Episode 3 - Berserk Mode


Neil menghela. Ia melempar granat tepat di bawah Black Horn.

Ledakan granat yang terasa seperti pukulan kecil menarik perhatian Black Horn. Makhluk yang tingginya sampai tiga meter itu bangkit dengan kedua kaki. 

Neil masih berada pada posisinya. Kondisinya sudah terlatih untuk selalu tenang. Makhluk itu mempunyai tiga mata merah terang di bawah tanduk hitamnya.

Jarinya yang berjumlah empat menutup mengepal menjadi tinju. Keduanya yang saling berhadapan, menatap satu sama lain. Neil melihat jelas seluruh tubuh Black Horn dan memastikan, bahwa dokumen yang dibacanya benar-benar salah. Entah kenapa, makhluk bertanduk itu jauh lebih besar dari yang ada di dokumen. 

Dua lapisan yang ada di kepala, terlihat seperti sebuah helm. Lapisan dalam yang lunak, lalu lapisan luar yang menyatu dengan tanduk hitamnya. Lapisan luarnya bagai tulang-tulang berwarna hitam metalik.

Neil kembali mengangkat 50C yang digenggam, kemudian menarik pelatuknya sekali lagi dengan arah kepala. Pelurunya terkena lapisan luar. Suara besi dengan besi bertubrukan terdengar, lalu memantul ke langit. Neil mundur beberapa langkah mengambil jarak.

Black Horn mengambil piringan seng yang baru saja dimakan, melemparnya ke arah Neil sekuat tenaga. Neil melompat ke kanan, menghindar tanpa masalah. 

Makhluk itu menurunkan kedua kaki depannya. Bentuk tubuhnya yang tampak seperti badak, mulai terlihat. Kaki depannya mengambil persiapan, layaknya seekor banteng. Tanduk hitamnya dicondongkan ke depan.

Neil tak berhenti menembak berharap perisainya hancur, tapi tidak.

“Haah…” Neil menaruh 50C pada sabuk di pinggulnya.

Black Horn mulai melesat maju. Setiap kali keempat kakinya berpijak, aspal hancur, begitu juga getaran bisa dirasakan.

Beberapa saat sebelum terkena hantaman, Neil melompat, melakukan roll samping. Lutut dan kaki menahan tubuhnya. Neil mengambil M4A1 miliknya yang tergantung di punggung, berbalik menghadap Black Horn. Sambil jongkok, Neil terus menembak Black Horn untuk menarik perhatiannya.

Setelah memastikan pancingannya ditarik, Neil berlari ke titik yang sudah ditentukan.

“Kalian semua siap?” Neil berbisik pada alat yang ada di telinganya. 

Neil beberapa kali harus melihat ke arah belakang, memastikan kalau Black Horn benar-benar mengikutinya, juga menjaga jarak yang pasti agar ia tidak ada di dalam jarak serangnya.

“Kami sudah siap sebenarnya, tapi Navi menghilang entah ke mana.” Suara Reina terdengar gemeresik.

“Lupakan dia!” Neil sudah terbiasa dengan tindakan Navi yang melakukan hal seenaknya. “Daripada itu, di mana kalian sebenarnya?”

“Di gudang yang gerbangnya terbuka.”

Neil yang sedang fokus pada Black Horn, memutuskan sambungannya. 

Lautan di sisi kanan di sisi lain, gudang-gudang besar yang biasa digunakan sebagai tempat penyimpanan barang. Semua bangunannya tertutup kecuali satu. Gerbangnya bahkan sampai sepanjang sepuluh meter.

Neil masuk tanpa ragu. Ia melompat, menghindari jebakan tali yang sudah dipasang. Lantainya yang disiram minyak membuatnya licin. Sambil menjaga keseimbangannya, ia berseluncur mengikuti arus sampai di sisi lainnya.

Di dalamnya nampak rak-rak besi yang jumlahnya tidak bisa dihitung, banyak pula yang sudah hancur. Balok-balok kayu berantakan di sekitar, juga ada tali, tumpukan besi, ikan yang berserakan, bahkan mobil pengangkut yang sudah terjungkir. 

Sesaaat pijakannya kembali normal, Neil bersembunyi di balik salah satu rak besi.

Black Horn yang sedang mengejar Neil menarik tali jebakan. Suara ledakan keras terdengar. Api tersebar. Suhunya meningkat. Dengan gerbang yang tertutup oleh api, rasanya semakin sulit untuk bernapas.

Neil ingat rencana untuk memasang tali jebakan dan ledakan, tapi ia tidak tahu apa pun soal bensin yang ada di lantai. Ia melihat sekeliling. Jalan masuk yang digunakan untuk keluar pun tertutup, tapi Neil tidak terlalu khawatir untuk masalah itu. Yang terpenting adalah, seberapa besar jebakan itu menimbulkan rasa sakit pada targetnya.

Kobaran api mulai mengeluarkan asap. Jarak pandang semakin terbatas.

Di sisi lain dari tempatnya berada, ada Reina yang sedang bersembunyi pada kerangka besi. Namun, matanya tidak dapat menemukan Nadia. “Nadia, di mana kau?” Neil berbicara pada alat komunikasi yang ada di telinganya.

“Di sini,” Nadia melambaikan tangan. 

Mengikuti arah suara berasal, Neil melihat Nadia yang sedang berdiri di tangga. Tangganya menyatu pada sudut tembok yang mengarah ke lantai dua. 

“Nadia, apa kau sudah melakukan yang kuperintahkan?”

“Sudah.”

Pandangan Neil dan Reina saling bertemu. “Kami akan memancingnya lebih dalam lagi. Kau, turunlah dari sana!” Suara Neil datar juga tegas.

“Baiklah.” Nadia mengangguk.

Neil sudah melihatnya sendiri. Black Horn tidak akan mati dari jebakan kecil seperti itu. Pikirannya terjaga. Jika peluru atau ledakan tak bisa membunuh makhluk itu, maka ia hanya perlu membuatnya tak bergerak saja. Ia sendiri ragu akan rencana berikutnya, tapi patut dicoba.

Black Horn yang kulitnya sedikit tergores, bangkit. Melihat betapa kecil ruangan yang dimasukinya, makhluk itu memutuskan untuk berjalan dengan kedua kaki. Kepalanya melihat ke kanan dan kiri, mencari sesosok manusia yang dikejarnya. Setiap langkahnya penuh kewaspadaan. Meski Outsiders tidak bisa berbicara, mereka punya kepintaran setingkat dengan lumba-lumba. Apalagi, jika itu Rank A.

Neil dan Reina berlari dari dua arah yang berlawanan—kanan dan kiri sambil menembak makhluk itu. Kedua tangan Black Horn melindungi tubuhnya dari hujan peluru. Kakinya mulai berlari menuju tempat datangnya peluru berasal—Reina. Meski tidak melukainya, tapi tetap saja membuat tubuhnya kesakitan.

Gerakan Black Horn jauh lebih lambat dibanding saat menggunakan keempat kakinya. Namun, saat mengayunkan tangan, seperti ada getaran besar terjadi. Reina mengelak. Ia berlari mengambil jalan memutar, kemudian melempar granat.

Neil kembali bersembunyi, menunggu Nadia.

“Neil…” Nadia menghampiri Neil, memberikan tas yang jauh lebih ringan. “Aku menggunakan semua C4 yang kita punya.”

“Tak apa. Ini jauh lebih baik daripada menggunakannya satu persatu.” Neil melihat sisa barang-barang yang masih berada di dalam tas. Hanya tersisa beberapa isi peluru tambahan, kotak p3k, gas air mata, dan gas asam. “Aku ambil ini!” Ia mengambil gas air mata dan gas asam, menggantungna di sabuk.

“A-apa yang harus kulakukan berikutnya?”

“Untuk saat ini keluarlah!” Pandangan Neil terarah pada Reina dan Black Horn. Jika dilihat, Reina tampak mencapai batasan.

“Huh… t-tapi?”

Suara berisik terdengar. Bukan suara dari raungan Black Horn ataupun senapan, tapi suara mesin kendaraan. Semua pandangan teralihkan. Navi yang sedang mengendarai mobil pengangkut berteriak. “Minggir, minggir! Aku datang!” Dengan senyum percaya diri di wajah, Navi berteriak. 

“Ugh…” Neil tak habis pikir dengan apa yang dilakukan temannya itu.

“Oh, Neil… lihat ini!” Navi dengan nada sombong menginjak pedal sekuat tenaga. 

Bagian depan mobil yang bentuknya seperti sebuah garpu menabrak Black Horn dari samping. Lajunya cepat, tapi benda seperti itu bahkan tidak bisa mendorong Black Horn bahkan satu senti pun. “Haha—” tawa pelan terdengar, Navi memelas. “Uuh… tentu saja tidak akan berhasil.”

Menggunakan kedua tangan, Black Horn mengangkat mobil itu bagai mainan. Makhluk bertanduk itu mengangkat mobil setinggi mungkin, bersiap membantingnya.

“Navi!” teriak Neil. Dengan cepat, ia berlari menghampiri Navi. “Nadia, keluar dari sini!” 

“Waa… g-gawat…” Navi mengambil pisau, lalu memotong sabuk pengaman yang menahannya. Ia melompat sesaat sebelum Black Horn membanting mobil itu ke lantai menjadi kepingan-kepingan kecil. “H-hampir saja—“

Perhatian Black Horn tertarik pada Navi. Tangan yang lain, berayun dari bawah ke depan. Reina menembakinya sekali lagi, tapi diabaikan. Navi melompat ke belakang, tapi ayunan tangan makhluk itu jauh lebih cepat dari gerakannya. Navi terpukul, terpental ke belakang.

Neil yang tiba-tiba berada di belakang Navi, memeluknya. Meski begitu, dorongannya tidak berhenti. Keduanya terpental beberapa meter sampai akhirnya kaki Neil berhasil menahan Navi. Seandainya Neil tidak muncul, tubuh Navi akan terlempar ke tembok dan entah apa yang akan terjadi.

Navi mengambil jarak dari Neil. “N-Neil… kau tak apa?”

Neil menggelengkan kepalanya. Benturan kecil yang terjadi dengan Navi membuat kepalanya pusing. “Yah, terserahlah.” Neil terlihat jengkel.

“Ah, m-maaf, Neil…” Ekspresinya sedikit bersalah. Navi memalingkan pandangan.

Neil bangkit, mengambil beberapa langkah ke depan. Matanya tertuju pada target. “Reina, apa tempat ini memiliki sesuatu untuk mengikat makhluk itu?” ucap Neil melalui alat komunikasi.

“Aku melihat beberapa rantai, tapi sepertinya sudah berkarat.” Reina tak henti menarik pelatuk. Itu adalah yang kedua kalinya, ia mengisi ulang senjata demi mendapatkan perhatian Black Horn.

“Tak apa, itu masih jauh lebih baik.” Neil memutuskan hubungan, lalu menghadap ke sebelah. “Navi!”

“B-boleh aku menolak?” Navi yang mengerti maksud Neil, hanya bisa menghela.

“Tidak. Sejujurnya saja, aku sudah lelah saat membawa makhluk itu ke dalam sini.” Neil menaruh senjata di punggung, mengambil gas air mata dan asam. Ia melihat Reina yang tampak sibuk menghadapi Black Horn sendirian. “Reina, mundur!”

Neil melempar gas air mata ke langit, membuat asap di sekitar kepala Black Horn. Saat itu juga, Reina mundur mengikuti perintah pemimpinnya. Di sisi lain Navi sudah menghilang dari pandangan Neil.

Black Horn mengaung. Keempat kakinya berpijak, menggetarkan tanah juga menghancurkannya. Masih belum selesai, Neil kali ini melempar gas asam tepat di kepalanya sekali lagi. Raungannya semakin besar. Neil mengambil beberapa langkah mundur untuk menjaga jarak aman. Ini akan memberi waktu bagi Reina dan Navi melakukan tugasnya.

Saat Black Horn meraung, Neil bisa melihat jelas cahaya merah muncul dari mulutnya.

“Huh… itu?” Neil yang masih bertanya-tanya merespon dengan cepat. Ia melompat menghindar. 

Kilatan cahaya merah bagai peluru keluar dari dalam mulutnya. Jauh lebih cepat dari suara. Bukan hanya dinding saja, tapi gudang yang berada di sisi lain pun terkena efeknya. Karena matanya masih kesakitan, arah laju menjadi tidak terkendali. 

“Railgun?” Neil merasa aman, tapi jika sesuatu seperti itu mengenainya, tidak diragukan lagi tubuhnya akan hancur tak tersisa. 

Reina dan Navi yang berhasil menemukan rantai, berlari mengelilingi Black Horn. Kaki, leher, lalu bagian tubuh yang lain, semuanya dililit. Tidak berhenti sampai di sana, mereka berdua melilitkan rantai pada tiang-tiang kokoh di dekatnya. Beruntung rantai yang ditemukan cukup panjang, juga lebih dari satu buah. 

Jika tak bisa membunuhnya, satu-satunya yang terpikirkan oleh Neil hanyalah mengubur makhluk itu dan mengurungnya.

Sebelum mereka bertiga keluar, Neil melempat gas air mata terakhir, satu kali lagi membuat asap di sekitar. Neil menekan sebuah tombol, perlahan gerbangnya tertutup dari atas ke bawah. Semuanya, berlari keluar.

Nadia yang sudah ada di luar, mendatangi Neil. Sebuah alat pemicu untuk meledakkan C4 digenggamnya. Sebelum menekannya, mereka semua menjauh agar tidak terkena dampaknya.

“Nadia…”

Tanpa pikir panjang, Nadia menekan tombolnya.

Suara ledakan terdengar lebih dari satu kali. Api nampak meledak-ledak tak karuan bersama dengan asap hitam yang bermunculan. Bangunan itu perlahan mulai ambruk, begitu juga bagian dalamnya. 

Asap tebal akibat ledakan, membatasi penglihatan. Namun, Neil yakin ledakan seperti itu tak akan membunuh Black Horn. Setelah mempelajari betapa kuat pelindung yang menutup kulitnya, ia bisa mengatakannya dengan pasti.

“Misi kita tidak akan selesai kalau makhluk itu belum mati,” ucap Navi mengeluh.

“Ini akan memberi kita waktu berpikir sesaat.” Neil meregangkan tubuhnya. “Salah satu dari kalian ada yang tahu, bagaimana cara tim satu membunuh Black Horn?”

Mereka bertiga menggelengkan kepala bersamaan.

Bukan berarti Neil berharap ada yang tahu. Namun, tidak ada yang salah dengan bertanya. Ada sekitar lima tim yang diperbolehkan untuk mengambil misi Rank A. Namun, hanya ada satu tim saja yang pernah berurusan dengan Black Horn.

Karena setiap Outsiders punya kelemahan yang berbeda juga, melawan rank A untuk pertama kalinya sangatlah sulit. 

Neil membaca laporan tim satu tentang Black Horn sebelumnya. Seharusnya di sela-sela bagian gerak, terdapat bagian lunak di mana sebuah peluru bisa menembusnya. Namun, tanpa arahan yang tepat, mustahil untuk dilakukan. 

Satu-satunya yang terbiasa menggunakan sniper hanya Nadia saja. Namun, jika dilihat dari kondisi tempat, tidak mungkin ia bisa melakukannya. Ruangan terbuka, dengan angin laut yang mengganggu, begitu pula tidak ada tempat yang nyaman untuk menembak. Melawan Black Horn di pelabuhan sepertinya merupakan sebuah kesalahan.

Apinya semakin mengecil, begitu juga asap-asap hitam yang menutup pemandangan. Black Horn masih berada di tengah dengan tumpukan puing-puing bangunan. Bagian tempurungnya terlihat, menunjukkan kalau makhluk itu tidak bisa bergerak bebas. Namun, fakta bahwa makhluk itu masih hidup jelas mengganggu Neil.

Cahaya merah terang tampak jelas menjadi titik perhatian. Sama seperti yang Neil lihat sebelumnya. Black Horn membuka mata, melihat jelas arah sasaran.

“Huh…” Nadia yang tak mengerti terdiam. Matanya tertegun, terpaku pada titik cahaya. 

Saat sadar, Nadia sudah berada di lantai tanpa tahu yang terjadi. Melihat Neil yang berada di sebelahnya, ia tahu kalau dirinya baru saja diselamatkan oleh Neil. Gerakan Neil terlalu cepat sampai Nadia tidak sadar, kalau tubuhnya didorong. 

Railgun yang ditembakkan menabrak laut menciptakan ledakan besar.

Nadia melihat sekitar. Reina dan Navi sudah menjauh beberapa meter dari tempatnya berada.

“N-Neil… kau tak apa?” Navi menghampiri. Perasaan khawatir terlihat jelas di wajah.

“M-maaf.” Nadia segera bangun, menjaga jarak. “N-Neil, a-apa kau baik-baik saja?” ucapnya gugup, merasa bersalah.

“Yah, aku tak apa. Daripada itu, Nadia bagaimana denganmu?” Neil bangkit. Ia memukul-mukul bagian celana—membersihkannya.

“A-aku baik-baik saja.”

Nadia yang kekurangan pengalaman bertarung, dipaksa harus ikut serta ke dalam misi Rank A. Satu dari sekian alasan, kenapa Neil tidak ingin mengambil misi Rank A. Mengawasi Nadia adalah pilihan yang tepat, pikir Neil singkat.

“Tapi, meski makhluk itu tidak bisa bergerak, serangannya tetap saja merepotkan.” Navi menatap tajam Black Horn yang masih terdiam. “Yang barusan itu railgun, kan? Uggh… Hanya masalah waktu saja, sampai makhluk itu bisa bebas lagi.” Pandangannya berubah arah, menuju Neil yang berada di sebelahnya. “Hah…!”

“Kenapa, Navi?” tanya Neil pelan dengan suara datar.

Ekspresi Navi berubah. Keraguan muncul untuk mengatakannya, tapi jika ia diam saja, bisa gawat nantinya. 

“Hmm…” Navi mengambil jarak satu langkah menjauhi Neil, “s-syal milikmu!” Ia memalingkan pandangan, tak berani melihat.

“Huh…” Neil mengecek syal merah yang sedang dikenakan. Di bagian ujung, ada bagian seperti terbakar. Mungkin, terkena tembakan dari Black Horn. “…” Neil terdiam. Ekspresinya yang lemah, tidak menunjukkan apa pun. Namun, Neil berada di titik puncak murkanya.

Neil menaruh senjata miliknya di lantai, lalu menghampiri Nadia. Menjulurkan tangan dengan tatapan datar seperti biasa.

“Eh… a-apa?” Nadia tak mengerti maksudnya.

“Berikan semua granatnya pada Neil!” jawab Navi menggantikan Neil. Ia melipat kedua tangan di belakang kepala, tampak santai.

Nadia memberikan semua granat termasuk sabuknya tanpa bertanya, mengikuti perintah Navi.

Neil berjalan mendekati Black Horn. Di tangan kiri, sebuah granat sedang digenggam, di taruh ke dalam sabuk miliknya. Di tangan yang lain, sabuk dari Nadia yang penuh granat sedang ia pegang.

“N-Neil…? K-Kenapa kalian berdua diam saja?” Kepalanya berputar, memandang Navi dan Reina bergantian.

“Nadia,” panggil Navi santai. “Ini pertama kalinya, kau melihat Neil marah, ya? Saat ini, Neil sedang dalam mode mengamuk. Sejujurnya saja, aku sendiri tidak berani mendekatinya. Tapi, tenang saja! Sejak awal, Neil memang tidak butuh bantuan kita untuk menghabisi makhluk itu.”

“I-ini pertama kalinya aku mendengar hal itu.” Mata Nadia, beralih ke arah Neil.

Setelah beberapa meter di hadapan Black Horn, Neil menarik penahan granatnya. Tanpa ragu dirinya melempar sabuk granat tepat pada tubuh Black Horn. Semuanya. Neil mundur, menjauh.

“Eh…!” Navi terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja Neil lakukan. “Neil, apa yang kau lakukan? Kau bisa membebaskannya lagi!” teriak Navi.

Akan tetapi, suaranya tak terdengar. Walaupun suaranya terdengar, Neil tidak akan bisa menariknya kembali.

Setidaknya, ada sekitar delapan granat pada sabuk itu. Secara bergantian, granatnya meledak satu-persatu menimbulkan suara keras. Asap di mana-mana. Puing-puing bangunan hancur menjadi bagian-bagian yang kecil memberi ruang bagi Black Horn.

Neil menggigit bibirnya dengan keras. Bahunya naik. Kepalan tangannya semakin kuat. Matanya yang hitam menajam, lalu berubah menjadi merah terang. Batasannya sudah terlewati. Masih belum cukup! Neil masuk ke dalam Berserk Mode.

Dari kumpulan asap, Black Horn berlari menggunakan semua kakinya, seperti badak. Tanduknya yang besar terarah pada Neil. Meski Neil tak bisa melihat dengan jelas akibat asap di sekitar, ia sudah mengantisipasi hal tersebut. 

Beberapa senti sebelum bersentuhan, Neil melompat berlawanan dengan Black Horn yang ingin menabraknya. Tangannya meraih tubuh Black Horn, membuatnya tersangkut dengan sengaja. 

Ia mengambil 50C . Dari jarak yang sangat dekat, Neil kembali menembaki. Namun, percuma. Semua puluru dipantulkan oleh kulitnya yang keras.

“…” Neil membuang senjatanya.

Jika ditembak dari jarak sedekat itu tidak membuahkan hasil, maka menggunakan sniper di titik yang sama pun, belum tentu berhasil. Alasan lainnya kenapa Neil tidak ingin mengambil misi Rank A.

Neil memperkuat pegangan, lalu menarik kepala Black Horn sekuat tenaga, mengubah arah lajunya ke laut. Menenggelamkannya bukan berarti akan menyelesaikan misi. Neil tetap harus membunuhnya.

Neil menyiapkan granat yang tersisa. Seandainya semua berjalan dengan sempurna, maka satu sudah lebih dari cukup untuk membunuh Black Horn.  

Lari Black Horn semakin cepat. Anggota yang lain terdiam, hanya bisa melihat dari kejauhan, tak tahu harus berbuat apa.

Pandangan Neil ke arah depan, menuju laut terbuka. Tenaganya mulai habis. Pegangannya melemah, tapi sebisa mungkin tak dilepas.

Tiga meter. Waktu yang tepat untuk melompat, tapi Neil menahan posisinya. Bahkan, ketika pijakan menghilang. Ia menarik penahan granat menggunakan gigi dengan kuat. Black Horn tenggelam ke dalam laut, bersama Neil yang masih berada di punggungnya.

“Neil…!” teriak Navi. Ia berlari ke pinggir pelabuhan,.

Kondisi laut begitu tenang. Tak ada tanda-tanda ada sesuatu yang bergerak. Meski begitu, mata Navi tak lepas dari laut menunggu kedatangan Neil. Tidak mungkin Neil mati hanya karena tenggelam.

Kepala Neil muncul ke permukaan. Tubuhnya mengambang. Perlahan Neil berenang mendekat ke pinggiran. 

“Haah…” Neil menarik napas dalam, mencapai batasannya. Tubuhnya dipenuhi dengan rasa lelah.

“Untuk sesaat, aku menyesal sampai merasa khawatir. Yah, jika itu kau, tentu saja bisa!” Navi memandang ke bawah, melihat Neil yang sedang terengah-engah. Jarak mereka sekitar empat meter. “Butuh bantuan?”

“Sepertinya begitu.” Keduanya saling memandang. Neil yang memberikan ekspresi datar pada Navi yang saat ini sedang tersenyum lega. Neil sudah kembali normal.

“Tunggu sebentar, aku akan mencarikan sesuatu!” Reina bergegas, mencari benda yang bisa menarik Neil dari laut untuk kembali ke permukaan.

“Jadi, bagaimana hasilnya?” tanya Navi.

“Aku meledakkan makhluk itu dari dalam.”