Episode 9 - Keping III: Pantai dan Lampu Jalan


Ujian kelulusan telah selesai. Aku menghabiskan hari libur dengan penuh ketegangan. Meskipun Ibu lebih banyak bekerja di rumah dan bermain bersamaku, ketakutan perihal kelulusan tetap menyergapku dalam kemurungan pada waktu-waktu tertentu.

Hari ini, aku bangun lebih pagi karena Ibu mengajakku ke Ancol. Kami hendak ke pantai, sebab itu satu-satunya liburan yang paling mudah dan murah untuk dilakukan. Ibu mengenakan terusan bermotif bunga yang jatuh di atas lutut. Floppy hat merah yang berwarna senada dengan motif pakaiannya membuat ia terlihat semakin cantik. Setelah mengenakan flat shoes krem favoritnya, kami menuju James yang mesinnya sudah dipanaskan sekaligus didoakan Ibu agar tak menimbulkan masalah.

Di baris kedua kursi mobil, tikar gulung dan keranjang berisi bekal terduduk rapi. Di sampingnya, setumpuk buku dongeng dan sebuah layang-layang lengkap dengan benang kenurnya menambah kegembiraanku. Selain dongeng, Ibu juga suka bermain layang-layang. Katanya, layang-layang selalu mampu menerbangkan ingatan masa kanak-kanaknya di kampung dulu.

Kami sampai. Usai Ibu memarkir mobilnya dengan sempurna, aku langsung berlari tanpa alas kaki menuju pantai. Aku menyukai laut, seperti aku menyukai dongeng Ibu tentang lumba-lumba, penyu, dan putri duyung yang baik hati.

Rupanya, pantai tak begitu ramai. Suasananya tenang seperti ombaknya. Ibu menggelar tikar dan menyiapkan sarapan kami. Angin yang berembus membuatnya sedikit kesulitan. Berkali-kali tikar terbang, namun Ibu berhasil menaklukannya dengan meletakkan beban sebongkah batu besar. Di kejauhan, aku membiarkan hangat air laut membasuh kedua kakiku.

Ibu menghampiriku setelah urusannya dengan tikar dan sarapan kami selesai. Sepasang layang-layang di tangannya membuatku melompat girang. Sebelum menerbangkannya, Ibu lebih dulu menuliskan nama kami di dada layang-layang. “Ini adalah cara paling sederhana bagi manusia untuk terbang,” bisik Ibu.

Aku mendapat tugas melemparkan layang-layang yang benangnya diulur Ibu hingga di jarak yang baginya tepat. Setelah Ibu memberi aba-aba dengan hitungan mundur, aku segera melompat sambil melepaskan layang-layang kami. Lalu, setelah layang-layang itu telah seimbang pada ketinggiannya, Ibu memercayakan kendali benda itu kepadaku.

Seraya menggenggam benang, aku melangkah menyamping menuju pelukan Ibu. Kami mendongak ke langit, melihat layang-layang kami terbang semakin tinggi.

“Nesh,” ucap Ibu, lirih, “yang menyenangkan dari bermain layang-layang adalah bagaimana kamu bisa membebaskan sesuatu, tanpa membiarkannya dilukai kebebasan.” Aku menjawab dengan anggukan, meskipun tak mengerti maksud perkataannya. Semakin ke sini, Ibu memang selalu punya banyak kalimat filosofis dan puitis yang sering kali tak kupahami artinya. Meskipun, ada semacam getaran aneh di dadaku kala mendengarnya.

Puas bermain layang-layang, kami sarapan di atas tikar. Dua tangkup roti yang mengapit telur mata sapi, serta segelas susu dan jus jeruk memenuhi perut kami. Pagi ini, perutku diganjar sarapan yang layak, sebab Bibi Roslinda absen memasak.

Belakangan, Bibi Roslinda memang meminta izin untuk mengurangi kuantitas pekerjaannya di dapur. Ketika memasak menjadi semacam rutinitas, ia merasa kehilangan terobosoan-terobosan baru. Berbekal alasan itu, ia meminta kelonggaran kepada Ibu untuk sedikit berkonsentrasi atau kontemplasi supaya dapat menyiapkan banyak menu masakan baru. Sebab, selain ingin menghadiahkan kejutan pada perut aku dan Ibu, ia juga mesti punya variasi menu untuk memanjakan perut Pak Slamet yang beberapa bulan mendatang bakal jadi suaminya.

Setelah dilamar Pak Slamet dengan setangkai kembang yang dipetik dari Klinik Tanaman Obat sekolahku, Bibi Roslinda langsung menyatakan kepada Ibu hendak mengundurkan diri dari pekerjaan setelah menikah nanti. Ibu merasa sedih, tetapi sekaligus bahagia mendengar ucapan Bibi Roslinda. Aku pun demikian. Bagiku, di luar rasa benci luar biasa cacing-cacing dalam perutku kepada Bibi Roslinda, hatiku tulus menyayanginya. Tetapi, seperti kata Ibu, salah satu yang pasti di dunia adalah perpisahan. Maka, aku dan Ibu merelakan pilihan Bibi Roslinda untuk berumah tangga.

Selesai sarapan, Ibu membacakan dongeng untukku. Kali ini dongengnya tentang sepasang layang-layang yang mencari sepasang tangan tuannya. Serunya petualangan layang-layang itu membuatku berpikir untuk bertualang suatu hari nanti. Atau paling tidak, jika tak punya keberanian seperti layang-layang itu, aku berharap punya keberanian dan kemampuan menulis dongeng petualangan sehebat yang dibacakan Ibu tersebut. Memang, belakangan Ibu mulai memintaku menulis sendiri dongengku, meskipun aku merasa belum bisa melampaui kehebatannya.

Mulanya, aku bingung harus menulis apa. Ibu mengatakan bahwa aku bisa memulai dengan menulis apa yang ingin kubaca. Alhasil, aku menulis dongeng tentang seorang gadis kecil yang berkeliling dunia dengan payungnya. Waktu membacakannya di hadapan Ibu, aku menyembunyikan rahasia bahwa dongeng itu bercerita tentang Raslene, meskipun Ibu berulang kali menebak perempuan itu yang jadi inspirasinya.

Jauh dalam hati kecilku, sebenarnya aku ingin menulis tentang Ayah. Tetapi, aku merasa kesulitan lantaran aku tak bisa membayangkan jelas bagaimana sosoknya. Maka, di pantai ini, aku meminta Ibu menulis dongeng tentang Ayah.

Ibu menuruti permintaanku, dan mulai menuliskan dongeng tentang Ayah. Sambil menunggu Ibu selesai, aku membiarkan tubuhku basah oleh hangat laut. Setelah sedikit bosan, aku kembali menghampiri Ibu, berusaha membaca dongeng yang ditulisnya. Namun, ia dengan cepat menyembunyikan kertasnya agar aku semakin penasaran. Benakku membayangkan tempat-tempat seru yang dijelajahi seorang lelaki pemburu harta karun dengan kuda terbangnya. Juga deretan penyihir dan monster laut yang ditumpas petualang perkasa bernama Anton Sumatedja itu.

Saat imajinasiku semakin tinggi, Ibu mengatakan telah menyelesaikan dongengnya. Ia bersiap membacakan dongeng itu untukku. Aku dan angin pantai berebut tempat ternyaman di pelukan Ibu.

Ibu membacakan dongengnya. Judulnya Dongeng Seorang Putri dan Petani. Mendengar judulnya, aku hendak melontarkan protes, namun kuurungkan niatku. Aku membiarkan Ibu lebih dulu menyelesaikan dongengnya karena mungkin akan ada kejutan.

Tetapi, paragraf demi paragraf yang dibacakan Ibu jauh dari harapanku. Ceritanya tak seseru yang kubayangkan. Hanya cerita tentang seorang Putri yang dikurung Naga Jahat dan diselamatkan oleh seorang Petani. Lalu, keduanya menikah dan hidup bahagia.

Akhirnya, aku tak bisa menahan diri untuk protes. “Bu, kenapa nggak ada Ayah di dongeng ini?” tanyaku, sambil menunjuk kertas dongeng, “ke mana Sang Pemburu Harta Karun, Bu?”

Ibu hanya tersenyum. Merasa tak puas, aku kembali mencecarnya dengan pertanyaan, “Apa petani itu Ayah?”

Ibu mengeratkan pelukannya. “Nesh, dalam dongeng ini Ibu memberi ayahmu peran sebagai Naga.”

“Bu!” aku membuang pandangku, “aku nggak suka Ayah jadi naga. Naga itu kan, jahat!”

Ibu mengalah. Ia mengulang dan memodifikasi sedikit ceritanya. “Akhirnya, Putri hidup bahagia dengan Petani. Dan, pada hari pernikahan mereka, Putri terkejut karena rupanya Petani adalah jelmaan seorang Petualang Pemburu Harta Karun. Kemudian, bebek milik Petani pun berubah menjadi kuda terbang yang gagah perkasa. Petani dan Putri pun menaiki punggung kuda terbang mengitari luasnya langit biru.”

Aku tersenyum puas. Di dalam hangat tangan Ibu yang mengalung, kelopak mataku memberat. Sambil mengeratkan pelukan, aku mendengar ia berbisik, “Nesh, nggak semua Naga itu jahat, seperti juga nggak semua Putri itu baik, Sayang.” Aku tak bertanya maksudnya, sebab hampir larut dalam tidurku.

**

Selain pengumuman kelulusan, yang juga membuat jantungku tak keruan adalah Raslene. Sudah lebih seminggu tak nampak batang hidungnya. Entah kenapa, aku selalu menanti kedatangannya, meskipun kami hampir selalu bertengkar.

Sekitar dua minggu sebelum ujian akhir, sepulang sekolah, Raslene memaksaku membonceng di sepedanya. Aku mengiyakan, namun menawarkan diri untuk memegang kemudi sepeda. Ia menolak. Alasannya ia tak rela memercayakan nyawanya pada lelaki lemah dan ceroboh sepertiku. Aku sedikit jengkel lantaran tuduhan ceroboh sesungguhnya lebih tepat dialamatkan untuknya.

Aku percaya, setiap orang ditakdirkan memiliki bakat pada suatu bidang sekaligus ketidakmampuan menguasai bidang yang lain. Misalnya, Muklis punya keunggulan pada hampir seluruh mata pelajaran, kecuali olahraga, khususnya renang. Daniel handal berbohong, tetapi tak punya bakat berkata jujur. Sementara Raslene, demi apa pun, ia tak pernah bisa bersepeda dengan baik. Namun sialnya, ia punya bakat meleburkan khayalan dalam kenyataan, sehingga ia enteng saja beranggapan bahwa kemampuan bersepedanya yang payah di atas rata-rata.

Aku pernah membonceng Raslene naik sepeda. Berulang kali kami jatuh, dan sebanyak itu pula ia mengutuk aspal jalan yang tak rata. Lebih dari persoalan gangguan menyeimbangkan laju sepeda, Raslene selalu mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Maka, itu perpaduan sempurna untuk membahayakan nyawaku. Tetapi, malang bagiku, aku selalu saja pasrah terjebak perangkapnya.

Akhirnya, sekali lagi, aku berada di belakang kendali sepeda Raslene. Itu perjalanan terjauhku tanpa Ibu. Kami meninggalkan gerbang kompleks, hingga ke jalan raya. Aku sedikit khawatir karena jalan padat oleh antrean kendaraan besar. Kami berulang kali hampir jatuh, tetapi ketika aku mengeluh, ia memintaku tenang dan jangan banyak bicara.

Deru klakson yang sahut-menyahut membuat jantungku melaju cepat. Di antara celah-celah sempit kendaraan, sepeda kami menyelinap dan beberapa kali meninggalkan baret pada sejumlah mobil. Setiap pemiliknya membuka kaca dan melontarkan umpatan, Raslene menambah kecepatan sepedanya yang membuat pucat di wajahku menjadi-jadi. Aku menyesal memercayakan selembar nyawaku kepada perempuan kecil ceroboh dan kurang bertanggung jawab. Namun, nasi sudah telanjur menjadi bubur. Aku hanya bisa berdoa semoga takdir kematianku bukan tertabrak kendaraan, pada Kamis siang, bersama seorang teman yang gemar menyerahkan temannya pada bahaya. Aku memejamkan mata, mencoba pasrah membiarkan Raslene mengayuh nasibku.

Sepeda berhenti. Aku mengehela napas lega, menduga kami sudah sampai tujuan. Aku membuka mata. Di hadapanku, terdapat sebuah warung kayu semi permanen yang menempel di pagar dinding hotel. Ada dua dugaanku saat itu, 1. Warung itu sebenarnya kamuflase dari pintu menuju Banker Anti Kiamat rahasia milik pemerintah yang diisi oleh sejumlah agen rahasia dengan segala peralatan canggihnya yang boleh kami pinjam untuk menjahili Frans, 2. Raslene mengajakku mengintip seekor kuda dan burung rajawali yang tengah kawin di hotel untuk menghasilkan keturunan seekor kuda terbang. Dalam benakku, cuma dua hal keren semacam itu yang layak kami dapatkan setelah lebih setengah jam menempuh kengerian. Sialnya, seluruh dugaanku meleset.

Ternyata, kami belum sampai pada tujuan yang dirahasiakan Raslene. Ia cuma hendak membeli dua botol air mineral dingin untuk mengembalikan staminanya. Keringat jagung timbul di dahiku. Aku membayangkan perjalanan mengerikan yang mesti kutempuh kembali. Aku menawarkan diri mengemudikan sepeda, tetapi kepala Raslene memang penuh sifat egois. Ia menolakku mentah-mentah dengan alasan yang sama seperti sebelumnya. Celakanya, aku menerima alasan itu tanpa perlawanan berarti.

Kami melanjutkan perjalanan berbahaya kami. Setelah hampir setengah jam, kami memasuki sebuah jalan yang sepi dari lalu lalang kendaraan. Nama jalan itu telah dihapus karat dan, barangkali, karena saking sepinya, tak ada satu orang pun punya keinginan untuk menggantinya. Padahal, di kawasan Tanjung Priok yang penuh kelompok anak-anak peniris minyak dan pencuri besi, seharusnya tak ada jalan yang dibiarkan kosong dan sia-sia. Paling tidak, jalan serupa itu bisa dimanfaatkan untuk bermain sepak bola bergawang sandal, nongkrong, mabuk lem, atau bernyanyi lagu-lagu Iwan Fals atau Slank.

Malam turun di jalan sepi yang diapit oleh tembok entah pabrik apa dan kantor penyewaan alat berat. Tebakanku, jalan ini bermula dari tanah pabrik yang dihibahkan. Namun, akhirnya aksesnya dibuat buntu atas alasan yang jelas aku tak tahu. Atau, mungkin juga ini jalan terkutuk. Tetapi celakanya, soal kutukan itu hanya jadi pengetahuan lokal yang sebab alasan tertentu tak dipublikasikan ke media oleh penduduk setempat. Batinku, mungkin alasannya terkait stabilitas harga tanah atau entahlah. Jika dugaanku benar, maka sekali lagi, Raslene membahayakan nyawaku. Aku mulai membayangkan hantu-hantu tengah sumringah dan siap mencekik dua leher kecil yang mengusik kawasan kekuasaan mereka. Di luar dugaan-dugaan itu, yang jelas jalan ini adalah jalan tersepi yang pernah kulalui sepanjang karierku sebagai manusia. Gelapnya yang gemerlap cuma dijeda cahaya sepintas-sepintas dari kendaraan yang lewat di kejauhan.

Sepeda Raslene berhenti di trotoar yang berada di tepi kiri. “Sampai,” kata Raslene, enteng.

“Gimana kalau kita pulang, Slene? Aku bisa merasakan bahaya mengancam kita.” Ia menjawab, “Nesh, satu-satunya yang membahayakan kita adalah sifat penakutmu,” ejek Raslene. Terperangah dengan kalimat itu, harga diriku terpanggil.

“Tenang, Cowok Dungu, aku cuma mau mengenalkanmu pada beberapa lampu jalan.”

Berkenalan dengan lampu jalan? Bahkan, cuma orang gila yang kelewat gila mau melakukannya. Aku memahami segala keanehan pada diri Raslene, tetapi tak sedetik pun aku menanggapnya gila. Hanya, kali ini keanehannya sudah berada di luar batas toleransiku.

Kami turun dari sepeda. Kemudian, Raslene menunjuk satu lampu jalan yang tertanam di trotoar. “Perkenalkan, Nesh, namanya Tuan Albert. Ibuku yang mengenalkanku dengan dia dan tiga lampu jalan pahlawan lainnya. Ibu juga bercerita tentang kisah mereka. Sekarang, kamu dapat kehormatan karena aku akan menceritakan ulang untukmu.”

Aku terperanjat dengan apa yang kudengar. Namun, belum sempat aku bersuara, Raslene mengatakan, “Kamu percaya lampu jalan bernapas dan bisa tumbuh seperti mahluk hidup lainnya?”

Aku masih kehilangan kata-kata saat Raslene menarik lenganku menuju bangku kayu yang menempel di dinding pabrik.

“Kamu mau tahu kenapa di sini gelap?” tanyanya. Nadanya tenang dan menjengkelkan.

 “Itu pertanyaan bodoh. Tentu saja karena lampu-lampu jalan pahlawan nggak berguna itu mati.”

“Yeaah, maksudku, kamu mau tahu alasan kenapa lampu jalan di sini mati?”

“Boleh aku meminta hak untuk nggak menjawab pertanyaan bodohmu?”

“Jawabannya adalah karena lampu-lampu jalan di sini memilih mati bersama seorang perempuan bernama Maryane.” Raslene mengabaikan pertanyaanku.

“Hmmmm.”

“Kamu mau dengar cerita yang diberitahu ibuku?”

“Apa aku punya pilihan, Pendongeng?” tanyaku, jengkel.

“Dulu, ibuku pernah berteman dengan seorang perempuan bernama Maryane. Perempuan itu disangka gila karena sering menyapa lampu-lampu jalan di sini.”

Aku menggeleng jengkel. Melihat tingkahku, Raslene berkata, “Aku harap kamu percaya ceritaku karena kalau nggak, berarti kamu menganggap ibuku gila.”

Tak enak hati, aku hanya mengangguk.

“Kata Ibu, Maryane nggak gila. Dia cuma seorang yang bisa menghargai sesuatu yang diabaikan oleh hampir semua orang.”

“Oke. Lanjut.” Aku berpura-pura menguap untuk menunjukkan rasa bosan.

“Ikuti aku,” kata Raslene, sambil menggamit lenganku, “aku perkenalkan lampu jalan lainnya.”

“Berapa lampu jalan lagi?” tanyaku, sambil berjalan di samping Raslene.

“Nggak banyak, kok. Tapi sebelum itu, aku pengin kamu tahu kalau Tuan Albert adalah lampu paling terang di sini.”

“Ya, TENTU SAJA!” jawabku, sinis. “Saking terangnya aku bisa melihat dengan jelas wajahmu yang nggak menarik.”

“Pfffttt ... maksudku, sebelum Tuan Albert dan teman-temannya memilih mati bersama Maryane.”

Aku mendekati tubuh Raslene. “Pengkhayal Kecil.” Aku meletakkan punggung tanganku di dahinya. “Sadarlah kalau mereka cuma lampu jalan yang diabaikan negara.”

“Jadi, kamu menganggap ibuku gila, hah?!”

“Bukan, bukan, bukan. Maksudku, ummm, oke ...,” aku tak enak hati, “lanjutkan ceritamu. Aku pengin dengar.” Aku mengucap terpaksa.

Kami berdiri di depan lampu jalan kedua yang berjarak sekitar dua puluh meter dari yang pertama. “Ini namanya Lisa,” kata Raslene.

“Oke. Next.” Aku berusaha mengakhiri cerita konyol Raslene secepat mungkin.

Langkah kami lebih perlahan ketika menuju lampu jalan berikutnya. Aku sedikit heran dengan Raslene, tetapi sekaligus memakluminya karena justru keanehannya yang membuat kami nyaman berteman. Toh, hal tersebut tak serta merta membuatku jadi orang normal. Setidaknya, mengingat dulu aku juga pernah menuduh Bibi Roslinda adalah Lalumba.

Raslene bersandar di tubuh pohon ketapang yang berjarak beberapa meter dari lampu jalan ketiga. “Namanya pohon.”

“Apakah benar yang itu namanya aspal?” Aku menunjuk jalan.

“Maksudku, nama lampu jalan itu.” Raslene menunjuk lampu jalan. Kemudian, ia membuka ritsleting ranselnya, mengambil botol Aqua dan menyiramkannya ke trotoar di sekitar lampu jalan.

“Seperti namanya, Pohon butuh air untuk dapat tumbuh.”

“Raslene, aku pikir lampu ini lebih butuh tukang listrik daripada air.”

“Kamu sadar nggak, Pohon sedikit lebih tinggi daripada teman-temannya?”

“Nggak!”

“Maryane menceritakan kepada Ibu bahwa dia menamakan lampu jalan ini pohon karena Pohon lampu jalan yang pertumbuhannya luar biasa. Dulu, Pohon adalah lampu jalan terpendek di sini. Tingginya hanya sebatas dada orang dewasa. Sebenarnya, Pohon bisa jadi lebih tinggi kalau dia mau berdoa. Hanya saja, dia terkenal angkuh. Sampai suatu hari, cahaya yang jatuh dari Lisa menimpa Maryane dan menciptakan bayangan perempuan itu. Melihat bayangan Maryane, Pohon untuk pertama kali jatuh cinta.

Kemudian, ia mulai berdoa kepada Tuhan supaya bisa tumbuh tinggi untuk menciptakan dengan sempurna bayangan Maryane. Bertahun-tahun berdoa, keajaiban terjadi. Pohon tumbuh lebih tinggi dibandingkan teman-temannya.”

Meski tak sedikit pun masuk akal, aku mulai menikmati cerita tentang lampu-lampu jalan itu. Segala bayangan menjengkelkan dalam perjalanan sebelumnya seolah lenyap satu per satu oleh kalimat-kalimat yang diucapkan Raslene.

Lalu, kami pun menyisi trotoar menuju lampu jalan terakhir. Raslene kembali membuka ritsletingnya, mengambil sebuah buku catatan, kemudian membuka salah satu halaman. Dari yang bisa kuintip, yang tertulis di sana sepertinya sebuah cerita.

“Namanya Martin,” kata Raslene, seraya melihat bukunya. “Ia satu-satunya lampu jalan yang bisa bicara dengan manusia. Dulu, Ibu dan Maryane sering mengobrol dengannya. Dari Martinlah, Ibu mendengar cerita tentang kematian Maryane.

Malam itu hujan deras. Terjadi pemadaman listrik oleh PLN di wilayah ini. Tentu saja, Tuan Albert, Lisa, Pohon, dan Martin padam. Sementara itu, Maryane yang kuyup bersembunyi di belakang Martin.

Entah kenapa malam itu terasa berbeda dari malam lain. Jalanan sepi dan terasa mencekam. Kata Martin kepada Ibu, nggak ada satu pun orang atau kendaraan yang lewat. Lalu, saat hari semakin larut, seorang gadis cantik berpayung merah terlihat di kejauhan. Dari arah yang berlawanan, sekumpulan lelaki mabuk tengah berjalan limbung. Karena takut, ketika berjarak hanya beberapa meter dari sekumpulan pria mabuk itu, Gadis Cantik memilih menyeberang jalan. Namun, salah satu dari para pemabuk itu segera menghadang langkahnya. Perlahan-lahan gadis itu mundur teratur. Dan tiba-tiba, pria bertubuh paling bongsor menyergapnya. Gadis yang hendak diperkosa itu meronta-ronta. Tapi derap hujan menggila, sehingga teriakannya hanya terdengar seperti bisikan.

Maryane segera keluar dari persembunyiannya. Ingin menolong gadis itu. Tapi salah seorang dari sekumpulan pria mabuk menghadangnya. Menendangnya hingga terpental beberapa meter. Nggak puas, pria itu menginjaknya. Meludahinya. Mengatainya perempuan gila. Lalu, dia kembali beralih dan membuas pada gadis cantik itu. Maryane mencoba bangkit, tapi nggak sanggup. Tubuhnya nyeri dan kelelahan. Ia hanya meraung nggak berdaya. Lalu,” Raslene menarik napas, “tanpa disangka dari matanya mengalir cahaya. Mula-mula cahaya itu menggenang di trotoar. Kemudian perlahan merambat dari kaki ke dada Martin. Namun, sekumpulan pemabuk yang terlanjur beringas nggak menyadari keajaiban berada di dekat mereka.

Air mata Maryane perlahan-lahan merambat hingga ke kepala Martin. Dan akhirnya membuat lampu jalan itu menyala. Melihat lampu yang tiba-tiba menyala, para pemabuk panik. Mereka lari kocar-kacir meninggalkan gadis cantik yang setengah telanjang itu.

Tapi, Nesh, Maryane nggak bisa berhenti menangis. Air matanya semakin deras. Martin jadi terang benderang, dan cahaya menggenangi separuh jalan. Perlahan-lahan, Maryane pudar. Juga bayangannya. Lalu esoknya, Tuan Albert, Pohon, Lisa, dan Martin memilih memadamkan hidup mereka sebab kehilangan Maryane.”

Bulu kudukku berdiri. Aku cuma bisa mengatakan bahwa aku ingin pulang sekarang. Sementara Raslene mengiyakan sambil menggeleng dan menyeringai angkuh. Terlepas benar atau tidaknya cerita Raslene, aku merasa sepasang mata Maryane mengawasi kami. Detik itu juga, aku percaya bahwa jalan itu adalah jalan terkutuk.

Sepanjang perjalanan pulang, dengan tetap mewaspadai laju sepeda Raslene, aku meyakini dua hal, 1. Aku memang penakut, 2. Raslene punya bakat bercerita dan menyiksaku dalam ketakutan sama bagusnya.