenangan.

Tapi, ada kemenangan lain terbit dalam jiwaku. Kemenangan kecil yang begitu menenteramkan.

**

Malam jatuh dengan taburan nyala bintang. Angin berembus. Bercabang. Menyelinap lewat celah tenda, dan sesekali mengusik lelap tidur para pengungsi. Kukenakan jaket jeans, dan kumasukkan harmonikaku ke dalam sakunya. Lalu, kulangkahkan kaki melawan arus pulang pengungsi muslim, seusai kegiatan Majelis Ta’lim.

Ini malam yang sempurna untuk bersedih.

Pada malam serupa ini, aku hanya ingin mengenang Keumala. Maka, aku menjauhi tenda, mencari tempat di mana aku bisa sepuasnya bersedih, tanpa ada seorang pun berkata sudah. Aku terus laju, memecah angin, menghayati dingin.

Aku menembus deretan pohon yang memagari area tempat pengungsian. Kusibak semak dengan tanganku, kuusir gelap dengan nyaliku. Dan, setelah beberapa menit berjalan, kutemukan sebuah batu besar cantik yang seolah terpoles waktu; halus dan berkilauan tertimpa cahaya bulan. Batu cantik itu berada di dalam ruang yang diciptakan tubuh-tubuh pohon yang berbaris dalam posisi elips. Membuatku serasa berada di tengah mata bumi yang berhadap-hadap dengan mata langit.

Kududuki batu tersebut, sehingga di bawah langit serupa mata danau tergantung yang memelihara puluhan ikan pemakan cahaya, aku seolah bersedih di bawah teduh keajaiban semesta.

Ini tempat yang sempurna untuk bersedih, sebab aku yakin, tak akan ada seorang pun yang mengusik, kecuali daun-daun yang disentuh angin bagai berbisik. Kuambil harmonikaku, dan kuletakkan di sebelahku. Hanya sekadar kuletakkan. Sebab sampai saat ini, aku belum juga yakin dapat dengan baik memainkannya untuk Keumala. Aku hanya akan terisak-isak, sedangkan inti dari bermain harmonika adalah pernapasan.

“Gam, punya korek?”

Suara itu mengejutkanku. Semula kukira hantu, namun saat aku menoleh, rupanya Bung Atma. Namun, demi alasan kejantanan, aku berpura-pura sibuk menemukan korek sambil berusaha mengembalikan wibawaku.

“Nih, Bung.”

Kuserahkan korek dengan wajah jengkel.

Aku sedikit curiga ia membuntutiku. Tapi, jika aku menuduh tanpa bukti, jelas ia akan dengan mudahnya mengelak. Maka, aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan tidak nyaman.

“Gam, aku cuma mau pinjam korek, kok. Bukan mau ganggu kamu. Aku permisi, ya.”

“Eh, Bung ... nggak apa-apa, sini kita merokok bareng.”

Kutelan egoku untuk menyendiri. Kemudian, kuraih harmonikaku dan kumasukkan di saku jaket jeans-ku, agar Bung Atma dapat tempat duduk.

“Gam, apa itu tadi?” tanya Bung Atma, setelah duduk di sampingku.

“Harmonika,” jawabku, ketus, berharap tak ada lagi pertanyaan selanjutnya. Paling tidak, kalau pun harus berdua, aku tidak diganggu.

“Oh,” katanya, “nah, kalau itu?”

“Apa, Bung?”

“Itu,” kata Bung Atma, menunjuk jaket jeans-ku.

“Burqa!” bentakku, “ya Allah ... jaket jeans dong, Bung.”

“Hmmm ... agak apek ya, Gam?” kata Bung Atma, sambil menggosok lubang hidungnya dengan telunjuk.

Aku menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. “Bung, kalau memang bau, ya, Bung nggak usah dekat-dekat. Simpel, kan?”

“Solusi simpelnya bukan gitu, Gam. Kamu yang cuci jaket. Bukan kamu membatasi orang untuk mendekat ke kamu.”

“Oh, terima kasih sarannya, Tuan-Marketing-Laundry-Kiloan. Nah, sekarang mana brosurnya? Siapa tahu, kalau cuci dua kilo di tempat Tuan dapat bonus kata-kata mutiara,” kataku, jengkel sekaligus gemas.

“Bung ... ayolah! Kita nggak mungkin tengah malam di tempat gelap berdua cuma untuk ngobrolin soal penampilan, kan!?”

Ia tak menjawab, hanya memutar-mutar batang rokoknya yang dijilati angin malam, mengisap, dan mengembuskannya berulang-ulang.

“Eh, Gam. Itu pasti istriku—Bung Atma menunjuk ke arah langit.”

“Maksudnya, Bung?”

“Kamu percaya, kalau orang yang sudah meninggal nantinya bakal hidup di langit sebagai bintang?”

“Ummm. Nggak, sih, sejujurnya.”

“Iya, aku juga pada awalnya. Tapi ketika aku mencoba percaya, setidaknya pada malam seperti ini, aku bisa bertatapan dengan istriku.”

Aku terenyuh.

“Eh, yang mana istrimu, Bung?” tanyaku, mencoba terdengar antusias.

“Itu, Gam,” Bung Atma menunjuk, “yang di sudut kanan dan berjarak dari kumpulan bintang yang lain. Yang warna merah. Namanya Annelies.”

“Nah, Bung lihat,” aku menunjuk yang sedikit lebih besar di sebelah kiri, “itu kekasihku, namanya Keumala.”

“Gam,” Bung Atma memejamkan matanya, “kamu salah! Aku dapat bisikan kalau itu Marilyn Monroe!”

“Bung—aku ikut memejamkan mata, tak mau kalah—yang itu juga bukan Annelies. Aku dapat bisikan kalau itu John Lennon!”

“Nggak mungkin, Gam! Kamu lihat yang besar di sebelahnya, yang warna biru itu Osama bin Laden! Mana mungkin dia akur berdekatan sama John Lennon.”

“Oh, jadi Bung Atma rela istrinya berdekatan dengan Osama bin Lad__”

“Tenang, Gam. Istriku anti poligami dan poliandri, kok!”

Kami tertawa.

“Jadi, kita senasib, nih, anak muda?”

“Ya, begitulah ...”

“Terus ... kamu masih muda, tampang lumayan, nggak nyari pacar lagi?”

“Memang semudah itu apa?”

“Nah, kubilang juga apa. Biar nggak selalu ditolak perempuan, kamu harus cuci, tuh, jaket!”

Arrrrrggghhh!