Episode 8 - Dusun Kedaton Kidul

Karena semalam tidur terlalu sebentar, selama perjalanan aku hanya memejamkan mata—berusaha tidur meski sulit. Aku membuka mata saat mobil yang kami tumpangi, memasuki lahan parkir tempat pengungsian. Kami turun dari mobil, dan kulihat sehampar tanah lapang yang membariskan tenda-tenda besar berwarna abu lumpur menyambut kedatangan kami.

Area tempat pengungsian cukup luas. Barangkali, satu setengah lapangan sepak bola. Sebagian besar ditikari rumput setinggi separuh jari dengan banyak bagian yang gundul. Di tepiannya, terdapat deret rapat pelbagai jenis pohon-pohon jangkung yang tak kukenal jenisnya, kecuali kelapa.

Mas Sukri menyambut kami. Dibalut rompi hitam, topi, jeans gelap, dan sepatu boot bercorak lumpur, tubuhnya yang kecil dan tak tinggi terlihat tegap-berisi.

Setelah bertanya tentang perjalanan kami menuju ke sini, Mas Sukri meminta kami membuntuti langkahnya yang cukup lincah—separuh seperti bocah, separuh menunjukkan ia relawan berpengalaman.

Kami sampai di tenda pengungsi, dan kurasakan kemurungan berhamburan: para bapak pikirannya seolah sibuk menyusun rencana membangun kembali perekonomian keluarganya, para ibu mencoba tegar dari rasa putus asa, dan anak-anak—dalam dekapan orang tuanya—kehilangan alasan bercanda. Yang lebih menyakiti dadaku, kulihat seorang perempuan muda cantik yang tengah hamil besar, sedang berbaring di ranjang yang terlihat paling istimewa—maksudku, dalam kondisi darurat bencana—dalam tenda kecil terpisah.

“Namanya Zulaeka, Mi, salah satu warga yang kehilangan suaminya akibat gempa,” kata Mas Sukri, yang menangkap arah pandang mataku terus menuju perempuan itu.

Aku urung bertanya lebih lanjut, hanya kubuntuti saja langkah Mas Sukri. Sampai di dapur umum, hiruk-pikuk relawan dan benda-benda dapur terlihat. Wajan besar mencoba mematangkan telur, panci mendidihkan sayur, nasi mengepul, dan baris ratusan sterofoam menganga siap diisi. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju tenda besar yang berjarak sekitar 30 meter dari dapur umum.

“Nah, ini tenda logistik,” kata Mas Sukri, “kita biasa menyimpan bahan makanan dan bantuan di sini.”

Baskara menyelinap di antara tumpukan ratusan karung beras. Menatap dengan separuh teliti dan sepenuh curiga, lalu kembali. “Mas Sukri, ini bantuan dari mana saja, ya?”

“Oh ...,” Mas Sukri terlihat sedikit heran mendengar pertanyaan Baskara, “banyak, Bas. Dari masyarakat umum, pemerintah, perusahaan, serta dari mitr__”

“Terus, soal pertanggungjawabannya gimana, Mas?” tanya Baskara.

Kulirik Baskara, mencoba meyakinkannya kalau pertanyaannya sudah melampaui batas kesopanan, tapi ia tak menggubris.

“Ada, Bas. Kami secara rutin meminta pihak luar untuk mengaudit, kemudian menyerahkan hasil laporannya kepada pihak yang berkepentingan dan pemangku hajat. Bahkan, terkait transparansi, kami menyebarluaskan laporan lewat media massa.”

Lepas dari situasi tidak mengenakan itu, kami melanjutkan langkah menelusuri bagian-bagian lain tempat pengungsian.

Akhirnya, setelah sedikit mempelajari situasi tempat pengungsian, kami diantar ke tenda relawan—yang ternyata berbaur bersama pengungsi, dengan alasan memudahkan dalam hal pelayanan. Rupanya, demi kenyamanan bersama tenda dipisahkan berdasarkan jenis kelamin.

Setelah meletakkan ransel dan barang-barang, aku segera menuju dapur umum untuk membantu kegiatan relawan lain.

Baskara membantu mengupas telur, Adi mengaduk nasi, sedangkan aku berkutat dengan bawang merah. Ditemani wanita paruh baya—yang wajahnya menolak usia—aku sibuk mengiris ratusan siung bawang merah, sekaligus sibuk menyeka air mataku sendiri.

“Mbak, bawang yang diiris, kok kamu yang nangis, sih?” gurau wanita di sebelahku. Lalu, ia mengambil mangkuk, menaruhnya di dekatku, kemudian menuang air mineral di dalamnya. Aku tersenyum, sambil melanjutkan pekerjaanku.

Sungguh ajaib. Mataku tidak lagi pedih dan berair. Entah ilmiah atau tidak, yang jelas wanita di sebelahku ini punya pengalaman mumpuni soal dapur. “Wah, ndak pedih lagi mataku, nih, Bu.”

“Lha, memang jarang ke dapur, toh, Mbak? Pasti Belum bersuami, ya?”

“Belum, Bu. Kayaknya aku mesti banyak belajar soal dapur, nih, sama Ibu.”

“Ah, Mbak bisa saja. Tapi kalau sudah menikah, memang urusan masak memasak penting, lho, untuk kemesraan rumah tangga. Meskipun ndak semua lelaki mementingkan urusan dapur dan perut saja. Contohnya aku, hampir 30 tahun berumah tangga, tetap mesra dengan suamiku. Tapi, ya ...,” wanita itu pandangannya tiba-tiba kosong, “namanya Allah sudah berkehendak lain, aku mesti ikhlas kalau suamiku mesti dijemput saat gempa.”

Tenggorokanku seketika mampat. Entah mengapa, air di mangkuk seperti kehilangan khasiatnya. Ternyata, wanita yang semula kukira relawan, merupakan salah satu korban.

**

Wanita yang mengupas bawang bersamaku bernama Sri. Aku mengetahuinya dari Mas Sukri—ketika ia memintaku untuk menemaninya di tenda kantor ACT. Bu Sri, merupakan salah satu korban wanita yang kehilangan suaminya. Di Dusun Kedaton Kidul, korban meninggal dunia berjumlah tujuh orang, luka berat 35 orang, dan 369 lainnya menjadi pengungsi.

Dari Mas Sukri, aku juga mengetahui bahwa mata pencaharian warga Dusun Kedaton Kidul adalah 81 orang buruh, 14 orang pengusaha batu bata, dua orang tukang batu, 13 orang pedagang, satu orang bidan, satu orang PNS, dan tiga orang guru sekolah swasta.

Korban yang seperti Bu Sri, kata Mas Sukri, dalam teori yang diungkapkan Leach, biasa dinamakan sebagai “supercool”, dan hanya terdapat 10 sampai 20 persen di antara korban bencana. Apalagi, Bu Sri—sebagai perempuan—merupakan korban yang rentan trauma pasca bencana alam.

Berbeda dengan perempuan, lelaki lebih rentan trauma pasca bencana yang disebabkan oleh manusia, seperti peperangan. Pria, dalam peperangan, selalu ingin ambil bagian terdepan. Menjadi seolah heroik—dengan membela wilayah, agama, adat, atau keluarga. Meski sejujurnya, lebih sering dengan maksud membela harga dirinya.

Tapi, ya, Mi. Manusia, semakin dipandang lewat sebuah konsep, justru terlihat semakin buram, kata Mas Sukri, mengakhiri perbincangan kami.

Di tempat pengungsian ini, perempuan tidak hanya dilibatkan pada urusan dapur, melainkan pada posisi-posisi strategis yang biasa diisi lelaki. Tempat pengungsian juga dijadikan media pembelajaran penting dalam mengangkat kesetaraan. Selama ini, peran gender memang sering kali dikotak-kotakkan. Dalam rumah tangga, misalnya, seolah ada pembagian wilayah, yakni dapur adalah perempuan, sementara ruang tamu adalah lelaki. Maka, kesetaraan gender selalu berupaya dihadirkan dalam tempat pengungsian bencana.

**

Aku tengah duduk bersandar. Kulihat di kejauhan, Agam begitu sibuk bolak-balik, antara mobil pengangkut bahan makanan dan tenda logistik. Tangannya yang terbalut sarung tangan berbahan handuk—yang sering dikenakan dalam pekerjaaan kasar—begitu cekatan.

Aku hendak membantunya, tapi urung, karena ternyata menyiapkan makanan untuk sekitar 500 orang sungguh meletihkan.

Selang sekitar sepuluh menit, saat aku hendak bangkit, ia terlihat sudah menuntaskan pekerjaannya. Dibukanya sarung tangannya dan dimasukkannya ke dalam tas pinggang. Dengan handuk yang terselip di saku belakang jeans bututnya, diusapnya peluh yang meluncur dari wajahnya.

Dari jarak sekitar 20 meter, kulihat ia menghampiri beberapa anak yang tengah lesu di dalam pengawasan orang tuanya. Dibisikinya satu per satu anak, dan setiap selesai satu bisikan, satu anak yang mengikutinya bertambah. Mula-mula, barisan hanya terdiri dari ia dan satu orang anak. Dan, akhirnya, menjadi semakin panjang.

Lima anak diajaknya duduk santai di atas terpal yang berada di dekat sebuah pohon besar. Aku yang semakin penasaran, menghampiri kumpulan itu dan langsung duduk di antara anak-anak yang berhadap-hadapan dengan Agam. Rupanya, ia tengah mendongeng, namun anak-anak terlihat tidak antusias. Entahlah. Mungkin karena suaranya terlalu kaku untuk sebuah dongeng lucu—ia mendongeng kisah si kancil—atau memang anak-anak masih lebih tertarik dengan kemurungan.

Menyadari kehadiranku, si Pendongeng memintaku untuk duduk di sampingnya. Aku hendak menolak, namun tatap harap anak-anak memaksaku untuk tetap memenuhi permintaannya. Dengan wajah bingung, aku duduk di depan, sementara si Pendongeng mengeluarkan sepasang sarung tangannya dan sebuah spidol. Digambarnya mata dan hidung—sejujurnya, lebih mirip tompel besar—di punggung sarung tangannya. Lalu, dikenakannya satu di tangan kanan, dan memintaku mengenakan satu di tangan kiri.

“Adik-adik,” kata Agam, sambil menggerakkan jari-jari tangan kanannya seolah mulut kancil, “perkenalkan Mbak Laksmi sebagai si Ulaaaaaaaar!”

Anak-anak bertepuk tangan. Wajah mereka terlihat sedikit lebih antusias sekarang. Dugaanku, anak-anak masih kesulitan membayangkan secara visual dongeng yang dilisankan Agam, karena bayangan gempa masih intens di pikiran mereka.

Dogeng berlanjut. Si Kancil bersuara kaku sibuk nyerocos, sementara si Ular yang menggemaskan hanya tertunduk kikuk dan lebih sering mendesis—dengan kemampuan lidahku yang payah tentunya.

Dalam hati, aku sedikit ngedumel:

Kenapa harus Agam yang jadi kancil?

Kenapa aku harus jadi ular?

Kenapa nggak ada tokoh putri cantik? Aku pasti cocok dan lebih bisa menghayati perannya.

Ah, Agam! Kamu tahu nggak, sih, aku takut setengah mati sama ular!?