Episode 28 - Mahkota Kegagalan (2)



Seorang yang diminta Vian untuk memantau pergerakan Bagas, sekarang sedang menyaksikan pertandingan basket antar tim bola basket sekolah dengan tiga orang murid kelas XII TKJ.

“Kau sudah berkembang lumayan pesat, kapten divisi kedua. Tapi, hal itu tak menutup kemungkinan kalau kalian akan kalah.”

Dia juga telah melakukan penilaian terhadap permainan Rasha yang setara dengan pemain basket inti. Meskipun begitu, kenyataan kalau keseimbangan permainan menjadi goyah ketika pemain basket inti yang melawan mereka, membuat perjuangan dilakukan sebanyak dua kali lipat agar permainan menjadi seimbang.

Namun, hal itu tak bisa dipertahankan lama karena perbedaan kekuatan fisik antara kedua tim berbeda.

“Wah, si cowok tampan sudah tumbang.”

Saat itu Beni telah terjatuh karena tak kuat dalam melanjutkan pertandingan.

“Jadi, siapa yang akan menggantikannya...”

Dia berdiri menyaksikan pertandingan di podium atas bangunan. Keberadaannya seharusnya menjadi pusat perhatian, karena dia juga termasuk seseorang yang penting dalam sekolah. Tetapi dia menyembunyikan hawa keberadaannya agar pemantauannya berjalan dengan lancar.

Saat dia berpikir kalau tim TKJ akan tamat, dia menyadari keberadaan kuat seseorang di salah satu pintu bangunan. Meskipun begitu, hawa keberadaannya begitu halus sehingga hanya beberapa orang saja yang bisa merasakannya.

“Sepertinya keadaannya akan berbanding terbalik dari sebelumnya. Tapi, aku takkan menyangkal kalau masalah akan menjadi lebih besar dengan kedatangan biang masalah.”

***

Seseorang sedang berdiri di depan pintu bangunan. Menyaksikan hampir seluruh pertandingan, dan keberadaannya baru disadari setelah seseorang dari tim TKJ tumbang karena terlalu berlebihan dalam menggunakan kekuatan tubuhnya.

“Bagas.”

Seorang yang Rian tak ingin dia ikut campur dalam masalah yang mereka buat, sekarang sedang berjalan dan mendekat pada mereka bertiga. Menatap mereka dengan tatapan dingin yang dapat menusuk.

Setelah melihat keadaan Beni yang cukup menghiraukan, Bagas bergantian menatap Rasha yang cemas dengan cara Bagas melihatnya. Dia pun memalingkan wajah karena tak ingin melihat mata yang menatap marah kepadanya.

“Aku tahu kami tak seharusnya melakukan ini, tapi...”

Rian tak bisa melanjutkan perkataannya setelah Bagas bergantian menatapnya. Namun, dia mencoba menguatkan diri dan menetapkan tekadnya.

“Tapi harga diri TKJ dipertaruhkan dalam pertandingan ini.”

Rian membalas tatapan dingin Bagas dengan tatapan penuh tekadnya.

Bagas mulai melakukan sesuatu dengan sikapnya yang tak dapat terbaca, melonggarkan pakaiannya yang membuat orang-orang terkejut dengan perilakunya.

Setelah itu dia masuk ke dalam lapangan, mengambil bola dan menghadap ke tim lawan.

“Kenapa? Apa pergantian pemain juga harus dilakukan secara formal dalam permainan ini?”


Setelah menolong Beni dan menidurkannya di pinggir lapangan, permainan kembali dimulai.

[53 : 67]

Tim basket inti unggul 14 angka dari tim TKJ. Namun, sepertinya keadaan akan berbanding terbalik sekarang. Itu karena salah satu dari beberapa murid yang harus diwaspadai pergerakannya berada di dalam lapangan sekarang.

Tak ada yang tahu apa motifnya dalam mengikuti pertandingan. Apakah melakukan balas dendam? Tak ingin kehilangan harga diri? Atau hanya ingin melakukannya dengan kesenangan?

“Apa sebenarnya yang membuatmu tergerak untuk mengikuti pertandingan ini, Pemilik Mahkota Kegagalan.”

Tak ada yang benar-benar bisa menebak. Bahkan untuk si pemantau pertandingan sekalipun.


Permainan dimulai dengan bola berada di tangan Bagas. 

Tim lawan menjadi sangat berhati-hati dengan keikutsertaannya, maju dengan gerakan dribble biasa. Tak berlari, maupun berniat untuk menyerang. Dia hanya berjalan dengan melakukan dribble yang penuh dengan celah.

Meskipun begitu, tak ada yang benar-benar tahu apa yang dia pikirkan. Seperti apa permainannya. Dan hanyalah Rasha, yang cukup sering bermain dengan Bagas.

Bagas maju sendirian, sedangkan Rasha mengisyaratkan Rian untuk hanya berdiri di tempat. Rian tak mengerti apa maksudnya, meskipun begitu, apa yang dikatakan Rasha cukup ada benarnya. Karena entah bagaimana, ada sesuatu yang membuat Rian tak bisa bergerak dari tempatnya.

Hal itu seperti dia hanya harus berdiri di situ dan tak melakukan apapun.

Tim lawan juga mengherankan hal tersebut, tetapi serangan balasan itu cukup membuat remeh tim inti.

Si raksasa maju untuk menghadapi Bagas. Bagas masih dalam posisi sebelumnya. Berjalan biasa dengan men-dribble bola. Permainan yang memiliki banyak celah.

Si raksasa sudah berada dekat dengan Bagas, dan dia berusaha menggapai bola. Namun, sesuatu terjadi sangat tiba-tiba, yang membuatnya hampir tersungkur ke depan. Sedangkan, Bagas telah melewatinya dengan mudah.

Kedua temannya berusaha untuk tak goyah dengan trik yang digunakan. Mereka berusaha menyerang bersamaan, namun, sama seperti kasus temannya. Tetapi kali ini sedikit berbeda, mereka hanya ingin mengincar bola di saat permainan yang dilakukan penuh dengan celah.

Dan apa yang terjadi dengan mereka adalah, bertubrukan satu sama lain. Sedangkan Bagas telah melewati mereka. 

Bagas telah berada 5 meter dari ring, dan dia berhenti men-dribble. Tangan kanan yang memegang bola diarahkan ke atas, lalu dengan santainya dia melambungkan bola dan mengarahkannya ke papan ring.

Bola berbenturan dengan papan, sangat pelan dan membuatnya berada di sisi pegangan ring. Bergulir di atasnya sampai masuk ke dalam keranjang.

Permainan yang sangat tak bisa dipercaya. Membuat terkejut seisi ruangan, bahkan untuk teman satu timnya sendiri.

Ruangan seketika menjadi senyap, karena ketidakpercayaan dari permainan yang dilakukan oleh pemain yang baru saja melewati tiga orang tim lawan dengan mudahnya.

“Mengalihkan perhatian lawan dengan memfokuskan pandangan mereka dengan permainan yang penuh dengan celah. Membuat mereka lengah saat berusaha meraih bola dan hal itu dimanfaatkan untuk membuat mereka terjatuh. Sungguh, dua bersaudara yang mengerikan. Tapi, kayanya aku juga harus mengikutsertakan yang tertua.”

Si pemantau berusaha mengkaji apa yang dilakukan Bagas barusan. Tetapi tetap saja, hal itu cukup tak bisa dipercaya dapat dilakukan.

Bagas telah kembali ke posisinya. Tim lawan berusaha tak jatuh mentalnya karena permainan barusan dan berusaha kembali membalas.

Bola di bawa oleh si pirang dan dia berusaha melewati Bagas yang kali ini menggunakan posisi bertahan. Dia melakukan dribble tipuan untuk melewatinya, tetapi saat dia sudah melewati Bagas, bola sudah tak ada di tangannya.

Dia berhenti dan melihat dua temannya sudah kembali dikalahkan. 

Hal itu terus menerus terjadi sampai angka di poin pertandingan menunjukkan [70 : 63]. Tim TKJ membalikkan keadaan dengan tanpa membiarkan tim inti membuat perlawanan, atau bisa dikatakan, kalau Bagas tak membiarkan hal itu terjadi.

Tim inti sudah kelihatan tak memiliki kekuatan untuk dapat membalikkan keadaan. Di saat itulah, seseorang yang juga sedang memantau keadaan mulai keluar. Itu bukanlah pemantau yang dikirim Vian, melainkan kapten dari tim inti.

“Sudah cukup, aku mulai muak dengan pertandingan yang setengah-setengah ini!”

Hal itu dia ucapkan sembari keluar dari tempat persembunyiannya.

“Hendrik, keluarlah. Aku yang akan menggantikanmu.”

Si kapten dengan seenaknya memasuki lapangan dan mengusir salah satu anggotanya yang bertubuh raksasa. Anggota timnya itu menuruti perkataannya dengan perasaan cukup menyesal karena tak bisa menghentikan permainan Bagas.

“Apa kau tak keberatan?!”

“...”

“Baguslah kalau begitu.”

Bagas tak menjawab pertanyaan yang cukup keras dari si kapten. Hal itu mengartikan kalau Bagas membiarkan si kapten berbuat seenaknya dan membiarkan dia bermain.


Permainan kembali dilanjutkan.

Bola dipegang oleh si kapten, dan dia sekarang tengah berhadapan dengan Bagas. Saat tim lawan menyerang, Bagas melakukan posisi bertahan. 

Si kapten terus maju tanpa menghiraukan halangannya. Seperti sengaja untuk berusaha menabrak Bagas. Bagas tak melawan dan membiarkannya lewat, di saat sisi bola sama dengannya.

Si kapten sudah mengetahui trik dari permainan Bagas, dan saat dia melewatinya, dia sudah tahu kalau bola sudah direbut. Jadi, dia bergerak kembali dengan cepat untuk melancarkan serangan. Tetapi, Bagas tak berada di posisinya menghadap dan malah berada di sebelahnya sedang melakukan tembakan dari luar.

Bola masuk dengan sedikit terpantul di atas. 

Hal itu tentu saja membuat si kapten yang sudah merencanakan tindakan pencegahan dalam permainan Bagas menjadi kesal. 


Bola dipegang oleh si kapten. Namun, ada hal yang sangat salah dengan tindakannya. Dia mengoper bola ke tim yang sedang dia lawan sekarang.

“Aku menantangmu.”

Si kapten mengucapkan itu dengan nada menantang pada Bagas.

Bagas tak ingin mempermasalahkan tindakan si kapten dan mengambil bola. Memainkan permainan yang seperti sebelumnya. Si kapten sudah memikirkan itu dan berusaha melawan.

Tetapi saat Bagas melakukan triknya, si kapten malah dengan sengaja menubruknya. 

Di tengah-tengah permainannya, Bagas menghentikan tangannya karena merasa sangat tersinggung dengan permainan si kapten.

“Maaf, tapi, apa kita juga butuh peraturan dalam pertandingan tidak resmi ini.”

Si kapten yang sudah jelas-jelas melakukan kesalahan, tak menganggap kalau apa yang baru saja dia lakukan itu salah dan membalikkan kenyataan dengan menyangkutpautkan pertandingan mendadak yang mereka mainkan.

Bagas tak diketahui sedang memikirkan apa dan apa yang sedang dia rasakan sekarang. Tetapi, sepertinya dia tak mempermasalahkan apa yang dilakukan si kapten.

“Woi..!!”

“-Rian tenanglah!”

Rian merasa sangat tersinggung dengan hal itu. Namun sekali lagi Rasha berusaha membuatnya berhenti melakukan hal yang tidak perlu.

“Apa maksudmu?! Walaupun pertandingan ini tak resmi, tapi kan...”

“Tenanglah sebentar. Apa kau tak berpikir siapa yang sedang ditantang oleh Ryo sekarang, itu adalah Bagas. Meskipun dia pemain andalan tim basket sekalipun, dihadapan Bagas dia seperti tak ada apa-apanya. Bukan karena permainannya yang buruk, tapi dari tindakan dari permainan yang dia lakukan.”


Permainan kembali dilanjutkan meskipun masalah sebelumnya tak membuat seseorang tenang.

Bagas kembali maju menyerang di saat si kapten juga mencoba melakukan hal yang sama. Berusaha mencelakai Bagas di saat dia bisa membalikkan keadaan.

Namun, sekali dia mencoba, tak akan ada lagi kesempatan kedua.

Kali ini Bagas melakukan pergerakan yang lebih banyak dari biasanya. Membuat lawannya kewalahan, bahkan untuk berusaha mencelakainya. Sampai saat malah Bagas yang membuat lawannya mencelakai dirinya sendiri.

Saat si kapten berusaha merebut bola, sekaligus mencari kesempatan untuk mencelakai, dia malah terkena siku Bagas.

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Bagas, dan dia melakukan tembakan dengan tubuh terbalik.

Si kapten terkena serangan tak sengaja yang telak di hidung. Membuatnya sedikit berdarah dan amarah memuncak di kepalanya.

“Brengsek!!”

Setelah mengetahui kalau ada darah yang keluar dari hidungnya, dia bangkit dan berusaha untuk membalas. Tetapi, tindakannya terhenti saat tawa keras seseorang memenuhi ruangan.

“Haha, hahaha, hahahahah~! Ahahahaha~! Bego banget sih!!”

Ejekan itu ditujukan kepada si kapten.

“Apa katamu!!?”

“Bego banget sih!!”

Suara itu berasal dari seseorang yang berada di belakang kerumunan. Kerumunan yang mengetahui kalau ada seseorang di belakang mereka segera menyingkir. 

Di situ terduduk siluet seorang anak laki-laki, dilihat dari pakaiannya, itu adalah pakaian anak kelas satu. Tubuhnya cukup kecil, bahkan sedikit lebih kecil dari Rasha.

“Bocah!!”

Si kapten yang sedang tersulut amarah mengalihkan perhatiannya dari Bagas kepada si anak kelas satu. Dia berjalan dengan amarah yang memuncak, dan si anak kelas satu juga berjalan menghampiri.

Si kapten yang sudah dekat dengan si anak kelas satu menaikkan tangannya, berusaha untuk memukul. Tetapi, tanpa mengetahui apapun, dia memukul udara dan sesuatu membuatnya tersungkur.

Si anak kelas satu berada di sebelahnya, berdiri tegak tanpa terluka sedikitpun.

“Sudah-sudah, tenang sedikit. Soalnya aku ke sini bukan ingin berurusan dengan sampah sepertimu.”