Episode 29 - Mahkota Kegagalan (Perebutan)



Si kapten meluncurkan pukulan yang cukup kuat dengan tenaganya yang besar. Namun yang dia pukul bukanlah tubuh, melainkan angin.

Seseorang meraih leher, menjegal kaki dan menariknya. Membuatnya tersungkur bersamaan dengan jatuhnya harga diri.

“Sudah-sudah, tenang sedikit. Soalnya aku ke sini bukan ingin berurusan dengan sampah sepertimu.”

Si kapten berusaha untuk bangkit, tetapi tekanan yang datang dari sekitar membuatnya tak berdaya. Karena dia telah menjatuhkan, melalaikan, dan membuang harga dirinya demi sebuah kemenangan bodoh.

“Hai, lama tak jumpa, Kak. Mm, atau aku harus menyebutmu, Senior.”

Seorang anak kelas satu, wajahnya terlihat sangat bersahabat. Meskipun hal itu hanya bisa dilihat dari luarnya saja, karena apa yang dia tunjukkan pada Bagas sekarang adalah, pernyataan perang. 

Penampakan luar hanyalah seperti anak-anak kelas satu biasa, seseorang yang tak biasa dengan suasana sekolah baru. Namun, Rian hanya menyadari itu saat dia baru berkenalan dengan anak tersebut kemarin di dalam kelas.

“Anak itu...!”

Bahkan si pemantau pertandingan sekalipun, dibuat terkejut—atau lebih tepatnya ada suatu hubungan antara si pemantau dengan si anak kelas satu yang berusaha menantang Bagas.

Memiliki nama depan Arya. Seorang yang kabarnya akan mendapatkan mahkota dan menduduki kursi ke-enam di kursi Para Pangeran dan Putri. Namun, dia menolak kesempatan itu karena suatu alasan.

“Oh iya, walaupun pertandingan ini bukanlah pertandingan resmi, bolehkah aku ikut bermain?”

Dia bertanya hal itu dengan wajah seperti adik kelas yang ramah. Tetapi tetap ada perasaan tak menyenangkan dari aura yang keluar dari tubuhnya.

“Bolehkan! Oke, kalau gitu kita lanjutkan saja pertandingannya.”

Karena dia tak mendapat jawaban dari siapapun, akhirnya dia sendiri yang memutuskan. Dia mengambil bola yang berada di tangan si pirang dengan perasaan menekan. Si pirang memberikan bolanya tanpa basa-basi karena dia tak ingin mendapat masalah dari seseorang yang dengan keberanian sejati menantang Bagas.

“Aku mulai, ya!”

Si pemantau kelihatan sangat geram dengan perilaku si anak kelas satu tersebut, tetapi apa daya, dia tak bisa menghentikan atau berbuat sesuatu dengan pertandingan.

Arya memulai permainannya. Mula-mula dia men-dribble bola, permainan yang cukup biasa, tetapi dari permainan biasa itulah yang membuat orang lain sangat terkejut dengannya.

Permainannya mirip seperti permainan Bagas, hanya saja kali ini dia berusaha untuk menambah tempo dari permainan yang sepertinya telah dia tiru atau dia pelajari tersebut.

Dia mulai maju dan dihadang oleh Bagas. Tempo permainannya dilakukan secepat mungkin, meskipun begitu Bagas masih bisa menghalanginya. Namun bola tak berada di tangan siapapun, dan memantul keluar dari lapangan.

Hal itu membuat seluruh orang yang melihat terkejut. Karena dua orang yang begitu kuat sedang berhadapan satu sama lain.


Permainan dimulai kembali dengan Bagas memegang bola.

Bagas maju dengan permainan yang berbeda. Kali ini dia melakukannya dengan serius, karena seseorang yang berhadapan dengannya bukanlah seseorang yang dapat diremehkan keberadaannya.

Dia maju dengan kecepatan yang tinggi. Meskipun begitu lawannya dapat mengimbangi, dan mencoba untuk merebut bola darinya. Tempo permainan itu cukup membingungkan untuk disaksikan. Dan hanya ada seseorang yang dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Bola terus dipantul-pantulkan tanpa henti. Gerakan setiap gerakan dilakukan secepat dan seefektif mungkin. Meskipun tak ada satupun yang bisa bergerak maju atau dibuat mundur.

Mereka akhirnya berhenti sejenak, memastikan yang lainnya bagaimana akan bergerak.

Dan saat salah satu telah membuat satu buah pergerakan, yang lainnya berusaha menghalangi. Arya berhasil menghalangi langkah Bagas, tetapi dia tak dapat menghalangi tangannya yang sedang berusaha untuk memasukkan bola.

Bola dilempar ke arah papan keranjang, memantul di gagang, dan masuk secara perlahan. 

Hal itu mengejutkan lawannya yang sejak tadi terus berhati-hati dengan pergerakan tangan dan kakinya, dan tak sempat mengoreksi pergerakan bola.


Permainan dimulai kembali.

Arya yang terlihat kesal saat memegang bola berusaha melakukan sesuatu. Dia melempar bola ke arah lantai dan membiarkannya memantul ke udara. Saat bola terjatuh, Bagas meraihnya dan menaruhnya ke dalam pertahanan—memegang dengan kedua tangan di dada.

Namun, dalam seketika sebuah tangan ingin meraihnya. Bola terebut oleh satu tangan dan perebut berusaha untuk melewati lawannya. Meskipun begitu, bahkan sebelum dia maju sebanyak dua langkah, dia menyadari kalau bola sudah tak ada lagi di tangannya.

Dan dua tangan sudah membuatnya terbang dan meluncur ke dalam keranjang.

Pada saat itu Arya tersadar, kalau dia bukanlah lawan yang bahkan tak bisa menandingi Bagas.


Permainan dimulai kembali.

Tetapi kali ini tim basket inti bermain secara keseluruhan. Arya mengoper ke si pirang selagi dia menghalangi Bagas. 

Si pirang maju dan berhadapan dengan Rian. Karena waktu sebelumnya dia hanya berdiri tanpa berbuat apa-apa, hal itu membuatnya terkejut dan sempat tak berdaya. Dia mencoba mengejar, namun tak sempat dan membiarkan si pirang mencetak angka.


Bola dibawa oleh tim TKJ.

Sesaat yang lalu aura yang membuat Rian dan Rasha tak bisa berbuat apa-apa tiba-tiba menghilang. Dan aura baru membuat mereka bisa bergerak.

Bagas maju dengan permainan yang sungguh-sungguh kali ini. Di depannya, sudah bersiap Arya yang menghadang. Bagas mencoba menghadapinya, namun bukan melewati atau mencetak angka yang coba dia lakukan.

Pada saat bola berada di tangan kanan—tangan kanan diayunkan ke belakang dan seketika bola telah berada di tangan Rian. Rian juga berada cukup dekat dengan ring, tanpa ada yang menjaga dia melancarkan tembakan masuk.

Tim basket inti tak menyangka kalau Bagas akan melakukan kerja sama—atau itu tak dapat terbilang kerja sama karena tak ada koordinasi sebelumnya. Jadi apa yang sebenarnya terjadi?

Rian juga mempertanyakan hal itu. Tetapi dia tak memiliki waktu untuk memikirkannya, karena yang terpenting adalah dia dapat bermain baik selagi Bagas berusaha mengandalkannya.


Bola bergantian dibawa oleh tim basket inti.

Arya merasa cukup kesal karena Bagas tak berusaha dengan kekuatannya sendiri dan kali ini dia menggunakan teman-temannya.

Dia maju dan Bagas berada di depannya. Dia mengoper ke rekan yang melawan Rasha satu lawan satu. 

Anggota tim inti yang tak banyak bicara itu—si pendiam—berusaha melewati Rasha. Terlihat kemampuan mereka cukup seimbang, jadi sedikit sulit untuk mencetak angka dari usaha sendiri. Jadi dia mengoper ke rekan pirangnya.

Tetapi bola tak sampai ke rekannya, dan malah berada di tangan Bagas. Saat itu Bagas juga tak berusaha maju dan dengan pesat malah mengoper ke depan, di mana tak ada seorangpun—di mana ada seseorang yang berlari ke sisi lapangan lawan.

Dia memegang bola, berlari kencang, dan melakukan slam dunk. 

Mengetahui hal itu, Arya menatap Bagas yang tak menatap balik dan malah mundur ke wilayahnya.


Permainan terus berlanjut.

Di mana bola tak hanya berada terus menerus di satu tangan. Operan demi operan dilakukan, terkadang operan sampai ke rekan, dan terkadang terebut dan membuahkan angka bagi tim lawan.

Perlawanan yang dilakukan oleh tim inti basket hanya akan berhasil di saat pertarungan satu lawan satu dilakukan. Tetapi hal itu hanya berhasil sesekali tanpa bisa dilakukan terus menerus.

Tim TKJ bukannya tak terkalahkan, hanya saja saat bola telah berada di tangan Bagas, dapat dipastikan mereka yang akan mendapatkan angka. Dan saat tim inti basket berhasil melewati lawan mereka masing-masing, poin dapat mereka raih.

Hal itu seperti, satu lawan tiga, tiga orang pemain tim basket inti melawan satu orang tim TKJ. 

“Satu orang itu bukanlah Bagas, atau yang lainnya. Tapi, alur pertandingan ini terlihat seperti itu. Satu orang pemain takkan bisa mengalahkan Bagas, tapi Bagas juga tak bisa melawan serangan balasan. Permainan yang cukup membuat pusing saat dipikirkan.”

Bahkan si pemantau saja tak dapat menguraikan apa yang sebenarnya terjadi dengan pertandingan tersebut.


[88 : 85]

Sedikit lagi mencapai titik temu dengan akhir pertandingan. 

Tim TKJ memimpin dengan tiga angka. Meskipun begitu, tim basket inti—Arya terlihat telah menemukan cara untuk menghadapi tim TKJ—Bagas.


Bola dipegang oleh Arya, dia maju dan mengoper ke si pirang. Si pirang tak terlihat akan membawa bola saat Arya telah berhasil melewati Bagas. Bola dikembalikan ke Arya, dan pada saat itu, posisinya berada di punggung sebelah kiri Bagas.

Bola berada padanya, tetapi dia tak terlihat akan maju dan hanya akan menghalangi gerakan Bagas. Dia sedikit mendorong tubuh Bagas, setelah itu dia melompat dan melakukan tembakan masuk.


[88 : 88]

Tim basket inti terlihat berhasil mengejar ketertinggalan. 

Waktunya tim TKJ melakukan serangan balasan.

Bola dipegang oleh Bagas, dan pola pertahanan tim basket inti terlihat sangat berhati-hati dengan gerakan Bagas.

Bagas maju sendirian, Arya terkejut dengan hal itu. Bagas mencoba melewatinya, dan dia dibuat bingung dengan apa yang akan dilakukan Bagas selanjutnya.

Lalu pada saat dia berusaha untuk merebut bola, tangan kanannya menuju ke sisi belakang. Mencoba melakukan lemparan dari jarak sejauh itu, Arya tak mengerti apa yang dia lakukan. Dan pada saat bola dilemparkan, bola membentur papan dan takkan terlihat akan masuk ke dalam jaring.

Namun itulah yang sebenarnya dilakukan oleh Bagas. Karena di udara, ada seseorang yang menunggu datangnya bola. Bola ditangkap dan dimasukkan ke dalam keranjang.


[90 : 88]

Rencana yang benar-benar tak dapat terpikirkan. Tetapi itulah kenyataannya, Arya tak dapat memungkiri hal itu dan mencoba melakukan serangan balasan.

Dia—tim inti berhasil mencetak dua angka.

Terus menerus dan tak ada yang mencoba untuk bertahan. Tetapi tak ada satupun tim yang bisa mencetak tiga angka.

Dan pada saat tim TKJ berhasil mencetak dua angka untuk yang ke sekian kalinya, pertandingan telah berakhir dengan skor [100 : 98]


Tak ada yang percaya dengan berakhirnya pertandingan, bahkan untuk Rian dan Rasha sekalipun.

Keringat telah membasahi seluruh seisi lapangan dan baju para pemain. Bola sudah cukup dibuat kewalahan dengan permainan kedua tim. Para penonton ada yang membuka mulutnya karena tak percaya.

“Akhirnya berakhir juga.”

Dan hanya ada satu—dua orang yang dapat tenang dengan suasana itu. Si pemantau yang terlihat lega, dan Bagas yang tak tahu antara tak peduli atau hanya tak ingin terlalu memikirkan hasil akhir.

Rian dan Rasha tersadar saat Bagas telah keluar lapangan. Beni saat itu juga telah tersadar dari pingsan.

“Loh, apa yang.. terjadi?”

Dia memegang kepalanya, dan melihat ke sekitar yang mana suasananya sedikit aneh. Lalu dalam sekejap, dia menyadari kalau papan angka menunjukkan kemenangan ada di tim TKJ—kelasnya.

“Apa kita... menang?”