Episode 27 - Mahkota Kegagalan (1)



“Sepertinya sebentar lagi akan terjadi masalah yang akan melibatkan adikmu, Vian.”

Di dalam ruang yang digunakan untuk kepentingan pekerjaan satu orang, yang juga berisi banyak sekali wayang. Vian sedang bermain-main dengan wayang, di saat siluet yang ada di sisi kanan bicara padanya.

“Lalu?”

“Apa kau tak ingin melihatnya?”

“Untuk apa?”

“Ya ampun, kalian pengidap sindrom Asperger juga kadang-kadang bisa bikin kesal, ya. Tentu saja karena dia adikmu, bukan?”

Vian menghentikan kegiatannya, dan dia melirik sedikit ke arah teman bicaranya yang memiliki ciri-ciri berambut perak.

Temannya menjadi terganggu karena lirikannya, tetapi dia tahu apa maksud dari Vian.

“Pertama, kau salah menyebutkan kalau dia adalah adikku. Memang kami bersaudara, tapi kami lebih tepat dipanggil sepupu daripada kakak adik.”

“Memangnya apa salahnya dengan itu?”

“Tentu saja, seperti yang tertulis dalam pasal 310 KUH pidana yang menuntut tentang pencemaran nama baik. Barangsiapa-”

“Tunggu-tunggu—baik, aku mengerti, kalian adalah sepupu! Setelah itu, apa aku yang harus memantaunya untukmu?”

“Kupercayakan padamu.”

“Huhh, baik-baik. Terserah kau saja.”

“Sebelumnya terima kasih.”

***

Aura kemurkaan yang sangat tak biasa. Bahkan sangat jarang terlihat keluar dari sisi Rian.

Mendengar kalau kelas yang dia perjuangkan dan dia banggakan menjadi bahan ejekan bagi orang-orang yang tak mengerti penderitaan mereka. Menjadikan Rian merasa sangat ingin membuat orang-orang itu menelan kembali kata-katanya.

Namun, di sisi lain itu seperti sebuah tombak dalam perisai. Jika mereka berhasil menghancurkan perisanya, maka tombak akan menunggu untuk menusuk mereka.

Dengan kata lain, mereka berada dalam perangkap orang-orang yang ingin menjatuhkan harga diri mereka. Meskipun begitu, hal tersebut tak bisa dibiarkan dan membuat mereka bergerak dalam emosi.


“Baiklah, 100 poin tanpa batasan waktu.”

Itu adalah peraturan yang ditetapkan oleh si penantang. Walaupun seharusnya pihak yang ditantang lah yang harusnya menentukan peraturannya. Tetapi Rian tak merasa keberatan, dan juga dia merasa kalau pilihan itu tak seburuk yang dipikirkan.

Karena jika dipikirkan, mereka sedang berada dalam 3 lawan 3 dengan tim bola basket. Meskipun yang mereka lawan bukanlah tim inti, tetap saja posisi mereka sedikit tak diuntungkan.

Bukan hanya karena kemampuan bermain, namun juga dalam kemampuan fisik mereka sedikit tak diuntungkan. Apalagi mereka hanya memakai pakaian baju yang mereka pakai sebelum baju sekolah, dan masih memakai celana dan sepatu sekolah.

“Bagaimana, keberatan?”

Seorang dari pihak lawan bertanya tentang peraturan yang mereka buat.

“Tidak. Kami juga berpikir itu adalah keputusan yang tepat mengenai pertandingan singkat ini.”

Rasha yang membalas, sedangkan Rian masih menahan kemarahannya dan mencoba untuk mengalihkannya dengan permainan basket kali ini.


Permainan dimulai dengan isyarat peluit. Bola dilambungkan ke atas dan Beni berhadapan dengan pemain lawan yang memiliki tinggi setara dengannya.

Sekali lagi, karena persiapan yang kurang mereka kalah di awal pertandingan. Bola terebut dan dioper, pihak lawan mulai melancarkan serangan.

Tim TKJ berusaha menahan, namun tetap kehilangan dua poin.

Mereka mulai melakukan serangan balasan, Rian yang bergerak sebagai menara pemantau, Rasha yang merupakan anggota tim yang juga seorang kapten menjadi penyerang. Sedangkan, dengan tinggi dan fisiknya yang besar, Beni menjadi penjaga tengah.

Bola dioper, Beni sekali lagi berhadapan dengan lawan pertamanya. Cukup sulit untuk melewati, jadi dia tak memiliki pilihan lain selain mengembalikan bola. Rian yang bergantian memegang bola, melawan seorang yang terlihat percaya diri dengan kemampuannya.

“Bagaimana, kalian masih punya kesempatan untuk menyerah, kok.”

Sebuah perkataan yang menyulut emosi, membuat pikiran Rian menjadi kesal. Tetapi dia tak cukup bodoh untuk membalas perkataan lawannya, dan dia menggunakan kesempatan itu untuk menyerang.


Di posisi yang cukup dekat dengan keranjang. 

Rian hendak maju dan melewati lawannya. Lawannya berusaha menghadang, tetapi Rian melakukan itu hanya sebagai pengalih. Dia bergerak mundur dengan cepat, melompat dan melakukan posisi menembak dari luar.

Lawannya terlalu lambat menyadari aksinya, sampai bola masuk ke dalam keranjang dengan sempurna.

“Kukatakan satu hal padamu. Jangan pernah sekalipun meremehkan lawan yang kau tantang.”

Setelah membalas perkataan lawan dengan sebuah angka yang membuat mereka unggul satu angka, Rian juga mengembalikan perkataan lawannya dengan perasaan yang cukup tenang. Lawannya menjadi kesal karena perilaku Rian barusan.


Pertandingan kembali berjalan. Kedua pihak terus berusaha untuk menekan keunggulan. Terkadang satu angka untuk tim TKJ, terkadang tiga atau empat angka untuk tim basket yang unggul.

Meskipun terkadang berselisih cukup banyak, mereka terus bisa mengejar dan membuat tim basket yang memiliki persiapan lebih matang kesal. Hingga akhirnya poin menunjukkan 25 : 25.

Poin yang sama dan bisa membuat harga diri tim basket jatuh. 


Rasha membawa bola, dia melakukan dribble yang membingungkan lawan dan membuatnya bisa mencapai titik di mana dia bisa mencetak angka.

Pihak lawan terus dibuat kesal. Membuat permainan mereka penuh dengan emosi dan lebih mementingkan diri sendiri. 

Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh tim TKJ. Mereka yang berhasil bermain dengan lebih tenang terus menerus merebut bola dan poin dari lawan.

Sampai akhirnya poin menunjukkan angka 40 : 25 yang membuat tim lawan tak bisa lagi mengejar mereka.

Kenyataan itu otomatis membuat pihak lawan—yang bukan hanya sedang melawan mereka menjadi panas pikirannya.


Meskipun begitu, permainan akan terus berlanjut. 

Beni membawa bola, dioper ke Rasha yang sedang tak dalam penjagaan. Rasha maju ke depan, tetapi tiba-tiba saja ada seseorang yang menghadangnya. Rasha tak merasa takut dan terus maju dengan mengandalkan teknik dribble-nya.

Lawan yang menghadang—yang memiliki tinggi lebih unggul darinya—berhasil dilewati dan membuat Rasha dapat memasukkan bola.

“Yah, seperti yang diduga dari kapten divisi kedua. Kemampuannya bahkan menjadi lebih hebat dari sebelumnya.”

Lawan yang baru saja dilewati oleh Rasha mengatakan itu seolah dia kagum dengan sosoknya.

Tetapi, ada yang salah dengan pertandingan itu. Rasha mengetahuinya setelah melihat lawan yang baru saja dia lewati. 

Tubuh besar dengan kulit kehitaman. Itu adalah pemain inti di divisi pertama tim basket sekolah. Seorang dengan kemampuan pertahanannya yang kuat.

“Woi, apa maksud kalian?!!”

Rian memprotes permainan yang tak seimbang dengan 3 lawan 4 barusan.

“Tenang saja, barusan aku membiarkannya lewat bukan. Jadi tak masalah kalau aku masuk begitu saja.”

“Apa yang kau maksud tak masalah?!”

Rian benar-benar menjadi emosi setelah sikap tenang yang diberikan pemain dengan tubuh raksasa itu. 

“Apa yang kalian inginkan sekarang?”

“Apa yang kami inginkan?”

Seseorang tiba-tiba saja menyambung perkataan Rasha dari belakang. Rasha dengan reflek cepat menghindari sosok yang akan menyentuhnya.

“Hei-hei, bukannya itu hal yang menyakitkan. Menghindar padahal aku hanya ingin memelukmu.”

Itu adalah seorang dengan rambut yang dicat pirang. Dengan ciri khas dari ekspresinya yang menganggap hal apapun adalah mudah.

Di belakang sosok itu juga terdapat satu orang lagi yang merupakan pemain inti dari tim basket sekolah. Sosok yang biasa, meskipun begitu takkan lagi dianggap biasa saja setelah menyentuh bola basket, seperti itulah dia.

“Maaf, tapi permainan bermain-mainnya sudah selesai. Anak-anak, kalian bisa keluar sekarang.”

“HA-!! Apa maksud kalian!!?”

Rian kembali tersulut emosinya setelah lawan yang mengecat rambutnya mengusir lawan yang meladeni mereka barusan.

“Tenanglah. Kami hanya ingin menyelesaikan permasalahan yang telah dibuat oleh adik kelas kami. Untuk itu, kamilah lawan kalian sekarang.”

“Tunggu dulu, bukannya ini tak adil. Kami sudah bermain sejak awal dan kalian dengan enaknya masuk begitu saja untuk mengincar kemenangan.”

Rasha juga terlihat tak terima dengan keputusan sepihak yang diambil oleh tim lawan.

“Bagaimana kalau begini, kami akan memberikan 15 poin dengan masing-masing dari kami 5 angka untuk kalian. Bagaimana?”

Si pemilik tubuh raksasa memberikan penawaran yang cukup bagus. Meskipun begitu, kata ‘tak adil’ masihlah tersangkut dalam masalah itu.

“Tidak, kami akan melawan kalian dengan angka yang ada. Dengan begitu kata adil masih berlaku.”

Rian tak menerima penawaran dan berusaha untuk melanjutkan permainan dengan keadaan mereka sekarang.

“Baiklah kalau itu mau kalian. Tapi tetap saja ini tak adil.”

“Sudah kukatakan tidak perlu.”

Si pemilik tubuh raksasa berusaha untuk mengubah angka dikertas poin secara langsung, tetapi Rian datang dan menghentikannya dengan amarah yang lagi-lagi tersulut.

“Aku tak ingin kalau kau menyesali tindakanmu kali ini.”

“Lebih baik aku mati daripada tak melakukannya!”


Permainan dimulai kembali.

Kali ini lawan yang akan dihadapi Beni adalah si pemilik tubuh raksasa. Rian dengan si pirang, dan Rasha melawan seorang yang memiliki tinggi hampir sama dengannya—rata-rata.

Alur yang dipegang oleh tim lawan menjadi lebih cepat daripada sebelumnya. Poin dengan cepatnya dicetak dan bola dengan pesatnya masuk ke dalam keranjang.

Keseimbangan permainan hancur akibat di masing-masing pihak tak ada yang berusaha melakukan pertahanan. 

Semua orang berusaha menyerang. Namun, karena tim TKJ sudah sejak awal bermain. Akhirnya alur permainan yang tak seimbang mulai terlihat. Terutama di saat seseorang yang jarang melakukan kegiatan berat seperti Beni terus menerus memompa otot dan kekuatannya. Menjadikannya lemas sebelum mereka dapat kembali merebut angka.

[53 : 65]

Dalam hal kemampuan mungkin saja mereka dapat mengimbangi. Tetapi dalam hal ketahanan tubuh tentu saja perbedaannya jelas terlihat. 

Dari pihak TKJ, hanya Rasha yang masih terlihat bisa meneruskan pertandingan sampai akhir. Sedangkan, untuk mereka yang harus berusaha keras mengimbangi lawannya, hal itu cukup mustahil untuk dilakukan.

Rasha tahu hal itu, dan dia merasa kalau keadaan mereka mulai memburuk.

“Loh, gimana? Udah gak tahan?”

Si pirang melontarkan ejekan kepada Rian, lawan yang berhadapan satu lawan satu dengannya.

“Jangan senang dulu.”

Rian sekali lagi hendak melakukan trik andalannya. Menipu lawan dan melakukan tembakan.

Namun, triknya itu kali ini tak berhasil dan lawannya dapat menghalau tembakannya. 

Bola berhasil direbut. Rian bisa mengejar dan menghadang. Lawannya terlihat akan melakukan trik yang sama dengannya. Tetapi terdapat perbedaan cukup besar di dalam trik yang dilakukan lawannya.

Lawannya melakukan tipuan yang lebih halus daripada yang dia lakukan. Membuat Rian masuk ke dalam tipuannya dan lawan berhasil memasukkan bola.

“Pertama kuberitahu, aku bukanlah lawan yang bisa kau kalahkan. Di dalam lapangan tentunya, tapi kalau di luar, siapa yang tahu.”

Rian menjadi kesal akibat provokasi lawannya barusan.

“Woi, ada yang jatuh tuh!”

Seketika keributan mulai terdengar dan hal itu menjadi pokok pembicaraan.

Rian berbalik dan melihat temannya telah terkapar. Itu adalah Beni yang tubuhnya terlihat pucat.

Rian dengan cepat berlari untuk memastikan keadaan Beni. Di situ juga ada lawan yang memiliki tubuh raksasa.

“Sepertinya dia tak bisa lagi melanjutkan permainan ini.”

Si tubuh raksasa memeriksa keadaan Beni dan menyatakan kalau Beni tak lagi bisa melanjutkan permainan mereka. 

“Jadi, bagaimana? Apa kita tunda saja untuk hari ini, kami tak keberatan dengan melanjutkannya besok.”

Keadaan menjadi semakin buruk. Namun, dia harus melanjutkan, karena dia tak bisa membiarkan seseorang—terutama Bagas mengetahui apa yang telah mereka lakukan.

Rian menjadi lebih bimbang tentang apakah dia harus melanjutkan pertandingan atau tidak. Meskipun dia ingin melanjutkan, dari mana mereka bisa mendapatkan pemain yang akan menggantikan Beni.

“Siapa itu?”

“Hei, bukannya itu si Pangeran Kedua?!”

“Iya, itu dia!”

Seketika pembicaraan membelok ke arah seseorang yang datang dari pintu depan.

Rambut ruby kehitaman. Mata yang kali ini memerlihatkan penampakan sejatinya. Sosok yang bisa membuat seorang Rian menjadi cemas karena kedatangannya.