Episode 2 - Black Horn



Suara baling-baling helikopter terdengar sangat berisik. Namun, karena sudah terbiasa, tak seorang pun dari mereka yang memberikan komentar. 

“Jadi… apa target kita kali ini, Neil?” Gadis itu—Navi duduk di pinggir helikopter tanpa rasa takut. Untuk berjaga-jaga, tangannya memegang gagang yang berada di dekat pintu. Melihat laut lepas baginya, bisa menghilangkan rasa gugup, meski dari luar, kondisi fisiknya tak menunjukkan akan hal itu.

Dengan bantuan alat kecil yang terpasang di telinga, Navi tidak perlu berteriak agar suaranya bisa didengar oleh anggota yang lain, terutama Neil.

“Sudah berapa kali aku menyuruhmu untuk mengeceknya?” jawab Neil datar, menjaga sikap tenangnya. Ia menarik resleting jaket dari bawah sampai atas,menutup semua bagian tubuh. Pada bagian belakang, tampak jelas logo Silhoutte Liliy berwarna merah seperti api.  

Neil memangku senjata—M4A1 miliknya yang sering ia gunakan. Angka ‘04’ terlihat di punggung sarung tangan, menunjukkan kelompok berapa mereka. 

Syalmerah tua yang dikenakan menutup sebagian mulut. Neil harus menggulungnya berkali-kali agar benda panjang itu tidak tertiup hembusan angin laut. Berbeda dengan rambut panjang hitamnya yang dibiarkan bergerak bebas terkena angin. 

“Yah, mau gimana lagi? Aku tidak bisa membaca dokumen seperti itu,” jawab Navi tak peduli. Kedua mata masih menempel pada lautan yang luas.

Rambut panjangnya dikuncir kuda agar tak menghalangi pandangan. Ikat rambut berwarna oranye yang dikenakan tampak cocok dengan warna coklat alami di rambutnya. Bagian atas jaketnya terbuka cukup lebar, memperlihatkan sedikit belahan dada. 

Celana pendek yang dikenakan cukup ketat, menunjukkan sebagian besar pahanya. Di sisi lain, kaos kaki hitam panjang sampai betis, dengan sepatu hitam mengkilap yang cukup berat.

Sama dengan Neil, di belakang jaket dan armband, sebuah logo Lily berwarna merah api dengan angka ’04 bisa dilihat dengan jelas. 

“Reine, Nadia.” Neil memanggil dua anggota yang duduk di hadapannya. “Kalian membaca filenya?”

Keduanya mengangguk. 

“Neil, kau memilihnya sendiri atau—” Sebelum Reina selesai, Neil dengan cepat menjawab.

“Aku yang memilihnya sendiri.” Neil menghela. “Maaf, tidak membicarakannya terlebih dahulu.”

Jika itu keputusan Neil, itu bukanlah sesuatu yang patut diperdebatkan, pikir Reine. Jenis jaket yang dikenakan sedikit berbeda, tapi memiliki logo dan kode angka yang sama. Rambut panjangnya berwarna perak. Menggunakan baret hitam, dengan pin ‘04’.

“Kita sudah dapat ijin. Jadi kurasa tidak ada masalah sama sekali.” Reina terdiam sejenak. “Hanya saja, tidak seperti dirimu saja.”

Tatapan khawatir bisa dirasakan Neil, bukan hanya dari Reine tapi juga Nadia. 

“…” Neil yang pikirannya terganggu, ikut merasa khawatir. Apa pilihannya benar atau salah?  

Ia memutuskan hal ini dengan asal, tanpa pertimbangan. Konsekuensi yang didapat, salah satu dari anggota kelompoknya bisa mati. Misi yang diambil kali ini cukup sulit. Faktanya, Neil hanya berharap semakin berat tugas, semakin teralihkan juga pikiran akan hal lain. Namun, beban yang dirasakan semakin berat ketika ia memikirkan keselamatan anggotanya.

“Neil, kau tak apa?” Nadia—Anggota ke-empat, terdengar cemas. 

Seragam yang ia kenakan tidak menutupi lengannya yang kecil dan mungil. Menggunakan rok merah di atas lutut. Rambut hitamnya dicukur pendek. Wajahnya sedikit merah, akibat belum terbiasa jarang naik helikopter.

Armband milik Nadia dipasang di sekitar bagian pinggang dengan peniti kecil. Wajahnya yang kecil nampak imut. Di dalam kelompoknya, Nadia adalah yang termuda. 

“Ya, aku tak apa. Hanya saja… ada yang mengangguku sedikit.”

Seperti biasa, Neil lebih suka menutup hatinya daripada membicarakannya. Bahkan pada teman dekat atau anggota kelompok. Dalam pekerjaan, sebisa mungkin Neil fokus untuk hidup, juga mejaga yang lain agar tetap aman. 

“Neil, jangan bilang kau sudah punya pacar?” tanya Navi bercanda menghilangkan suasana khawatir Reina dan Nadia. “Kau harusnya memperkenalkan dia pada kami!” Navi berteriak.

“…” Neil memilih diam dan mengabaikan Navi.

“Diam terkadang sama saja dengan mengakuinya!” tambah Navi.

“Diam juga bisa berarti… tidak ingin diganggu,” balas Neil datar sebagai penutup percakapan.

Mendengar suara helikopter yang berubah, Neil sadar kalau mereka akan segera sampai. Neil bangkit dari tempatnya, mendekati Navi yang sedang duduk di pinggir. Mata Neil menuju titik yang sama dengan Navi.

Pergerakan kecil terlihat, tapi berdiam diri di posisi yang sama. Karena ukurannya yang lumayan besar, makhluk itu bisa dilihat dengan jelas, bahkan dari jarak yang cukup jauh. Apalagi jika tempatnya cukup luas tanpa ada yang menghalangi.

“Ugh… Black Horn?” Navi menelan ludah. “Rank A? Salah satu dari kalian seharusnya memberitahuku.” Navi memalingkan pandangan ke arah berlawanan.

“Karena itu, aku selalu menyuruhmu untuk membaca dokumennya,” ucap Neil tenang.

Meski sudah memiliki ijin untuk berurusan langsung dengan Outsiders Rank A, bukan berarti kemungkinan berhasil sampai di titik seratus persen. Setiap orang punya pengalaman pertama, hal ini yang membuat manusia berkembang. Namun, terkadang bisa menghasilkan sesuatu yang terbalik dari apa yang diharapkan.

Neil mengetuk benda kecil yang digunakan sebagai komunikasi di telinganya beberapa kali. “Turunkan kami di sekitar sini.” 


***


10:32, Pelabuhan Ambon.

Seperti biasa, mereka berempat turun satu-persatu dengan senjatanya masing-masing. Navi dengan SS2 miliknya, Reina dengan SIG 550 dan beberapa senjata kecil lainnya, Nadia dengan ransel berisi beberapa barang lainnya, dan yang terakhir Neil dengan M4A1 miliknya. 

Setelah semuanya turun, helikopter segera menjauh dari pelabuhan.

“Targetnya adalah Black Horn. Neil, kau pasti punya rencana, ‘kan?” Navi menganggkat senjata yang sedang dipegang. Karena suatu alasan, suasana hatinya berubah dengan cepat. Senyum lebarnya menunjukkan rasa semangat yang luar biasa.

Nadia dan Reina memandang Neil, mengharapkan sebuah jawaban.

Berbeda dengan Rank C atau B yang sudah biasa mereka lawan. Rank A tidak bisa dikalahkan hanya dengan mengandalkan persenjataan dan amunisi yang banyak. Satu ekor Outsiders Rank A, cukup untuk menghancurkan satu kota.

Neil yang masuk ke dalam pikirannya sendiri, bahkan tak yakin harus berbuat apa.

“Neil…?” Suara Nadia menyadarkan Neil.

Neil memalingkan pandangan. Hela napas kecil terdengar, membuat anggota yang lain sedikit khawatir. 

“Ini pertama kalinya kita berhadapan dengan Rank A. Kurasa, melakukannya secara perlahan adalah yang terbaik,” jawab Neil tak yakin.

“Dengan kata lain, tidak ada sama sekali?” Navi mendesah.

Pandangan Neil tertuju pada sebuah bangunan besar di belakang Navi. 

Pelabuhan selalu punya gudang yang cukup besar yang biasa digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang akan diekspor atau impor. Membawa mekhluk sebesar itu ke dalam, mungkin bukanlah ide buruk. Mengurungnya di tempat kecil, lalu menghabisinya jika bisa. Rencana yang sederhana untuk dilakukan.

Navi ikut melirik ke belakang, mengikut arah mata Neil. Hanya dengan melihat sekilas, Navi bisa menebak apa yang dipikirkan Neil. “Kau yakin, Neil?”

“Jika rencana ini gagal, kita akan mundur dan memikirkannya dari awal.”

“Kau pemimpinnya di sini. Terserah kau saja. Setidaknya, kita punya rencana.”

Masalah berikutnya adalah, bagaimana cara membawa target masuk ke dalam tempat yang sudah ditentukan? Yang terpikirkan di benak Neil, hanyalah memasang umpan. Targetnya yang merupakan Rank A, membuat Neil ragu untuk melakukan rencana ini.

“Tidak ada pilihan. Satu orang akan menjadi umpan.”

“Siapa yang akan melakukannya?” tanya Reine.

Nadia bisa saja meletakkan tasnya, tapi Neil ragu ia bisa melakukannya. Bukan hanya dilarang menggunakan senjata dengan bebas, Neil juga selalu menyuruh Nadia untuk berada di garis belakang karena ia baru beberapa bulan menjadi Agen Khusus. 

Navi suka dengan tantangan yang berbahaya. Jika Neil memilihnya, mungkin Navi tidak akan keberatan. Namun, membiarkan Navi yang ceroboh untuk bertindak sendirian, akan membuat nyawanya berbahaya. Neil tak ingin hal itu sampai terjadi. 

Reine? Tidak mungkin.

Neil menghela napas dalam. “Aku yang akan melakukannya.”

“Seperti yang diharapkan dari pemimpin kita!” Navi menepuk pundak Neil. “Sekilas aku sempat berpikir, kalau kau akan memilihku.” Navi tersenyum kecil.

“Ya, aku yakin.”

Jika Neil sudah memutuskan, ketiga anggotanya hanya bisa diam menerima keputusan itu.

“Terserah padamu saja, pemimpin.” 

Neil membuka ransel yang sedang dibawa Nadia. Ia mengambil satu buah granat untuk berjaga-jaga. 

“Hanya satu?” ucap Nadia sambil mengeluarkan beberapa barang lagi.

“Satu sudah cukup.” Neil menggantung granat di sabuknya. “Reine, bisa aku pinjam handgun milikmu?”

Tanpa bertanya, Reine mengambil handgun tipe 50C miliknya yang digantung di sabuk bagian belakang, memberikannya pada Neil. Neil menggantung senjata utama miliknya di punggung.

“Kalian bertiga bisa pergi duluan.”

“Neil, kau tidak lupa sesuatu?” tanya Navi memberikan senyum kecil, begitu juga Nadia dan Reine.

Ya, tentu saja. Neil tidak sepenuhnya lupa, tapi sebagian dari dirinya dipenuhi rasa malas. Sebuah kata yang biasa diucapkan untuk memotivasi anggota.

“Jangan sampai mati!” Neil memalingkan pandangan.

“Huh… hanya itu? Lagipula, seharusnya kami yang mengatakan hal itu.” Navi meninggikan salah satu alis.

Neil menarik napas dalam. “Ya, hanya itu. Pergilah ke posisi masing-masing!”

Dengan pandangan aneh, Navi, Nadia, Reine, meninggalkan Neil sendirian.

Neil melepas beberapa lipatan syal yang dirasanya cukup erat, membuat lehernya jadi lebih lega dan tak sesak. Syal merahnya yang saat ini lebih panjang tertiup angin laut. Membuka kembali ingatan, Neil mulai berjalan mencari target yang seharusnya hanya berjarak beberapa ratus meter.

Setelah jalan beberapa menit, Neil sampai di pinggir pelabuhan dengan sebuah garis pembatas kuning untuk pengaman. Di sepanjang jalan, banyak barang hancur tergeletak di mana-mana. Hal yang wajar ketika Outsiders muncul ke atas permukaan.

Neil melihatnya dengan jelas dari jauh. 

“Huh…?” Rasa terkejut tak tertahankan. Neil mempertajam matanya. “Ini hanya aku saja, atau…”

Outsiders yang dilihatnya saat ini—Black Horn, memiliki bentuk fisik jauh lebih besar dari yang ada di dokumen. 

Bentuk tubuhnya seperti badak, warna abu-abu berkarat. Sepasang kaki belakang seperti kaki gajah, bulat dan besar. Sedangkan dua kaki depan, tampak seperti tangan raksasa dengan jarinya yang berjumlah empat. Di dalam dokumen, Black Horn bisa berdiri dan berlari menggunakan dua kaki dalam keadaan tertentu.

Tanduk besarnya yang berwarna hitam metalik dan juga panjang bagai tombak adalah ciri khususnya. Itu juga menjadi alasan, kenapa makhluk itu dipanggil dengan sebutan Black Horn. Di bagian punggung, ada ratusan tanduk kecil seperti duri yang melindungi tubuhnya. 

Kepalanya memiliki dua bagian. Bagian luar yang tampak seperti tengkorak badak, menyatu dengan tanduk juga digunakan sebagai pelindung kepala. Bagian dalam yang berupa kulit lunak.  

Jika makhluk yang ada di hadapan Neil berdiri, mungkin tingginya akan sampai tiga setengah meter. Lalu, tanduk hitam yang berukuran lebih dari lima puluh senti. Yang dilihat Neil saat ini, sedikit berbeda dari yang dijelaskan dalam dokumen.

Makhluk itu duduk sambil memakan logam-logam yang ada di sekitar. Karena memunggunginya, Neil bahkan tidak perlu bergerak secara diam-diam untuk mendekatinya. 

Sekitar sepuluh meter di belakang makhluk itu. Ia mengangkat kedua tangan dengan 50C milik Reine yang sedang ia genggam. Lalu, menarik pelatuknya tanpa ragu-ragu. 

Suara metal dengan metal yang bertabrakan terdengar jelas. Pelurunya memantul saat menyentuh tubuh bagian punggungnya yang keras. 

“…” Neil menurunkan kedua tangan, tanpa ada niat untuk berlari. 

Makhluk itu menengok ke belakang hanya untuk melihat Neil sekilas. Neil yang dimatanya tampak seperti makhluk kecil diabaikan. Makhluk bertubuh metal itu kembali melanjutkan makan, ketika sadar bahwa Neil bukanlah sebuah ancaman.

Tipe Passive, biasanya mereka hanya menyerang ketika disakiti atau ada manusia yang mencoba untuk masuk ke dalam daerah kekuasaan. Fakta bahwa Neil baru saja diabaikan, membuatnya dirinya lumayan kesal. Secara tidak langsung, ia baru saja dianggap tidak ada.

Neil mendesah. “Karena ini, aku tidak suka berhadapan dengan Rank A.”  

Black Horn (Passive)?Rank : A?Attack : A+?Speed : B?Defense : AA+?Ability : xxx

Neil memperpendek jaraknya menjadi delapan meter. Kali ini, ia melempar satu-satunya granat yang ia punya.


***


Catatan penulis:

Cara jelasin deskripsi Outsidersnya agak susah. Kalo ada kesempatan, mungkin nanti bakal ada ilustrasinya, biar jauh lebih gampang dibayangin.