Episode 114 - Satu Tahun



Mengapa parang itu harus patah di saat berlatih tarung bersamaku…? Mengapa ia tak patah di saat kejuaraan belangsung…? Atau patah di saat berlatih tarung menghadapi Canting Emas…?

Mengapa aku gegabah meminta bantuan kepada Lombok Cakranegara…? Bagaimana bisa aku terjebak dalam situasi ini…? 

Mengapa babi-babi itu masih MENGEJAR!?

Pertanyaan demi pertanyaan menghantui benak Bintang Tenggara. Ia kini memacu langkah mendaki sebuah lereng di pegunungan. Di samping kanannya, terlihat Panglima Segantang berlari penuh semangat. Di belakang mereka, segerombolan Babi Taring Hutan yang bertubuh gempal terus mengikuti. 

Tabir malam sebentar lagi turun, dan tak dapat dicegah. Sebentar lagi akan genap sehari semalam Bintang Tenggara dan Panglima Segantang berlari dari kejaran babi-babi besar yang berlari berjingkat. Bintang Tenggara sudah terlatih dalam berlari, Panglima Segantang memang memiliki stamina layaknya binatang siluman. 

“Sahabat Bintang… lihat aku!” seru Panglima Segantang ceria. 

Bintang Tenggara menoleh dan mendapati gaya berlari Panglima Segantang yang aneh. Ia setengah melompat, lalu mengangkat lutut rata ke depan… sehingga terlihat seperti melayang. Dengan demikian, Panglima Segantang berlari berjingkat-jingkat… seperti babi-babi itu!

“Cara berlari seperti ini menghemat tenaga!” seru Panglima Segantang lagi. 

Bintang Tenggara mengabaikan kelakuan aneh Panglima Segantang. Ia menoleh ke belakang, menatap babi-babi yang masih mengejar. Akan tetapi, wajah babi tak terlihat terlalu kesal. Oh… andai saja aku bisa meminta maaf kepada babi-babi itu, pasti akan kulakukan dengan senang hati, gumam Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara kembali berlari. Setelah menyaksikan Panglima Segantang, lalu gerombolan babi, tanpa sengaja ia setengah melompat… lalu mengangkat lutut rata ke depan. Gerakannya seperti melayang. Demikian, Bintang Tenggara mulai berlari berjingkat. Benar saja… rasanya lebih santai dengan berlari seperti ini… 

Dari kejauhan, terlihat siluet dua anak manusia dan segerombolan babi, yang berlari berjingkat. Bahkan, gerakan mereka seragam adanya, seperti pasukan baris-berbaris. Langit berwarna jingga, membiaskan cemerlang keemasan di balik awan. Matahari perlahan mulai tenggelam. 

Bintang Tenggara dan Panglima Segantang keasyikan berlari berjingkat sampai tak menyadari bahwa mereka telah jauh mendaki lereng Gunung Dewi Anjani. Bahkan, bila Bintang Tenggara sedikit saja berkonsentrasi, maka ia pasti menyadari bahwa mereka telah memasuki wilayah formasi segel di gunung itu. Di saat yang sama, gerombolan babi di belakang terlihat mulai melambat. 

“Babi-babi itu sudah tak lagi mengejar…,” ujar Komodo Nagaradja mengingatkan. 

“Eh…?” Bintang Tenggara menoleh ke belakang. Gerombolan Babi Taring Hutan terlihat hanya berjalan. 

“Segeralah turun….” Jarang sekali Komodo Nagaradja mengingatkan akan sesuatu secara terus-menerus. 

“Brrrtt….” Bintang Tenggara dan Panglima Segantang merasakan tanah tempat mereka berpijak bergemuruh. 

Apakah gerombolan babi kembali mengejar? batin Bintang Tenggara. 

Tidak! Gerombolan babi terlihat memutar langkah. Bahkan, raut wajah mereka terlihat khawatir. 

Gempa bumi semakin keras. Bebatuan besar dan kecil mulai berjatuhan dan bergelinding. Kemudian, tanah tempat berpijak perlahan merekah. Bintang Tenggara dan Panglima Segantang segera melompat cepat ke arah bawah. Mereka hendak segera turun. 

Terlambat! Tetiba rekahan di tanah terbuka lebar. Bila dilihat dari atas, maka permukaan tanah ibarat mulut besar yang menganga dan bersiap melahap kedua anak remaja itu. Dan demikianlah yang sesungguhnya terjadi. Bintang Tenggara dan Panglima Segantang serta-merta terjatuh ke dalam lubang besar itu!

“Apakah yang terjadi…?” gumam Lombok Cakranegara dari Istana Utama Kerajaan Parang Batu, jauh di bawah lereng Gunung Dewi Anjani.

Lelaki dewasa muda itu menoleh ke arah jendela. Ia menatap tajam ke arah Gunung Dewi Anjani selama beberapa waktu. 

“Ah… mungkin perasaanku saja…,” sambungnya melanjutkan pekerjaan meninjau setumpuk dokumen di atas meja. 


Bintang Tenggara terbangun. Ia segera memeriksa tubuhnya, lalu mengamati sekeliling. Tak ada luka-luka dan Panglima Segantang tergeletak tidur tak jauh dari dirinya. 

Matahari menggantung tinggi di balik awan besar-besar yang berarak perlahan. Angin bertiup sepoi-sepoi. Tak terlihat ada kehidupan lain sejauh mata memandang. Sungguh damai suasana hari. 

Bintang Tenggara mendapati dirinya berada di padang rumput nan luas. Seolah tanpa batas. Pada bagian-bagian tertentu, terdapat kerumunan-kerumunan pepohonan rindang, ada yang berisikan pepohonan menjulang tinggi, ada pula yang hanya terdiri dari pepohonan sedang. Selain itu, terdapat pula wilayah-wilayah yang ditumbuhi semak belukar. 

Sebuah danau kecil berisikan air nan jernih, menyegarkan pandangan mata, terletak di tengah-tengah. 

Kesemua wilayah tersebut mewakili habitat-habitat tertentu. Meski, Bintang Tenggara tak mendapati keberadaan binatang siluman barang seekor pun. 

Setelah membangunkan Panglima Segantang, Bintang Tenggara membuka peta yang dibekali Lombok Cakranegara. Di dalam peta, memang terdapat padang rumput luas. Namun, seharusnya padang rumput tersebut telah mereka lewati saat pengejaran sehari lalu. Mungkinkah mereka terjatuh, dan kembali ke bawah lereng?

Bintang Tenggara dan Panglima Segantang mulai melangkahkan kaki. Mereka berjalan dari kerumunan pepohonan yang satu, menuju kerumunan berikutnya. Melewati semak-semak belukar, dan menghampiri danau di tengah. Jelang petang, mereka masih belum menemukan ujung dari padang rumput itu. Sungguh pelik. Berdasarkan peta, seharusnya padang rumput tidaklah seluas ini. 

Bintang Tenggara mulai curiga. Ia mengamati sekeliling dengan seksama. Wilayah ini… kemungkinan wilayah ini bukanlah lokasi yang berada di Negeri Dua Samudera. Mereka berada di dalam semacam ruang dimensi tersendiri! Mengingatkan pada ruang dimensi saat ujian masuk Perguruan Gunung Agung. 

“Super Guru…,” panggil Bintang Tenggara menyibak jalinan mata hati. 

Tak ada jawaban. Segera ia mengamati mustika retak milik Komodo Nagaradja… Namun, ia tak merasakan kehadiran sang Super Guru! Di manakah ini!? Apakah kesadaran Super Guru terpisah dari dirinya…? Bahkan, Bintang Tenggara tak mendapati keberadaan ruang dimensi penyimpanan di dalam mustika retak milik Komodo Nagaradja. Dengan kata lain, ia tak akan dapat mengeluarkan Tempuling Raja Naga, serta benda-benda lain yang tersimpan di dalamnya. 

Bintang Tenggara menenangkan diri. Setelah menyantap bekal makanan, pikirannya kembali jernih. 

“Ke arah sana…,” ujar Bintang Tenggara mengajak Panglima Segantang. 

Arah yang ia tunjuk merupakan lokasi dengan aura formasi segel yang paling kental terasa. Setelah beberapa jam melangkah, mereka mendapati sebuah bukit yang tak terlalu tinggi di kejauhan. Samar, terlihat di atasnya sebuah titik hitam. Segera mereka bergegas mendatangi. 

Keduanya tiba di depan sebuah gentong besar yang terbuat dari logam berwarna hitam. Tingginya dua kali tubuh Panglima Segantang. Di atasnya terdapat sebuah tutup. Hiasan manik-manik besar berjumlah delapan mengelilingi gentong itu. 

“Bentuknya mirip tempat tembakau milik orang-orang tua…,” ujar Panglima Segantang yang sudah dua tiga kali mengelilingi gentong besar itu. 

Benar, pikir Bintang Tenggara. Ini adalah cawan tempat tembakau, atau biasa di kenal sebagai… cembul. Cembul normal berukuran tak lebih besar dari gelas minum. Ini adalah cembul raksasa! Dengan hiasan delapan manik-manik, mungkinkan ini Cembul Manik Astagina seperti yang sering disebut-sebut dalam legenda Dewi Anjani…?

Bintang Tenggara meletakkan tangan di permukaan cembul raksasa itu. Ia segera mendapati keberadaan formasi segel yang teramat rumit. Mungkinkah memecahkan formasi segel ini akan membawa mereka kembali ke Negeri Dua Samudera? pikir Bintang Tenggara mulai mengutak-atik formasi segel. 

Sepekan berlalu. Bintang Tenggara belum dapat memecahkan formasi segel. Panglima Segantang terlihat sibuk berlatih seorang diri. 

Dua pekan berlalu… Bintang Tenggara sudah mendapatkan gambaran umum akan formasi segel tersebut. Perbekalan makanan mulai menipis. 

Tiga pekan berlalu… 

“Cring!” Formasi segel akhirnya terbuka! 

“Selamat datang para peserta ujian Cembul Manik Astagina!” Tetiba terdengar suara bergemuruh seusai formasi segel terbuka. Suara tersebut milik seorang perempuan dewasa. 

“Peserta ujian?” Panglima Segantang yang tadinya berlatih seorang diri, segera mendekat ke arah Bintang Tenggara. 

“Bilamana kalian lulus, maka kalian akan memperoleh anugerah dariku. Bilamana gagal, maka kalian akan menghabiskan sisa hidup di tempat ini!” 

“Hah!?” Bintang Tenggara terkejut. Harapannya keluar dari ruang dimensi besar ini, tampaknya tidak akan berjalan mudah. 

“Syarat pertama, kalian tak dapat mengerahkan unsur kesaktian.” 

Bintang Tenggara mencoba mengalirkan kesaktian unsur petir dari Cincin Gundala Si Anak Petir. Benar saja… ia sama sekali tak bisa mengerahkan unsur kesaktian. Ia mencoba bergerak dengan Silek Linsang Halimun, jurus ini juga dianggap memiliki unsur kesaktian. Bahkan, jurus Delapan Penjuru Mata Angin pun tak bisa dirapal! 

Bintang Tenggara terlihat sedikit lega ketika ia masih bisa menyusun formasi Segel Penempatan. 

“Syarat kedua, tentukan senjata yang kalian ingin gunakan dari delapan senjata berikut: pedang, kelewang, jenawi, parang, mandau, golok, badik, dohong.” 

“Parang besar!” sergah Panglima Segantang seolah melompat di tempat. Ia tak sabar mengikuti ujian apa pun itu. 

Bintang Tenggara hanya diam. Ia bahkan tak mengenal nama sebagian besar senjata yang disebut oleh suara perempuan itu. 

“Pedang, kelewang, jenawi, parang, mandau, golok, badik, dohong…. Tentukan pilihanmu!”  

“Golok…?” gumam Bintang Tenggara sekenanya. 

“Swush!” 

Tetiba sebilah parang besar tertancap di hadapan Panglima Segantang. Ukurannya sebesar Parang Hitam yang biasa ia gunakan. Di saat yang hampir bersamaan, sebilah golok sepanjang setengah lengan tertancap di hadapan Bintang Tenggara. 

“Selanjutnya… bertahanlah hidup selama setahun!” 


Di tempat lain… di dalam sebuah gua, dua kesadaran sedang berhadap-hadapan. 

“Komodo Nagaradja…?” ujar suara seorang perempuan dewasa menyapa. 

“Apa yang engkau rencanakan!?” Terdengar jawaban tanpa basa-basi. 

“Hihi… mengapa dikau selalu saja berupaya mendekati daku…?” Suara perempuan seolah tersipu malu. 

“Aku tak mendekatimu!”

Perempuan itu tersipu malu….

“Tidak pernah! Tidak sedang! Tidak akan!” hardik Komodo Nagaradja gerah.

“Buktinya… dikau muncul di hadapan daku….”

“Aku kebetulan sedang menemani muridku….”

“Dusta… Tak pernah daku menyangka siluman sempurna pemalu seperti dikau mengangkat murid-murid.”

“Yang satu adalah muridku langsung… Satunya lagi adalah murid tak langsung.” 

“Oh… mungkinkah dikau bersiasat agar murid-muridmu datang mengunjungi gunungku…? Agar supaya dikau mendapat alasan berkunjung…?” Suara perempuan itu terdengar girang. 

“Dewi Anjani! Aku… tak ada… niat… menemuimu!” eja Komodo Nagaradja. Sepertinya sebentar lagi mulai kehilangan kesabaran. 

“Lain di bibir… lain di hati….” 

“Arrgghh…” Komodo Nagaradja menggeram. 

“Daku menantikan saat dikau berani mengungkapkan isi di hati….”

“Mereka hanyalah anak-anak….” Komodo Nagaradja akhirnya mengalihkan topik pembicaraan. 

“Anak-anak yang berbakat… mungkin saja mereka akan berhasil.” 

“Kau yang menjerumuskan Sang Maha Patih.” Perbincangan mulai sedikit memanas. 

“Gadjah Mada dan daku memiliki perjanjian. Ia menjalankan kewajibannya, dan daku memenuhi kewajibanku. Walau… sahabatmu tak menuntaskan bagiannya.”

 “…”

“Jauh di dalam lubuk hati… dikau tentunya menyadari bahwa bila sejarah berulang, maka keberadaan daku akan dibutuhkan.” 

“…”

“Mendekatlah… mari kita mengenang akan masa lalu…”


“Satu tahun!?” 

Belum sempat Bintang Tenggara bereaksi lebih lanjut, sebuah gerbang dimensi muncul cukup jauh dari posisi kedua anak remaja dan cembul raksasa berada. Dari dalam gerbang dimensi tersebut, melompat keluar sekawanan serigala. Selusin jumlah mereka dalam kawanan. Sebuah tanduk pendek mencuat dari kening setiap satu. 

Serigala-serigala itu mengendus udara di sekitar mereka. Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk menangkap aroma Bintang Tenggara dan Panglima Segantang yang berada di atas sebuah bukit yang tak terlalu jauh. 

“Serigala Bertanduk…,” gumam Panglima Segantang. 

Bintang Tenggara menatap dalam diam. Benaknya masih berkutat perihal jangka waktu satu tahun yang diungkapkan suara perempuan. Pastilah suara tersebut berasal dari penguasa di dalam ruang dimensi ini. 

“Binatang siluman pemburu. Bersama-sama dalam kawanan, mereka akan menyergap, bahkan mampu menjebak buruan,” ungkap Panglima Segantang. 

Kedua mata Bintang Tenggara menatap kawanan serigala yang melangkah ringan ke arah dimana mereka berdiri. Serigala-serigala mulai berlari ringan… sebelum akhirnya memecut langkah tanda perburuan dimulai!

Kawanan serigala perlahan menyebar sambil mendaki bukit yang memang tak terjal. Formasi mereka mirip anak panah. Paling depan adalah serigala bertubuh paling besar. Ia sepertinya adalah pimpinan kawanan tersebut. Bintang Tenggara mengamati lebih seksama. Selain serigala pemimpin yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8, sisa serigala lain berada pada Kasta Perunggu Tinggkat 6 atau Tingkat 7. 

“Swush!” 

Panglima Segantang menebaskan parang panjang yang baru ia peroleh ke arah depan. Di saat yang sama, ia merangsek ke kiri dan kanan. Naluri serigala merasakan akan adanya ancaman. Mereka segera menjaga jarak. Namun, bukan berarti mereka akan melepaskan buruan. 

Kawanan serigala bergerak mengitari Panglima Segantang. Dari wajahnya, Bintang Tenggara menangkap raut kesal. Panglima Segantang sebal bukan karena ia diburu, melainkan karena kawanan serigala seolah… menyibak kembangan!

“Hya!” 

Panglima Segantang merangsek maju! Beberapa ekor serigala pun tak dapat menahan diri, sehingga menerkam menyambut serangan lawan. Seekor serigala segera terkena tebasan parang. Sedangkan dua ekor lagi seolah tertahan saat menerkam… Bintang Tenggara telah melempar Segel Penempatan!

Mendapatkan dukungan, Panglima Segantang menebas cepat tanpa ragu. Dua ekor serigala yang sempat tertahan, segera merasakan ketajaman parang di tangan. Sembilan ekor serigala yang tersisa mundur perlahan. Mereka berkumpul dan menunggu di kejauhan. 

Enam jam berlalu. Bintang Tenggara tak dapat menemukan pusat formasi segel ruang dimensi tersebut. Yang menyusun formasi ini pastilah tokoh yang teramat piawai. 

Sembilan ekor Serigala Bertanduk mengamati gelagat Panglima Segantang dan Bintang Tenggara. Sepertinya mereka menantikan saat yang paling tepat untuk menyergap. Kawanan serigala cukup sabar dalam bertindak. 

Sehari semalam telah berlalu. Tetiba sebuah gerbang dimensi berpendar di lokasi yang berbeda lagi. Dari dalamnya mencuat dua belas ekor binatang yang berwarna cokelat dengan tanduk kehitaman. Bentuk tanduknya seperti ranting-ranting pohon yang demikian besar. 

“Rusa Tanduk Perunggu…,” gumam Panglima Segantang. 

Segera, kawanan serigala bangkit berdiri. Tak perlu waktu lama bagi kawanan itu untuk berburu bersama dan menyantap beberapa ekor rusa. Lahap sekali mereka. 

Hari ketiga, sebuah gerbang dimensi berpendar di lokasi lain. Dari dalamnya, keluar seekor Harimau Jumawa. Tubuhnya besar dan kekar. Menyaksikan kehadiran Rusa Tanduk Perunggu, harimau gagah itu segera berburu. Ia menerkam dan menangkap seekor rusa. Lahap sekali kelihatannya.  

Hari keempat, gerbang dimensi berpendar di titik lain lagi. Lorong hitam itu mendatangkan kawanan Domba Curug Garut. Beberapa ekor domba segera meregang nyawa tatkala menjadi sasaran serigala. 

Pada hari kelima, seekor Elang Laut Dada Merah terbang keluar dari sebuah gerbang dimensi di lokasi lain lagi.

Hari keenam, giliran kawanan Ayam Jengger Merah melompat gesit. Mereka segera bersembunyi di wilayah pepohohan yang dipenuhi semak belukar. Meski, dengan mudahnya seekor ayam disambar elang laut dada merah. 

Hari ketujuh, beberapa ekor Biawak Tanah merayap lambat. Mereka menggali lubang dan bersembunyi di bawah tanah. 

Di hari kedelapan, Bintang Tenggara sudah menyerah dari upaya untuk mencari pusat formasi segel di dalam ruang dimensi ini. Ia hanya menanti sabar. 

Anak remaja itu duduk di atas tutup cembul raksasa sambil mengunyah santap siang. Di dalam cincin Batu Biduri Dimensi miliknya terdapat perbekalan untuk sepekan, begitu pula milik Panglima Segantang. Mereka sepakat untuk mengatur dan menghemat perbekalan agar dapat bertahan selama mungkin. 

Tetiba, saat yang ditunggu-tunggu tiba. Sebuah gerbang dimensi kembali berpendar…. Dari dalamnya, mencuat keluar kawanan Serigala Bertanduk. Jumlah mereka sedikit lebih banyak dari sebelumnya, mencapai 20 ekor. 

“Panglima…,” tegur Bintang Tenggara. “Istirahatlah. Esok kita akan turun berburu.”

Tak sulit untuk menyimpulkan bahwa pada keesokan hari, adalah giliran bagi gerbang dimensi yang membawa Rusa Tanduk Perunggu untuk membuka. Urutan kedatangan binatang siluman, dengan demikian: Serigala Bertanduk, Rusa Tanduk Perunggu, Harimau Jumawa, Domba Curug Garut, Elang Laut Dada Merah, Ayam Jengger Merah, dan Biawak Tanah. Binatang-binatang siluman tersebut datang dalam putaran sehari sekali. 

Adapun, binatang siluman yang dapat disantap, adalah: Rusa Tanduk Perunggu, Domba Curug Garut dan Ayam Jengger Merah. Sisanya, termasuk Bintang Tenggara dan Panglima Segantang, adalah pemburu. Atau dengan kata lain, jumlah pemburu jauh lebih banyak daripada mangsa!

Sesuai arahan, tantangan satu tahun di dalam ruang dimensi ini tak lain adalah untuk bertahan hidup. Untuk bertahan hidup, berarti harus bersaing dalam memperebutkan sumber daya makanan yang terbatas.



Catatan:

Bersiaplah menghadapi Episode Bayangan pada Sabtu, pukul 19.30 WIB.