Episode 119 - Putra Mahkota




“Pesan dari Sangara Santang kepada Lombok Cakranegara: ‘Apakah Anak Kijang telah siap?’”

Bintang Tenggara sedang memegang sebuah lencana yang sebelumnya bergetar pelan. Ia pun menyibak mata hati dan tak sengaja mendengarkan pesan tadi. Saat ini, Bintang Tenggara dan Panglima Segantang sedang berada di salah satu ruangan di Istana Utama Kerajaan Parang Batu. Kedua anak remaja tersebut menantikan kedatangan tukang cukur kerajaan. Setelah itu, mereka telah memiliki temu janji dengan penjahit kerajaan. 

Tiada diduga bahwa Lombok Cakranegara sangat mementingkan penampilan. Sampai-sampai, Kepala Pengawal Istana itu meluangkan waktu untuk mengatur temu janji dengan tukang cukur dan penjahit Istana Utama. Bintang Tenggara dan Panglima Segantang tinggal menjalani saja. 

“Siapakah gerangan ‘Anak Kijang’?” gumam Bintang Tenggara. 

Meski mengetahui bahwa Sangara Santang dari Sanggar Sarana Sakti dan Lombok Cakranegara dari Kerajaan Parang Batu merupakan sesama anggota Pasukan Telik Sandi, Bintang Tenggara tak pernah mengetahui keduanya rutin berkomunikasi. Dua tokoh paling mencurigakan bersebahat… tak akan ada akhir yang menyenangkan dari kerja sama itu.  

“Kalian terlihat tampan sekali hari ini!” seru Lombok Cakranegara. Padahal, sehari sebelumnya lelaki itu mengatai Bintang Tenggara dan Panglima Segantang sebagai ‘anak jalanan’ dan ‘gelandangan’.

“Aku baru saja menerima pesan dari Perguruan Gunung Agung… Kalian diminta untuk segera kembali.” 

“Eh…?” Bintang Tenggara sebenarnya ingin memanfaatkan waktu yang ada untuk berkunjung sebentar ke Pulau Paus. Ia hendak menjenguk sang ibunda dan Kepala Dusun di Dusun Peledang Paus. 

“Bergegaslah…,” desak Lombok Cakranegara. 

Walhasil, setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Kakek Gerbang, Bintang Tenggara dan Panglima Segantang melangkah ke dalam gerbang dimensi yang membawa mereka kembali ke Pulau Dewa. 

“Kau kelihatan sedikit lebih tinggi… dan kau sedikit lebih kekar!” Terdengar suara menghardik saat keduanya tiba di Monumen Genta, lokasi yang merupakan gerbang dimensi menuju Perguruan Gunung Agung. 

Bintang Tenggara dan Panglima Segantang tak sengaja berpapasan dengan Canting Emas dan Kuau Kakimerah. Setelah bertegur sapa, diketahui bahwa Canting Emas dan Kuau Kakimerah hendak mengerjakan sebuah tugas yang sebelumnya sempat mereka ambil dari Balai Bakti. Tugas tersebut berkaitan dengan keberadaan binatang siluman yang mengamuk di sebuah desa di utara Pulau Dewa. Terlihat pula Gundha dalam rombongan yang sama. 

Setelah berpisah dengan Panglima Segantang, Bintang Tenggara melanjutkan perjalanan ke Kota Tugu, menuju benteng kediaman Maha Guru Keempat. 

Beberapa hari berlalu tanpa ada kejadian berarti. Bintang Tenggara menikmati hari-hari penuh kedamaian di dalam Perguruan. Sungguh keaadaan ini bertolak belakang dengan kehidupan di dalam dimensi ruang dan waktu miliki Dewi Anjani. Betapa indahnya dunia bila seorang ahli tak harus mengejar atau dikejar binatang siluman. 

“Super Guru… Kitab Bunga Rampai Racun dan Penawarnya ini tiada memuat gejala racun yang mendera tubuh Super Guru.”

“Hmph….” Komodo Nagaradja hanya mendengus malas. Belakangan, suasana hatinya selalu muram. 

“Murid seharusnya meluangkan waktu untuk mengunjungi Pulau Paus, serta singgah sebentar ke Pulau Bunga…,” sesal Bintang Tenggara. 

“Super Guru…?”

“Berisik…,” keluh Komodo Nagaradja tak hendak diganggu. 

“Apakah…,” Bintang Tenggara menghentikan kata-katanya. Ia berpikir sejenak.

“Apakah Super Guru merindukan Dewi Anjani…?” tanya anak remaja itu polos. 

“Bocak tengik!” 

“Spada… spada…,” terdengar suara di luar Graha Utama milik Bintang Tenggara. Sungguh sebuah keberuntungan, suara itu juga mengalihkan perhatian Komodo Nagaradja yang baru saja hendak mengamuk membabi buta. 

Di pekarangan luar, terlihat Aji Pamungkas berdiri menanti. Tatapan matanya penuh kejanggalan. Senyumannya tersungging aneh. Pembawaan anak remaja itu selalu terlihat pelik. 

“Maha Guru Kesatu dan Maha Guru Keempat menantikan kehadiranmu di Balai Utama,” ujar Aji Pamungkas tanpa berbasa-basi. 

Kedua anak remaja itu lalu melangkah cepat menuju Balai Utama Perguruan Gunung Agung. Bintang Tenggara masih mengingat pertemuannya dengan Maha Guru Kesatu Cawan Arang dan Adipati Jurus Pamungkas di tempat tersebut. Di dalam balai besar ini, kedua tokoh digdaya tersebut hampir saja mengadu pemahaman akan persilatan dan kesaktian. 

“Bintang Tenggara…,” ujar Maha Guru Kesatu didampingi Maha Guru Keempat. 

Bintang Tenggara menunduk pelan. Begitu pula Aji Pamungkas, si pembawa pesan. 

“Sanggar Sarana Sakti adalah perguruan yang bersahabat dengan Perguruan Gunung Agung. Beberapa waktu yang lalu, mereka mengirimkan pesan dan meminta bantuan kepada Perguruan Gurung Agung.”

Bintang Tenggara menganggukkan kepala. Ia mengingat Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti. Kakak Sangara Santang pernah menyelamatkan dirinya saat tak sadarkan diri. Saat itu, dirinya menerima hantaman kesaktian unsur asap dan hendak dirasuk oleh Hang Jebat. 

“Karena diketahui bahwa kau mengenal Sangara Santang secara pribadi… maka Perguruan akan menugaskanku sebagai perwakilan.” 

“Baiklah,” jawab Bintang Tenggara singkat. 

“Bagus.”

“Ehehem….” Aji Pamungkas terdengar seolah berupaya melegakan tenggorokan. 

“Katakan apa yang ada di dalam pikiranmu!” sergah Maha Guru Kesatu ke arah Aji Pamungkas. 

“Yang Terhormat Maha Guru Kesatu… bolehkah murid menemani rekan Bintang Tenggara bertandang ke Sanggar Sarana Sakti?”

“Silakan.” 

Dengan demikian, telah diputuskan bahwa esok lusa Bintang Tenggara bersama dengan Aji Pamungkas akan segera bertolak ke Sanggar Sarana Sakti di Tanah Pasundan. 

Aji Pamungkas menyibak senyum lebar. Tatap matanya penuh kejanggalan. Senyumnya tersungging aneh. Pembawaan anak remaja itu semakin pelik. 


“Tahukah engkau wahai Bintang Tenggara… bahwa gadis-gadis di Tanah Pasundan terkenal akan kecantikan dan kemolekan tubuh mereka?”

Sekarang Bintang Tenggara langsung mengetahui motivasi terselubung Aji Pamungkas. Keduanya sudah berada di Monumen Genta dan sedang melangkah menuju gerbang dimensi. 

“Geulis…,” gumam Aji Pamungkas. 

Masalah, pikir Bintang Tenggara. Satu lagi masalah yang mengikuti dirinya. Panglima Segantang sering tersasar dan berbuat onar. Perkelahian tidak hanya pernah terjadi antar sesama ahli, namun juga dengan Binatang Siluman. Bintang Tenggara mengingat Babi Taring Hutan. Untungnya, di saat menuruni Gunung Dewi Anjani, ia sempat bertemu dengan beberapa ekor dan mengungkapkan rasa terima kasih atas pemahaman terkait gaya lari berjingkat. 

Akan tetapi, kali ini berbeda lagi permasalahan yang akan muncul. Aji Pamungkas memiliki kecenderungan sangat tinggi untuk mengganggu gadis-gadis. Mulai dari mengintip, menggerayangi dalam pertarungan, sampai melancarkan jurus silat aneh. Sampai batasan tertentu, teman seperjalanannya kali ini dapat melecehkan ahli lain. 

Bintang Tenggara tetiba merasa perlu selalu waspada. Ia menoleh ke arah Aji Pamungkas yang terlihat mengenakan kaca mata gelap. Entah apa yang diamati oleh dua bola mata siluman yang terpasang di lubang mata anak remaja itu. Aji Pamungkas dan Panglima Segantang sama-sama dapat mengundang petaka!

“Tak ada gerbang dimensi yang langsung menuju Sanggar Sarana Sakti,” ujar seorang petugas gerbang di Kota Taman Selatan. 

“Pulau Dewa dan Tanah Pasundan terpisah terlalu jauh. Kalian harus transit di Kota Ahli.” 

Dengan demikian, Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas berangkat ke Kota Ahli. 

“Kakak Poniman!” 

“Adik Bintang Tenggara!” 

“Mengapa kau terlihat sedikit lebih tinggi dan lebih tegap!?” hardik Poniman, sang penjaga gerbang megah di Perguruan Maha Patih. Sebentar lagi, tinggi tubuhnya akan dibalap oleh Bintang Tenggara. 

“Mengapa poni Kakak sedikit menyamping!?” tanggap Bintang Tenggara ceria. 

Bintang Tenggara kemudian menjelaskan bahwa dirinya bersama Aji Pamungkas sedang dalam perjalanan menuju Sanggar Sarana Sakti. Namun, karena keterbatasan gerbang dimensi, mereka terpaksa transit di Kota Ahli. 

“Gerbang dimensi menuju Tanah Pasundan hanya terbuka di pagi hari. Kalian sudah terlambat dan harus menunggu esok,” ujar Poniman. 

“Benarkah…?”

“Ikutlah denganku… Kalian bisa menginap sementara di Perguruan Maha Patih.”

“Beklah!” jawab Aji Pamungkas singkat dan cepat. 


“Bintang Tenggara….” Terdengar suara berat, menegur. 

“Hm…? Maha Guru Segoro Bayu…?” 

Sang Maha Guru segera mendatangi Bintang Tenggara begitu ia mendapati berita tentang kedatangan anak remaja tersebut. Di lain sisi, Bintang Tenggara sedikit gugup. Bukan karena didatangi salah satu sosok penting di Perguruan Maha Patih… namun karena dirinya pernah menuduh yang bukan-bukan terhadap sang Maha Guru. Hubungan mereka sungguh pelik.

“Kejadian di saat Kejuaraan Antar Perguruan sudah berlalu…,” ujar sang maha guru sedikit menenangkan. Ia seolah dapat membaca kegundahan di hati Bintang Tengara.

“Ya….”

“Namun… ada yang mengganjal di hatiku…,” tetiba raut wajah Maha Guru Segoro Bayu terlihat serius, “yaitu tentang keberadaan Hang Jebat. Engkau sempat mengungkapkan hal ini seusai penyerangan terhadap perwakilan Padepokan Kabut.” 

“Diriku tak memiliki bukti kuat…,” Bintang Tenggara tak hendak gegabah. 

Maha Guru Segoro Bayu mengamati anak remaja itu. Ia seolah sedang berpikir keras dalam mengambil keputusan. Cukup lama waktu kedua ahli itu berdiri hadap-hadapan. Sepertinya, ada sesuatu kecurigaan yang hendak ia klarifikasi… Bintang Tengara mulai terlihat canggung. 

“Apakah ada perilaku yang mencurigakan dari ahli lain di dalam Perguruan Maha Patih?”

“Ada.”

 

===


“Cring!” Permata Pringgondani kelima berpendar…. 

Mayang Tenggara terbuai dalam kenangan masa lalu. Ia lupa mencari tahu alasan mengapa permata-permata itu menampilkan ingatan-ingatan dengan sendirinya. Ia mengabaikan alasan mengunjungi istana lama. Ia lengah akan kecurigaan yang menimpa sebuah desa kecil. Kini, ia justru menantikan ingatan apalagi yang akan membawa dirinya larut dalam nostalgia. 

Akan tetapi, permata yang kini berpendar menyajikan kenangan yang berbeda… Jika empat Pertama Pringgondani sebelumnya menampilkan nuansa yang cerah dan tenteram, suasana kali ini terlihat kelam dan suram… Situasi di dalam istana kalang-kabut. Ledakan demi ledakan, yang membaur dengan teriakan-teriakan histeris, terdengar bergema di sana-sini. 

Puluhan ahli sedang terlibat dalam pertarungan sengit berhadapan dengan binatang siluman... Mereka mengerahkan jurus-jurus persilatan dan kesaktian. Para ahli kalah jumlah. Gelombang serangan binatang siluman berdatangan tanpa henti. Perlahan mereka dipukul mundur, dan mulai terdesak. 

Tak lama, terdengar teriakan-teriakan yang disusul ledakan sambung-menyambung. Beberapa orang ahli yang sudah tak berdaya, memutuskan untuk meledakkan diri dan membawa korban bersama dengan kematian mereka. Mereka menolak untuk berputus asa, upaya terakhir bagi mereka adalah mati bersama dalam kebanggaan!

“Hihihi… kau masih terlalu hijau…,” terlihat seorang perempuan dewasa tertawa senang. Tangan kirinya menjambak rambut dan menenteng ringan seorang anak lelaki berusia sekitar dua belas tahun. Sekujur tubuh anak remaja tersebut dipenuhi dengan luka-luka yang berlumuran darah. 

Tubuh Mayang Tenggara tatkala menyaksikan kenangan kali ini segera bergetar. Raut wajahnya berubah getir. Segera ia memalingkan wajah. 

“Swush!” Tetiba muncul cahaya berwarna terang-benderang yang menyilaukan pandangan mata. 

Seorang perempuan dewasa tiba, dan segera menyerang perempuan yang masih menjambak rambut serta sambil menenteng tubuh anak lelaki. Cahaya terang menyilaukan mata. Samar, cahaya terlihat berwujud sarang laba-laba, dan serta-merta menjerat lawan!

“Cres!” Pergelangan tangan kiri perempuan yang sedang menjambak anak remaja terpenggal! Ia segera melompat mundur. Meski demikian… meski pergelangan tangan terpenggal, sebuah senyum tipis menghias sudut bibirnya. 

“Ibunda Permaisuri Tritungga Bhuwanadewi…,” gumam Mayang Tenggara dewasa, mamaksa diri untuk tetap menyaksikan layar di hadapan.   

Perempuan yang oleh Mayang Tenggara dikenal sebagai Ibunda Permaisuri, menyambut tubuh anak lelaki yang sudah tak berdaya. Gerakannya gemulai… mencerminkan cinta kasih yang tiada dua. Ia memangku tubuh anak lelaki sambil mengalirkan tenaga dalam. Unsur kesaktian cahaya, berkilau terang.

Sang Permaisuri terus mengalirkan tenaga dalam guna melakukan penyembuhan… Ia mengabaikan luka yang diderita. Sedari tadi, pergelangan tangan kiri lawan yang terpenggal… telah tertancap tepat di dadanya!

“Sungguh sangat disayangkan…,” ujar perempuan yang pergelangan tangan kirinya terpenggal. Raut wajahnya dibuat seolah sangat prihatin.

“Sangat berat bagiku membunuh sesama siluman sempurna. Cinta membutakan… sehingga engkau memilih untuk berada di pihak yang salah.” 

Perempuan itu memutar tubuh dan melangkah pergi. Tujuan kedatangannya sebagai salah satu Raja Angkara untuk membunuh Permaisuri Negeri Dua Samudera… tuntas sudah. Sisa-sisa perlawanan para ahli di tempat itu, sebentar lagi akan sirna karena gelombang amuk binatang siluman masih terus berdatangan. 

Air mata Mayang Tenggara mengalir deras. Napasnya terengah. Perasaan campur aduk antara duka dan amarah sulit untuk digambarkan. Di saat perasaan berkecamuk, ia tetap memaksakan diri untuk menyaksikan adegan sungkawa di hadapan.

“Putraku… di masa depan… Tanggalkanlah segala gelar… kuharap engkau memilih jalan hidup nan damai…,” bisik Ibunda Permaisuri di telinga anak lelaki itu. Meski menahan rasa sakit, raut wajahnya menyibak senyum kehangatan. 

“Segel Sutra Lestari…,” gumam sang Permaisuri perlahan. 

Seketika itu juga, jalinan benang-benang sutra membungkus tubuh anak lelaki yang masih tak sadarkan diri. Terus membungkus sampai terlihat seperti kepompong raksasa. Segera setelah itu, sebuah gerbang dimensi berpendar di dekat ibu dan anak. Sang ibu lalu mendorong kepompong besar ke dalam gerbang dimensi. 

“Hiduplah putraku terkasih… Janganlah engkau menuntut dendam atas kejadian ini….” Darah mulai mengalir di sudut bibir sang Permaisuri. Perlahan, ia jatuh terkulai di atas tanah. 

Mayang Tenggara menutup mata. Ia tak sanggup menyaksikan pemandangan pilu yang ditampilkan oleh Permata Pringgondani kali ini. Seorang ibu baru saja meregang nyawa setelah menyelamatkan putranya. Sebuah kisah yang hanya mungkin terjadi di dalam dongeng-dongeng… dari negeri antah berantah. 

Layar telah memudar. Mayang Tenggara berdiri membatu. Air mata yang tadinya mengalir, kini menguap sudah dibawa angin. 

Mayang Tenggara menghampiri kerumunan Permata Pringgondani yang menggantung. Ia menebar mata hati untuk mengamati setiap permata. Tindakannya berlanjut dari satu permata ke permata berikutnya.

Setelah menyaksikan tayangan Permata Pringgondani terakhir, Mayang Tenggara sesungguhnya hendak segera melangkah meninggalkan gua rahasia ini. Sungguh ia teramat menyesal melangkah masuk. Selama ratusan tahun, ia menahan diri untuk melangkah ke dalam….

“Mungkinkah ada petunjuk…?” gumamnya pelan. “Selama hampir tiga ratus tahun aku mencari… mungkinkah petunjuk lokasi keberadaan Kepompong Sutra Lestari tersimpan di salah satu Permata Pringgondani…?” 

Mayang Tenggara menghabiskan waktu cukup lama menelusuri tiap-tiap Permata Priggondani… namun upaya yang ia kerahkan tak membuahkan hasil. Dirinya tak menemukan petunjuk apa pun. Setelah merenung sejenak, akhirnya perempuan itu memutuskan untuk segera melangkah keluar. 

“Swush!” 

Baru saja Mayang Tenggara hendak meninggalkan tempat penuh kenangan itu, sebuah gerbang dimensi berpendar di sudut lain gua. Warna gerbang dimensi tersebut keemasan… Mayang Tenggara mengenal betul bahwa itu adalah gerbang dimensi khusus yang menghubungkan dengan ruang dimensi berlatih milik… Sang Maha Patih. 

Sesosok anak remaja mengenakan jubah hitam melangkah keluar. Langkah kakinya terhenti… seketika menyaksikan kehadiran sosok seorang perempuan dewasa di dalam gua rahasia. Ia tak memasang kuda-kuda petanda siaga… Meski, sorot matanya menatap tajam. 

“Mayang Tenggara…?” bisiknya kepada diri sendiri. 

Mayang Tenggara tertengun. Wajahnya berubah haru. Sebulir air mata mengalir meliuk menuruni pipi kanannya… Meski sosok di hadapan mengenakan Jubah Hitam Kelam, yang menyamarkan aura dan sedikit mengubah perawakan… ia sangat, sangat mengenal sorot mata tersebut. 

“Putra Mahkota…,” gumam Mayang Tenggara pelan. “Elang Wuruk….”*



Catatan:

*) Wuruk: Terpelajar. 

Bonus ilustrasi! (belum versi final)