Episode 21 - Akhir: Tragedi yang Mengubah Hidup Bagian 3



19 Januari 2014

Taki terengah-engah, kakinya tak kuasa bergerak lebih cepat lagi. Sungguh, kali ini ia merasa tidak mampu menjangkau Midori yang melesat jauh di depan sana.

“Sial!” Dia meringis tatkala lututnya yang terluka terasa nyeri. “Se-sedikit lagi.”

Detik demi detik, gemercik demi gemercik, semua yang bergulir seakan ikut mendorong kaki-kaki Taki untuk melaju lebih cepat. Dia tidak bisa menyerah sekarang, terlebih untuk masalah yang segenting ini. 

“Midori!” Anak itu berteriak sekuat tenaga. “Midori! Jawab aku!”

Nihil, hanya itu yang menggubris suara Taki. Kakaknya itu seolah lenyap ditelan masa. Terpaksa ia memaksakan diri untuk berlari di sepanjang tepi sungai lebih lama lagi, sampai setidaknya jejak sepatu Midori tampak lebih jelas di tanah.

“Aku nggak … boleh berhenti sekarang.” Napas Taki kian memburu.

Bahkan, di saat-saat seperti ini, ia jadi ingat mengenai pembicaraan dirinya dengan sang kakak tempo hari, tepatnya setelah Midori menampar wajah Taki.

17 Januari 2014

“Kau tidak membenciku ‘kan, Taki?

“Kamu udah berubah, Midori. Kamu kehilangan dirimu yang dulu.”

“Kayaknya kamu benar.” Midori mendengus. “Makanya, aku ingin minta satu hal padamu.”

Taki yang sedari tadi meringkuk membelakangi kakaknya seketika berbalik dengan tatapan antusias.

“Apa itu, Midori?”

“Aku sadar kalau kutukan ini semakin hari semakin menggerogoti kesabaranku. Bukan cuma itu, kutukan kappa juga membentuk kepribadian baru yang nggak bisa kulawan.” Lengan Midori memungut kamera di meja bundar. “Dan, menurutku ini bakal berlanjut sampai kamera ini paling nggak punya satu foto kappa. Makanya, aku mau kamu menghalang-halangiku jika sifatku kembali berubah, Taki!”

Taki terbeliak, mulutnya terbuka lebar.

“Semuanya bergantung sama kamu.” Midori menatap sengit. “Maafkan aku, tapi aku nggak bakalan bisa jadi Midori yang dulu lagi. Bahkan, aku takut bila hidupku nggak bertahan lama.”

“NGGAK!” gelegar Taki.

“Nggak!”

“Nggak!” Ia terus mengucapkan hal tersebut seakan tidak pernah belajar kosa kata lain.

19 Januari 2014

“Nggak! Aku nggak akan membiarkanmu pergi, Midori!”

Sialnya, tepat di depan sana, Taki menyaksikan Midori tersungkur kehabisan tenaga. Lelaki itu tampak tidak mampu lagi bergertak lebih jauh.

“MIDORI!”

“Ta-Taki.” Midori menyunggingkan senyum ramah. Suatu pemberian yang selama ini tak pernah lagi didapatkan oleh Taki.

“Apa yang terjadi, Midori?”

“Aku gagal lagi. Kappa itu berlari lebih cepat dariku.” Ia menyahut lesu.

“Ayo kita pergi dari sini.”

Memanfaatkan momentum yang tersisa, Taki bergegas memapah kakaknya yang sedikit lebih tinggi. Ia berharap selama mereka berjalan mengarungi hutan, tidak ada satu pun ganggun kappa lagi yang datang. Namun, tiba-tiba Midori mengelus rambut adiknya.

“Rasanya benar-benar menyakitkan, Taki,” ujarnya terdengar sendu. “Aku seolah diberi harapan besar untuk mendapatkan tambang emas, tetapi saat aku datang, semua itu lenyap seketika. Seolah cuma fatamorgana saja.”

“A-apa yang kamu omongin?” Taki menatap heran sekaligus cemas.

“Sudah berhari-hari aku menahannya, tapi kayaknya masalah ini nggak bisa dibendung lagi. Kutukan itu makin merusak pikiranku, Taki." Midori bersuara lirih.

"Bertahanlah sedikit lagi, Midori." Langkah Taki kian cepat. Ia harus keluar dari hutan sebelum kutukan kappa semakin menjadi-jadi dalam tubuh kakaknya.

"TUNGGU, TAKI!"

"Eh?!"

Kuakkan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras. Sebuah tanda yang kentara tatkala Taki berpikir sang kappa tengah berada di sekitar mereka. Buruk! Sungguh buruk! Detik itu juga Midori langsung bereaksi. Sorot mata lelaki berambut pirang itu menjadi setajam pembunuh berantai.

"Apa pun yang terjadi, tahanlah aku, Taki!" ujarnya sebelum melepaskan dekapan sang adik.

"MIDORI!" Taki sontak menyambar lengan kakaknya. 

Mereka beradu fisik!

Lengan kiri Midori bergerak, begitu cepat sampai-sampai Taki tidak menyadarinya. Tentu saja, dengan kecepatan sesuper itu, Taki jadi terhuyung kesakitan.

"Kamu nggak akan bisa menahanku, Taki! Aku nggak akan merelakan ambisiku begitu aja!" Midori menyeringai.

"Be-bertahanlah, Midori! Aku bakal menyelamatkanmu."

Taki bersikeras menggapai lengan kakaknya, kendati Midori bersikeras pula lolos dan menghampiri suara sang kappa. 

BUGH!

Lagi-lagi Taki terhuyung akibat sikutan Midori. Namun, ia takkan kalah semudah itu. Berbekal tekad sekuat besi, ia maju untuk menahan kakaknya pergi lebih jauh.

"DASAR BODOH!"

Midori mengayunkan kaki, Taki merunduk seraya menyaksikan kaki kiri Midori memelesat di atas kepalanya. Itu bukan tendangan biasa. Ada suatu energi aneh yang mendorong tubuh Midori bertindak di luar nalar.

Merasa serangannya gagal, Midori kembali mengerahkan tenaganya. Lelaki kurus itu berlari mendekati Taki dan mencekik leher anak itu hingga tercekat. Matanya terbeliak ketakutan.

"Jangan halangi aku, Taki."

"Mi-Midori! Kamu ha-harus sa-sadar."

"Jadi begitu." Midori tiba-tiba terkekeh. "Entah kenapa ada hal aneh yang selama ini menghalangi niatku untuk membunuhmu, Taki. Tapi, jika memang itu jalan terakhir, maka aku nggak keberatan kalau hubungan kita berakhir sampai di sini."

Sengatan kuat seketika menjalari batin Taki. Wajahnya memucat seiring gejolak kekecewaan di hati. Benarkah itu, pikirnya. Benarkah Midori benar-benar serius terhadap ucapannya? 

Dalam kondisi yang kian memburuk, badan Taki hanya bisa melunglai. Sendi-sendinya terasa longgar dan tak mampu menjadi tumpuan lagi.

Di sisi lain, Midori sama sekali tidak mengubah raut. Sorot matanya masih haus akan ambisi. Bahkan, perlahan-lahan tatapan itu beranjak menjadi nafsu untuk membinasakan sesuatu. Baru kali ini Taki menyaksikan ekapresi yang begitu berbeda dari wajah sang kakak.

"Aku nggak tertarik denganmu, Bocah." Tanpa perasaan bersalah sedikit pun, Midori melepaskan cekikannya, membiarkan Taki tersungkur dalam kolam kesedihan.

Langkah Midori berlanjut. Dirinya pergi meninggalkan sang adik sendirian. Kebersamaan mereka, rasa persaudaraan, hubungan kakak-adik, semuanya sirna dalam sekejap.

Potongan demi potongan kenangan menghinggapi benak Taki. Ia sangat mengingat betapa serunya momen kala dirinya dan Midori berburu serangga di dekat rumah. Atau, ia tak bisa melupakan kebahagiaan mereka saat pulang sekolah bersama-sama. Dan mungkin, Taki sama sekali tak bisa menerima kenangan-kenangan itu lenyap begitu saja.

Air matanya jatuh. Lengan dan kakinya bergetar seiring dekatnya puncak amarah. Tengkuk Taki serasa terbakar jikalau ia tidak cepat-cepat menengadah seraya menatap Midori yang terus berlari ke depan.

"Midori, Midori, aku harus bawa Midori kembali." Napasnya memburu. "MIDORI!"

Taki bangkit, meninggal segala ketidakberdayaan dan keputusasaan di belakang. Kedua tangannya mengarah ke depan, berusaha keras menggapai Midori, walaupun ia sama sekali tidak tahu mengenai nasibnya setelah ini.

BRAK!

Benar-benar sial! Di saat-saat seperti ini Taki justru tersandung batu. Ia jatuh menghantam tanah, menciptakan jarak yang kian jauh di antara mereka berdua.

"Midori."

Mau tidak mau, akibat keteledorannya, Midori akhirnya lenyap dari pandangan setelah membelok. Arus sungai masih deras, berpadu dengan kuak keras sang kappa. Hati Taki dilanda nyeri hebat. Ia meringis seraya mencengkeram dadanya.

"Kematian bukanlah perkara yang dapat ditolak. Ia datang, tidak bersahabat pada siapa pun. Kematian itu ... pasti menghampiri manusia."

"MIDORI!!!"

"TAKI!!!"

Tidak peduli pada rasa sakit yang terus-terusan menggerayangi tubuhnya, Taki memaksakan kaki-kaki itu untuk bangkit dan mengejar arah suara Midori. Kali ini wajahnya tampak serius dibalut deru napas bersemangat.

Ia sempat terpeleset di tikungan tempat Midori sebelumnya membelok. Fokusnya buyar, dan tatkala matanya menatap ke depan ....

"MIDORI!!!" Taki terperanjat kaget.

Kakaknya itu, yang awalnya begitu ambisius memburu sang kappa, sekarang justru terkapar dengan darah segar membasahi pelipisnya.

"Apa yang terjadi, Midori?! Jawab aku!"

Taki lekas-lekas bersimpuh di samping sang kakak. Midori hanya tersenyum melihat gelagatnya seraya mendekatkan tangan kanannya ke wajah Taki.

"I-inilah ak-hirnya, Taki," lirih Midori. "S-seti-daknya a-aku bi-bisa b-bebas."

"Jangan bicara sembarangan, Midori! Sadarlah! Kita harus pulang!"

"Ma-maafkan a-aku. Ha-hari i-ini ka-mu ha-rus p-pulang se-sendiri." Mata Midori seketika mengatup. Dadanya tidak bergerak lagi.

Kala itu, Taki hanya bisa melongo. Pucat pasi menjalari wajahnya, tak peduli jika keringat dingin sudah sedari tadi menetes ke tanah.

Sulit dipercaya. Akhirnya kutukan kappa sekali lagi menelan korban. Midori meninggal tepat di hadapan Taki, tanpa sempat mengutarakan sebab kematiannya dengan jelas. Taki hanya diberi petunjuk bahwa sang kakak merasa senang bisa terbebas dari penderitaan yang mengoyak batinnya amat garang.

"M-M-MIDORI!!!"

"HAH?!"

Taki terbangun. Ia terengah-engah di atas kasur dalam balutan oblong hitam dan celana pendek. Rambut pirang itu tampak lebih panjang dan tak terawat.

"Mimpi itu lagi," gumamnya. "Lucid dream ini makin parah."

Tiba-tiba ponsel di atas lemari hias berdering. Taki bergegas mengambilnya dan melihat jelas nama Miku di layar ponsel.

"Halo, Miku. Ada apa?"

"Taki, ini soal lucid dream. Aku bermimpi diajak ikut ke sebuah turnamen besar. Ada banyak naga yang berseliweran di langit saat itu.'

"Hah! Kemarin aku juga bermimpi kayak gitu. Bahkan, hari di mana kakakku meninggal terasa aneh."

"Beneran? Kalau gitu kita bisa ketemu buat ngomongin hal ini, 'kan?"

"Tentu. Ada festival warga kota di Tokyo hari ini. Kita bisa ketemuan di sana."

"Baguslah. Ngomong-ngomong, gimana kondisi Pak Hayashi? Kudengar kakekmu itu lagi sakit."

"Dia baik-baik aja. Mungkin lain kali aku bakal berkunjung ke desa dan menemaninya. Biar bagaimana pun, sekarang dia udah menggantikan peran kakakku."

"Syukurlah. Dan, gimana tentang kakakmu? Apa kamu masih ber-lucid dream tentangnya?"

"Ya. Aku sangat penasaran tentang penyebab kematiannya. Sampai sekarang, aku berusaha mengulang tahap demi tahap kehidupanku sebelum kematian Midori. Meski agak mustahil, tapi aku yakin pasti ada petunjuk soal kematiannya."

"Semangat, Taki! Baiklah. Sampai jumpa lagi."

"Sampai jumpa."

Sudah empat tahun berlalu semenjak insiden kematian Midori. Seperti janjinya, Pak Hayashi dengan lapang dada menjadi pengasuh tunggal Taki. Ia segera menyekolahkan anak itu ke Tokyo setelah lulus SMP.

Taki tumbuh menjadi anak yang mandiri dalam didikan asrama dan teman-temannya. Ia bukan lagi pemuda lemah yang tak kuasa menghentikan sang kakak dari jebakan kematian. Bahkan, jika hal tersebut bisa diulang, Taki bersumpah akan menyeret Midori pulang ke rumah bagaimana pun cara.

Namun, semuanya telah terjadi. Sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah menjalani hidup sembari melepas kebosanan di dunia mimpi. 

Motivasi Taki sederhana; dirinya ingin mencari sebab kematian Midori sejelas-jelasnya. Juga, tekad bulatnya mengarah tajam pada eksitensi sang kappa yang menimbulkan banyak korban jiwa.