Episode 113 - Permata Pringgondani (2)



“Cring!” Permata Pringgondani yang berpendar itu menyibak semacam layar setengah transparan. Pada layar tersebut, mulai terlihat sesosok tubuh. 

Mayang Tenggara menatap layar dalam diam. Ia menyaksikan seorang anak perempuan mungil dan dekil. Anak tersebut mungkin baru berusia sekitar lima atau enam tahun. Tangan kanannya memegang sebilah bambu yang menjulang tinggi, berkali lipat tinggi tubuhnya. 

Sudut bibir Mayang Tenggara tak dapat menahan diri untuk tak tersenyum. Anak perempuan yang tampil di layar tersebut tak lain adalah dirinya sendiri. 

Seorang perempuan dewasa mendatangi Mayang Tenggara kecil. Ia mengenakan pakaian bernuansa putih. Seberkas sinar terpancar dari dalam diri perempuan tersebut. Kecantikan wajahnya tak terperi, bak seorang dewi yang datang dari dunia peri.

“Mayang Tenggara…,” perempuan itu menegur ramah. Kehangatan menjalar dari senyumannya. “Maukah dirimu berjanji akan satu hal kepada diriku….” 

“Paduka Yang Mulia Permaisuri….”

Belum sempat Mayang Tenggara kecil menanggapi dan perempuan dewasa di dalam kenangan itu melanjutkan kata-katanya, layar yang memuat masa kecil Mayang Tenggara perlahan memudar. 

Mayang Tenggara sepenuhnya mengetahui bahwa Permata Pringgondani berfungsi untuk menyimpan kenangan masa lalu. Kenangan tersebut dapat ditampilkan kembali bilamana dikehendaki. Akan tetapi, mengapa tetiba sebuah permata berpendar tanpa mendapat perintah menggunakan jalinan mata hati? 

“Cring!” Belum sempat pertanyaan di dalam benak Mayang Tenggara menemukan jawaban, sebongkah Permata Pringgondani yang lain mulai berpendar. 

Kali ini, gambaran suasana pada layar menampilkan sebuah ruangan besar nan megah. Pilar-pilar besar menjulang tinggi, menopang langit-langit yang dipenuhi berbagai ukiran. Suasana di dalam ruangan tersebut terlihat sangatlah resmi.

Pada sudut jauh, sebuah singasana bertahtakan emas dan permata bertengger di atas undakan lantai yang beralas batu marmer. Sebelum mencapai singasana tersebut, di kiri dan kanan terdapat deretan bangku yang disusun berhadap-hadapan. Bangku terbuat dari kayu keras dengan berbagai ukiran khas istana diraja. Deretan bangku ini menciptakan semacam lorong lebar menuju ke arah singasana. Di tengah-tengah lorong, sebuah permadani terbentang mewah.

Kedua mata Mayang Tenggara kembali menangkap sosok anak perempuan di salah satu bangku yang berjajar menuju singasana. Kali ini, Mayang Tenggara kecil tidak lagi terlihat dekil. Ia mengenakan pakaian kebesaran dari wilayah tenggara, dengan berbagai aksesoris cantik. Yang paling kentara, adalah hiasan kepala berbentuk mirip tanduk, atau biasa dikenal sebagai lamba. Walau terlihat sedikit gugup, pembawaan Mayang Tenggara kecil terlihat resmi. 

Di samping Mayang Tenggara kecil, duduk di atas bangku adalah seorang lelaki tegap penuh wibawa. Kedua tangan menyilang di depan dada. Perawakan wajahnya tegas. Sebuah penutup mata berwarna merah terpasang mata mata kirinya. 

“Ayahanda…,” gumam Mayang Tenggara dewasa pelan sambil menatap layar. Raut wajahnya kini berubah pilu. Dirinya tak pernah tahu kemana sang ayahanda menghilang.

Tepat di deratan bangku seberang Gemintang Tenggara, sesosok tubuh besar kemerahan menatap tajam. Rambutnya merah, tergerai panjang dan acak-acakan. Ia bertelanjang dada, dan hanya mengenakan selembar cawat seadanya. Bila posisi duduk Gemintang Tenggara tegap, maka sosok di depan itu sedang berselonjor santai. Kedua tangan diletakkan di belakang kepala. Kakinya terjuntai ke depan, dan bertopang pada sebuah kitab yang terlihat sangat tebal. Sungguh ia seperti sedang bersantai di tepi pantai. 

“Kumohon untuk tidak meletakkan kakimu di atas kitab milikku…,” tegur seorang lelaki lain yang duduk di sebelah sosok itu. 

Mayang Tenggara dewasa yang menonton adegan di layar kini mengulum senyum. Sungguh takdir tak dapat diduga, batinnya. Takdir ibarat butiran pasir putih di pantai… tak ada yang dapat mengetahui hari esok ia akan berada di mana.  

“Hei… Kutu Buku! Tidak cukupkah buku di negeri ini sampai kau merasa harus ikut mengarang…?” jawab Komodo Nagaradja masih dalam posisi berselonjor.

“Kitab yang kau gunakan sebagai penyangga kaki itu akan memuat berbagai catatan tentang dunia persilatan dan kesaktian. Sebuah hadiah untuk generasi masa depan….”

“Masa depan gigimu… Tak akan ada masa depan bila kita kalah dalam Perang Jagat! Lagipula, mengapa tak kau wariskan saja Kitab Kosong Melompong? Mengapa harus membuat kitab yang lain lagi…?”

Lelaki yang dijuluki Kutu Buku menarik napas dalam-dalam sambil menatap tokoh di sebelahnya itu. Sabar sekali pembawaannya menghadapi perilaku tak sopan Komodo Nagaradja. 

“Hei, Mata Satu! Mengapa sedari tadi engkau menatapku!?” Komodo Nagaradja tetiba bangkit dari posisi berselonjor. Ia duduk sambil menuding ke arah depan, tepat kepada Gemintang Tenggara. 

Mayang Tenggara kecil terlihat sebal. 

“Kau pelajari dulu cara berpakaian dengan benar… Barulah setelah itu aku akan meladenimu,” cibir Gemintang Tenggara. 

“Brak!” Bangku tempat duduk Komodo Nagaradja pecah berhamburan seketika ia bangkit berdiri. 

Sosok di sebelah Komodo Nagaradja segera bertindak menyelamatkan kitab tebal yang sejak beberapa waktu lalu dijadikan sandaran kaki. 

“Ehem…,” tetiba terdengar suara seolah melegakan tenggorokan. “Pengawal, ambilkan pakaianku, dan berikan kepada sahabatku itu.” 

Seluruh pandang mata di dalam ruangan menoleh ke arah singasana. Seorang lelaki bertubuh besar kekar terlihat mengambil posisi. Meski pembawaannya santai, setiap gerak tubuhnya mengisyaratkan wibawa tiada tara. 

Mayang Tenggara kecil di dalam layar, serta Mayang Tenggara Dewasa yang sedang menonton, serempak membungkukkan tubuh memberi hormat kepada tokoh yang baru saja tiba itu. 

“Cih… Muka Bulat! Aku tak sudi mengenakan pakaian bekas!” hardik Komodo Nagaradja. 

“Pengawal, sampaikan kepada penjahit istana untuk membuatkan pakaian khusus bagi sahabatku… dan ambilkan juga bangku yang baru,” ujar Sang Maha Patih tenang. 

Komodo Nagaradja kembali mengambil posisi duduk. Ia mencari-cari kitab yang tadinya dijadikan sebagai sandaran kaki… Ia pun lupa bahwa tadi dirinya sempat hendak menantang Gemintang Tenggara. 

“Swush!” Angin tetiba bertiup deras, membuat Mayang Tenggara kecil melindungi mata dengan sebelah tangan. Bahkan, hembusan angin sedikit mendorong tubuh mungilnya. 

Di saat yang sama, sesosok tubuh kurus kering mendarat ringan. Ia melangkah seperti sedang kepayahan, karena terpaksa memanggul sebilah dayung besar berwarna biru tua. Dayung itu terlihat lebih jauh lebih besar daripada tubuh lelaki tersebut. Meskipun demikian, dalam sekelebat mata, ia telah duduk persis di sebelah Gemintang Tenggara. 

“Apakah kalian merindukan kehadiranku…,” tetiba suara perempuan genit menyapa masuk.

Perempuan itu berjalan melenggak-lenggok. Sebuah selendang bermotif batik dan berwarna ungu melingkar di lehernya. Mulai bagian leher ke bawah, jalinan kabut ungu pekat dan tebal melingkupi sampai ke ujung kaki. Terkadang, bila kabut menipis, maka akan terlihat siluet tubuh yang demikian menggoda. Perempuan itu melenggak-lenggok dan menempati bangku yang berada di samping Komodo Nagaradja. 

Menyaksikan kehadiran perempuan yang berbalut kabut ungu, Mayang Tenggara kecil segera bersembunyi di balik tubuh ayahnya. Raut wajah gadis kecil itu terlihat sangat khawatir, bahkan sedikit ngeri.  

“Hei, Muka Bulat…,” sergah Komodo Nagaradja ke arah singasana. “Tirta Kahyangan tak mengenakan pakaian apa pun di balik kabut yang melingkupi tubuhnya.” 

“Iiih… Ko-Nag… Kabut inilah pakaianku….” Perempuan itu menggerakkan lengannya, dimana jemari lentik hendak membelai dagu Komodo Nagaradja. 

Sigap, Komodo Nagaradja mengelak ke samping. “Mengapa aku diwajibkan berpakaian resmi, sedangkan perempuan porno ini tidak!?” 

Di hadapan singasana, pada sayap kanan, kini telah hadir Tirta Kahyangan, Komodo Nagaradja dan lelaki yang dikatai sebagai Kutu Buku. Di hadapan mereka, pada sayap kiri, adalah Gemintang Tenggara, dan lelaki kurus kering dengan dayung besar berwarna biru tua. 

Mayang Tenggara dewasa mengingat kenangan di hari tersebut. Pimpinan Pasukan Lamafa Langit bersama para Jenderal Bhayangkara hadir untuk mengikuti pertemuan rutin. Beberapa Jenderal Bhayangkara lain memang berhalangan hadir, dikarenakan ada urusan-urusan yang lebih mendesak. 

Baru saja Sang Maha Patih hendak memulai pertemuan, sesosok tubuh mungil tetiba mencuat dari balik lengannya. Mayang Tenggara kecil kemudian terlihat memerhatikan kehadiran seorang anak lelaki kecil yang kini berupaya memanjat tubuh Sang Maha Patih. Umur anak itu lebih muda, mungkin baru sekitar empat tahun. 

Sang Maha Patih lalu memberi isyarat agar dayang-dayang istana segera membawa pergi anak kecil itu. Tak lama, terdengar tangisan sang anak. Sepertinya anak tersebut hendak bermain, namun tak diperkenankan karena akan berlangsung pertemuan penting. 

“Tap!” 

Seorang lelaki muda terlihat baru saja tiba. Tanpa basa-basi, ia segera melangkah masuk dan duduk di sebelah Gemintang Tenggara. Mayang Tenggara kecil terlihat mengamati dengan seksama raut wajah kusut dari sosok tersebut. 

“Hai Jebat, kau terlambat, dasar keparat…,” Komodo Nagaradja berhenti sejenak. “… jangan berjingkat,” seloroh siluman sempurna tersebut. 

“Bagaimana, Kutu Buku…? Kata-kataku tadi semuanya berima bukan…?” ucap Komodo Nagaradja bangga ke arah lelaki yang duduk di sebelahnya.

Lelaki berjuluk Kutu Buku hanya menggelenggkan kepala. Sedangkan, Hang Jebat yang berwajah kusut tak menanggapi sama sekali. Ia sedang memikirkan sesuatu yang teramat rumit. Raut wajahnya bahkan mulai terlihat tegang. Sepertinya, ada hal sangat mendesak yang sedang menyita perhatiannya. 

Layar kembali memudar…. Mayang Tenggara berdiri dalam diam. Ada yang ganjil dari kenangan tadi. 

“Cring!” Sebongkah Permata Pringgondani yang lain lagi, mulai berpendar. Ingatan seperti apakah yang akan segera mengemuka…?

Latar kenangan kali ini berada di sebuah gelanggang berlatih nan luas. Dapat terlihat berbagai senjata dan perisai yang ditata pada rak-rak penyimpanan. Terdapat pula beraneka gelanggang khusus untuk melatih kemampuan tertentu. Sepintas mirip dengan gelanggang berlatih di Kerajaan Parang Batu, namun luasnya bukan kepalang. Perbedaan lain terletak pada lambang matahari bersudut delapan yang terukir dan berkibar megah di berbagai tempat. 

Ada tiga panggung berlatih. Dua pasang anak remaja terlihat sedang berlatih tarung di dua panggung terpisah. Mereka mengerahkan jurus-jurus persilatan dan kesaktian. Meski terbilang masih sangat muda, gerakan mereka menampilkan kemampuan jauh di atas rata-rata anak seusia. 

“Airlangga! Kembali kemari!” seru seorang anak perempuan yang terdengar kesal. Lawan latih tarungnya tetiba minggat begitu saja. 

Di atas panggung lain, seorang anak remaja lelaki melompat ke kiri dan ke kanan. Sebilah tempuling bambu mengincar tubuhnya deras. 

Aing menyerah!” teriaknya dalam keadaan terdesak. Meskipun demikian, lawannya terus merangsek maju. 

“Mayang Teng-gila! Apakah kau berniat membunuhku!?” tambah anak lelaki itu sambil berupaya setengah mati mengelak dari tikaman tempuling yang tak kunjung reda. 

Mayang Tenggara kecil sudah berusia sekira sepuluh tahun. Pada akhirnya, ia menghentikan serangan. Ia menoleh dan mulai mengamati seorang anak lelaki yang lain lagi. Di panggung ketiga, anak lelaki tersebut menghadapi empat orang remaja secara bersamaan. Meski menang jumlah, keempat lawan bertarung tersebut terlihat kesulitan. Tak lama, satu per satu dari mereka ditumbangkan.

Serta merta raut wajah Mayang Tenggara dewasa terlihat bersemangat. Langkah kaki membawa dirinya mendekat ke layar. 

“Bakat dan ketekunanmu sungguh sulit dicerna nalar,” ujar seorang lelaki bertubuh kekar dengan berbagai macam rajah atau tato yang menghias sekujur tubuhnya. Ia berbicara kepada anak remaja yang baru saja mengalahkan empat lawan dalam latih tarung. 

“Yang Terhormat Guru Pangkalima Rajawali, tak terbilang rasa hormat dan terima kasih yang hendak murid haturkan atas kesediaan membimbing….” 

“Bauran jurus bukanlah sesuatu yang mudah dicapai…,” sela sang guru. “Terlebih lagi bagi seorang ahli yang masih berada pada Kasta Perunggu….”

Anak remaja tersebut terlihat memerhatikan dengan seksama. Ia menganggukkan kepala petanda setuju kepada gurunya, sebelum mulai menyeka keringat yang deras mengalir. 

“Berbekal warisan jurus silat ayahmu serta unsur kesaktian ibumu, bauran jurus bukanlah sesuatu yang tak mungkin dicapai,” tambah sang Guru. 

Murid dan guru tersebut lalu berdiskusi panjang. Sang murid mendengarkan dengan tekun, sedangkan sang guru menjabarkan petuah seputar persilatan dan kesaktian. Mereka terlibat dalam perbincangan tentang bagaimana cara terbaik dalam menggabungkan jurus persilatan dengan unsur kesaktian….

Layar memudar sebelum Mayang Tenggara dewasa dapat mengamati lebih dekat. 

“Cring!” Permata Pringgondani keempat mulai berpendar. 

Mayang Tenggara terlena dalam penggalan kenangan-kenangan masa lalu. Ia terlupa akan tujuan awal memasuki istana lama di Sastra Wulan. Ia tak lagi tertarik menyelidiki apa yang telah terjadi di sebuah dusun tak jauh dari tempat dimana ia kini berada. Kecurigaan yang sempat merasuk di dalam benaknya, menguap sudah. 

Layar yang baru muncul menampilkan lima anak remaja sedang berkumpul di dalam hutan. Tiga lelaki dan dua perempuan. Sepertinya mereka berada dalam satu regu, dan sedang menjalankan sebuah tugas. 

“Kita memerlukan mustika binatang siluman Kasta Emas….”

“Bukankah itu berarti kita diharuskan berburu siluman sempurna...?” tanggap malas salah satu anggota regu.

“Jangan bodoh! Binatang siluman hanya berevolusi menjadi siluman sempurna bilamana mencapai Kasta Emas Tingkat 9.”

“Kecuali jenis siluman tertentu seperti dia….” Suara lain menyela, sambil menunjuk ke salah satu anggota regu. 

“Aku hendak pulang saja….”

“Berpencar dan telusuri binatang siluman Kasta Emas tingkat rendah… Kembali berkumpul jelang siang. Jangan bertarung seorang diri.” Sepertinya suara ini milik anak lelaki pemimpin regu.

Kelima anak remaja segera melesat berpencar. Layar mengikuti salah satu dari mereka. Mayang Tenggara kembali mengamati dirinya sendiri. Tentu ia masih mengingat kenangan yang satu ini. 

Mayang Tenggara muda sudah berusia sekitar sebelas atau dua belas tahun. Ia bergerak lincah di sela-sela pepohonan, sambil menebar jalinan mata hati ke segala penjuru. Tak lama waktu berselang, dirinya merasakan tekanan yang sangatlah berat dari arah depan. Segera ia berkesimpulan akan keberadaan binatang siluman Kasta Emas. 

Anak gadis itu bergerak menyelidiki. Ia melangkah perlahan, bahkan mengendap-endap. Dirinya sangat sadar bahwa bila berhadapan dengan binatang siluman Kasta Emas, maka alamat bertemu petaka. Sesuai kesepakatan regu, tugas masing-masing adalah mencari keberadaan binatang siluman Kasta Emas, lalu berkumpul dan melapor. Hanya bila memungkinkan dan dengan rencana yang matang, barulah nanti mereka akan melakukan perburuan. 

Akan tetapi, betapa terkejutnya Mayang Tenggara muda ketika menyaksikan sebuah gerbang dimensi yang teramat sangat besar sedang berpendar. Benar-benar besar sekali ukurannya, mungkin seukuran sebuah perahu layar. Yang lebih membuat ia terkejut, adalah keberadaan seorang anak lelaki di hadapan gerbang dimensi tersebut. Mungkin usianya sepantaran. 

Gadis muda tersebut hanya mengamati dari kejauhan. Sungguh pelik, karena ia merasakan keberadaan banyak aura mustika dari dalam gerbang dimensi tersebut. Hampir kesemua mustika tenaga dalam yang ia rasakan tak dapat dicerna. Kesimpulan yang dapat diambil, bahwasanya gerbang dimensi tersebut menghubungkan ke lokasi tempat gerombolan binatang siluman berbahaya!

Mayang Tenggara terus mengamati. Ia menyaksikan langsung betapa anak lelaki tersebut berkonsentrasi merapal formasi segel. Tubuhnya berpeluh dan napasnya menderu. Tak lama, gerbang dimensi nan besar perlahan menyusut. Pada akhirnya, gerbang dimensi tersebut tertutup sudah. 

“Apa yang kau lakukan di hutan ini!? Gerbang dimensi apakah itu tadi!?” sergah Mayang Tenggara ke arah anak lelaki tersebut.

Anak lelaki yang ditanya tak menjawab. Malah, tetiba ia jatuh terjerembab duduk. Ia kemudian mengeluarkan botol minuman. Setelah beberapa teguk, ia menatap Mayang Tenggara muda sambil menyibak senyum ramah. Tatapan matanya demikian lembut. 

“Mohon maaf, diriku tak dapat menjabarkan tentang apa yang berlangsung tadi. Aku pun harus segera berpamitan…. karena masih ada keperluan yang mendesak.”

“Siapakah engkau? Darimana asalmu?” Mayang Tenggara mengubah pertanyaan. 

“Namaku Wira. Asalku dari wilayah selatan Pulau Barisan Barat,” jawab anak lelaki tersebut santun. Kembali ia menyibak senyum ramah. Tatapan matanya penuh perhatian dan demikian tulus.

Mayang Tenggara dewasa mengamati kenangan tersebut dengan penuh perhatian. Tanpa disadari, ia ikut menyibak senyum penuh makna.