Episode 31 - Sudahkah Kembali



Rian merasa aneh, Rasha tak tahu harus berkata apa, dan Beni malah kelihatan lebih sibuk dengan apa yang akan dia pesan.

“Benarkan, kalau sebuah perubahan yang terlalu pesat terjadi, maka pikiran dan perasaan manusia akan sulit untuk menerimanya. Dan hal yang pastinya terjadi adalah, ketidakterimaan beberapa pihak yang tak ingin ada perubahan.”

Elang terlihat ingin melepaskan semua penjelasan yang ingin dia katakan. Tetapi hal itu terhenti saat sosok seorang yang bersama mereka akan pergi.

“Hei, kau mau ke mana?”

Rian yang menghadap ke arah Bagas mencoba ingin menghentikannya. Namun hal itu tak berpengaruh dan Bagas malah akan terus berjalan. Sepertinya, apapun yang terjadi dia takkan menghentikan langkah kakinya tersebut.

“Terima kasih karena telah datang, Pelindung.”

Elang yang membelakangi Bagas mengatakan hal itu, seolah dia sudah tahu kalau kejadiannya akan terjadi seperti yang dia perkirakan.

Bagas tetap berjalan tak peduli apapun yang terjadi. Bahkan untuk mereka yang berada di depannya, dia menerobos mereka, seolah mereka sedang menghalangi jalannya.

Kelompok yang awalnya bersamanya, saat itu sangat menyayangkan kepergiannya. Tetapi apa yang bisa mereka lakukan, menolong diri mereka sendiri saat dalam masalah saja tak bisa.

Hal itu membuat perasaan mereka menjadi bersalah karena mereka telah merusak sebuah perjanjian yang terikat antara kelas XII TKJ dan tim bola basket sekolah.

“Sudah-sudah, yang terjadi biarlah terjadi. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memersiapkan diri untuk menghadapi hal selanjutnya.”

Di saat dia melihat ketiga muridnya terlihat cukup murung, Elang mengeluarkan kata-kata penyemangat. Dan hal itu benar berhasil, mereka menjadi sedikit lega .

“Dia benar.”

“-Dia...??”

“Kita telah merusak perjanjiannya, jadi kita juga tak bisa kembali lagi sekarang. Kita justru harus bersiap untuk menghadapi masalah selanjutnya.”

“-Tunggu, bukannya itu kata-kata ku tadi.”

Rian meresapi perkataan Elang, tetapi ada hal yang cukup aneh dengan percakapan itu. 

“Jadi, Rasha.”

“E-eh!”

Rian berbalik pada Rasha, Rasha yang belum cukup siap untuk menghadapi masalah selanjutnya menjadi sedikit takut saat Rian menghadap padanya.

“Mulai saat ini dan besok, kau harus terus datang ke sekolah.”


Setelah beristirahat, mengobrol, dan mengisi tenaga kembali. Kelompok yang telah menghabisi tim bola basket sekolah bubar.

“Rasha akan ikut bapak untuk mengisi beberapa formulir.”

Di saat kalimat itu dilontarkan, seseorang yang dimaksud menjadi cukup gugup dan takut karena dia pasti akan disodorkan oleh banyak kumpulan kertas.

“Kalau begitu kami akan langsung pulang. Sepertinya Beni sudah mulai goyah.”

“-Oi-oi, kau pikir aku selemah itu.”

Rian dan Beni berpisah dengan Elang dan Rasha.

Setelah berpisah, mereka mengambil jalan masing-masing. Seperti halnya Rian yang masih harus menghabiskan waktunya di ruang kerja para pangeran dan putri. Sedangkan Beni harus ke ruang seni untuk mengambil beberapa barang.


Di depan ruang seni, dia merasa goyah. Kepalanya masih terasa berdenyut akibat terlalu memaksakan diri. Dengan kondisi fisik yang cukup lemah, sebelum melakukan kegiatan berat Beni harus memersiapkan diri terlebih dahulu.

Namun, saat ini dia tak memikirkan hal itu dan memaksakan diri, berbaring di kasur seharian mungkin akan menjadi hal yang akan terjadi padanya besok.

Dia membuka pintu ruang seni, dan di dalam terdapat sosok yang selalu bersamanya.

“Iihh, kamu ke mana aja sih!?”

Sosok itu mendekat padanya dengan nada tinggi dan ekspresi marah.

Namun kemarahannya terhenti saat melihat kondisi Beni yang cukup parah. Matanya lumayan berat untuk terbuka, kulitnya pucat, dan tubuhnya juga tak tahan untuk membiarkannya terus berdiri.

“Aah, Dewi.”

 “H-hei, apa yang terjadi pada—hyaa~!”

Mereka berdua berdekatan, dan saat Rini menyentuh wajah Beni, tiba-tiba saja Beni menjatuhkan diri padanya. Jatuh mereka memang tak sakit—Rini sempat menghindar, dan saat itu Beni berada di dadanya—tetapi tetap saja membuat perasaan menjadi marah.

Rini hendak marah, tetapi kemarahannya terhenti saat sosok yang menimpanya kelihatan sangat lemas.

“H-hei, kau baik-baik saja!? Hei!”


Setelah cukup lama untuk mencari posisi yang bagus, akhirnya mereka bisa menjadi sedikit tenang. Rini duduk bersimpuh dengan di atas pahanya terdapat kepala dan sebagian punggung seseorang.

Hal itu mungkin bisa membuatnya mati jika saja ada orang lain yang melihat mereka, tetapi dia harus tetap melakukannya. Karena dalam ruang seni tak ada bantal atau sesuatu yang empuk, dalam kondisi seperti itu juga mereka tak bisa pergi ke ruang UKS yang cukup jauh jaraknya.

Sebab itulah, Rini tak memiliki pilihan lain, atau dia memang ingin mengharapkan hari di mana dia bisa memangku sosok yang dicintainya itu.

Dia menaruh kedua tangannya di dahi sosok yang dicintainya. Membiarkan rasa lelah menghilang yang memang takkan tersalurkan atau berpindah padanya.

Sosok itu memejamkan matanya beberapa saat yang lalu. Karena itulah dia juga tak tahu apa yang harus dilakukan selain menunggunya bangun. Lalu, di saat sosok itu beristirahat di bantalan yang memang tak terlalu empuk, tetapi tetap saja, bantalan itu terisi dengan kasih sayang yang mungkin saja bisa membuatnya bangun lebih cepat.

Di dalam ruangan yang hening. Suasana yang damai. Waktu yang sangat cocok untuk beristirahat. Rini yang melihat betapa lelahnya Beni juga merasa semakin mengantuk. 

Selang beberapa saat, akhirnya dia tak bisa menahan dan akhirnya menjatuhkan kepalanya ke depan.


Sesaat setelah dia memasuki ruangan, dia melihat ada seorang dewi penyelamat di depannya. Karena itu, tidak apalah untuk menyerahkan tubuh yang sudah diambang batas padanya.

Dan benar saja, tubuhnya yang tak berdaya melawan kejamnya dunia diperlakukan dengan sangat baik.

Dia merasakan bantalan yang tak cukup empuk, tetapi entah kenapa, bantalan itu terasa nyaman. Lalu saat dia hendak bangkit dan berusaha membuka mata, wajahnya terhalang sesuatu. Kemudian bibirnya menyentuh sesuatu yang lembut.


Hanya sebentar saja dia kehilangan pertahanan, sesuatu telah membangunkannya. Itu adalah Beni yang telah pulih. Namun, ada sesuatu yang sangat aneh, sesaat sebelum dia mengangkat kepalanya, bibirnya bersentuhan dengan sesuatu yang lembut.

“Aduduh...”

Keluhan itu berasal dari Beni yang telah bangkit dari pangkuannya.

“Hei.”

Rini sempat terlamun memikirkan hal yang terjadi sebelumnya. Persoalan tentang bersentuhan dengan apa bibirnya. Tetapi kesadarannya kembali saat Beni memanggilnya.

“Oi~!”

“...”

Setelah beberapa kali ditepuk kepalanya, akhirnya Rini kembali seperti biasanya.

“Berhenti lakukan itu!”

“Yah, soalnya kau bengong gitu sih. Oh iya, makasih.”

“Makasih...?”

Dikarenakan kejadian sebelumnya, Rini melupakan kalau Beni telah tumbang dan dia membantunya untuk pulih.

“Karena telah menjagaku sewaktu pingsan. Aduduh, aku gak bisa nyangka deh kalau aku terkapar sendirian tadi.”

Setelah Beni mengatakan itu, akhirnya Rini kembali mengingat kejadian sebelumnya. Kalau dia telah ketiduran, dan sepertinya juga dia ketiduran di atas dada dan tepat di atas wajah Beni.

“Aahh, ah!”

Beni mulai bangkit, berdiri dan mulai meregangkan tubuhnya. Terdengar beberapa bunyi khas tulang yang renggang saat dia meregangkan tubuh.

“Jadi, ayo kita pulang.”


Dalam perjalanan pulang, isi kepala Rini tak habis memikirkan tentang kejadian barusan. Kejadian yang menyangkut kepada apa yang bersentuhan dengan bibirnya sesaat setelah dia terbangun?

Pada saat dia kembali mengingatnya, Beni seperti telah menabrakkan wajah mereka berdua. Dan kemungkinan yang paling bisa dianggap sebagai apa yang telah terjadi saat itu adalah, sebuah ciuman.

Tanpa sengaja sepertinya Beni telah mencuri sebuah ciuman dari Rini. Namun hal yang lebih parah lagi adalah, seseorang yang telah mencuri hal yang berharga seperti itu tak menyadarinya.

Orang itu tetap berjalan dan bersikap seperti biasa padanya. Meskipun saat itu Rini sudah sangat merasakan gugup yang paling dalam.

“Hei!”

Orang itu—Beni tetap berperilaku seperti bagaimana biasanya.

“A-apa!?”

“...seharusnya aku yang bertanya. Ada apa denganmu sih, dari tadi bengong mulu.”

Bahkan dia juga tak mengetahui penyebab dari perasaan gugup yang dirasakan oleh Rini sekarang.

“Bu-bukan apa-apa!”

Dan untuk menghindari rasa gugup yang berlebihan, Rini mencoba untuk tak melakukan kontak secara langsung dengan Beni.

“Apa sih, tadi bengong, sekarang malah marah!?”

Untuk ke sekian kalinya, Beni sama sekali tak bisa memikirkan apa yang dia lakukan.

“I-itu semua gara-gara kau tahu!”

“-Eeh~, aku!”

Karena sudah tak tahan dengan sikap Beni, akhirnya Rini mencoba memarahinya. Meskipun begitu, Beni tetap tak bisa memahami tentang alasan apa Rini menjadi marah padanya.

“Kenapa aku? Memangnya apa yang sudah kulakukan terhadapmu?!”

“Gak usah sok ngedrama gitu deh.”

“Baik-baik, jadi, katakan saja, apa yang telah kuperbuat kepadamu sehingga membuatmu menjadi marah seperti ini?”

“Gak usah sok keren gitu juga.”

Beni mencoba untuk bertanya dengan sedikit melakukan drama, tetapi gagal. Dia juga mencoba untuk menjadi lebih keren, tetapi gagal. Mungkin saja apa yang coba dia lakukan nanti juga akan gagal.

Karena Rini yang sedang dalam mode sebal takkan mau tahu apapun yang akan dilakukan Beni. Bahkan untuk minta maaf sekalipun terasa lumayan berat.

Beni menjadi semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Karena itu dia akhirnya menyerah dan memilih untuk mendiamkan Rini.


Beberapa saat setelah Beni mendiamkan Rini, Rini menjadi tak nyaman dan mencoba memarahi Beni sekali lagi.

“Beginilah laki-laki, selalu tak peka terhadap perasaan perempuan.”

Hanya saja dia memarahi Beni dengan cara menyinggung secara tidak langsung. Meskipun begitu, singgungan itu benar-benar efektif untuk membuat Beni kembali mencoba meminta maaf sekali lagi.

“Huft, iya-iya, laki-laki itu semua bodoh karena tak bisa mengerti perasaan perempuan. Tapi tetap saja, kalian juga tak bisa memindahkan semua kesalahan kepada laki-laki karena keegoisan kalian.”

“A-apa katamu?!”

Beni berhasil menyerang balik dan membuat Rini berbalik untuk memertanyakan apa yang telah dikatakan Beni.

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, laki-laki itu bodoh karena tak tahu apa yang diinginkan perempuan. Tapi tetap saja, seorang manusia takkan tahu apa yang diinginkan oleh orang lain. Bahkan tak jarang mereka saja bingung dengan apa yang mereka inginkan sendiri. Seperti seorang ibu yang ingin membelikan anaknya sebuah mainan, tapi apakah benar itu pilihan yang tepat. Apakah anaknya benar-benar menginginkan sebuah mainan?”

Beni mengeluarkan semua hal yang sepertinya menjadi sumber kekesalannya.

“Jadi, sebelum itu kutanya kau lebih dulu, apa kau tahu apa yang sekarang sangat ingin kulakukan padamu?”

Beni mendekatkan wajahnya pada Rini, membuat Rini menjadi lebih gugup dari sebelumnya.

“K-kalau itu jangan tanya aku. Kau yang menginginkan hal itu jadi katakan sendiri.”

“Nah~! Kau sendiri yang bilang, jadi apa perkataanku tadi benar, kalian para perempuan hanya merasa egois dan tak ingin mengalah dengan para laki-laki meskipun kalian yang benar-benar salah.”

Rini menjadi sedikit terkejut dengan tingkah Beni yang lebih agresif kali ini.

Dan dia menjadi lebih gundah, apakah dia akan terus memarahi Beni dan membuatnya mengakui kesalahan yang memang tak diketahuinya.

“Tapi kali ini memang benar-benar salahmu.”

“Kalau begitu katakan dengan jelas, apa sebenarnya kesalahanku.”

Beni menjadi lebih agresif dari biasanya dalam menangani rasa kesal Rini. Membuat Rini menjadi sangat gugup apakah dia akan mengatakan alasannya atau tidak.

“Tidak.”

“Hmm...”

Rini mengatakan kata “Tidak” dengan volume yang sangat pelan. Membuat Beni tidak mendengar perkataannya.

“Kubilang sudah tidak apa-apa. Puas.”

“Apa kau yakin? Tak biasanya kau seperti ini, biasanya kau terus menyudutkanku sehingga membuatku harus meminta maaf berulang-ulang.”

“Kali ini pengecualian. Jadi kumaafkan.”

Pada akhirnya Rini tak berani untuk mengatakan alasannya. Dan membiarkan Beni lolos dalam kemarahannya kali ini.

“Syukurlah.”

“H-heii~!”

Beberapa saat setelah pertengkaran mereka selesai, Beni terjatuh ke depan. Rini dengan sigap menangkap tubuh yang tinggi itu, tetapi dia seperti tak merasa kesusahan dalam mengangkatnya.

“Tenagaku kembali terkuras karena bertengkar denganmu.”

“Masa begitu aja sudah membuatmu lemas lagi sih. Dasar, cowok loyo.”

Meskipun ejekan diberikan padanya, hal itu tetap tak mengurangi rasa kasih sayangnya kepada yang tercinta.