Episode 1 - Rencana di Atap Gedung


Di hadapan kemurungan yang membentang pada wajah Jakarta, di atap gedung tua di kawasan Jakarta Pusat, seorang lelaki yang tak tertarik melanjutkan hidup tengah berdiri. Dia menimbang lagi keputusannya sebelum terjun ke pelukan maut. Dia mencoba menduga seberapa rasa sakit yang ditimbulkan jika tubuhnya menghantam aspal dari gedung sepuluh lantai.

Lelaki bernama Badut itu bergidik. Dia mundur satu langkah, kemudian menarik napas bagai menarik seluruh keyakinannya yang berhamburan. Wajah seorang perempuan kembali memadati pikirannya. Claudya, perempuan itu, adalah satu-satunya alasan dia melanjutkan hidup. Tetapi, sekarang, jadi alasannya berada di sini untuk bergabung dengan populasi manusia yang bersedia mati konyol karena cinta.

Badut maju ke posisi semula. Dia melongok ke bawah. Dilihatnya kerumunan orang kota dan lalu-lalang kendaraan. Dalam hati, dia berharap ada satu atau dua orang di bawah yang melihatnya, menunda kematiannya, sebab sebenarnya dia takut untuk menjalankan niatnya. Sebetulnya Badut memang pecundang, bahkan terlalu pecundang untuk memilih mati sebagai pecundang.

Badut melangkahkan lagi tungkainya yang bimbang. Ujung sepatu Converse bututnya kini hanya berjarak dua sentimeter dari tepi gedung. Sementara dia menata niatnya, angin berupaya menidurkan nyalinya.

Tiba-tiba, terdengar suara mengganggu. Dia menunduk dan melihat tonjolan memalukan yang jadi sumber suara itu. Lagi-lagi perutnya berbunyi tak tahu tempat dan situasi. Padahal, kurang dari satu jam lalu dia baru menghabiskan dua potong ayam goreng cepat saji, seporsi kentang, dan segelas besar soda. Mengingat deret menu itu, berarti mengingat pula bobot tubuhnya. Dia mulai menebak apakah dalam rumus gerak jatuh bebas, masa berpengaruh pada kecepatan jatuh sebuah benda. Dia berpikir … dan menemukan jawabannya. Tidak. Seingatnya, kecepatan jatuhnya akan ditentukan oleh gaya gravitasi, ketinggian, serta waktu yang diperlukan bagi tubuhnya hingga tergeletak sebagai mayat.

Badut tersenyum kecut. Dia memejamkan mata sembari memantapkan niatnya. Jatuh dari atap gedung, pikirnya, paling-paling hanya berakibat rasa sakit sebentar, karena toh dia pasti langsung mati. Tetapi, lain soal dengan jatuh cinta pada perempuan yang akan menikah dengan lelaki lain. Itu rasa sakit yang panjang dan sulit diatasi. Setidaknya, bagi Badut sendiri.

Claudya, Claudya, Claudya. Masih saja nama itu menggetarkan jantung lelaki berperawakan gendut itu. Badut menghitung mundur, tiga …, dua …, kemudian mengulangi hitungannya dari sepuluh …, sembilan …, dan kembali mengulang dari dua puluh …, sembilan belas …, delapan belas …, tujuh belas …, enam belas …., lima belas …, empat belas …, tiga belas …, dua belas …, sebelas …, sepuluh …, sembilan …, delapan …, selamat tinggal, Clau, tujuh …, aku mencintaimu, enam …, lima …, empat …, tiga …, dua …, sat__

“Stoooop!”

Suara itu membuat Badut kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung, namun kakinya yang memijak kukuh membuatnya hanya jatuh di tempat yang sama. Badut terbaring. Jantungnya tak terkendali, napasnya tersengal, dan wajahnya banjir peluh.

Tak lama, dilihatnya seorang perempuan berdiri menghalangi matahari di atas wajahnya. Badut menduga suara yang membuat tubuhnya terbaring lemas saat ini adalah milik perempuan itu.

“Gila! Mbak hampir membunuh saya!” bentak Badut, suaranya diguncang rasa takut.

“Lho, lho, lho! Bukannya Mas memang mau bunuh diri, kan?!” perempuan itu balik bertanya, nadanya tinggi. “Saya justru menyelamatkan kamu, Mas!”

Badut memilah jawaban.

“Heh! Kalau pun benar apa yang kamu pikirkan, percayalah bahwa saya lebih suka mati bunuh diri daripada mati terbunuh karena kecerobohan seorang perempuan!”

Perempuan itu menghela napas. Kemudian, dia mengulur tangannya ke arah Badut, namun segera ditepis oleh lelaki itu.

Setelah bisa mengatasi diri, Badut bangkit, lalu membenturkan tubuhnya ke tubuh perempuan itu seraya berjalan menjauh.

“Tunggu!” Perempuan itu menghentikan langkah Badut. Dia berlari kecil hingga sampai di hadapan Badut. Tinggi perempuan itu rupanya cukup untuk mengimbangi tubuh Badut yang menjulang.

“Saya masih menunggu kamu mengucapkan terima kasih!”

Badut sedikit menunduk untuk menatap wajah perempuan itu. Dia mencoba memasang wajah garang, meskipun bagian-bagian wajahnya tak memungkinkan dia melakukan itu. Mata, hidung, dan rahangnya yang bulat, serta alis dan bibirnya yang melengkung ke bawah, membuatnya selalu tampak seperti badut yang menyedihkan. Tak heran, di sekolah pun, dulu, dia selalu dijuluki Sad Clown.

“Astaga, Mbak! Apa ada norma atau aturan yang mengharuskan seseorang berterima kasih pada seseorang yang hampir membunuhnya, hah?!”

Perempuan itu mengerutkan alis rapinya. Bibir mungilnya mengerucut. Kemudian, dia berkata, “Kenyataannya Mas masih hidup, bukan?!”

“Iya, tapi apa Mbak bisa menjamin saya bahagia jika tetap hidup?!”

Mendengar ucapan Badut, perempuan itu menangkap celah kemenangan atas perdebatannya. “Tuh, kan! Dari ucapanmu sudah jelas kalau kamu memang punya motivasi bunuh diri!”

Badut merasa dipecundangi. Akhirnya, dia berkata, “Saya tidak suka orang asing menyimpulkan diri saya seenaknya! Lagi pula, kalau pun saya mau bunuh diri, Mbak nggak punya kepentingan apa-apa terhadap keputusan saya!”

Perempuan itu mengulurkan tangan, mencoba memerkenalkan diri, namun Badut mengabaikannya.

“Kirana,” ucap perempuan itu, mencoba tak sakit hati dengan perlakuan Badut. “Hujan Kirana.” Perempuan itu melengkapi namanya, sesuatu yang dirasa Badut tak perlu.

Badut tak memerkenalkan namanya, sehingga Kirana memecahkan keheningan dengan berkata, “Saya dari Lembaga Penyelamat Orang Bunuh Diri.”

Mendengar ucapan Kirana, Badut mengeryitkan dahi. Seumur hidup, dia tak pernah sekali pun mendengar lembaga itu. Melihat ekspresi Badut, Kirana menambahkan, “Itu lembaga independen yang saya dirikan sendiri.”

Ketertarikan Badut muncul. Paling tidak, pikirnya, sebelum dia benar-benar mati dalam percobaan bunuh diri berikutnya, dia bisa mengetahui satu hal baru di dunia yang luput dari pengetahuannya.

“Saya baru dengar lembaga itu ...,” Badut mencoba mengubah intonasinya jadi tidak ramah,” “by the way, kamu benar-benar pendirinya?” Matanya menyempit.

Ekspresi Kirana berubah. Sekarang, ketegangan di wajahnya reda. “Ya, lebih tepatnya, saya pendiri, anggota, dewan penasihat, sekretaris, sekaligus bendahara dalam lembaga ini. Karena lembaga ini cuma beranggotakan saya seorang!” Usai mengucapkan itu, Kirana tertawa menggelegar. Tawa yang, menurut Badut, tak sesuai dengan ciri fisik perempuan itu. Secara fisik, Kirana memang terlihat cukup feminin. Lekuk wajahnya lembut, matanya bulat, dan bibirnya mungil kemerahan. Maka, bagi Badut, suara tawa yang menggelegar itu seperti sesuatu yang asing dalam diri sosok di hadapannya.

“Perempuan aneh!” Badut bangkit dari lamunannya dan melanjutkan langkah, sedangkan Kirana mencoba menyejajarkan langkah di sampingnya.

“Setidaknya saya nggak lebih aneh daripada lelaki yang takut mati tapi nekat bunuh diri!”

Badut kembali mengingat rencana bunuh dirinya, dan itu berarti membuka lebar pintu ingatannya, sehingga fragmen-fragmen kenangannya bersama Claudya masuk dan berdesakan. Dia tertunduk takluk oleh kesedihannya.

Melihat perubahan cuaca pada wajah Badut, Kirana memberanikan diri menyentuh bahu lelaki besar itu. “Soal cinta, kah?” Kirana mencoba menebak sebab keputusasaan yang dialami Badut.

Badut tak menjawab pertanyaan Kirana, sehingga perempuan itu merasa bahwa dugaannya tepat. “Aku pernah punya banyak pengalaman menyelamatkan orang yang ingin bunuh diri karena cinta.” Kirana mencoba mengganti “saya” dengan “aku” untuk merubuhkan sekat di antara mereka.

“Satu-satunya ciptaan Tuhan yang perlu direvisi, barangkali, adalah cinta.” Upaya pertemanan yang ditunjukkan Kirana membuat Badut kembali jadi dirinya sendiri. Pada dasarnya, dia cuma lelaki besar dengan segenggam hati yang rawan.

“Cinta nggak pernah salah, kamu cuma mencintai orang yang salah.” Bibir Kirana mencoba mengulas senyum di wajah Badut.

“Celakanya, kita nggak pernah bisa memilih jatuh cinta pada siapa.”

“Betul, Mas, tapi satu hal yang mesti kamu tah__”

“Namaku Badut,” ucap Badut, memotong Kirana. Dan, mendengar nama lelaki di hadapannya, Kirana geli sendiri. “Ba-Badut? Seriuuus?”

Badut mengangguk. Wajahnya memanas akibat malu. “Apa yang mesti aku tahu?” Badut mencoba mengalihkan situasi dengan meminta Kirana melanjutkan perkataannya yang terputus.

“Hmmmm …” Kirana mencoba menahan gelitik di perutnya, tetapi sulit. “Yang harus kamu tahu, selain cinta, yang harus direvisi Tuhan adalah gagasan nama anak di kepala orangtuamu!”

“Kali ini aku setuju.” Badut mulai bisa rileks bercakap dengan Kirana. “Gagasan orangtuaku soal nama, kupikir salah satu hal paling konyol selain gagasan mereka menikah dan menghasilkan keturunan seorang pecundang sepertiku.”

“Eh, kayaknya bakal lebih seru kalau kita lanjutkan obrolan sambil ngopi, deh,” ucap Kirana, sementara Badut hanya bergeming. “Gimana?” Kirana mencoba memberi penekanan.

“Boleh juga. Walaupun menikmati kopi dengan perempuan yang hampir membunuhku bisa dikategorikan sebagai gagasan paling tolol di dunia.”