Episode 25 - Untuk Memperbaiki Hubungan Kita



Siang hari.

Waktu istirahat dan waktu bebas bagi murid untuk melakukan kegiatan di sekolah.

Di suatu tempat di sekitar sekolah, duduk seorang yang telah kelelahan karena pekerjaan yang dia selesaikan. Membaringkan punggung lebarnya ke kursi taman dan menikmati suasana damai.

“Bagaimana dengan kerja kerasmu hari ini?”

Seorang gadis menghampiri Rian yang sedang beristirahat, itu adalah Euis yang membawa dua minuman kaleng bersamanya.

“Makasih.”

Euis duduk bersebelahan dan memberikan satu minumannya kepada Rian.

“Jadi?”

Rian tak menjawab dan lebih dulu meminum minumannya.

“Yah, begitulah. Beberapa waktu untuk membiasakan diri membuatmu sangat mudah menjadi akrab dengan orang lain.”

Setelah meminum setengah dari minumannya, dia menjawab. Euis juga lebih dulu meminum minumannya sebelum membalas kembali perkataan Rian.

“Mereka menjadi akrab denganmu. Tapi satu hari saja itu seperti tak mungkin!”

“Apa maksudmu dengan tak mungkin itu?”

“Ya, tentu saja karena mencoba akrab denganmu itu bukan perkara yang mudah. Apalagi jika orang yang baru bertemu denganmu, yang belum mengenal dengan jelas siapa sosok di balik Rian yang memiliki perawakan yang menyeramkan...”

“-Menyeramkan?”

“...tentu saja mereka akan berpikir dua kali untuk mencoba berkomunikasi denganmu. Contohnya saja, sewaktu pak Elang mengenalmu. Atau kau yang baru pertama kali masuk ke sekolah dan dianggap menyeramkan oleh orang-orang, bahkan tak jarang juga teman-teman sekelasmu menganggapmu seperti itu.”

“Hmm, setelah mendengar semua itu berulang-ulang. Memangnya aku bisa memperbaiki perawakan yang sudah menjadi tanda kelahiranku ke dunia ini.”

“Yah, kalau itu memang gak bisa sih.”

“Nah, itu kau tahu.”

“Tapi tak apalah. Lagipula mereka yang baru berkenalan denganmu akan mengetahui siapa dirimu sebenarnya kalau mereka sudah cukup lama bersamamu. Tapi, aku benar-benar tak mengerti kenapa anak-anak kelas X TKJ tahun ini bisa begitu cepatnya akrab denganmu.”

“Kalau itu sih, dengan beberapa bantuan tentunya.”

Rian sedikit memalingkan wajahnya saat mengatakan itu. Mengingat kalau yang membantunya adalah dua orang yang dia anggap sebagai orang terusil yang dia kenal.

Euis tak ingin terlalu menanyakan hal itu, karena yang terpenting baginya adalah teman masa kecilnya itu mendapat awalan yang bagus dengan adik-adik kelasnya.

“Oh iya, selain topik utama yang kau ajarkan pada mereka, topik lain apalagi yang kalian bicarakan?”

“Kalau itu..”

Rian sejenak menggali-gali ingatan saat berbagai macam pertanyaan datang padanya dari adik-adik yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang sekolah baru mereka.

“Mereka bertanya tentang kegiatan klub, apa arti menjadi pangeran dan putri, lalu basa-basi lain tentang apakah aku punya hubungan istimewa dengan orang lain.”

“Ternyata kau juga kesusahan seperti itu ya.”

Euis memerlihatkan wajah prihatin yang mana itu seperti dia juga merasakan hal yang sama.

“Apa kau juga ditanyai berbagai pertanyaan kaya gitu?”

“Um, bahkan di hari pertama ini ada yang langsung menembakku.”

“Eh, beneran!?”

Rian sangat terkejut saat mengetahui kalau teman masa kecilnya itu mendapat sebuah pernyataan cinta dari seorang adik kelas, terutama di waktu pertama sekolah.

“Sungguhan.”

Euis hanya memberikan senyum simpul dengan keterkejutan Rian. Mengingat kalau dia juga memiliki seseorang yang dia sukai, sebuah pernyataan cinta adalah hal yang cukup berat. Karena sampai saat itu juga, Euis hanya bisa memendam perasaan tanpa bisa bersikap seberani adik kelas yang langsung mengungkapkan perasaan padanya.

“Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?”

Mengetahui hal itu, Rian menjadi sedikit khawatir dengan perasaan teman masa kecilnya.

“Em, kenapa kau bertanya seperti itu?”

Namun, sepertinya Euis tak terlalu memermasalahkan kejadian barusan. Dan bersikap seperti itu bukanlah masalah yang serius.

“Soalnya, kau mendapat pernyataan cinta dari adik kelas loh. Apalagi di hari pertama sekolah seperti ini, apa perasaanmu baik-baik saja dengan itu?”

“Kau terlalu mengkhawatirkannya. Mendapat sebuah perasaan yang muncul dari rasa kagum dengan seseorang, itu bukanlah gayaku untuk menerimanya.”

Euis benar-benar bersikap kuat, sampai Rian tak mengetahui, apakah itu adalah teman masa kecilnya yang bahkan tak bisa menutupi kesedihan yang dia rasakan.

“Jangan terlalu mengkhawatirkanku seperti itu, lebih baik pikirkan tentang dirimu sendiri, apa yang akan kau lakukan kalau ada seseorang yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan adik kelas?”

“Tentu saja, kau harus menolaknya.”

Awalnya, pertanyaan Euis ditujukan kepada Rian. 

Namun, seseorang datang dan menjawab pertanyaan itu sebelum Rian bisa membuka mulutnya.

Mereka berdua dibuat terkejut dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba itu. Euis langsung bisa melihat, dan Rian perlu memutar tubuhnya untuk mengatahui siapa yang datang.

Seorang murid laki-laki seangkatan mereka, rambut hitam legam tetapi di bagian poni terdapat bagian yang di cat warna merah. Heterochromia dengan warna biru muda di bagian kiri dan amber yang bersamaan dengan biru muda tetapi lebih mendominasi di bagian kanan.

“Pangeran Vian.”

Euis langsung bisa mengenali sosok yang masuk menyerobot ke dalam pembicaraan mereka.

“Hai, maaf karena sudah langsung menyerobot ke dalam pembicaraan kalian.”

Mata seseorang yang dipanggil Vian itu cukup sayu untuk laki-laki yang masih muda. Namun dari cara memandangnya, terdapat sebuah aura misterius yang membuat orang lain harus berhati-hati saat berurusan dengannya.

“Tidak apa-apa, yang lebih penting lagi, kenapa anda berada di luar ruanganmu, Tuan Muda(?) Jarang sekali kau berjalan-jalan hanya untuk menghirup udara luar.”

Rian menjawab permintaan maaf dari Vian, dan di dalam nada suara yang dia keluarkan, terdapat sebuah perasaan tidak senang karena alasan dari kedatangannya.

“Maaf sekali lagi karena telah mengejutkan kalian. Dan alasan aku keluar dari ruanganku, ya, hanya alasan yang sederhana. Aku hanya ingin melihat langsung bagaimana keadaan anak-anak baru yang masuk ke sekolah di hari pertama mereka datang.”

“Tolong jangan katakan kalau anda akan mencari anak-anak nakal yang mencoba menjadi sok hebat di hari pertama mereka.”

Rian bangkit dari duduknya, berdiri berhadapan dengan seseorang yang sedikit lebih kecil darinya. Menatap mata sayu itu dengan tatapan yang tajam.

Di sisi lain, Euis merasakan kalau ini terus berlanjut akan ada kejadian yang membuat teman masa kecilnya dalam masalah. Namun, saat dia akan mencoba menghentikan konflik yang akan terjadi, Vian lebih dulu ingin meluruskan masalah.

“Jangan khawatir, aku takkan lagi melakukan kesalahan yang sama seperti itu. Karena dari kejadian itu aku belajar, kalau masalah lain akan muncul kalau kau mencoba menyelesaikannya dengan sebuah masalah.”

Vian memberikan respon yang cukup membuat orang lain khawatir dengan perkataannya. Tetapi Rian sama sekali tak gentar dalam menghadapi respon seperti itu. Justru, dia terus berdiri tegak dengan kekuatannya yang bila di bandingkan, belum cukup untuk mencapai tingkatan dari seseorang yang berdiri berhadapan dengannya.

“Karena itu, cobalah untuk bersantai karena kau pasti sudah lelah bukan, Senapati Rian.”

Setelah mengatakan hal itu, Vian langsung berlalu meninggalkan Rian dan Euis. Rian terus memandangi kepergian Rian, berhati-hati dengan sikap yang sama sekali tak bisa terbaca itu.

“Hei, Rian, Rian...”

Euis menjadi khawatir dengan keadaan teman masa kecilnya, terus memanggil-manggil namanya, berusaha untuk membuatnya tak lagi mengkhawatirkan konflik barusan.

“Maaf, sepertinya aku menjadi terlalu berhati-hati dengan kedatangannya barusan.”

Mereka berdua kembali duduk setelah Vian tak lagi berada dalam jarak pandang mereka.

“Tapi tetap saja, aku masih tak bisa merisaukan apa yang akan terjadi kalau dia benar-benar keluar dari ruangannya.”

Namun, Rian masih tak bisa menghilangkan perasaan khawatir akibat kedatangan Vian barusan. 

Mengetahui kalau Vian adalah seseorang yang cukup berbahaya, yang bisa menyerang siapapun yang dia anggap sebagai pelanggar aturan. Dan alasan dari sangat berhati-hatinya Rian mencakup hal yang terjadi di masa lalu.

Di mana Vian menyerang sebuah kelompok murid yang baru mengenal sekolah. Membuat mereka keluar dan bahkan membuatnya terseret ke jalur hukum. Akan tetapi, dia memenangkan permasalahan yang sampai membuatnya berada di kursi sidang hanya dengan kekuatannya sendiri.

“Tidak ada yang bisa menghentikannya. Kau juga tahu bukan, dia bukanlah seseorang yang bisa kau kalahkan. Dan jika kau benar-benar melawannya, aku takut kalau Bagas akan ikut campur tangan dan membuat hubungan persaudaraan di antara mereka menjadi semakin memburuk.”

Euis benar-benar menjadi sangat khawatir dengan tindakan yang mungkin akan dilakukan teman masa kecilnya itu. Terutama jika itu melingkup ruang di mana Bagas akan ikut campur dengan masalah yang akan terjadi.

Membuatnya takut jika hal itu benar-benar terjadi.

Rian mengerti tentang kerisauan Euis dan menghentikan sikap keras kepalanya.

“Maaf, sudah membuatmu khawatir. Baiklah, aku takkan bersikap gegabah dan akan memikirkan tentang jalan keluar lain jika hal itu benar-benar terjadi.”

“Berjanjilah. Kalau kau takkan membuat sebuah kejadian yang malah akan semakin memisahkan kita nantinya.”

“Aku bersumpah.”

Rian lebih memilih kata bersumpah daripada mengatakan kata berjanji yang diinginkan Euis. Tetapi Euis juga tak terlalu memermasalahkan hal itu dan mencoba untuk mencari topik pembicaraan lain.

“Oh iya, membicarakan tentang anak baru, apa mereka tak menanyakan tentang sosok tertinggi yang berdiri di jurusan mereka.”

“Soal Bagas ya, mm, ada sih yang bertanya.”

“Lalu apa yang mereka tanyakan tentangnya?”

“Mereka bertanya siapakah Bagas sebenarnya dan di posisi apa dia sekarang berdiri?”

“Lalu jawaban seperti apa yang kau berikan?”

Rian melakukan jeda sejenak sebelum menjawab pertanyaan Euis. Karena jawaban yang akan dia katakan sepertinya akan membuat perasaan Euis menjadi bimbang, apakah Rian mengatakan yang sejujurnya atau tidak.

Tetapi dia juga harus tetap mengatakan yang sejujurnya. Karena itu adalah amanat yang dititipkan Bagas kepadanya.

“Dia adalah seseorang yang berdiri karena kekuasaan seorang.”

“Eh, apa maksudnya itu?”

Seperti yang diperkirakan, Euis menjadi bimbang antara percaya atau tidak dengan perkaaan yang dikatakan Rian.

“Dia sangat keras kepala. Tak ingin berurusan dengan orang lain. Hanya memikirkan dirinya sendiri. Dan...”

Rian menjadi resah, apakah dia harus melanjutkan perkataannya atau tidak. Namun Euis tetap memandangnya saat dia menundukkan kepala, menunggu pemberitahuan yang lebih jelas dan detail.

“Dan, dia adalah orang bodoh yang... berpikir semua masalah bisa dia selesaikan dengan kekuatannya sendiri.”