Episode 7 - Keping 2: Bibi Roslinda dan Raslene (II)

“Ibu mau mendaftarkanmu les bahasa Inggris dan matematika,” ujar Ibu, di belakang kemudi James. Aku memasuki hari pertama catur wulan kedua dengan gagasan Ibu yang menjengkelkan. Karena secara pengalaman yang tertulis di buku rapor, aku jelas bukan termasuk anak yang berpotensi tak lulus. Sebenarnya, aku ingin mengatakan kepada Ibu bahwa satu-satunya yang menyedihkan dari karierku sebagai anak sekolah adalah aku tidak akan masuk dalam daftar kenangan indah masa kecil teman-temanku. Jadi, jika ada les yang bisa membalikkan keadaan itu, rasa-rasanya bakal lebih tepat untukku. Tetapi, aku mengiyakan saja perkataannya, sebab aku tak ingin merusak hari ini dengan perdebatan. Toh, ini hari yang baik; James tak mogok dan Bibi Roslinda cuti memasak karena sakit.

Ibu memarkir mobilnya di depan gerbang sekolah, mencium kepalaku, dan mengucapkan “aku menyayangimu” sebanyak tiga kali. Aku membalasnya satu kali, sementara dua lagi tak ingin kuucapkan mengingat betapa membosankannya gagasan Ibu soal les.

Aku melangkah malas ke dalam sekolah. Seperti biasa, aku tidak langsung masuk kelas dan memilih duduk di bawah pohon tempat favoritku menghabiskan waktu.

Hampir lima belas menit kemudian, bel berbunyi. Aku segera masuk kelas. Aku memilih berpindah tempat duduk di pojok kanan belakang, sendirian. Sementara di sebelahku, Lala duduk manis dengan senyum terpasang di wajahnya. Kuncir kudanya menjaga rapat rambut keritingnya yang mengembang; rambut yang biasa disebut Frans sebagai sarang tawon, meskipun lebih sering jadi sarang bulatan kertas yang dilemparkan lelaki itu.

Di baris kedua dari depan yang sejajar dengan meja guru, Frans terlihat gelisah. Kakinya terus bergerak naik turun seolah tak sabar lari-larian ketika bel istirahat berbunyi. Warna mukanya terlihat sama pudar dengan bunga plastik yang terdapat di meja Bu Wening, Wali Kelas kami.

Agaknya, Frans bosan karena tak bisa lagi mengganggu Lala selama di kelas. Sebelumnya, ia duduk di depan Lala, namun akhir catur wulan kemarin Bu Wening memindahkannya ke kursi kosong yang sekarang ia tempati.

Bu Wening menyapa kami. Seperti sering terjadi setiap usai libur sekolah, ia mengawali kelas dengan meminta setiap murid menceritakan pengalaman liburannya.

Anton mendapatkan giliran pertama. Ia menceritakan liburannya di perkebunan kopi milik pamannya di Lampung. Hampir setiap usai libur catur wulan, ia akan menceritakan pengalaman yang sama, sebab liburan keluarga mereka pun selalu sama. Aku sudah bosan mendengarnya, tetapi tak pernah kehilangan rasa jijik pada bagian cerita di mana pamannya mengunyah biji kopi kemudian melepeh kunyahannya di cangkir, dan menyeduhnya sebagai hidangan kopi bagi keluarga mereka.

Seduhan kopi khas keluarga Anton, katanya, dan pernah berulang kali masuk koran. Celakanya, itu memang betul terjadi sebab aku pernah melihat beritanya di beberapa koran. Setelah melihat berita-berita tersebut, aku mengingat-ingat lagi kemungkinan tak adanya peristiwa menarik buat diberitakan saat itu.

Soal pemberitaan koran adalah bagian yang selalu dibanggakan Anton. Seolah meminum ‘kopi ludah’ pamannya adalah peristiwa spektakuler. Dalam hati, aku merasa berita itu harusnya menjadi salah satu hal yang disesali si pewarta dalam kariernya.

Setelah Anton puas nyerocos, aku berharap murid lain hanya menghabiskan liburan mereka di rumah, sehingga tak perlu berlama-lama di depan kelas seperti Anton. Untungnya, harapanku terkabul. Hampir seluruh murid hanya menghabiskan liburan di rumah dengan menonton TV atau pergi ke mall. Sementara aku, yang tak mau repot menjelaskan soal permainanku bersama Ibu dan Bibi Roslinda selama liburan mengatakan hal yang sama dengan hampir sebagian lain; nonton TV dan ke mall.

Di depan pintu sekolah, seorang perempuan dengan seragam yang berbeda dengan kami berdiri. Ia tak mengenakan warna hijau-putih, melainkan seragam penuh motif kotak-kotak berwarna biru telur asin. Melihat wajahnya terlihat bosan menunggu, aku menduga ia sudah berdiri cukup lama di luar kesadaranku. Bu Wening memanggilnya masuk. Baru ketika berdiri di depan kelas, aku bisa jelas melihatnya.

Perempuan itu cukup tinggi. Aku menebak tingginya satu jengkal di atasku. Rambutnya lurus dan jatuh sebahu, tubuhnya kurus, kulitnya putih, dan sepasang mata mungilnya yang bersudut tajam terlihat serasi dengan bentuk bibirnya. Seluruhnya tersusun dalam bingkai rahangnya yang lebar dan menyusut di bagian dagu. Dari cirinya itu, aku bisa mendeteksi garis keturunan rasnya.

Setelah Bu Wening memintanya memperkenalkan diri, aku mengetahui namanya Raslene. “Er, a, es, el, e, en, e, namun dibaca ‘Raslin’,” ucapnya. Dari perkenalan singkat yang diucapkannya dengan enggan, aku tahu ia baru sepekan di Jakarta setelah pindah dari Bandung.

Bu Wening mempersilakan perempuan itu duduk di kursi yang kosong. Kursi itu berjeda satu kursi di depan Lala.

Tangan kirinya disandarkan di meja, sementara tangan kanannya menopang dagu. Dari posisi tubuhnya yang malas, barangkali, ia tak sabar mendengar bel istirahat berbunyi.

Bel istirahat berbunyi tepat saat Bu Wening asyik menjelaskan pelajaran matematika, sementara Anton sudah di ambang tidur. Belum selesai kalimat izin beristirahat diucapkan Bu Wening, Frans dan gerombolannya sudah berhamburan ke luar kelas.

Di lapangan sekolah kami yang cukup luas, Anton berlari diburu Frans. Sementara Lala, terlihat dalam posisi jongkok di bawah cahaya pukul sembilan pagi. Mereka sedang seru bermain ‘tap jongkok’, tetapi aku tak tertarik bergabung. Lagi pula, lariku tak begitu gesit sehingga dalam permainan itu aku selalu dipecundangi teman-temanku.

Di kejauhan, di kursi yang menempel di tembok depan kelas kami, Raslene terlihat duduk sendiri. Tangannya mengenggam setangkup roti. Menilik gerak kunyahnya, sepertinya ia tak menikmati makan siang di sekolah barunya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain ketika mata kami tak sengaja beradu tatap.

**

Aku berdiri di seberang sekolah, menunggu Bibi Roslinda datang menjemput. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat bangunan putih berbetuk ‘U’ dua tingkat yang di gerbangnya terdapat tulisan Sekolah Tunas Negeri.

Sekolahku merupakan sekolah swasta yang memiliki tiga tingkat pendidikan, yakni Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi, kemungkinan besar aku akan menghabiskan belasan tahun dengan orang-orang yang sama. Aku sedikit bersyukur pada kondisi itu, sehingga aku tak perlu beradaptasi dengan orang-orang baru yang akan menganggap aku sombong karena lebih suka menyendiri. Paling tidak, meski teman-teman di sini tak menyenangkan, mereka sudah memahami tabiatku.

Jadi, ketika mereka bermain tanpa melibatkanku, aku tak sedikit pun merasa tersinggung atau dimusuhi, melainkan dipahami. Toh, jika aku memang ingin terlibat dalam keseruan mereka, aku akan keluar secara sadar dari lingkaran kesendirianku.

Sudah setengah jam, tetapi ‘paruh burung’ Bibi Roslinda belum terlihat. Sebenarnya, aku merasa tak perlu dijemput, sebab jarak antara sekolah dan rumah bisa ditempuh dengan sepuluh menit jalan kaki. Tetapi, hal lain yang menjengkelkan dari Bibi Roslinda adalah rasa tanggung jawabnya yang berlebihan. Ia seolah pengin mengerjakan segalanya; memasak, mencuci-menyetrika, membersihkan rumah, menjemputku sekolah, dan yang paling parah mendongeng jika kebetulan Ibu tak ada.

Sebenarnya, untuk urusan jemput-menjemput, aku mencurigai ada modus lain yang disembunyikan Bibi Roslinda. Sepertinya ia naksir Pak Slamet, Satpam sekolahku. Kecurigaanku bukan tanpa alasan, lantaran tiap kali Bibi Roslinda menjemputku, ia selalu berdandan seolah hendak ke mall. Bedaknya tebal, gincunya menyala, lengkap dengan kaca hitam dan pakaian gonjreng. Dan, dengan alasan yang terlalu mengada-ada, ia hampir selalu bertanya tentang segala tingkahku kepada Pak Slamet, seolah ia tak bisa membedakan pos satpam dan ruang kepala sekolah.

Jika Bibi Roslinda datang, aku juga harus bersandiwara mengakui ia sebagai tanteku. Aku mengiyakan saja ketika pertama kali Bibi Roslinda mengakui itu di hadapan Pak Slamet dengan tatapan mengintimidasiku. Dalam hati, aku menggerutu, tetapi paling tidak aku bisa menganggapnya sebagai Bukde Jelita. Toh, wajah mereka memiliki sedikit-banyak kemiripan.

Jadi, beginilah risiko yang mesti kuterima dari kisah naksir-naksiran itu. Aku mesti memaklumi, bahwa seorang yang jatuh cinta mesti berjuang untuk selalu tampil sempurna, meskipun artinya aku harus sabar menunggu Bibi Roslinda mati-matian berdandan di sekolah yang sudah sepi.

Aku sempat melihat Raslene duduk sendiri di kursi depan tembok kelas ketika aku berjalan ke toilet sekolah. Saat aku kembali, aku melihat di Pos Satpam Bibi Roslinda melambai. Aku tahu, ia pasti akan mengobrol panjang kali lebar dulu dengan Pak Slamet, sehingga aku memutuskan duduk di kursi yang tadi ditempati Raslene yang sekarang entah ke mana.

Tak lama, tiba-tiba Raslene berjalan ke arahku sambil menenteng payung, kemudian duduk di sebelahku. Aku sedikit kikuk dan berkata, “Hai” dan ia menjawab, “Hai juga.” Lalu, ia mendekat kepadaku dan berbisik, “Hati-hati dengan penyihir itu.” Ia menarik napas kemudian melanjutkan, “Aku bisa merasakan aura jahat sedang mengancammu.”

Aku sedikit terkejut dengan ucapannya. Bayangan Lalumba kembali memadati pikiranku. “Maksudmu, Bibi Roslinda yang di pos satpam itu?” Aku menunjuk, Raslene mengangguk. “Aku sudah memastikannya. Dia bukan penyihir. Ibuku juga berkata seperti itu. Lagi pula ...” Aku memilah kata yang bisa menyembunyikan kekhawatiranku. “Lagi pula dia orang baik.”

“Jutsru penyihir yang berpura-pura baik itu yang berbahaya.” Kali ini, suaranya lebih lantang.

Aku teringat ancaman Ibu setelah kasus menghebohkan lebih empat tahun lalu, yang melibatkan Pak Lim dan beberapa tetanggaku.

“Aku nggak takut penyihir. Aku jutsru lebih takut dengan perempuan aneh yang bawa payung meskipun bukan musim hujan!”

“Heh, Cowok Dungu! Ini bukan payung sembarangan. Ini payung ajaib yang bisa membawaku terbang keliling dunia!”

Aku melirik payungnya. Kulihat ada logo asuransi di sana. Payung itu persis milik Ibu. Ia mendapatkannya setelah mendaftar asuransi di tempat temannya bekerja setelah lelaki itu berhasil meyakinkan Ibu seakan kematiannya tak lama lagi.

“Kuperingatkan padamu. Pertama, jangan panggil aku dungu, karena kedua, cuma orang dungu yang percaya asuransi memberikan hadiah payung terbang, sebab itu artinya klien mereka berisiko celaka. Dan, klien yang berisiko celaka adalah kerugian perusahaan.”

“Oke, oke. Tenang cowok pemarah.” Raslene menepuk dadaku. “Ini memang bukan payung ajaibku. Aku menyimpan payung ajaibku di rumah, karena aku nggak mungkin menggunakannya untuk jarak dekat.”

“Hmmm ...”

“Mungkin catur wulan depan aku harus pindah sekolah ke Afrika agar payung itu sedikit lebih berguna.”

“Semoga di Afrika nanti payung itu berguna buat menyangga rahang buaya yang ingin menelanmu hidup-hidup,” kataku, sinis.

Aku mencoba menahan diri untuk tak menceritakan kuda terbang milik Ayah, tetapi Raslene semakin menyombongkan payung terbangnya dengan mengatakan payung tersebut bisa terbang lebih cepat daripada pesawat tempur.

“Ayahku punya kuda terbang!” kataku, akhirnya.

“Pamanku Superman!” balasnya.

“Aku anak Batman dan Wonder Woman!”

“Jangan membual, Cowok Dungu,” balasnya, “Batman adalah ayahku!”

“Sudahlah, Anak Kelelawar,” ucapku, sambil bangkit, “aku malas bicara denganmu.”

Aku meninggalkannya dan memilih terlibat dalam percakapan romantis Bibi Roslinda dan Pak Slamet yang membuat perutku mual.

**

Aku belum tidur ketika Ibu masuk ke kamarku. Aku terus memikirkan Raslene dan payung terbangnya. Sial bagiku, aku penasaran setengah mati pada benda itu, dan rasanya sangat menjengkelkan.

“Kapan Ayah pulang, Bu?”

Ibu tersenyum.

“Kenapa, Sayang?”

“Aku mau meminjam kuda terbangnya untuk ke sekolah.”

Ibu membelai rambutku, “Ayah nggak akan izinkan, Sayang. Lagi pula, sekolahmu belum menyediakan lahan parkir untuk kuda terbang.”

**

Sejak mengobrol dengan Raslene, entah mengapa aku merasa tak percaya diri. Selama hampir satu minggu, jika kebetulan kami berpas-pasan, ia selalu menatapku dengan pandangan meremehkan. Hingga akhirnya, aku yang tak lagi bisa menahan diri menghampiri Raslene yang sedang duduk di bawah pohon ketapang.

“Heh!” pangilku.

“Sssssst.” Ia meletakkan telunjuk di mulutnya sendiri, kemudian kembali sibuk dengan pensil dan buku gambarnya.

Aku terpaku di dekatnya, sementara ia mengacuhkanku. Lalu, setelah lima menit, perempuan angkuh itu seolah baru menyadari kehadiranku.

“Oh, kamu rupanya. Ada apa?”

Aku susah payah menahan kemarahanku. “Aku mau kamu membuktikan kebenaran tentang payung terbangmu.” Aku berusaha menyembunyikan rasa antusias dan kekagumanku pada benda keren miliknya. “Maksudku, aku cuma mau membuktikan bahwa kamu adalah pembohong.”

“Aku nggak bohong!”

“Mana buktinya?!” Aku yang di atas angin berkacak pinggang.

“Apa pentingnya membuktikan padamu?!”

“Oke, Pembohong. Aku mau masuk kelas.” Aku balik badan. Baru beberapa langkah, terdengar ucapan, “Tunggu!”

Aku berhenti.

“Aku bakal buktiin kalau aku bukan pembohong!”

“Oke! Kapan?!”

“Hmmmm.” Matanya menyelidik dari ujung kepala hingga ujung sepatuku. “Tapi sebelum itu, aku harus memastikan kamu nggak berniat mencuri payungku.” Tubuhnya yang menjulang tinggi membuat kepalaku sedikit mendongak. “Jangan-jangan kamu di bawah pengaruh si Penyihir Jahat,” imbuhnya.

“Namanya Bibi Roslinda!” bentakku.

“Ya, Cowok Dungu, aku paham setiap penyihir punya nama. Maksudku, jangan-jangan kamu diperintah dia buat mencuri payungku!”

“Dengar, ya,” kataku, dengan tangan menuding ke wajahnya, “Bibi Roslinda bukan penyihir!”

Akhirnya, perdebatan kami berakhir dengan kesepakatan bahwa Raslene akan main ke rumahku, memastikan aku tidak berada di bawah pengaruh sihir Bibi Roslinda. Entah mengapa, aku sedikit terpengaruh pada ucapan konyolnya. Bayangan Lalumba pun kembali memadati pikiranku.

**

Selama perjalanan ke rumahku, Raslene memilih membuntuti langkahku dan Bibi Roslinda cukup jauh di belakang. Sesekali, ketika aku menoleh, tampak bibirnya terus mengerucut dan matanya semakin menyempit. Sementara di sebelahku, Bibi Roslinda terlihat gembira. Aku tahu yang ada di pikirannya. Pasti ‘profesor dapur’ itu ingin bereksperimen dengan ‘perut kecil’ baru di belakang kami.

Sampai di rumah, Bibi Roslinda langsung masuk ke ‘laboratoriumnya’, sementara aku dan Raslene memilih duduk di sofa ruang tamu. Suara ribut peralatan dapur membuat Raslene menggeser duduknya mendekatiku. Ia berbisik, “Aku bisa mendengar suara air mendidih di dapur. Penyihir itu ingin merebus dan menyantap kita.” Raslene memasang ekspresi tegang. “Oh, Tuhan, seluruh dagingku yang tumbuh dari kerja keras ibu dan ayahku hanya berakhir sebagai selipan di gigi seorang penyihir jahat.”

“Raslene,” kataku, jengkel, “Bibi Roslinda ingin memasak untuk kita. Bukan ingin memasak kita!”

Raslene menggeleng. “Penyihir nggak terlahir bodoh, Cowok Dungu, ia terlebih dulu memasak untukmu dengan tujuan meracunimu. Setelah kamu mati, baru ia memasakmu. Ngerti?”

“Kalau memang seperti itu, aku nggak akan ada di sini dan terlibat percakapan konyol denganmu. Dia pasti sudah memasakku dari dulu!”

“Coba berpikir lebih cerdas, dong! Dia cuma harus bersabar, memberimu makan, dan membiarkan daging santapannya tumbuh besar.”

Aku menghiraukan ucapan Raslene, sehingga ia kembali tenang dalam posisi duduknya. Sejujurnya, hingga detik ini pun aku masih sedikit-sedikit percaya keberadaan Lalumba. Tetapi, berbeda dengan Raslene, menurutku, satu-satunya kejahatan yang dilakukan oleh penyihir adalah melakukan sihir. Ia tidak akan membunuh, sebab membunuh adalah urusan pembunuh, seperti mencuri adalah urusan pencuri.

Suara Bibi Roslinda memanggil kami ke arah meja makan. Namun ketika aku melangkah, Raslene masih mogok di belakangku. Akhirnya, aku menariknya paksa ke meja makan. Motivasiku hanya satu, aku ingin membuktikan bahwa Bibi Roslinda bukan penyihir, karena itu artinya aku bisa melihat payung Raslene.

Raslene masih mengamati hidangan di meja makan kayuku yang bertaplak motif kotak. Melihat ayam berkuah kehitaman di hadapanku, aku sedikit takut kalau segala keegoisan eksperimen Bibi Roslinda kali ini akan menggagalkan kemenanganku. Kental-pekat kuah ayam itu mengingatkanku pada oli mobil Ibu yang hilang seminggu kemarin. Glek.

“Yuk, dimakan, Sayaang. Bibi sudah susah-susah masak, lho.”

Keramahan Bibi terasa mengerikan. Bagiku yang sudah paham tabiatnya, ‘susah-payah’ berarti masakannya kali ini membutuhkan usaha yang lebih daripada biasa, yang kemungkinan besar terjadi eksperimen gila-gilaan di dapur. Sedangkan bagi Raslene, barangkali, keramahan Bibi Roslinda adalah bujuk rayu penyihir lapar.

Tetapi, untuk menang aku harus melawan penolakan cacing-cacing di perutku. Aku menyendok ayam kuah hitam dan menumpahkannya di atas nasi. Kemudian, aku melakukan suapan pertama, dan berusaha tak memuntahkannya. Aku belum pernah memakan racun, tetapi kalau boleh menduga rasanya, barangkali, jauh lebih baik daripada ini.

Aku sudah suapan ke empat, tetapi Raslene masih belum bergerak. Suara ketukan jari-jarinya di meja yang tak beraturan seolah menjelaskan kegelisahannya. Ketika Bibi Roslinda berjalan ke dapur, baru Raslene berani bersuara. “Makan yang banyak, Cowok Dungu. Tenang saja, kamu nggak perlu jadi arwah penasaran karena aku merelakan diri jadi saksi kejahatan penyihir itu.”

Aku membalas perkataan Raslene dengan berkata, “Masakan ini bisa jadi salah satu bukti bahwa Bibi Roslinda bukan penyihir, dan artinya aku nggak di bawah pengaruhnya untuk mencuri payungmu.”

Selanjutnya, aku menuduhnya mencari-cari alasan tak makan agar selamanya aku tak bisa membuktikan kebohongannya.

Mendengar desakanku, rasa gengsi Raslene terpanggil. Ia langsung menyuapkan masakan Bibi Roslinda ke dalam bibir manyunnya yang terpaksa dibuka. Suapan pertama itu langsung membuatnya terbirit ke kamar mandi.

Raslene muntah. Aku tahu, aku kalah. Aku harus mencari cara lain untuk membuktikan Bibi Roslinda bukan penyihir. Tetapi, aku senang melihat perempuan sombong itu menderita.

**

Selama dua hari setelah muntah di rumahku, Raslene tak masuk sekolah. Aku merasa bersalah. Aku sempat meminta Bibi Roslinda mengantarku menjenguknya. Namun, kami tidak tahu alamatnya, sebab waktu itu Raslene menolak tawaran Bibi Roslinda untuk mengantarkannya pulang.

Hari berikutnya Raslene baru masuk. Frans menjahilinya dengan mengatakan, “Masih anak baru, kok, sudah berani bolos.” Raslene meninju pipi Frans, sehingga lelaki itu tersungkur di lantai. Ketika Bu Wening datang karena kelas gaduh, Frans yang malu akibat kalah dari perempuan berbohong dengan mengatakan ia terpeleset. Sementara teman-teman lain, diserang tatapan mengancam Frans, ikut membenarkan pernyataannya.

Pulang sekolah, aku menghampiri Raslene. Aku hendak meminta maaf atas kejadian yang menimpanya. Namun, belum sempat aku mengucapkan rasa bersalahku, ia lebih dulu menarikku ke belakang sekolah.

Di belakang sekolah, di dekat meja dan kursi sekolah yang bertumpuk tak terpakai, ia memintaku jongkok di sebelahnya.

“Aku punya rahasia,” ucapnya, berbisik

“Apa?”

“Tapi janji jangan kasih tahu siapa pun?” Raslene mengulurkan kelingkingnya. Dengan malas, aku menautkan kelingkingku.

“Oke. Apa?” tanyaku.

“Aku sudah mati.”

Mendengar ucapannya, kejengkelanku naik ke ubun-ubun. Aku hendak meninggalkannya, namun ia menarikku sehingga aku terpaksa jongkok lagi.

“Apa lagi, siiiiiiih?!”

“Tunggu, tunggu, tunggu. Aku mau jelasin semuanya.”

Raslene menarik napas dalam. “Jadi begini. Habis makan masakan penyihir itu, aku menyadari kalau makanan itu mengandung racun. Aku memuntahkannya, tapi sisa racun itu masih ada di dalam tubuhku. Lalu, sampai di rumah, aku membuka Kitab Para Penyihir milikku untuk membaca mantera penawar racunnya, tapi racun sudah terlanjur menjalar di tubuhku. Dan, tiba-tiba semuanya gelap ...”

“Lalu, siapa yang sedang membuang waktuku dengan obrolan nggak jelas sekarang?” Aku memasang raut jengkel. “Begini, Zombie Kecil, aku tahu kenapa kamu muntah. Tapi, kamu harus bisa membedakan makanan yang nggak enak dan beracun, oke?!”

“Bisa aku jelaskan dulu?”

Aku mengabaikan permintaannya.

Raslene melanjutkan, “Tiba-tiba aku terbangun, dan aku melihat ibuku di sampingku. Rupanya, dia yang membacakan mantera Zimbazumbela dari Kitab Para Penyihir, sehingga aku bisa hidup kembali. Dan, kamu harus tahu, seorang yang hidup kembali karena mantera itu akan dua kali lipat lebih kuat. Lihat apa yang kulakukan pada Frans tadi pagi?”

“Ya, ya, ya. Terserah kamu saja. Yang jelas, kalau benar Bibi Roslinda ingin makan siang dengan lauk dua bocah kurus seperti kita, dia nggak akan meracuni kita, sebab itu sama saja meracuni dirinya sendiri.”

Aku bangkit dari semua omong kosongnya. “Aku nggak mau membuang waktu dengan pembohong sepertimu.”

“Cowok Dungu.” Raslene menarik lenganku. “Justru itu masalahnya. Aku juga nggak tertarik berteman denganmu, tapi kita terpaksa harus berteman.”

Aku menepis genggam tangannya dan berjalan. Namun, ia berlari kecil menyejajarkan langkahku.

“Begini, aku juga nggak tertarik berteman denganmu, tapi bukan berarti aku tega membiarkanmu dalam bahaya. Rupanya, Roslinda menyadari bahwa aku mengetahui kebohongannya. Makanya siang itu, dia nggak tertarik lagi dengan dagingku. Dia ingin membunuhku. Sedangkan siang itu kamu masih aman sebab dia belum menyadari aku sudah membocorkan rahasianya padamu.”

Aku mempercepat langkah, tetapi tungkainya yang panjang bisa dengan mudah menyejajarkan posisi kami.

“Tapi, aku beri tahu kamu bahwa sekarang penyihir itu pasti sudah tahu kalau aku telah membocorkan rahasianya padamu.”

Merasa diabaikan, Raslene sedikit berlari dan menghadang di depanku. “Hei, dengar! Kamu dalam bahaya dan aku sedang berusaha melindungimu!”

“Aku nggak butuh dilindungi!” Aku berusaha menyingkirkan tubuhnya.

Ketika aku sudah kembali berjarak beberapa meter darinya, kudengar ia berteriak memanggilku. Raslene menarik paksa bahuku, sehingga aku berhenti dan kami saling berhadapan. Ia menggenggam tangan kananku dengan tangannya.

“Oke. Mungkin kamu nggak butuh dilindungi, tapi aku butuh teman. Kamu mau, kan, jadi temanku?”