Episode 8 - Keping 3: Muklis si Robot dan Lompatan Singa Sonya

Raslene kini jadi teman baikku di sekolah. Entah kenapa, banyaknya pertengkaran kami selalu berakhir dengan perdamaian. Barangkali, dua orang aneh di sekolah memang layak menjadi kongsi. Tetapi, lebih dari alasan itu, ada hal-hal yang membuatku senang berteman dengannya.

Jika Ibu gemar mendongeng, maka Raslene selalu bisa menghadirkan dongeng ke dunia nyata. Ia seolah mampu mengaburkan batas antara dongeng dan kenyataan, sehingga kenyataan sedikit lebih bisa dinikmati. Suatu hari, misalnya, ia pernah mengajakku membayangkan bahwa kelas adalah kebun binatang, sehingga untuk kali pertama, aku bisa tertawa sepanjang hari di kelas.

Perlahan, aku pun mulai berani menceritakan banyak hal kepada Raslene, termasuk kecurigaanku bahwa Bibi Roslinda adalah Lalumba. Namun, ketika ia merasa di atas angin dan hendak memulai tuduhan menjengkelkannya kembali, aku mesti mengingatkan kesepakatan yang kami ajukan ketika awal memutuskan berteman, bahwa Bibi Roslinda bukan penyihir. Titik.

Selain itu, Raslene juga berhasil mendorongku untuk mulai menikmati pergaulan di sekolah. Dari perubahan itu, aku mulai mengetahui bahwa salah satu teman sekelasku, Daniel, punya isi kepala tak jauh beda dari Raslene. Pria bertubuh kurus dengan poni jatuh rata di atas alis itu senang berkhayal dan selalu mencoba meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa khayalannya adalah kenyataan. Salah satunya soal Muklis.

Sekolah semakin seru dengan kehadiran dua murid baru, Muklis dan Sonya. Muklis adalah anak sepasang profesor. Tetapi, gosip dari mulut nyinyir Daniel yang beredar di kelas menyebutkan, lelaki berkacamata itu sebenarnya adalah robot. Gosip semakin santer sebab Muklis selalu menghindari bermain sepak bola, atau selalu punya alasan sakit ketika pelajaran olahraga. Suatu kali, Daniel berkata, “Kamu tahu bahwa mesin nggak bisa berkeringat?”

Sejak hari itu, kami sering memerhatikan Muklis, dan tak pernah satu kali pun mendapatinya berkeringat. Meskipun, kecurigaan kami masih sangat diragukan kebenarannya karena secara fakta, beberapa bulan belakangan memang musim hujan dan anehnya cuaca sangat sejuk. Ketika aku mengatakan hal itu kepada Daniel, ia dengan tenang membantahnya. “Nesh, coba perhatikan. Selama musim hujan, Muklis satu-satunya yang nggak pernah hujan-hujanan. Bahkan, dia cuma mau pulang kalau hujan benar-benar berhenti.” Daniel menaikkan kerah seragamnya. “Kamu tahu apa yang ditakuti mesin? Air jawabannya, Kawan!”

Tetapi, Muklis sendiri seolah mewarisi sifat-sifat robot. Ia dingin, jarang bicara—lebih parah daripada aku—dan seolah tahu segalanya. Ia selalu unggul dalam mata pelajaran apa pun, apalagi Matematika. “Aku pernah melihat kalkulator bertanya pada Muklis,” bisik Raslene, suatu kali.

Sekali lagi, aku larut dalam perkataan Daniel dan Raslene. Alhasil, aku terus-menerus mengamati Muklis, memastikan kebenaran ucapan kedua sahabat pengkhayalku. Berminggu-minggu hujan turun, dan Muklis memang benar-benar tak pernah berani menembus hujan untuk bermain atau pulang ke rumah. Akhirnya, kami pun bersiasat untuk membuktikan kebenaran perkataan Daniel dan Raslene.

Saat praktik renang mata pelajaran olahraga, seperti biasa, Muklis mencoba mendapatkan toleransi agar diizinkan tak berenang meskipun hadir. Biasanya, ia hanya duduk dengan pakaian lengkap sambil membaca buku di kursi yang berada di tepi kolam dalam; kolam yang tak pernah berani dimasuki oleh hampir semua murid kecuali juara renang sekolah kami, Raslene. Izin Muklis selalu diluluskan Pak Purba, guru olahraga kami, sebab yang terpenting bagi pria itu, semua tiket masuk kolam renang terjual. Entah benar atau tidak, semacam ada kerja sama saling menguntungkan antara pria berkulit gelap itu dengan pihak pengelola kolam renang.

Setelah praktik selesai dan Pak Purba menilai kemampuan renang kami, biasanya ia akan memberikan sesi bebas, di mana semua murid dibiarkan bermain di kolam dangkal. Sementara ia sendiri, akan merokok di tempat mi ayam, di dekat loket masuk. Pada jeda waktu itulah kami menjalankan siasat.

Sesuai rencana, kami akan meminta Raslene pura-pura tenggelam di kolam dalam yang letaknya cukup jauh dari kolam dangkal. Hari itu tak ada satu pun orang di kolam dalam, sebab praktik renang kami dilakukan dengan menyewa penuh satu kolam renang selama beberapa jam. Aku dan Daniel bersembunyi di balik pot tanaman besar, sementara Muklis masih bergeming di hadapan bukunya. Seperti kata Daniel, akan ada dua bukti besar bahwa Muklis adalah robot, yakni 1. Ia takut air sebab bisa merusak mesin di tubuhnya, 2. Ia tak akan peduli pada Raslene, sebab robot tak punya hati. Dua alasan itulah yang membuat Raslene meronta di tengah kolam dalam sambil memanggil nama Muklis, meminta pertolongan.

Di luar dugaan, Muklis langsung menceburkan diri di kolam untuk menolong Raslene. Celakanya, Muklis lupa kalau ia sendiri tak bisa berenang. Ia balik meronta memanggil Raslene. Untungnya, Raslene Sang Juara Renang dengan gesit menolong Muklis dan menariknya ke tepi kolam.

Kami bersyukur Muklis belum tenggelam lama, sehingga kami tak perlu menekan dadanya untuk mengeluarkan air—seperti yang biasa kami lihat di televisi. Muklis cuma perlu duduk, melegakan paru-parunya yang letih. Sejurus kemudian, ia terlihat normal dan mengucapkan terima kasih kepada Raslene.

Raslene merasa berdosa dan tertunduk malu. Aku pun demikian. Akhirnya, kami meminta maaf pada Muklis, meskipun maksud permintaan maaf kami tetap jadi rahasia. Sedangkan Daniel, ia terlihat cuek. Kemudian, kami bertiga memutuskan pergi ke kantin kolam renang untuk membeli minum, sementara Muklis menolak ikut dan melanjutkan baca.

Di bangku kantin, Daniel berkata, “Aku lupa, Kawan! Aku pernah baca bahwa teknologi terkini memungkinkan robot punya perasaan seperti manusia dan ...,” Daniel melirik Raslene, “selamat, Slene! Sepertinya robot itu suka kamu!”

Raslene menepis perkataan Daniel, “Ingat, ya, Niel! Jangan sembarangan ngomong dan jangan pernah manfaatin aku lagi!” Melihat kejengkelan Raslene, tentu saja ejekan Daniel semakin menggila.

Esoknya, Muklis tak masuk sekolah. Kata Bu Wening, ia izin sakit. Kami semua merasa bersalah, kecuali Daniel.

“Pasti Profesor Andi, ayah Muklis, lagi betulin mesin di badan anaknya.” Anehnya, rasa bersalahku dan Raslene mudah luntur.

Berhari-hari Muklis belum juga masuk. Itu membuat rasa bersalah dan rasa penasaranku dan Raslene kembali muncul. Tetapi, lagi-lagi Daniel nyeletuk, “Robot itu teknologi canggih, Kawan. Komponennya mesti diimpor dari Amerika.” Kami menyimak dengan keheningan penuh rasa kagum, sampai ia kembali nyeletuk, “Kalian tahu di mana Amerika?! Itu jauh sekali. Adanya di Benua Eropa.” Kekaguman kami pun seketika lenyap.

Akhirnya, hingga sekarang, apakah Muklis benar robot atau bukan, belum bisa dibuktikan. Tetapi paling tidak, jika Bu Wening membandingkan kepandaian kami dengan Muklis, kami tak sedikit pun merasa kecewa karena jelas manusia tak bisa menang melawan mesin. Dan, sebab alasan itulah, Muklis dipilih Daniel untuk menjadi anggota kelompok lomba kemerdekaan kami.

**

“Kita mesti mewaspadai Sonya dan Frans,” kata Raslene, matanya berkilat. Seperti rutin setiap tahun, sekolah kami menyelenggarakan lomba kemerdekaan, tepat tanggal 17 Agustus. Berbeda dari sekolah lain, lomba di sekolah kami diselenggarakan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat orang, dan kelompok pemenang akan dinilai berdasarkan akumulasi kemenangan anggotanya. Artinya, kemenangan cuma bisa didapatkan melalui kerja sama yang baik dan solid antar anggota masing-masing kelompok.

Aku berada dalam Kelompok Dua, bersama Raslene, Daniel, Nurma, dan Muklis. Sementara menurut Raslene, kelompok lain yang mesti diwaspadai adalah Kelompok Empat, yang beranggotakan Sonya, Frans, Lala, Ikhsan, dan Febri.

Raslene menganalisis. Menurutnya, Frans perlu diwaspadai sebab tubuhnya bongsor dan tenaganya kuat. Kepandaian Lala bisa diatasi oleh kepintaran Muklis. Kecerdikan Febri bisa dikalahkan oleh kelicikan Daniel. Sementara Sonya, tak satu pun dari kami yang bisa mengalahkan ambisinya untuk menang lomba.

Sonya adalah kombinasi sempurna antara bakat akibat garis keturunan dan ambisi kedua orang tuanya. Kakeknya seorang veteran perang, sedangkan neneknya adalah seorang Belanda yang mencintai negeri ini lebih daripada rata-rata pribumi. Ayahnya sejarawan dan ibunya seorang atlet yang berprestasi mengharumkan nama bangsa ini. Dan, perpaduan itu melahirkan seorang calon juara lomba 17 Agustusan bernama Sonya.

Ibu Ningsih, ibunya Sonya, selalu menanamkan rasa nasionalisme yang tinggi pada anaknya. Paling tidak, ukuran nasionalisme itu bisa dilihat dari bros garuda yang tersemat di tas Sonya, juga sikap berdirinya setiap upacara bendera. Setiap Senin, Sonya selalu berdiri paling awal di lapangan, dan sama tegak dengan tiang bendera. Juga setiap kali lagu Indonesia Raya berkumandang, ia hampir selalu menangis, seolah segala perjuangan perang kakeknya merasuk ke dalam sumsum tulangnya. Kata Bu Wening—yang didapatkan dari keterangan Bu Ningsih—Sonya memang diajarkan untuk selalu khidmat ketika melakukan upacara. Itulah sebabnya ia menangis, meskipun Daniel pernah memergokinya memercikkan air keran ketika upacara.

Berdasarkan data dan fakta itu, barang tentu Sonya akan menuntut dirinya sendiri untuk menang dalam lomba nanti. Kata Daniel, ketika suatu kali melewati rumah Sonya, ia mengetahui Bu Ningsih sudah mempersiapkan perlombaan Sonya sejak jauh hari. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada kerupuk yang digantung tinggi di halaman rumah Bu Ningsih, dan Sonya melompat untuk menerkamnya. “Kerupuk itu tinggi sekali. Tapi Sonya berhasil menerkamnya dengan satu lompatan,” kata Daniel, beberapa hari lalu. “Bu Ningsih menamakannya Lompatan Singa Lapar. Camkan, Kawan, SINGA LAPAR! Aku pernah memelihara kura-kura, dan pernah nggak aku kasih makan seminggu.

Lalu, waktu aku iming-imingi dengan pelet di tanganku. Ia melompat dari akuarium dan mencengkeram jariku. Kalian tahu, cengkeraman rahang kura-kura cuma bisa lepas ketika ada petir. Sialnya, waktu itu musim kemarau. Untungnya, papaku pemain musik. Segera saja dia menyalakan keyboard dan membunyikan efek suara petir supaya jariku selamat. Tahu apa yang terjadi setelah itu?” tanya Daniel, yang tidak dijawab oleh kami, “papaku menganggap kejadian itu sebagai tanda kalau aku bakal jadi pemain keyboard terkenal. Jadi, aku dimasukkan berbagai tempat les keyboard, dan sejak itu aku bersumpah jauh lebih suka digigit kura-kura sampai dewasa. Ummm, sorry curhat. Jadi, maksudku, jika kura-kura saja bisa melompat karena lapar, bayangkan jika yang lapar adalah singa, Kawan?!”

Raslene masih mondar-mandir memikirkan lomba nanti. Di lapangan dekat rumahku, kami masih menunggu Muklis datang untuk menyusun siasat. Kami harus memenangkan lomba, sebab ini kesempatan terakhir kami bisa menorehkan prestasi di bangku SD—maksudku, kecuali Muklis, karena jelas prestasinya banyak sekali.

Tak lama berselang, Muklis datang. Wajahnya terlihat sendu.

“Kenapa, Klis?” tanyaku, setelah Muklis menyamankan dirinya dalam posisi duduk.

“Eh, kok, kamu nyeker, Klis?” tanya Raslene, yang menyadari Muklis tak memakai alas kaki.

Muklis bercerita. Rupanya, ia dipalak gerombolan anak STM yang doyan nongkrong di warung dekat lapangan. Ketika Raslene hendak menghampiri gerombolan itu, Muklis melarangnya sebab, katanya, gerombolan itu sudah kabur.

“Ayo kita lapor polisi!” kata Raslene, yang dibalas geming oleh Muklis.

“Ah, memang kamu punya uang, Slene?” tanya Daniel. “Setahuku, nih, ya. Lapor polisi itu ongkosnya mahal.”

“Lho, kan kita bisa jalan kaki! Nggak perlu ongkos!

“Bukan begitu ...,” wajah Daniel terlihat meremehkan, “kamu belum cukup besar untuk memahami cara dunia bekerja.”

“Sudah, sudah, Slene, aku sudah biasa dipalak, kok.” Muklis mencoba memperlihatkan senyum terpaksa. “Tapi ...,” Muklis terlihat berpikir, “seandainya aku punya banyak uan__”

“Kamu bakal lapor polisi?!” potong Raslene.

“Kamu bakal beli sepatu Robocop supaya orang yang mau malak harus bawa obeng?” timpal Daniel.

Raslene menepuk mulut Daniel.

“Bukan, bukan ...,” Muklis melambaikan kedua tangannya, “seandainya aku punya banyak uang, aku mau belikan masing-masing mereka sepatu baru. Kata Mama, mencuri itu dosa, dan aku kasihan sekali pada mereka yang mesti berdosa hanya karena ingin punya sepatu bagus.”

Siang ini, aku, Raslene, dan Daniel tertunduk haru. Kami mendapat pelajaran tentang menjadi seorang manusia dari sebuah mesin bernama Muklis.

**

Sekitar satu jam lagi lomba akan mulai. Di kejauhan, Bu Ningsih terlihat jongkok dan Sonya mengangguk berulang kali dalam balutan kaus bergambar kakeknya, serta celana panjang loreng tentara. Sepertinya, mereka sedang menyusun siasat. Aku sedikit gentar melihatnya, sebab aku yang dipilih Daniel untuk menghadapi Sonya tanpa alasan yang jelas.

Aku akan menghadapi Sonya untuk lomba makan kerupuk. Daniel menghadapi Febri untuk lomba balap karung. Raslene akan menjadi lawan tangguh Frans memasukkan pensil ke dalam botol. Nurma melawan Ikhsan dalam perlombaan menggigit sendok yang ditaruh kelereng. Sedangkan Muklis adalah delegasi kebanggaan kami untuk lomba cerdas cermat.

Demi memenangkan lomba, aku memilih tidak sarapan. Aku harap, rasa laparku akan membuatku lebih bersemangat melahap kerupukku nanti. Meskipun, alasan lain adalah aku tak ingin sakit perut karena masakan Bibi Roslinda bakal menggagalkan kemenanganku. Bibi Roslinda yang sedikit-banyak tahu soal persaingan beratku dengan Sonya, pagi ini memasak sup berkuah keruh yang, katanya, berkhasiat meninggikan lompatanku. Aku menolak sarapan, sebab curiga apa yang dikatakannya sebagai sup adalah air rebusan pegas. Percaya tidak percaya, pegas lama James yang berada di garasi lenyap.

Lomba dimulai dengan cerdas cermat. Tujuh perwakilan kelompok berdiri tegang di meja yang diletakkan di depan kelas. Muklis, perwakilan kelompok kami, berada kedua dari kanan di antara barisan itu. Sementara pesaing beratnya, Lala, berada di pojok kiri. Pertanyaan pertama mata pelajaran matematika dibacakan Bu Wening, dan Muklis dengan yakin mengangkat tangan. Dijawabnya pertanyaan, dan didapatkannya skor pertama. Selanjutnya, Muklis terus-menerus mendominasi lomba. Saking hebatnya, Muklis beberapa kali mengacungkan tangan sebelum pertanyaan selesai. Tetapi, itu justru membuatnya gugur dalam pertanyaan tersebut. Hasilnya, Lala yang mendapat skor dengan menjawabnya. “Itulah yang tidak aku suka dari mesin,” bisik Daniel, “kadang-kadang mereka ceroboh.”

Ketegangan kami berakhir. Kejar-mengejar skor antara Muklis dan Lala berujung kemenangan kelompok kami. Selanjutnya, Daniel menjadi delegasi kami untuk lomba balap karung.

Daniel yang bertubuh kurang tinggi hampir tenggelam dalam karungnya. Sementara perwakilan Kelompok Empat, Febri, telihat lebih meyakinkan dengan karung yang hanya setinggi perutnya. “Tenang, teman-teman, kebaikan memang selalu terlihat bakal kalah melawan kejahatan, tapi kita semua sudah tahu siapa yang selalu menang, bukan?” Wajah Daniel tampak pongah.

Peluit ditiup. Daniel jatuh pada lompatan ke empat. Pemenangnya? Tentu saja Febri. Hasilnya, satu sama.

Berikutnya, Raslene berhasil menjadi juara memasukkan pensil ke dalam botol. Frans yang kalah ke luar dari arena pertandingan sebagai juara kedua. Di tepi lapangan, ia terduduk dan raut wajahnya ditekuk. Sementara berjarak beberapa depa darinya, kami bersorak girang.

Lomba menggigit sendok berisi kelereng berlangsung cukup sengit. Di lapangan, Nurma dan Ikhsan berjalan sejajar dengan cepat namun berhati-hati. Garis finish menunggu siapa yang lebih dulu sampai di antara keduanya.

Sorak sorai membuat adrenalin Nurma terpanggil. Ia sedikit mempercepat langkahnya mengungguli Ikhsan. Namun, ketika ia hanya berjarak sekitar kurang dari lima meter menuju kemenangan. Ikhsan mengambil risiko dengan berlari. Untung bagi lelaki itu, lari tak membuat kelerengnya jatuh.

Kekalahan Nurma memberikan beban berat padaku. Apalagi, Daniel berulang kali mengatakan bahwa tanggung jawab kehormatan kelompok kita berada di bahuku.

Aku berdiri di area lomba. Sementara panitia mengatur tali pengikat agar kerupuk berada sejajar dengan mataku. Di sebelah, Bu Ningsih dengan angkuhnya meminta panitia membuat kerupuk Sonya diatur lebih tinggi hingga satu jengkal di atas kepala anaknya tersebut. Aku gemetar membayangkan jurus Lompatan Singa Lapar Sonya. Juga bagaimana nasibku jika kalah dan menjadi bulan-bulanan Daniel.

Peluit ditiup. Aku berusaha menjulurkan lidah untuk menangkap kerupuk yang bergerak liar tertiup angin. Di sampingku, Daniel dan Raslene terus menyemangatiku. “Ayo, Orang Lapar, habiskan kerupuk itu,” teriak Daniel.

Gigitan pertama berhasil mematahkan sedikit kerupukku. Sial, pikirku. Sementara berjeda dua peserta, jurus Lompatan Singa Lapar Sonya memancing tepuk tangan orang-orang.

Hasilnya jelas. Lomba berakhir dengan kemenangan Sonya. Sementara aku di posisi kedua. Kemudian, pada pengumuman pemenang, Kelompok Empat dengan rasa bangga mengangkat tinggi-tinggi pialanya. Sementara kelompok kami mesti berpuas diri mengangkat setinggi dada piala juara dua.

Usai lomba, kami memutuskan ke lapangan dekat rumahku. Di bangku beton, kami duduk tertunduk dan tak satu pun dari kami memecah kebisuan. Aku menunggu dengan berdebar ejekan Daniel, tetapi entah mengapa ia tak juga memulainya. “Tenang, Kawan,” ucap Daniel, akhirnya, “aku pernah baca bahwa berlapang dada atas kekalahan adalah kemenangan sejati.”

“Gila!” kata Muklis, “bagus juga kata-katamu, Niel. Nggak nyangka aku.”

“Kamu tahu apa yang membedakan antara robot dan manusia? Jawabannya kemampuan mengolah rasa lewat bahasa, Kawan,” ucap Daniel, pongah.