Episode 1 - Satu

Bunga Lily Api


2022, Juli.

Yang membangunkannya adalah sebuah mimpi buruk. Entah sudah berapa lama. Setidaknya cukup lama untuk membuat gadis itu tak bereaksi lagi. 

Gadis yang sedang terbaring itu—Neil, membuka matanya perlahan. Ranjangnya terlalu sempit untuk digunakan oleh dua orang, juga terlalu luas untuk digunakan oleh satu orang. Kasurnya tampak keras, tapi tak masalah bagi tubuhnya.

Aroma mint tercium memenuhi hidung. Di sisi lain, matanya tak bisa melihat apa pun karena gelapnya ruangan itu.

Cahaya masuk melalui celah kecil dari gorden. Di kamar ini, tak ada lampu untuk menerangi. Berbeda dengan kamar lainnya. Ini digunakan agar indra penciuman dan pendengarannya bekerja jauh lebih baik daripada matanya.

Neil bangkit, lalu duduk di pinggir ranjang, memperjelas pikirannya yang sepertinya lupa akan sesuatu. Rambut hitam panjangnya terurai, tampak indah. Ia meraih ponsel yang berada di bawah bantalnya. 19 pesan dari pengirim yang sama tampak di layarnya. Ia menaruhnya kembali di tempat yang sama.


07:16

Neil membuka tirai, membuat cahaya menerobos masuk, memperlihatkan seluruh isi ruangan. Satu lemari yang terbuat dari kayu, sebuah meja, dan ranjang untuk tidur. Di atas meja, ada sebuah foto dengan tiga orang di dalamnya. Salah satunya adalah Neil saat waktu kecil.

Neil yang tidak mengenakan apa pun—telanjang, berjalan ke arah pintu tanpa merasa malu. Telanjang dan berjalan-jalan di rumah sendiri bukanlah hal yang aneh. Pandangannya nampak datar.

Suara shower terdengar dari balik ruangan. Beberapa saat kemudian, Neil keluar masih dengan tubuhnya yang meneteskan air. Handuk menggantung di lehernya.

Ingatannya mulai kembali. Neil melempar handuknya ke atas kasur.

Hari ini, ia mendapatkan tugas untuk dikirim ke Ambon. Tempatnya cukup jauh dari Jakarta, tapi ini adalah keinginannya sendiri. Karena itu ia bangun lebih pagi dari biasanya.

Neil membuka satu-satunya lemari pakaian yang ada di sana. Jumlah pakaiannya di dalamnya, bisa dihitung dengan jari. Ia mengambil syal merah yang panjangnya sekitar 2 meter, kemudian melilitkannya di leher. 

Berikutnya, seragam yang akan dikenakannya, tapi… gerakannya terhenti ketika mendengar suara getaran yang berasal dari ponselnya.

“…” Sesaat Neil terdiam, lalu berjalan menghampiri dan duduk di atas kasurnya dengan tubuh telanjang yang masih basah.

Terpampang nama atasannya tempat di mana Neil bekerja. Ia mengangkatnya.

‘Jauh lebih cepat dari yang biasanya.’ Suara pria yang terdengar kaget, tapi ditahan, terdengar.

“Kenapa menghubungiku sepagi ini?” Neil menyalakan mode speaker, lalu menaruh ponselnya di atas meja. Ia mengambil handuk, lalu mengeringkan rambut panjangnya yang basah perlahan.

‘Aku dengar kau mengambil misi Rank A hari ini, kenapa kau tidak memberitahuku dulu?’ Suaranya terdengar seperti sedang mendapatkan masalah.

“Sejak kapan kau mulai peduli untuk mendengarkan pendapatku?” Neil mendongak ke atas. Atap-atap yang dilihatnya berwarna putih. Putih bukanlah warna yang dibencinya, tapi setiap kali ia melihatnya ada perasaan aneh yang terpikirkan.

“Semenjak aku menjadi atasanmu! Aku senang, akhirnya kau memutuskan untuk mengambil misi Rank A, tapi waktunya sedikit kurang tepat. Mengawasi empat tim sudah sangat merepotkan bagiku, tolong berkerja samalah.”

“Berhentilah menjadi orang yang sok bertanggung-jawab.” Neil tampak kesal. Ia mengambil ponselnya, lalu berjalan mendekati lemari. “Kau tidak perlu mengawasi timku!”

“Akan menjadi tanggung-jawabku jika kau mati dalam misi.”

“Huh… apa hubungannya dengan misi yang kuambil? Jika aku mati, itu akan menjadi tanggung-jawabku. Termasuk ketiga anggota timku.” Neil mengambil seragam yang akan dikenakannya, lalu menaruhnya di atas kasur. 

Sebuah jaket hitam pekat dengan satu garis merah di pergelangan tangannya. Bagian belakangnya, terdapat logo silhouette bunga lily berwarna merah terang.

“Ngomong-ngomong, Neil. Apa yang sedang kau lakukan?” Pria itu bertanya mengalihkan topik pembicaraan.

“Menyiapkan seragamku.”

“...” Suaranya hilang sesaat, lalu kembali. “Neil, kau tidak sedang telanjang, ‘kan?”

“Aku memang sedang telanjang, memangnya kenapa?” ucap Neil nampak seperti gadis polos. Mengabaikan seragamnya, ia kembali lagi duduk di atas ranjang.

“Lebih baik kau hentikan sikapmu yang seperti itu. A-apa kau tidak malu?” 

“Aku tinggal sendirian. Kenapa harus malu?”

“Yah, a-apa pun itu akan lebih baik jika kau menghentikannya. Lagipula, kenapa kau bisa sesantai ini saat aku menghubungimu? Harusnya kau mengenakan pakaian dulu sebelum mengangkatnya!”

“Bukan salahku, kau menghubungi di saat seperti ini.” Neil memandang seragamnya. “Juga, berhentilah memberi saran tak berguna seperti itu. Aku akan menutupnya!”

“T-tunggu sebentar…!” Suaranya terengah-engah. “Aku belum memberi tahu, kenapa aku menghubungimu.”

Neil berpikir, ingatannya mulai kembali. “Jadi, ada apa?”

“Hmm, ada seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu? Sore ini, aku berniat untuk membawanya dan menemuimu.”

“Huh…” Neil mendadak bingung. Pikirannya terhenti.

“Aku ingin kau melatihnya dan mengajarkannya beberapa hal.”

“T-tunggu sebentar! Apa maksudmu? Mengajarkan anak baru bukanlah tugas agen resmi! Kenapa kau tidak mamasukkannya ke divisi pelatihan saja? Aku juga sudah mengatakannya, hari ini aku akan terbang ke ambon!”

“Hahaha… karena itulah, aku terkejut. Seandainya aku tahu, mungkin aku akan mengatur ulang jadwalnya.”

“Tidak, bukan itu. Aku menolaknya! Lagipula, bukan tugasku untuk membantu pendatang baru di sini.”

“Sebenarnya saja, ini bukan keinginanku sendiri. Atasanku yang memutuskannya. Jadi aku tidak bisa menolaknya begitu saja. Untuk saat ini, cobalah untuk menyelesaikan misimu lebih cepat dari biasanya. Bagi timmu, seharusnya misi rank A bukanlah hal yang sulit. Semoga berhasil untuk misinya.” Panggilannya terputus.

Neil menahan rasa kesalnya.

Pemimpin yang biasanya tidak bertanggung-jawab, tiba-tiba memberi Neil tugas yang merepotkan.  

Dirinya bertanya-tanya, dibandingkan dengan orang lain, kenapa harus dia yang mendapatkan tugas itu? Lalu, orang yang baru saja menghubunginya bahkan tidak memberi tahu nama atau bagian lainnya.

Neil mengenakan seragam tugasnya. Daripada disebut seragam, sebenarnya itu hanyalah jaket yang memiliki pasangan. Ketiga anggota lainnya, mengenakan pakaian yang hampir sama ketika bertugas.

Meski tidak ada peraturan langsung tentang penggunaan seragam, setidaknya mereka harus memasang sebuah pengenal pada pakaian mereka untuk membedakan dari tim yang satu dengan tim yang lainnya. 

Logo silhouette dengan gambar Liliy berwarna merah terang, menunjukkan nama kelompok—Flame Lily. Lalu sebuah armband di lengannya dengan angka ‘04’ tepat di bagian tengahnya, menunjukkan urutan kelompok.

Neil mengenakannya.

Jaketnya tampak longgar. Ia memesannya dengan sengaja agar gerakannya bisa lebih bebas. Celana panjang hitam yang ketat. Lalu, syal berwarna merah terang yang selalu dikenakannya, selalu menarik perhatian orang-orang karena terlihat sangat panjang.

Ia menggunakan sepatu botnya yang berwarna hitam. Tampak seperti seorang tentara yang bertugas. Namun, tugasnya tidak berbeda terlalu jauh.

Karena Neil, memang bersiap untuk sebuah perang.

Satu kali lagi ponselnya bergetar. Kali ini getarannya tidak selama itu. Pesan masuk diterima oleh ponselnya. Sekali lagi, Neil melihat spam pesan dari pengirim yang sama. Kali ini, ia membukanya.

‘Jangan terlambat’ tertanda, Navi. 

Neil menghiraukannya.


*****


Outsiders Federal Division.

Itulah tempat di mana Neil bekerja. Agen yang dipekerjakan khusus untuk melawan Outsiders. 

Outsiders, makhluk genetik yang berevolusi akibat perkembangan jaman. 90% dari mereka, datang dari kedalaman samudra. Entah sudah berapa lama mereka berada di sana, tapi pertama kalinya muncul adalah tiga tahun yang lalu.

Dengan kemunculannya yang tiba-tiba, satu makhluk itu hampir menghancurkan setengah kota. Dengan peralatan seadanya, Outsiders berhasil dikalahkan. 

Mulai dari hari itu juga, makhluk yang memiliki genetik sama, mulai muncul di berbagai tempat dengan berbagai bentuk juga. Alasan kenapa mereka disebut Outsiders, adalah karena kedatangannya tak diketahui. 

Itu adalah tugas Agen OFD untuk mengantisipasi kedatangan dan menghabisinya. Karenanya, pelatihan khusus untuk menangani situasi seperti ini diadakan.

Neil, dengan masa lalu pahitnya, ia sengaja mengambil pekerjaan di sini. Orang-orang yang disayanginya sudah mati, ketika kotanya terbakar hangus saat itu. Namun, alasan masuknya bukanlah untuk balas dendam. Dirinya tidak percaya dengan masalah pribadi seperti itu akan meringankan beban hidupnya. Apalagi, umurnya yang masih 18 tahun.

Sebuah menara tampak sangat tinggi. Mungkin berjumlah sekitar 50 lantai. 

Setiap sepuluh lantai, masing-masing kegunaannya berbeda. 

Neil menaiki mobil berhenti tepat di depan gerbang. Ia menunjukkan tanda pengenal pada penjaganya. Sebagian dirinya tidak mengerti, kenapa setiap kali ingin masuk, ia harus menunjukkan benda itu.

Neil mengemudi secara perlahan. Luasnya seperti lapangan sepak bola, tapi dipenuhi dengan berbagai macam tanaman di setiap sudutnya. Ada tiga jenis bangunan di tempat ini. Gedung Pelatihan, Gedung Makanan, juga Gedung Utama yang berada di tengah taman.

Tepat di depan pintu Gedung Utama, tiga orang memandang Neil. Salah satu dari mereka, melambaikan tangan dengan senyum kecil di wajahnya. Ketiganya mengenakan seragam yang hampir sama dengan Neil, hanya sedikit berbeda dengan jenisnya.

Neil mengabaikannya, mempercerpat laju mobilnya ke tempat parkir ruang bawah tanah.

Hanya beberapa mobil saja yang tampak pada pandangannya ketika ia sampai di bawah tanah. Mungkin, karena ia berangkat lebih pagi dari biasanya.

Sesampainya, Neil turun dengan bawaan berupa tas ransel. Ia berjalan ke arah pintu dan satu kali lagi, tanpa pengenalnya harus dikeluarkan. Kali ini bukan seorang petugas, sebuah mesin gesek yang merupakan kunci otomatis.

Dirinya juga selalu merasa aneh ketika melakukan itu. 

Neil segera pergi ke ruang utama untuk mengambil dokumen tugasnya. Meski sudah membacanya, ia masih diwajibkan untuk membawanya saat sedang misi. Terdengar sangat merepotkan. Karena itu terkadang, ia membuangnya begitu saja. 

Hall utama, tempat semuanya dilakukan.

Banyak orang yang terlihat nampak sibuk. Beberapa dari mereka memakai jas putih, seorang peneliti. Beberapa dari mereka ada yang nampak seperti mekanik, karena bukan hanya senjata saja yang ada di sini, tapi juga berbagai macam kendaraan. Lalu, sedikit dari mereka yang terlihat seperti seorang Agen Khusus.

Karena Outsiders cukup sulit untuk ditaklukan, hanya beberapa orang saja yang benar-benar dipercaya untuk turun langsung ke lapangan, bahkan meski hanya Rank C. 

Agen pelatihan hanya diberi kesempatan untuk membantu warga dan melindungi kota ketika ada Outsiders yang menyarang. Namun, rata-rata tugasnya tetap akan dilakukan oleh Agen Khusus saja.

Neil yang diberikan kesempatan untuk melakukan misi Rank A, tentu saja terlihat sangat hebat. Di saat yang sama, taruhan untuk kehilangan nyawanya pun akan semakin tinggi juga. Inilah alasan kenapa ia tak pernah mengambilnya semenjak dua bulan yang lalu.

Neil keluar melalui pintu utama. Ketiga anggota yang sedang menunggunya terlihat. Ia melihat jam tangannya.

“Aku kira kau akan datang telat!” Seseorang yang nampak paling akrab, menggandeng Neil, menyenderkan bahunya, nampak senang.

“Ini masih terlalu cepat dari yang dijadwalkan, Navi!” Neil menyerah. Ia menghela napas karena rasa sesal bangun lebih pagi dari biasanya.

Navi, salah satu sahabat akrabnya. Ia juga gadis yang mengirimkan spam pesan pada ponsel Neil. Tingkahnya yang santai dan tak punya rasa peduli bisa mengendalikan suasana di sekitarnya.

“Bukankah lebih cepat, lebih baik.” Gadis dengan rambut perak itu tersenyum kecil. Ia mengenakan baret hitam tentara di kepalanya dengan pin bertuliskan ‘04’. “Tapi, aku rasa, aku setuju kalau ini terlalu cepat.”

Reina, salah satu anggota kelompoknya. Di antara mereka berempat, ia adalah yang paling terpintar. Meski begitu, semua keputusan selalu diberikan pada ketuanya—Neil.

“Bagaimana dengan perlengkapannya?”

“Hmm… Semuanya sudah kusiapkan!” Satu lagi gadis di kelompoknya. Rambut hitamnya dicukur pendek tampak seperti laki-laki. Pandangannya datar. Ia membawa sebuah tas ransel yang tampak besar.

Nadia, anggota kelompok termuda di antara mereka semua. Umurnya masih 16 tahun. Rajin dan penurut. Satu-satunya agen pelatihan yang diperbolehkan untuk turun ke lapangan langsung. Karena suatu alasan, Neil memilihnya dengan sengaja untuk mengisi kekurangan anggota timnya.

Taman yang dipenuhi dengan rerumputan hijau itu, salah satu bagiannya mulai terbelah menjadi dua. Dari bagian dalamnya, perlahan muncul sebuah helikopter yang sudah siap terbang. 

Bagian lain yang tidak dimengertinya adalah ini. 

Neil mengecek ponselnya sekali lagi. Dia bahkan belum sempat sarapan, tapi itu bukanlah masalah. Untuk yang pertama kalinya—Flame Lily-04, menjalankan misi Rank A.