Episode 23 - Taktik Lain



“Mu-mustahil,” Taki melongo di tengah kepungan prajurit kera putih bertongkat.

Pun demikian, semua penonton berdiri terkaget-kaget, termasuk beberapa duta Pandora. Mereka terperangah menyaksikan perlawanan Sarasvati yang terkesan tiada habisnya.

"Lihat, Jackal! Dia bisa membayangkan sebegitu banyak subyek," ujar Arya seraya menjulurkan kepala ke arena.

"Harus saya akui bahwa gadis bernama Sarasvati itu punya lucidity yang terlampau tinggi. Biasanya, kesadaran lucid dreamer akan goyah jika sudah mengerahkan dua dari empat kemampuan. Tapi, orang itu sanggup mengeluarkan weapon, skill, guardian, dan army dalam jangka waktu berdekatan." Jackal ikut-ikutan berdiri.

"Mengapa tidak ada duta Pandora yang memilihnya, ya? Aku jadi heran."

"Setiap manusia punya yang namanya tabir batin, sesuatu yang menutupi potensi terbesar mereka. Namun, bagi Sarasvati sepertinya hal tersebut tiada artinya. Bahkan, duta pandora sekali pun takkan menyangka ini."

Berakhir sudah, sejurus dengan jatuhnya pedang Ryuzagi, Taki bertekuk lutut di bawah todongan tongkat-tongkat emas. Meski ingin melawan, ia tahu betul batas kemampuannya. Dan, Sarasvati berada jauh di atas itu semua.

"Aku ...." Taki meringis, setetes air menerobos dari kelopak matanya. "Sialan! Aku menyerah."

Sesaat kemudian, Goro merendahkan posisi. Ia mendarat di tengah-tengah prajurit kera putih yang terpaksa mundur untuk memberi ruang. Naga itu menyeringai dengan satu gigi tanggal.

"Akhirnya duel alot ini berahkir." Kepalanya bergerak ke hadapan Taki. "Jadi, saatnya pemilihan asrama."

Goro seketika menengadah, seiring lehernya yang bersinar kehijauan. Satu-dua detik selanjutnya, api hijau pun menyeruak ke angkasa, meninggalkan empat portal sebesar terowongan yang perlahan melayang ke bawah.

"Portal hitam untuk asrama malam, portal putih untuk asrama siang, portal jingga untuk asrama sore, dan portal merah untuk asrama pagi. Yang manakah pilihanmu, Sarasvati?"

Sarasvati diam sejenak, tampaknya tengah menimbang-nimbang sesuatu. Di sisi lain, Taki sudah kehabisan semangat. Ia tidak peduli di mana dirinya akan ditempatkan. Akan tetapi, kini batinnya dipenuhi satu perihal, keinginan balas dendam.

"Maafkan aku, Midori. Kita kalah di saat-saat krusial seperti ini. Aku memang payah, tapi aku janji nggak akan kalah lagi di babak berikutnya." Pemuda berambut pirang itu bergumam jengkel.

"Aku memilih asrama malam." Suara Sarasvati berbalas kegaduhan dari penonton. Tentu saja karena asrama malam identik dengan kelicikan serta hasrat gelap.

"Anda yakin?" Goro memicingkan mata. "Jenis asrama menentukan pola pikir Anda dalam babak-babak berikutnya."

"Aku sangat yakin. Masukkan saja aku ke asrama malam."

"Baiklah. Lalu, silakan pilih asrama mana yang cocok untuk musuh Anda," tukas Garo. Lidah bercabangnya menyapu permukaan bibir.

"Aku ingin ...." 

Taki memejamkan mata, tak sanggup mendengar kelanjutan dari kalimat Sarasvati. Memang, dia sudah tak peduli. Namun, tetap saja rasa takut itu ada. Taki tidak ingin masuk ke asrama sembarangan.

"... Dia masuk asrama siang." Ucapan Sarasvati berhenti.

Para penonton semakin heran. Keputusan Sarasvati seolah tidak didasari pemikiran matang. Harusnya ia memilih asrama siang yang cocok untuk orang-orang hebat dan kreatif, tetapi pilihannya justru jatuh pada asrama malam. Sedangkan Taki, betapa beruntungnya ia berhasil masuk asrama yang diakui keunggulannya oleh duta-duta Pandora.

"Apakah ini tidak aneh?" Jackal spontan mengkritik.

"Heh?" respon Arya.

"Keunggulan dalam bertarung serta lucidity yang melimpah, seharusnya Sarasvati memilih asrama siang," sahut Jackal.

"Memangnya keempat asrama itu berbeda, ya?"

"Tentu saja, Bodoh."

"Hoy! Jawabnya santai saja." Arya agak tersinggung atas kalimat Jackal barusan. "Lagi pula, selama ini aku tidak pernah diberitahu perbedaan asrama-asrama itu."

"Pandora adalah dimensi yang tidak mengenal waktu, maka dari itu Sang Owner memutuskan untuk menciptakan empat asrama yang mewakili tiap-tiap waktu, seperti pagi, siang, sore, dan malam." Kedua lengan Jackal menyilang di dada. "Pagi melambangkan semangat dan kesegaran, siang melambangkan harapan dan kreatifitas, sore melambangkan ketenangan dan kelembutan, dan asrama malam melambangkan kelicikan serta hasrat gila."

"Begitu, ya. Tetapi, dibalik semua itu, aku penasaran siapa Sang Owner itu sebenarnya? Apakah dia semacam Tuhan di dunia mimpi?" Arya mengerling pada gurunya.

Entah mengapa tubuh Jackal agak tersentak. Ia lebih memilih diam daripada melanjutkan obrolan, dan pandangannya terarah ke arena.

Di sana, Sarasvati dengan anggun memasuki portal hitam. Sesaat dirinya lenyap tertelan, ketiga portal pun sirna, menyisakan portal siang untuk Taki seorang.

"Silakan masuk," ucap Goro.

"Terima kasih." Pemuda berkulit putih itu berjalan lesu memasuki portalnya. 

Beberapa detik kemudian, arena kembali bersih seperti sedia kala. Tidak ada serpihan-serpihan batu bekas pertempuran, atau prajurit kera putih yang sedari tadi mengawasi Taki. Kini, Goro segera menegakkan lehernya diikuti kedua mata yang mendelik ke sana-kemari.

"Duel berikutnya, LYNCH DARI YUNANI melawan DE SANTOS DARI BRAZIL!" Seruan Goro menggema di seluruh penjuru gelanggang.

Tepuk tangan penonton mengawali duel di babak kedua. Seorang lelaki setinggi dua meter menuruni tangga tribun. Kulitnya hitam lekang, berpadu dengan bibir tebal dan kepala botak. De Santos, dia pebasket jalanan asal Brazil yang berambisi punya lompatan super tinggi.

Sementara, di urutan belakang tampak seorang pemuda berambut cokelat sekening ikut menuruni tangga. Raut wajahnya cukup kaku, seperti sedang menahan jengkel. Dalam balutan kaos biru dan celana kain kuning, orang bernama Lynch ini terkesan siap untuk bertarung.

Kedua kontestan bertemu di arena. Mereka saling menatap, layaknya dua predator yang tengah mengancam satu sama lain. Namun, sehabis Goro mengudara, tiba-tiba De Santos menyeringai.

"Ada apa?" omel Lynch.

"Kau benar-benar ingin bertarung?" ujarnya bersuara serak.

"Tidak ada cara lain untuk melewati babak ini selain mengalahkan musuh kita, bukan? Jadi jawabannya iya, Bodoh!"

"Kau serius?" Ujung bibir De Santos terangkat. "Padahal aku punya sedikit saran."

Mata beriris marun Lynch menyipit. Ia sangsi terhadap musuhnya, sebab bisa jadi De Santos sedang melancarkan strategi untuk menang. Tetapi, tak ada salahnya untuk mendengar celoteh lelaki bermuka gahar itu.

"Apa saranmu? Kuharap bukan hal bodoh seperti otakmu." Lynch bersedekap.

"Gwahaha ... sudah kuduga kau akan tertarik."

Para penonton mulai berbisik-bisik. Mereka mempermasalahkan kedua kontestan yang belum kunjung memulai pertarungan. Padahal, sudah sepuluh menit terlewat sejak seruan Goro. Terang saja, tempo duel kali ini terkesan lebih lambat dari sebelumnya.

"Kenapa mereka terus bicara," protes Arya.

"Entahlah. Tidak ada larangan untuk berdiskusi di arena."

Kedua tangan Lynch mengepal, geliginya pun menggertak nyaring. Sehabis mendengar pernyataan De Santos, entah mengapa pemuda itu jadi lebih emosional.

"Tidak mau, Keparat! Apa kau meremehkanku?"

"Justru karena menghargaimu, aku ingin mengambil jalan tengah. Biar bagaimana pun ketatnya pertarungan ini, tetap saja ada celah untuk menyusup. Aku bisa menyerah sekarang, sehingga keinginan kita sama-sama terpenuhi." De Santos berkecak pinggang.

"Mengapa kau melakukannya? Mengapa kau mau repot-repot memikirkan hal itu?" Sorot mata Lynch menusuk ke tatapan lawannya.

"Karena aku tidak ingin buang-buang tenaga. Hey, Orang Yunani! Diriku ini tidak sehebat yang barusan bertarung. Jadi, aku berusaha menemukan cara paling efesien untuk lolos."

Lynch bergeming, kendati dahinya berkedut-kedut. Ia sebenarnya punya ego yang besar, tetapi nyalinya mulai goyah tatkala sosok Sarasvati terbayang di pikiran. Lynch bukanlah orang sekuat itu.

"Aku benci mengatakannya. Ku-kurasa kau ada benarnya juga." Pemuda berhidung mancung tersebut menggaruk-garuk kepalanya. "Tapi, aku tidak ingin menyerah di hadapanmu."

"Gwahaha ... serahkan saja padaku!" De Santos lagi-lagi menyeringai. 

Di tengah gaduhnya suara penonton, De Santos memberanikan diri mengacungkan tangan. Bersama senyum lebar, dia mendongak ke atas, tepatnya ke arah Goro yang berseliweran di langit.

"Oy, Naga! Aku menyerah!"

"HAH?!" 

"APA-APAAN ITU?!"

"MENYERAH BEGITU SAJA? DIA BERCANDA, 'KAN?"

Demikianlah reaksi penonton yang kelewat kecewa menyaksikan kedua kontestan kali ini. Bisa-bisanya mereka menyerah padahal belum ada kontak fisik sama sekali.

Maka dari itu, Goro lekas-lekas turun ke arena. Mata merahnya membara, tak kuasa lepas dari dua orang yang dicurigai bersekongkol itu. 

"Kau menyerah?" Dia mendekatkan kepalanya ke wajah De Santos.

"Ya, aku menyerah." 

"Kenapa kau menyerah? Kau takut pada bocah yang setengah meter lebih rendah darimu?" Kaki-kaki Goro merangkak mendekati Lynch.

"Tidak. Kami sepakat untuk berdamai. Lagi pula, tidak ada larangan untuk menerapkan cara semacam ini," sahutnya.

"Kau benar. Kami hanya menuntut salah satu kontestan untuk menyerah agar duell dapat berakhir. Tak kusangka kau nekat merobek celah peraturanku." Geligi Goro mengintip tatkala berbicara.

"Sekarang izinkan aku memilih asrama." Lynch menceletuk.

"TIKUS-TIKUS LICIK! Sudah curang malah berani mendikteku!" umpat sang naga. 

"Sudahlah! Kau tidak ingin melanggar peraturanmu sendiri, 'kan?" De Santos menyeringai.

Goro bungkam, kemudian meludahkan api hijau ke angkasa. Sama seperti sebelumnya, empat portal turun ke arena. Kini giliran Lynch untuk menentukan pilihannya.

"Masukkan aku ke asrama sore," pinta De Santos.

"Hey, Naga! Masukkan orang itu ... ke asrama siang. Aku memilih asrama sore."

De Santos sontak terbeliak. Pikirannya berkecamuk, antara harus protes atau mengamuk dan membangunkan Lynch secara paksa. Yang jelas, raut wajah lelaki itu jadi beringas.

"Apa-apaan kau, Pendek?! Kita sudah sepakat!" keluhnya.

"Sayang sekali aku tidak berminat bekerja sama denganmu. Sang pemenang berhak mengatur jalan hidup orang lain." Lynch berbalik, melangkah pelan melewati portal asrama sore.

"Sialan! Orang picik itu berhasil menipuku." De Santos melangkah gontai ke portal asramanya. Namun, sebelum kakinya menghilang, Goro memberi sedikit wejangan.

"Begitulah peraturan gelanggangku. Kau bebas memanipulasinya sesuka hati, tetapi terkadang yang kau lakukan justru memanipulasi dirimu sendiri."

"Diam saja kau, Naga! Akan kubalas bocah tengik itu suatu saat nanti." De Santos bicara seiring tubuhnya yang tertelan portal. Hingga lima detik, arena kembali kosong dari para kontestan.

Bertubi-tubi sorakan kesal terlontar dari mulut penonton. Meski cukup brilian, sayangnya taktik yang diterapkan De Santos menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Frog yang duduk bersila.

"Pengecut tetaplah pengecut, biar gimana pun cara yang mereka pakai," katanya.

"Hanya dengan bertarung, seseorang dapat dengan tenang memasuki portal itu. Jika tidak, mereka takkan tahu batas kemampuan mereka sendiri. Bukankah itu tujuan dari seleksi ini? Menguji seberapa jauh lucidity kita berkembang." Red menimpali.

"Tentu. Selain itu, orang-orang yang memakai cara seperti tadi bakalan dicap sebagai lucid dreamer receh yang tak pantas ikut kompetisi."

"Jadi, cara yang terbaik adalah mengerahkan kemampuan sekuat tenaga." Red menatap Goro yang bersiap mengumumkan kontestan selanjutnya.