Episode 124 - Keserasian (2)



“Apa katamu!?”

“Me… mereka terjatuh ke dalam jurang…”

“Kau kira aku bodoh!?”

“Ti… tidak, Kapten…”

“Lalu… mengapa kau pikir kalian dapat mengibuli aku!?”

“Ta… tapi…”

“Apa yang sesungguhnya terjadi!?”

“Ini adalah rencananya!” salah seorang menghardik, sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah lawan bicara si Kapten. 

“Kau… Kau juga setuju bertindak saat menyaksikan gadis-gadis itu!” 

“Swush!” Sabetan pedang melibas deras. Dua orang anggota serdadu bayaran ambuk ke tanah. 

“Apa yang sesungguhnya terjadi…?” ujar sang Kapten ke arah anggota dari regu-regu yang ditugaskan mengamati rombongan Putri Mahkota. 

“Rombongan Putri Mahkota hanya terdiri dari lima ahli yang berada pada Kasta Perunggu. Oleh karena itu, kedua orang tersebut berpikiran bahwa kami yang berjumlah lebih banyak tentu dapat meringkus mereka dengan mudah.” Terdengar jawaban mantap dari salah seorang yang bersalah. 

“Jadi, kau berniat menimpakan seluruh kesalahan kepada dua mayat…?”

“Bu… bukan demikian Kapten…” 

“Antarkan aku ke tempat dimana mereka terjatuh!”

“Baik, Kapten.”

“Yang lain… segera berkemas dan susul kami!”


===


Kelima anak remaja dengan misi perdamaian akhirnya dapat melangkah keluar dari dalam lembah. Hari jelang siang. Tanpa mereka sadari, sesungguhnya mereka sudah berada semakin tinggi di dalam wilayah Gunung Perahu. 

Bintang Tenggara melepas rasa penasaran akan pintu yang oleh Citra Pitaloka disebut sebagai Pintu Neraka, dan oleh Aji Pamungkas diketahui sebaga gerbang dunia paralel. Dirinya sempat mengajukan pertanyaan kepada Super Guru Komodo Nagaradja. Meski, jawaban yang ia temukan adalah hardikan pengingat akan Taktik Tempur No. 10, yaitu: jangan buat kerbau bertanduk panjang. Yang arti bebasnya, jangan mencampuri hal-hal yang tak diketahui asal-usulnya. 

Regu Perdamaian sungguh terkejut ketika hendak meneruskan perjalanan. Adalah sejumlah ahli yang sedang menanti di hadapan, yang membuat mereka bertanya-tanya. Puluhan jumlah mereka. Semuanya terlihat sebagai satu pasukan yang siap menyergap. Kecuali seorang ahli yang berada pada Kasta Perak, anggota pasukan itu kesemuanya berada pada Kasta Perunggu, dengan berbagai tingkatan. 

“Hehe… sesuai perkiraanku, mereka akan muncul di wilayah ini,” ujar si Kapten puas. Ia adalah satu-satunya ahli dengan Kasta Perak dari pasukan itu. Ia ditugaskan sebagai pimpinan serdadu bayaran dari Pulau Satu Garang. 

“Siapakah kalian!?” sergah Citra Pitaloka hendak memastikan. 

“Putri Mahkota… mohon ampun beribu-ribu ampun… tapi langkahmu hanya akan berakhir di tempat ini,” jawab si Kapten meremehkan. 

Bintang Tenggara memantau dengan seksama… Tak kurang dari lima puluh jumlah lawan di hadapan. Jika mereka memutuskan untuk menghindar, maka melarikan diri dari pengejaran ahli sebanyak itu pastilah menyulitkan. Setidaknya, jumlah lawan harus dikurangi terlebih dahulu, pikir Bintang Tenggara. 

Citra Pitaloka menatap tajam. Lawan sudah mengetahui jati dirinya, dan tak sedikit pun kelihatan gentar ketika berhadapan dengan Putri Mahkota dari Kemaharajaan Tanah Pasundan. Demikian, tak perlu analisis mendalam bahwa pasukan di hadapan adalah serdadu bayaran. Tak perlu mengira-ngira terlalu jauh bahwa tujuan mereka adalah menghambat langkah mereka. 

Akan tetapi, apakah alasan mereka melakukan tindakan tersebut…? Siapakah majikan mereka…? Pihak mana yang memiliki kepentingan sehingga menghambat upaya perdamaian…? Siapakah yang akan meraih keuntungan dari perang!? Citra Pitaloka belum menemukan jawaban. 

“Apakah tujuan kalian!?” Citra Pitaloka hendak mengulur waktu. 

Tetiba, tinggi di udara, awan gelap seolah menggantung. Warna ungu bercampur kelabu mengepul tinggi. Sama-samar, mulai terlihat wujud seperti seekor domba yang berbulu lebat dan gimbal. Suasana berubah mencekam!

Kabut Wedhus Gembel!

Jubah ungu tergeletak di rerumputan. Tak tanggung-tanggung dan tanpa basa-basi, Embun Kahyangan merapal bentuk kelima dari jurus Panca Kabut Mahameru. Sepertinya, gadis bahenol tersebut telah memutuskan untuk mengambil langkah pembuka. 

“Mundur!” 

Sebagai seorang ahli Kasta Perak, si Kapten segera menyadari akan adanya ancaman bahaya di depan mata. Gerombolan serdadu bayaran segera berpencar ke kiri, kanan dan belakang. Gerakan mundur mereka cukup terlatih.

Wujud domba gimbal menukik tajam, menghunuskan tanduk yang melingkar ke dalam! Dari atas, kabut gas panas dan beracun kemudian menyapu dan menyebar di permukaan tanah. Walau menerima aba-aba mundur, ada belasan serdadu bayaran malang yang terlambat bereaksi, sehingga tak sempat berbuat apa-apa ketika gas panas dan beracun menyapu tubuh. Panas dan racun serta-merta memicu, sekaligus merenggut teriakan pilu.

“Hah!” si Kapten terkejut bukan kepalang. Bukan, bukan dikarenakan pemandangan akan jurus kesaktian unsur kabut yang berwujud domba gimbal… melainkan karena wujud pohon yang berderak dari kesaktian unsur petir dan menjulang setinggi tiga meter di lintasan arah mundur sisi kiri! 

Asana Vajra, Bentuk Ketiga: Vriksasana!

Segera setelah menyadari gelagat Embun Kahyangan, Bintang Tenggara telah menduga bahwa teman satu regunya itu hendak merapal jurus yang diketahui sangat berbahaya. Oleh karena itu, ia segera memperkirakan arah mundur lawan dari serangan domba gimbal. 

Di saat segala perhatian lawan terpusat pada serangan di hadapan, Bintang Tenggara bergerak memutar. Ia melesat di sudut mati pandangan mata kelompok serdadu bayaran yang terpecah mundur. Setelah melesat secepat kilat, ia pun menyiapkan sambutan semarak bagi lawan. 

Petir bergemeretak… terdengar seperti dahan-dahan dan ranting pohon yang berpatahan. Postur tubuh Bintang Tenggara sempurna seperti pose pohon dalam yoga. Ia selesai merapal. Dua puluhan serdadu bayaran yang menghindar dari wujud domba gimbal, telah melangkah masuk ke dalam wilayah pohon petir!

“Beledar!” 

Gemuruh halilintar saling bersahutan ketika jurus dilepaskan. Dahan dan ranting petir segera melingkupi wilayah kekuasaannya, dengan Bintang Tenggara sebagai titik pusat. Sebagaimana diketahui, kelebihan Asana Vajra, Bentuk Ketiga: Vriksasana adalah sifatnya sebagai jurus areal. Artinya, jurus ini akan melingkupi wilayah tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Dengan mustika tenaga dalam dan pemahaman jurus saat ini, Bintang Tenggara mampu merapal jurus dalam radius sembilan meter, dalam jangka waktu sembilan detik. 

Kecepatan pohon petir dalam melingkupi wilayah terjadi dalam sepersekian detik. Walhasil, dua puluhan serdadu bayaran tersengat tak berdaya. Rasa sakit mendera sekujur tubuh. Petir bahkan merangsek ke mustika tenaga dalam di ulu hati, mengacaukan aliran tenaga dalam. Dua puluhan serdadu bayaran jatuh terkapar tak berdaya. Tak sadarkan diri!

Tujuan tercapai, Bintang Tenggara segera mundur. Saat di Kejuaran Antar Perguruan, ia hampir meniriskan mustika tenaga dalam seusai merapal jurus tersebut. Namun kini, dirinya sudah lebih leluasa karena mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 7 masih menyisakan cukup tenaga dalam.

Di samping Bintang Tenggara, telah menanti seorang gadis yang tak lagi mengenakan jubah ungu, sehingga hanya berbalut selendang batik nan tipis. Meski tanpa kata-kata dan persiapan, sungguh serasi gerakan keduanya. Embun Kahyangan segera menenggak sebotol kecil ramuan untuk memulihkan tenaga dalam. Bintang Tenggara merapal jurus Delapan Penjuru Mata Angin.

Sebuah simpul senyum menghias bibir Embun Kahyangan yang biasanya tak berekspresi. Aura kemenangan menyelimuti dirinya. Matanya melirik ke arah… Lampir Marapi.

“Apa!?” 

Si Kapten terkejut bukan kepalang. Dari sekitar lima puluh serdadu bayaran yang ia bawa, belasan telah meregang nyawa, dua puluhan lagi kehilangan kesadaran. Sisanya, setengah bertahan dan setengah yang lain kocar-kacir ke semerata penjuru. Jadi, bersamanya kini hanya tinggal belasan serdadu bayaran. 

“Tempurung Kura-Kura Mentari!” Sebuah pelindung melesat dan tepasang menutup di depan payudara mungil, melingkupi sampai ke punggung ramping. 

“Kulit Buaya Muara!” Sekujur lengan sampai ke bahu nan putih dan halus lalu dibalut oleh lapisan kulit keras dan bergerigi. Tidak hanya di sana, kulit yang sama juga melapisi di bagian betis.

“Sisik Trenggiling Tanah! Pada posisi pinggul yang baru hendak mekar, sampai ke paha bagian paha putih ke arah lutut, terbungkus sisik-sisik tajam dan tebal. 

Citra Pitaloka telah mengenakan perisai di sekujur tubuhnya. Postur gadis remaja tersebut kini berubah gagah dan bagas. Keunggulan Sanggar Sarana Sakti dalam menghasilkan alat-alat tempur tak dapat diragukan lagi! 

Selintas pandang, maka Citra Pitaloka seolah mengenakan zirah yang terbuat dari bagian tubuh binatang siluman sebagaimana layaknya Jajaka Hitam. Zirah serupa cukup menyulitkan Panglima Segantang di saat Pertarungan Antar Perguruan. Akan tetapi, zirah yang melingkupi tubuh Citra Pitaloka, sesungguhnya merupakan versi yang berbeda. Aura binatang siluman yang menyebar terasa lebih kental, lebih garang. Dengan kata lain, zirah yang gadis tersebut kenakan terbuat bagian tubuh binatang siluman yang jauh lebih perkasa!

Citra Pitaloka merangsek maju!

Selangkah di belakang, di sisi kiri dan kanan, dua pasang Lampir Marapi bergerak cepat. Gadis anggun tersebut telah menguyah sirih reka tubuh dan menenggak sejumlah ramuan. Hanya satu Lampir Marapi yang memegang Kitab Kosong Melompong. Meski demikian, tiga Lampir Marapi lain terlihat siap mengerahkan jurus-jurus unsur kesaktian yang tadinya tersimpan di dalam kitab dan kini telah dikeluarkan.

Paling belakang, Aji Pamungkas memegang Busur Mahligai Rama-Shinta, dan berwajah kusut. Saat berlatih bersama di Sanggar Sarana Sakti, ia pernah mengajukan permohonan untuk meminjam satu Lampir Marapi saja… Untuk memantapkan cengkeraman jurus Beulut Darat, ujarnya saat itu. Jangankan Bintang Tenggara, Maha Guru Kesatu Sangara Santang saja menolak tegas! 

“Sialan!” Si Kapten kehabisan kata-kata, memelototkan mata. 

Setelah menyaksikan anak buahnya disapu awan panas dan beracun, kemudian masuk ke dalam perangkap badai petir… kini ia menyaksikan lawan melibas tak terbendung! Sungguh tak pernah terbayang bahwa dirinya akan berada dalam keadaan terjepit seperti saat ini. Namun, di saat yang sama, kedua matanya menangkap keberadaan seorang gadis belia yang membuka sebuah kitab besar!

Citra Pitaloka membuka jalan sambil menahan dan menyerap serangan lawan. Betapa mudahnya bagi Lampir Marapi dan Aji Pamungkas untuk menyarangkan serangan-serangan yang membungkam. Apalagi, sepertinya lawan tak henti-henti menyasar Citra Pitaloka dan mengabaikan penyerang-penyerang di belakang. Apakah mereka tak pernah bermain mobile online battle arena!? 

Meski bergelar ahli dengan Kasta Perak, si Kapten hanyalah berada pada Tingkat 1. Asam dan garam kehidupan sebagai serdadu bayaran yang memulai karier dari bawah, menyadarkan dirinya bahwa menghadapi salah satu dari lawan saja pastilah dirinya akan kesulitan… apalagi kelimanya. 

Barulah kini ia menyadari bahwa kemaharajaan besar yang didukung perguruan digdaya, tidaklah mungkin mengirim sembarang ahli sebagai utusan menuju Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Karena merasa menang jumlah dan berhadapan dengan beberapa ahli muda belia, ia telah meremehkan lawan. Sebuah kesalahan telak bagi seorang serdadu bayaran berpangkat kapten. 

Beberapa serdadu bayaran yang sempat tercerai-berai dan menyelamatkan diri, kini telah berkumpul di belakang si Kapten. Wajah mereka cemas, hati mereka kecut.

“Mundur!” Lagi-lagi si Kapten berseru. 

“Mundur kemana, Kapten!?” Salah seorang paling belakang berteriak panik. 

“Hmph…!” Si Kapten menggeretakkan gigi. Ia baru menyadari bahwa gadis berjubah ungu dan anak remaja lelaki tanggung, telah berdiri di belakang mereka. Dua lawan dengan dua jurus kesaktian areal yang memiliki wujud. Kepala si Kapten kliyengan. Jalur mundur telah tertutup!

“Sebutkan jati diri kalian!” sergah Citra Pitaloka yang melangkah mendekat. Baju zirah dari berbagai binatang siluman yang ia kenakan, seolah memberikan tekanan berat terhadap setiap satu serdadu bayaran yang masih tersisa. 

Si Kapten terdiam. Ia mengeluarkan sebuah lencana berwarna hitam. Tak ada gambar maupun motif ukiran di permukaan lencana itu. Sekali lagi ia melontar pandang ke arah Lampir Marapi. Walaupun tidak mengetahui raut wajah Si Perawan Putih, keberadaan sebuah kitab besar yang digunakan saat bertempur, cukup menarik perhatian. Si Kapten kemudian mengirimkan jalinan mata hati bersamaan dengan tenaga dalam ke arah lencana tersebut!

“Ia mengirimkan pesan kepada teman-temannya!” hardik Lampir Marapi. “Mereka adalah serdadu bayaran!”

“Bum! Bum! Bum!” 

Tetiba ledakan beruntun terjadi di sekitar tempat mereka berdiri. Kelima anggota Regu Perdamaian terkejut.

“Kapten! Lari!” 

Terlihat seorang anak remaja berperawakan kurus berteriak keras. Ia terlambat bergabung dengan pasukan serdadu bayaran lain, karena kebagian tugas membereskan tenda-tenda pasukan. Betapa terkejutnya ia ketika menyusul, pasukan tempat dimana dirinya menggantungkan hidup hampir habis dibabat lawan. 

Di kedua tangannya, terlihat bongkahan-bongkahan peledak yang berukuran sebesar buah manggis. Ledakan beruntun kembali terjadi ketika anak remaja kurus kering tersebut melempar peledak bertubi-tubi.

“Hyah!” Si Kapten segera melompat menjauh. Bagaimana pun juga, ia adalah seorang ahli Kasta Perak. Bilamana ia memusatkan tenaga dalam untuk melarikan diri, maka tidaklah mudah bagi ahli Kasta Perunggu untuk mengejar.

Tanah berhamburan, debu membumbung dan asap mengepul ketika anak remaja berperawakan kurus terus-menerus melempar peledak. Anggota Regu Perdamaian belum sempat bereaksi. Samar, mereka melihat bahwa pimpinan serdadu bayaran melarikan diri semakin menjauh.

“Hentikan langkahmu!” Tetiba terdengar suara membahana. Suara tersebut ditujukan kepada sang Kapten, yang tak menghiraukan dan terus memacu langkah.

“Hentikan langkahmu, kataku!” Peringatan kedua terdengar bergema. Sang Kapten terus memacu langkah. 

“Swush!” Sebuah tombak nan tajam membelah kepulan asap yang tadinya tercipta dari ledakan. 

“Brak!” Tubuh si Kapten yang hendak melarikan diri tetiba terdorong keras. Tombak yang melesat cepat itu menghantam telak di dadanya. Tubuh yang tak berdaya dengan mudahnya terdorong belasan meter, sebelum akhirnya ditembus tombak dan menancap di batang pohon besar!

Pohon bergegar. Si Kapten meregang nyawa seketika itu juga. Sebuah lencana yang masih berada dalam genggamannya pecah berhamburan dan berjatuhan ke tanah. 

“Buk!” Remaja berperawakan kurus dan melempar peledak, yang baru saja hendak memutar tubuh, terhuyung jatuh di tempat. 

Regu Perdamaian siaga. 

“Siapakah kalian yang berani berbuat lancang di wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu!?”



Cuap-cuap:

Berdasarkan masukan seorang teman, maka pembabakan ‘Buku I’ mengalami sedikit perubahan, sebagai berikut:

Buku I – Perunggu

Babak Satu: Persiapan (Episode 1 - Episode 23 -> 23 Episode)

Babak Dua: Perjalanan Dimulai (Episode 24 - Episode 58 -> 34 Episode)

Babak Tiga: Perguruan Gunung Agung (Episode 59 - Episode 84 -> 25 Episode)

Babak Empat: Kejuaraan Antar Ahli (Episode 85 - Episode 108 -> 23 Episode)

Jadi, saat ini kita berada di Babak Lima, yaitu babak terakhir dari Buku I. Perubahan pembabakan tak mengubah jalan ceritera. 

Tabik.