Episode 22 - Mereka Seimbang



“Biar gimana pun, aku harus membongkar alasan kematian kakakku. Aku harus bisa," gumam Taki. "MIDORI!"

Seisi gelanggang bersorak untuk kesekian kalinya. Beberapa orang bahkan rela menjulurkan kepala mereka lebih dekat dengan arena demi menyaksikan pusaran biru yang beriak di hadapan Taki. 

Meski dihinggapi puluhan luka gores, Taki bersikeras menegakkan tubuh. Ia tidak ingin dipermalukan di hadapan semua penonton karena kalah dari seorang gadis. Meskipun, gadis tersebut memang terlampau hebat.

"Aku tahu kemampuanku nggak sebanding dengan Sarasvati. Tapi, setidaknya aku berusaha sampai batas akhir!" batin pemuda berambut pirang itu.

"WHOAH!"

"HEBAT!"

"DIA MASIH NIAT MELAWAN!"

Pusaran biru yang berpendar itu akhirnya menjelma menjadi sosok monster setengah manusia. Cukup aneh ketika Taki menyebut monster tersebut sebagai Midori. Bagaimana tidak? Tingginya saja hampir tiga meter dengan tubuh terbuat dari bebatuan biru. 

Selain itu, lengan serta kakinya tidak menyatu dengan badan, seolah hanya dihubungkan oleh medan magnet. Dan, yang paling kontras adalah wajah putihnya yang cuma dihias sepasang mata merah.

Makhluk bernama Midori itu melayang-layang tenang. Tatapannya menjurus pada Sarasvati. Jika benar Taki masih berniat melawan, maka mungkin saja ini merupakan usaha terhebatnya.

"Dia hebat." Sebuah pujian tak sengaja tercetus dari mulut Arya.

"Ada apa?" Jackal segera merespon.

"Aku tidak pernah melihat makhluk mitologi semacam itu. Jadi, itu artinya ia membayangkan bagian demi bagian Guardian tersebut tanpa referensi sama sekali."

"Tidak juga," potong Jackal. "Menciptakan Guardian unik bukan berarti membayangkannya tanpa referensi. Anda dengar? Dia baru saja menyebut nama Midori. Bukankah seharusnya ada keterkaitan?"

"Entahlah, aku tidak terlalu mengerti."

Taki agak membungkukkan badan seraya menggenggam erat kubus hitam miliknya. Dalam riuh semangat penonton, ia tiba-tiba berlari cepat disusul Midori yang melayang di belakang.

"Jadi kamu nggak kaget, ya?" Ia menyeringai tatkala Sarasvati hanya diam seperti biasanya.

Diam bukan berarti kalah, begitu pun sebaliknya. Seperti pertarungan yang sudah-sudah, diamnya Sarasvati dikarenakan fokusnya terhadap keahlian telekinesis tingkat tinggi. Benda-benda besar hingga butiran pasir pun dapat disulap gadis India itu menjadi serangan mematikan.

Dan, benar saja! Ketika Taki hampir mencapai musuhnya, pelindung transparan di sekitar Sarasvati langsung bereaksi. Kendati hanya sekelebat, Taki bisa melihat butiran pasir tengah memelesat ke arahnya.

""Enak saja." Pemuda itu menghilang dalam sekejap. "Aku udah tahu!" Tiba-tiba ia muncul di atas Sarasvati.

Tangan Sarasvati bergerak cepat, coba menutupi pelindungnya yang lolos dari pengawasan. Dan anehnya, Taki bisa secara kebetulan berada di sana.

"Apa yang dilakukannya?!" Mata Arya melebar.

Seraya mengangkat kubus hitam tinggi-tinggi, Taki meluncur ke sisi yang lolos dari pelindung Sarasvati. Secara mengejutkan, kubusnya bergerak sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjelma menjadi pedang berkelok-kelok layaknya keris.

"Pedang Ryuzagi. Aku bakal mengirimmu ke dunia nyata, Sarasvati!"

Pedang Ryuzagi mengacung ke depan, teriakan Taki nyaris tenggelam dalam sorak sorai penonton. Sungguh pertandingan yang mengejutkan. Melihat bagaimana kedua pihak saling mengerahkan kemampuan terbaik, dan pemandangan gigi Goro yang tertancap di tanah membuat siapa pun enggan mengedipkan mata walau sedetik saja.

"Kena." Sarasvati akhirnya bersuara.

Kumpulan pasir yang mengelilingi tubuhnya lagi-lagi dilepaskan untuk memburu Taki. Layaknya sekumpukan tawon, pasir-pasir tersebut meluncur cepat ke arah Taki. Sesaat jaraknya tinggal sesenti, pemuda itu hilang dalam sekejap.

"Aku nggak akan kalah!" Taki seketika muncul di sisi yang lain, sisi di mana pelindung Sarasvati sudah tak ada. 

Sontak saja, perempuan itu mengorbankan pelindung pasirnya lagi untuk dijadikan serangan. Terbukti, selangkah demi selangkah, Taki berhasil mengurangi ketebalan pelindung musuhnya.

"Dia mampu berteleportasi secepat itu. Bahkan, ia sudah melakukannya berulang kali," komentar Red seraya menatap sengit.

"Kalau dipikir-pikir, sebenarnya itu cuman teleportasi biasa," celetuk Frog.

"A-apa maksudnya, Guru?" Red tentu penasaran.

"Kecepatan teleportasinya meningkat secara mengejutkan setelah Guardian si rambut pirang itu muncul." Frog memandang Midori yang melayang di sudut arena. "Kalau aku benar, maka Guardian-nya itu berperan sebagai perantara sekaligus mata bagi si rambut pirang."

"Ja-jadi, Guardian itu bertugas menemukan sisi pelindung yang lolos dari pengawasan si gadis India, sehingga si rambut pirang dapat berteleportasi berdasarkan arah pandang Guardian-nya."

Taki lagi-lagi berteleportasi ke sisi yang lolos dari pengawasan Sarasvati. Terlebih, kali ini ia sampai pada tempat yang benar-benar bersih dari pelindung pasir. Sehingga, lubang besar tampak kentara dari pandangannya.

"HYAA!!!" 

Pemuda itu mendorong pedang Ryuzagi ke bawah hingga kecepatannya bertambah. Dilihat dari segi mana pun, Sarasvati tetap saja terlambat untuk melakukan antisipasi. Kendati ia berniat mengendalikan benda-benda lain untuk menyerang, Taki masih bisa menghilang lalu muncul lagi di sisi yang rentan.

"Aku sedang malas turun ke bawah," ujar Goro menyeringai puas.

ZRASH!

Taki berhasil menembus lubang pelindung itu, dan sekarang ia menuju tepat ke arah Sarasvati. Andai kata serangannya kali ini berhasil hingga memaksa Sarasvati untuk menyerah, maka Taki berhak memilih asrama yang diinginkannya. 

Di lain sisi, Sarasvati yang di awal-awal pertandingan terlihat unggul akan menenggak kekalahan pahit beserta rasa malu tiada tara jika kalah di saat-saat terakhir. Sungguh ironis.

"Aku akan menang!"

Tak diduga, semua pasir yang mengelilingi Sarasvati bergerak ke satu arah, tepatnya menuju Taki yang sejengkal lagi sukses melukainya.

"Apa itu?!" Taki terkesiap.

Keadaan berbalik, Taki terkepung dalam bola pasir yang bergerak begitu cepat. Para penonton kembali riuh, mereka berteriak-teriak meluapkan kekesalan.

"Mengapa Taki tidak berteleportasi?" ketus Arya.

"Dia tidak bisa. Arah teleportasinya bergantung pada visual Midori. Sementara, Midori kesulitan menemukan sisi aman karena pandangannya terhalang oleh butiran pasir yang berseliweran tak tentu arah," tutur Jackal. "Gadis bernama Sarasvati itu cukup nekat dengan mengorbankan semua pelindungnya di detik-detik terakhir. Dia sadar bahwa tidakcada cara lain yang mampu mengimbangi serangan Taki."

"Dengan kata lain ...." Arya terbeliak. "Taki sudah mati langkah."

"AKU NGGAK MUNGKIN KALAH!" Anehnya, walau diprediksi kalah, Taki ternyata masih bisa berteleportasi. Ia menghilang dan muncul di samping Sarasvati.

Semua penonton tercengang, termasuk segelintir Duta Pandora di balik topeng mereka. Ini di luar dugaan, sungguh. Satu-satunya alasan yang dapat menjelaskan hal tersebut adalah Midori yang tahu-tahu sudah ada di sudut arena yang berlawanan.

"Oh, jadi gitu," gumam Frog.

"Ada apa, Guru?" 

"Rupanya Guardian si rambut pirang itu juga bisa berteleportasi. Kalau begini, maka jarak pandangnya mampu mencapai keseluruhan gelanggang." Frog menggaruk kepalanya yang tertutup tudung jubah. "Aku mulai tertarik," ujarnya terkesan menahan tawa.

Tanpa basa basi, Taki segera menghunus-hunuskan pedangnya untuk mengalahkan Sarasvati. Mereka terlibat adu kemampuan yang cukup sengit.

Berbekal pasir seadanya, Sarasvati berusaha membuat pelindung baru sekaligus alat penyerangan. Namun, Taki tidak membiarkannya begitu saja. Secepat kilat ia melancarkan sabetan-sabetan maut guna menguasai tempo pertarungan. 

ZRAT! ZRAT!

"Nggak ada gunanya terus menghindar!"

Dari puluhan tebasan, tidak ada satu pun yang berhasil singgah di kulit cokelat Sarasvati. Gadis tersebut sangat lincah, sehingga kesabaran Taki diuji terus-menerus. Akan tetapi ....

"Ayo, Midori!" Pemuda itu tiba-tiba melempar pedang Ryuzagi ke arah Sarasvati. "Habisi dia!" Sesaat kemudian, pedang tersebut lenyap.

"Teleportasi?!" Arya tak kuasa menahan kata.

"Midori mampu memindahkan segala jenis objek, sama seperti telekinesis Sarasvati yang dapat menggerakkan semua benda," tambah Jackal.

Dengan mata terpejam, Sarasvati berusaha menerka dari mana serangan itu datang. Ia mengangkat lengannya ke atas lalu menarik napas dalam-dalam.

SYUT!

Dari atas! Pedang Ryuzagi memelesat cepat sampai wujudnya terlihat samar-samar. Jika Sarasvati ceroboh, sudah pasti kepalanya akan langsung tertusuk.

TANG!

"HAH?!"

"APA-APAAN ITU?!"

"LARI, TAKI!"

Taki berdiri gemetar. Bagaimana tidak? Pedang Ryuzagi yang turun amat cepat akhirnya mampu dihentikan Sarasvati dan dimanfaatkannya sebagai senjata tambahan. Dengan kata lain, kini pedang itu dimiliki oleh Sarasvati.

"Telekinesis terhadap semua benda, baik milik sendiri maupun milik lawan. Itulah jenis Skill yang dikuasai Sarasvati," tukas Jackal seraya bersedekap.

"Melihat semua ini, aku jadi berpikir kalau sedari tadi Sarasvati hanya bermain-main," timpal Arya berekspresi datar.

"Ka-kamu ... a-apa yang baru aja terjadi?" Taki tergagap-gagap.

"Menyerahlah," ucap Sarasvati dalam balutan suara lembut nan lantang.

"Nggak bisa. Aku punya impian besar di pertandingan ini." Taki tertunduk lesu.

"Kalah di sini bukanlah akhir. Kau akan kumasukkan ke asrama yang layak."

ZRING!

Selagi Sarasvati sibuk bicara, Taki tiba-tiba menghilang. Satu-dua detik kemudian, ia muncul di dekat pedang Ryuzagi. Tangannya menjulur sekuat tenaga, tetapi Sarasvati langsung tersadar dan memindahkan pedang tersebut jauh ke depan.

"Sial!" Taki terpelanting ke tanah.

Saat itu juga sang musuh mengendalikan pedang Ryuzagi ke arah tuannya. Taki lekas bangkit lalu berteleportasi secepat kilat. Ia sampai ke sudut arena, dan pedang itu juga melayang mengikutinya. Taki menghilang lagi, ia sampai di sisi utara gelanggang tetapi langsung bersambut lesat beringas pedangnya sendiri.

"Kurang ajar!" Pemuda itu berteleportasi kembali.

Sarasvati bersiaga tinggi sejurus dengan munculnya Taki di dekatnya. Pedang Ryuzagi sontak meluncur ganas. Karena membelakangi pedang itu, Taki tidak tahu bahwa ada serangan cepat yang mengancam dirinya. Namun, pemuda berkulit putih tersebut justru tersenyum.

"Ayo, Midori!"

ZRING!

Untuk pertama kalinya Sarasvati tercekat. Pedang Ryuzagi yang jelas-jelas dalam kendalinya tak diduga lenyap akibat kekuatan teleportasi dari Midori. Dan buruknya lagi, gadis itu lupa membuat pelindung, sebab terlalu fokus pada penyerangan.

"Keadaannya berbalik lagi!" 

"Kapan pertandingan ini bakal selesai?"

"Mereka sama-sama kuat."

Begitulah kalimat-kalimat penuh perasaan yang terlontar dari mulut para penonton. Mereka benar-benar kelelahan mengikuti alur pertandingan yang tidak terduga sama sekali.

Kini giliran Taki yang menguasai tempo penyerangan. Bersama pedang Ryuzagi di genggamannya, pemuda tersebut berusaha membacok sang musuh. Memang terdengar sadis, tetapi Sarasvati takkan merasa sakit atau nyeri, melainkan hanya terbangun dari tidur. Dan, itu pun jika ia tidak menyerah sebelum pedang Taki sampai di kulitnya.

"Sarasvati telah dikalahkan," kata Arya. "Tapi, mengapa jemari kirinya bergerak-gerak seperti itu?"

Taki berbelalak, sabetan pedangnya berhenti mendadak. Sebab, seluruh gelanggang sudah penuh akan sekompi kera putih bertongkat emas.