Episode 24 - Wanita...


Ibu Kota Baru, Chang’An

Dua tahun hampir berlalu sejak Ibu Kota Yuan berpindah ke Chang’An, sebuah wilayah di timur laut negeri. Selain dari tata letak, Chang’An memiliki beberapa kesamaan dengan ibu kota lama, terutama pada masalah cuaca. Salju sedang turun lebat hari ini, seminggu berlalu sejak butiran pertama mengubah warna tanah menjadi hamparan putih. Anak-anak bermain dengan riang, sementara orang tua tetap bekerja dengan pakaian tebal.

Jika ditilik dari sejarah, pada zaman dinasti kuno sebelum Yuan, Chang’An juga pernah dijadikan ibu kota. Maka dari itu, dari berbagai pertimbangan para ahli politik, Chang’An menjadi pilihan paling ideal. Selain jauh dari perbatasan, kota ini juga bisa mendukung perekonomian karena letaknya dekat dengan laut.

Di dalam istana, tentu berbeda keadaannya dari dunia luar. Bukan karena salju tidak turun, bukan pula karena hawa dingin tak menusuk, tetapi karena suatu kejadian heboh sedang terjadi. Malam yang begitu sunyi, lilin kamar yang redup, hawa dingin yang masuk perlahan, itu semua menjadi saksi suatu petaka hari ini. 

“Pa-Pangeran... apa yang Anda lakukan pada Yang Mulia?” seorang kepala kasim memasang muka ketakutan.

“Ka-Kasim Gao, ini tidak seperti yang kau lihat!” Yen Huang, tangannya bergetar memegang sebuah pisau yang terlumuri darah. Matanya terbelalak, seolah ia juga tak tahu kenapa kejadian bisa menjadi serumit ini.

Namun, Gao Zhan tetap kukuh dengan fakta di depannya, seorang pangeran yang telah menusuk kaisar hingga tergeletak tak bergerak. Pada saat ini, Gao Zhan tentu hanya ingin menyelamatkan diri. Dia tak peduli siapa aktor jahat dan aktor baiknya. Dia tak peduli alur apa yang menyertai akhir semengerikan ini. Yang ia pedulikan hanya satu, nyawanya.

“Pe-penjaga! Penjaga!” Gao Zhan berlari keluar, sekuat tenaga ia ingin terbebas dari masalah, “Pangeran membunuh Kaisar! Pangeran membunuh Kaisar!”

“Gao Zhan! Tunggu!” Yen Huang membentak, tetapi sudah tak dihiraukan. Ghao Zan tetap berlari dan berteriak. Bagi Gao Zhan, Yen Huang sekarang adalah kriminal tingkat atas.

Setelahnya, teriakan Gao Zhan seolah menjadi pemicu kekacauan. Prajurit istana yang berlarian, lampion-lampion kamar yang dihidupkan, dayang-dayang yang histeris, dan berbagai peristiwa lain. Istana menjadi kacau balau hanya dalam beberapa menit. Hiruk pikuk tak henti-hentinya mengisi keheningan malam. Derap kaki menjadi melodi yang menyertai kejadian kelam. Entah apa yang akan terjadi setelah hari ini. Entah kabar apa yang akan diumumkan pada rakyat. Yang jelas, malam ini, pangeran pertama sekaligus putra mahkota, Yen Huang telah melakukan pelanggaran berat di benak setiap orang.


***


 [Aku]

Jadi, dua jam yang lalu, Guru melakukan tes terakhir padaku dalam memelajari Raungan Amarah Naga. Tugas yang Guru berikan sederhana, hancurkan salah satu sisiknya yang sudah terkelupas. Syaratnya juga sederhana, jangan gunakan tangan, kaki, atau bantuan lainnya, cukup gunakan raungan dari tenaga dalam. Sederhana, kan? Atau itulah yang kupikirkan sebelumnya.

Aku kehabisan nafas dan tenaga dalam. Otot perut dan dadaku bekerja terlalu keras untuk tes kali ini. Kerongkonganku kering, suaraku juga serak. Tidak kusangka, benar-benar tidak kusangka, sisik mati yang terkelupas akan menjadi benda yang bahkan lebih keras dari baja. Sejak tadi, tak henti-hentinya aku meraung seperti orang gila. Ini adalah pertama kali bagiku merasa tak membuat perubahan apapun walau sudah berusaha keras.

Aku pun berbalik badan, meuju arah Paman Key yang bermeditasi ringan. Ya, aku juga akan melakukan meditasi, lagi pula tenaga dalamku hampir habis.

“Kenapa? Tenaga dalammu habis?” tanya Paman yang menyadari kedatanganku.

“Iya, semacam itu.” Aku berkata dengan suara serak. Segera kudekati Paman, kemudian mengambil posisi duduk sila untuk menyerap chi di udara.

“Kresna, tidak usah berkecil hati, lagi pula Tuan Naga sendiri bilang, bahkan ahli yang setara dengan Sage atau Mage tak akan bisa menghancurkan sisik Tuan Naga dalam satu serangan. Apalagi dirimu yang hanya kasta Pendekar. Bahkan aku pun tidak yakin bisa menghancurkannya walau mencoba seharian penuh.” Paman Key mencoba memberiku beberapa rasa nyaman.

“Paman, tenang saja, aku tidak sepesimis itu, kok.”

“Lalu, kenapa kau menangis?” ia terheran.

“Menangis?” Aku segera memastikan ucapan Paman, kuraba sudut mataku dan memang terdapat air mata. “Kenapa aku menangis?”

“Lah, kenapa tanya aku?”

Kesampingkan keheranan Paman Key, bahkan aku juga tak mengerti arti air mata ini. Walau aku agak kesal karena tak bisa menghancurkan sisik mati Guru, tetapi perasaan itu seharusnya tak sampai membuatku menangis. Lalu, apa penyebabnya? Hm, setelah kupikirkan sejenak, mungkin hanya debu kecil yang masuk, atau mungkin aku mengantuk. Sudahlah, lagi pula hanya air mata, tak perlu diambil pusing.

“Tidak usah khawatir Paman, ini bukan karena aku putus asa. Mungkin ada debu yang masuk mataku,” terangku mencari alasan logis.

“Oh, kalau begitu syukurlah. Sebaiknya, kau cepat masuk kondisi meditasi menengah agar tenaga dalammu cepat pulih.”

“Baiklah!” Aku pun segera menutup mata dan mencoba berkonsentrasi untuk memfokuskan pikiran pada kondisi meditasi yang lebih dalam.

 

***


Tiga hari telah berlalu, dan aku masih berjalan di tempat. Sungguh, apa yang salah denganku? Kenapa menghancurkan sisik yang sudah terkelupas saja sangat sulit? Entah seberapa banyak tenaga dalam yang kugunakan, entah seberapa sering aku mengisi tenaga dalam dengan meditasi, dan entah seberapa dalam kondisi meditasi yang bisa kucapai, tetap saja, semuanya ditaklukkan oleh sisik merah ini!

“Sekali lagi...” gumamku yang kelelahan. Kuserap udara di sekitar menuju mulut, kutahan tenaga dalam agar terkumpul dalam Dan Tian, kemudian kuarahkan jalur tenaga dalam menuju dada. Dengan cepat, dadaku menggembung, lalu tenaga dalam terus melaju ke tenggorokan, dan tak lama pipiku ikut menggembung. Sentuhan terakhir dalam proses ini pun terjadi, aku meluapkan energi dalam satu hembusan nafas dan mengubahnya seakan-akan bola meriam.

Wuuusssh! Suara ledakan terdengar. Jika ini orang awam, pasti suaranya akan cukup mengerikan bagi mereka, tetapi bagiku, Paman Key, dan Guru, kami semua sudah paham kondisi yang terjadi. Telinga kami sudah kebal, sehingga membuat ledakan ini selayaknya obrolan sehari-hari.

“Masih belum juga?” Guru mengomentariku dengan nada sinis. Selain lantai batu yang pecah, raunganku bahkan belum menggores sisik Guru.

“Gu-guru, maaf! Aku sepertinya memang tidak berbakat,” ucapku mengakui kekalahan.

“Tidak! Kau hanya belum memahami apa yang kukatakan! Coba kau ulangi tentang bagaimana aku menjelaskan kehebatan sisikku!” tegurnya.

Entah sebenarnya Guru mencoba menyemangatiku atau hanya ingin aku memuji kehebatan sisiknya, yang jelas, aku tak bisa menolak permintaan itu. “‘Sisikku, lebih keras dari berlian, lebih tajam dari pedang, lebih merah dari darah, bisa menahan bara api, dan bisa menahan badai salju!’ atau kurang lebih begitu Guru...” imbuhku melantur.

“Dasar lancang! Makanya kalau sedang dijelaskan, perhatikan!” Guru membentak.

“Guru, semua kata-kata tadi hanya pujian untuk diri sendiri, tidak terlalu penting juga...”

“Bodoh! Itu berarti kau belum bisa memahami inti dari Raungan Amarah Naga! Sudahlah, aku mau tidur!” tegurnya untuk yang terakhir kali sebelum kembali ke lubang.

Melihat Guru yang sudah hilang dari pandangan, aku menggunjingnya dari belakang, kukusutkan mukaku dan kuulangi teguran terakhirnya dengan nada mengejek. Tentu saja, tak berani aku melakukan hal ini di hadapannya secara langsung.

“Sedang galau?” Paman Key menghampiriku.

Aku menundukkan badan dan cepat membaringkan tubuh ke tanah. “Kurang lebih, Paman...” ucapku malas.

Tanpa disuruh, Paman Key juga berinisiatif untuk bersantai. Kami pun melakukan hal yang seperti biasanya, berbaring dan menatap langit batu.

“Paman...” gumamku, tetapi masih dapat didengar.

“Ya...?”

“Apa suatu hari langit batu ini bisa berganti...?”

“Berganti? Dengan apa?”

“Dengan langit biru nan luas...”

Paman Key menengok cepat, dia pasti paham dengan perasaanku saat ini.

“Kresna, kau rindu dunia luar?”

“Apa Paman tidak?”

“Tentu, aku sangat merindukannya. Aku ingin sekali melihat teman-teman lamaku, juga melihat istriku.”

“Apa Paman pernah memimpikan mereka?”

“Pernah...”

Aku kembali termenung sebelum memulai percakapan lagi, “Paman, entah kenapa tiga hari ini, aku selalu memimpikan teman baikku, Huang. Apa mungkin terjadi sesuatu dengan dia?”

Paman Key berpikir, lalu mengutarakan balasannya, “Kresna, kalau maksudmu sesuatu yang berbahaya, mungkin tidak. Lagi pula dia pangeran, kan? Untuk apa mencemaskannya? Bahkan bosku tidak bisa menyentuhnya.” Paman Key membahas luka lama, tetapi tampaknya sekarang sudah menjadi angin lalu.

“Ya, betul kata Paman. Lagi pula dia Pangeran...”

Keadaan menghening lagi, cukup lama untuk membuat daun teh yang melayang tenggelam ke dasar.

“Paman...”

“Ya...?”

“Apa istri Paman cantik?”

“Hoi... apa kau mencoba mengambil istri saudaramu sendiri?” Paman Key mengubah nada dan ekspresinya menjadi cukup intimidatif.

“Ti-tidak, Paman, bukan itu maksudku, sungguh!” Aku segera menjelaskan dengan berhati-hati.

“Hahahah,” ia tertawa dan mengacak rambutku, “hanya bercanda. Lagi pula kau hanya bocah yang baru dewasa kemarin, tak mungkin istriku melihatmu sebagai lelaki.”

“Oh, ya, menurutku Paman juga tidak tampan, pasti istri Paman juga tidak cantik!” Aku sedikit kesal karena candaan tadi.

“Hoi...” Kali ini, Paman Key memukulkan sisi tangannya ke arah jidatku.

“Aduh...!” Aku mendesah. 

“Dengar, walau menurutmu aku tidak tampan, tapi bagiku Alicia adalah wanita paling cantik di dunia. Rambut pirangnya, mata birunya, bibir tipisnya, pinggang gemulainya, semuanya aku suka. Terutama sifatnya yang teguh dan pengertian. Sifat kasarnya pun aku suka.”

“Ya, ya, ya, aku tidak akan percaya omongan Paman sebelum aku melihat bibi Alicia dengan mataku sendiri! Jangan-jangan dia hanya nenek-nenek enam puluh tahun...”

“Hoi... mau dipukul lagi?” ancam Paman.

“Tidak, tidak!” Aku menolak cepat.

“Kresna, lagi pula apa kau bisa membedakan wanita cantik dan tidak?”

“Bisa, tentu saja. Wanita cantik pastilah di bawah empat puluh tahun umurnya, kalau di atas itu bukanlah wanita cantik.”

“Hahahah, dasar masih bocah! Kalau kau membedakan kecantikan wanita dari umur, bisa-bisa seluruh wanita di dunia ini menguburmu hidup-hidup!” Paman Key menerangkan poin yang belum kumengerti, “dengar ya, wanita itu terkadang bersikap seperti bayi panda. Imut, menggemaskan, dan kau selalu ingin memeluknya setiap saat. Tapi, tak jarang pula wanita akan bersikap seperti harimau liar, kau akan dibuat takut setengah mati olehnya. Jadi kuingatkan lagi, sebaiknya kau jangan sekali-kali membandingkan kecantikan wanita dari umurnya, mengerti?”

“Apa Paman pernah dibuat ketakutan oleh bibi Alicia?” Aku bertanya polos.

Paman Key mendadak mengubah aura wajahnya. Ia menelan ludah dalam-dalam. Dirinya seperti mengingat peristiwa yang seharusnya dikubur dalam koleksi pengalaman pahit. “Kresna, sudah, jangan bertanya tentang istriku lagi. Aku merasa merinding...”

“Oh, baiklah...”

“Ah, bagaimana kalau kita membahas ini, masih berhubungan dengan wanita, tetapi dilihat dari sisi lain.”

Ini, jangan bilang bahwa Paman Key akan bercerita vulgar lagi, “Pa-paman, ini bukan cerita yang nakal, kan?” Aku bertanya dengan muka merah padam.

“Hm, ini tidak nakal, mungkin malah mengerikan.”

“Me-mengerikan? Maksud Paman tentang wanita yang seolah harimau?”

“Tidak, lebih parah lagi, kau tahu istilah ‘Honey Trap’?” tanya Paman.

“Jebakan Madu?” Aku berkata polos.

“Hahaha, jangan diartikan secara harfiah!” Paman menertawai kebodohanku.

“Lalu, apa itu Honey Trap?” Aku penasaran.

“Honey Trap, itu sebuah istilah yang sering dipakai dalam dunia pembunuh bayaran dan mata-mata. Bedanya, jika di dalam dunia mata-mata, Honey Trap bertujuan untuk mendapatkan informasi dari target, sedangkan dalam dunia pembunuh bayaran, Honey Trap berguna untuk membunuh target.”

Kali ini, aku yang menelan ludah, “Pa-paman, jadi sebenarnya, apa itu Honey Trap?”

“Itu adalah cara memikat lawan jenis untuk membuat kewaspadaan mereka lemah. Tentu saja, ini harus dilakukan sehalus dan sealami mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.”

“Memikat lawan jenis bagaimana?” Aku masih kurang mengerti.

“Ya, tentu saja, laki-laki akan tertarik dengan wanita cantik yang menawan, begitu pula sebaliknya, wanita akan tertarik dengan lelaki tampan yang menawan.”

“Bukankah itu baik?”

“Ya, itu baik, tapi seperti yang kujelaskan sebelumnya, tujuan orang yang berada pada posisi memikat adalah untuk menurunkan kewaspadaan target. Sehingga, target malah akan merasa aman dan percaya pada si pemikat. Lalu saat kelengahannya sudah mencapai titik terdalam, di situlah keadaan akan berbalik. Jika tujuan pemikat adalah membunuh, maka titik ini akan menjadi akhir riwayat target. Yang paling buruk adalah, korban Honey Trap kebanyakan lelaki. Kau tahu apa artinya?”

“Apa?” Aku bertanya cepat, walau sebenarnya logika dari pertanyaan ini mudah dipahami, tetapi perasaanku sedang tidak mendukung pikiranku untuk tanggap. Cerita Paman Key sungguh membuat keringat dinginku muncul.

“Artinya, pelaku Honey Trap kebanyakan adalah wanita. Bagaimana, mengerikan, bukan?” Paman Key memang berkata demikian, tetapi ekspresi wajahnya seolah menganggap Honey Trap bukan suatu ancaman berarti.

Sayangnya, aku sebagai anak kecil –atau mungkin baru dewasa, menganggap ini begitu menakutkan. Maksduku, tega sekali wanita mempermainkan perasaan dan kepercayaan lelaki hanya untuk tujuan jahat? Terlebih, membunuh? Bukankah wanita seharusnya lebih inferior dari pada lelaki? Kenapa wanita yang lemah lembut malah melakukan hal sekejam dan sekeji ini? Kenapa?

Aku bangun, kemudian mengambil posisi duduk, “Paman... sepertinya aku tidak ingin menikah...” ucapku dengan tatapan kosong dan rasa ngeri.

“Wah, jangan berkata begitu! Sudah, lupakan apa yang kukatakan! Lagi pula banyak wanita yang baik di dunia ini. Sudah, sudah...” Paman Key menepuk punggungku untuk membuatku nyaman. Namun untuk beberapa alasan, aku masih merasa paranoid dengan keadaan ini. Mungkin, nanti malam aku akan mengalami mimpi buruk.


Kolom Penulis:

Kemarin tidak update, dan hari ini telat update. Maaf saya mengurus beberapa masalah dan terutama juga mengurus cover yang sudah jadi dengan si ilustrator.

Terimakasih kepada Galih Adiw yang telah membuat cover untuk Legenda Pendekar Naga.... :3 :3 :3