Episode 122 - Awal Perseteruan



Sepekan berlalu sejak pembentukan ‘Regu Perdamaian’. Regu ini dipimpin oleh Citra Pitaloka, seorang Murid Tauladan dari Sanggar Sarana Sakti yang menyandang gelar Mojang Merah Muda. Di saat yang sama, gadis belia tersebut merupakan kemenakan Maha Guru Kesatu Sangara Santang. Dan, yang lebih mencengangkan lagi, ia adalah Putri Mahkota dari Kemaharajaan Pasundan, anak kandung Sri Baduga Maharaja Silih Wawangi. 

Mendengar jati dirinya saja, membuat Bintang Tenggara berdecak kagum. 

Anggota kedua adalah Bintang Tenggara sendiri. Seorang Murid Tauladan dari Perguruan Gunung Agung. Seperti diketahui umum, prestasinya mencakup predikat sebagai ahli termuda dengan peringkat keahlian terendah, yang ikut serta dalam Kejuaraan Antar Perguruan di Kota Ahli. Bersama rekan-rekannya, ia menempati urutan kedua Kejuaraan, sebuah pencapaian yang mengharumkan nama seantero Pulau Dewa. 

Pengetahuan umum menyebutkan Bintang Tenggara sangat berbakat. Di usia muda, ia menguasai jurus kesaktian unsur petir Asana Vajra, salah satu dari Sapta Nirwana Perguruan Gunung Agung. Bahkan, pada Kasta Perunggu, ia sudah memiliki wujud kesaktian dalam pentuk pohon petir. Anak remaja ini juga diketahui menguasai jurus Silek Linsang Halimun yang berasal dari wilayah barat Pulau Barisan Barat. 

Yang hanya diketahui segelintir ahli, anak remaja yang sama juga sudah menguasai ketiga bentuk dari Pencak Laksamana Laut milik Laksamana Hang Tuah. Jurus ini dipelajari secara tak langsung dari sahabatnya. Pemantapan jurus ini berlangsung di dalam dimensi ruang dan waktu di Gunung Dewi Anjani. 

Bintang Tenggara juga memiliki bakat sebagai perapal segel. Segel Penempatan dan Segel Petir adalah dua jurus yang ia ciptakan sendiri. Senjata pusaka Kasta Perak miliknya bernama Tempuling Raja Naga. Lalu, baru-baru ini ia memperoleh golok Mustika Pencuri Gesit karena melakukan kesepakatan dengan Dewi Anjani, sang penunggu Gunung Dewi Anjani.

Hanya terdapat beberapa ahli yang mengetahui bahwa Bintang Tenggara adalah anak didik Komodo Nagaradja, Jenderal Ketiga dari Pasukan Bhayangkara, siluman sempurna digdaya pada jamannya. Bahkan, kesadaran sang Super Guru selalu mengikuti kemana pun ia pergi. 

“Sekarang kau hendak menjadi pahlawan…?” gerutu Komodo Nagaradja. 

“Super Guru….”

“Aku tak melarangmu… Akan tetapi, asal kau ketahui saja, bila sampai di atas gunung itu, jiwamu kemungkinan besar akan terancam bahaya….” 

“Super Guru… apakah Super Guru memiliki janji menikahi ahli lain…?” 

“Tidak! Terserahlah!” 

Anggota ketiga dari regu yang baru terbentuk adalah pemimpin regu yang menjuarai Kejuaraan Antar Ahli tahun ini. Siapa lagi bila bukan Embun Kahyangan Si Pembunuh Bayangan, pemilik salah satu dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda, yaitu Selendang Batik Kahyangan. Gadis belia ini diketahui memiliki dua unsur kesaktian angin dan air, sehingga dapat mengerahkan selendang tersebut.

Baru diketahui, bahwa gadis belia ini adalah kidal adanya. Sebagai pembunuh bayangan, Embun Kahyangan bersenjatakan kerambit kecil di tangan kiri. Yang berbahaya dari gadis belia ini adalah jurus Panca Kabut Mahameru, dimana jurus kesaktian tersebut berwujud domba gimbal yang merupakan gas panas nan beracun. 

Meskipun demikian, yang paling mematikan dari Embun Kahyangan bukanlah senjata dan jurusnya, melainkan lekuk tubuh. Bintang Tenggara tak hendak membahas kemolekan tubuh Embun Kahyangan. 

Anggota keempat dari regu perdamaian bernama lengkap Gusti Raden Pangeran Aji Pamungkas. Ia adalah seorang bangsawan muda dari wilayah tengah Pulau Jumawa Selatan. Entah atas alasan apa, ia melarikan diri dari kediamannya dan berlabuh ke Perguruan Gunung Agung. Di perguruan, ia menyandang gelar sebagai Murid Tauladan Super Mesum. 

Aji Pamungkas merupakan petarung jarak jauh, sekaligus jarak dekat. Sungguh kombinasi yang tak biasa. Untuk jarak jauh, ia mengandalkan senjata Busur Mahligai Rama-Shinta dan jurus kesaktian unsur angin, Panah Asmara. Wujud dari kesaktiannya adalah bulan sabit angin. Untuk jarak dekat, Aji Pamungkas menguasai jurus persilatan Beulut Darat, yang sebenarnya adalah teknik gulat bernama benjang. Sebagai catatan, sebutan kedua jurus milik Aji Pamungkas, kemungkinan besar bukanlah nama-nama aslinya, melainkan nama yang dibuat-buat. 

Selain itu, Aji Pamungkas memiliki keunikan lain. Kedua bola matanya diketahui sebagai milik binatang siluman. Berbekal bola mata tersebut, Aji Pamungkas dapat menebar mata hati lebih jauh, lebih fokus, dan pada saat yang sama, dalam radius tertentu. Sebagai tambahan, ia memiliki kaca mata Kasta Perak yang didapat dari Brankas Perak di Perguruan Gunung Agung. Belum jelas kegunaan kaca mata tesebut.

Anggota terakhir adalah ahli yang paling aneh sedunia. Ia dapat menebar mata hati dan memiliki mustika tenaga dalam, sebagaimana ahli-ahli kebanyakan. Akan tetapi, ia tak bisa menyalurkan keluar tenaga dalam dari mustika di ulu hati tersebut. 

Demikian, Lampir Marapi Si Perawan Putih bertarung dengan mengandalkan Kitab Kosong Melompong, satu lagi dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda. Ia ‘meminjam’ jurus kesaktian ahli lain dengan menyimpannya ke dalam kitab tersebut. Jurus kesaktian yang tersimpan dapat dikerahkan sesuai kebutuhan dan keadaan. Selain itu, Lampir Marapi bertarung dengan memanfaatkan berbagai ramuan penunjang tubuh, termasuklah diantaranya Sirih Reka Tubuh. 

Tidak diketahui pasti, namun dikatakan Si Perawan Putih ini memiliki kelebihan khusus. Siapa pun yang merenggut keperawanannya, dikatakan dapat meningkatkan tingkat keahlian satu kasta penuh. Bayangkan, seorang ahli lelaki yang berada pada Kasta Perak dapat melompat langsung ke Kasta Emas! 

Bintang Tenggara sepakat bahwa menjadi murid Sanggar Sarana Sakti merupakan pilihan tepat bagi Lampir Marapi. Gadis tersebut berkesempatan untuk memperoleh tambahan senjata dalam bertarung. Akan tetapi, bagaimana kisahnya gadis itu bisa terdampar di Sanggar Sarana Sakti? Apakah Kakak Sangara Santang tak mengetahui jadi diri Lampir Marapi sebagai putri dari Gubernur Pulau Dua Pongah, salah satu pimpinan di Partai Iblis!?

“Adik Bintang Tenggara… dari manakah engkau mengenal Lampir Marapi…?” ujar Sangara Santang.

“Aku pernah berkunjung ke Pulau Dua Pongah…,” jawab Bintang Tenggara jujur. 

“Oh…?”

“Kakak Sangara Santang janganlah khawatir, aku mengenal Lampir Marapi dan tak akan membocorkan jati dirinya kepada sesiapa pun di Negeri Dua Samudera.”

“Terima kasih.” 


Setelah perkenalan regu, Bintang Tenggara menghabiskan hari kedua di Sanggar Sarana Sakti dengan kesibukan mengurus Aji Pamungkas. Temannya tersebut hampir meregang nyawa akibat kehabisan darah! 

Hari ketiga, seluruh anggota berlatih bersama untuk saling mengenal. Aji Pamungkas terpaksa kembali ditandu ke Balai Pengobatan. Bukan, bukan karena mimisan, namun karena hantaman peluru-peluru unsur api milik Merpati Lonjak, yang dikerahkan oleh Lampir Marapi menggunakan katapel. Seolah tersirep, Aji Pamungkas sama sekali tak menghindar dari serangan lawan latih tarung. 

Hari keempat, Aji Pamungkas berupaya mengerahkan jurus jarak dekat kepada lawan latih tarungnya. Embun Kahyangan seolah akan merelakan diri di saat hendak digerayangi jurus Beulut Darat. Pentungan Tempuling Raja Naga kembali membawa tubuh Aji Pamungkas ke Balai Pengobatan. 

Hari kelima, kondisi hati yang riang gembira menyaksikan anggota regu lainnya, membawa Aji Pamungkas naik ke Kasta Perunggu Tingkat 7. 

Hari keenam, keadaan mulai normal. Seluruh anggota regu sudah dapat menyusun formasi dengan baik. Mereka pun mulai berlatih tarung melawan regu lain. Latih tarung melawan Pawer Renjes atau Jajaka dan Mojang Sanggar Sarana Sakti, mulai menunjukkan kerja sama yang cukup baik. Aji Pamungkas sudah mulai dapat menguasai diri. 

“Sepekan dari sekarang, kalian akan bertolak menuju Gunung Perahu. Aku hanya berharap bahwa niat baik dari Kemaharajaan Pasundan akan diterima dengan baik oleh Kerajaan Siluman Gunung Perahu,” ujar Sangara Santang di saat menemani latihan kelima anak remaja. 


Lima anak remaja melangkah ringan. Dua lelaki, tiga perempuan. 

Paling depan adalah Lampir Marapi dan Embun Kahyangan. Perbincangan di antara keduanya berlangsung satu arah. Lampir Marapi terus menerus berbicara, sedangkan Embun Kahyangan bahkan tak terlihat seperti mendengarkan sama sekali. 

Di tengah, seorang diri, adalah Citra Pitaloka. Ia melangkah santai, pembawaannya pun tenang. Meski, diketahui bahwa beban yang sedang ia pikul sebagai utusan perdamaian sangatlah berat. 

Paling belakang, Bintang Tenggara bersama Aji Pamungkas. 

“Aku tak suka formasi ini…,” gerutu Aji Pamungkas. Meski kedua matanya tak lepas dari menatap bagian belakang tubuh Citra Pitaloka. 

“Yang Mulia Putri Mahkota Citra Pitaloka, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai puncak Gunung Perahu.”

“Sudah berkali-kali kukatakan cukup memanggil Citra Pitaloka saja…,” jawab gadis berperawakan juita tersebut. 

“Citra Pitaloka sayang…,” sahut Aji Pamungkas. 

“Sisi belakang Gunung Perahu yang kita saksikan saat ini, adalah sama adanya dengan gunung kebanyakan. Bentuk yang menyerupai perahu hanyalah di satu sisi saja. Oleh karena itu, kita terpaksa mengitari gunung sebelum memulai pendakian.”

“Mengapa kita tak menggunakan binatang siluman yang berkemampuan terbang saja?” tanggap Bintang Tenggara yang sedikit bosan mendaki gunung. Terakhir mendaki gunung, ia terjebak dalam dimensi ruang dan waktu.

“Tiada perlu. Saat ini kita sedang menuju gerbang dimensi yang ada di kota. Gerbang dimensi tersebut akan mengantarkan ke sisi belakang Gunung Perahu. Di kaki gunung, telah disiapkan gerbang dimensi sementara yang akan membawa kita ke dalam wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu.” 

Bintang Tenggara mengangguk petanda mengerti. 

“Jadi, jelang petang seharusnya kita sudah berada di puncak Gunung Perahu,” tutup Citra Pitaloka.


“Yang Mulia Putri Mahkota… mohon maaf. Akan tetapi, kami terpaksa menyampaikan berita buruk….”

Laporan tersebut berasal dari sekelompok prajurit yang berjaga di depan sebuah prasasti gerbang dimensi. Regu yang menuju puncak Gunung Perahu baru saja melangkah keluar dari gerbang dimensi dan tiba di kaki gunung. 

“Hm?”

“Prasasti gerbang dimensi sementara di wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu, yang sebelumnya disiapkan oleh Maha Guru Sangara Santang… sepertinya telah dihancurkan….” 

Citra Pitaloka menatap seorang Kepala Prajurit kerajaan. Ia berupaya tetap tenang. Wajahnya tak mencerminkan kekhawatiran. Gadis belia tersebut menoleh ke arah anggota regu yang lain. Bintang Tenggara pura-pura tak mendengar. Embun Kahyangan tak peduli. Lampir Marapi sedang mengoceh tak jelas. Sedangkan Aji Pamungkas, ia segera mendatangi Citra Pitaloka….

“Citra Pitaloka, janganlah khawatir. Tingginya gunung akan kudaki… dalamnya lautan akan kuselami…,” ujarnya penuh percaya diri. 

“Sampaikan kepada Ayahanda Prabu…,” ujar Citra Pitaloka kepada Kepala Prajurit. “Kami akan mendaki Gunung Perahu dan tetap akan menjalankan misi sebagai utusan perdamaian.”

Tak terlihat bahkan secercah keraguan dari sorot mata Citra Pitaloka. Keteguhan hatinya untuk menuntaskan tugas yang diemban, tak akan mudah goyah hanya karena perkara gerbang dimensi. Meski, perlu disadari bahwa bila benar prasasti gerbang dimensi dihancurkan oleh pihak Kerajaan Siluman Gunung Perahu, maka hal tersebut menjadi petanda bahwa kehadiran utusan perdamaian kemungkinan besar tak diharapkan. 

“Jika tak ada kendala berarti, maka perjalanan mendaki gunung akan memakan waktu sehari semalam,” ujar sang pemimpin regu kepada Bintang Tenggara.


“Tolooonngg… Toloooonggg….”

Citra Pitaloka bersama regunya segera berlari ke arah datangnya suara. Dari kejauhan, terlihat seekor Babi Taring Hutan sedang menyeruduk sebuah pohon. Tindakan tersebut membuat pohon tersebut bergegar deras. Suara minta tolong rupanya berasal dari atas pohon. 

Babi Taring Hutan menoleh ke arah lima remaja yang mendekat ke arahnya. Tatapan matanya sangar, pembawaannya berang. Bintang Tenggara segera menyadari bahwa babi tersebut sedang tersinggung. 

Di atas pohon, terlihat seorang remaja bertubuh kurus kering. Tak diragukan lagi bahwa dialah yang berteriak minta tolong. Tak perlu berlama-lama menyimpulkan kenyataan tersebut. 

Citra Pitaloka segera mengeluarkan dan menghunus sebilah senjata dari cincin Batu Biduri Dimensi. Sebilah lembing sepanjang tubuh manusia. Mata lembing bercabang dua, atau lebih tepatnya mirip garpu yang bergerigi dua. Bila diperhatikan dengan lebih seksama, maka bentuk seluruh lembing tersebut merupakan tabung logam mirip pipa. 

Lembing Garpu Tala! 

Akan tetapi, bila lembing milik Jajaka Merah saat Kejuaraan Antar Perguruan merupakan logam berwarna perunggu, maka lembing milik Citra Pitaloka berwarna emas! 

“Tunggu!” sergah Bintang Tenggara menghentikan niat Citra Pitaloka mengusir paksa babi itu. 

Bintang Tenggara sepenuhnya paham bahwa membuat marah seekor Babi Taring Hutan, akan berisiko mendatangkan gerombolan babi yang akan mengejar tiada henti. Pengalaman memanglah guru terbaik. Jangan mengulang kesalahan Panglima Segantang di Gunung Dewi Anjani. Meski pun regu ini diketahui beranggotakan ahli-ahli berbakat, perseteruan dengan gerombolan babi tiadalah berguna. 

Bintang Tenggara menghampiri babi. Babi menoleh, memutar tubuh, dan mendengus curiga terhadap anak remaja di hadapannya. Ia siap menyeruduk bilamana lawan berperilaku mengancam. 

“Tuing… tuing….” Bintang Tenggara mulai berlari berjingkat menjauh dari sang babi. Babi Taring Hutan tertegun sejenak. Tak lama, ia pun segera melompat dan berlari berjingkat menyusul anak remaja tersebut. Seorang anak remaja dan seekor babi, dengan demikian, terlihat berjingkat-jingkat seirama menjauh dari pohon besar.  

Menyadari bahwa babi yang menunggu di bawah pohon telah dipancing pergi, terlihat seorang anak remaja melompat turun dari atas pohon. Diamati dengan seksama, wajahnya cukup lumayan. Bentuk wajahnya lonjong, dengan hidung mancung mirip paruh beo. Meski pipinya cekung, dan tubuhnya kurus kerempeng. Ia terlihat seperti kurang gizi. 

“Siapakah engkau dan apa yang kau lakukan di kaki Gunung Perahu?” ujan Citra Pitaloka Santai. 

Anak remaja kurus kering yang baru saja memperoleh pertolongan hanya diam membatu. Kedua mata besarnya mengamati dengan seksama. Lalu, tanpa basa-basi, ia segera melompat pergi meninggalkan kelompok yang telah membantunya. 

“Cih! Mengucapkan terima kasih aja dia tak bisa!” cibir Aji Pamungkas. 

“Hm…? Kemanakah perginya remaja yang meminta pertolongan tadi…?” ujar Bintang Tenggara yang kembali bergabung setelah mengucapkan kata-kata perpisahan dengan seekor Babi Taring Hutan. 

“Kakak Gemintang… larimu lucu sekali…,” sela Lampir Marapi. Gelagatnya manja. Sebentar lagi mungkin ia akan bergelayutan di lengan Bintang Tenggara. 

“Sudah berkali-kali kukatakan bahwa nama asliku adalah Bintang Tenggara, dan kau…,” 

Bintang Tenggara tercekat. Ia baru saja hendak mengatakan bahwa dirinya berusia dua tahun lebih muda…. Akan tetapi, segera ia mengurungkan niat tersebut. Setelah menghabiskan waktu di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani, maka dirinya telah bertambah usia sampai satu setengah tahun. Dengan demikian, Lampir Marapi hanya berusia setengah tahun lebih tua. 

“Gelagat kalian berdua sungguh mencurigakan….” Akhirnya, Aji Pamungkas angkat bicara. “Di mana kalian pernah bertemu!?”

“Kami pernah menghabiskan beberapa malam berduaan di dalam sebuah gua…,” jawab Lampir Marapi ringan. Wajahnya sumringah. 

“Apa!?” teriak Aji Pamungkas. 

“Set….” Embun Kahyangan melirik. Kedua mata sayunya membesar. Ia menatap tajam ke arah… Lampir Marapi. 


“Lapor, Kapten!” 

Seorang remaja terlihat bercucuran keringat. Napasnya menderu, karena ia baru saja berlari mendaki lereng gunung, Meski demikian, dari raut wajahnya terlihat betapa sepenuh hatinya ia saat menjalankan tugas. 

“Kerempeng….” 

“Lima orang ahli mendaki gunung. Salah seorang di antara mereka kemungkinan besar Putri Mahkota… Citra Pitaloka.” 

“Hah!” Si Kapten, yang sedianya sedang bersantai menikmati pijatan beberapa orang perempuan segera bangkit berdiri. Tubuhnya besar, perawakannya sangar. 

“Regu Enam, Tujuh dan Delapan!”

“Siap, Kapten!” 

“Segera menyebar! Pastikan keberadaan Putri Mahkota! Bilamana benar, kembali melapor!” 

“Siap, Kapten!” 


 Cuap-cuap:

Terima kasih atas jawaban jajak pendapat dalam Episode 121.

Canting Emas menempati posisi pertama dengan tujuh suara. Kemudian disusul Balaputera dengan tiga suara. Terakhir, Kuau Kakimerah, Hang Jebat dan Lamalera memperoleh dua suara.

Dengan demikian, ilustrasi Canting Emas segera disiapkan!