Episode 4 - Tanggung Jawab


Neil membuka ponselnya yang sudah menunjukkan jam delapan malam. 

Seharian ini, waktunya digunakan hanya untuk menyelesaian misinya. Mungkin terlihat lama, tapi sebenarnya ini bisa disebut sebagai sebuah penghargaan. Dalam kasus biasa, misi Rank A terkadang membutuhkan waktu lebih dari dua hari untuk diselesaikan. Apalagi jika lawannya Black Horn.

Jika tim satu mendengar hal ini, mungkin mereka akan merasa terganggu karena keberhasilan tim Flame Lily.

“Uwaaah…” Navi meregangkan tubuhnya. Ia menghirup udara dingin AC dengan lega. Suasana malam membuat semuanya terasa nyaman ketika dirinya berhasil pulang dengan selamat. “Neil, setelah ini kau tidak ada rencana, ‘kan? Mau ikut bersama kami?” 

Mereka berempat berdiri di lobby utama. Neil yang sedang melaporkan tugasnya pada seseorang yang berada di balik meja, melirik Navi sekilas. “Aku masih punya urusan setelah ini. Maaf, sepertinya aku tidak akan ikut.” 

Neil ingat ia disuruh pergi menemui atasannya. Biasanya, pesan yang harus disampaikan kepada anggota kelompoknya akan diberikan pada Neil, lalu diteruskan lagi darinya ke anggota timnya. Itulah pekerjaan atasan yang mengambil tanggung jawab pada kelompok-kelompok yang ada di dalam daftarnya.

Akan tetapi, kali ini sedikit berbeda. Saat ditelepon sebelumnya, ini terdengar seperti urusan pribadi. Seharunya Neil menemui atasannya sore ini, tapi semuanya berubah karena misi dadakan yang diterima Neil. Bahkan, kalau dipikir sebentar, seharusnya ia akan bertemu dengan atasannya mungkin satu atau dua hari ke depannya.

“Hmm… urusan? Jarang sekali kau terlihat sibuk seperti ini,” ucap Navi dengan nada kecewa. Pandangannya terarah pada syal milik Neil dengan bekas terbakar pada bagian salah satu ujungnya. 

“Navi, jangan memaksanya!” Reina menggenggam lengan Navi. “Berikan sedikit ruang pada Neil!”

“Aku tahu!” Navi tersinggung. Ia menggerakan lengannya, membuat tangan Reina terlepas. “Jangan memaksakan dirimu, Neil!” Navi tersenyum, lalu melambaikan tangannya. Ia pergi mengajak kedua temannya. “Ayo Reina, Nadia!” 

Reina dan Nadia, berjalan di belakang Navi, tapi langkah dari salah satu mereka bertiga terhenti.

“Nadia,” panggil Neil, menarik perhatian Nadia. “Kau tak apa?”

“Eh… a-aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja.” Kelelahan bisa terlihat di ekspresinya. Mukanya sedikit memerah.

Neil yang memaksa Nadia untuk segera turun ke lapangan dan melakukan misi Rank A, tentu saja merasa khawatir. Bukan hanya seorang gadis, tapi masa pelatihan yang harusnya diambil selama dua tahun, hanya diambil enam bulan olehnya. 

Meskipun Neil mempunyai alasan yang kuat atas keegoisannya itu, masih terlalu dini bagi Nadia untuk melakukan itu. Sebagian dari dirinya, menyesal telah melakukannya. Namun, yang terjadi biarlah terjadi. 

“Jangan memaksakan dirimu. Jika terjadi sesuatu, katakan padaku atau yang lain.” Neil melipat kedua tangan di atas perut.

Nadia menunduk sebagai tanda terima kasih, lalu membalasnya, “kau juga, Neil.” Setelah itu, ia kembali mengikuti Navi yang sedang menunggunya di pintu utama. 

Neil yang merasa lelah, memaksakan sedikit dirinya. Bahunya terasa kaku, begitu juga lehernya yang pegal. Biasanya ia yang lebih suka berjalan, akan memilih tangga, tapi kali ini tubuhnya memaksa untuk menggunakan lift.  

Di dalam gedung utama, ada tiga tingkatan yang dibadi sesuai tempatnya. Yang pertama adalah lantai sepuluh ke atas. Yang kedua adalah sekitar lantai dasar. Yang ketiga sudah berada di dalam tanah, tempat yang jarang dimasuki.

Sangat jarang bagi Neil untuk naik sepuluh lantai ke atas. Biasanya dia akan berhenti sampai di lantai lima atau enam, itu pun jika ada yang memanggilnya. Untuk bagian dalam tanah, dia sudah beberapa kali mengunjunginya. Namun, sebisa mungkin ia menghindari tempat itu karena udaranya yang terasa berat.

Neil mengetuk pintu yang ada di depan, setelah itu membukanya. 

Ruangan yang dimasukinya tidak terlalu besar. Ruangan yang tampak normal-normal saja. Sebuah meja dan kursi yang serupa. Sebuah televisi dipasang di sudut langit-langit. Juga ada komputer yang terletak pada sudut ruangan. Seperti kantor pada umumnya, tapi di desain senyaman mungkin.

Tumpukan kertas, yang entah berapa banyaknya, terlihat di atas meja. Seorang pria yang sedang duduk di kursi itu, menunjukkan ekspresi bingung. Sepintas, terlihat jelas juga kalau pria itu merasakan kebosanan yang luar biasa. Namun, pekerjaan adalah pekerjaan.

Neil yang masuk, disadari kehadirannya. Rasa lelah yang terlihat di wajahnya, tidak disembunyikan sedikit pun.

“Kau sedikit terlambat, Neil.” Pria yang duduk di kursi itu menampakkan wajah kaku. Senyumnya jelas terlihat dipaksakan.

“Arbi, seharusnya kau berterimakasih aku sudah datang ke sini dalam kondisi lelah!” Neil melihat dokumen yang berserakan di atas meja. “Tidak bertanggungjawab seperti biasa.”

Arbi, secara resminya, dia adalah atasan Neil. Namun, karena sikapnya yang tak acuh, tidak pernah dianggap oleh Neil sendiri.

Entah karena terlalu percaya, atau karena terlalu malas, satu-satunya kelompok yang tidak diawasi hanya kelompok Neil saja. Karena itu, Neil yang merasa bertanggungjawab, mengurusi semua anggota sendirian. Beberapa dokumen, juga data-data yang harus dimasukkan dalam koneksi.

“Aku tidak menduga kalau kau akan kembali secepat ini.”

Setelah membaca tentang tim satu yang mengambil misi Rank A, tentu saja itu adalah reaksi yang normal. Arbi memang mengharapkan Neil untuk kembali secepat mungkin, tapi tidak dalam waktu satu hari. 

“Bagaimana dengan dia? Agen pelatihan yang kau pilih.” Arbi melanjutkan pertanyaannya.

“Dia masih belum siap.” Neil menghela napas. Setelah melihat kejadian hari ini, dia sedikit mengerti. “Aku hanya bisa memberinya tugas yang ringan. Untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.” Neil duduk di atas meja, mengabaikan dokumen yang berserakan itu. Kedua tangan menopang tubuhnya.

“Yah, inilah yang kutakutkan. Setidaknya, untuk saat ini kalian semua baik-baik saja.” Pandangannya ke arah Neil, yang kemudian berganti ke arah lain. Arbi menyadari di salah satu bagian ujungnya, terdapat bekas bakar pada syal merahnya. 

“Aku akan kembali mengambil misi Rank C mulai dari sekarang.”

“Setelah menyelesaikan misi ini, aku ragu mereka akan membiarkanmu melakukan hal itu. Untuk yang satu ini, prestasimu jauh lebih tinggi. Seharusnya kau berdiskusi dulu padaku.”

Meski tidak ingin mengakuinya, Neil tahu ucapan Arbi benar. Dengan prestasinya yang setinggi ini, kemungkinan besar kelompoknya akan mendapat misi yang jauh lebih sulit dari misi yang diambilnya hari ini. 

Salah satu anggotanya suka bertindak ceroboh, lalu ada satu orang lagi yang masih kurang pengalaman akan misi seperti ini. Meski Reina bisa diandalkan, Neil yang merupakan seorang ketua mendapat tanggung jawab paling besar.

Kurangnya ketelitian Neil dalam berpikir, menempatkan anggotanya dalam masalah. Mungkin saja di masa depan nanti, salah satu anggotanya akan mati saat bertugas. Jika itu terjadi, Neil sendiri tak tahu harus berbuat apa.

Neil menengadah, melihat lampu yang cahayanya tidak terlalu terang. Fisiknya yang lelah, sekarang merasa terbebani dengan mentalnya juga yang mulai lelah. Inilah yang terjadi jika dia memikirkan masa depan akan anggota kelompoknya. Pada saat seperti inilah, kenangan masa lalunya pun akan kembali.

Dirinya sendiri bahkan tak ingat, kenapa ia memilih untuk bekerja di sini. Keluarga, teman, juga tempat tinggalnya dihancurkan oleh Outsiders, tapi ia tahu kalau alasan ia datang ke sini bukanlah untuk balas dendam. Atau mungkin, sejak awal dia mengambil pekerjaan sebagai agen khusus hanya untuk menghabiskan waktunya saja.

Neil mengabaikan kenangan yang sengaja dilupakan olehnya.

“Jadi, untuk apa kau memanggilku?” tanya Neil mengganti topik pembicaraan. Inilah alasan kenapa dia datang ke sini meski tubuhnya sudah lelah.

“Aku ingin kau mengajar seseorang.” Arbi memberikan sebuah file kepada Neil yang sedang duduk di atas meja.

Ketika Neil mendengarnya, ia merasa sedikit aneh pada kalimat yang baru saja didengarnya. Meski begitu, ia menerima file yang diberikan dan mengeceknya. Filenya tidak berisi banyak, hanya berupa hal umum saja. Ada juga foto seorang wajah pria di dalamnya.

“Dia masih agen pelatihan. Kenapa tidak membiarkannya saja. Dia bisa berkembang sendiri di Divisi Pelatihan.” Neil menutup filenya, kemudian menaruhnya kembali di meja.

“Ini bukan kemauanku, tapi ini juga bukan tugas dari atasan.”

“Kenapa harus aku?” Neil yang sudah mengerti, tetap bertanya dengan harapan jawaban yang berbeda.

“Karena salah satu dari anggotamu juga agen pelatihan. Kau sudah tahu batas kemampuan mereka sampai mana. Dibandingkan dengan agen khusus yang lain, meminta bantuanmu adalah yang paling tepat.”

Neil merasa ada sesuatu yang aneh di dalamnya. “Kau bilang ini bukan tugas. Apa itu berarti aku punya pilihan untuk menolak?” Ia bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah pintu.

Bukan berarti Neil ingin menolaknya, tetapi dia juga tidak punya alasan untuk menerimanya. Daripada membebankan dirinya secara berlebihan untuk alasan yang tidak jelas, ia lebih suka menganggur di rumah. Terutama setelah menyelesaikan misi beratnya yang sangat melelahkan. 

Ia juga punya pekerjaan sampingan yang harus dilakukan ketika tidak ada misi yang harus dikerjakan. Jadi, sebenarnya Neil tidak menganggur sepenuhnya.

“Sama seperti agen pelatihan yang kau pilih, dia juga punya potensi yang besar. Karena itu, aku berharap kau tidak menolaknya, Neil.”

“Huh… aku memang memilih Nadia, karena menyadari potensinya. Namun, hari ini dia hampir mati karena kesalahanku.” Neil membalikkan tubuh. 

“Untuk yang satu ini, aku akan meminta tolong secara pribadi. Sebutkan harganya!” Dia menunduk, mengesampingkan harga diri sebagai atasannya.

Ini sudah masuk ke dalam perhitungan Neil, tapi Arbi yang tampak sangat serius dalam masalah ini berada di luar kendalinya. Kenapa dia bisa seperti itu? Untuk yang pertama kalinya, Neil melihat Arbi yang biasanya tidak bertanggungjawab, sampai menunduk seperti ini.

“Hmm… aku memang sedang butuh sedikit bantuan saat ini.” Neil tersenyum kecil. Ia merasa sedikit beruntung saat ini. Dengan begini, dia punya alasan untuk melakukan keinganannya. “Baiklah,akan kulakukan.”

“Aku berterimakasih,” ucap Arbi dengan sopan.

“Kalau begitu akan kusebutkan apa yang kuinginkan.” Neil melipat kedua tangan di atas perutnya. Pandangannya terlihat lebih serius dari biasanya.

“…” Arbia terdiam, menunggu Neil melanjutkan kalimatnya.

“Jika di masa depan nanti terjadi sesuatu padaku, aku ingin kau mengambil tanggung jawab penuh atas anggota kelompokku. Aku ingin mereka semua aman.”

Selain anggota kelompoknya, Neil tidak punya apa pun lagi. Seandainya dia diberi kesempatan untuk melakukan hal yang egois sekalipun, ia tidak punya keinginan untuk hal itu. Karena ketika dirinya mati, itu semua akan sia-sia.

“Huh…?” Arbi yang tidak mengerti maksudnya, kehilangan kata-kata. “Neil… kau tidak berencana untuk mati, ‘kan?”  

“Tentu saja tidak! Tapi, itu adalah kondisi terburuk yang akan terjadi padaku nanti. Bagaimana?”

Semua orang akan mati, tapi bagi Neil pandangan kematiannya berbeda. Karena suatu alasan, ia merasa masa depan miliknya terbatas atau terhalang karena sesuatu. Untuk menghindarinya, pilihan terakhir yang dimilikinya hanyalah berhenti dari agen khusus. Namun, itu sama saja dengan meningalkan ketiga anggotanya dan dia tidak mungkin melakukan itu.

Arbi memberi senyum lega padanya. “Itu sudah jadi tanggung jawabku dari awal. Jika itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya dengan senang hati. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi akan kupastikan mereka semua agar aman.”

Neil merasa lega ketika mendengarnya. Ia membuka pintu, berniat untuk meninggalkan ruangan.

“Kau terlihat lebih dewasa sekarang.” Kalimatnya menghentikkan langkah kaki Neil, tapi tak lama. 

Meski sudah ada jaminan, masih ada perasaan sedikit takut yang menghantui Neil saat ini.