Episode 22 - Prasasti Petaka



 Seribu tahun yang lalu, manusia dan iblis saling berseteru dalam sebuah perang besar. Para iblis dipimpin oleh sosok yang setara dengan dewa, yaitu Dewa Iblis Azazil. Dengan kekuatan Maha Dahsyatnya, Azazil mampu mebalikkan gunung, membelah lautan, dan meluluh lantahkan benua. Manusia pada zaman itu berada di ujung tanduk. Mereka yang terbagi dalam kelompok-kelompok, sulit untuk mengatasi kekuatan besar para iblis. Keegoisan setiap orang menjadi petaka tersendiri.

Namun, hadirlah para penyelamat. Mereka disebut Inkarnasi Dewa. Tepatnya, ikarnasi dari 4 Dewa Mata Angin. Naga Langit dari timur, Burung Vermiliun dari selatan, Harimau Putih dari barat, serta Kura-Kura Hitam dari utara, gabungan keempatnya dapat membuat manusia mebalikkan momentum perang. Dengan kepeminpinan yang baik, akhirnya seluruh manusia dapat bersatu tanpa memandang ras, negeri, suku, atau faktor pembeda lain.

Kehadiran para Inkarnasi Dewa memang membuat alur perang membaik, tetapi tidak cukup untuk mengalahkan Dewa Iblis Azazil. Kekuatannya sungguh di luar nalar, sebuah eksistensi yang tidak bisa diukur dengan logika. Bahkan dengan gabungan empat Ikarnasi Dewa Mata Angin, Azazil masih mendominasi pertarungan. Kemudian, di saat keputusasaan mencapai titik tertinggi, langit pun terbelah. Sebuah cahaya dari surga bersinar terang seolah menjawab doa jutaan manusia. Itu adalah keajaiban yang diperlihatkan para dewa. Mereka mengirimkan sebuah Benda Magis berbentuk prasasti. 

Para Inkarnasi Dewa pun menerima wahyu, mereka dituntut untuk menyegel Azazil dalam prasasti tersebut. Dengan seluruh kekuatan, dengan seluruh doa, dan dengan seluruh pengorbanan, Dewa Iblis Azazil akhirnya bisa tersegel ke dalam prasasti. Namun, dirinya seolah tak akan menerima kekalahan macam itu. Dewa Iblis Azazil mengerahkan sisa kekuatannya untuk menghancurkan prasasti menjadi 666 keping. Sebelum kesadarannya benar-benar tersegel, Azazil menyeru kepada seluruh bangsa iblis untuk mengumpulkan kepingan prasasti dan membangkitkannya kembali suatu hari. Nantinya, prasasti tersebut akan dikenal sebagai Prasasti Petaka.

Walau demikian, manusia sekali lagi telah mendapatkan kedamaian semu. Mereka juga kembali pada sifat aslinya, egois, serakah, dan keji. Mereka adalah makhluk bodoh yang tidak akan mau bersatu kecuali menghadapi bahaya yang sama. Inilah perulangan sejarah yang selalu terjadi dari masa ke masa.


***


Di sebuah ruang kerja, duduklah wanita tua, bukan karena wajahnya yang keriput, tetapi rambutnya yang memutih. Dia sedang mengamati dan membaca dokumen-dokumen beserta arsip-arsip penting. Karena posisinya, di hari senja ini, istirahat bahkan akan sulit didapatkan. Namun, ia tak pernah mengeluh, baginya melihat generasi muda berkembang lebih menyenangkan ketimbang bersantai menikmati teh hangat. Jika ia lelah dan jenuh karena pekerjaan, maka cukup dengan melihat cucu perempuannya tersenyum, hal itu langsung terobati. Sayang, cucunya kini tengah berlatih sendiri, walau yang menyuruh adalah dia, tetapi sedikit rasa sesal juga menghinggapi hatinya.

Lembar demi lembar, halaman demi halaman, dibuka perlahan dan dibaca saksama. Setiap goresan tinta tak luput dari pandangan, karena ia tak suka kesalahan sekecil apapun terjadi. Sifat kolot yang perfeksionis ini ia ajarkan juga pada cucunya, sehingga terkadang di depan orang lain, cucunya akan terlihat dingin. Namun, jika seseorang sudah dekat dengan cucunya, maka wajah ceria anak gadis normal juga dapat terlihat. Sayangnya, tak banyak orang atau bahkan anak seumuran cucunya di Akademi Awan Perak yang berani berinteraksi langsung. Selain karena posisinya sebagai Kepala Sekolah, itu juga karena sifat dingin cucunya yang sudah menjadi gosip umum pagi hari akademi.

Di saat rasa sunyi ruangan sudah semakin dalam, tiba-tiba dia merasakan sebuah aura mendekat. Itu bukanlah aura yang mengancam, tetapi sesuatu yang dia sudah kenal sejak lama. Sebuah rasa rindu baru yang menghampiri setelah dikubur menahun lamanya.

“Anakku...” gumamnya seraya berdiri cepat dari kursi. Ia segera berjalan ke arah jendela dan melihat sosok bercahaya terbang mendekat.

Sosok itu adalah sebuah anak panah. Warnanya emas dengan aura kuning pekat. Anak panah ini melesat dengan kecepatan tinggi yang tidak bisa dilihat oleh orang normal. Namun, karena dia adalah ahli kasta Maharaja, kesigapannya sudah lebih dari cukup untuk mengatasi terjangan ini. Hap! Anak panah itu ditangkap dengan himpitan telunjuk dan jari tengah. Dari tatapannya, dia terlihat tak sabar untuk melakukan sesuatu pada anak panah yang sebenarnya adalah Benda Magis.

Jemarinya memutar sisi atas dan bawah anak panah, sehingga membuat bagian dalamnya terbuka. Sebuah kertas tergulung rapi di dalam, dan kertas itu tampak cukup kusam. Awalnya, dia antusias ingin segera melihat pesan yang tersaji, tetapi begitu melihat isi pesan ditulis dengan darah, matanya terbelalak.

[Ibu, maafkan kegagalanku. Ibu, maafkan kegagalanku. Ibu, maafkan kegagalanku.

Dimensi neraka sungguh tempat yang berbahaya. Para iblis sungguh sangat kejam dan menakutkan. Mereka menculik gadis-gadis manusia yang masih perawan, lalu memeras darahnya sampai kering. Ibu, Yiran, dia mengorbankan dirinya untuk menyembunyikan identitasku. Tapi, tapi, tapi, aku gagal. Pengorbanannya menjadi tak berarti. Aku gagal mendapatkan kembali kepingan prasasti yang mereka curi dari kita. 

Ibu, aku lelaki hina. Istriku berkorban, tapi aku gagal melanjutkan tugas. Ibu, aku sekarat. Aku bersembunyi dan hanya tinggal menunggu ajal. Ibu, kedua kakiku sudah hilang. Ibu, sebelum aku mati, kumohon, maafkan aku. Ibu, kumohon jaga Yueru untukku dan jangan katakan padanya bahwa ayahnya adalah seorang pecundang.

Lin Chan]

Dia, Lin Xiaowen, seorang ahli kasta Maharaja, tertunduk lemas hanya karena membaca selembar surat. Matanya memerah, hendak mengeluarkan rintik tangis. Tekanan darahnya naik, hingga jika nadinya disentuh akan terasa denyutan cepat tak berhenti. Ia genggam surat itu kuat-kuat, lalu memeluknya di dada seolah anaknya berada di hadapan. Pikirannya kalang kabut, tak disangka anak yang ia didik sejak kecil, anak yang dipanggil jenius, dan anak yang memiliki bakat hebat, masih bukanlah apa-apa jika berada di Dimensi Neraka, tempat bangsa iblis bersemayam. 

Sungguh, dia bodoh. Seharusnya dahulu, dia sendiri yang pergi menyusup ke tempat para iblis. Tapi, posisi kepala sekolah membuat keputusan itu ditentang. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Alasan apa yang harus ia berikan pada cucunya jika untuk ke sekian ribu kalinya bertanya tentang kedua orang tuanya? Alasan yang sama mungkin masih bekerja, tetapi seiring pertumbuhan, seiring nalar berpikir cucunya semakin dewasa, alasan itu tidak akan berlaku lagi. Terlebih, dia tak ingin menentang kebajikan dengan berdusta. Cucunya mungkin bisa membencinya di kemudian hari.

“AHHHH...!” dia histeris, berteriak kencang. Itu adalah spontanitas untuk melampiaskan segala rasa sesal, amarah, serta tekanan. Ibarat reflek, teriakannya mengeluarkan sejumlah besar tenaga dalam yang dapat membuat ahli dengan kasta lebih rendah bergidik ngeri.

Pintu ruangan terbuka, seseorang masuk terburu-buru, “Kepala Sekolah, apa yang membuat Anda begitu murka?” seorang pria tua bertanya.

Lin Xiaowen masih meratap. Aura kemurkaannya belum surut. Dirinya belum hendak menggubris pertanyaan orang itu.

“Kepala Sekolah, apakah Anda baik—“ omongan lelaki tua itu terhenti saat dirinya merasakan perubahan aura ruangan. Lantai pada posisi Lin Xiaowen membeku, lalu bekuan itu kian menyebar dan membuat sisi ruangan seperti neraka es.

“Kepala Sekolah, mohon hentikan, atau seluruh gedung bisa membeku.” Ia berkata dalam kepanikan.

Namun, entah semarah apapun Lin Xiaowen, akalnya masih berfungsi. Tak mungkin hanya karena masalah perasaan ia mengabaikan tanggung jawabnya sebagai Kepala Sekolah Akademi Awan Perak dan memberikan kerugian untuk akademi. Ia tekan auranya dan mengatur pernapasan. Walau perasaan masih kacau, tetapi tidak pada pengendalian tenaga dalam.

“Wakil Kepala Chou, kumpulkan 3 Wakil Kepala lainnya, kita akan mengadakan rapat penting!” titahnya.

“Baik, saya mengerti,” ujarnya tanpa bertanya lebih jauh.

 

***


Dimensi Neraka

Cahaya merah dan hawa panas menyebar di mana-mana. Tak ada rumput juga tetumbuhan hijau. Yang ada hanya jamur-jamur khusus yang kebanyakan mengandung racun. Diiringi dengan suara gemuruh ratusan ribu orang, suasana mencekam sangat kental.

“Hah... hah... hah...” Ratusan ribu iblis mengentakkan senjata mereka ke tanah. Teriakan serta gemuruh seolah menyambut sesuatu yang teramat besar.

“Diammm!” Sebuah suara besar menggelegar. Kebisingan yang terjadi menjadi keheningan mutlak. Itu adalah suara dari iblis berambut merah yang berdiri di atas panggung bebatuan. Rambutnya panjang, badannya besar, serta tanduknya elegan, menjadi nilai kharismatik tersendiri. Jika dilihat dari jabatan, iblis merah ini tentu merupakan petinggi penting.

“Bangsa Iblis, sudah seribu tahun lamanya... sudah seribu tahun lamanya kita bersembunyi dari para manusia,” ia memulai pidato, “sekarang, bangsa kita telah mendapakan 600 keping Prasasti Petaka. Sebentar lagi hari yang dinanti, Hari Kebangkitan akan terjadi. Dewa kita, Dewa Iblis Azazil akan bangkit untuk yang kesekian kalinya dan membimbing kita meraih kemenangan.

Mungkin generasi sekarang tidak ada yang pernah melihat wujud agung Dewa Iblis Azazil secara langsung, tapi aku dan keempat leluhur lain sudah melihat keadigdayaan dan keagungannya. Tak ada di dunia ini yang bisa menandingi kekuatannya. Jika saja dahulu, saat perang besar antara iblis dan manusia, para Dewa tidak ikut campur, maka kemenangan kita sudah pasti.

Namun tenang, sekarang kita telah mempersiapkan rencana lebih matang. Mereka, para manusia, adalah makhluk yang bahkan lebih serakah dari kita. Persatuan mereka lemah. Dengan sedikit tipu daya, kita bisa membuat mereka saling membantai satu sama lain. Ingatlah bangsa iblis, kita tidak akan pernah puas sebelum semua manusia musnah dari dunia ini! HIDUP BANGSA IBLIS!” Pidatonya diakhiri dengan nada semangat.

“Hidup Bangsa Iblis!”

“Hidup Dewa Iblis Azazil!”

“Hidup Leluhur Kedua!”

“Hidup para Leluhur!”

Kalimat seruan terus diulang sebagai bumbu penyemangat.

“Leluhur Kedua, sejak kapan kau bersikap seolah pemimpin kami?” seorang iblis dengan rambut hijau bertanya. Ia menghampiri Leluhur Kedua yang baru saja turun ke belakang panggung.

“Leluhur Ketiga, bukan maksudku begitu, tapi kau tahu sendiri sifat Leluhur Pertama bagaimana. Dia tidak mungkin bisa melakukan pidato tadi,” balasnya.

“Ah,... Leluhur Kedua, kupikir kita semua tahu, setengah dari Bangsa Iblis berada di pihakmu. Bukankah kau seperti menikam kami dari belakang? Bahkan ada beberapa anggota Klan Iblis Ungu milikku yang lebih mengindahkan perkataanmu.” Kali ini, iblis wanita dengan rambut ungu muncul tiba-tiba di suatu sudut.

“Leluhur Keempat, mana mungkin aku memiliki kuasa untuk memerintah Klan Iblis Ungu? Kau sungguh pandai bercanda.” Ia tersenyum kecil.

“Leluhur Kedua, sebaiknya kau ingat kata-katamu sendiri! Tujuan utama kita adalah membangkitkan Dewa Iblis. Entah mau seberapa banyak bangsa iblis yang ada di pihakmu, pemimpin utama kita tetaplah Dewa Iblis.” Leluhur Ketiga mengingatkan.

“Tentu, aku sangat paham dengan itu. Tidak mungkin aku berani mengkhianati Dewa Iblis.”

Saat suasana persaingan antar Leluhur memanas, seorang iblis wanita berambut putih datang dengan tergesa-gesa. “Hormat Kepada Para Leluhur!” Ia menundukkan badan dan kembali berdiri.

“Oh, Silvi, ada apa?” Mungkin sebagai sesama iblis wanita, Leluhur Keempatlah yang memiliki naluri untuk langsung bertanya.

“Kakek Leluhur Pertama, dia keluar menuju dunia manusia untuk bermain!” ucapnya gugup.

“Hahahah, Leluhur Kedua, Leluhur Ketiga, kalian lihat sendiri kan, tidak mungkin pidato tadi dibawakan oleh Leluhur Pertama. Terlebih, sifatnya masih seperti anak-anak,” sindir Leluhur Kedua.

“Leluhur Kedua! Sebaiknya jangan menyinggung Leluhur Pertama, bagaimana pun dia lebih kuat darimu!” Leluhur Ketiga cepat merespon.

Sementara, mendengar leluhur yang sekaligus adalah kakeknya sendiri diejek, Silvi memasang muka masam. Namun, dia tak berani menyinggung perkataan Leluhur Kedua. Selain karena fakta kekuatannya tidak setara, itu juga karena apa yang dikatakan Leluhur Kedua hampir semuanya tepat.

“Ya, maafkan kelancanganku. Tapi, sebaiknya kita segera membawa pulang Leluhur Pertama sebelum dia membuat masalah.”

Ketiga leluhur lain setuju dan bergegas memilih orang untuk memulangkan Leluhur Pertama.



Kolom Penulis:

Mohon maaf, kemarin banyak urusan duniawi yang tidak bisa ditunda. Jadi gak rilis deh. Sekali lagi, mohon maaf, hehehe