Episode 121 - Tahta, Harta dan Cinta



“Lapor!” 

“Uraikan….”

“Informasi terbaru menyebutkan bahwa Kemaharajaan Pasundan akan segera mengirimkan Putri Mahkota Citra Pitaloka sebagai utusan perdamaian menuju Kerajaan Siluman Gunung Perahu.” 

“Benarkah…?”

“Benar… Dikhawatirkan bahwa pengiriman utusan tersebut akan menggagalkan rencana yang telah kita susun….” 

“Hehe… sebaliknya…. Coba kau pikirkan bilamana sang Putri Mahkota meregang nyawa di dalam wilayah kerajaan siluman itu….”

“Hah! Kemaharajaan Pasundan yang selama ini mengupayakan jalan damai… pastilah akan murka dan menabuh genderang perang!” 

“Hehe… Tak sia-sia upaya kita menanam bibit permusuhan.” 

“Oooo… aku sudah tak sabar menghitung pundi-pundi upah yang akan kita terima.” 

Serdadu bayaran cukup terorganisir dengan baik. Mereka adalah kumpulan ahli-ahli kasar yang menggantungkan hidup pada konflik. Bila tak ada konflik, maka mereka akan kesulitan mencari pekerjaan. 

Jasa serdadu bayaran dimanfaatkan oleh kerajaan untuk melindungi wilayah, meredam pemberontakan, bahkan menyerang kerajaan musuh. Oleh para saudagar, jasa mereka biasanya dimanfaatkan untuk mengawal pengiriman bahan dagangan atau sejenisnya, serta menjaga keamanan kantor atau gerai.  

Bagi serdadu bayaran yang beruntung, ada kemungkinan bertemu dengan majikan yang memberikan upah bulanan dan terus merawat mereka. Bagi yang kurang beruntung, makan saja terkadang susah. Sedangkan yang tidak beruntung, adalah mereka yang meregang nyawa saat menjalankan pekerjaan. 

Kehidupan sebagai serdadu bayaran adalah berpindah-pindah -- dari satu majikan ke majikan berikutnya, dari satu tempat ke tempat lain. Mereka menetap di tenda-tenda ibarat pengungsi. Kondisinya seperti yang sedang terlihat saat ini. Tak kurang dari lima puluh tenda yang berdiri dan terpasang seadanya di dalam wilayah hutan. 

Jumlah ahli dalam satu kelompok serdadu bayaran beragam. Ada yang beranggotan hanya belasan ahli, ada pula yang anggotanya mencapai ratusan. Yang jelas, persaingan di dalam kelompok tak jarang berlangsung sengit. Menikam dari belakang, bukanlah sesuatu yang tak lazim. 

Menjadi serdadu bayaran seringkali berarti menggadaikan nilai-nilai dalam diri. Serdadu bayaran menerima dan menjalankan perintah apa saja yang diberikan kepada mereka. Asalkan imbal hasil yang diterima setimpal, mereka tak akan peduli apakah pekerjaan yang dilaksanakan baik atau buruk. Meski demikian, ada semacam pedoman perilaku di kalangan serdadu bayaran, yaitu tidak mencuri. Bila mencuri, maka tak akan ada bedanya mereka dengan bandit gunung, penyamun, atau bajak laut. 

Sampai batasan tertentu, pekerjaan sebagai serdadu bayaran bukanlah tindak kejahatan. Lagipula, undang-undang di Negeri Dua Samudera menyebutkan bahwa tindak kejahatan yang dilakukan oleh serdadu bayaran, merupakan tanggung jawab majikan mereka. Oleh karena itu, majikan yang akan dihukum berat atas tindak kejahatan serdadu yang mereka upah. 

Pekerjaan sebagai serdadu bayaran, seringkali bukan sebuah pilihan. Seorang ahli terpaksa menjadi serdadu bayaran dikarenakan tuntutan hidup. Tahta, harta, dan cinta adalah mutlak tujuan hidup mereka. 

“Hei! Kau!” hardik si pimpinan yang tadi menerima laporan. “Ya! Kau si kerempeng!” 

Seorang anak remaja bertubuh kurus kering terlihat sedang mengasah pedang. Keringat meleleh lengket di tubuhnya. Masih ada puluhan tumpuk pedang yang menantikan giliran untuk dirawat. Ketika menyadari bahwa dirinya dipanggil, anak remaja tersebut segera berlari tertatih ke arah tenda pimpinan. 

“Ya, Kapten… Ada apakah gerangan…?” rintihnya sambil menahan perih. Akibat terlalu lama duduk mengasah pedang, kakinya kesemutan, bahkan sampai mati rasa. 

“Dasar tak becus!” hardik si Kapten. “Berapa lama waktu yang kau butuhkan menyelesaikan pekerjaan mengasah pedang!?” 

“Maaf Kapten… tadi pagi aku terpaksa mencari kayu bakar, lalu membersihkan perban anggota yang terluka, dan membantu mendirikan tenda yang roboh, kemudian mengambil air….” 

“Akh! Banyak sekali alasanmu!” 

“Ma… maafkan aku, Kapten…” 

“Setelah pekerjaanmu mengasah pedang selesai, segera kau turun ke lereng gunung.”

“Ba… baik!”

“Di sana, kau pantau keadaan… Bila ada rombongan ahli yang datang, segera kembali melapor!”

“Ba… baik!”


===


Perguruan Anantawikramottunggadewa di Kota Baya-Sura memendam sejumlah misteri. Misalnya saja, mengapa mereka menutup diri…? Lalu, mengapa keahlian murid-muridnya diketahui demikian digdaya? Apa yang diajarkan di dalam perguruan tersebut? Metodenya? Jurus-jurusnya? 

Bagi seorang ahli yang hendak mencurahkan seluruh jiwa dan raga di jalan persilatan dan kesaktian, maka Perguruan Anantawikramottunggadewa merupakan tempat yang paling ideal. Di perguruan ini, hasrat manusiawi seputar tahta, harta dan cinta ditekan semaksimal mungkin. Murid-murid didoktrin bahwa hasrat duniawi hanya akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan keahlian. 

Dengan demikian, murid-murid Perguruan Anantawikramottunggadewa jarang terlihat beredar di Negeri Dua Samudera. Bahkan, bilamana meninggalkan perguruan karena sesuatu alasan, mereka tak akan mengaku sebagai murid-murid perguruan tersebut. Mereka akan membaur seolah khalayak jelata. 

Bagi banyak ahli, bilamana berhadapan dengan ahli tak dikenal namun memiliki keahlian tingkat tinggi, maka kecurigaan utama adalah bahwa ahli tersebut datang dari Perguruan Anantawikramottunggadewa. Hal ini sudah menjadi rahasia umum. 

Meski demikian, jangan pernah mengaku-aku sebagai murid Perguruan Anantawikramottunggadewa bilamana bukan. Pertama, tak pernah ada dalam sejarah murid perguruan tersebut menyebutkan asal perguruannya. Oleh karena itu, tak akan ada seorang ahli pun yang akan percaya karena memang murid-murid perguruan tersebut tak suka membanggakan diri. Dengan kata lain, tak akan ada yang termakan tipuan. 

Kedua, dan paling penting, bila seorang ahli berpura-pura sebagai Perguruan Anantawikramottunggadewa, lalu kejadian ini sampai ke telinga para ahli di sana, maka siapa pun itu yang mengaku-aku akan diburu oleh murid-murid perguruan. Hal ini sudah pernah terjadi beberapa kali, dan benar adanya perihal perburuan ahli yang berlangsung. 

Sungguh… sebuah perguruan yang banyak menyimpan misteri.

Seorang lelaki dewasa yang berperawakan tegap duduk diam membatu. Ia bersandar. Di hadapannya, dipisah oleh sebuah meja kecil, duduk seorang perempuan dewasa nan cantik jelita. Perempuan itu terlihat sedang menikmati secangkir teh.

Waktu berlalu. Si lelaki dewasa tegap tetap terdiam. Si perempuan sesekali mengangkat cangkir teh. Ia menikmati setiap tetes seduhan.

“Mayang Tenggara… apakah benar ceriteramu ini…?” Resi Gentayu, alias Airlangga, membuka percakapan. 

“Menurutmu…?”

“Lalu, mengapa tak kau bawa Elang Wuruk bersamamu…?”

“Segera setelah menyadari keberadaanku, ia melangkah kembali ke dalam ruang dimensi berlatih milik Sang Maha Patih. Hanya ahli yang memiliki hubungan darah dengan Sang Maha Patih yang dapat membuka dan menutup ruang dimensi tersebut.”

“Mengapa tak kau tunggu saja sampai ia keluar? Lupakah engkau akan janji yang pernah kau ikrarkan kepada Ibunda Permaisuri Tritungga Bhuwanadewi…?”

“Beledar!” Meja kecil bersama teko dan cangkir hancur berhamburan. Seluruh gedung dimana mereka berada bergegar!

Resi Gentayu terdiam. Sebulir keringat menetes di pelipisnya. 

“Seusai Perang Jagat, hampir tiga ratus tahun kuhabiskan waktu mencari lokasi Kepompong Sutra Lestari… dan kau berpikir aku akan lupa…?” Mayang Tenggara berujar sambil menggeretakkan gigi. 

Resi Gentayu masih terdiam. Bulir-bulir keringat mulai membasahi punggungnya. 

“Aku bersyukur bahwa sahabat kita masih hidup… Namun, dari sorot matanya, seperti ada sesuatu yang berbeda…?”

“Berbeda…?” Resi Gentayu mengulang. 

“Sorot matanya dipenuhi… dendam.” 

Resi Gentayu bangkit dari tempat duduknya. Ia melipat tangan ke belakang pinggang, sambil melangkah menuju jendela. Pembawaannya demikian bijak lagi sana. 

“Sungguh takdir yang pelik…,” bisik sang Resi pelan. “Apakah tindakan kita selanjutnya…?” sambung lelaki dewasa itu. 

Resi Gentayu melontar pandang keluar jendela. Di bawah, sejumlah murid Perguruan Anantawikramottunggadewa terlihat kalang-kabut. Mereka mencari-cari sumber penyebab gedung tempat pimpinan perguruan yang tadi sempat bergegar. Kebingungan sekali kelihatannya mereka. 

“Kepompong Sutra Lestari yang dihasilkan setelah merapal Segel Sutra Lestari, merupakan penjara ruang dan waktu…,” jawab Mayang Tenggara. 

“Hm…?” Resi Gentayu menoleh pelan. 

“Dengan demikian, Elang Wuruk masih merupakan anak remaja sebagaimana yang kita kenal dulu. Ia tak bertambah usia, dan keahliannya pun tak berkembang. Ia tak akan bertindak gegabah memburu Raja Angkara. Ia memerlukan waktu untuk memupuk keahlian.” Mayang Tenggara sepertinya mengenal betul tokoh yang menjadi topik pembahasan.

“Maksudmu…?” Resi Gentayu memutar tubuh. “Apakah kita akan mengabaikan sementara Elang Wuruk…? Dan memusatkan perhatian pada persoalan di depan mata, begitu…?”

“Benar. Kenyataan bahwa ia selamat dan kembali sudah membuat hatiku sangat senang. Saat ini, aku hanya berharap ia akan baik-baik saja. Setidaknya, sampai kita usai menunaikan tugas.”

Resi Gentayu kembali menatap keluar jendela.  

“Sebelum tersasar di ibukota lama, aku telah mengunjungi Pulau Belantara Pusat…,” lanjut Mayang Tenggara.

“Hehe… sudah lama aku tak bersua dengannya. Apakah ia baik-baik saja…?” 

Mayang Tenggara mengabaikan pertanyaan Resi Gentayu. “Aku akan segera bertolak ke Pulau Barisan Barat… untuk berkoordinasi….” 

“Bagaimana dengan suamimu, Balaputera…?”

“Kemungkinan besar saat ini ia sudah berada di Pulau Mutiara Timur.”

“Beban yang ia pikul memanglah berbeda…,” gumam Resi Gentayu. 

“Kau berjaga di sini. Jangan gegabah meninggalkan Kota Baya-Sura. Jangan sekali-kali pula engkau pergi berkunjung ke wilayah Tanah Pasundan….”


===


“Elang Wuruk…? Hm… Mungkinkah…?” Terdengar suara bergumam. 

“Elang Wuruk, nama siapakah gerangan itu…?” Anjana terlihat penasaran. Ia tak pernah dapat menebak jalan pikiran atasannya. “Sejenis binatang silumankah?”

“Anjana, apa yang engkau ketahui tentang Sang Maha Patih…?” ujar Lintang Tenggara seolah hendak menguji pengetahuan teman bicaranya. 

“Sang Maha Patih adalah pahlawan besar Negeri Dua Samudera. Ia menyandang predikat sebagai manusia terkuat di seantero negeri. Sang Maha Patih menguasai delapan unsur kesaktian dan memiliki Tujuh Senjata Pusaka Baginda,” jawab Anjana. 

Jawaban Anjana tadi adalah jamak adanya di kalangan banyak ahli di Negeri Dua Samudera, bahkan di dalam wilayah Partai Iblis. Panglima Segantang pun lebih kurang menjawab dengan mengungkapkan informasi yang senada  

“Apakah ia memiliki keluarga…?” lanjut Lintang Tenggara. 

“Sang Maha Patih memegang ikrar mulia. Bahwa bilamana belum dapat menyatukan Negeri Dua Samudera di bawah satu panji, maka ia tak akan menjamah tahta, harta, dan cinta.” 

“Benarkah demikian…? Bukankah ia menduduki ‘tahta’ sebagai penguasa? Tidakkah ia memiliki ‘harta’ bergelimang? Apakah ia tak ‘cinta’ pada Negeri Dua Samudera?”

“Kakak Lintang Tenggara… apakah dikau menguji, atau mengolok-olok diriku?” jawab Anjana sebal. 

Sebagian besar catatan mengenai Sang Maha Patih, mengungkapkan bahwa walau dikenal sebagai penguasa negeri, tak pernah ia naik tahta. Tak pernah pula ia hidup dengan menghamburkan harta. Satu-satunya cinta yang ia miliki adalah kepada Negeri Dua Samudera. Sungguh pribadi mulia.

“Hehe… aku sedang menulusuri informasi yang baru saja kutemukan…,” gelak Lintang Tenggara. 

“Aku belum menemukan jejak Kum Kecho…?” Anjana mengalihkan pembicaraan. 

“Nah…” Lintang Tenggara terlihat kembali menelusuri sebuah buku nan lusuh yang tergeletak di atas meja di hadapannya. 

“Kakak Lintang…?”

“Jangan terlalu memikirkan Elang… Hm… Maksudku, Kum Kecho… Ia akan kembali bilamana merasa perlu….” 

“Akan tetapi, Yang Terhormat Gubernur Pulau Lima Dendam meminta kita mengawasi Kum Kecho….” 

“Bagaimana keadaan di Pulau Dua Pongah…?” Lintang Tenggara seperti tak mendengar sanggahan Anjana perihal Kum Kecho. 

“Ketengangan yang sempat melanda Pulau Dua Pongah sudah mereda. Sepertinya, si Perawan Putih diungsikan keluar dari pulau.” 

“Diungsikan keluar….” Lintang Tenggara berpikir sejenak. “Kemanakah gerangan…? 

“Belum diketahui kemana perginya si Perawan Putih itu… Mereka menggunakan gerbang dimensi yang tak dapat dilacak.”

“Tak banyak perapal segel yang mampu menyusun gerbang dimensi yang sedemikian… Coba kau lacak para perapal segel dengan kemampuan mumpuni di wilayah Pulau Dua Pongah.”

“Baik, Kakak.”

“Bagaimana pula dengan Pulau Satu Garang?”

“Persiapan militer Kerajaan Satu Garang belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Namun, ada yang aneh…,” Anjana berhenti sejenak. 

“Apakah gerangan…?”

“Aku mendapat kabar berita bahwa salah satu kelompok serdadu bayaran yang bermarkas di Pulau Satu Garang, diketahui menugaskan pasukan ke wilayah Tanah Pasundan di Negeri Dua Samudera.” 

“Hm…? Apakah mereka menerima perintah dari seseorang di Pulau Satu Garang? Ataukah diupah oleh pihak di Negeri Dua Samudera…?

“Belum diketahui.” 

“Baiklah… Terima kasih atas laporanmu, Anjana. Terus pantau keadaan di Pulau Satu Garang dan Pulau Dua Pongah.”

“Kakak Lintang, masih ada satu lagi hal yang menarik….”

“Hm…?”

“Pulau Tiga Bengis diketahui mendapati bahwa banyak binatang siluman yang berdiam di lautan antara Pulau Logam Utara dan Pulau Mutiara Timur mati dijagal…. Hal ini mereka ketahui ketika regu yang mereka kirimkan berupaya menelusuri jejak salah satu Raja Angkara.”

“Sungguh pelik… mati dijagal… Raja Angkara. Bagaimana dengan upaya kita menelusuri jejak Raja Angkara Durhaka, Hang Jebat…?” Raut wajah Lintang Tenggara terlihat seperti baru mengingat sesuatu yang penting. 

“Posisi terakhir Raja Angkara Durhaka diketahui berada di wilayah Pulau Garam. Namun, setelah itu, tak ada laporan lanjutan perihal keberadaannya….” 

Dengan demikian, Anjana meninggalkan atasannya seorang diri. Lintang Tenggara membolak-balik buku catatan lusuh yang masih terbuka di hadapannya. 

Beberapa saat berlalu, Lintang Tenggara terlihat merenung. Ia mencoba memilih dan memilah setiap warta yang disampaikan Anjana. Ia berupaya mencari benang merah yang mungkin saja terjalin. 

“Tahta, harta dan cinta… Sungguhlah idaman siapa saja,” gumamnya pelan. “Akan tetapi, dimanakah letak ‘keilmuan’ sebagai sebuah tujuan. Keilmuan selayaknya berada di atas tahta, harta dan cinta. Bukankah dengan berbekal ilmu pengetahuan di atas semerata ahli, maka ketiga hal tersebut akan akan datang dengan sendirinya…?” 



Cuap-cuap:

Ilustrasi Panglima Segantang segera rampung. Untuk berikutnya, tokoh manakah yang hendak dibuatkan ilustrasi? Mohon masukannya. 

Jajak pendapat: 

A. Canting Emas

B. Aji Pamungkas

C. Lintang Tenggara

D. Anjana

E. Melati Dara

F. Dahlia Tembang

G. Arya Pamekasan, alias Hang Jebat

H. Lampir Marapi

I. Lainnya… (silakan diisi) 

Suara terbanyak akan dibuatkan ilustrasinya, dan ditampilkan setelah ilustrasi Panglima Segantang.