Episode 7 - Sapu Tangan dan Rencana ke Dusun Kedaton Kidul (II)

Aku memasukkan barang-barang bawaan di kamar pakaian, setelah tiga puluh menit lalu, Baskara memilih langsung pulang tanpa sekadar bercakap-cakap denganku. Beberapa potong kaos, tiga jeans, satu rok—sebab aku memilih menyisakan ruang untuk beberapa buku, alat tulis dan laptop—serta satu hoodie dan sweater rajut memenuhi ranselku.

Setelah merapatkan resleting ransel, aku beranjak ke kamarku, hendak tidur dan membereskan barang-barangku yang berantakan akibat gempa. Sampai di mulut kamar, kulihat fotoku bersama Bapak tergeletak di lantai, di antara serpihan kaca. Aku berjalan ke sana, membungkuk, lalu mengambilnya.

Di dalam bingkai cokelat tanpa ukiran ini, senyum Bapak belum berubah. Kudekap senyumnya, kemudian kubawa dan kuletakkan di meja lampu tidur, tepat di sebelah ranjang.

Di luar jendela kamarku, hujan jatuh mengusir suara jangkrik yang biasanya berisik. Hujan jatuh, malam terasa teduh, tapi kesedihan sedikit terusik. Kurogoh laci meja kerjaku dan kuraih sapu tangan peninggalan Bapak.

Aku melangkah ke ranjang, memadamkan lampu, lalu berbaring tanpa menyalakan komposisi Beethoven. Entah mengapa, derap kaki hujan terasa lebih merdu melagu. Kupejamkan mata, kupadamkan pikiranku, dan kubuka selebar telinga. Malam ini, aku memilih menahan tangis sebab kuhirup bau Bapak telah hambar. Mungkin, sapu tangan ini terlalu banyak menyerap air mataku.

**

Sementara aku membagikan nasi bungkus, kulirik wajah Adi terlihat tak fokus. Tubuh kurusnya terpaku di dekat pos satpam, namun pikirannya berkelana mencari sahabatnya; Baskara. Aku yakin benar, ia masih mengharapkan kalau pagi ini, pikiran yang adil menggerakkan Baskara untuk bergabung bersama kami. Sekitar tiga puluh menit lagi, kami akan sampai pada waktu yang disepakati oleh kami dan tim ACT tadi pagi, di lobi rumah sakit.

Setelah nasi bungkus di kantung plastik di tanganku habis, aku menghampiri Adi, mencoba menenangkan kegelisahannya.

“Di, Bas belum datang juga?” tanyaku, sambil mengusap pundaknya.

“Belum, Mi.”

“Yasudahlah, Di, kalau memang dia ndak mau gabung, kita mau ngomong apa, toh?”

“Ya, tapi aku masih berharap dia ikut, Mi.”

“Ya, Di. Pun aku ...,” kutatap matanya, “aku berharap sekali.”

“Ketakutanku kalau dia ketiduran. Tapi sinyal belum ada juga, nih,” gerutunya, sambil menekan-nekan ponselnya yang tak berguna.

“Ya, tapi kalau sudah waktunya berangkat, terpaksa Bas mesti kita tinggal, Di.”

“Ya, Mi. Kalau itu aku setuju.”

Tak berselang lama, dari kejauhan motor Baskara terlihat melaju dengan sedikit terburu-buru. Dan, ketika tepat di hadapan kami, ia berhenti, membuka kaca helmnya.

“Asem, kesiangan aku!”

Kami tersenyum lega.