Episode 118 - Ruang dan Waktu


 

“Aku, Bintang Tenggara…” 

“Aku, Panglima Segantang…” 

“Berikrar untuk membuat kesepakatan dengan Dewi Anjani, Penunggu Gunung Dewi Anjani, nan cantik jelita dan hendak segera menikah…,” seru keduanya bersamaan.

“Hm…? Dewi Anjani… Apakah lafal kesepakatan ini tak salah tulis…?” sela Bintang Tenggara ragu. Ia sedang memegang secarik kertas yang diberikan oleh Dewi Anjani. 

“Tiada kesalahan. Ulangi sekali lagi….” 

Dewi Anjani menjulurkan lengannya. Telapak tangan Dewi Anjani lalu menimpa punggung tangan Panglima Segantang. Lalu, Bintang Tenggara mengapit tangan Dewi Anjani. Ketiganya terlihat seperti hendak bermain hompimpa. 

“Aku, Bintang Tenggara…” 

“Aku, Panglima Segantang…” 

“Berikrar untuk membuat kesepakatan dengan Dewi Anjani, Penunggu Gunung Dewi Anjani, nan cantik jelita dan hendak segera menikah. Kami berjanji untuk menunaikan tanggung jawab dalam melepaskan Dewi Anjani dari segel Cembul Manik Astagina. Atas upaya itu, kami berhak mengerahkan Delapan Senjata Purbakala dan berjanji tak menyalahgunakan senjata-senjata tersebut. Kami juga berjanji untuk menjaga kerahasiaaan kesepakatan ini.” 

“Daku, Dewi Anjani nan cantik jelita, menerima lamaran Komodo Nagaradja….”

“Hoooi… Mengapa ada namaku di dalam kesepakatan kalian!? Siapa yang melamar perempuan gila sepertimu!?” Ingin rasanya Komodo Nagaradja memberontak. 

“… serta mengijinkan Bintang Tenggara dan Panglima Segantang mengerahkan Delapan Senjata Purbakala.”

“Swush!” 

Formasi segel yang rumit terlihat berpendar dari setiap gagang pedang yang menancap di delapan tempat pada tubuh perempuan itu. Formasi segel tersebut lalu berkelebat ke tubuh Bintang Tenggara dan Panglima Segantang. 

“Langkah berikutnya adalah bagi kalian untuk mencabut senjata…. Namun, sebelum itu, santaplah domba itu terlebih dahulu,” ujar sang dewi. 


“Apakah sebenarnya rencanamu?” tegur Komodo Nagaradja melalui jalinan mata hati kepada Dewi Anjani. 

“Menikah….” 

“Berhentilah bermain-main!” 

Dewi Anjani terdiam sejenak. “Ramalan kuno… Daku masih mencari kelanjutan dari ramalan kuno itu…,” ucapnya pelan. 

“Kau masih percaya pada ramalan itu…?”

“Buktinya… daku dan dikau dapat bersatu….” 

“Tak ada kau dan aku dalam ramalan itu!” 

“Dibutuhkan pemahaman untuk menerjemahkan sebuah ramalan….”

“Sudahlah! Aku tak mau terbawa gila!” Komodo Nagaradja menggeretakkan gigi dan menarik jalinan mata hatinya. 


“Pilihlah gagang senjata yang kalian inginkan….”

Bintang Tenggara kembali mengamati gagang-gagang senjata tajam yang tertancap di tubuh Dewi Anjani. Satu gagang di kepala bagian kiri, sisi kanan leher, bahu kanan, pundak kiri, di atas belahan dada, rusuk kanan, pinggang kiri, serta paha kaki kanan. Dilihat dari sudut mana pun, tetaplah mengerikan adanya. 

“Pedang, kelewang, jenawi, parang, mandau, golok, badik, dohong….”

Kedelapan senjata tersebut persis sesuai dengan yang pernah ditawarkan di dalam ruang dimensi setahun lalu. Bintang Tenggara masih tak mengenali sebagian besar nama-nama senjata tersebut. 

“Tentukan pilihan menggunakan mata hati.”

Panglima Segantang menghampiri Dewi Anjani. Ia menjangkau gagang besar yang menancap di sisi kiri pinggang. 

“Hyah!” 

Sepertinya Panglima Segantang kesulitan menarik gagang tersebut. Kini ia memegang gagang dengan kedua belah tangan. Dewi Anjani terlihat sabar menanti. Bintang Tenggara berpikir apakah ia perlu ikut membantu….

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri!”

Panglima Segantang menggandakan kekuatan tubuhnya. Bintang Tenggara baru menyadari bahwa Panglima Segantang sudah berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8. Jadi, bukan hanya dirinya yang naik peringkat keahlian, Panglima Segantang juga. 

“Srek!” Gagang bergerak sedikit. 

“Aaakhh….” Dewi Anjani mengeluarkan suara yang sangat asing di telinga kedua anak remaja itu. Suara tersebut seperti teriakan setengah tertahan, antara sedikit nyeri dan sedikit… nikmat. 

Panglima Segantang berhenti menarik gagang. Wajahnya terlihat khawatir. Apakah dirinya melukai sang dewi? 

“Teruskan… teruskan…,” desah Dewi Anjani. Wajahnya memerah, napas terengah. 

“Dewi Anjani! Tak bisakah kau menahan diri!? Anak-anak ini masih di bawah umur!” sergah Komodo Nagaradja sebal. 

“Aaakhh…. Aaakkhhh….” Dewi Anjani kembali mendesah-desah dan mengerang-erang di saat Panglima Segantang kembali menarik gagang. 

“Cepat selesaikan!” Komodo Nagaradja tak tahan mendengar desahan dan erangan sang dewi. 

Dari pinggang Dewi Anjani sudah terlihat bilah lebar berwarna gelap. Bentuknya melengkung. Lebarnya hampir satu setengah jengkal. Panjangnya belum diketahui…. 

“Aaakhh…. Aaaaaakkhhh….”

“Sret!” Bilah sepanjang lebih dari satu depa terlihat mengemuka. Di saat yang sama, Dewi Anjani jatuh terkulai. Napasnya menderu. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. 

“Taring Raja Lalim!”* teriak Panglima Segantang. 

Entah dari mana ia dapatkan nama itu. Mata hatinya mengisyaratkan bahwa nama tersebutlah yang disandang oleh parang besar yang kini berada dalam genggaman. Panglima Segantang terlihat perkasa.

“Selanjutnya….,” panggil Dewi Anjani di saat bangkit dan menyeka keringat. Ia seperti sudah tak sabar menantikan senjata berikutnya dilepaskan dari tubuh. 

Bintang Tenggara menjulurkan tangan, meraih gagang yang berada di bahu kanan. 

“Ehem….” Komodo Nagaradja berdehem petanda tak setuju. 

Bintang Tenggara menjulurkan tangan, meraih gagang yang menancap di rusuk kanan. 

“Ehehem….” Kembali Komodo Nagaradja berdehem petanda keberatan. 

Bintang Tenggara menjulurkan tangan, meraih gagang yang bersarang di paha kanan. 

“Ehehehem….” Lagi-lagi Komodo Nagaradja berdehem petanda kurang puas. 

“Hm…? Tentukan pilihan cepat!” Dewi Anjani tak sabar mendapati anak remaja itu berpindah-pindah gagang. 

“Ehem… le… ehem… her…,” Komodo Nagaradja berdehem-dehem… memberi petunjuk keras. 

“Dengarkanlah mata hati dikau sendiri… bukan mata hati ahli lain….” Dewi Anjani menyadari ada pihak yang mengganggu Bintang Tenggara dalam menentukan pilihan. 

Bintang Tenggara menjulurkan tangan ke gagang lurus, bulat dan pendek; yang terletak di sisi kanan leher Dewi Anjani. 

“Apakah dikau yakin…?” Kini Dewi Anjani yang terlihat keberatan. 

“Yakin,” jawab Bintang Tenggara cepat. 

“Tak hendak memilih yang lain…?” 

“Tidak.”

“Dengarkan mata hati dikau sendiri.” 

“Ini pilihanku.” 

“Hmph!” Dewi Anjani mendengus sebal. 

“Plop!” Bintang Tenggara dengan mudahnya memotek gagang itu. Tak ada bilah senjata sesuai harapannya. Tak terdengar desahan dan erangan dari Dewi Anjani. Malah perempuan itu terlihat sedikit kesal. 

Bintang Tenggara memerhatikan gagang dengan seksama. Di posisi ujung gagang bulat pendek itu, terdapat sebuah kristal berwarna kebiruan. Kristal inilah yang menancap di tubuh Dewi Anjani. Senjata apakah gerangan ini? gumamnya dalam hati. 

“Mustika Pencuri Gesit!”** tetiba Bintang Tenggara berujar. Tak tahu dari mana ia mendapatkan nama senjata yang berada di tangannya itu. 

“Baiklah, sekarang… alirkan tenaga dalam ke arah senjata kalian masing-masing!”

“Dewi Anjani, bagaimana dengan gagang-gagang yang lain…? Apakah tiada perlu dicabut terlebuh dahulu?” ujar Panglima Segantang penasaran. 

“Setiap ahli hanya diperkenankan mencabut satu gagang senjata dalam seratus tahun… demikian syarat dan ketentuan segel Cembul Manik Astagina,” jawab Dewi Anjani pelan. 

“Srash!” Bilah Taring Raja Lalim tetiba memanas. Meski tak ada api yang melingkupi sekujur bilah, parang besar tersebut bak besi panas yang menyala membara! 

“Ziinngg…!” Kristal berwarna biru di ujung gagang yang berada dalam genggaman Bintang Tenggara menyala. Segera setelah itu, mencuat bilah sepanjang satu setengah jengkal yang hampir transparan. Bilah tersebut seolah terbuat dari cahaya kebiruan. Mustika Pencuri Gesit rupanya merupakan sebilah golok pendek, yang bilahnya hampir tak kasatmata!

“Bagus!” Dewi Anjani mengibaskan jemari tangannya ringan. “Sekarang... kembalilah kalian ke dalam ruang dimensi masing-masing selama setengah tahun….” 

“Hah!” 


===


Sebagai Kepala Pengawal Istana Utama Kerajaan Parang Batu, Lombok Cakranegara memiliki karier yang sangat gemilang. Di usia yang belum mencapai 30 tahun, ia terbilang sangat muda untuk menempati posisinya sekarang. Pencapaian tersebut dikarenakan kecerdasan yang berada di atas rata-rata, kemampuan menjaga sikap, serta status sebagai anggota Pasukan Telik Sandi. 

Pasukan Telik Sandi setiap hari menyaring banyak informasi yang beredar. Kabar angin para saudagar, gosip pelayan istana, warta prajurit dari seberang, sampai perbincangan di warung kopi tak lepas dari pantauan anggota-anggota Pasukan Telik Sandi. Berbagai informasi yang masuk, lalu dipilih dan dipilah dengan seksama. 

Di masa pembangunan Negeri Dua Samudera saat ini, informasi merupakan komoditas langka dan mahal. Tak banyak orang memiliki informasi yang tepat, atau terpapar pada informasi yang bermanfaat. Pemanfaatan informasi dengan jeli dan cermat, akan membawa seorang ahli sebagai tokoh yang banyak dicari-cari. Demikianlah Lombok Cakranegara mengolah informasi dan memanfaatkanya dalam menopang karier di Kerajaan Parang Batu.   

Lombok Cakranegara berdiri tenang di luar gerbang Istana Utama. Kepalanya mendongak ke atas ketika menyaksikan satu titik hitam di kejauhan. Tak lama, titik tersebut membesar dan mendarat tepat di hadapannya. 

“Kakak Lombok!” seru Panggalih Rantau dari atas pundak burung Undan Paruh Cokelat. 

Lombok Cakranegara menyibak senyum lebar sambil membentangkan kedua tangan lebar. “Panggalih Rantau… saudaraku, jarang sekali kau terlambat....”

“Hahaha… Kakek Karang menderita diare. Terpaksa hamba mengurus orang tua itu terlebih dahulu.” Panggalih Rantau melompat turun dari binatang siluman kesayangannya. 

“Hahaha….” Lepas sekali tawa Lombok Cakranegara. 

“Dimanakah Adik Bintang Tenggara…,” sela Panggalih Rantau sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. 

“Hampir sepekan lalu ia berangkat memeriksa segel di Gunung Dewi Anjani…,” Lombok Cakranegara menunjuk ke arah gunung. 

“Oh…?” Panggalih Rantau terdengar sedikit kecewa. 

“Mari masuk…,” ajak Lombok Cakranegara. 

“Hamba tiada dapat lama bertandang. Masih ada keperluan lain demi menjaga hati para pembeli nan cantik jelita,” ujar Panggalih Rantau sambil mengedipkan satu mata. 

“Hm…?”

“Kedatangan hamba kali ini hanya untuk menyampaikan….” Panggalih Rantau menghentikan kata-katanya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa tak ada ahli lain di dekat mereka. 

Masih berdiri di depan gerbang Istana Utama Kerajaan Parang Batu, kedua anggota Pasukan Telik Sandi itu kemudian telibat dalam perbincangan serius. Raut wajah Lombok Cakranegara yang tadinya biasa-biasa saja mendadak berubah tegang. Alisnya menyempit, kedua belah matanya menyipit. 

“Dengan demikian, Kakak Lombok, hamba mohon undur diri…,” ujar Panggalih Rantau cepat. “Mohon sampaikan salam hamba kepada Adik Bintang Tenggara bilamana ia pulang nanti….” 

Lombok Cakranegara hanya mengangguk. Ia lalu menatap kepergian Panggalih Rantau yang serba tergesa-gesa. Untunglah diriku tak menempuh karier sebagai saudagar, pikirnya lega. Lombok Cakranegara bukan jenis orang yang senang melayani pembeli. Pada kenyataannya, ia lebih senang bersiasat dan mengelola prajurit istana. 

Matahari sebentar lagi menyelam ke ufuk barat. Angin bertiup menderu, ibarat gelombang, menghempas helai-helai pakaian Lombok Cakranegara yang apik dan resmi. Baru saja ia hendak memutar tubuh, ketika kedua mata menangkap dua ahli melangkah ke arahnya. 

Kedua ahli tersebut sangatlah menarik perhatian. Salah satunya bertubuh besar dan kekar. Karena tak mengenakan atasan, setiap jalinan otot tubuh bagian atas terlihat ketat dan padat. Akan tetapi, penampilannya sungguh lusuh. Rambutnya terurai tak beraturan, wajah dan tubuhnya kotor. Celana yang ia gunakan pun sudah compang-camping. Hanya sepasang sepatu yang ia kenakan, yang sepertinya layak dipandang mata. 

Melangkah berdampingan sosok bertubuh besar, adalah seorang anak remaja. Tubuhnya ramping, namun terkesan cukup kokoh. Ia berambut ikal dan lebat, serta panjang sampai menyentuh leher. Rambut yang tak terurus itu bahkan menutup separuh wajahnya. Meski berpakaian lengkap, pakaian yang dikenakan tak terlihat masih layak. Sudah lusuh, berlubang, kotor pula pakaian itu. Lebih parah lagi, sosok tersebut bahkan tak mengenakan alas kaki. Kasihan sekali. 

Kedua sosok melangkah semakin mendekat. Angin tetiba membawa aroma yang kurang sedap. Lombok Cakranegara telah menatap cukup lama. Ia mengernyikan dahi, lalu mengangkat tangan menutup hidung. 

“Anak jalanan! Gelandangan!” hardik Lombok Cakranegara berang. “Tidakkah kalian tahu bahwa ini adalah wilayah istana!? Enyah kalian!” 

Kedua sosok tersebut terlihat kaget. Akan tetapi, sosok yang ramping dan berambut panjang acak-acakan, serta tak beralas kaki… tetiba melenting deras! 

Tempuling Raja Naga!


“Hahaha…. Maafkan aku…. Hahaha….” Gelak Lombok Cakranegara di dalam ruang makan kediamannya. 

“Bagaimana mungkin aku dapat mengenali kalian? Perubahan penampilan kalian sulit dicerna akal…. Bagiku, kalian berdua baru bertolak mendaki gunung tak lebih dari sepekan yang lalu… Hahaha….” 

Benar. Bintang Tenggara dan Panglima Segantang juga baru menyadari di saat turun gunung… bahwa mereka tak hanya memasuki dimensi ruang, namun juga dimensi waktu. Enam bulan di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani, sama dengan sekitar sehari semalam di dunia nyata. Jadi, bila keduanya menghabiskan waktu selama satu setengah tahun di dalam dimensi itu, maka Lombok Cakranegara hanyalah melewati tiga atau empat hari. 

Meski demikian, Bintang Tenggara tetap saja sebal. Sebagai upaya melampiaskan kekesalannya, di depan pintu gerbang Istana Utama tadi, anak remaja tersebut benar-benar hendak menikam Lombok Cakranegara. Untunglah, Lombok Cakranegara bukan sembarang ahli. Setidaknya, Kepala Pengawal itu berada pada Kasta Perak tingkat menengah. 

“Hahaha….” Lombok Cakranegara masih saja tertawa lebar. Sepertinya ketegangan saat mendengar kabar dari Panggalih Rantau menguap sudah.  

Panglima Segantang dan Bintang Tenggara terlihat menyantap makanan yang telah tersaji. Selama satu setengah tahun, mereka hanya melahap makanan binatang siluman yang dibakar seadanya dan lalapan mentah. Meski sarat gizi, makanan tersebut tak memiliki cita rasa yang ramah di lidah. 

“Jadi, apa yang kalian dapatkan di Gunung Dewi Anjani…?” Lombok Cakranegara tak menyembunyikan rasa ingin tahunya. 

“Kami hanya terjebak di dalam dimensi ruang dan waktu…,” jawab Bintang Tenggara sekenanya. 



Catatan: 

*) Tyranosaurus Rex: Raja Lalim. lalim/la·limbengis; tidak menaruh belas kasihan; tidak adil; kejam

**) Velociraptor: Pencuri Gesit