Episode 117 - Purbakala

 

“Sret!”

Seorang anak remaja sedang terlibat dalam pertempuran sengit antar binatang siluman elang, serigala, harimau dan biawak. Kesemuanya memperebutkan kawanan Domba Curug Garut yang baru saja tiba melalui gerbang dimensi. Sekelompok Biawak Tanah menanti setengah tak sabar, mereka berharap mendapatkan sisa-sisa bangkai. 

“Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!” 

Suara memekak telinga tetiba membahana. Beberapa ekor harimau dan kawanan serigala spontan melompat mundur, elang-elang terbang menjauh, dan sejumlah biawak bersembunyi ke dalam tanah. 

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!”

Sangat jarang terjadi, situasi dimana Bintang Tenggara meneriakkan nama dan gerakan jurus secara utuh. Tak tanggung-tanggung pula, setelah melepas tinju berhulu ledak gelombang kejut, Bintang Tenggara segera langsung menggandakan kekuatan dan kecepatan raga. 

Berbekal tenaga dalam yang ditampung di dalam mustika Kasta Perunggu Tingkat 7, Bintang Tenggara segera merangsek di antara kawanan serigala. Benar, tak berapa lama lalu, anak remaja tersebut telah menerobos satu tingkat lebih tinggi dari sebelumnya. 

Sumber daya pangan sudah sangat terbatas ketika sejumlah binatang siluman berkembang biak. Padang rumput yang dulunya hijau, kini berubah tandus. Bangkai dan tulang-belulang binatang siluman berserakan di mana-mana. Kondisi di dalam ruang dimensi sudah sepenuhnya berubah... bahkan kelam sekali. 

Belasan ekor serigala berjumpalitan ketika seorang anak remaja yang bersenjatakan golok pendek itu terus-menerus merangsek, mencabik, serta membuka ruang di antara puluhan kawanan. Wajahnya beringas, sorot matanya buas. Perutnya keroncongan. 

“Hyah!” 

Bintang Tenggara segera menerkam seekor domba. Diangkatnya domba itu, lalu segera ia panggul dan bawa pergi. Binatang siluman elang, serigala, harimau dan biawak terpaku sejenak. Kemudian kembali berebutan domba-domba yang masih tersisa di antara mereka. Tak satu pun yang mengejar Bintang Tenggara dan domba tangkapannya. 

Sepintas, sejumlah serigala masih mengingat mimpi buruk tatkala populasi mereka hampir punah hanya gegara seekor ayam. Jangan menyinggung manusia yang satu itu, mungkin demikian arti dari sorot mata di antara mereka. 

“Swush!” 

Tetiba ruang dimensi seolah berputar-putar. Tubuh Bintang Tenggara melambung-lambung tak karuan. Ia kini telah berada di dalam sebuah gua yang berpenerangan temaram.

“Sahabat Bintang!” terdengar seruan. 

Tak jauh dari tempat ia berdiri, Bintang Tenggara menyaksikan seorang anak remaja tinggi besar. Tubuhnya kotor sekali. Perawakannya keras. Rambutnya tumbuh acak-acakan. Sebuah parang besar di genggaman tangan kanan dan seekor domba ditenteng pada tangan kiri. 

Lebih kurang sembilan bulan lamanya kedua anak remaja tersebut tak bersua. Sesuai anjuran Komodo Nagaradja kepada pemilik ruang dimensi, mereka telah dipisahkan. Meski ruang dimensi yang memuat keduanya adalah serupa adanya, baik bentangan alam dan siklus kedatangan binatang siluman, namun sesungguhnya merupakan dua tempat yang berbeda. 

“Sahabat Bintang juga baru saja mengambil jatah makanan!?” Panglima Segantang mengangkat seekor domba di tangan kiri semudah menenteng tusuk gigi. 

“Jatah makanan…?” gumam Bintang Tenggara. Ia segera tersadar bahwa masih memanggul seekor domba. Perkiraan Panglima Segantang memang benar adanya. 

“Apakah kau tak pernah membasuh tubuh…?” tanya Bintang Tenggara. 

Padahal, Bintang Tenggara sendiri terlihat awut-awutan. Rambutnya panjang sampai ke bawah telinga, pakaiannya dekil. Pada sebagian tubuhnya menempel debu tebal. Alas kakinya telah lama putus. 

“Selamat!” Terdengar suara menegur. “Kalian telah melewati kurun waktu setahun di dalam dunia ujian.” 

Menyusul suara tersebut, seorang perempuan dewasa melangkah mendekati mereka. Samar, terlihat ia mengenakan kemben bernuansa merah. Pada sisi bawah, terlihat kain batik yang melilit ketat dari pinggang sampai ke mata kaki. 

“Hah!” 

Bintang Tenggara yang memanggul domba dan Panglima Segantang yang menenteng binatang siluman serupa, segera melompat ke belakang. Dua ekor domba terlepas dari cengkeraman pemangsa mereka. Akan tetapi, kedua domba tersebut malah segera bersembunyi ketakutan di balik tubuh kedua anak remaja itu. Tatapan putus asa domba seolah berharap agar segera mereka disantap saja. 

Panglima Segantang segera menghunuskan parang besar dengan kedua belah tangan. Bintang Tenggara memegang golok di tangan kanan, dalam posisi seperti hendak menikam. Lalu, ia silangkan kedua lengan di depan wajah. Sepintas, gayanya mirip Embun Kahyangan di saat memasang kuda-kuda dan memegang kerambit. 

Apakah gerangan yang membuat dua anak remaja, serta dua ekor binatang siluman domba demikian waspada…? 

Di hadapan mereka, perempuan itu melangkah mendekat. Sinar temaram perlahan menyibak perawakannya. Wajahnya menampilkan kecantikan yang terkesan luhur. Luhur dalam artian leluhur. Cantik, bergaya tempo dulu. Akan tetapi, yang membuat kedua anak remaja masih tercengang adalah gagang-gagang senjata tajam berbagai bentuk dan ukuran yang menancap di sekujur tubuhnya!

“Satu… dua… tiga… delapan!” seru Panglima Segantang usai menghitung jumlah gagang senjata tajam. 

Bintang Tenggara pun turut mencermati. Masing-masing gagang senjata tajam tertancap mulai di kepala bagian kiri, sisi kanan leher, bahu kanan, pundak kiri, di atas belahan dada, rusuk kanan, pinggang kiri, serta paha kaki kanan. Mengerikan! 

Meski gagang tertancap, bilah senjata tajam tak terlihat menembus keluar tubuh perempuan itu. Sepertinya, bilah-bilah dari senjata yang bersarang itu menghilang di dalam tubuhnya. 

“Nama daku adalah Dewi Anjani, dengarkanlah kisah berikut….”

Bintang Tenggara dan Panglima Segantang masih menatap tajam. Nama gunung tempat mereka berada memanglah Gunung Dewi Anjani. Namun, bukankah Dewi Anjani hanyalah nama dari sebuah legenda, yang kerap disampaikan secara lisan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya? Apakah tokoh di hadapan ini benar adanya…?

Walau masih serpana, perlahan kedua anak remaja tersebut menurunkan senjata. 

“Berjuta-juta tahun yang lalu, dunia dipenuhi oleh binatang siluman. Bentuk dan ukuran tubuh mereka gergasi. Daratan, lautan dan angkasa raya mereka kuasai. Kekuatan setiap satunya tiada tertandingi. Bilamana mereka bertarung, maka gunung berubah rata, lautan mengering, serta langit tercerai-berai!”

Bintang Tenggara dan Panglima Segantang mendengarkan dengan takjub. 

“Kala itu dikenal sebagai… zaman purbakala!” 

“Purbakala…?” gumam Bintang Tenggara. 

“Syahdan, pada suatu hari terjadi bencana besar yang melingkupi seluruh dunia. Binatang-binatang siluman di zaman purbakala punah hampir tak berbekas, tak terkecuali wilayah Negeri Dua Samudera. Walau sisa-sisa keturunan mereka ada yang bertahan sampai saat ini, tidaklah banyak jumlahnya. Binatang siluman komodo adalah salah satu contoh dari keturunan langka yang sampai saat ini masih bertahan.”

“Hm…?” Bintang Tenggara tiada menyangka. 

“Berjuta tahun setelah itu, hadirlah manusia mengisi dunia. Peradabah mulai berdiri. Dari beberapa manusia, menjadi kelompok. Kelompok mendirikan dusun… kemudian membangung desa, kota, negara. Di Negeri Dua Samudera, peradaban manusia secara tak sengaja menemukan delapan senjata pusaka yang terlahir dari anggota tubuh binatang-binatang siluman digdaya di zaman purbakala.” 

Dewi Anjani terdiam sejenak. Ia memberi kesempatan kepada kedua anak remaja di hadapan untuk mencerna. 

“Manusia yang dikuasai nafsu duniawi, menyalahgunakan kekuatan dari senjata-senjata purbakala. Perang pecah, saling bunuh. Oleh karena itu, seorang Resi Gotama, mengumpulkan dan menyegel Delapan Senjata Purbakala ke dalam Cembul Manik Astagina.” 

“Yang Terhormat Dewi Anjani, apakah senjata-senjata itu yang sekarang bersarang di tubuh Dewi Anjani sendiri…?” sela Bintang Tenggara. 

“Mungkin kalian pernah mendengar berbagai versi legenda tentang daku. Benar. Rasa ingin tahu yang mendera gadis muda belia, mendorong daku membuka tutup Cembul Manik Astagina. Kecerobohan itu menyebabkan Delapan Senjata Purbakala kembali mengemuka. Di saat genting, ayah daku menggunakan tubuh putrinya yang cantik jelita ini, sebagai pengganti cembul.” Raut wajah Dewi Anjani berubah sendu. 

“Dengan kata lain, dakulah… Cembul Manik Astagina!” 

Hening. 

“Yang Terhormat Dewi Anjani, apakah kaitan ceritera itu dengan kami…?” ujar Bintang Tenggara. 

Anak remaja tersebut sedikit curiga. Apalagi, kini sudah dapat dipastikan bahwa perempuan dengan sejumlah ‘hiasan’ tubuh nan mengerikan, dan yang mengaku sebagai Dewi Anjani ini, ialah biang kerok derita hidup di dalam ruang dimensi yang dipenuhi siluman. Andai saja kasta keahlian perempuan tersebut dapat dicerna, maka mungkin Bintang Tenggara sudah menyampaikan keluhan tegas sedari tadi. 

“Apakah yang kalian ketahui tentang Sang Maha Patih…?” Dewi Anjani menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan. 

“Sang Maha Patih adalah manusia terkuat di Negeri Dua Samudera. Sang Maha Patih menguasai delapan unsur kesaktian. Sang Maha Patih memiliki Tujuh Senjata Pusaka Baginda!” seru Panglima Segantang bersemangat. 

“Salah… salah… salah…,” ujar Dewi Anjani santai. 

“Sang Maha Patih bukanlah manusia terkuat di Negeri Dua Samudera,” ujarnya. 

“Sang Maha Patih tak menguasai delapan unsur kesaktian. Malah, satu-satunya unsur kesaktian yang ia miliki hanya dapat dikerahkan di saat-saat akhir hayatnya,” lanjut perempuan cantik itu. 

“Sang Maha Patih pun tidak memiliki tujuh senjata.” 

Bintang Tenggara mengernyitkan dahi. Menurut Super Guru Komodo Nagararadja, memang benar bahwa Tujuh Senjata Pusaka Baginda bukanlah senjata-senjata yang dikerahkan oleh Sang Maha Patih. Namun, mengapa perempuan itu dapat sedemikian yakin dalam membantah catatan sejarah tentang Sang Maha Patih, yang telah diabadikan dalam banyak kitab dan buku di Negeri Dua Samudera…? pikirnya dalam hati. 

Panglima Segantang terkesima. Kedua pupil di matanya membesar sangat. 

“Sang Maha Patih disebut-sebut memiliki delapan unsur kesaktian dan tujuh senjata pusaka karena ia berhasil mencabut tujuh dari Delapan Senjata Purbakala yang bersarang di tubuhku. Masing-masing senjata memiliki unsur kesaktian tersendiri, lalu ditambah satu unsur kesaktian miliknya.”

“Mengapakah hanya tujuh senjata?” Bintang Tenggara yang telah menghitung akan keberadaan delapan gagang senjata menjadi penasaran. 

“Karena Sang Maha Patih berumur pendek,” jawab Dewi Anjani cepat. “Padahal, hanya tinggal satu senjata lagi….

Bintang Tenggara dan Panglima Segantang masih mengolah informasi yang baru saja mereka terima. 

“Sesiapa pun yang mencabut senjata-senjata ini dari segel Cembul Manik Astagina, maka ia berhak akan anugerah tiada tara.” 

Panglima Segantang spontan maju selangkah. 

“Yang Terhormat Dewi Anjani, dengan segala rasa hormat, diriku ingin mempertanyakan sesuatu,” sela Bintang Tenggara. Di saat yang sama, ia menghentikan niat Panglima Segantang mencabut senjata-senjata yang bersarang di tubuh perempuan itu. 

“Cukup sapa daku sebagai Dewi Anjani. Dikau dipersilakan bertanya….”

“Bilamana binatang siluman digdaya di Negeri Dua Samudera hampir punah berjuta-juta tahun lalu, mengapa dua ribu tahun lalu bermunculan kembali banyak binatang siluman? Kemudian, mengapa semakin banyak binatang siluman hadir di saat Perang Jagat?” 

Dewi Anjani menyibak senyum. Ia tak menyangka pertanyaan sedemikian akan datang dari seorang anak remaja berusia 14 tahun. Sewajarnya, bila ditawari kesempatan memperoleh senjata digdaya, banyak ahli akan berlomba-lomba untuk mendapatkan… Namun, anak ini terlalu waspada, batinnya. 

“Apakah kalian pernah mendengar tentang dunia paralel?”

“Teori dunia paralel menjelaskan tentang dunia-dunia berbeda yang berlangsung beriringan,” ungkap Bintang Tenggara sebagaimana pernah ia utarakan kepada Aji Pamungkas. 

“Kalian tentu mengetahui tentang gerbang dimensi yang menghubungkan kepada ruang-ruang tertentu.”

Bintang Tenggara menganggukkan kepala. 

“Akan tetapi, tahukah kalian tentang gerbang yang menghubungkan dengan dunia-dunia paralel?”

Bintang Tenggara tercekat. 

“Dua ribu tahun lalu, sejumlah gerbang dunia paralel tak sengaja terbuka, dan membawa kehadiran berbagai jenis binatang siluman baru ke dalam wilayah Negeri Dua Samudera. Asal-muasal binatang-binatang siluman tersebut adalah dari dunia yang lain.” 

Bintang Tenggara memerhatikan dalam diam. 

“Seribu tahun lalu…. Kaisar Iblis Darah membangun pemahaman akan cara membuka dan menutup gerbang dunia paralel.” Dewi Anjani menutup jawabannya dengan senyuman. Ia tak merasa perlu menjelaskan lebih lanjut akan arti dari kata-katanya tadi. 

Bintang Tenggara berpikir keras. Bila demikian, maka dunia paralel bukanlah teori semata… Lalu, bila Kaisar Iblis Darah mampu membuka-tutup gerbang dimensi menuju dunia paralel, bukankah berarti akan ada kemungkinan dimana ahli lain yang dapat melakukan tindakan serupa? Kepala Bintang Tenggara mulai pusing membayangkan akan kemungkinan-kemungkinan yang dapat saja terjadi. 

“Kalian telah melewati ujian yang daku berikan,” lanjut Dewi Anjani kembali pada topik utama pembicaraan. “Sekarang daku hendak memberi kesempatan kepada kalian untuk memiliki anugerah Delapan Senjata Purbakala.” 

Panglima Segantang spontan maju selangkah lagi. 

“Apakah hanya salah satu dari kami yang berhak memiliki kedelapan senjata itu?”

“Tidak. Kesepakatan dapat berlangsung dengan beberapa orang pada saat yang bersamaan.” 

“Pikirkan matang-matang…,” tetiba jalinan mata hati menegur Bintang Tenggara. 

“Super Guru!?” 

Kesadaran Komodo Nagaradja telah kembali berada di dalam mustika retak di ulu hati saat Bintang Tenggara keluar dari ruang dimensi khusus milik Dewi Anjani. Sedari awal, sang Super Guru hanya mendengarkan. Ia mengamati tanggapan seperti apa yang akan muridnya berikan atas tawaran Dewi Anjani. 

“Dengan segala rasa hormat, sudikah Dewi Anjani mengungkapkan niat yang sebenar-benarnya dari tawaran ini…?” ujar Bintang Tenggara. 

Anak remaja itu sungguh penasaran. Sejak awal, sang Super Guru tak senang berada di gunung ini. Lalu, meski tadi ia menganjurkan untuk memikirkan dengan matang, sesungguhnya Komodo Nagaradja melarang muridnya membuat kesepakatan dengan Dewi Anjani. Ada apakah gerangan…?

Bagi Bintang Tenggara, ia sudah memiliki Tempuling Raja Naga sebagai anugerah dari Komodo Nagaradja. Bila dikatakan bahwa Delapan Senjata Purbakala merupakan peninggalan dari anggota tubuh binatang siluman zaman purbakala… dan bila disebutkan bahwa binatang siluman komodo adalah keturunan langsung dari binatang siluman purbakala… Maka, bukankah Tempuling Raja Naga setara statusnya dengan Delapan Senjata Purbakala…?

Dewi Anjani menatap dalam diam. 

“Yang Terhormat Dewi Anjani, apakah alasan yang sesungguhnya?” Bintang Tenggara mengubah susunan pertanyaan sebelumnya. Jawaban dari Dewi Anjani atas pertanyaan ini, akan menjadi faktor penentu langkah selanjutnya.  

Dewi Anjani masih berdiam diri. Raut wajahnya berubah sendu. 

“Daku telah lama hidup dalam sepi menyendiri di gunung tinggi…. Kalian lihatlah tubuh daku dipenuhi dengan delapan gagang senjata yang menancap dan tersegel. Dengan kondisi ini, daku tampil menyeramkan sehingga tak dapat meninggalkan gunung.” Dewi Anjani yang memang berpenampilan mengerikan, terlihat menghela napas. 

“Padahal, ada siluman sempurna gagah perkasa yang telah berikrar bahwa bilamana keseluruhan Delapan Senjata Purbakala tercabut dan daku terlepas dari segel ini, maka ia akan segera menikahi daku…,” sebulir air mata mengalir di pipi Dewi Anjani. Kepedihan di dalam hatinya bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. 

“Super Guru…?” Bintang Tenggara menantikan alasan dari sang Super Guru melarang kesempatan mencabut senjata-senjata nan digdaya. 

“Cih! Dulu aku kelepasan bicara…,” gerutu Komodo Nagaradja. “Lakukanlah sesukamu!”