Episode 25 - Masa-Masa Latihan



 Jauh di atas lembah sebuah sungai, di dalam pelosok hutan, di tengah sebuah gunung, berdirilah kediaman cukup megah. Kediaman ini terbuat dari kayu dan batu kualitas baik, ada sebuah rumah utama, sebuah paviliun, dan sebuah gudang. Masing-masing tempat terpisah secara teratur. Ada pula halaman luas dengan tetumbuhan yang tadinya hijau, bunga-bunga yang tadinya mekar, dan bebatuan alam yang tadinya terlihat jelas menghampar di sekitar. Udara sangat sejuk, tetapi karena sekarang musim dingin, maka salju mengubahnya menjadi kesejukan yang menusuk tulang, juga mengubah segala objek di kediaman ini tertutup warna putih.

Seorang anak gadis berusia sekitar delapan tahun dan seorang pria paruh baya seolah siap menantang dinginnya salju. Untung saja tak ada badai, sehingga salju turun dengan tenang, setiap butirnya mengotori rambut mereka perlahan. Anak gadis ini memegang sebuah tongkat bambu, sementara ayahnya memegang pecut dari anyaman bambu. Dari gerak-gerik mereka, satu hal yang orang-orang bisa terka, latihan bela diri.

Sudah lama gadis kecil ini membuat bambu yang ia genggam sejajar dada dan diluruskan ke depan. Tangannya sudah lelah, setiap detik yang berlalu membuat tangannya goyah dan gemetar.

“Luruskan!”

Cetas! Sebuah pecutan dilontarkan ke arah tangan gadis mungil. Mukanya berubah masam, matanya memerah, tapi ia menahan tangisan sebaik mungkin. Dahulu, saat pertama kali ayahnya tiba-tiba berubah dan memaksanya berlatih bela diri, ia menangis setiap latihan. Namun, setelah enam bulan berlalu, kolam kesabaran di hatinya kian melebar. Membuat dirinya terbiasa dengan siksaan, omelan, dan hardikan.

Sekarang, dua tahun sudah terlewati, jika mentalnya kembali ambruk seperti dahulu, ayahnya akan semakin kecewa. Yang dia miliki saat ini tinggalah ayahnya seorang. Benda-benda kesayangannya sudah dibuang. Semua pelayannya ditinggalkan. Gelarnya sebagai putri pejabat sudah hilang. Ibunya sudah meninggal. Dan kakaknya, entah apa yang terjadi dengan sang kakak, sang ayah hanya pernah berkata, “ayah salah mendidik kakakmu, sekarang ayah tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama! Asmita, jadilah kuat!”

Jika dia disuruh memilih antara kembali pada keadaan sedia kala, saat dirinya masih dimanja oleh orang sekitar, oleh kakaknya, dan segala keinginannya hampir dituruti, atau pada keadaan sekarang, dimana ayahnya mejadi keras, tak pernah tersenyum, sering membentak, maka jelas dia memilih masa lalu. Namun, dunia ini memang aneh, semuanya ada dan tersedia, hanya saja, kata “jika” sangat sulit untuk diwujudkan, terutama untuk hal-hal baik. Tak ada cara untuk dia bisa mengubah ayahnya seperti dahulu, yang ada sekarang dirinyalah yang berubah. Bukan hanya dari mental, tetapi fisik. Setiap hari mendapatkan pecutan, seluruh tubuhnya sudah seperti lukisan. Sungguh malang nasib Shiang Asmita, sebagai seorang anak dia tidaklah gagal, tetapi sebagai seorang gadis, sekarang namanya sudah dicoret dari daftar pilihan para pria.

“Tegakkan pinggang!”

Cetas! Pecutan kedua membenarkan pinggang Asmita yang gemetar.

“Ganti posisi!”

Dengan cepat, Asmita mebalikkan badannya dan menusukkan bambu ke arah serong bawah.

“Lambat!”

Cetas! Pecutan ketiga menghantam punggung. Ia kernyitnya dahi dan menggigit bibirnya agar tak menangis.

“Putar!”

Ia memutar tubuh dengan bambu yang terhunus ke segala penjuru, dengan sedikit gerakan loncat, Asmita mendarat dan menghantamkan bambu ke tumpukan salju. Salju yang menggunung terhambur hebat, suara dentuman cukup kencang terdengar.

Cetas! Pecutan keempat menambah daftar siksaan hari ini.

“Genggamanmu kurang kuat! Jika yang kau hantam pedang orang lain, maka pedangmu pasti lepas! Ulangi dari posisi awal!”

Shiang Asmita menegapkan kembali badannya, berdiri dengan kedua kaki mungil di atas salju. Tangannya gemetar, bajunya sobek, dan luka pecutan tembus sampai ke kulit. Sementara itu, ayahnya, Shiang Li, memperhatikan dengan saksama. Matanya tajam menatap, seolah tak ada rasa iba pada putri sendiri. Namun, jika ia boleh menjawab jujur, tentu tak ada ayah yang ingin melihat putrinya mendertita. Kendati demikian, apa boleh buat? Jika dunia persilatan mengetahui bahwa Li Shiang, Kaisar Angin Biru, masih hidup dan memiliki seorang putri, entah sebarapa banyak bajingan jahat yang akan mengancam keselamatan putrinya.

“Latihan hari ini, sudah cukup!” Ternyata, Shiang Li masih memiliki rasa tidak tega. Ia sangat mengetahui bahwa putrinya sudah mencapai batasan pada hari ini.

Awalnya, Asmita berpikir latihan masih akan dilanjutkan, tetapi mendengar kata cukup, seolah membuang seluruh beban pikiran. Kemudian, dia pun ambruk di atas hamparan salju.


***


[Aku]

“Guru, Guru, Guru, aku berhasil! Aku berhasil!” ujarku riang. Melompat kegirangan ke arah lubang tempat Guru biasa tidur.

“Berisik! Memangnya aku tidak dengar?!” 

“Hehehe, yang penting aku berhasil!” Aku masih merasa tidak bersalah dan tersenyum lebar.

“Coba kulihat...” Guru memerhatikan ke tempat sisiknya yang hancur, “hmm, memang benar, sisikku hancur menjadi retakan-retakan kecil. Jadi, bagaimana caramu melakukannya?”

Sepertinya, Guru masih ingin mengujiku, dia seharusnya sudah tahu caraku melakukannya, tapi mau bagaimana lagi, ini bagian dari belajar. Baiklah, akan kujawab, “begini, Guru kan bilang aku harus mencari tahu caranya lewat puji-pujian yang Guru katakan. Di sana ada frasa yang bunyinya ‘...bisa menahan bara api, dan bisa menahan badai salju...’ jadi aku berpikir, apakah sisik ini bisa menahan keduanya secara bersamaan? Kemudian, aku mencoba menyerangnya dengan mengganti antara energi Yin dan Yang secara teratur. Hasilnya, sisik ini retak karena perbedaan suhu yang signifikan secara terus menurus. Kurang lebih seperti itu, Guru...” Aku menutup penjelasan ini dengan simpul kecil.

“Penjahat Key, apa kau membantunya?” Guru mengajukan pertanyaan pada Paman Key yang padahal sudah berada di jarak aman.

Tentu, Paman Key yang memiliki sedikit trauma pada Guru tampak canggung, “t-tidak! Kresna, dia memikirkan ini sendiri. Saya hanya menontonnya dari belakang,” tandasnya.

“Hmm, baiklah, kau lulus! Sekarang, saatnya pindah ke tingkat selanjutnya, Cakaran Pemburu Naga, tapi sebelum itu, aku ingin kau melaju ke kasta Prajurit terlebih dahulu!” jelas Guru, tegas.

“Jadi, aku hanya akan bermeditasi kan, Guru?” Aku senang. Setidaknya di antara semua latihan yang kujalani, meditasi adalah bagian paling menyenangkan. Tidak menguras tenaga, tidak membuat lelah, hanya tinggal duduk diam mengambil chi di udara. Hahahaha....!

“Ya, tinggal meditasi, tapi...,” aura Guru berubah, senyum licik itu kembali muncul setelah sekian lama tak kulihat, “Pemberatan Raga: Seratus Kali!”

Gubrak! Ah... ini, ini, ini penyiksaan! Ini kesewenang-wenagan! Ini penyalahgunaan kekuasaan! Ini intimidasi! Bagaimana mungkin Guru kembali menggunakan Sihir Pemberatan Raga padaku? Terlebih, seratus kali? Itu jumlah yang sangat ekstrem. Terlalu mengerikan untuk dibayangkan beban apa yang kuterima saat ini. Tidak, aku sudah menerima beban ini, untuk apa membayangkannya.

“Gu... Guru, apa ini lelucon?” Aku menggunakan seluruh tenaga untuk bertanya.

“Lelucon? Tentu saja bukan! Bukankah kau selalu senang yang namanya meditasi? Sekarang cobalah tingkatkan kesenanganmu dengan mencoba sesuatu lain. Meditasi dalam tekanan hebat. Hahahah!”

Aku tak habis pikir dengan jawaban itu. Maksudku, bagaimana ini bisa menjadi sebuah kesenagan. Kecuali,... kecuali aku adalah orang golongan itu, masokis. Paman Key pernah bilang, ada orang aneh yang suka disiksa. Namun, aku orang normal, tak ingin tersiksa, tak ingin tersakiti. 

“Ta... tapi, ini... terlalu ekstrem...” 

“Pokoknya, aku tak akan melepaskan Pemberatan Raga sebelum kau mencapai kasta Prajurit, Titik!” Begitu saja, Guru kembali ke lubang dan meninggalkanku seperti kerikil di tengah jalan.

“Kresna, kau baik-baik saja?” Paman Key segera menghampiriku dan terlihat cemas.

“Pa... paman, bantu aku duduk!” pintaku.

“Baiklah!” Paman Key segera merangkulku perlahan. “Berat...” gumamnya.

Namun, walau begitu, dengan usaha kami berdua, aku akhirnya bisa mengambil posisi tepat untuk meditasi. Setidaknya, karena kali ini Guru tak memberi pantangan untuk tidak menggunakan tenaga dalam atau meminta bantuan, aku masih bisa bertahan dalam tekanan hebat yang melipat gandakan seratus kali berat tubuhku.

     

***


[Shiang Kresna]

Shiang Kresna, seorang bocah yang dulunya hanya ingin menekuni bidang akademik. Menjadi seorang sarjana terkemuka dan mengabdikan diri sebagai pejabat kerajaan. Namun, sering kali keinginan dan kenyataan berbeda pendapat. Entah bagaimana, dirinya terlibat berbagai peristiwa dan diharuskan berlatih bela diri bersama naga dan seorang mantan pembunuh bayaran.

Setelah berat tubuhnya menjadi seratus kali lipat, Kresna tetap melakukan meditasi dengan lancar. Meditasi bagi Shiang Kresna tidaklah sulit. Sejak kecil, dirinya selalu ingin ketenangan pikiran. Ia jarang bermain dengan teman sebaya, dan ia jarang menimbulkan masalah pada siapapun. Mungkin, meditasi adalah bakat alaminya. Bahkan tanpa diajari dengan detail, Shiang Kresna dapat mencapai kondisi meditasi terisolasi. Itu berarti segala hal disekitarnya tak lagi ditangkap dengan lima panca indra. Yang ia fokuskan hanya satu, menyerap energi alam.

Jika seseorang berada dalam kondisi meditasi terisolasi, maka sebuah gangguan dari luar yang mendadak, dapat membuatnya luka dalam parah. Untungnya, tak ada seorang pun di gua ini yang ingin melukai Kresna. Dalam kalkulasi, seandainya kondisi meditasi ringan kecepatan penyerapan chi nya dinyatakan dengan nilai 1, maka kondisi meditasi menengah bernilai 5, dan kondisi meditasi terisolasi bernilai 25. Belum lagi dengan faktor geografis, di gua ini penyerapan chi lebih baik 3-5 kali lipat.

Walau begitu, di dalam tubuh Shiang Kresna, terdapat sebuah anomali. Seluruh chi yang ia serap, sepuluh persennya akan menuju kristal dalam Dan Tiannya, barulah sisanya menjadi energinya sendiri. Tetap saja, hal ini tidak mengubah fakta bahwa Shiang Kresna berbakat dalam meditasi.

Tiga bulan terlewati, Shiang Kresna berhasil melaju ke kasta Prajurit. Ia pun memelajari Cakaran Pemburu Naga. Bisa dibilang, ini adalah teknik bela diri tangan kosong yang berfokus pada kedua tangan. Jika dirinya berhasil mencapai kasta Kesatria, maka Cakaran Pemburu Naga bisa digabungkan dengan Perwujudan Chi dan menghasilkan gambaran tenaga dalam berbentuk cakar seekor naga.

Enam bulan berikutnya, ia berhasil menguasai Cakaran Pemburu Naga, lalu latihannya pun dilanjutkan ke tingkatan Mata Batin Naga. Dalam tingkatan ini, Kresna menajamkan ke lima indranya dan juga persepsi indrawinya sehingga lebih baik dari rata-rata ahli yang kastanya sama. Dalam tingkatan ini pula, Kresna mendapatkan perubahan di dalam bola matanya, sehingga jika tenaga dalam dialirkan ke arah bola matanya, maka sebuah mata naga akan terbentuk.

Satu setengah tahun terlewati, latihan Mata Batin Naga selesai, dan Kresna beralih ke tingkatan Harmoni Sayap Naga. Tidak seperti latihan-latihan sebelumnya, Harmoni Sayap Naga adalah teknik pedang. Terlebih, ini pedang ganda. Seperti namanya, harmoni, yang berarti keselarasan antara dua hal. Tentu, awalnya Kresna bertanya, kalau ini teknik pedang ganda, kenapa pedang yang tertancap di altar hanya satu? Jawaban Shenlong pun sederhana, Kresna harus mencari pedangnya sendiri di luar sana yang kekuatannya setara dengan pedang di altar sehingga bisa menimbulkan harmoni.

Setelah cukup puas, ia pun kembali berlatih dan berlatih setiap hari, hingga tiga tahun kemudian, saat umurnya lima belas tahun, Kresna berhasil menguasai Harmoni Sayap Naga. Kemudian, latihan dilanjutkan pada Penguatan Fisik Naga. Di sinilah, waktu di mana segala siksaan dalam latihan ototnya benar-benar membantu. Seperti namanya, penguatan fisik berarti mengeraskan tubuh dengan tenaga dalam. Umumnya, penguatan fisik adalah hal dasar yang bahkan bisa dipelajari kasta Pendekar, namun embel-embel ‘naga’ mengubah semuanya. Di sini, Kresna bukan hanya mendapatkan cara paling efektif dalam mengeraskan tubuh dengan tenaga dalam, tetapi dia juga mendapatkan sisik naga. Sebuah sisik yang lebih kuat dari berlian, lebih tajam dari pedang, dan lebih lainnya, walau Kresna belum sesempurna itu. Ada sebuah isitlah dalam Penguatan Fisik Naga, yaitu Mode Pendekar Naga. Saat dia memasuki Mode Pendekar Naga, maka banyak bagian dalam tubuhnya yang akan tertutupi sisik. Dan seiring kastanya meningkat, Mode Pendekar Naga juga bisa menumbuhkan sayap serta tanduk.

Sebentar lagi, kisah ini pun akan beralih ke bab selanjutnya...



Kolom Penulis:

Saya hanya bisa meminta maaf sekali lagi kalau mulai gak konsisten update. Jujur, waktu menulis LPN dan dimasukin ke ceritera, itu saat liburan semester, jadi banyak waktu luang. Ternyata, saat masa perkuliahan sudah aktif lagi, membagi waktunya agak susah. Apalagi kalau harus update dua minggu sekali. Dan mungkin saja, LPN hanya akan update seminggu sekali sebelum saya libur semester lagi. Maaf, sekali lagi maaf...

Dan juga maaf kalau di eps 25 ini saya mempercepat alurnya, sebab bukan hanya pembaca saja yang merasa sedikit bosan dengan alur di tempat yang sama, bahkan penulis pun mulai jenuh jika alur tidak bergerak. Jadi, bagi yang kemarin ingin alur lambat, maaf banget kalau saya kurang bisa merealisasikannya.... 

?T_T   T_T (ceritanya nagis)