Episode 30 - Kembalinya Harga Diri?



Pertandingan telah berakhir.

Akan tetapi tak ada rasa senang sedikitpun di pihak yang menang. Mereka mengambil kembali barang-barang mereka dan keluar dari ruangan tanpa mengatakan maupun menoleh sedikitpun.

“Heleh-heleh, suasananya kok jadi begini toh ya.”

Bahkan si pengamat sekalipun mengherankan apa yang sedang terjadi.

Setelah empat orang murid XII TKJ keluar ruangan, si pengamat melompat ke bawah. Mengejutkan semua orang yang ada di ruangan.

Berbagai ekspresi terkejut pun banyak terlihat, tetapi selain itu banyak juga yang menyebutkan nama dari si pengamat dengan wajah terkejut.

“Bang Rino!!”

Salah satu yang sangat terkejut dengan kedatangan pengamat yang tiba-tiba itu adalah Arya.

Pengamat yang memiliki nama panggilan Rino tersebut, mendatangi Arya yang hendak kabur dari apa yang akan dia lakukan padanya.

Arya bangkit dan hendak kabur karena dia merasa kalau sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Namun Rino tak membiarkan hal itu, mengambil bola basket dan dilemparkan pada Arya. Bola terkena di kepala dan membuat Arya tersungkur.

Di saat orang-orang membicarakan tentang kedatangan salah satu sosok yang tersorot keberadaannya, Rino telah berada tepat di depan Arya.

Arya yang masih tersujud menengadah, masih belum sempat melihat ke atas, sebuah bogem mentah jatuh ke kepalanya.

“Aahh~!! Adudududuh!”

Pukulan yang kuat itu membuatnya berguling-guling merasakan kesakitan.

“Ya ampun, sekarang bagaimana aku akan melaporkan kejadian ini?”

Di sisi lain, Rino juga merasa takut dengan bagaimana dia akan menjelaskan apa yang telah terjadi pada Vian.

***

Di dalam kamar mandi pria yang berdekatan dengan wilayah khusus kegiatan keolahragaan.

Empat orang murid yang baru saja melakukan pertandingan dengan tim basket inti sedang membersihkan tubuh mereka. Pakaian kotor yang juga penuh dengan keringat digantikan sejenak dengan pakaian olahraga yang bisa dipinjam di bangunan tersebut.

Di luar kamar mandi Rian telah selesai membersihkan diri. Dia terlihat cukup lelah karena melakukan pertandingan yang mendadak tersebut. 

Sesaat sesudahnya Beni lalu Rasha keluar dengan pakaian olahraga mereka.

Mendekat ke depan kaca besar dan melihat keadaan mereka sendiri. Rasha mungkin masih bisa berdiri tegak, tetapi tidak bagi Beni yang jarang melakukan kegiatan berat. 

“Apa kalian baik-baik saja?”

Rian bertanya tanpa melihat ke arah dua temannya.

“Aku baik, tapi bagaimana denganmu, Beni? Di tengah pertandingan tadi kau sempat pingsan.”

“Ya, aku lumayan. Yang lebih penting lagi, bagaimana Bagas bisa mengetahui apa yang sedang kita lakukan?”

Rasha merasa masih baik. Beni juga sepertinya masih bisa menahan kelelahannya. Namun apa yang membuatnya bingung adalah, kedatangan Bagas yang bahkan apa yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu tak terencakan.

Di dalam salah satu kamar yang masih digunakan, terlihat seseorang masih berada di atas shower dan menundukkan kepalanya di depan dinding. Tak tahu ekspresi apa yang sedang dia buat, bahkan matanya tertutup oleh rambut yang cukup lebat.


Setelah langsung berganti pakaian, Bagas keluar dari ruangan. Di luar tak terlihat ada seorang pun. Dan tanpa basa-basi dia bersiap lalu keluar kamar mandi.

Setelah membuka pintu, dia melihat pemandangan di mana tiga teman sekelasnya menunggu di tempat duduk. Terlihat ekspresi lelah di wajah mereka. 

Namun Bagas tak ingin mengurusi hal itu dan langsung berniat untuk pergi.

“Bagas tunggu!”

Seseorang menghentikan langkah kakinya.

“Bagaimana kau bisa tahu, kalau kami sedang dalam kesuli—sedang dalam masalah?”

Bagas tak berniat menjawab ataupun berbalik menghadap ke arah Rian yang bertanya sesuatu padanya.

 Selain Rian, Beni dan Rasha juga mengetahui kalau hal itu akan terjadi. Di mana Bagas hanya akan membereskan masalah tanpa harus atau berkomunikasi dengan mereka. Dia hanya akan datang, mengamati, dan menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.

Tak dapat dipungkiri kalau dia juga terlihat tak peduli atau hanya tak ingin tahu tentang keadaan teman-temannya. Mungkin juga dia bisa mengetahui keadaan teman-temannya tanpa bertanya langsung kepada mereka.

Meskipun begitu, perasaan tiga orang temannya tetap bingung, hal mana yang sedang ada di pikiran Bagas sekarang.

“Apa kalian punya waktu sebentar?!”

Seseorang bertanya kepada mereka semua.

Tiga orang tak termasuk Bagas berbalik untuk melihat siapa yang menghampiri mereka.

Itu adalah Elang yang berbalut toga putih. Melihat ke arah empat orang muridnya dengan ekspresi khasnya—tersenyum dengan sedikit menunjukkan taring.

“Kalau ada bisa ikut aku sebentar?”

Tiba-tiba saja perasaan tiga muridnya—tak termasuk Bagas—terlihat sangat terkejut dengan ajakan Elang. Di dalam pikiran mereka pasti Elang telah tahu, apa yang beberapa waktu lalu telah terjadi.

Ketika mereka membuat sebuah masalah yang memang tak cukup besar, tetapi tetap saja hal itu mempertaruhkan nama jurusan mereka.

“Kau juga, Bagas!”

Elang hendak pergi, tiga orang muridnya—tak termasuk Bagas—mengikutinya. Namun sepertinya dia tetap ingin Bagas ikut bersama mereka. Bahkan di saat Bagas entah bagaimana menolak ajakan, Elang tetap menghadap ke punggungnya.

Elang tetap melakukan hal itu, sampai beberapa saat setelahnya Bagas akhirnya menyerah dan mengikuti permintaan Elang.

Elang berusaha berbalik lebih dulu, sehingga dia dan Bagas tak melakukan kontak mata. Ketiga murid lainnya menyadari ada hal aneh yang terjadi dengan Bagas dan Elang, sehingga berat untuk mereka mencairkan suasana.

Terutama saat mereka juga terjerat dalam masalah yang pastinya Elang akan turun tangan dalam menghadapi hal tersebut.


Beberapa saat kemudian.

Mereka memikirkan akan berada di ruangan di mana mereka akan ditanyakan banyak pertanyaan. Tetapi sebaliknya, mereka menemukan diri mereka berada di kantin. Kantin yang seluas setengah lapangan bola.

Berada dalam satu bangunan dengan kamar mandi umum.

“Ayo cari tempat duduk yang nyaman.”

Bahkan Elang mengajak mereka berempat untuk beristirahat di kantin.

Kantin penuh dengan anak-anak yang sedang bersantai, bercengkrama, dan banyak kegiatan lainnya. Dan hal itu dilakukan di posisi yang terlihat strategis.

Karena mereka datang untuk mencari ketenangan, akhirnya tempat duduk di pojok ruangan yang mereka tempati.

Empat orang—tak termasuk Bagas—berada di satu meja. Dan Bagas terlihat memilih meja yang berada dekat, namun membelakangi mereka.

Di pikiran tiga murid—tak termasuk Bagas—sekarang bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan guru mereka satu ini? 

Biasanya seorang guru akan menempatkan murid-murid bermasalah ke ruang bimbingan konseling ataupun ruangan di mana guru bisa menginterogasi murid-murid yang bermasalah.

Tetapi Elang tidak, dia malah mengajak anak-anak muridnya menuju kantin untuk beristirahat.

“Apa kalian tak ingin memesan sesuatu?”

Bahkan sekarang dia menawarkan tiga orang muridnya...

“Kau juga Bagas! Tenang saja, aku yang traktir.”

Empat orang muridnya untuk memesan sesuatu dan juga mentraktir mereka.

Seseorang yang paling bingung dengan hal yang terjadi saat itu adalah Rian, yang sangat jarang melihat kebaikan langsung dari guru sekaligus seorang saudara jauhnya.

“Rian, ada apa?”

“Enggak, aku cuma sangat heran sekarang.”

“Oi-oi tunggu dulu, apa kau sekarang sedang menguji kebaikanku?”

Rian menunjukkan rasa ketidakpercayaannya, dan karena dia yang telah terlalu sering melihat ekspresi bercanda dari gurunya itu, dia menjadi sedikit kurang percaya akan kebaikan gurunya yang sekarang.

“Kau jahat banget, adik dari kakak ipar. Walaupun aku memang terlihat becanda, bukannya perkataanku juga serius seperti biasanya.”

“Justru itu yang membuatku tak percaya tahu!”

“Ada apa, Rasha?”

Elang yang selesai melihat ketidakpercayaan Rian, berbalik melihat ke arah Rasha yang melihat ke arah gawai yang sedang dia pegang. Di dalam gawai terdapat layar yang menunjukkan menu-menu yang saat itu sedang ada di dalam kantin.

“Ehh, tidak.”

“Jadi, kenapa tak langsung memesan?”

“Tunggu, Rasha, apa kau udah tahu soal pesan memesan lewat menu di gawai itu?”

Rasha merasa kalau dia baik-baik saja. Elang juga tak mengetahui apa yang sedang ada di dalam pikirannya. Dan Rian lah yang mengetahui apa yang sedang Rasha alami; Ketidaktahuan akan apa-apa saja yang telah berubah.

“Y-ya, aku sudah hampir satu setengah tahun tak masuk ke sekolah. Dan saat aku masuk, telah banyak perubahan yang telah terjadi di sekolah.”

“Benarkah? Kupikir itu tak sebanyak yang kau pikirkan.”

Tak seperti Rasha, Elang yang selalu berada di sekolah hampir setiap tahun tak merasakan ada perubahan apapun.

“Ya iyalah, itu karena kau yang telah membuat banyak perubahan yang terjadi di sekolah ini.”

Dan saat itu, Rian lah yang bertugas untuk meluruskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Eh, Pak Elang yang telah membuat hal seperti ini?”

Rasha terlihat terkejut dengan kenyataan bahwa, Elang yang membawa revolusi bagi hampir seluruh sekolah. Contohnya saja kertas menu yang telah diubah menjadi gawai menu yang memang menggunakan banyak biaya, tetapi terobosan terbaru tersebut membuat produksi kertas sekolah menjadi berkurang. Bahkan gawai menu hanya membutuhkan charge agar bisa digunakan kembali.

Tergantung penggunaannya, jika penghuni sekolah tak menggunakannya secara kasar, gawai juga dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Tak hanya itu, sistem penjadwalan roster, monitoring pengajaran, dan beberapa lagi yang kau takkan percaya kalau semua terobosan itu dia lah yang melakukannya.”

“Walah, kok aku merasa sedang tak dipercayai telah melakukan hal yang hebat ya!”

Rasha telah mengerti hampir keseluruhan terhadap perubahan yang terjadi, dan dia kembali melihat ke arah gawai menu untuk mencari tahu pertanyaan apa lagi yang membuatnya ingin tahu. Setelah beberapa saat menggeser-geser layar, akhirnya dia mengetahui apa yang ingin dia tahu.

“Apa untuk melakukan semua perubahan itu, tak membuat bingung seisi sekolah. Apalagi sekolah kita baru saja menggunakan teknologi berbasis komputer? bukannya hal itu cukup sulit untuk diterima dan dimengerti oleh khalayak umum.”

“Pertanyaan yang sangat-sangat-sangat bagus!!!”

Elang merasa dijatuhi oleh tumpukan emas saat Rasha mengungkapkan pendapat yang cukup berat tersebut. Dia menggebrak meja, mendekatkan tubuhnya ke arah Rasha sambil menunjukan ekspresi berkilauan.

Rasha merasa sangat terkejut dengan perilaku gurunya yang bahkan sudah tak pernah lagi bertemu dengannya.

Setelah beberapa saat, Elang akhirnya berbalik dan merasa sangat bersyukur dengan pertanyaan Rasha sebelumnya.

“Yaa, maaf mengejutkanmu. Tapi baru kali ini, setelah semua perubahan yang telah kuperbuat, ada seseorang yang mau bertanya tentang akibat yang akan terjadi dengan perubahan yang sangat tiba-tiba ini.”