Episode 120 - Regu Perdamaian



Dua anak remaja melangkah keluar dari sebuah lorong hitam. Angin sejuk menerpa kulit, membawa hembusan yang mengademkan jiwa dan raga. Baru kali ini Bintang Tenggara merasakan suasana di wilayah pegunungan. Perasaan teramat nyaman menjalar perlahan ke sekujur tubuhnya. 

“Aku harus mendapatkan lawan latih tarung yang seimbang untuk meningkatkan kemampuan jurus silat Beulut Darat!” Aji Pamungkas mengangguk, ia memantapkan niat di hati. 

Bintang Tenggara menebar pandang. Di kejauhan, ia menyaksikan sebuah gunung nan besar dan berbentuk seperti perahu raksasa. Lama waktu yang ia habiskan mengamati gunung yang bentuknya aneh itu. 

“Terima kasih karena sudi memenuhi undangan Sanggar Sarana Sakti, wahai tetamu undangan dari Perguruan Gunung Agung.” Terdengar suara menyapa. 

Bintang Tenggara mengingat suara itu. Ia juga segera mengenal wajah ketua rombongan penjemputan. 

“Jajaka Merah!” seru Bintang Tenggara. Keduanya pernah berhadapan dalam laga penentu saat Kejuaraan Antar Perguruan yang berlangsung di Kota Ahli. 

“Kawan Bintang Tenggara dan Kawan Aji Pamungkas, nama asliku Jaka Soreang,” ujar Jajaka Merah menyibak senyum petanda senang. “Selamat datang di Tanah Pasundan!

Rombongan penjemputan lalu mempersilakan kedua tamu mereka menaiki sebuah pedati yang ditarik sapi-sapi besar. Sepanjang perjalanan, Jaka Soreang menjadi pemandu wisata yang cukup apik. Ia bahkan bercerita cukup panjang tentang legenda Gunung Perahu. 

Sanggar Sarana Sakti berbeda dengan Perguruan Gunung Agung. Sesuai namanya, perguruan ini menekankan pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan dan mendukung keahlian. Murid-murid kreatif yang menuntut ilmu di perguruan ini terus-menerus berkarya dalam menciptakan alat atau metode baru terkait persilatan dan kesaktian. Dengan kata lain, mereka lazimnya bertarung menggunakan peralatan tempur yang canggih-cangih.


Murid-murid di Sanggar Sarana Sakti juga rutin menciptakan berbagai peralatan yang dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di luar persilatan dan kesaktian. Tak jarang hadir sejumlah pihak yang meminta dibuatkan berbagai jenis peralatan untuk bertani, beternak atau menangkap binatang siluman di laut. Ada pula wirausahawan yang membiayai penelitian dan karya murid-murid, bahkan ketika masih berada pada tahap konsep. Para wirausahawan nantinya akan memproduksi massal karya yang menurut mereka memiliki nilai jual. 

Dengan demikian, situasi di dalam perguruan pun sangat berbeda dari kebanyakan perguruan lain. Di sana-sini terlihat bengkel-bengkel kerja dan balai-balai uji coba. Perkuliahan terkait persilatan dan kesaktian selalu dipadukan dengan kegiatan praktek yang mengandalkan alat-alat tertentu. 

Bintang Tenggara kemudian menangkap keberadaan sejumlah ahli yang sedang mendengarkan seorang murid perguruan menyampaikan hasil karya dari atas podium. Para pendengar tak terlihat sebagai warga perguruan. Sedangkan, murid yang memberikan pemaparan terlihat bersemangat sekali. 

“Jangan buang-buang waktuku! Jauh-jauh aku datang dari Pulau Barisan Barat untuk membeli hak cipta peralatan tempur, bukan alat bajak!” seru seorang lelaki setengah baya. Kepalanya botak licin. Perawakannya gemuk dan garang. 

“Rekan Bintang Tenggara…,” sapa Jaka Soreang. “Mereka adalah saudagar atau wirausahawan pemilik pabrik. Jika ada hasil karya yang sesuai, mereka akan membeli hak cipta atau membiayai penelitian murid-murid.” 

 

Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas dipersilakan untuk menempati anglung khusus di sebuah bukit.* Di hadapan tempat tinggal yang terbuat dari bambu, namun mewah, terbentang lembah nan rimbun. Kabut-kabut tipis sedang dalam upaya menguap ketika menerima berkas sinar matahari. Hari masih pagi adanya.

Menurut Jaka Soreang, Maha Guru Kesatu Sangara Santang sedang bepergian. Tokoh tersebut baru akan kembali dari istana kemaharajaan jelang malam. Oleh karena itu, Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas diperkenankan untuk beristirahat. Bilamana hendak menyusur Sanggar Sarana Sakti, mereka hanya perlu menyampaikan kepada murid-murid yang ditugaskan memenuhi kebutuhan mereka, yang bersiaga di kaki bukit. 

Dua anak remaja menatap Gunung Perahu jauh di kaki langit… Matahari sebentar lagi terbenam.  

“Tujuanku kemari bukanlah memandang gunung…,” keluh Aji Pamungkas. 

“Apa yang kau ketahui tentang dunia paralel?” sahut Bintang Tenggara. 

Tetiba saja pertanyaan ini mencuat. Berdasarkan keterangan Dewi Anjani, maka dunia paralel bukanlah teori semata. Diketahui pula, Aji Pamungkas pernah mengangkat pembicaraan terkait dunia paralel saat di Kejuaraan Antar Perguruan. Bahkan, anak remaja itu sempat menjuluki regu perwakilan Sanggar Sarana Sakti sebagai ‘Pawer Renjes’. Apa pun itu artinya, bukanlah istilah yang kemungkinan besar berasal dari Negeri Dua Samudera. 

“Di saat yang bersamaan, berlangsung dunia-dunia yang merupakan cerminan dari satu sama lain….” Aji Pamungkas menjawab serius. Sungguh sebuah kesempatan yang sangat jarang terjadi. 

“Hm….”

“Jadi, bukan hanya berlangsung berdampingan… namun merupakan cerminan,” tegasnya. 

“Lalu…?”

“Cerminan, namun tak sepenuhnya sama. Sebagai contoh, di dunia paralel A1 terdapat Negeri Dua Samudera nan damai. Di dunia paralel A2, bisa saja di Negeri Dua Samudera yang sama, sedang berlangsung perang. Sedangkan, di dunia paralel A3, perang di Negeri Dua Samudera telah berakhir.”

Bintang Tenggara mengangguk. 

“Tak sampai di situ… Mungkin saja, di dunia paralel B1, Negeri Dua Samudera tak pernah ada. Di dunia paralel C1, Negeri Dua Samudera bernama berbeda. Kemudian, di dunia paralel D1, bentangan alam Negeri Dua Samudera lain adanya. Di dalam D2, iklimnya berbeda… Di D3, penduduknya mayoritas adalah siluman… dan seterusnya entah sampai berapa banyak kemungkinan.” 

Bintang Tenggara menoleh ke arah Aji Pamungkas. “Jadi, dimensi waktu berlangsung sejalan, di dalam dimensi ruang yang ‘berbeda’.” Bintang Tenggara sengaja memberi penekanan pada kata ‘berbeda’.

“Lebih kurang demikian,” sahut Aji Pamungkas. “Bahkan, di salah satu dunia paralel… ada seorang penulis yang menceriterakan perjalanan kisah kita sebagai ceritera bersambung yang diikuti banyak ahli baca… ceritera tentang kau dan aku, kita semua….” 

Bintang Tenggara mengerutkan dahi. 

“Di dalam kisah itu, aku adalah tokoh utama yang dipuji banyak ahli, dikejar banyak gadis-gadis, serta ditakdirkan mengubah dunia… persis seperti yang sedang berlangsung saat ini.” Aji Pamungkas menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya bangga. 

Bintang Tenggara memutar tubuh. Ia berniat meninggalkan Aji Pamungkas yang mulai berceritera dalam khayal. Sepenuhnya disadari bahwa kata-kata lawan bicaranya itu tak selalu dapat dipertanggungjawabkan. Contohnya, seperti ceritera khayalan yang mulai berkembang tadi. 

Belum sempat melangkah terlalu jauh, Bintang Tenggara menghentikan langkah…. “Darimana kau dapatkan pengetahuan tentang dunia paralel?” ungkapnya penasaran.

“Yang Terhormat Tetamu Perguruan, Maha Guru Kesatu menantikan kehadiran di Balai Utama,” sela salah seorang murid yang ditugaskan melayani kebutuhan kedua tamu. 


“Selamat datang adik-adikku!” seru Sangara Santang, Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti. 

Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas membungkukkan tubuh petanda hormat. Jabatan Maha Guru Kesatu di sebuah perguruan besar seperti Sanggar Sarana Sakti adalah jabatan yang menjulang tinggi. Pencapaian, bakat dan perilaku tokoh tersebut pastilah teramat besar dan mulia. Apalagi, Sangara Santang baru berusia sekitar 25 tahunan. 

Kedua anak remaja kemudian dipersilakan mengambil tempat duduk. 

“Terima kasih atas undangan Maha Guru Kesatu, serta keramahtamahan Sanggar Sarana Sakti kepada murid-murid rendahan dan tak berpengalaman seperti kami,” ujar Aji Pamungkas resmi. Sungguh kata-katanya mencerminkan pengalaman berhadapan dengan tokoh-tokoh penting. 

Bintang Tenggara mengamati Sangara Santang dengan seksama. Ia mencoba memahami maksud dan tujuan tokoh tersebut. Terbersit sedikit kecurigaan dalam benaknya. Akan tetapi, segera ia tekan kecurigaan tersebut, mengingat Sangara Santang pernah menyelamatkan dirinya.

“Hahaha… Janganlah merendah. Kalian berdua merupakan murid-murid yang tak diragukan lagi bakat dan masa depannya. Penampilan para perwakilan Perguruan Gunung Agung dalam Kejuaraan Antar Perguruan sungguh memukau! Siapa di Negeri Dua Samudera yang tak pernah mendengar kisah mereka?” balas Sangara Santang. 

“Kami tiada merendah. Di hadapan seorang ahli tersohor di Negeri Dua Samudera, kami ibarat kerumunan kunang-kunang memandang kagum rembulan purnama yang menggantung tinggi di angkasa raya,” sahut Aji Pamungkas. 

“Sungguh, kunang-kunang dan rembulan purnama memiliki keunggulan masing-masing…. Bahkan, kunang-kunang bersinar dengan upaya dirinya sendiri… Sedangkan rembulan purnama… rembulan purnama hanya meminjam sinar sang mentari,” timpal Sangara Santang. 

“Dengan segala rasa hormat, apakah maksud dan tujuan undangan Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti?” Bintang Tenggara memecah perbicangan basa-basi antara Aji Pamungkas dan Sangara Santang. Bila dibiarkan, entah sampai kapan mereka akan saling berbalas puja dan puji. 

“Sebelumnya, aku sangat berterima kasih atas kehadiran kalian berdua. Sungguh Perguruan Gunung Agung tak main-main di kala mengirimkan perwakilan,” ujar Sangara Santang dengan ketulusan. 

“Perguruan Gunung Agung tentu tak akan bertindak lalai dengan mengirim sembarang utusan. Persahabatan yang telah terjalin selama ini perlu dijembatani oleh niat baik antar sesama ahli,” balas Aji Pamungkas lagi. 

“Ehem….” Bintang Tenggara mengerahkan jurus Melegakan Tenggorokan. Ia berupaya mencegah agar basa-basi tak menguasai dunia. 

“Tentu kalian ingin mengetahui akan maksud dan tujuan Sanggar Sarana Sakti ketika mengajukan permohonan bantuan kepada Perguruan Gunung Agung….” Sangara Santang menyadari bahwa Bintang Tenggara mulai tak sabar. 

“Apa pun itu bantuan yang diharapkan dari kami, maka…” 

“Buk!” Bintang Tenggara menyikut Aji Pamungkas. Sebentar lagi ia bisa dibuat gila oleh pertukaran basa-basi yang seperti tiada ujungnya. 

“Sebagai ahli, kuyakin kalian mengetahui bahwa di berbagai tempat di Negeri Dua Samudera, terdapat sejumlah kerajaan-kerajaan siluman.” Sangara Santang sepertinya akan masuk ke dalam topik pembahasan utama. 

Maha Guru Kesatu itu lalu melanjutkan penjelasan bahwa di Tanah Pasundan terdapat beberapa kerajaan siluman. Kerajaan terbesar terletak di puncak Gunung Perahu. Kerajaan siluman tersebut dikenal sebagai Kerajaan Siluman Gunung Perahu.

Selama ini, Kemaharajaan Pasundan dan Kerajaan Siluman Gunung Perahu hidup berdampingan. Meski komunikasi tak berjalan lancar, setidaknya kedua kekuasaan selalu menjaga sikap, saling menghormati, serta tak mencampuri urusan satu sama lain. 

Akan tetapi, beberapa purnama lalu, sempat terjadi kesalahpahaman ketika sejumlah ahli mendatangi kaki Gunung Perahu untuk berlatih. Kesalahpahaman tersebut membuat murka Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh pasukan Kemaharajaan Pasundan, Kerajaan Siluman Gunung Perahu tidak puas. Mereka berniat menuntut balas dan saat ini dikabarkan sedang menghimpun kekuatan. Bila benar adanya, maka perang besar tak mungkin dielakkan. 

Yang paling diwaspadai dan menjadi perhatian utama dari perang adalah reaksi kerajaan-kerajan siluman lain. Mereka yang selama ini diam, mungkin akan turut angkat senjata. Perang Jagat tahap kedua mungkin saja tercetus. 

“Dalam upaya mencegah perang, maka Sri Baduga Maharaja, Yang Mulia Prabu Silih Wawangi, Sang Penguasa Tanah Pasundan, berniat mengirimkan utusan perdamaian….” Sangara Santang berhenti sejenak. Ia mencermati reaksi lawan bicaranya. 

Lalu, apa urusannya dengan kami…? batin Bintang Tenggara.

“Untuk menunjukkan niat baik dari Kemaharajaan Pasundan, maka wakil yang akan dikirim sebagai utusan perdamaian adalah Putri Mahkota langsung.” 

Lalu, apa hubungannya dengan kami…? Batin Bintang Tenggara lagi.

“Kendatipun demikian, dalam mengirimkan utusan, diperlukan pengawalan. Demi mempertegas niat baik serta memupus kecurigaan, maka para pengawal hendaknya berasal dari pihak netral.” 

Bintang Tenggara mulai memahami peran perwakilan dari Perguruan Gunung Agung. 

“Mengingat reputasi Perguruan Gunung Agung yang selalu berlaku santun kepada semua, maka sangatlah ideal untuk menjadi bagian dari pengawalan. Pencapaian dalam Kejuaraan Antar Ahli pun menjadi nilai tambah, karena akan mengisyaratkan bahwa kita tak memandang rendah kepada Kerajaan Siluman Gunung Perahu.” Maha Guru Sangara Santang menutup penjelasannya dengan sebuah senyuman. 

Sejauh ini dapat diterima nalar, cukup masuk akal…, batin Bintang Tenggara. 

“Yang Terhormat Maha Guru Kesatu, Mojang Merah Muda datang menghadap.” Tetiba seorang gadis menghampiri Sangara Santang. 

Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas mendapati kehadiran seorang gadis sepantaran. Wajahnya demikian juita dan teduh.** Menatapnya ibarat dibelai angin sejuk yang berhembus dari pegunungan. Kulitnya putih bersih seperti aliran sungai nan menyegarkan. 

Gadis itu mengenakan kemben dan kain batik bernuansa merah muda. Bentuk tubuhnya sangatlah proporsional. Ukuran payudaranya seperti baru hendak tumbuh, dan pinggulnya seolah baru saja mekar. 

“Tak perlu terlalu resmi…,” ujar Sangara Santang kepada gadis itu. 

“Paman Sangara Santang memanggilku…?”

“Adik Bintang Tenggara dan Adik Aji Pamungkas,” ujar Sangara Santang. “Kuperkenalkan Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan, sekaligus Mojang Merah Muda dari Sanggar Sarana Sakti… Citra Pitaloka.” 

Aji Pamungkas melompat berdiri! Di saat berhadapan dengan perwakilan Sanggar Sarana Sakti dalam Kejuaraan Antar Perguruan, ia sempat mempertanyakan kemana perginya Mojang Merah Muda. Kini, Mojang Merah Muda hadir di hadapannya langsung!

Bintang Tenggara tetiba waspada. Ia siap siaga bilamana perlu menangkap Aji Pamungkas yang terlihat seperti hendak menerkam Citra Pitaloka. Jangan sampai hubungan baik Sanggar Sarana Sakti dan Perguruan Gunung Agung rusak gegara tindakan pencabulan! 

“Salam kenal, Rekan Bintang Tenggara dan Rekan Aji Pamungkas. Diriku sudah banyak mendengar ceritera tentang kiprah para perwakilan Perguruan Gunung Agung di saat Kejuaraan Antar Perguruan. Sungguh sangat disayangkan diriku berhalangan hadir, sehingga tak dapat menyaksikan langsung.” Citra Pitaloka menutup kata-kata perkenalannya dengan senyum yang demikian memesona. 

“Sayang, sayang beribu sayang…”

“Buk!” Bintang Tenggara menyikut Aji Pamungkas. Jangan sampai hubungan baik Sanggar Sarana Sakti dan Perguruan Gunung Agung rusak gegara kata-kata yang melecehkan!

“Sebagai pengawal, tentu kalian tidak hanya berdua…”

Belum sempat Sangara Santang menyelesaikan kata-katanya. Seorang gadis belia melangkah gontai santai dan menuju ke arah mereka. Matanya sayu, wajahnya ayu. Gerak tubuhnya mengayun melantun. Ia mengenakan jubah berwarna ungu. 

Aji Pamungkas terpana. Bintang Tenggara terpesona. 

“Kalian tentunya sudah cukup mengenal Embun Kahyangan dari Padepokan Kabut!” Sangara Santang melirik ke arah Bintang Tenggara, sambil menyibak senyum penuh makna. 

“Kakak Gemintang!” tetiba terdengar seruan riang dari arah yang berlawanan. 

Belum sempat pulih dari keterkejutan saat mendapati kehadiran Embun Kahyangan, Bintang Tenggara menoleh… 

“Hah!” Serta-merta Bintang Tenggara dibuat tercengang!

Kedua bola matanya menemukan keanggunan. Gadis yang menegur tadi tak mengenakan kain tutup kepala berbentuk tanduk, atau tingkuluak, yang biasa ia kenakan. Rambutnya bergelombang tergerai ke belakang, menambah keanggunan wajahnya. Senyuman yang terlukis di bibirnya dapat merontokkan duka dan nestapa. Ia melangkah ringan, meski terlihat hendak bergegas menghampiri.

“Gemintang…?” Sangara Santang terlihat kebingungan. Lalu menoleh ke arah Bintang Tenggara. “Apakah kalian sudah saling mengenal?” 

Bintang Tenggara mengangguk pelan. 

“Hm…? Gadis belia ini adalah putri dari seorang sahabat dari wilayah barat Pulau Barisan Barat. Saat ini, kebetulan ia sedang menjadi murid khusus di Sanggar Sarana Sakti. Kuperkenalkan… Lampir Marapi.” 

Sangara Santang tetap memperkenalkan gadis anggun yang baru saja tiba. Meski, ia menyembunyikan asal-muasal Lampir Marapi. Dalam hati, sungguh sulit baginya memercayai kenyataan bahwa Bintang Tenggara dan Lampir Marapi saling mengenal! Kenal dimana!? Sejak kapan!? 

“Sekali lagi, para pengawal yang akan mendampingi Citra Pitaloka bukan hanya kalian berdua. Lagipula, aku tak hendak menyebutnya sebagai pengawalan, karena terkesan kurang tulus dalam upaya mencapai keharmonisan antara kedua kerajaan.” 

Pembawaan Sangara Santang kembali tenang. Ia tak hanya berujar kepada Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas. 

“Embun Kahyangan dan Lampir Marapi akan turut bersama dalam perjalanan menuju Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Dengan demikian, kalian berlima akan berangkat sebagai… satu regu utusan perdamaian.”  

Di hadapan Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas, kini berdiri Citra Pitaloka Si Mojang Merah Muda sekaligus Putri Mahkota, Embun Kahyangan Si Pembunuh Bayangan, dan Lampir Marapi Sang Perawan Putih.

“Bruk!” 

Bintang Tenggara spontan menoleh ke samping. Menyaksikan keberadaan tiga gadis yang masing-masing menampikan pesona juita, ayu dan anggun… Aji Pamungkas ambruk di tempat! Darah mengalir deras dari kedua lubang hidungnya!



Catatan:

*) anglung/ang·lungCn n paviliun

**) juita/ju·i·takl 2 a cantik; elok (tentang gadis, wanita)



Peran dalam regu:

Aji Pamungkas: Marksman

Bintang Tenggara: Fighter

Embun Kahyangan: Assassin

Lampir Marapi: Mage

Citra Pitaloka: ???

Apakah masih ada bermain ‘Mobile Legend’? Atau sudah berpindah ke ‘Heroes Evolved’? ‘Arena of Valor’ juga seru!