Episode 115 - Harapan…



Tiga bulan berlalu… Dua kesadaran memantau perkembangan ujian di dalam gerbang dimensi yang terus-menerus berisikan binatang siluman. 

“Kekasihku Komodo Nagaradja….” 

“Aku bukan kekasihmu! Tidak pernah! Tidak sedang! Tidak akan!” 

“Tantangan yang dipersiapkan dalam upaya memperoleh anugerahku… tiada lain bertujuan untuk menguji ketangguhan tubuh….”

“Hmph…,” degus Komodo Nagaradja. 

“Dengan hidup bersama binatang siluman serta dengan keterbatasan sumber daya, maka para peserta berkesempatan menempa kemampuan raga. Makanan dari daging binatang siluman pun akan memberikan gizi yang baik dalam menunjang kekuatan tubuh. ”

“Hmph….”

“Para peserta pun akan memperoleh pengalaman berharga karena terus-menerus bertarung menghadapi binatang siluman. Naluri bertarung mereka akan tumbuh sangat pesat.”

“Hmph….”

“Ujian juga membuka kesempatan emas dalam membangun pemahaman lebih mendalam akan persilatan. Bukan tak mungkin bagi mereka mematangkan jurus persilatan yang telah ada, bahkan mengembangkan jurus baru.”

“Hmph….”

“Dengan demikian, bilamana para peserta lulus, maka mereka akan dengan sendirinya menjadi jauh lebih tangguh dari sebelumnya. Sebuah peruntungan bagi mereka, karena berada dalam dimensi berlatih yang langka.”

“Hmph…..” Komodo Nagaradja hanya bisa mendengus, mendengus lagi, dan terus mendengus. Ia sudah kehabisan kata-kata sejak beberapa pekan ujian di dalam ruang dimensi itu dimulai…. Sungguh, ia tak pernah habis pikir akan gelagat muridnya sendiri. 

“Kekasihku Komodo Nagaradja…. Bila demikian besar manfaat yang akan di dapat dari ujian, mengapakah kiranya murid-muridmu itu menyalahartikan perihal ujian ‘bertahan hidup’ ini….? Mengapa mereka menjadi… peternak?”


Di dalam ruang dimensi ujian, terlihat tiga rangkai kandang kayu yang terletak di sekitar cembul raksasa. Masing-masing kandang berisikan binatang siluman Rusa Tanduk Perunggu, Domba Curug Garut, serta Ayam Jengger Merah. 

Panglima Segantang berdiri di atas tutup cembul. Mata hatinya menebar penuh konsentrasi. Tugas yang sedang ia emban sangatlah krusial. Ia menjaga agar Elang Laut Dada Merah tidak menyambar Ayam Jengger Merah dari udara. Selain itu, dari bawah tanah, Biawak Tanah pun dapat mencuat kapan saja ke dalam wilayah kandang. Biawak-biawak itu sangat cekatan dalam mencuri telur-telur Ayam Jengger Merah. Panglima Segantang akan berjuang sampai titik darah penghabisan demi mempertahankan sumber protein telur yang sangat ia gemari!

Di saat yang sama, Panglima Segantang juga perlu mewaspadai Serigala Bertanduk yang berkali-kali menyelinap ke dalam kandang Domba Curug Garut. Meski, serigala biasanya berburu di malam hari. 

Di kandang ketiga, hanya terdapat dua ekor Rusa Tanduk Perunggu. Rusa-rusa dalam keadaan yang relatif lebih aman karena mereka dapat mempertahankan diri sendiri. 

Bintang Tenggara baru saja kembali. Ia memanggul tumpukan ilalang dan kantung biji-bijian yang dipanen dari wilayah semak belukar sebagai pakan ternak. Selain itu, ia juga membawa umbi-umbian seperti ketela dan kentang. Terlihat pula jamur liar dan dedaunan lain yang dapat menjadi lalapan dalam menikmati daging ayam atau domba. Sebuah golok sepanjang lengan menyelip di pinggangnya. 

Tugas menjaga keamanan ternak serta mengumpulkan pakan dan makanan, digilir secara berkala. Meski, bilamana bertugas mengumpulkan pakan dan makanan, Panglima Segantang pasti terlibat dalam pertikaian dengan kawanan serigala, bahkan harimau. Kendatipun demikian, Bintang Tenggara membiarkan dalam diam. Panglima Segantang perlu diberi kesempatan untuk menyalurkan hasrat bertarung. 

Selain itu, untuk menjaga keseimbangan habitat di dalam ruang dimensi tersebut, Bintang Tenggara mau tak mau ‘mengadu domba’ kawanan serigala dan kawanan harimau. Secara berkala, ia memasang umpan domba atau rusa di padang rumput agar harimau dan serigala saling berebut. Terkadang, kawanan serigala yang berjumlah lebih banyak meraih kemenangan. Pada kesempatan lain, harimau yang lebih kuat merajai pertempuran. Yang pasti, dan utama, selalu ada korban jiwa di kedua belah pihak. 

Menjadi peternak bukanlah perkara mudah. Binatang siluman terlalu liar. Selain itu, sebagai seorang anak yang tumbuh di dusun nelayan, teramat banyak hal yang perlu ia pelajari dalam beternak. Dalam hampir tiga bulan ini, Bintang Tenggara mencapai sedikit pemahaman akan beternak, misalnya:

- Kandang yang ideal harus memiliki kecukupan cahaya matahari, serta sirkulasi udara yang baik. 

- Kandang harus selalu dalam keadaan bersih agar ternak tak mudah sakit. 

- Pemeriksaan setiap satu ternak perlu dilakukan secara berkala. Bila ada yang sakit, maka harus segera dikarantina agar tak menulari ternak yang masih sehat. 

- Ketersediaan pakan dan air harus diperhatikan secara teratur.

- Semakin baik dan segar kualitas pakan, maka semakin sehat pula binatang siluman ternak. 

Yang terpaling penting, diperlukan kesabaran dan ketelatenan tingkat tinggi dalam menjaga ternak-ternak. Tak sembarang ahli dapat beternak sebagaimana dirinya, pikir Bintang Tenggara bangga. 

Bila ternak-ternak sudah berkembang dengan baik, maka Bintang Tenggara selanjutnya berencana menanam umbi-umbian dan sayur-mayur. Hal ini perlu dilakukan agar tak lagi bergantung pada ketersediaan makanan secara alami di beberapa tempat. Namun, langkah ini akan menjadi upaya besar, karena perlu membangun sistem pengairan dari danau. 

Di saat Bintang Tenggara sedang dalam kondisi jumawa, angin dingin tetiba bertiup deras. Bersamaan dengan angin, gumpalan awan tebal terlihat datang berbondong-bondong. Suasana berubah menjadi gelap. Kilatan listrik menari-nari di angkasa. 

Bintang Tenggara menyipitkan mata sambil mendongak. Sebuah badai besar akan segera berlabuh. Apakah gejala alam ini merupakan bagian dari ujian ‘bertahan hidup’ ini? 

Badai menyapu sepanjang malam. Angin mengamuk dan halilintar mengincar mangsa. Hujan deras membuat Bintang Tenggara dan Panglima Segantang kewalahan menjaga kandang ternak mereka. Binatang siluman yang ketakutan ikut mengamuk bersama badai. 

“Beledar!” Hantaman halilintar menyambar kandang Rusa Tanduk Perunggu! 

Panglima Segantang segera bergerak hendak memastikan agar rusa-rusa mereka tidak terlepas. Ia mengingat bahwa menangkap rusa dalam keadaan hidup sangatlah rumit. Akan lebih mudah bila dapat mengerahkan kesaktian, namun di dalam ruang dimensi ini, kesaktian sama sekali tak dapat dikerahkan. Selain itu, ia menyukai daging rusa yang memberi gizi terhadap pertumbuhan otot!

“Beledar!” Halilintar menyambar bertalu-talu. 

Badai berlangsung semalam suntuk. Raut wajah peternak unggul Bintang Tenggara kusut. Tubuhnya basah kuyup! 

Kondisi kandang ternak porak-poranda. Ayam Jengger Merah hanya tersisa beberapa ekor. Domba Curug Garut tersisa seekor, karena beberapa terlepas dari kandang dan beberapa lagi mati disambar petir. Rusa Tanduk Perunggu sama sekali tak terlihat. Dua ekor rusa itu melarikan diri.

Bintang Tenggara membenahi sisa-sisa kandang ternak. Rasa putus asa sejenak hinggap di dalam dirinya. Matanya pun sembab. Air mata tak tertahan ketika ia menangis tersedu seorang diri. Hidup sebagai peternak memang tak mudah adanya. 

Tak terlihat batang hidung Panglima Segantang. Mungkin si tubuh bongsor itu masih mengejar rusa-rusa yang melarikan diri. 

“Aneh…,” gumam Bintang Tenggara yang sudah kembali tenang.

Anak remaja yang sedang meniti karier sebagai peternak itu menebar pandang, namun tak mendapati gerbang dimensi yang biasa berpendar mengantarkan binatang siluman. Sesuai siklus, harusnya hari ini adalah jadwal kedatangan kawanan Ayam Jengger Merah. 

Sehari semalam berlalu. Panglima Segantang belum kunjung pulang. Gerbang dimensi berpendar dan mengantarkan Biawak Tanah. Beberapa ekor serigala seperti telah menunggu kehadiran biawak-biawak yang merayap lambat. Segera mereka berburu. 

Sehari semalam kembali berlalu. Gerbang dimensi berpendar dan mengantarkan kawanan serigala haus darah. Seorang anak remaja melangkah menelusuri padang rumput mencari keberadaan sahabatnya, Panglima Segantang. Tak ada petanda sama sekali. Bahkan, bilamana Panglima Segantang menjadi korban serigala atau harimau, pastilah ada tanda-tanda yang tersisa. Bintang Tenggara mulai curiga. 

Sehari semalam kembali berlalu. Gerbang dimensi yang seharusnya mengantarkan Rusa Tanduk Perunggu tidak berpendar. Bintang Tenggara sadar akan kemungkinan yang terjadi. Kiriman binatang ternak telah terhenti. Sedangkan si pengawas kandang, Panglima Segantang, kemungkinan besar telah dipindahkan dari ruang dimensi ini. 


“Ini adalah demi kebaikan…,” gumam Komodo Nagaradja. 

“Kekasihku… terima kasih atas saran dikau untuk memutus siklus binatang siluman ternak, serta memisahkan kedua anak remaja itu.”

“Aku bukan kekasihmu! Tidak dulu! Tidak sekarang! Tidak di masa depan!” 


===


“Keadaan semakin memanas…,” terdengar suara seorang lelaki berkeluh-kesah. “Perang besar di antara kedua kerajaan kemungkinan besar tak terelakkan.”

“Yang Mulia Prabu….” Seorang lelaki tua hendak berujar, namun segera menahan diri. 

“Selama ini, meskipun berada di dalam wilayah yang sama, kedua kerajaan tak pernah sepenuhnya hidup akur berdampingan….” 

“Yang Mulia Prabu… Kita tak akan pernah dapat menebak maksud dan kehendak kaum siluman.” Lelaki tua itu akhirnya berujar. 

“Kakek Penasehat… pandangan sedemikianlah yang menjadi batu api permusuhan. Andai kata kita dapat saling percaya, saling menghargai… maka hidup berdampingan bukanlah sesuatu yang mustahil.” 

“Yang Mulia Prabu, akan tetapi….” 

“Sudahlah… apakah adikku telah kembali?” 

“Maha Guru Kesatu, Sangara Santang dari Sanggar Sarana Sakti datang menghadap Sri Baduga Maharaja, Yang Mulia Prabu Silih Wawangi, Sang Penguasa Tanah Pasundan,” tetiba terdengar suara menyela. 

Di saat yang sama, seorang lelaki dewasa muda melangkah masuk ke ruang singasana. Wajahnya bersinar tampan, senyumnya demikian tenang, dan tatapan matanya teduh menenteramkan. Aura yang ia pancarkan sungguh digdaya, bahkan setara dengan sang raja. 

“Adikku… Kau tak perlu terlalu resmi. Kabar apa yang kau bawa dari Gunung Perahu…?” 

Gunung Perahu, sebuah gunung yang unik adanya. Alkisah, ribuan tahun yang lalu di Tanah Pasundan, hiduplah seorang putri nan cantik dan cerdik bernama Sumbi Rarasati. Sumbi Rarasati terkenal sebagai seorang putri yang manja. Selain itu, dari sekian banyak pinangan raja dan pangeran, tak satu pun yang berhasil menarik hatinya. 

Di saat sedang terjadi perang, Sumbi Rarasati diungsikan ke wilayah pedalaman. Suatu hari, sang putri sedang asyik mengisi waktu dengan menenun. Tetiba, pintalan benang yang ia gunakan terjatuh ke bawah bale-bale. Sumbi Rarasati yang malas, tanpa pikir panjang melontarkan kata-kata…. 

“Oh, andai saja ada lelaki yang bersedia mengambilkan pintalan benang, maka aku, Sumbi Rarasati, akan menikahinya….” 

Tanpa sang putri ketahui, di dekat tempat ia diungsikan itu, hiduplah seekor siluman sempurna bernama Tu Mang. Siluman sempurna tersebut lalu mengambilkan pintalan benang yang terjatuh itu. 

Sumbi Rarasati tak dapat mengingkari kata-katanya. Ia dan Tu Mang pun menikah. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang putra yang dinamai Sangku Riang. 

Sebagai peranakan siluman, Sangku Riang tumbuh sebagai remaja yang gagah perkasa. Akan tetapi, Tu Mang sang ayahanda tak hendak memberitahu bahwa Sangku Riang sang putra adalah anak setengah siluman. Oleh karena itu, Tu Mang selalu mengambil wujud sebagai seekor anjing bilamana bersama putranya sendiri. 

Suatu hari, Sumbi Rarasati hendak menyantap daging rusa. Ia lalu meminta Sangku Riang dan Tu Mang pergi berburu. Berhari-hari Sangku Riang dan Tu Mang tak menemukan seekor pun rusa. Karena hendak segera pulang, dan mulai putus asa, Sangku Riang diam-diam memanah Tu Mang. Daging sang ayah lalu dibawa pulang dan diserahkan kepada sang ibu sebagai daging rusa. 

Setelah menyantap daging rusa, Sumbi Rarasati bertanya kepada anaknya tentang keberadaan Tu Mang sang anjing. Awalnya Sangku Riang tidak hendak mengaku… Namun setelah dipaksa, ia mengakui bahwa daging rusa yang telah dimakan ibunya, sesungguhnya adalah daging Tu Mang si anjing. 

Mendapati bahwa sang anak telah membunuh sang ayah, dan dirinya memakan daging suaminya sendiri, Sumbi Rarasati murka. Dalam amarah, ia memukul kepala anaknya sampai terluka dan mengeluarkan banyak darah. Setelah itu, Sumbi Rarasati pergi mengasingkan diri.  

Sangku Riang yang ditinggal ibunya hidup bersama raja dan ratu, yang merupakan kakek dan neneknya. Di saat telah dewasa, Sangku Riang memutuskan untuk pergi mengembara. Ia ingin berpetualang sekaligus mengasah persilatan dan kesaktian.

Selang beberapa tahun, Sangku Riang bertemu dengan seorang perempuan nan cantik jelita yang hidup menyendiri. Perempuan tersebut tak lain adalah Sumbi Rarasati yang ibu. Sangku Riang jatuh cinta pada pandangan pertama, sedangkan Sumbi Rarasati teringat akan suaminya setiap kali menatap lelaki gagah di depan mata. 

Di saat membelai rambut Sangku Riang, Sumbi Rarasati lalu mendapati sebuah bekas luka di kepala. Tak perlu pikir panjang baginya untuk mengetahui bahwa lelaki tersebut merupakan anaknya sendiri. Oleh karena itu, di saat Sangku Riang melamar, Sumbi Rarasati memberikan syarat dan ketentuan yang rumit. Syarat tersebut adalah membangun sebuah kapal besar, dengan ketentuan hanya dalam satu malam. Perahu harus selesai sebelum fajar menyingsing, yang ditandai dengan kokok ayam jantan. 

Sangkuriang segera menyanggupi. Dengan keahlian yang ia miliki, membuat perahu besar dalam satu malam bukanlah perkara yang mustahil. Malam itu juga ia langsung bekerja seorang diri. Singkat kata, hari masih subuh, namun perahu sedikit lagi rampung. 

Menyadari akan kemungkinan menikahi anak sendiri, Sumbi Rarasati tak habis akal. Segera ia menghampiri seekor ayam jantan yang sedang tertidur. Dengan keahlian seadanya, Sumbi Rarasati mengeluarkan cahaya ibarat mentari pagi. Sang ayam jantan lalu berkokok keras sebelum waktunya. 

Sangku Riang gagal. Ia tak menyangka bahwa fajar telah menyingsing, padahal perahu masih sedikit lagi rampung. Dalam kesal karena tak dapat menikahi pujaan hatinya, ia mengerahkan segenap tenaga dan menendang perahu besar tersebut. 

Perahu terpental dan berputar-putar di udara. Perahu tersebut lalu mendarat di hutan. Maka, terjadilah Gunung Perahu. Bentuknya unik mirip perahu raksasa. Bagian bawah gunung, atau bagian lereng, berbentuk ramping ibarat perahu. Lalu, gunung itu membesar ke atas. Sisi atas gunung pun rata mirip geladak perahu. Gunung itu benar-benar menyerupai sebuah perahu yang tersasar dan melintang di tengah hutan. 

Demikian legenda Gunung Perahu. Sejak ratusan tahun lalu, di sisi atas gunung yang landai, berdiam sebuah kerajaan siluman sempurna yang digdaya. Kerajaan tersebut hanya terdiri dari satu jenis binatang siluman yang unik adanya. Dan, kerajaan itu pulalah yang sedang menjadi topik pembahasan antara sang Prabu dan Sangara Santang.

“Kakanda Prabu… dengan berat hati kusampaikan bahwa perundingan di Gunung Perahu menemui jalan buntu,” ujar Sangara Santang yang berperan sebagai utusan kerajaan. 

“Hmph…,” Sang Prabu menghela napas panjang…. Bahkan harapan yang disandingkan kepada tokoh sekelas Sangara Santang, tak membuahkan hasil. 

“Yang Mulia Prabu… Hamba menyarankan untuk segera mempersiapkan pasukan perang.” Lelaki setengah baya yang berperan sebagai Penasehat mengingatkan. 

“Pangeran… Maksudku… Maha Guru Kesatu Sangara Santang, kami memohon bantuan perguruan-perguruan yang berada di wilayah Tanah Pasundan untuk ikut angkat senjata,” sambung sang penasehat.

Maha Guru Kesatu Sangara Santang dari Sanggar Sarana Sakti hanya diam mendengarkan. 

“Aku hendak menghindari pertumpahan darah yang tiada perlu,” gumam sang Prabu kepada diri sendiri, sambil mengabaikan kata-kata si Penasehat. 

“Semua ini adalah kesalahanku… Aku terlalu lama mengembara untuk kepentingan pribadi, sehingga kesalahpahaman yang mengemuka semakin menjadi.” 

“Kakanda Prabu janganlah menyalahkan diri sendiri. Kakanda Prabu terpaksa mengembara untuk mencari penawar racun langka yang hinggap di mustika tenaga dalam,” sela Sangara Santang. 

“Apa gunanya keahlianku pulih, bilamana rakyat akan sengsara karena perang…?”

“Kakanda Prabu… sesungguhnya masih ada satu harapan terakhir dalam upaya mencegah terjadinya perang antara kedua kerajaan.” 

“Harapan…?” Sinar mata sang Prabu kembali menyala. 

“Benar. Harapan tersebut saat ini berada di Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa.” Sangara Santang, yang diketahui sebagai salah seorang anggota Pasukan Telik Sandi, menyibak senyum penuh makna.