Episode 24 - Super Guardian



Seakan menjadi berkat atas tiap-tiap peserta, taktik yang digunakan De Santos dan Lynch sebelumnya kerap kali dicontoh guna menyiasati kesenjangan kemampuan. Lihat saja! Sudah sekian kali pertandingan berakhir tanpa adu kekuatan, melainkan puluhan celoteh yang berakhir pada portal-portal di angkasa.

Pun demikian, ungkapan kecewa para penonton tiada pernah surut. Mereka bersusah payah mengkritik sikap para kontestan yang sama sekali tidak keren. Namun, bagi segelintir orang, hal tersebut memang patut dicoba. Salah satunya Arya.

"Itu taktik yang jenius," ungkapnya. "Tak kusangka Goro punya celah sebesar itu karena keteledorannya."

"Bodoh!" Jackal sontak mencemooh. "Goro bukan makhluk sembarangan. Meski kalah telak menghadapi Sarasvati, tetapi dia selalu berdedikasi pada aturan gelanggangnya."

"Berdedikasi?" Dahi Arya mengernyit. "Lalu apa alasannya soal taktik yang akhir-akhir ini sering digunakan?"

"Dia sengaja membuka celah. Goro sengaja memancing para penantang gelanggangnya untuk bereksplorasi terhadap fenomena yang ada." Pria bertopeng rubah itu bersedekap. 

"Jadi, cara semacam itu dibolehkan?"

"Saya tidak bicara demikian. Kendati membiarkan para kontestan berekplorasi, tetap saja ada kriteria penilaian yang memengaruhi eksistensi mereka di turnamen ini."

Arya mengangguk, bukan isyarat mengerti, melainkan bentuk penolakan halus terhadap pernyataan Jackal. Mengenai kriteria penilaian dan lain sebagainya, menurut Arya hal tersebut tidak terlalu penting untuk sekarang. Sebab, asalkan selamat di babak kali ini, ia masih berpeluang untuk meraih juara pertama dan mewujudkan hasratnya.

Pula, Arya tidak terlalu yakin tentang penilaian yang barusan disinggung Jackal. Lumrah saja, selama di Pandora, dirinya menemukan banyak fakta janggal. Contohnya, kekuatan Sarasvati yang di luar ekspetasi para duta Pandora. Meski demikian, mengapa dengan lucidity sebesar itu masih saja tak ada duta Pandora yang memilihnya? Memang, Jackal bilang mereka punya banyak pertimbangan guna menentukan hal tersebut. Tetapi, tetap saja Arya enggan menyetujuinya. Jangan-jangan turnamen Oneironaut sengaja dirancang untuk merusak kedamaian lucid dreamer, pikirnya.

Sementara itu, seiring jumlah kontestan yang kian menipis, akhirnya Goro memanggil dua petarung terakhir sekaligus penutup sebelum para didikan duta Pandora memasuki asrama mereka di sesi berikutnya.

"Untuk duel terakhir, izinkan saya memanggil mereka dengan penuh hormat." Naga itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. "HEINTZ DARI YUNANI melawan VIDA DARI MEKSIKO!"

Detik itu juga Arya tercekat. Ingatannya terbawa mundur, tepat sesaat dirinya mengarungi padang tandus sebelum sampai ke gelanggang. Di sana, ada seorang gadis yang tingkahnya sok akrab berusaha mennyapanya dengan ramah. Benar! Kalau tidak salah namanya Vida. Si gadis berambut merah muda yang berambisi menjadi orang terkaya di dunia.

"Tapi, itu impian yang terlalu sederhana." Tak sengaja kalimat tersebut disuarakan oleh Arya.

"Ada apa?" Jackal merespons.

"Ah, tak apa-apa. Aku hanya teringat soal gadis yang kita temui sebelum sampai ke sini. Kalau tidak salah, ia ingin menjadi orang terkaya. Hey, Jackal! Apa menurutmu impian tersebut terlalu sederhana."

"Sangat sederhana, menurut saya. Bahkan, seharusnya dengan impian sesederhana itu, dia tak pantas mengikuti turnamen Oneironaut." Jackal lagi-lagi bersedekap. "Akan tetapi, impiannya akan menjadi besar bilamana kondisi kehidupannya di dunia nyata tidak memungkinkan untuk mencapai hal tersebut."

Akhirnya tiba juga. Vida yang tubuhnya dibalut jubah abu-abu tampak jeli mengawasi musuhnya. Di lain sisi, seorang pemuda berambut kelabu berdiri tenang. Iris matanya yang keunguan seakan menjadi tanda bahaya bagi siapa pun yang coba menentang. 

Satu lagi! Pemuda bersorot dingin itu mengenakan setelah jas putih, berpadu dengan dasi kupu-kupu merah. Penampilan Heintz benar-benar eksentrik.

"Pertarungan dimulai!" Garo seketika memelesat ke angkasa.

"Sepertinya sudah dimulai," ujar Heintz. "Taktik apa yang sebaiknya kita pakai? Bertarung secara frontal atau melalui kesepakatan?"

Vida terkesiap, mata kian membulat sesaat menyahut segenap hati. "Emangnya mau pilih apa lagi? Namanya juga duel, berarti kita harus bertarung!" Gadis itu menyiapkan ancang-ancang.

"Reaksi yang mengejutkan." Heintz tersenyum tipis. "Ya, sudahlah. Aku juga ingin tahu sampai mana batas kemampuanku." Ia merentangkan tangan diiringi pejaman mata.

Tak mau kalah, Vida juga mengatupkan matanya, coba berkonsentrasi demi memanggil atribut bertarungnya. Para penonton mulai cemas. Mereka jelas-jelas tidak ingin peserta terakhir menerapkan cara yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Mereka mau pertarungan seru! Pertarungan yang sanggup menggetarkan hati siapa pun.

ZRIING~

Tepat di telunjuk kanan Heintz terpasang cincin berkemilau perak. Pemuda itu seketika menjulurkan lengannya ke depan, sejajar ke posisi Vida yang masih berkutat pada konsentrasinya.

"Merebaklah!" serunya.

Sesaat kemudian, tampak lapisan asap kelabu yang menyeruak dari dalam cincin. Pelan tapi pasti, asap tersebut merangkak ke sekujur tubuh Heintz, bergerumul hingga membumbung tinggi ke atas. Tepat setelah itu, gemuruh nyaring terdengar, disusul lenyapnya sosok Heintz dari arena.

"OY! YANG BENAR SAJA?!"

"DIA HILANG!"

"TELEPORTASI!"

Penonton langsung berkomentar. Pandangan mereka beralih ke sana-kemari, bersikeras menemukan Heintz. Namun, hasilnya tetap nihil. Bahkan, semakin lama, arena pertandingan kian penuh akan asap kelabu yang datangnya entah dari mana.

"Dia punya kemampuan seperti Taki," tukas Arya. 

"Jujur saja, hal tersebut belum bisa dipastikan. Biasanya lucid dreamer yang punya kemampuan teleportasi akan langsung menghilang tanpa membatasi jarak pandang musuh. Namun, yang satu ini berbeda. Dia sengaja menebar asap di sepanjang arena."

Seisi arena dalam selubung asap pekat. Kini, para penonton benar-benar dibuat penasaran. Bagaimana tidak? Pandangan mereka terlalu dibatasi, sementara kilatan-kilatan ungu kerap kali menyeruak di balik asap tersebut.

"Gawat!" Vida bertelungkup di dalam bola raksasa dari keratin. Warnanya hitam berloreng merah.

Percikan api tercipta manakala sabetan tak kasat mata menimpa pelindungnya. Kilatan ungu yang bergerak super cepat itu sudah bagaikan guntur yang tak sabar ingin menyambar. Namun, Vida masih sanggup bertahan di balik bola keratin yang diyakini adalah bentuk weapon-nya.

ZRASH!

Satu sabetan lagi datang, setetes pula keringat yang jatuh dari tubuhnya. Apa sebenarnya ini? Bagaimana bisa Heintz lenyap sedangkan serangannya datang secara bertubi-tubi?

"Aku nggak boleh panik! Pasti bakal ada kesempatan buat balas nyerang."

"Balas menyerang?" Tiba-tiba gaung itu terdengar. "Tidak ada istilah balas menyerang dalam kamusku. Sekali terdesak, musuh akan kalah bagaimana pun caranya."

"Hah?! Kamu Heintz, 'kan?" Vida menengadah. "Hey, Heintz! Tolong hentiin serangan kamu bentar. Kalau ini, sih, temponya kelewat cepat."

"Bodoh!" 

TING!

Bola pelindung Vida berdenting sesaat sabetan Heintz bertambah kuat. Kalau begini, cepat atau lambat pemenang duel terakhir akan ditetapkan. Namun, seandainya saja Vida bisa menggertak, maka akhir pertandingan masih jauh jaraknya.

"Iya! Aku nggak bakal kalah, kok." Gadis itu meracau. "Bantu aku, Chavo!"

Serangan Heintz seketika berhenti. Ada hawa aneh yang menyelimuti gelanggang Goro. Di balik semua itu, sorak sorai penonton tiba-tiba mengeras, seolah ada sesuatu luar biasa yang bertengger di arena.

"Bahaya!" 

Lapisan asap sontak tertarik mundur ke posisi awal, bergerumul cepat lalu masuk ke dalam cincin yang terpasang di telunjuk Heintz. Pemuda itu kembali muncul, tetapi dengan ekspresi berbeda.

"Predator musim panas? Pemangsa asap? Tak kusangka akan bertemu di sini!" Ia terbeliak menyaksikan makhluk yang berbaring di samping Vida.

Makhluk itu, yang punya empat kaki gemuk dan kulit merah bergerigi. Guardian kali ini diadaptasi dari hewan khas Meksiko, biawak gila monster yang punya ukuran raksasa, hampir-hampir seperti kapal pesiar. Ekor licinya berkibas-kibas beserta sepasang mata kecil yang menusuk ke depan, tepatnya ke sorot dingin Hentz.

"Kuserahkan padamu, Chavo!" Vida tersenyum. 

"Tenang saja."

Semua orang tercengang, juga para duta Pandora yang sama sekali tak menyangka ada guardian yang mampu bicara. Biasanya, kodrat seorang guardian hanya dibatasi pada mengerti ucapan pemiliknya. Apabila sudah sanggup menjawab, itu artinya Chavo menyandang presikat 'Super Guardian'.

"Mustahil," gumam Frog. Tidak biasanya pria itu duduk normal seperti yang lain. "Super Guardian yang langka! I-itu mustahil! Mustahil bisa lolos dari dewan verifikasi. Owner harus tahu sekarang!"

"Apa maksudnya Super Guardian, Guru?" Red menceletuk.

"Guardian yang berhasil melampaui kodratnya. Aku nggak terlalu tahu soal ini, tapi kayaknya predikat 'Super Guardian' bisa diraih kalau lucidity hanya fokus pada satu atribut. Dengan kata lain, saat ini gadis itu nggak bisa mengaktifkan weapon, skill, maupun army. Dia cuman mengandalkan guardian-nya."

Chavo membalikkan tubuh, sehingga kaki-kakinya menapaki tanah. Kadal itu punya raut bengis, dilengkapi deret geligi runcing bak gergaji. 

"Larilah secepat mungkin, selagi aku bersiap untuk memakanmu. Akan kuhitung sampai tiga," ujarnya bersuara serak.

"Apa-apaan kau! Aku di sini bukan untuk jadi pengecut." Heintz protes.

"Satu."

"Oy! Jangan main-main!"

"Dua."

"Bedebah sialan!" Heintz menjulurkan telunjuknya, sehingga cincin perak itu menyemburkan asap pekat, menutupi gelanggang untuk kedua kalinya. "Meski kau kuat, aku takkan mau mengalah!"

"Benar-benar keras kepala. Aku 'kan sudah memperingatimu, tapi sepertinya sia-sia saja." Suara Chavo terdengar. "Kalau begitu, TIGA!"

Secara nengejutkan, asap di seluruh penjuru gelanggang berkumpul ke satu titik. Bahkan, Heintz yang tengah menyatu dengan asapnya ikut-ikutan terbawa arus.

"Sial!"

Ia lekas-lekas memaksa asapnya untuk kembali ke dalam cincin. Namun, tarikan yang diberikan Chavo tidak kalah kuat. Heintz terseret ke depan, meski masih saja bersikeras melawan. Apakah ini kekuatan Super Guardian? Tidak ada yang tahu sampai pada akhirnya asap cincin Heintz terlumat habis oleh lawannya.

Chavo menyeringai setelah bersendawa nyaring. Dia sungguh-sungguh pemangsa asap! Belum selesai sampai di sana, tiba-tiba biawak gila monster itu membuka mulut layaknya gua raksasa. Heintz sontak bersiaga.

BRUASH!

Kewaspadaan Heintz ternyata tepat. Kali ini mulut Chavo melontarkan ratusan tombak dari asap yang barusan ditelannya. Tombak-tombak itu terbang melintasi arena, berlomba-lomba untuk menghunus targetnya.

"Dia gila!" Heintz berlari ke mana pun tempat yang sanggup dijangkaunya.

"Satu lagi orang yang luput dari matamu, Jackal." Mata Arya tak kuasa lepas dari arena. "Astaga! Ke-kenapa aku jadi pesimis soal impianku?"

"Anda tidak pantas bicara demikian! Apa pun yang terjadi, tidak ada kata mundur untuk melangkah. Super Guardian bukanlah hal yang berarti!"

"Biarpun kau bilang begitu, tetap saja aku merasa lemah. Lihatlah! Aku bahkan baru menguasai dua atribut lucid dreamer. Rasanya skill dan army masih jauh dari jangkauanku."

"Anda salah!" Pria berjubah itu seketika berdiri.