Episode 123 - Pintu Neraka



“Hah!”

“Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa benar gadis yang berada di tengah regu itu adalah Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan!”

“Putri Mahkota itu hanya dikelilingi oleh empat ahli Kasta Perunggu!” 

“Kau juga berada pada Kasta Perunggu….” 

“Tapi kita terdiri dari tiga regu! Kita berlima belas….”

“Mereka kalah jumlah!” 

“Lalu…?”

“Lalu… mengapa harus kita kembali dan melapor…? Mengapa kita tak ringkus saja mereka sekarang…?”

“Jangan melanggar perintah!” seru suara keempat mengingatkan. 

“Kau lihat gadis yang melangkah paling depan itu…?” sela suara kelima. 

“Alamak!” 


Regu yang berperan sebagai utusan perdamaian melangkah cepat. Formasi mereka masih sama adanya. Embun Kahyangan dan Lampir Marapi melangkah paling depan. Akan tetapi, Embun Kahyangan sepertinya menjaga jarak. Sorot matanya mencerminkan kecurigaan terhadap gerak-gerik Lampir Marapi. 

Citra Pitaloka melangkah seorang diri di tengah. 

Di belakang, Aji Pamungkas terus-menerus menggerutu karena permintaannya bertukar posisi tak digubris. Baginya, siapa pun saja anggota regu ini boleh menjadi pasangan melangkah, asalkan bukan Bintang Tenggara. Namun, mengapa ia justru terjebak di samping anak itu, yang sepertinya terlihat sedang asyik menghitung langkah. 

“Eh…?” Tetiba Aji Pamungkas memperlambat langkah. 

“Ada apa?” ujar Citra Pitaloka turut merasakan hal yang tak biasa. 

“Sejumlah ahli… Sekitar lima belas jumlah mereka…,” ujar Lampir Marapi. Terlihat ia sedang memegang dan mengamati sebuah cermin kecil yang bertangkai, mirip alat rias sederhana milik gadis-gadis kebanyakan. 

“Siapakah kalian!?” seru Citra Pitaloka.

“Hap!” Sekelompok ahli segera melompat keluar dari semak belukar dan pepohonan rindang. Benar saja, limabelas ahli jumlah mereka. 

“Swush!” Kabut berwarna ungu tetiba turun. Tanpa basa-basi, Embun Kahyangan merapal jurus Panca Kabut Mahameru, Bentuk Ketiga: Kabut Kalimati. Gerakan lima orang paling depan terhenti. 

“Duar! Duar! Duar! Duar! Duar!” Setiap satu dari kelima ahli yang kaku tak bisa bergerak, merasakan peluru-peluru batu yang dilesakkan Lampir Marapi menggunakan katapel. Rasa nyeri peluru batu dan ledakan susulan yang tercipta, membuat mereka terjengkang tak berdaya!

“Jangan terburu-buru!” seru Citra Pitaloka. 

Sang Putri Mahkota tak menyadari bahwa sebagai pembunuh bayangan, Embun Kahyangan sangat peka dengan keberadaan hawa membunuh. Begitu pula dengan Lampir Marapi, yang sudah terbiasa menjadi sasaran penculikan. Bagi keduanya, meski hawa membunuh lawan sangat lemah, mudah bagi mereka untuk segera mendeteksi dan bereaksi. 

“Bawa mereka! Mundur!” terdengar suara dari kawanan ahli di hadapan. 

Citra Pitaloka menahan langkah dari mengejar. Padahal, ia ingin mengetahui siapakah jadi diri dari orang-orang yang berupaya mencegat. Meskipun demikian, segera dirinya mengingat bahwa tujuan utama mereka mendaki gunung bukanlah memburu penyamun atau bandit gunung. Mereka memiliki tugas yang jauh lebih penting dan mendesak. 


“Sialan!”

“Kita gegabah!” 

“Jangan laporkan kejadian tadi….”

“Andai Kapten mengetahui, tamat sudah riwayat kita!”

“Sebaiknya kita kembali…”

“Sudah terlanjur basah….”

“Tapi… mereka pastilah lebih waspada….”

“Sergap dan bunuh Putri Mahkota!”

“Kita hanyalah bersepuluh….” 

“Siapkan jebakan!”


Sesuai perkiraan lawan, kelima anak remaja dalam misi perdamaian menjadi waspada. Citra Pitaloka menyimpulkan bahwa perjalanan mereka tak akan mudah. Andai saja tadi ia dapat menangkap salah seorang dari kelompok yang menghadang…. Saat ini, mereka sama sekali tak mengetahui tentang jati diri lawan. 

Bintang Tenggara setengah menyesal… Mengacu kepada penjelasan Citra Pitaloka, seharusnya tak akan ada kendala berarti dalam mencapai Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Tantangan sesungguhnya terletak di puncak gunung. Bintang Tenggara awalnya memperkirakan bahwa sesampainya di puncak gunung, skenario terburuk seharusnya adalah mereka ditolak atau diusir. Namun, apa mau dikata… dirinya sudah mengiyakan untuk ikut serta sebagai bagian dari regu yang mejalani misi perdamaian ini. 

“Swush!” Dari sisi kiri, belasan anak panah tetiba menghujani deras. Kelima anggota regu dipaksa menghindar ke arah kanan, sambil mengawasi dengan seksama pergerakan musuh di balik pepohonan rimbun. 

“Beledar!” Tetiba wilayah tempat dimana mereka menuju meledak-ledak. Tanah berhamburan, debu beterbangan. Suara ledakan terdengar demikian membahana. 

Di saat yang sama, Lampir Marapi telah mengeluarkan sebuah formasi segel dari dalam Kitab Kosong Melompong. Formasi segel itu membentengi seluruh anggota regu dari dampak ledakan.

“Mundur!” seru Citra Pitaloka. “Jangan berpisah!” 

Puluhan anak panah kembali menghunjani mereka. Bintang Tenggara mengamati sekeliling dengan seksama. Apakah para penyergap itu berniat menggiring mereka? batinnya dalam hati. Pengalaman menggiring kawanan ternak binatang siluman di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani, membekas dalam di sanubari anak remaja itu. 

“Aji! Dapatkah kau memastikan posisi para pemanah?”

“Tentu saja!” 

Aji Pamungkas segera memasang kacamata yang biasa tersemat di atas jalinan rambut lurus belah tengah. Setelah itu, ia mengeluarkan busur besar Mahligai Rama-Shinta. Tanpa diperintah, ia segera melepaskan beberapa anak panah. 

Sesuai latihan yang telah mereka jalani bersama, formasi bergerak mundur menempatkan Lampir Marapi dan Citra Pitaloka di posisi paling depan. Keduanya dapat bahu-membahu dalam melindungi satu sama lain. Malah, dengan bantuan Sirih Reka Tubuh, Lampir Marapi dapat memperkuat pertahanan di saat terdesak. 

Aji Pamungkas di tengah seorang diri, ia bertugas melesatkan anak panah untuk memperlambat gerak atau mempersempit ruang musuh. Meski tak sepenuhnya senang dengan peran ini, paling tidak hatinya cukup senang berada di tengah-tengah gadis-gadis yang demikian menawan hati. Anak panah melesat bertubi-tubi dari hati nan riang. 

Dengan demikian, Embun Kahyangan berjaga paling belakang. Berbekal jalinan kabut, ia bertugas melindungi kawan sekaligus membingungkan lawan. Bila dirasa perlu, maka ia dapat memainkan peran sebagai pengalih perhatian, bahkan merangsek untuk mengurangi jumlah musuh. 

Bintang Tenggara bebas bergerak. Sesuai dengan tuntutan keadaan, ia dapat bergerak di depan untuk membantu membuka jalan. Dapat pula ia ke samping agar Aji Pamungkas tak terganggu saat membidik lawan. Akan tetapi, kini ia berada di belakang, berdampingan dengan Embun Kahyangan. 

Bintang Tenggara menebar mata hati semaksimal mungkin. Kemanakah mereka hendak menggiring kami? batinnya. 

“Beledar!” Ledakan demi ledakan terus terjadi sambung-menyambung. Kelima anggota regu perdamaian terpaksa terus menghindar. Mereka telah bergeser dari rute perjalanan yang telah ditetapkan untuk menuju puncak Gunung Perahu. 

“Swush!” Puluhan anak panah merangsek dari balik ledakan! 

Bintang Tenggara di posisi paling belakang mengeluarkan Tempuling Raja Naga. Ia memutar bilah panjang senjata tersebut untuk membentengi regu dari anak-anak panah. Di saat yang sama, tembakan-tembakan panah lawan menyimpang dari sasaran karena kabut menghalangi mereka dalam membidik sasaran dengan tepat. Aji Pamungkas pun masih melepas tembakan-tembakan anak panah. 

“Brrrtt….” Kelima anggota regu merasakan tanah bergegar. 

“Bahaya!” seru Citra Pitaloka, yang terlambat menyadari bahwa langkah mereka digiring ke satu titik. Ia masih berupaya menduga-duga rencana lawan… 

“Tebing! Kita berada di sisi tebing!” Aji Pamungkas yang memiliki jangkauan mata hati yang lebih luas mulai menyadari. 

Jika dipantau dari kejauhan, sesungguhnya kelima anak remaja itu sudah berada di pinggir tebing jurang yang curam dan dalam. Sedangkan, rangkaian ledakan terakhir bukan lagi bertujuan untuk menggiring keberadaan mereka. Akan tetapi, rangkaian ledakan tersebut bertujuan untuk meruntuhkan tebing dimana sasaran berada!

“Brak!” Bagian tebing dimana regu yang dikomandoi Citra Pitaloka berada, longsor ke dalam jurang! Di atasnya, kelima anak remaja yang masih terkejut terlambat bertindak, sehingga ikut terjatuh bersama patahan tebing. 

“Sret!” Bintang Tenggara melempar lima segel penempatan, lalu melenting cepat ke arah tebing. Di saat genting, ia menikamkan Tempuling Raja Naga ke sisi tebing itu. 

“Hahaha….” 

“Kita berhasil!” 

“Apakah kita perlu memeriksa ke bawah…?”

“Tiada perlu… ahli Kasta Perunggu tak akan selamat bila terjatuh dari ketinggian sedemikian. Tempatkan saja beberapa orang untuk berjaga….” 

“Hahaha….” 


Lima anak remaja sedang duduk bergelayutan di atas sebilah tombak putih bersih dan panjang. Tempuling Raja Naga tertancap di sisi bawah tebing. Bukanlah kali pertama bagi Bintang Tenggara terjatuh ke dalam tebing curam, sehingga reflek menyelamatkan diri sudah cukup terasah. Saat di Pulau Dua Pongah pun, ia pernah menerapkan cara yang sama untuk menyelamatkan diri. 

Jurang ini teramat dalam, pikir Bintang Tenggara. Mereka sudah terjatuh sekira lebih dari dua ratus meter, namun dasar jurang tak kunjung terlihat. 

 “Aji… berapa jauh jarak sampai ke dasar tebing ini?”

“Ratusan meter…,” jawab Aji Pamungkas cepat. 

“Kita terpaksa menuruni tebing ini. Di atas pastilah ada yang menunggu… Entah perangkap seperti apa lagi yang mereka persiapkan di saat kita tiba di atas nanti.” Citra Pitaloka berpikir jernih. 

Sungguh menjadi tanda tanya besar di dalam benak Sang Putri Mahkota…. Siapakah para penyergap? Bandit gunung ataukah penyamun? Tidak mungkin… bandit gunung dan penyamun mengincar harta benda, sedangkan para penyergap tadi mengincar nyawa….  

Hari lewat siang. Tidak mudah rupanya menuruni tebing yang dipenuhi lumut. Licin, gelap dan lembab. Aji Pamungkas beberapa kali hampir tergelincir. Akhirnya, ia diminta untuk turun paling belakang karena turun terlebih dahulu membuat anak remaja itu berkonsentrasi untuk ‘mengawasi’ gadis-gadis belia yang berada di posisi atas. 

Hari jelang petang. Kelima anak remaja akhirnya sampai di dasar tebing nan curam. Mereka segera menyadari bahwa di bawah hanyalah sebuah celah sempit seukuran satu atau dua tubuh orang dewasa. 

Pilihan hanya tersedia dua, menyusur ke kiri atau ke kanan. Berdasarkan ingatan sebelum jatuh, akhirnya Citra Pitaloka memutuskan untuk menyusur ke kiri.

Tabir malam telah turun. Sejumlah batu kuarsa temaram menerangi celah sempit yang sedang ditelusuri. Celah tersebut perlahan mulai melebar. Kelima anak remaja mempercepat langkah. Suasana lembab pun perlahan mulai menghilang. 

“Apa itu!?” seru Aji Pamungkas. 

Di dalam ruang terbuka di dasar tebing, kelima anak remaja menemukan sebuah pintu nan besar dan megah. Ukuran daun pintu itu setinggi dua kali tubuh orang dewasa, dengan lebar setengahnya. Daun pintu terbuat dari batu, sungguh pintu yang tak biasa. 

Tak ada gerbang atau bagunan yang menunjukkan kebutuhan akan sebuah pintu. Daun pintu itu menempel di sisi tebing nan tinggi. Apakah pintu itu menjadi jalan masuk ke sisi dalam tebing…? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan di dalam tebing…? Apakah pintu menghubungkan ke tempat lain…? Bintang Tenggara membatin. 

Selain pintu yang menepel di sisi tebing, ada hal lain lagi yang menarik perhatian ke lima anak remaja. Di kedua sisi pintu, sepasang patung batu besar terlihat berjaga. Tingginya masing-masing patung batu hampir tiga kali tinggi orang dewasa, dengan ukuran tubuh bulat dan besar. 

Bentuk sepasang patung tersebut mirip sekali dengan Dwarapala, patung penjaga yang banyak ditemukan di Pulau Dewa. Meski demikian, perbedaan mencolok terlihat dari wajah patung… Dwarapala di Pulau Dewa tampil garang, sedangkan Dwarapala di tempat ini lebih ramah wajahnya. 

“Brrrttt….” 

Tetiba Dwarapala di kanan menoleh ke arah para tetamu yang baru saja tiba! Waspada, kelima anak remaja segera menyusun formasi bertahan. 

“Maka… tiba di bumi bawah tujuannya adalah sebuah wilayah, yang menyala dan berbara. Hal-hal yang sedemikian sulit dipadamkan,” ujar Dwarapala di sisi kanan. *

Kelima anak remaja tertegun. Tak satu pun yang percaya bahwa patung batu itu dapat menoleh, lalu berbicara!

“Gerbangnya lebih dari satu depa, sedangkan jalannya masing-masing setengah depa dan dikelilingi oleh pemukiman,” lanjut Dwarapala di sisi kiri. 

Bintang Tenggara mulai mencermati kedua Dwarapala yang saling bergantian berujar. Entah apa arti dari kata-kata mereka itu. Citra Pitaloka terlihat mendengarkan dengan seksama.  

“Pemukiman yang sedemikian melingkari jalan. Pintunya berpanel besi dan ditutup dengan tembaga, serta memiliki laci perak dan kunci emas.”

“Diratakan dengan tahi, tahi sapi muda dan diberi tangga baja.”

“Ditanami dengan andong merah, katomas dan panejaan, bunga waduri dan bunga jayanti.”

“Selain si ratu bencana yang sedang berkembang indah….” 

“Selain ditebari pula dengan bunga tabur sepanjang pohon nagasari yang dijadikan harum oleh bermacam-macam minyak wangi…” 

“Sehingga menjadi terciumlah harumnya asap dupa permulaan jalan ke surga!”*

Suasana hening. Kedua Dwarapala telah usai menyampaikan pesan mereka. Bintang Tenggara melangkah perlahan ke arah pintu yang besar itu. Ia coba tarik gagang yang demikian besar dan mulai berkarat…. lalu ia coba dorong…. Daun pintu megah dan besar tak bergeming! 

“Pintu neraka….” Terdengar suara bergumam pelan. 

Spontan Bintang Tenggara menoleh ke arah Citra Pitaloka, karena memang suara tersebut datang dari gadis tersebut. 

“Hentikan! Jangan apa-apakan pintu itu!” sergah Citra Pitaloka.

Bintang Tenggara waspada. Ia segera melompat mundur, untuk kembali bergabung ke dalam regu. Sebaiknya tak melakukan hal-hal yang mengundang sesuatu yang tak dikenal, pikirnya dalam hati. 

Malam semakin larut. Kelima anak remaja akhirnya memutuskan untuk beristirahat di tempat itu. 


Subuh menjelma. Bintang Tenggara terjaga dari tidurnya. Ia segera bangkit, karena teman seperjalanan yang seharusnya tidur di dekat dirinya… tak terlihat! Bintang Tenggara segera melontar pandang ke arah ketiga gadis belia yang masih tertidur di kejauhan…. 

Tepat di depan ‘Pintu Neraka’, Bintang Tenggara akhirnya mendapati Aji Pamungkas berdiri seorang diri, dan sedang menatap pintu besar yang menempel di tebing itu. 

Sekilas, Bintang Tenggara mendapati keanehan di kedua bola mata Aji Pamungkas. Warna kornea di kedua bola mata temannya itu berubah kuning. Di saat yang sama, bentuk pupil mata yang biasanya bundar, berubah menjadi lonjong. Jelas terlihat bahwa kedua bola mata itu tak terkesan sebagaimana bola mata milik manusia. 

 “Gerbang dunia paralel…,” gumam Aji Pamungkas ketika Bintang Tenggara yang datang menghampiri tiba di sisinya. 



Catatan:

*) Dikutip dari ‘Carita Purnawijaya’ yang merupakan sebuah karya sastra dalam bahasa Sunda Kuna. Cerita ini mengisahkan perjalanan tokoh utama, Purnawijaya, yang belajar tentang akibat dari perbuatan jahat. Purnawijaya diajak berkunjung ke neraka dan melihat bagaimana orang-orang berdosa disiksa. Pada satu kesempatan, Purnawijaya bertanya kepada Yamadipati sang penguasa neraka apakah memungkinkan untuk mengakhiri penyiksaan. Maka Yamadipati menjawab, bahwa mereka yang disiksa di tempat tersebut, dikarenakan perbuatan buruk ketika masih hidup. Setelah penyiksaan, barulah mereka dapat bereinkarnasi pada kehidupan selanjutnya. 


Cuap-cuap:

Agar para ahli baca tidak terus-menerus bergadang… “Kalau tiada gunanya…,” menurut Bang Oma. Maka terhitung mulai episode berikutnya (Episode 124), Legenda Lamafa akan terbit setiap Senin, Rabu dan Jumat pada pukul 06.00 WIB.