Episode 125 - Kerajaan Siluman Gunung Perahu



“Kami adalah utusan dari Kemaharajaan Pasundan,” jawab Citra Pitaloka santun. Zirah yang terbuat dari berbagai anggota tubuh binatang siluman sudah tak lagi ia kenakan.

Di hadapan Regu Perdamaian, kini terlihat lima remaja. Empat dari mereka masih menghunus tombak. Pimpinan mereka tidak bersenjata dan bertelanjang dada. Ia adalah anak remaja lelaki bertubuh besar dan kekar. Tak sulit untuk memastikan bahwa sosok itu adalah yang tadi melontarkan tombak, dan dengan mudahnya membunuh kapten serdadu bayaran. 

Bintang Tenggara mengamati sekeliling. Di kejauhan, semakin banyak sosok yang bermunculan. Regu Perdamaian terkepung. Remaja di hadapan melangkah semakin mendekati. Meski tubuhnya kekar berotot, layaknya Panglima Segantang, namun terlihat jelas bahwa kulitnya tubuhnya… semulus paha Embun Kahyangan! 

“Utusan dari Kemaharajaan Pasundan…? Tak ada kabar berita bahwa akan ada utusan dari Kemaharajaan Pasundan yang akan berkunjung. Dusta!” hardik remaja berotot berkulit mulus. 

Bintang Tenggara menebar mata hati sejauh mungkin. Tak kurang dari duapuluh remaja telah terlihat mengepung. Aura mereka sungguh berbeda. Namun, yang paling aneh, adalah bahwa setiap satu dari mereka berada pada Kasta Perak! 

“Namaku Citra Pitaloka, Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan. Datang hendak bersua Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu.” 

Sorot matanya tajam. Tak ada keraguan dalam raut wajahnya… tak ada rasa gentar dari gerak-geriknya. Walau hanya berada pada Kasta Perunggu, pembawaan Citra Pitaloka seolah menekan lawan bicara di hadapan. 

“Tahan mereka….” Remaja bertubuh kekar berkulit mulus berujar kepada anggota regunya. Ia memberi perintah agar para serdadu bayaran yang masih bernyawa segera diringkus. 

“Kalian… ikut denganku!” perintahnya kepada kelima anak remaja yang datang mengemban misi perdamaian. 

Walhasil, Bintang Tenggara menyaksikan para serdadu bayaran yang tak sadarkan diri, dihenyakkan ke dalam sebuah kerangkeng yang terbuat dari formasi segel. Sisanya lagi, yang tak berani melarikan diri setelah menyaksikan bagaimana kapten mereka mati tertancap di pohon, diborgol menggunakan jalinan rantai yang terbuat dari formasi segel. Sungguh unik penerapan formasi segel yang dikerahkan oleh ahli-ahli tersebut. 

Anggota regu perdamaian lalu digiring bersama tawanan. Meski tak diperlakukan layaknya tawanan, mereka tak dapat bergerak bebas dalam kepungan. 

“Siapakah mereka…?” ujar Bintang Tenggara penasaran. 

“Mereka adalah prajurit dari Kerajaan Siluman Gunung Perahu,” tanggap Citra Pitaloka. 

“Prajurit manusia…?” Bintang Tenggara setengah tak percaya. 

“Hm…? Kau belum mengetahui...?” Nada suara Citra Pitaloka pun seolah tak percaya. 

“Mengetahui apa…?”

“Buka gerbang!” Tetiba terdengar suara membahana, yang menyela perbincangan Bintang Tenggara dan Citra Pitaloka. 

“Siapakah mereka!?” 

Suara tanggapan berasal dari tebing batu nan kokoh di hadapan. Tebing tersebut membentang tinggi sejauh mata memandang. Dengan demikian, tidak terlihat ujung tebing di kedua sisi. Tak diragukan lagi, bahwa mereka hampir berada di atas Gunung Perahu!

“Sekelompok serdadu bayaran yang belakangan berkeliaran di lereng gunung… serta satu regu yang mengaku perwakilan kemaharajaan manusia!”

Tanah kemudian bergetar ringan dan bebatuan kecil berjatuhan, ketika tebing batu perlahan membuka diri. Rupanya, pada satu bagian tebing batu tersebut, terdapat sebuah pintu. Pintu itu merupakan bagian dari tebing itu sendiri, dan kini bergerak membuka ke arah atas. 

Sebelum pintu terlihat, Bintang Tenggara tak merasakan aura apa pun dari tebing batu di depan. Namun kini, ia merasakan formasi segel yang teramat kental. Unik sekali. 

Rombongan Regu Perdamaian, serdadu bayaran yang menjadi tawanan, dan prajurit kerajaan siluman melangkah masuk. Bintang Tenggara segera menyadari bahwa sesungguhnya mereka kini berada di dalam kawah di atas puncak Gunung Perahu. Luas sekali di atas sini!

“Hm…?” Bintang Tenggara sungguh teramat penasaran. 

“‘Hm…’ apa?” hardik Aji Pamungkas. 

Bintang Tenggara menyaksikan hamparan padang rumput, lalu rawa-rawa yang sedemikian luas. Di tengah-tengah, terlihat sebuah danau. Jika dibuatkan proporsi wilayah, maka seperempat bagian dalam kawah ini adalah padang rumput, seperempat lagi danau, dan setengah wilayah di puncak gunung perahu adalah rawa-rawa. 

Tebing tinggi kawah yang mengelilingi seluruh wilayah menjadi pertahanan alami yang demikian kokoh!

Akan tetapi, yang membuat Bintang Tenggara sangat penasaran bukanlah perbandingan bentangan alam di dalam wilayah itu atau tembok kawah nan tinggi dan terjal. Yang membuat kedua matanya membesar, adalah penghuni di dalam wilayah tersebut merupakan manusia! 

Anak-anak kecil berlari-lari dan asyik bermain-main. Para remaja ada yang menjadi prajurit, pelajar, pedagang, atau lainnya. Orang-orang dewasa jarang terlihat. Kehidupan berlangsung layaknya sebuah kota besar nan sangat ramai. 

“Kau benar belum tahu…?” Citra Pitaloka berujar lagi ketika mendapati anggota regunya itu masih saja kebingungan. 

Bintang Tenggara hanya diam. Aneh memang. Anak-anak kecil yang ia pantau sudah berada pada Kasta Perunggu, sementara seluruh remaja berada pada Kasta Perak. Sedangkan orang-orang dewasa, tak dapat dicerna kasta keahlian mereka. Kemungkinan besar berada pada Kasta Emas!

“Ia pura-pura tak tahu…,” sela Aji Pamungkas. 

“Apakah Kakak Gemintang hendak kuberi tahu…?” ucap Lampir Marapi riang. 

“Sungguh aku malu memiliki murid yang tidak tahu-menahu…,” keluh Komodo Nagaradja. 

“Diriku yang akan memberi tahu!” ujar Embun Kahyangan, yang biasanya diam tak bersuara. 

“Ada apa dengan ‘tahu’!?” Bintang Tenggara setengah berteriak. 

“Hush!” Seorang prajurit menegur, mata melotot.

“Kerajaan Siluman Gunung Perahu terdiri dari bangsa siluman yang sangat istimewa,” ujar Embun Kahyangan. 

Anggota regu yang lain masih tak percaya bahwa Bintang Tenggara benar-benar tak tahu. Mereka menatap ragu. 

“Penduduk Kerajaan Siluman Gunung Perahu berasal dari binatang siluman Kodok Gunung Perahu. Sepanjang siklus kehidupan, mereka melakukan peralihan wujud. Peralihan wujud kodok biasa dimulai dari berudu atau cebong, kodok muda, lalu kodok dewasa. Sama halnya, Kodok Gunung Perahu menjalani peralihan wujud tersebut.”

Aneh rasanya mendengarkan seseorang yang biasanya hanya diam dan seolah sibuk dalam lamunan. Namun, mendengar suara Embun Kahyangan, mengingatkan Bintang Tenggara pada suatu malam di pesisir Pulau Dewa, seusai dirinya diselamatkan oleh gadis itu. 

“Dengan kata lain, anak-anak yang berada pada Kasta Perunggu, yang sedang bermain itu sesungguhnya adalah berudu. Remaja yang menjadi prajurit dan berkasta Perak adalah kodok muda. Demikianlah keistimewaan mereka.” Tutup Embun Kahyangan memberikan penjelasan singkat dan padat. 

“Hm… Jadi, mereka adalah siluman sempurna sejak lahir…?” Akhirnya Bintang Tenggara sedikit lebih mengerti perihal Kerajaan Siluman Gunung Perahu.

“Bisa dikatakan demikian,” sela Citra Pitaloka. 

“Payah…,” hardik Komodo Nagaradja. 

Rombongan kemudian dipisah menjadi dua. Serdadu bayaran yang menjadi tawanan dibawa ke arah yang berbeda. Sedangkan regu perdamaian, ditemani remaja pimpinan prajurit yang bertubuh besar dan berkulit mulus, menuju ke arah lain. 

“Namaku Asep… Aku akan mengantarkan kalian ke istana.”

“Hmph… Namamu Asep…?” Aji Pamungkas terkekeh menatap anak remaja bertubuh kekar itu. 

“Asep berasal dari kata ‘kasep’ yang berarti ‘tampan’,” sela Citra Pitaloka menyibak senyum. “Izinkan aku memperkenalkan anggota regu yang lain….”

“Lampir Marapi,” terdengar suara riang.

“Embun Kahyangan….”

“Aji Pamungkas!” ujar anak remaja itu jumawa. Meski perawakan Asep cukup tampan, Aji Pamungkas merasa lebih perkasa karena jelas nama yang ia miliki jauh lebih keren!

“Bintang Tenggara…,” terdengar suara pelan. “Oh… Aji Pamungkas terkenal karena menguasai jurus-jurus silat benjang,” tambahnya. 

“Oh… benarkah!? Kita harus berlatih tarung!” seru Asep. 

“Tidaaaak!” jerit Aji Pamungkas, sambil menebar hawa membunuh ke arah Bintang Tenggara!

Hari jelang siang. Regu Perdamaian melangkah menyisir tepi rawa-rawa. Bintang Tenggara mulai mengerti mengapa rawa-rawa tersebut demikian luas. Tentu saja karena ini adalah wilayah bangsa siluman sempurna kodok. 

Di atas rawa, berdiri berbagai macam bagunan. Di antara bangunan-bangunan tersebut, Bintang Tenggara menyaksikan sejumlah perguruan, pemukiman, pasar, dan lain-lain. Pemandangan yang tersaji, secara umum tak berbeda dengan selayaknya berada di dalam sebuah kerajaan yang dihuni oleh manusia. Hanya saja, sebagian besar bangunan tersebut terletak di atas rawa-rawa. 

Di sela-sela bangunan, kedua matanya menangkap sebuah bangunan… perpustakaan! Bintang Tenggara mengingat Super Guru Komodo Nagaradja pernah menyebutkan bahwa racun yang mendera tubuhnya dikarenakan racun dari siluman sempurna. Mulai dari pustaka di Kerajaan Parang Batu, Perguruan Gunung Agung, Perguruan Maha Patih, sampai pustaka di Sanggar Sarana Sakti, belum diketemukan titik terang seputar racun tersebut. Dewi Anjani pun tak bisa diharapkan karena memang tak tahu-menahu seputar racun. 

Mungkinkah jawaban dapat ditemukan di dalam pustaka milik sebuah kerajaan siluman…? batin Bintang Tenggara. 

Masih ditemani Asep sebagai pemandu, kelima anak remaja terus melangkah. Luas hamparan wilayah di atas Gunung Perahu ini ibarat tak terbatas. Bayangkan saja, luas wilayah di kawah puncak gunung setara dengan luas wilayah sebuah gunung yang diterbalikkan!

Di kejauhan, samar-samar, mulai terlihat bangunan besar yang menempel di sisi tebing. Rawa-rawa dengan berbagai jenis tumbuhan khas terlihat menghiasi di sekeliling bangunan megah tersebut. 

“Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan…,” ujar Asep tanpa memutar tubuh, “pastilah mengenal istana di hadapan itu.”

“Itu adalah Istana Kedua milik Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Istana tersebut khusus diperuntukkan bagi Kemaharajaan Pasundan. Bilamana Sri Baduga Maharaja datang berkunjung, maka ia akan menetap di sana,” tanggap Citra Pitaloka.  

“Asep mengangguk,” terlihat dari sisi belakang lehernya yang bergerak-gerak. 

“Salam hormat Yang Mulia Putri Mahkota,” terdengar suara yang datang dari seorang kakek tua. Ia adalah segelintir manusia yang memiliki izin menetap di dalam wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu. 

“Kakek Duta Utama, bagaimana kondisi kakimu?” 

Citra Pitaloka tentu telah dibekali berbagai informasi seputar Kerajaan Siluman Gunung Perahu dan hubungannya dengan Kemaharajaan Pasundan. Kakek yang berdiri di hadapannya ini, tak lain adalah seseorang yang bertugas sebagai Duta Utama. Perannya cukup penting karena mewakili Kemaharajaan Pasundan di wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu.

“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Putri Mahkota. Saat berkunjung beberapa waktu lalu, Maha Guru Kesatu Sangara Santang telah membawakan ramuan berharga untuk mempercepat kesembuhan kaki yang sudah renta ini.”

“Terimalah ini,” Citra Pitaloka menyodorkan sebotol ramuan. “Maha Guru Kesatu Sangara Santang menitipkannya.” 

“Terima kasih, Yang Mulia Putri Mahkota. Sungguh lancang bagi orang tua ini untuk menerima sesuatu yang dititipkan melalui Yang Mulia Putri Mahkota,” ujarnya sedikit canggung. 

Setelah berjanji akan kembali untuk berlatih tarung silat benjang melawan Aji Pamungkas, Asep pun pergi meninggalkan mereka. Aji Pamungkas terlihat sangat sebal. Bintang Tenggara mengamati setiap sudut di sisi dalam istana megah itu. Embun Kahyangan tak peduli. Lampir Marapi tak merasa asing karena memang selama ini menetap di dalam sebuah istana di Pulau Dua Pongah. 

“Kerajaan Siluman Gunung Perahu menolak bersua…,” ujar si kakek. “Sungguh orang tua ini merasa tak mampu. Akan tetapi, mereka tidak mengusir Putri Mahkota dari wilayah kerajaan. Esok, pagi-pagi, orang tua ini akan sekali lagi memohonkan pertemuan.” 


===


Sebuah meja bundar dan besar terbentang. Di atasnya digelar sebuah peta. Bukan hanya peta, namun topografi sebuah pulau, lengkap dengan bentangan alam: gunung, hutan, sungai. Ada pula dusun, desa, kota kecil dan kota. Terlihat pula, barak tentara, benteng pertahanan, serta istana penguasa. 

Meja bundar dan besar itu terletak di pusat ruangan yang lebih besar lagi. Sebuah lukisan besar situasi peperangan tergantung perkasa di satu sisi dinding. Pada sisi-sisi lain dinding persegi enam itu, terlihat pula berbagai macam senjata dan perisai yang dipajang dengan tujuan menonjolkan fungsi ruangan. 

Ruangan tempat meja bundar dan besar tersebut bercokol, dikenal sebagai Kamar Kendali Perang. Fungsinya adalah sebagai pusat kendali siasat. Para jenderal perang, wajib berkumpul dan berdiskusi di dalam ruangan ini. Mereka akan menggodok siasat sebelum turun ke medan perang. 

“Tak kusangka kita masih memiliki ruangan ini…,” ujar suara berat milik seorang lelaki. 

“Janganlah memandang rendah…,” tanggap suara lain. 

“Hmph…,” dengus yang lain lagi. 

“Hm…?” Seorang lelaki bertubuh sedang memegang sebuah lencana yang pecah. 

“Jenderal Kedua, ada apakah gerangan…?”

“Aneh.... Kapten prajurit yang kutugaskan ke Tanah Pasundan di Pulau Jumawa Selatan… meregang nyawa.” 

“Jenderal Kedua, apakah kau masih membiarkan prajuritmu mengambil upah sebagai serdadu bayaran…?”

“Jenderal Keempat, seluruh pasukanku adalah serdadu bayaran…,” tegas Jenderal Kedua. 

“Maksudku, apakah kau mengambil upah dari pihak-pihak di Negeri Dua Samudera….?” Jenderal Keempat mengulang pertanyaan.

“Tak ada alasan untuk menolak. Selain upah yang cukup besar, para prajurit juga memiliki kesemptan untuk melampiaskan hasrat bertempur….”  

“Apakah Kaptenmu tak sempat mengirimkan pesan singkat…?” ujar suara berat milik seorang lelaki.

“Oh… benar…,” Lelaki yang dikenal sebagai Jenderal Kedua lalu mengirimkan jalinan mata hati ke arah lencana yang sudah retak. 

Yang Terhormat Jenderal Kedua… tugas menemui kendala. Citra Pitaloka mendatangi Kerajaan Siluman bersama regu tangguh. Salah seorang anggota regu memiliki kitab mencurigakan.

“Apakah isi pesan tersebut…?”

“Hm… Tak penting. Mereka berhadapan dengan ahli tangguh dari Sanggar Sarana Sakti.”

“Kau berbohong….”

“Kau mempertanyakan aku!?”

“Hai... hai… Wahai jenderal-jenderal kebanggaanku…,” Seorang lelaki muda melangkah masuk ke dalam Kamar Kendali Perang. Penampilannya necis, gayanya petantang-petenteng. 

Kedua jenderal yang hampir bersitegang, segera menenangkan diri. Dua Jenderal yang lain pun bangkit berdiri. 

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Satu Garang…”

“Yang Mulia Putra Mahkota Kerajaan Garang…” 

“Duduklah… tak perlu berlebihan…,” ujar lelaki dewasa muda, yang menyandang dua gelar sekaligus. 

“Yang Mulia Putra Mahkota … Sampai kapankah kita akan menunda penyerangan ke Pulau Dua Pongah…?” Jenderal Kesatu langsung masuk ke pokok pembicaraan. 

“Yang Mulia Putra Mahkota hanya perlu menentukan waktunya saja… dan kami akan segera mengaktifkan Kamar Kendali Perang ini,” sambung Jenderal Keempat. 

“Hm… Tujuanku adalah Si Perawan Putih… Apa gunanya menabuh genderang perang tanpa tujuan pasti!” hardik si Pangeran. 

“Akan tetapi, wahai Yang Terhormat Gubernur Pulau Satu Garang, prajurit kita telah bersemangat hendak turun ke medan perang….” Giliran Jenderal Ketiga yang mendesak. 

“Contohlah Jenderal Kedua… tugaskan dulu prajurit ke wilayah-wilayah lain. Gunakan waktu yang ada untuk meredam hasrat bertempur mereka.” 

“Lalu, bagaimana dengan penelusuran keberadaan Si Perawan Putih…?” 

Jenderal Kedua, yang baru saja memperoleh petunjuk akan keberadaan gadis belia yang sama, mengajukan pertanyaan. Meski, ia masih menyimpan petunjuk yang baru saja diterima dari salah seorang kapten. Ada banyak ahli yang ‘memanfaatkan kitab mencurigakan’ saat bertarung. Kecurigaan perlu terlebih dahulu ditelusuri, guna memperoleh bukti-bukti. 

“Masih menemui jalan buntu. Aku akan menghubungi beberapa pihak.” Dengan demikian, lelaki dewasa muda yang menyandang gelar Putra Mahkota Kerajaan Garang sekaligus Gubernur Pulau Satu Garang, meninggalkan Kamar Kendali Perang.