Episode 116 - Hawa Membunuh

 

Enam bulan berlalu….

Di dalam ruang dimensi Gunung Dewi Anjani, seorang anak remaja sedang berlari. Di tangan kirinya, terlihat seekor Ayam Jengger Merah yang terlihat pasrah. Di belakang, belasan ekor Serigala Bertanduk mengejar cepat. Gaya berlari anak remaja itu terlihat unik. Ia berjingkat. 

Lari berjingkat adalah gaya berlari yang unggul dalam hal daya tahan dan jarak jauh. Langkah kaki memang tak terlalu cepat adanya, namun dengan berjingkat akan sangat menghemat tenaga. Lari berjingkat tak diragukan lagi dapat menjadi pilihan dalam menghindar dari kejaran. Beberapa kali terbersit dalam benak Bintang Tenggara, agar tak lupa berterima kasih kepada babi-babi bilamana berhasil keluar dari ruang dimensi ini nanti. 

Karena tak bisa mengerahkan jurus kesaktian unsur petir Asana Vajra dan jurus Silek Linsang Halimun untuk menopang lari, maka berlari cepat menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, terpaksalah Bintang Tenggara mengandalkan jurus persilatan. 

Dari waktu ke waktu, ia akan merapal jurus yang menggandakan kecepatan tubuh, yaitu Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang. Pada awalnya memanglah perih derita di sekujur tubuh, akan tetapi lama-kelamaan anak remaja tersebut mulai terbiasa. Meski, setelah itu, dirinya akan merasa sangat lapar sekali.  

Sebagai catatan, Bintang Tenggara telah meletakkan jabatan sebagai peternak. Tanpa kepala kandang yang handal, maka kandang-kandang akan menjadi sasaran binatang siluman pemburu setiap kali ia mencari pakan ternak. Ia pun telah lama melepas impian akan rencana bercocok tanam.

Satu-satunya hewan ternak yang Bintang Tenggara miliki saat ini adalah yang sedang ia tenteng. Benar, seekor Ayam Jengger Merah ia bawa kemana saja agar tak terancam menjadi santapan binatang-binatang siluman lain. Karena telah menghabiskan waktu yang cukup lama bersama-sama, pastilah berat baginya nanti bilamana harus menyantap ayam itu. 

Masing-masing gerbang dimensi yang membawa binatang siluman kini hanya berpendar sekali dalam sebulan. Untungnya, siklus kedatangan binatang siluman kembali lengkap. Dengan kata lain, dalam sebulan pastilah akan ada kedatangan Serigala Bertanduk, Rusa Tanduk Perunggu, Harimau Jumawa, Domba Curug Garut, Elang Laut Dada Merah, Ayam Jengger Merah, dan Biawak Tanah. Jeda antar kedatangan mereka adalah empat atau lima hari sekali. 

Di saat berlari, Bintang Tenggara mendongak. Seekor Elang Laut Dada Merah terbang berputar di udara. Matanya tajam mengawas ke bawah. Perilaku sedemikian merupakan petanda bahwa sang elang sedang dalam mode berburu. 

Elang adalah binatang siluman paling beruntung di dalam ruang dimensi ini. Ia menetap di atas pepohonan tinggi-tinggi, sehingga dapat hidup hampir tanpa ancaman. Elang-elang juga dapat sesuka hati memilih untuk memangsa ayam, biawak, bahkan serigala yang lengah. Lihat saja tampang elang yang tinggi di udara itu, sungguh congkak sekali. 

Akan tetapi, Bintang Tenggara tak meragukan bahwa incaran sang elang kali ini adalah dirinya sendiri. Dua hari yang lalu, Bintang Tenggara memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi si elang. Masih segar dalam ingatan anak remaja itu akan kenikmatan telur elang yang ia bakar. Oleh karena itulah, sang elang memendam dendam membara terhadap anak remaja yang memanjat pohon tempat ia bersarang, dan mencuri telur. 

Bulan kedelapan….

Sepertinya akan terjadi perkelahian segitiga. Bintang Tenggara, sekawanan serigala, serta dua ekor harimau saling mengawasi. Terjepit di tengah-tengah, adalah seekor Rusa Tanduk Perunggu. Rusa itu sudah lama pasrah. 

“Srak!” 

Salah seekor Harimau Jumawa segera menancapkan taring-taring besar di leher sang rusa. Di saat yang sama, sekawanan serigala menggigit kaki rusa nan malang. Pertarungan ‘tarik rusa’ pun segera berlangsung sengit. Seekor harimau lain berupaya mengusir serigala-serigala, namun segera disibukkan oleh serigala-serigala lain.

“Hya!” 

Bintang Tenggara melompat cepat. Berbekal golok pemberian siapa pun itu si penguasa ruang dimensi, ia segera membabat paha besar rusa yang sekarat. Setelah beberapa tebasan, Bintang Tenggara secepatnya melarikan diri sambil membawa paha segar rusa. Taktik ‘pukul dan lari’ kali ini sungguh sangkul dan mangkus. 

“Swush!” 

Tetiba seekor elang menyambar paha rusa yang sedang dipanggul. Bintang Tenggara kini terlibat dalam pertarungan tarik-menarik dengan seekor elang. Tubuhnya hampir terangkat ke udara karena derasnya kepakan elang itu. 

Di saat yang sama, sudut mata Bintang Tenggara menangkap beberapa ekor serigala berlari mengejar. Mereka juga menginginkan paha segar. Tak dapat ditawar. 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri!

Kekuatan yang berlipat ganda membawa Bintang Tenggara meraih kemenangan tarik-menarik melawan sang elang. Karena kalah kekuatan, sang elang terpaksa melepas buruannya. Ia kembali mengangkasa, menantikan kesempatan menyambar mangsa kembali terbuka. Raut wajahnya terlihat masih sangat kesal.

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang!

Kali ini akselerasi lari berlipat ganda. Bintang Tenggara melesat cepat menyelamatkan diri dan paha rusa. Beberapa ekor serigala hanya menerkam udara kosong. Di kejauhan, anak remaja tersebut mulai berlari berjingkat guna menghemat tenaga. 

Bulan Kesepuluh….

Kawanan serigala kocar-kacir. Mereka terlihat sedang berlari sepenuh tenaga. Raut wajah setiap satu dari serigala-serigala itu terlihat ketakutan bukan kepalang. 

Tak jauh di belakang mereka, seorang anak remaja berwajah beringas mengejar cepat. Gerakannya sangat lincah dan gesit. Di tangan kiri, anak remaja tersebut menenteng… seekor ayam berwarna merah. 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!

Bintang Tenggara merangsek maju. Ia menerjang kawanan serigala. Tendangan keras melontarkan empat ekor serigala yang tertumpuk menjadi satu. Serigala-serigala terpental berjumpalitan di atas tanah. Pukulan tinju nan deras menyapu beberapa ekor serigala lain. 

Sisa kawanan serigala, sangat beruntung dapat melarikan diri di saat temannya dijagal lawan. Sungguh, kekuatan sekaligus kecepatan yang berlipat ganda membuat diri Bintang Tenggara demikian digdaya. Meski, raut wajahnya tak terlihat puas, malah masih berang bukan kepalang. 

Bintang Tenggara dipenuhi hawa membunuh! Ayam Jengger Merah kesayangannya diserang kawanan serigala di saat sedang bermain-main sendiri. Ayam itu sudah sangat jinak, dan menjadi satu-satunya teman di dalam ruang dimensi ini. Sampai-sampai, Bintang Tenggara enggan memakan ayam itu. Kini, temannya telah menghembuskan napas terakhir. 

“Swush!” 

Seekor Biawak Tanah yang kebetulan mencuat dari tanah terdiam kaku. Ia tak dapat bergerak karena hawa membunuh Bintang Tenggara yang menebar melalui mata hati terpusat pada binatang siluman itu. Sang biawak hanya terkejut, dan bersiap menghembuskan napas terakhir.  

Bintang Tenggara tersadar dari amarah yang sempat memuncak. Biawak yang ketakutan terkencing-kencing. Meski, binatang siluman itu sudah dapat kembali bersembunyi ke dalam liang tempat ia bersarang. Anak remaja itu membiarkan sang biawak pergi. 

“Aneh…,” gumam anak remaja itu. 

Baru kali ini dalam seumur hidupnya, Bintang Tenggara demikian murka. Sampai-sampai, ia sangat bernafsu hendak membantai seluruh kawanan serigala. Hawa membunuh yang terpancar dari dirinya sangat kental. Secara tak sengaja, tadi ia menyalurkan hawa membunuh itu saat menebar jalinan mata hati. Kemampuan melesakkan hawa membunuh seperti ini biasanya merupakan ciri khas dari naluri binatang siluman di saat berburu. 

Hawa membunuh bagi seorang ahli, biasanya akan berkembang ketika ahli tersebut telah melalui banyak pertarungan hidup dan mati, atau berada pada situasi kejiwaan tertentu. 


===


Satu regu remaja terdiam kaku. Lima orang jumlah mereka, berusia sekita 18 tahun. Dilihat dari cara berpakaian yang necis, sepertinya mereka adalah murid perguruan yang sedang berpetualang keluar dari perguruan mereka. 

Kelima remaja itu kurang beruntung saat berhadapan dengan seorang ahli di sungai. Padahal, lawan sama sekali tak mengerahkan jurus persilatan maupun jurus kesaktian. Ahli tersebut hanya menatap tajam ke arah mereka!

Jadi… setelah kegagalan membawa keris Tameng Sari kembali ke perguruannya, Embun Kahyangan segera menjalankan misi baru. Ia sudah meninggalkan wilayah Padepokan Kabut di Gunung Kahyangan Narada sejak beberapa hari yang lalu. 

Suasana hari teramat terik. Matahari seolah menggantung hanya beberapa jengkal dari atas kepala. Karena terbiasa tinggal di wilayah dingin, Embun Kahyangan merasa tubuhnya sangat kegerahan. 

Di saat melangkah santai, ia menemukan sebuah sungai yang airnya mengalir demikian jernih. Bunyi gemericik air memancing perhatian gadis remaja itu. Tanpa pikir panjang, Embun Kahyangan segera menanggalkan jubah ungu yang biasa ia kenakan. Kemudian, ia juga melepas selendang yang disalahartikan sebagai kemben. Berendam di dalam sungai barang sejenak pastilah akan menyegarkan jiwa dan raga. Pastilah nikmat rasanya ketika tubuh dibelai lembut aliran sungai, batin Embun Kahyangan. 

Gerombolan remaja yang sedang beristirahat di hulu sungai dibuat tercengang bukan kepalang. Dari kejauhan, mereka sempat menyaksikan seorang dewi yang sedang membuka jubah, kemudian melepas kemben tipis. Meski dari sisi belakang, mata mereka menikmati pemandangan lekuk tubuh yang demikian memesona. Leher yang demikian ramping, pundak lembut genit menyapa. Lalu, lekuk pinggul yang demikian menggoda, bergerak seolah melambai-lambai… memanggil-manggil bagai minta dibelai. 

Yang membuat kelima remaja lelaki semakin tercengang, perempuan tersebut perlahan mulai menanggalkan pakaian dalamnya…. Kehidupan di dalam perguruan membuat mereka terkungkung. Kini, di saat berada di dunia luar, mereka bebas melakukan apa saja. 

“Keciprak!” 

Kelima remaja melompat bersamaan ke sungai. Tak ada satu pun di antara mereka yang rela bila yang lainnya terlebih dahulu menjamah perempuan yang sebentar lagi tampil polos. Langkah kaki mereka cepat ketika melangkah di sungai dangkal. Air pun menyibak deras ke semerata penjuru. 

Embun Kahyangan spontan menghentikan upaya membuka atasan, yang sedikit lagi menyibak bulir-bulir sesuatu. Ia memutar tubuh. Sisi samping payudara yang gembul mengintip mesra. Napas kelima remaja lelaki semakin menderu, langkah kaki mereka semakin terburu.

Hal pertama yang menarik perhatian Embun Kahyangan adalah aliran air dari hulu sungai berubah gelap, karena membawa tanah yang tadinya mengendap di dasar sungai. Ia lalu memerhatikan kelima remaja yang berlari-lari ke arahnya.Tak perlu berandai-andai untuk menyimpulkan bahwa karena mereka berlari, air sungai berubah keruh! 

Embun Kahyangan tetiba sebal bukan kepalang. Tak masalah baginya bila kelima remaja tersebut mengintip di saat ia berendam dan tak berpakaian. Memang lelaki suka menatap tubuh perempuan, jadi biarkan sajalah. Akan tetapi, kini Embun Kahyangan tak dapat menjalankan rencana berendam karena air sungai telah dibuat kotor! 

Di saat itulah hawa membunuh Embun Kahyangan meningkat tajam. Hawa membunuh itu dibawa jalinan mata hati dan menghantam gerombolan murid-murid perguruan yang malang. Hanya melalui tatapan mata, setiap satu dari mereka terdiam kaku!

Air sungai berubah merah….


===


Suasana istana tegang. Puluhan ahli sedang terlibat dalam diskusi alot. Dari waktu ke waktu, dapat terdengar teriakan sahut-menyahut. Ada yang setuju, ada pula yang menentang habis-habisan. Diskusi berubah menjadi debat. Debat berlangsung semakin panas. 

Seorang lelaki dewasa mengamati seksama. Ia memberi kesempatan kepada seluruh pejabat untuk menyampaikan pandangan mereka secara bergantian. Ia berupaya tetap adil dengan mendengar serta menampung pandangan yang berbeda-beda. Sungguh bijak lelaki dewasa itu. 

Perdebatan berlangsung sampai larut malam. Pada akhirnya tak tercapai kata sepakat. Masing-masing pejabat tetap teguh pada pendirian mereka. Jawaban atas pertanyaan yang sedang merundung semakin kabur terlihat.  

Dalam situasi ini, diperlukan seseorang untuk menengahi….

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Dua Pongah… Tuan telah mendengar semua pandangan kami,” ujar seorang pejabat dengan santun. 

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Dua Pongah… kami percayakan keputusan terbaik kepada Tuan,” tanggap seorang lagi. 

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Dua Pongah… apapun itu keputusan Tuan, kami pasti mendukung sepenuh hati, sampai titik darah penghabisan!” 

Gubernur Pulau Dua Pongah terlihat lelah. Ia terlalu resah… Sudah beberapa malam tak dapat melelapkan mata yang gelisah.

Matahari menyapa lembut di saat ia mula terbit. Sinarnya membawa keceriaan bagi berbagai burung yang bernyanyi ceria di pagi hari. 

“Putriku… Lampir Marapi. Tak ada pilihan lain. Engkau harus meninggalkan Pulau Dua Pongah. Setidaknya… untuk sementara waktu.” 

Wajah Gubernur Pulau Dua Pongah jauh dari keceriaan. Buah simalakama. Bila putrinya Lampir Marapi meninggalkan wilayah pulau, maka gadis tersebut akan kehilangan perlindungan dari Segel Benteng Bening yang disusun oleh Balaputera. Akan tetapi, bila tetap berada di wilayah pulau, maka mereka berisiko menjadi sasaran agresi militer Kerajaan Garang dari Pulau Satu Garang. 

“Ayahanda… demi keamanan Pulau Dua Pongah, putrimu ini bersedia pergi kemana pun tanpa terkecuali.” Lampir Marapi berupaya terlihat tenang. Sifat manja yang biasa, diredam oleh keadaan.  

Berat bagi sang ayah untuk berpisah dengan putri semata wayangnya. Akan tetapi, sebagaimana disampaikan oleh putrinya, keamanan dan keberlangsungan hidup warga Pulau Dua Pongah juga tak kalah penting. 

Sang ayah menghela napas panjang. Raut wajahnya semakin sendu. Meski demikian, ia telah mengambil keputusan. 

“Putriku… berkemaslah segera. Kau akan dititipkan kepada seorang teman.” 

Lampir Marapi mengangguk pelan, lalu menoleh keluar jendela. Tatapan matanya memandang tajam ke arah utara. Hawa membunuh yang kental merambat melalui jalinan mata hati.