Episode 23 - Kedewasaan dan Keberuntungan


[Aku]

Aku terbawa ke suatu tempat. Ini seperti berada di dalam rumah, tapi bukan rumahku. Aneh, sejak kapan aku berada di sini? Terlebih, bagaimana caranya? Hm, aku rasa tubuhku sedikit berbeda. Entah kenapa, aku tak leluasa menggerakkan tangan dan kaki, seolah mereka punya kehendak sendiri. Aku membuka pintu kamar, bau harum tercium dan masuk ke rongga-rongga pernapasan. Hm, kira-kira, ini kamar siapa? Lalu, kenapa aku lancang sekali membuka kamar orang lain?

Kamar ini, nuansanya dominan merah. Kalau tidak salah, ini mirip kamar pengantin baru. Setidaknya aku tahu bahwa saat sepasang kekasih menikah, maka hampir seluruh suasana di sekitar pengantin bernuansa merah. Tunggu dulu, kalau benar ini kamar pengantin, seharusnya aku keluar, kan? Aneh, aneh,... sungguh aneh, kenapa kakiku tak mau beranjak? 

Gawat, entah kenapa, tanganku bergerak sendiri membuka pakaian. Waduh, bagaimana kalau ada orang lain datang? Perlahan, setiap helai kain yang membalut tubuhku dilepas, hingga akhirnya, aku telanjang. Shiang Kresna, ada apa denganmu? Kenapa telanjang di kamar orang lain? Lalu, sejak kapan tubuhku terasa lebih besar? Ini seperti bukan aku saja.

Ah, dasar tubuh sialan!

Tiba-tiba, aku menuju sebuah ranjang yang tertutupi tirai merah. Kubuka perlahan tirai tersebut. Yang kulihat, yang kulihat adalah pemandangan surgawi. Ada tiga gadis –aku tak tahu dan tak kenal-, mereka bersandar pada dinding, dan memberiku senyum hangat. Namun, yang paling membuat ini ekstrim adalah, mereka semua telanjang bulat. Gawat, di dalam diriku, kini ada sebuah perasaan aneh yang tak bisa kubendung. Aku ingin sekali melayang dan melakukan suatu hal yang tidak kumengerti.

Diriku merangkak di atas ranjang, seolah kucing yang mendekati ikan segar. Setiap jengkal dari tubuh tiga gadis ini terlihat jelas, hanya saja, ada sebuah cahaya suci ilahi yang menutupi bagian dada, mata, serta kemaluan mereka. Sungguh disayangkan! Ahem, maksudku, untunglah. Jika sampai semuanya terlihat, mungkin jantungku bisa copot. Namun, tanganku mulai nakal. Dia meraba perlahan kulit-kulit sehalus dan seputih giok. 

Sebuah rintihan ringan terdengar, ini membuat diriku lebih panas dan bergairah. Sungguh, ini di mana? Dan, aku kenapa? Juga, siapa mereka? Bukankah aku seharusnya masih terjebak di dalam gua? Bersama Guru dan Paman Key. Namun, kenikmatan surgawi apa ini? Aku sungguh tidak bisa menahan godaannya.

Diriku, diriku yang gila, diriku yang nakal, apa yang kau lakukan pada tiga gadis asing ini? Sungguh, aku melakukan hal aneh yang agak sulit untuk dijelaskan. Yang pasti, terkadang tanganku bergerak ke arah dada mereka, terkadang pula ke arah di bawah pusar. Ampun, aku akan meledak!

“Ahh...!” Aku berteriak kencang.

“Kresna, ada apa?” celetuk Paman Key.

“Jangan tiba-tiba berisik begitu!” tegur Guru.

“Paman Key...? Guru...? Ini, ini di mana?” Aku bertanya linglung.

“Kresna, apa kepalamu terbentur sesuatu?” balas Paman.

“Tidak, ini di gua, kan?” tanyaku masih ragu.

“Hahaha, kalau ini bukan gua, lalu kau sebut apa? Warung makan?” Guru mengejek.

“Apa kau bermimpi aneh?” selidik Paman Key.

“Mimpi?” aku teringat, “ya, benar, tadi pasti hanya mimpi aneh, hahahah!” Aku tertawa lega.

“Hm,...” Paman Key termenung sejenak, sebelum matanya melihat suatu sudut di celanaku, “Kresna, kau ini masih bocah apa? Masa tidur saja sampai mengompol? Hahahaha,” Paman Key menertawaiku.

“Ompol?” Aku terdiam sebentar, lalu melihat celanaku basah, “wah, sejak kapan aku mengompol saat tidur?” 

“Sebaiknya kau bersihkan, dari pada baunya menyebar, sungguh memalukan!” Guru menanggapi dan menghujat.

Aku pun meraba celanaku, basah. Namun, aneh sekali. Seharusnya air kencing itu berbau pesing dan terasa hangat, bukan? Kenapa air yang kurasakan tak tercium apapun dan malah terasa lengket?

“Paman Key, air ini terasa sedikit lengket...” Aku berkata polos.

“Lengket?” Guru dan Paman Key terkejut bersamaan. Lalu, mereka saling pandang, sebelum akhirnya suara tawa keduanya membuat bising, “hahahahahah!”

“Eh, apa ada yang lucu?” Aku terheran.

“Kresna, tadi saat tidur, apa yang kau impikan?” tanya Paman.

“Kresna, apa kau melakukan sesuatu yang nakal?” Guru menambahi.

“Tadi,...” aku teringat, dan ini membuat mukaku merah padam. Walau aku tak tahu apa yang kulakukan, tapi kurasa itu memang sesuatu yang nakal. 

Melihat mukaku merah padam, Paman Key kembali bicara, “Kresna, sekarang kau benar-benar sudah dewasa.”

Guru pun mengucap selamat, “sebagai muridku, di umurmu yang sekarang, memang seharusnya sudah dewasa.”

“Guru, Paman, apa maksud kalian? Aku baru 12 tahun sekarang, apa itu bisa disebut dewasa?”

“12 tahun tidak bisa disebut dewasa, tapi apa yang terjadi saat kau berumur 12 tahun, itulah yang membuatmu dewasa.” Guru berucap.

“Memangnya, apa yang terjadi padaku?”

“Mimpi basah,” imbuh Paman, cepat dan singkat.

“Mim-mimpi basah?” Aku terbata. Kalau tidak salah, dulu aku pernah sedikit membaca buku medis tentang pubertas. Dan, mimpi basah adalah salah satu gejalanya. Hanya saja, ternyata mimpi basah adalah sesuatu yang seperti itu. Memberi kenikmatan tetapi membuatku malu.

“Kresna, mau kau ceritakan kronologis mimpimu padaku?” Paman Key memancing.

“....” Aku malu dan terdiam, tak mungkin hal aneh sekaligus nakal itu kuceritakan secara terbuka. 

“Penjahat Key, jangan membuat muridku menjadi orang mesum sepertimu!” Guru menegur.

“Maaf, maaf, Tuan Naga, saya hanya bercanda. Hahahah...!” Paman Key membalas seolah tak bersalah.


***


Satu bulan telah berlalu setelah aku bermimpi basah. Untung saja, tidak lagi kualami mimpi tersebut. Kupikir saat seseorang sudah dewasa, maka setiap hari ia akan bermimpi basah, untungnya tidak. Aku tak mebahas masalah ini lebih lanjut pada Paman Key atau Guru, tapi terkadang saat Guru tertidur, Paman Key akan menceritakanku sesuatu yang nakal tentang wanita. Sering kali aku hanya terdiam dan mendengarkan dengan muka merah padam.

Baiklah, lupakan hal vulgar itu. Saat ini, kastaku sudah naik menjadi Pendekar tahap Platina, dan kasta Paman Key sudah tembus menuju Kesatria. Terlebih, dari 12 Tingkatan Teknik Bela Diri Naga, aku sudah mencapai Raungan Amarah Naga, atau tingkat setelah Tumpuan Langkah Naga. Mempelajari bagian ini cukup mudah, karena selaras dengan Pernapasan Yin-Yang. Jadi, semakin baik aku mengatur Pernapasan Yin-Yang, semakin mudah pula diriku menguasai Raungan Amarah Naga.

Ngomong-ngomong soal menguasai, kata Guru tak ada yang namanya penguasaan mutlak. Seluruh tahapan dari Teknik Bela Diri Naga akan terus berkembang seiring kastaku meningkat dan pemahamanku bertambah. Coba analogikan sebagai manusia. Di umur 6-8 bulan, manusia umumya dapat berbicara. Lalu, di usia 2 tahun, manusia bisa berjalan. Nah, seiring manusia dewasa, baik itu berbicara atau berjalan, pasti manusia bisa mengembangkannya bukan? Mereka akan menggunakan perkataan lebih kompleks saat berbicara, atau mereka akan berlari dan melompat-lompat sebagai evolusi dari berjalan.

Oh, ya, ada pula masalah tingkatan dalam Teknik Bela Diri Naga, itu tidak mengacu pada semakin tinggi, semakin hebat. Hanya saja, semakin tinggi, semakin sulit dipelajari atau itulah yang Guru katakan. Kembali pada bahasan tentang berbicara dan berjalan, jika ditilik secara kronologis, berbicara akan mendahului berjalan. Namun, apakah berbicara lebih hebat dari berjalan? Tentu saja tidak. Dua hal ini adalah sesuatu yang saling melengkapi, bukan saling mendominasi. Jadi, 12 Tingkatan Teknik Bela Diri Naga adalah sebuah kesatuan yang saling melengkapi.

Baiklah, lupakan masalah rumit, sekarang aku dan Paman Key sedang menikmati waktu santai. Kami berbaring dan menatap langit-langit gua.

“Kresna,...” Paman Key bergumam.

“Apa?” ujarku datar.

“Seandainya besok aku mati, apa yang akan kau lakukan?”

Aku melirik Paman, dia sungguh aneh membahas topik berat secara mendadak, biasanya dia akan bercerita vulgar. “Paman, apa yang Paman katakan?”

“Aku sekarat...”

“Paman, untuk sebuah candaan, itu tidak lucu!” balasku geram.

“Sungguh, apa kau tidak pernah melihat bokongku?” dia bertanya heran.

“Paman, apa hubungannya bokong dengan kondisimu?” Aku sedikit memasang muka geli, ingin tetawa tetapi Paman Key tampak serius.

“Lihat ini,” tiba-tiba, dia membalik badannya dan menurunkan celana beberapa jengkal sehingga bokongnya terlihat.

“Paman, apa-apaan sih? Apa ini salah satu kenakalan Paman lagi?” Aku agak sungkan meilirik pandang, karena untuk apa melihat bokong Paman Key?

“Heh... kau sungguh tidak melihat sebuah tato di bokongku?”

“Tato?” Aku melirik perlahan -walau sungkan-, “tidak ada apa-apa!”

“Sungguh?” Paman Key seolah tak percaya. Lalu dengan sekuat tenaga ia mencoba melihat sendiri bokongnya.

“Hah? Bagaimana mungkin? Kresna, sungguh tidak ada tato apapun di bokongku?”

“Paman, apa aku perlu bersumpah kepada surga untuk meyakinkanmu?”

Paman Key terdiam. Ekspresi wajahnya perlahan berubah menjadi kelegaan, lalu sebuah senyum lebar merekah. “Sepertinya, aku diberkahi dewa!”

“Paman, apa hubungannya kau diberkahi dewa dengan tato di bokong?” Aku masih tidak mengerti hal yang coba dibahas Paman Key.

“Kresna, kau tahu, bos dari bosku adalah ahli racun hebat,” terangnya.

“Lalu?”

“Lalu, untuk membuat anak buahnya tak berkhianat, setiap orang akan diberi tato khusus.”

“Terus?”

“Terus, tato khusus itu bukanlah tato biasa.”

“Ya?”

“Sebenarnya, tato khusus itu adalah sebuah Racun Pasif.”

“Racun Pasif? Apa itu?”

“Jadi, setiap anggota Alactrus akan menerima Racun Pasif tersebut. Setiap bulan, mereka akan mendapatkan penawarnya agar racun itu tidak menjadi aktif.”

“Jadi maksud Paman, seharusnya di bokong Paman ada tato yang merupakan Racun Pasif?”

“Iya, seharusnya sih, tapi aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba menghilang. Padahal, dulu pernah ada pengkhianat dalam kelompok kami, kata bosku, walau tidak dikejar, dalam waktu sekitar setahun, racun itu akan aktif dan meleburkan seluruh tubuh orang itu.”

“Bukankah itu berarti Paman Key baik-baik saja? Toh, kita sudah lebih dari dua tahun di sini.”

“Begitulah, kurasa Dewa memang menghendakiku untuk terus hidup...” Ia tersenyum lebar.

“Apanya yang Dewa ingin kau hidup, hah?” Guru terbangun dari tidurnya. Dia tampak mendegar percakapan kami. “Penjahat Key, kalau mau berterimakasih, seharusnya kau lakukan itu padaku!” geram Guru.

“Guru, apa maksudnya?” 

“Kresna, kau tentu ingat bukan apa yang terjadi pada Penjahat Key saat pertama kali datang ke sini?”

“Paman Key datang dari salah satu lubang di sana, dia terjatuh dan pingsan.” Aku mengingat-ingat.

“Kemudian, apa yang kau pinta padaku saat dirinya sekarat?”

“Aku meminta Guru menyelamatkan Paman.”

“Kemudian, apa yang kulakukan untuk menyelamatkannya?”

“Guru, menjilat Paman? Ah, iya, Paman Key, mungkin karena Guru menjilatmu, jadi Racun Pasif yang ada di tubuhmu juga menghilang. Toh, semua luka yang Paman terima waktu itu juga sembuh seketika.”

Paman Key termenung. Ia menatap Guru dan aku, lalu wajahnya mulai berubah. Perlahan, butiran kecil air mata keluar dan membasahi pipi. Kemudian, “Kresna, Tuan Naga, saya sungguh berterima kasih atas bantuan kalian! Terima hormat saya!” Paman Key membungkuk dan bersujud pada diriku dan Guru.

“Paman,” aku mencoba membuatnya berdiri, “apa yang Paman katakan? Kita kan saudara, bantuan ini bukanlah apa-apa.” Ia menatapku dengan bibir yang gemetar.

“Penjahat Key, seharusnya kau membayarku dengan ratusan ribu emas, tapi karena muridku tidak memintanya, maka aku juga tidak.” Guru, caranya menyampaikan pesan bahwa dirinya tak mengharap imbalan sungguh aneh. Dia seperti menjaga harga diri dari pada membuat itu terdengar tulus.

Sekali lagi, Paman Key menatap kami, lalu melakukan hal yang sama, aku pun menghentikannya lagi dan membuatnya berdiri. Sungguh Paman Key, sebenarnya aku tidak menyangka bahwa orang yang tahu balas budi sepertimu ternyata pernah menjadi pembunuh bayaran. Dunia ini sungguh aneh, penuh misteri dan ketidakpastian. Jika aku sudah keluar dari sini, kurasa berpetualang menguak isi dunia merupakan hal yang patut dicoba. Namun, setelah bertemu Hwang tentunya.



Kolom Penulis:

Begini, saya mau meminta pendapat para pembaca. Kira-kira, kalian lebih suka mana??

1. Kresna Keluar cepat dari gua dengan narasi “Beberapa tahun kemudian”?

2. Melihat Kresna perlahan tumbuh di dalam gua dan mmepelajari ilmunya.

Jika memilih satu, mungkin sebelum episode 30, Kresna akan keluar. Lalu, setiap jurus atau ilmu yang sudah dipelajari akan diterangkan saat dia menghadapi musuh atau bahaya.

Jika memilih dua, kalian akan paham konsep setiap jurus terlebih dahulu, hanya saja mungkin Kresna akan keluar dari gua di atas episode 30.

NB: Pilihan di atas hanya sebagai masukan bagi saya, keputusannya akan tergantung imajinasi di dalam otak. Jadi, jangan terlalu berharap banyak ya... hehehe.