Episode 26 - Seperti Sedia Kala



Tengah hari setelah waktu belajar selesai. 

Waktu di mana para murid bebas melakukan kegiatan apapun sampai waktunya pulang tiba.

“Oke, aku akan menunggumu seperti biasa.”

“Emm, jangan lupa makan bekalmu.”

“Iya, iya.”

“Sekali aja, kalau gitu aku pergi dulu.”

Setelah selesai menerima pelajaran, Beni dan Rini terlihat akan berpisah untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing. 

Beni terlihat akan pergi ke ruang seni seperti biasa, dan Rini hari itu memiliki tugas piket untuk menjaga ruang UKS.

Di depan ruangan, sebelum Beni akan membuka pintu, terdengar suara benda-benda terjatuh. Beni langsung cepat-cepat masuk ke dalam karena merasa ada yang tidak beres. Dan saat dia sudah masuk, dia menemukan sosok murid laki-laki yang mencoba keluar lewat jendela.

Akan tetapi, dia terpeleset dan mengakibatkan tertiban beberapa barang. Beni bergegas mendekat ke murid laki-laki itu dan membantunya menyingkirkan barang-barang yang menimpa.

Saat murid itu sudah terbebas dari benda-benda yang menimpa, terlihat sosok yang tak biasa. Rambut pirang, memakai seragam kejurusan TKJ seperti yang dipakainya. Dan dia sangat mengenali sosok yang sangat jarang terlihat itu.

“Rasha!”

Namanya adalah Rasha, anak laki-laki kelahiran blasteran. Meskipun tinggi badannya lumayan pendek untuk seorang yang memiliki darah campuran. 

“Beni.”

Mengetaui kalau seseorang yang mencoba memergokinya masuk diam-diam lewat jendela adalah temannya, perasaan Rasha menjadi sangat lega.

“Untunglah, kupikir aku akan kepergok sama murid-murid lain.”

“Iya tapi, apa yang kau lakukan di sini. Ini adalah hari kedua sekolah, tapi kau malah tak ada di kelas maupun di mana pun. Dan malah di sini, apa yang coba kau lakukan?”

Beni mengucapkan segala rasa rindunya lewat cara lain sambil membantunya berdiri.

“Ya, kalau itu sih... maaf, aku tidak tahan kalau terus-terusan berada di dalam perlindungan dan akhirnya datang ke sini tanpa izin sebelumnya—aahh!!.”

Sesaat setelah Rasha menyelesaikan perkataannya, Beni dengan tiba-tiba memukul punggungnya. Perbedaan ukuran tubuh membuat Rasha sedikit terdorong karena kekuatan yang dikerahkan Beni.

Setelah merasa sakit yang cukup, Rasha ingin sekali memarahi Beni. Namun apa yang diperlihatkan Beni lewat wajahnya bukanlah amarah, melainkan rasa rindu dengan seorang teman lama.

“Apa yang kau katakan?! Kau bersekolah di sini, untuk apa kau malah memerlukan izin untuk sekedar masuk ke sekolah. Justru aneh kalau kau bersekolah tapi sama sekali tak pernah datang.”

Beni mengatakan itu dengan perasaan marah yang cukup terl ihat. Tetapi tetap saja, dia sama sekali tak memiliki rasa kebencian dengan teman yang mempunyai masalah dengan kehidupan sekolahnya.

“Sudahlah, lebih baik kita cari tempat ngobrol yang enak.”

Dengan begitu, mereka sepakat untuk terus berada di ruang seni dan menghabiskan waktu dengan mengobrol.

Ruang seni dipenuhi oleh benda-benda seni, seperti patung, lukisan, dan beberapa benda yang berkaitan dengan seni. Di pinggir ruangan, terdapat banyak kursi yang tertumpuk. Beni dan Rasha mengambil kursi untuk mereka sendiri.

Mereka duduk sambil menghadap ke jendela luar yang terbuka. Suasana di luar sangat damai, angin silir masuk lewat jendela, membuat ruangan menjadi sejuk. Pohon-pohon yang terlihat dari dalam juga menambah kesan mendamaikan hati.

“Jadi, bagaimana kabarmu?”

Karena kejadian barusan, Beni berusaha untuk memulai pembicaraan lebih dulu.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu dan teman-teman?”

“Kami baik-baik saja. Tentu saja keadaan ini takkan kami dapatkan jika kami tak lengah.”

“Begitu ya, jadi keadaannya masih bisa menjadi gawat kapanpun. Kupikir, kedatanganku ke sini mungkin saja akan membuat masalah bagi semuanya.”

“Apa yang kau pikirkan!? Justru kau yang akan mendapatkan masalah kalau kau tak pernah masuk sekolah selama hampir satu setengah tahun.”

“Ya, tapi aku melakukannya untuk kalian.”

“Kau berbohong.”

Beni merasa tak percaya dengan perkataan yang dikatakan Rasha tentang pengorbanannya demi teman-temannya. Terutama saat mengetahui kalau Rasha seharusnya bisa masuk ke sekolah kapanpun yang dia mau.

Meskipun masalah yang terjadi di masa lalu bisa saja terpicu kembali. Beni tetap tak menerima dengan alasan Rasha yang tak bisa bersekolah seperti murid-murid kebanyakan.

Dan saat mengetahui penyebabnya, dia mengatakannya dengan perasaan yang cukup bersalah.

“Apa itu karena perintah Bagas?”

Rasha tak menjawab pertanyaan Beni dan hanya terdiam—menolak untuk menjawab.

“Apa dia juga bisa menjamin kelulusanmu, meskipun kau sama sekali tak pergi untuk mendapatkan pengajaran di sekolah. Kau kira itu semudah yang pikirkan, dasar bodoh!”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

Rasha terlihat putus asa dengan perasaannya. 

Perasaan yang mengakibatkan kecemasan mungkin saja terjadi antara kelasnya dengan orang-orang—musuh Rasha di masa lalu. Di dalam hatinya, dia sangat ingin bersekolah seperti teman-temannya. 

Namun, hal itu tak semudah yang dia inginkan. Karena dia harus mempertaruhkan reputasi teman-temannya untuk melakukan hal itu.

“Kenapa kau tak mempertaruhkannya saja?”

Rasha menjadi sangat terkejut dari dalam dengan perkataan Beni barusan, dan saat dia menoleh untuk melihat wajah temannya, dia melihat ekspresi penuh keyakinan akan perkataannya.

“Apa kau pikir, masalahmu akan selesai kalau kau terus berlari seperti itu? apa kau akan terus berlari dan menjadi pengecut selama hidupmu di sekolah ini?”

Beni kali itu menunjukkan ekspresi menantang pada Rasha. Menantang keberaniaannya untuk mendobrak ketakutan akan sebuah masalah yang tak bisa dia selesaikan seorang diri.

“Jika memang seperti itu, maka aku akan berhenti untuk menjadi temanmu. Dan aku akan mulai melihatmu sebagai seorang pecundang yang hanya bisa bersembunyi di balik bayangan.”

Beni benar-benar menantang keberanian Rasha kali ini. 

Dia bangkit dan berusaha beranjak pergi dari ruangan. Mengambil tasnya dan mulai berjalan ke pintu. Namun, sebelum kenop pintu dibuka, Rasha menghentikannya.

“Aku akan melakukannya.”

Kalimat yang singkat. 

Akan tetapi, di dalam kalimat yang singkat itu terdapat keberanian yang besar untuk mendobrak segala halangannya.

“Karena itu, aku membutuhkan bantuanmu.”

Rasha bangkit dan berbalik menghadap Beni. Dan kali itu, Rasha yang melihat ke arah Beni dengan tatapan menantang. Itu adalah tatapan yang bukan lain diarahkan kepada dirinya sendiri.

“Aku akan selalu berada di sisi temanku.”

***

Setelah beristirahat dengan Euis, Rian awalnya berniat untuk kembali ke ruangan khusus Para Pangeran dan Putri. Akan tetapi niatnya terhalangi oleh penampakan Beni dengan seorang teman lama yang tak kunjung datang ke sekolah.

Itu adalah murid dengan hak istimewa lain selain Para Pangeran dan Putri. Rasha Ackerley. Murid yang memiliki hak istimewa yang membuatnya boleh tak bersekolah jika dia masih mempertahankan satu prestasi yang menjadi kesepakatannya.

Namun, apa yang dia lakukan dengan datang ke sekolah. Apalagi Beni sedang bersamanya, dan mereka terlihat akan pergi ke suatu tempat.

Rian berusaha mengejar mereka dengan berjalan cukup cepat. 

Arah yang mereka tuju berada di arah timur. Wilayah yang menjadi fasilitas olahraga seluruh sekolah. Mereka terlihat pergi ke gedung olahraga, dan Rian merasakan perasaan tak enak dengan tindakan yang mereka ambil.

Dia terus mengejar mereka sampai dia juga masuk ke dalam gedung olahraga.


***


Pintu gedung olahraga dibuka. Di dalamnya terdapat empat lapangan yang terbagi menjadi dua bagian. Itu adalah lapangan bola voli dan keranjang yang memiliki masing-masing dua lapangan.

Kedua kelompok—yang dibedakan dengan latihan dan tempat mereka berdiri—masing-masing mempunyai kesibukan masing-masing. Namun, satu hal yang membuat mereka sama adalah, keseriusan.

Keseriusan saat latihan maupun bermain dapat terlihat di dua kelompok.

Bahkan mereka tampak sama sekali tak menikmati apa yang mereka lakukan. Mereka hanya melakukannya dengan perasaan serius tanpa perasaan lain.

Namun, dilihat dari mana pun apa yang mereka lakukan terlihat lebih dipaksakan.

“Dari sisi mana pun, yang kulihat adalah paksaan dalam menggerakkan tubuh mereka.”

“Itulah yang terjadi saat Pangeran Kedua sebelumnya menguasai gedung ini. Dia sama sekali tak menolerir candaan dan mengutamakan keseriusan dalam bermain maupun latihan. Jika tidak, nyawamu di sekolah ini mungkin akan jadi taruhannya.”

Beni terlihat sedikit prihatin dengan keadaan yang dia lihat. Dan Rasha yang mengetahui penyebab dari keadaan itu hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apapun.

Mereka cukup lama berdiri di depan pintu gedung olahraga, hal itu tentu saja menarik perhatian. Terutama dari mereka yang merasa berkuasa di antara lainnya—kelas tiga.

Beberapa orang dengan tubuh yang telah terlatih—atletis—mendatangi Beni dan Rasha. Meskipun mereka didatangi dengan perasaan yang tak mengenakkan, Beni dan Rasha sama sekali tak merasa akan mundur.

Justru mereka datang untuk menantang keberanian mereka sendiri dengan melangkah maju—memperpendek jarak.

“Ow-owh, kukira siapa yang datang. Ternyata kapten divisi dua tim basket.”

“Hei-hei, itu terlalu jahat. Bukannya dia sekarang tak punya keberanian untuk mendapatkan gelar itu, dan malah melarikan diri.”

“Hahahaha!” 3x

Dua orang dari tiga yang mendekat tanpa basa-basi menjelek-jelekkan Rasha secara langsung dengan mengkait-kaitkan masa lalunya. Setelah itu mereka dengan serentak tertawa.

Rasha sedikit merasa ingin menghindari sikap apatis dari orang-orang yang meledeknya. Namun, seseorang yang berdiri dengannya sama sekali tak ingin mundur dalam menangani masalah itu.

Justru dia maju satu langkah dan bersikap menantang dengan tiga orang di depannya.

“Kalau gitu kenapa gak kita coba?”

“Ha-!”

Satu orang yang terlihat merasa lebih hebat dari yang lainnya merasa bingung dengan ekspresi jijik pada Beni. 

Beni membalas perasaan jijik itu dengan senyum menantang yang membuat lawannya merasa kesal.

“Bagaimana kalau kita coba, siapa yang sebenarnya pengecut di sini.”

Beni mengatakan itu dengan kepercayaan diri yang tinggi, meskipun seseorang yang datang di belakangnya tak menghiraukan hal itu dan langsung memukulnya dari belakang.

“Siapa yang pengecut dan siapa yang akan menantang siapa.”

“R-rian!”

Itu adalah Rian, datang dengan perasaan marah sekaligus cemas dengan keadaan kedua temannya. Beni menunduk karena sakit yang datang lewat kepalanya tak bisa dibiarkan. Di sisi lain, Rasha yang sudah lama tak melihat wajah penuh amarah itu merasa takut dengan kedatangannya.

“Haha, hahaha! Tantangan yang bagus. Oke, ayo kita tes siapa yang pengecut di antara kita.”

“Jahat!”

Lawan mereka terlihat menerima tantangan. Tetapi mereka menghiraukannya dan Beni malah merasa sakit dengan perilaku Rian kepadanya.

“Ha-!”

Rian mengeluarkan aura kemarahannya atas keluhan Beni.

“Padahal tadi adalah saat-saat yang jarang aku mengeluarkan ekspresi terkerenku.”

“Kalau soal itu kenapa kau tak melakukanya di depan cermin. Dan kau juga!”

Kali ini aura kemarahannya di arahkan kepada Rasha yang merasa sangat takut dengan kedatangan Rian.

“Apa yang kau lakukan dengan datang ke sekolah?!”

“Y-y-y-ya, ten-t-tentu saja karena aku sekolah di sini.”

Rasha merasa ingin berlari, tetapi yang bisa dia lakukan hanyalah berlindung dengan kedua tangan. Usaha yang sia-sia untuk dilakukan.

“Idiot!”

Satu kata yang menyakitkan itu ditujukan langsung kepada dua teman sekelasnya.

“Apapun urusan kalian datang ke sini, aku tak peduli! Sekarang ikuti aku dan kita kembali!”

Rian berbalik dengan Beni dan Rasha mengikutinya. Aura hitam yang dikeluarkan Rian kali ini benar-benar menakutkan, membuat dua teman sekelasnya itu tak bisa tak mengikuti perintahnya.

“Loh, mau pergi? Katanya datang untuk menantang. Apa hanya segitu nyali kalian?!”

Mereka mendapatkan ejekan langsung di saat punggung mereka membelakangi orang-orang yang merasa kalau kedatangan mereka adalah gangguan.

Rian merasa tak harus meladeni perkataan itu, Beni dan Rasha juga terlihat sama.

“Apa hanya itu, nyali kelas XII TKJ!”

Langkah Rian tiba-tiba saja terhenti, Beni dan Rasha terkejut kalau Rian menghentikan langkahnya. Itu mungkin karena ledekan yang kali itu tak bisa dibiarkan. Membuat Rian sangat ingin melawan orang-orang yang telah meledek kelas yang dia banggakan.

Dengan sangat perlahan dia berbalik, dan saat tubuh bagian depannya mulai terlihat, aura hitam kelam yang bisa memakan siapapun ditujukan kepada lawan.

“Baiklah kalau kalian memaksa. Kami, kelas XII TKJ akan meladeni kalian.”


***


Epilogue

(“Sepertinya akan ada masalah yang menimpa teman-temanmu.”)

Sebuah bisikan membangunkan Bagas dari tidur siangnya. 

Di gubuk tempat biasa dia berada—danau belakang sekolah—sebuah bisikan yang datang entah dari siapa membuatnya bangkit. Dia sama sekali tak terkejut dengan bisikan yang datang entah dari siapa itu, akan tetapi dia terkejut kalau waktu di mana dia akan berhadapan dengan masalah yang telah dia prediksi datang secepat ini.

(“Kalau kau tidak membantu mereka, mungkin saja mereka akan dibuat babak belur kau tahu.”)

Seorang diri, tanpa siapapun di tempat itu sebuah bisikan datang kembali. Dia merasa malas untuk pergi, namun bisikan itu benar-benar membuatnya khawatir, lalu dia langsung berdiri dan beranjak untuk pergi.