Episode 20 - Akhir: Tragedi yang Mengubah Hidup Bagian 2


17 Januari 2014

Langit mendung menyapa angkasa kala itu, tepatnya ketika Taki sedang duduk santai di beranda rumah. Akhir-akhir ini kabut tebal kerap kali melanda desa. Buktinya saja, pagi ini tidak tampak banyak warga desa yang melakukan aktivitas, terlebih para petani yang bekerja di lereng Ishikawa. Rutinitas ringan, seperti lari pagi atau bersepeda santai juga nyaris terhenti akibat kabut tebal yang membatasi pandangan hingga lima meter ke depan.

Di balik semua itu, Taki setidaknya bisa bernapas lega. Midori, sang kakak, mengurungkan niat perburuan Kappa untuk hari ini. Ia tidak mau mengambil risiko, meski hasrat gilanya menggebu-gebu ingin dipuaskan. Langsung saja, lelaki berpostur kurus itu berangkat ke kantor berita guna menunjukkan beberapa foto hasil jepretannya. Sementara itu, Taki memilih bersantai sembari menunggu kepulangan sang kakak.

“Semoga besok kabutnya lebih tebal,” ujarnya seraya membenamkan dagu ke lipatan tangan. “Kalau gitu, Midori pasti bakal gagal nemuin foto Kappa sampai bulan Januari berakhir.”

Awalnya sunyi mencekam, tetapi lama-kelamaan Taki mendapati siluet seseorang dari balik pekatnya kabut. Itu seperti seorang pria botak, badannya bungkuk. Sedetik kemudian mata Taki membulat. Dirinya tahu persis siapa yang datang berkunjung..

“Pak Hayashi, ya?” Taki bersuara pelan.

“Tentu saja, Bocah.” Jawaban khas orangtua terdengar, disusul sosok Pak Hayashi yang akhirnya kentara terlihat.

“Ada apa?”

“Midori ada?” Kakek bertongkat kayu itu bertanya singkat.

“Nggak ada.” Taki menggeleng. “Dia lagi pergi ke kantor.”

“Pasti soal Kappa lagi. Orang itu benar-benar seorang maniak.”

Pelan-pelan, Pak Hayashi melangkah mendekati beranda. Sesaat menaiki dua-tiga undakan kayu—tergopoh-gopoh tentunya—akhirnya ia dapat duduk di samping Taki. Mereka bertatapan, saling menunjukkan ekspresi masing-masing. 

Dahi Taki berkerut, bukan heran, melainkan sedih memikirkan nasib kakaknya. Sedangkan si tua Bangka Hayashi tersenyum. Senyum kali ini berbeda. Bukannya meremehkan seperti biasanya, tetapi lebih ke arah senyum hangat.

“Aku mengenal nenekmu dengan baik. Namanya Nina, bukan? Dia adalah seorang pekerja keras. Bahkan, setelah suaminya meninggal, Nina tidak takluk menghadapi takdir. Wanita tegar itu selalu membuatku takjub.”

“Kenapa tiba-tiba membahas nenekku? Bukannya kamu senang mengejek keluargaku?” ketus Taki.

“Aku tahu kepergian nenekmu memberikan dampak yang besar terhadap kau dan Midori. Kalian tumbuh sendirian, mengandalkan kemampuan masing-masing untuk bertahan hidup. Namun, aku selalu tahu kalau hidup tanpa panutan takkan bisa menjadi seseorang yang benar.” Lengan kanan Pak Hayashi beringsut ke bahu Taki, tetapi gerakan tersebut seketika ditepis.

“Aku nggak butuh perhatianmu!”

“Jujus saja, sebenarnya aku tidak suka dipanggil si tua bangka pemarah. Itu menyakitkan. Terlebih Midori yang sering merusak bunga-bungaku ketika masih remaja. Untungnya kau berbeda, Taki. Kau lebih terkendali.”

Detik itu juga Taki bangkit. Pandangnya menusuk seakan siap melepaskan amukan yang sanggup membuat pria tua sakit jangkit. Napasnya menderu, begitu cepat sampai-sampai keringat menetes perlahan.

“Midori melakukannya karena kamu selalu menghina kami. Kenapa kamu meremehkan kemampuan kami? Asal tahu saja! Kappa itu beneran ada!” gelegar Taki.

“Dengarkan aku! Aku tahu Kappa itu nyata, begitu pun beberapa warga asli desa ini. Maka dari itu, kami berusaha menyudutkan kalian agar cepat-cepat menyerah. Mereka berbahaya, Taki! Mereka sumber kutukan.”

Taki terbeliak, mulutnya bungkam dalam sekejap. Benarkah itu, pikirnya. Tentu ia tak bisa percaya begitu saja. Pak Hayashi itu licik, sangat licik. Ia pemarah, kasar, pembenci anak-anak. Benar! Ia hanya berbohong.

“A-aku nggak percaya!”

“Kakekmu adalah orang pertama yang memburu para Kappa di Ishikawa. Ia bilang ada siluman air yang sering menampakkan diri di delta Ryuzagi. Kappa, kami segera menyimpulkannya. Awalnya tidak ada satu pun dari warga desa yang tahu bahwa makhluk tersebut penuh kutukan. Namun, setelah melihat kakekmu yang pulang-pergi hutan setiap hari dan mengorbankan hidupnya demi ambisi gila, seketika aku sadar kalau kutukan tengah melingkupi desa ini.” Pak Hayashi tertunduk lesu.

Kaki Taki gemetaran. Saat ini, hatinya hanya bisa membisikkan penolakan terhadap pernyataan Pak Hayashi. Tidak semudah itu mempercayai celoteh pria tua yang terbilang cukup krusial bagi kehidupan kakak-beradik ini.

“Kami berteman baik, kakekmu dan aku. Kukira sebagai sahabatnya, aku mampu menyadarkan lelaki keras kepala itu. Namun nyatanya tidak. Kakekmu lebih gila dari dugaanku. Ia nekat menjual harta dan menelantarkan Nina. Dasar keras kepala! Andai waktu itu ia bisa berpikir jernih, mungkin nenekmu takkan sakit-sakitan.”

“A-apa yang terjadi sama kakekku? A-apa yang dilakuin para Kappa padanya?” Sedikit demi sedikit Taki mulai meyakini kisah Pak Hayashi.

“Meninggal. Mayatnya ditemukan mengambang di sungai Ryuzagi. Sejak saat itu, aku jadi benci padanya. Aku benci pada semua orang yang berhubungan dengannya. Warga desa sepakat untuk melarang pendatang baru untuk mencari para kappa bagaimana pun caranya. Itulah alasan mengapa aku selalu bersikap kasar dan emosional. Semuanya demi kebaikanmu bersama Midori.”

“Kamu nggak bohong kan, Pak Hayashi? Kamu berkata jujur, kan?” Taki tersungkur, lekas-lekas menyeret tubuhnya ke dekat Pak Hayashi.

“Aku bersumpah demi apa pun. Dengarkan aku, Taki! Sekarang aku menyadari bahwa membenci keluarga kakekmu adalah kesalahan besar. Kalian sudah melewati banyak penderitaan selama ini. Jadi, aku berniat menanggung semua kebutuhan hidupmu dan Midori."

Hening sejenak, sebab Taki masih mengatupkan kedua bibir tipis itu. Kabut berangsur menipis, menyisakan sebuah tanya besar yang menghinggapi benak anak berambut pirang itu.

"Ka-kamu serius, Pak Hayashi? Midori dan aku nggak perlu hidup susah lagi?" ujar Taki terbata-bata.

"Begitulah. Kau hampir lulus SMP, kan? Mungkin kau bisa melanjutkan SMA ke Tokyo. Midori juga bisa mencari pekerjaan yang layak di sana. Aku kurang suka terhadap kantor berita yang senang mencari-cari sensasi. Apalagi sensasi tersebut berhubungan dengan kappa."

BRAK!

Pak Hayashi tercekat, tongkatnya sampai jatuh ke tanah. Di sisi lain, Taki tampak gusar. Matanya, berkaca-kaca kala itu, tepat mengarah ke depan. 

Berdiri di samping tong sampah ambruk, Midori memandangi kedua orang di hadapannya sungguh tajam. Bahkan, tatapan tersebut sarat akan ancaman yang membuat Taki cepat-cepat bergerak ke belakang Pak Hayashi.

Wajah Midori memerah seolah ada api yang bersemayam di dalam kepalanya. Dengan terburu-buru, lelaki itu menaiki undakan dan menarik kerah baju Pak Hayashi. Orangtua itu sontak kelabakan.

"Dasar bedebah kotor! Bisa-busanya kau memengaruhi adikku!" geramnya.

"Te-tenanglah, Midori! Kendalikan dirimu."

"TIDAK! Kau yang harus berhenti menghasut orang lain." Cengkeraman Midori kian kuat. "Mau menyekolahkan adikku ke Tokyo, hah? Simpan omong kosongmu itu sendirian!"

"Aku bersungguh-sungguh! Akan kuberikan seluruh hartaku agar kau dan Taki menjauhi gunung Ishikawa. Kalian harus tetap hidup!"

"Dan kau akan mati, Tua bangka!" Begitu ganasnya Midori mendorong seorang pria tua sampai-sampai terhuyung lalu terkapar di beranda.

"Jangan percaya padanya, Taki! Kita sudah melewati banyak hal bersama, tanpa bantuan siapa pun. Ingat ini! Tidak ada satu pun manusia di dunia yang sudi menolong anak yatim piatu dengan tulus. Mereka semua cuma mencari perhatian!" 

Taki mundur mendekati sisi beranda. Anak itu melongo menyaksikan betapa kasarnya sang kakak memperlakukan orangtua. Kini, justru Midori-lah yang bersikap kasar pada orang lain. Dia bukan Midori yang sama lagi.

Haruskah Taki menolong Pak Hayashi dan menentang kakaknya? Sebuah pertanyaan yang tak kuasa dijawab pemuda empat belas tahun. Akan tetapi, hal ini mesti segera berakhir. Dan, Taki tidak mau Midori kembali berurusan dengan para kappa.

"Mi-Midori!"

Sang kakak menoleh, raut beringas terpeta jelas di wajahnya. Decak kesal, amarah, benci, segaka yang buruk serasa merasuk ke batin Taki tatkala mereka bertatap mata.

"Kamu memihak aku 'kan, Taki?"

"A-anu ...."

"Cepat katakan!" Gigi Midori menggertak.

"A-aku ...."

"KATAKAN, BODOH!"

Taki seketika terenyak. Napasnya terasa sesak, sungguh seperti tulang rusuk mengimpit paru-parunya. Tak terasa, mata yang mulanya berkaca-kaca itu, sekarang menitikkan air. Akhirnya ada alasan untuk mempercayai kisah Pak Hayashi.

"Ka-kamu bu-bukan Midori." Taki menegakkan pandangan. "Kamu bukan kakakku!"

"Bicara apa, Kamu? Aku ini Midori."

"NGGAK! Kamu monster!"

"Mati saja kau!" Secepat kilat tangan Midori berayun ke wajah Taki. 

PLAK!

Bagaikan ular berbisa, tangan itu menampar wajah orang paling disayang oleh Midori. Taki menangis, pipinya memerah. Sebaliknya, Midori terbeliak, tak menyangka dirinya sudah bertindak kelewat batas.

"Taki ...."

"Jangan dekati aku, Monster!" Taki berlari ke dalam rumah, meninggalkan kakaknya bersama sepi.

"Ta-Taki! Dengarkan aku dulu!"

"Kau sudah tahu betapa suramnya kutukan itu, bukan?" Pak Hayashi menyahut.

"To-tolong aku, Pak Hayashi! Aku tidak bisa mengendalikan diriku."

"Dan begitulah ucapan terakhir kakekmu di akhir pertemuan kami. Kutukan yang menimbulkan ambisi juga nafsu yang berlebihan. Aku bukan Tuhan, Midori. Hanya kau yang mampu mengatasinya sendirian." Mata pucat Pak Hayashi membayang ke atas.

Midori menunduk lesu. Hati kecilnya bersikeras menolak untuk melanjutkan perburuan kappa yang terkutuk. Namun, hasrat dan nafsu yang sempat disinggung Pak Hayashi memang benar terlalu besar untuk dilawan.

Setetes demi setetes, hujan mengguguri desa. Petir menggelegar, diselingi kemilau kilat kekuningan. Gugus burung pipit beralih ke timur, membawa serta angin sepoi yang menghanyutkan.

"Ji-jika ... ji-jika aku akan berakhir seperti kakekku, ku-kumohon padamu agar menjaga Taki sebaik mungkin." Kalimat tersebut tiba-tiba saja menyelip dari katup bibir Midori.

"Jadi kau masih berniat mengadu nasib, hah?" Pak Hayashi duduk bersila. "Apa kau juga mau mengikutkan adikmu?"

"Aku tak punya pilihan. Meski kularang, Taki pasti tetap datang. Tapi, kuusahakan dia akan baik-baik saja."

"Semuanya berawal dari ketidaksengajaan, ya? Saat pertama kali kau melihat sosok kappa." Pak Hayashi bersedekap.

"Benar. Sejak saat itu aku tidak sanggup membendung hasratku menyelidiki mereka. Terlebih, protes dari warga desa mengharuskanku mencari bukti yang kuat. Itulah akar masalahnya!"

"Bukan itu masalahnya, Taki! Kau termasuk orang-orang yang melihat kappa tanpa sengaja. Sebuah kesialan yang tak terhitung buruknya. Untuk meminimalisir dampak terhadap desa ini, kami sepakat memprotes berita buatanmu. Tentunya, kami tidak ingin kabar mengenai kappa ini menjadi momok yang menakutkan sekaligus daya tarik bagi turis-turis asing."

"Singkatnya, kalian ingin hanya aku yang sial dalam kasus ini. Tak bisa dipungkiri memang itulah cara terbaik. Kelihatannya umurku tinggal sebentar lagi." Midori tersenyum, wajahnya diliputi duka.

Entah apa lagi gejolak ambisi yang tengah mengintai diri Midori. Satu hal yang pasti, sekarang Midori berada di antara pengorbanan dengan keegoisan. Dirinya, dalam pengaruh kutukan kappa, seakan memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Dengan kesialan semacam itu, apakah benar umurnya tak bertahan lama?