Episode 126 - Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu




Sebuah hamparan luas tanpa batas. Warnanya putih. Putih di permukaan, putih di langit, putih di kejauhan. Saking putihnya, maka cukup menyilaukan bagi mata mereka yang baru saja tiba. 

Tak ada tetumbuhan maupun binatang sama sekali. Kosong melompong. Aura kehidupan hanyalah dipancarkan oleh ketiga anak remaja yang baru saja tiba. Kendatipun demikian, aliran tenaga alam terasa sangat kental dan melimpah-ruah. Tak perlu bermeditasi lama untuk segera dapat mengisi mustika tenaga dalam di tempat ini. 

Di belakang mereka berdiri sebuah gapura, atau gerbang. Bentuknya mirip bingkai pintu besar, tanpa daun pintu dan tanpa dinding tempat bersandar. Gapura yang berdiri sendiri itu terbuat dari kayu maha keras yang mengkilap adanya. Berbagai bentuk ukiran terlihat menghiasi sisi kiri dan kanan gapura. Di sisi paling atas, sebuah lingkaran besar yang memuat ukiran sebuah matahari bersudut delapan, terpampang perkasa. 

“Tuan Guru, ruang dimensi apakah gerangan ini?” Melati Dara terkagum-kagum.

“Ruang dimensi ini milik seseorang di masa lalu…,” jawab Kum Kecho, alias Putra Mahkota Negeri Dua Samudera, Elang Wuruk. Ekspresinya berubah menjadi sedikit muak. 

“Siapakah kiranya pemilik tersebut…,” Melati Dara bergumam. 

“Pemiliknya bukan siapa-siapa… Yang membuat dan menghadiahi dimensi inilah sesungguhnya sosok yang patut dimuliakan….” Kum Kecho berujar, sepertinya kepada diri sendiri. Raut wajahnya sedikit terlihat kusut. 

“Apakah waktu berjalan beriringan dengan dunia luar…?” Dahlia Tembang turut penasaran akan ruang dimensi tersebut. 

“Tempat ini adalah dimensi ruang saja. Waktu yang kita jalani akan beriringan dengan waktu di dunia luar…,” jawab Kum Kecho.

“Tuan Guru… darimanakah Tuan Guru memperoleh pengetahuan tentang teknik keahlian Pulau Belantara Pusat…?” sambung Dahlia Tembang.

Sebelum masuk ke dalam ruang dimensi ini, Dahlia Tembang memperoleh berbagai masukan terkait kesaktian unsur bunyi yang ia miliki. Terlebih, Kum Kecho juga memberikan wejangan seputar persilatan dan kesaktian yang khas dari Pulau Belantara Pusat. Sungguh pengetahuannya dinilai sangat berharga bagi Dahlia Tembang. 

“Dari seorang guru…,” jawab Kum Kecho lugas. Kali ini, ekspresinya kembali menjadi lebih tenang. 

Kum Kecho lalu mengeluarkan sejumlah Kartu Satwa miliknya. Ia pun segera melepaskan kawanan nyamuk, kutu, kepik, capung dan lintah. Binatang-binatang siluman langka tersebut lalu menyebar ke sana dan ke mari. Tak perlu menjadi seorang pawang binatang siluman untuk menyimpulkan bahwa mereka senang sekali berada di lingkungan yang kaya akan tenaga alam.

Melati Dara mulai bermain-main dengan binatang-binatang siluman tersebut. Mereka saling kenal, bahkan akrab, karena memang Melati Dara yang secara teratur menyiapkan makanan dan menetap di dekat kandang. 

Kum Kecho lalu melepas Jubah Hitam Kelam. Ia hanya mengenakan celana pendek dan atasan sederhana berwarna hitam. Tubuhnya ramping, kulit di sekujur tubuhnya demikian pucat. Yang paling menarik adalah raut wajahnya menampilkan ketampanan yang dalam sekali pandang dapat menarik hati gadis-gadis mana pun. Meski, kantung mata berwarna hitam masih menggantung berat di bawah mata. 

“Tanggalkan pakaian kalian…,” perintah Kum Kecho tanpa ekspresi. 

Dahlia Tembang terkejut, lalu mundur selangkah. 

Melati Dara bergerak cepat. Segera ia menanggalkan jubah hitam yang dibuat semirip mungkin dengan jubah milik Kum Kecho. Meski kemudian, cukup sulit bagi dirinya melepas pakaian kulit yang demikian sempit.

“Tidak semuanya!” hardik Kum Kecho saat melihat gelagat Melati Dara. “Sisakan pakaian dalam!” 

Dahlia Tembang mulai dapat membaca maksud dan tujuan Kum Kecho. 

“Kita akan berlatih bersama di dalam ruang dimensi ini. Tempat ini diberkahi dengan aliran tenaga alam yang melimpah. Di saat berlatih, aliran tenaga alam tersebut akan menyerap perlahan melalui pori-pori kulit. Tenaga alam akan memperkuat kulit, tulang dan otot. Di saat yang sama, tenaga alam juga akan menyerap dan mengisi perlahan mustika tenaga dalam.” 

Dahlia Tembang mengangguk. Ia pun mulai menanggalkan kemben. 

“Sisakan pakaian dalam kataku!” Kum Kecho kembali menghardik ke arah Melati Dara. 

“Tapi… tapi hambamu tak mengenakan pakaian dalam….” 


===


“Kau sudah sangat lelah….” 

“Aku harus mencari tahu tempat dimana ia berada….” 

“Beristirahatkah sejenak. Lagipula, apa yang akan kau sampaikan dan lakukan bilamana bertemu dengannya…?”

“Aku hendak menanyakan alasan ia membunuhku!”

“Sudahlah, Jebat… Kau telah terlahir kembali, mengapa seolah masih hidup di masa lalu?” 

“Segala daya upaya yang kucurahkan semata untuk membela harkat dan martabatnya! Tetapi, mengapa ia membunuhku!?” hardik Hang Jebat si Raja Angkara Durhaka. 

“Ah… kami bosan. Tidakkah ada sesuatu yang dapat kau tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau…?” Kesadaran Tameng, yang mendiami keris Tameng Sari terdengar suntuk. 

“Akhh!” Tubuh Hang Jebat tetiba bergetar keras. Kedua tangannya segera memegang kepala. Ia bahkan hampir terjatuh, namun sepertinya masih cukup kuat bertahan, dan bertumpu pada satu lutut. 

“Cih! Jiwa dan kesadaran keturunan Joko Tole ini cukup kuat!” gerutu Hang Jebat. 

“Sudah kukatakan kau kelelahan… berhari-hari melangkah tanpa rehat akan menurunkan daya tahan tubuhmu,” gerutu Tameng. 

“Na-ma-ku… Ar-ya… Pa-me-ka-san….” Terdengar rintihan kesadaran dari tubuh yang dirasuk oleh Hang Jebat. 

“Akhh!” Hang Jebat terpaksa kembali bertumpu pada satu lutut. Rasa pening yang ia rasakan bagai ratusan sembilu yang menghujam di kepala.

“Kembalikan tubuhku!” Kini kesadaran Arya Pamekasan berupaya memberontak. 

“Tameng! Bantu aku!” Napas Hang Jebat mulai terasa berat. 

“Haaa… Apa jadinya kau Jebat tanpa kehadiran kami…?” 

“Aarrgghh….”

“Aku harus meningkatkan keahlian… dan berlatih dengan menggunakan tubuh ini… agar dapat sepenuhnya aku kuasai.” 

===

 

Sepekan berlalu. Permohonan menghadap penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu, yang diajukan Kakek Duta Utama sebagai perwakilan dari Kemaharajaan Pasundan belum juga digubris. Kakek tua itu setiap hari terlihat sibuk mondar-mandir mencari-cari solusi. 

Regu Perdamaian, meskipun demikian, diperkenankan menetap di Istana Kedua yang memang diperuntukkan bagi Kemaharajaan Pasundan di Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Mereka tak diusir dari wilayah puncak Gunung Perahu. Sungguh pelik. 

Kelima anggota Regu Perdamaian hanya menanti kabar berita. Oleh Kakek Duta Utama, mereka tak diperkenankan meninggalkan istana. Aji Pamungkas bahkan tak pernah keluar kamar. Ia hendak memupus segala bentuk kesempatan bertemu dengan Asep, mencegah kemungkinan diajak berlatih tarung. 

“Diterima atau tidak, aku akan mendatangi Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu saat ini juga!” ujar Citra Pitaloka. Ia yang sedari awal tenang, sudah mulai kehabisan kesabaran. 

Walhasil, pagi itu Regu Perdamaian bertolak ke Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Kakek Duta Utama tak kuasa menolak Putri Mahkota. Ia yang berperan sebagai penunjuk arah dan kelihatannya gugup sekali. 

Jelang siang mereka tiba di wilayah dengan rawa-rawa yang paling lebat. Berbagai tumbuhan air mencuat subur. Di baliknya, sebuah istana terlihat berdiri megah. 

“Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan, Citra Pitaloka memohon menghadap Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu.”

Hening. Kakek Duta Utama terlihat semakin gugup.

“Brrttt…” Tetiba pintu gerbang besar Istana Utama tersebut berderak. Lalu, perlahan membuka diri.

Citra Pitaloka segera melangkah masuk. Kakek Duta Utama menyusul, diikuti keempat anggota regu. Di hadapan mereka, terhampar luas rerumputan nan subur menghijau. Langit-langit istana jauh tinggi membumbung, seolah-olah merupakan langit sungguhan. Jendela-jendela besar mengantung di sisi dinding. Lebar bagian dalam istana ini lebih dari lima puluh meter, dan panjangnya lebih dari seratus meter!

Sungguh istana yang luas dengan desain yang tak biasa. Jauh di hadapan, di ujung sana, terlihat undakan tanah seperti panggung yang ditumbuhi subur berbagai jenis semak belukar. 

Mereka meneruskan langkah. Tak lama, di atas undakan tanah, mulai terlihat dua singasana yang terbuat dari akar pohon. Akan tetapi, posisinya tidak berdampingan, melainkan terpisah jarak. Satu di kiri dan satu lagi di kanan. Terdapat kesan bahwa singasana tersebut milik dua penguasa yang berbeda.

Di hadapan singasana mereka menghentikan langkah. Singasana di sisi kiri mirip sebuah kursi besar lengkap dengan sandaran tangan. Sedangkan singasana di sisi kanan, lebih menyerupai dipan yang terbuat dari jalinan akar tetumbuhan.  

“Duta Utama… tunggulah di luar!” tetiba terdengar suara berat memberikan perintah. 

“Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan, Citra Pitaloka memohon kesediaan Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu bertemu muka.”

Hening.

Satu jam berlalu. 

“Sampai berapa lama lagikah kita akan berdiri menanti…?” bisik Aji Pamungkas. 

Hening.

Satu jam kembali berlalu. 

Tetiba, seorang lelaki dewasa muncul dari sela-sela semak belukar yang merupakan latar belakang, sekalian bagian, dari singasana. Bentuk tubuhnya sedang, tidaklah besar dan tinggi, malah seperti manusia kebanyakan. Meski, kulit tubuh terlihat demikian mulus. Wajahnya sangat tampan, dan mengesankan sifat yang ramah lagi sabar. Peringkat keahliannya tak dapat dicerna oleh ahli Kasta Perunggu. 

Ia kemudian menyapu pandang ke arah lima anak remaja. Pantauan matanya berhenti sejenak saat mendapati salah seorang anak remaja. Ia menatap Bintang Tenggara cukup lama, sepertinya sedang mengira-ngira, sebelum akhirnya maju selangkah. 

“Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu akan segera hadir!” ujarnya dengan suara membahana. 

Dari sela-sela semak belukar di balik singasana, kembali muncul sesosok tubuh. Namun, sosok tersebut tidaklah berjalan berdiri… melainkan merayap. Bentuknya tak terlihat sebagai manusia, tidak pula menyerupai kodok. Bentuknya lebih mirip dengan gundukan semak belukar yang sudah mati. Lebih anehnya lagi, gundukan itu mengeluarkan suara-suara seperti seseorang yang sedang berkumur-kumur!

“Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu telah hadir!” ujar lelaki dewasa yang berdiri di sudut singasana. “Sampaikan permohonan kalian!” 

“Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan, Citra Pitaloka memberi hormat kepada Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu… Yang Mulia Paduka… Raja Bangkong IV!” 

Citra Pitaloka lalu menundukkan tubuh. Akan tetapi, ia tak menghadap ke arah gundukan menjijikkan itu. Sebaliknya, ia menghadap ke arah lelaki dewasa yang sejak awal bertugas seolah sebagai pengawal raja!

“Cih!” Lelaki dewasa itu menghardik. “Asep! Penampilanmu jelek sekali! Mengecewakan!” 

Gundukan tanaman mati lalu bangkit berdiri. Rupanya itu adalah semacam jubah yang sengaja dibuat aneh. Di baliknya, lalu terlihat Asep yang bertampang kusut sekali. Asep segera bertekuk lutut, lalu menuruni gundukan tempat singasana. Ia mengambil posisi di sisi bawah, sekira delapan langkah dari para utusan perdamaian. 

Lelaki dewasa melangkah ke kursi singasana sana di sisi kiri. Lalu, ia berdiri di atas kursi besar itu. Benar, ia berdiri di atas kursi singasana!

“Perkenalkan diri kalian!” perintah lelaki dewasa tersebut.

“Aji Pamungkas!” Membusungkan dada.

“Lampir Marapi!” Tersenyum ceria. 

“Embun Kahyangan….” Bergumam seadanya. 

“Bintang Tenggara….” Berujar pelan.

“Apa!?” Lelaki dewasa itu melotot ke arah Bintang Tenggara. Giginya bergemeretak, napas menderu. Sebuah ingatan kilas balik tetiba berkelebat di dalam benaknya. 


Pemandangan nan damai dan teduh di dekat sebuah air terjun berukuran sedang. Gemericik air sungai terdengar seolah membelai ringan jiwa dan raga. Di bantaran, rerumpunan menghijau. Bunga-bunga bermekaran, indah berwarna-warni. 

“Keciprak!” tetiba aliran air sungai berdecur bergelombang. 

“Latihan seperti apakah ini!?” seorang anak lelaki terlihat sedang berenang luwes di sungai. Usianya sekitar enam atau tujuh tahun.

“Latihan menghindar dari serangan!” Terdengar jawaban suara anak perempuan. 

Sesosok tubuh kecil, lalu terlihat melenting-lenting di bantaran sungai. Di atas kepalanya, kedua tangan memegang bilah bambu yang jauh lebih panjang dari tubuh. Anak perempuan itu lalu menikam deras ke arah sungai!

Anak lelaki yang dipaksa berenang di sungai, kemudian terlihat setengah mati berupaya menghindar dari tikaman-tikaman tempuling yang mengincar batok kepalanya. Ia berenang gesit ke kiri dan ke kanan. 

“Mayang Teng-gila! Kau berniat membunuhku!”

“Cebong Cebol! Kau harus berlatih menghindar di air!”

“Aing tak perlu berlatih menghindar di air! Aing siluman kodok!” 

“Mayang Tenggara… kau akan membunuhnya…” Terdengar suara menegur dari sisi lain bantaran sungai. Seorang anak yang mengenakan pakaian kebesaran khas bangsawan, terlihat sedang bermain-main dengan sekawanan serangga. 

“Heh! Elang Wuruk! Sebaiknya kau pulang dan merangkai bunga bersama dayang-dayang istana!” hardik anak perempuan itu. Kelihatannya ia tak senang ditegur. 

Tikaman demi tikaman kembali menghujam deras. Anak lelaki yang berenang di sungai mulai terlihat kepayahan. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah mengerahkan segala daya upaya. 

“Mayang Teng-gila!” teriaknya sambil berupaya berenang menjauh….

“Bletak!” Tikaman tempuling bambu tumpul tepat mengenai kepala anak yang berenang di sungai. 

“Cebong Cebol!” teriak Elang Wuruk khawatir. 

Segera si Putra Mahkota mengeluarkan selembar Kartu Satwa. Seekor serangga seukuran tubuh seekor kambing, dengan tiga pasang kaki panjang, lalu keluar dari ruang dimensi penyimpanan. Serangga tersebut lalu terlihat melangkah cepat di atas air. 

Serangga itu, yang biasa dikenal sebagai anggang-anggang atau laba-laba air, melesat mengejar seorang anak lelaki yang hanyut tak sadarkan diri dibawa arus sungai. 

“Cih! ‘Kan sudah kukatakan kau perlu berlatih menghindar di air!”


Sang Raja kembali dari lamunannya. Wajahnya memerah padam. Ia menatap tajam ke arah Bintang Tenggara. Amarah meningkat, aura tenaga dalam memanas, ia pun mengajukan pertanyaan...

“Siapa… nama… ibumu…?” Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu, menggeretakkan gigi. 

“Mayang Tenggara...,” jawab Bintang Tenggara ringan. Ia gagal menangkap perubahan pada raut wajah sang raja. 

“Duar!” 

Hantaman tenaga dalam serta-merta menghajar Bintang Tenggara! Tak hanya dirinya, anggota regu yang lain sama terkejutnya. Mereka tak dapat berbuat banyak selain ikut terpental sampai belasan meter. 

Kelima anak remaja tersebut jatuh terjerembab di kejauhan. Bahkan Asep, yang berdiri di sisi samping undakan panggung singasana, terpental dan menghantam dinding. Kesemuanya tak sadarkan diri!