Episode 32 - Sebagaimana Mestinya?



Rian baru saja kembali dari ruang kerja para pangeran dan putri. Setelah itu dia akan pergi ke ruang kelas untuk mengambil barang bawaannya.

Tetapi di saat dia hendak melewati persimpangan, di koridor menyandar seseorang yang sangat dia kenali sebagai satu-satunya siswi pemegang gelar murid terhebat di sekolah.

Sebagai mana menunggunya pulang, sosok itu sepertinya telah berdiri lama di tempat itu.

“Rian, kebetulan sekali!”

Itu bukanlah sebuah kebetulan, dan Rian tahu itu.

“Euis, apa yang kau lakukan di sini?”

Terlihat dari wajahnya ekpsresi kekhawatiran. Meskipun dia tak secara langsung memerlihatkannya, Rian tahu kalau Euis sedang mencoba menyembunyikannya.

“Memangnya kenapa, apa aku tak boleh menyandar di koridor seperti ini?”

“Enggak, bukan itu maksudku.”

“Jadi?”

“Uhh, ya sudahlah. Lebih baik ayo kita segera berangkat pulang.”

“Maaf, tapi aku sepertinya tak bisa ikut pulang bersama kali ini.”

Sebuah perkataan yang sangat aneh keluar dari mulut Euis saat Rian mencoba terus berjalan melewatinya. Ketika Euis berkata seperti itu, Rian dengan cepat menghentikan langkahnya. Dan pada saat dia berbalik untuk menghadap ke arah teman masa kecilnya itu, wajah kekhawatiran yang terlihat sangat jelas tampak di wajah cantiknya.

Melihat hal itu Rian tak bisa membiarkannya begitu saja. 

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

Karena itu dia harus benar-benar serius dalam berbicara.

Euis tak lekas menjawab pertanyaan Rian, dia malah melangkah ke depan, menuju pinggiran koridor. Di depannya terdapat lingkungan yang sangat asri, lingkungan yang bisa membuat pikiran lelah hilang dalam sekejap.

Euis menghirup udara dan membuat pikiran serta perasaannya tenang sebelum kembali berbicara.

“Apa kalian telah merusak perjanjian itu... perjanjian yang telah mengikat kalian dengan sekolah?”

Euis bertanya tanpa menghadap seseorang yang dia tanya. 

Di dalam perkataannya, dapat terlihat jelas kekhawatiran seorang yang disayanginya. Perasaan khawatir itu juga dapat Rian rasakan, karena cepat atau lambat, berita tentang anak-anak kelas XII TKJ yang merusak perjanjian telah rusak akan cepat menyebar. Hanya masalah waktu sampai hal itu benar-benar diketahui publik.

Perjanjian yang telah dibuat oleh kesepatakan dua orang murid yang paling berkuasa, yang bahkan kekuasaannya dapat melebihi kekuasaan para guru. Namun kekuasaan mereka masih harus di awasi oleh kepala sekolah.

Perjanjian yang mana mengikat seluruh sekolah dengan jurusan TKJ. Yang mana baik pihak sekolah selain jurusan TKJ ataupun jurusan TKJ sendiri, terutama kelas XII tak diperbolehkan mengganggu atau diganggu satu sama lain, terutama dalam melakukan perisakan. Dan bila mana perjanjian itu dirusak, salah satunya harus memertanggung jawabkan perbuatannya.

Meskipun begitu, tak ada satupun orang yang tahu selain dua murid pembuat perjanjian dan kepala sekolah yang mengetahui apa sanksi ketika perjanjian telah dirusak.

“Iya, kami melakukannya. Tapi itu adalah salahku, karena aku tak bisa mengawasi dengan benar para anggotaku. Karena itu aku yang akan menanggung seluruh sanksinya.”

“Apa kau yakin kau bisa memertanggung jawabkannya. Maksudku, kau bahkan tak mengetahui apa sanksi jika perjanjian itu telah dirusak.”

“Kalau itu aku hanya harus bertanya langsung kepada pembuatnya bukan.”

“Jadi pada siapa kau akan bertanya, Bagas, Vian, atau kepala sekolah?”

Euis benar-benar ingin memojokkan Rian sekarang, dan seperti sebelumnya, mereka berbicara tanpa salah satu menghadap ke arah yang lainnya.

Rian menjadi sedikit gundah dengan pertanyaan bertubi-tubi yang ditanyakan Euis. Dia juga menjadi tak mengerti, kenapa Euis yang biasanya begitu ceria, optimis, dan baik bersikap lebih buruk padanya.

“Apa jangan-jangan, kau khawatir?”

Sesaat yang lalu Euis menengadahkan kepalanya, tetapi saat Rian bertanya tentang perasaannya sekarang, dia menurunkan kepalanya. Rian mendapat perasaan kalau Euis benar-benar khawatir dengan keadaannya—dengan keadaan mereka yang mungkin saja akan terlibat masalah yang lebih besar dari sebelumnya.

“Kenapa kau terlalu khawatir seperti itu. Lagipula masalah yang kami buat takkan menjadi sebesar yang kau pikirkan.”

“Apa benar begitu?”

Di balik rambut yang menutupi sisi wajahnya, Euis sedikit mengarahkan muka kepada Rian. Tetapi dia tak memerlihatkan semuanya karena dia tak ingin tahu sahabatnya dari kecil mengetahui kekhawatirannya.

Rian menjadi lebih resah dengan Euis yang bersikap aneh kali itu. Meskipun begitu, dia takkan bersikap egois seperti meminta Euis untuk tak khawatir.

“Entahlah, aku juga gak tahu. Karena perjanjian itu mencakup seluruh murid dari sekolah dengan jurusan TKJ, terutama kelas XII. Mungkin saja aku atau seseorang akan dikeluarkan, atau mungkin saja seluruh sanksi akan ditimpakan kepada seluruh siswa sejurusan.”

Rian mengatakan kemungkinan yang menjadi sanksi terhadap putusnya perjanjian itu. Dia juga tak berbohong tentang kekhawatiran yang sedang dia sembunyikan. Kalau saja kemungkinan yang dia katakan itu benar, maka dialah yang akan menjadi paling bertanggung jawab dengan masalah itu.

“Tapi tenang saja, kalau itu terjadi, aku takkan membiarkan orang lain untuk terlibat dalam hal ini.”

Dia mengatakan itu dengan tekad yang benar-benar serius. Dan hal itu memicu Euis untuk bergerak. Dengan wajah yang sebagian tertutupi oleh rambut segelap malam, dia memerlihatkan ekspresi wajah yang menyedihkan.

Rian menjadi sangat terkejut dengan hal itu, pikirannya sesaat kacau, tubuhnya juga sedikit bergetar saat melihat kekhawatiran yang benar-benar serius dari Euis.

“K-kenapa kau...?”

Dia menjadi cukup panik dalam menghadapi sikap Euis yang satu ini. 

Dengan cepat dia mengelap air mata yang menetes sewaktu Euis mengkedipkan mata.

“Apa kau pikir masalahnya bisa—maksudku benar-benar kau yang akan mengatasinya?”

Setelah sedikit menjadi lebih baik, Euis mengatakan kembali kekhawatirannya yang sepertinya menampik perkataan Rian.

Rian mengetahui maksud dari perkataan Euis dan juga menyadari kalau sepertinya bukan dia yang akan menyelesaikan masalah yang telah mereka buat.

“Meskipun begitu aku akan tetap bertekad untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi, jangan terlalu terbawa seperti itu. Wajah cantikmu akan hilang kalau kau terus menangisi hal sepele seperti ini.”

Karena tak tahan dengan kesedihan teman masa kecilnya, Rian mencoba sekali lagi mengusap air mata dan menghentikan kekhawatiran Euis.

“Lagipula dalam hal ini, aku takkan membiarkan baik aku maupun...”

***

“...Bagas bergerak sendirian?”

Di depan pos jaga gerbang sekolah, Erina terlihat sedang mendengarkan cerita dari Teguh yang sepertinya menyinggung tentang keberadaan seseorang yang spesial baginya.

“Ya begitulah, dan bukan hanya dia, ada seseorang lagi yang selalu bergerak sendiri dalam menangani masalahnya. Itu adalah mas Vian Andira, sepupu dari mas Bagas.”

Di depan mereka terdapat kopi yang telah hangat dan juga tinggal setengah. Sebuah hal yang cukup baik untuk menemani pembicaraan mereka.

Mendengarkan cerita lebih lanjut tentang sepupu dari Bagas, Erina menjadi lebih penasaran dengan sosok yang sedang mereka singgung itu. Hal utama yang membuat Erina penasaran adalah...

“Apa mata dari Vian Andira ini juga sama seperti Bagas?”

“Ya, begitulah keluarga Jawara, akibat pernikahan silang yang dilakukan sewaktu jaman penjajahan dulu, gen antara kedua belah pihak menjadi bercampur dan mengakibatkan syndrom heterochromia menjadi ciri khas mereka.”

Teguh sejenak menghentikan penjelasannya dan meneguk kopinya sampai tetes terakhir.

“Sejak anak pertama dari persilangan antara dua keluarga lahir, para keturunan mereka selalu memiliki kelainan itu. Hanya saja kakek juga tak bisa mengatakan kelainan yang mengidap seluruh keluarga Jawara itu aneh. Karena tak ada satupun anggota dari keluarga itu yang gagal dalam menjalani hidup.”

“Aku juga pernah mendengarnya. Kalau keluarga Jawara benar-benar keluarga yang luar biasa, yang bahkan telah menjalani kerja sama dengan beberapa perusahaan besar di luar negeri.”

Erina yang sedikit mengetahui informasi tentang sejarah keluarga Bagas juga mengatakan pendapatnya. Hanya saja rasa penasarannya terhadap kelainan yang menjadi ciri khas keluarga itu belum terjawab.

“Tapi, apa kelainan terhadap warna mata yang berbeda itu sama seperti dulu. Biru dan amber.”

“Umm, kakek rasa enggak. Soalnya teman kakek yang juga merupakan kakek dari mas Bagas dan mas Vian memiliki warna mata biru di sebelah kiri yang bercampur dengan coklat, dan sebelah kanan murni berwarna coklat. Cuma~, lahirnya tiga orang anak dari teman kakek menjadi pertanyaan, kenapa mereka terlahir dengan warna kuning sawo dan biru, bukannya coklat dengan biru seperti leluhur mereka.”

“Jadi, sepupu dari kak Risak juga memiliki warna mata yang sama. Ngomong-ngomong, letak warna mata dari Vian itu seperti apa?”

“Mm, sama seperti mas Bagas, hanya saja letaknya berbeda. Kuning sawo di sebelah kiri, dan juga biru langit di sebelah kanan.”

“Eh, biru langit?”

“Memangnya kenapa, Neng?

“Bukannya biru keabu-abuan ya kek?”

“Biru keabu-abuan, oohh, iya kakek ingat. Sebenarnya warna biru di mata neng Risak dan juga mas Bagas itu dulunya biru langit. Hanya saja, ketika kejadian yang menimpa mereka 10 tahun yang lalu membuat warna mata mereka menjadi berubah, dari biru secerah langit siang, menjadi sedikit lebih gelap. Seperti ada awan mendung yang menghalangi cerahnya pandangan mereka.”

Euis sejenak memikirkan tentang kejadian yang menimpa keluarga Bagas 10 tahun yang lalu, yang mengakibatkan Bagas dan Risak kehilangan seseorang yang begitu mereka cintai.

“Ngomong-ngomong, kenapa neng Erina memanggil wanita setua neng Risak dengan panggilan kakak?”

“Eh, memangnya kenapa? Bukannya kak Risak masih berumur sekitar 36, dan sepertinya dia juga tak tersinggung dengan panggilan yang kugunakan. Dan aku juga memikirkannya, kenapa Refa, anak dari kak Risak tak memiliki kelainan seperti ibu dan pamannya?”

Teguh dibuat menjadi lebih bingung tentang penjelasan dan pertanyaan yang diberikan oleh Erina. Tetapi sepertinya dia mengetahui satu hal, kalau sebenarnya Erina belum mengetahui silsilah sebenarnya dalam keluarga Bagas.

“Kakek?”

Namun, kelihatannya Teguh takkan memberitahu hal yang sebenarnya dan membiarkan Erina untuk mencari tahu sendiri.

“Sepertinya obrolan kita dihentikan sampai sini saja, Neng Erina.”

“Eh, tapi kenapa, bukannya kakek belum menjawab pertanyaanku. Dan juga-“

Perkataan Erina terhenti saat Teguh menghadap ke arah murid yang ke sekian kalinya melewati gerbang untuk kembali pulang. 

Ruby kehitaman untuk warna rambut, wajah datar yang bisa saja membuat orang lain menyingkir dari hadapannya secara tidak langsung. Tetapi ada yang aneh dengan wajah datar itu, terdapat sedikit rasa yang tidak tahu kenapa, membuatnya tidak senang.

“Sebaiknya neng tak bertanya terlalu banyak kepada mas Bagas yang satu ini.”

Erina mendapat peringatan tentang larangan di saat keadaan Bagas yang tak bagus itu. 

Benar saja, kalau keadaan Bagas yang sekarang membuat Erina sedikit takut untuk melakukan diskusi ataupun pembicaraan.

Pada saat dia—Bagas melewati pos jaga, dia tak berpaling atau menghadap ke arah yang lain selain ke depan. Dia bahkan menghiraukan keberadaan dua orang yang sedang menatapnya.

“Ayo cepat, sebaiknya kejar dia, dan ingat, jangan membuatnya terlalu banyak mengeluarkan suara untukmu.”

Setelah mendapat peringatan untuk yang kedua kalinya. Erina bergegas pergi tanpa berpamitan kepada Teguh. 

Lalu pada saat dia telah berada tepat di sisi seseorang yang baru saja dia kejar, Erina melihat ada sesuatu yang aneh dari wajahnya. Itu bukanlah sesuatu yang membuatnya tak senang, melainkan sesuatu yang sangat ingin dia hindari untuk saat ini.